Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume. 3 Nomor. 3 Mei 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Kontribusi Pemikiran Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Era Modern Muhammad Habibirrahim1 & Misra2 Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Jl. Prof. Dr. Mahmud Yunus. Lubuk Lintah. Padang Email : habibirahim45@gmail. Abstract: Ibn Sina (Avicenn. , a 10th-century Muslim philosopher, scientist, and educator, has made major contributions to Islamic educational thought. This paper aims to examine the relevance of Ibn Sina's educational thought in the context of modern Islamic educational philosophy. Through a qualitative approach with literature study, this article analyzes Ibn Sina's ideas on the goals of education, stages of child development, and learning methods, as well as their relationship to the challenges of contemporary Islamic education. The results of the study show that Ibn Sina's thoughts are not only philosophical but also applicable, and remain relevant in efforts to build a holistic and sustainable Islamic education system. Keywords: Ibnu Sina, filsafat pendidikan Islam, pendidikan modern, tarbiyah, perkembangan anak Abstrak: Ibnu Sina (Avicenn. , seorang filsuf, ilmuwan, dan pendidik Muslim dari abad ke-10, telah memberikan kontribusi besar terhadap pemikiran pendidikan Islam. Tulisan ini bertujuan mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Ibnu Sina dalam konteks filsafat pendidikan Islam modern. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, artikel ini menganalisis gagasan-gagasan Ibnu Sina tentang tujuan pendidikan, tahapan perkembangan anak, dan metode pembelajaran, serta hubungannya dengan tantangan pendidikan Islam kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina tidak hanya bersifat filosofis tetapi juga aplikatif, dan tetap relevan dalam upaya membangun sistem pendidikan Islam yang holistik dan berkelanjutan. Kata Kunci: Ibnu Sina, filsafat pendidikan Islam, pendidikan modern, tarbiyah, perkembangan anak PENDAHULUAN Pemikiran pendidikan Islam yang berkembang hingga saat ini tidak dapat dipisahkan dari warisan intelektual yang diwariskan oleh para tokoh besar Islam masa lampau. Para filsuf, ulama, dan cendekiawan Muslim klasik telah memainkan peran penting dalam membentuk fondasi teoritis dan praktis dalam pendidikan Islam (N. Abuddin, 2010: . Mereka tidak hanya mewariskan konsep-konsep keilmuan, tetapi juga membangun sistem nilai, metode pengajaran, dan tujuan pendidikan yang berakar pada prinsip-prinsip keislaman. Salah satu tokoh besar yang memiliki andil signifikan dalam pembentukan pemikiran pendidikan Islam adalah Abu AoAli al-Husayn bin AoAbdullah bin Sina, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Sina. Meskipun Ibnu Sina lebih dikenal oleh masyarakat global sebagai seorang ilmuwan dan dokter yang menghasilkan karya besar seperti Kitab al-SyifaAo dan Qanun fi al-Thibb, kontribusinya dalam bidang filsafat dan pendidikan juga sangat penting untuk diperhatikan. Pandangan-pandangan filosofisnya mengenai hakikat manusia, tujuan hidup, serta proses pembelajaran telah memberikan pengaruh yang mendalam dalam pengembangan konsep pendidikan Islam, baik di masa lalu maupun dalam konteks kontemporer. Received: Maret 30, 2025. Revised: April 30, 2025. Accepted: Mei 23, 2025. Online Available : Mei 26, 2025. Kontribusi Pemikiran Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Era Modern Ibnu Sina hidup pada masa keemasan peradaban Islam, di mana ilmu pengetahuan berkembang pesat dan interaksi antara pemikiran Islam dengan filsafat Yunani sangat intens. Dalam konteks ini. Ibnu Sina memadukan unsur rasionalitas filosofis dengan nilai-nilai keislaman, dan menghasilkan pemikiran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Gagasannya mengenai perkembangan anak, tahapan pendidikan, peran guru, serta pentingnya pembentukan akhlak merupakan bagian integral dari sistem pendidikan Islam yang ia bangun (M. Syah, 2. Ibnu Sina juga dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap permasalahan umat. Ia tidak hanya fokus pada persoalan medis dan filsafat, tetapi juga pada pembentukan generasi yang cerdas secara intelektual dan matang secara moral. Dalam pandangannya, pendidikan harus diarahkan untuk menyempurnakan potensi manusia secara menyeluruh baik jasmani, akal, maupun rohaninya. Pemikiran-pemikiran ini menunjukkan bahwa Ibnu Sina memahami pendidikan bukan hanya sebagai proses transfer ilmu, tetapi juga sebagai proses pembinaan manusia secara utuh. Dengan melihat relevansi pemikiran Ibnu Sina terhadap berbagai tantangan pendidikan Islam dewasa ini, khususnya dalam konteks Indonesia yang sedang berupaya memperkuat karakter dan integritas bangsa melalui pendidikan, maka penting untuk menggali kembali gagasan-gagasan beliau. Oleh karena itu, makalah ini akan difokuskan pada kajian mendalam terhadap pemikiran Ibnu Sina dalam bidang pendidikan Islam. Fokus utama akan diarahkan pada bagaimana ide-ide beliau dapat memberi inspirasi dan kontribusi terhadap pembangunan sistem pendidikan Islam yang lebih baik, relevan, dan berdaya saing di era modern. Riwayat Hidup Ibnu Sina Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu AoAli al-Husain ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn AoAli ibn Sina al-Hakim, atau biasa dikenal Avicienna. Beliau lahir pada tahun 370 H/980 M di Kharmeisan berdekatan dengan Bukhara dan berbangsa Balkha . hli Balkh. , sekarang Uzbekistan, ibu kota Samani, sebuah kota peninggalan dari dinasti Persia di Asia Tengah dan Kharasan. Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M. Ibunya bernama Astarah, berasal dari Asfhana yang termasuk wilayah Afghanistan, sedangkan ayahnya bernama Abdullah, seorang sarjana terhormat penganut SyiAoah IsmaAoiliyyah, dan merupakan ilmuwan dari kota Balkh Kharasan, suatu kota termasyhur dari kekuasaan Samani yang sekarang merupakan Provinsi Balkh di Afghanistan (N. Abuddin, 2000:. Semasa kecil. Ibnu Sina memulai pendidikannya pada usia lima tahun di kota kelahirannya, yaitu Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali ia pelajari adalah membaca AlQurAoan. Setelah itu ia mempelajari ilmu-ilmu agama Islam seperti tafsir, fiqih, ushuluddin, dan JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 MEI 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. lain-lain. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal Al-QurAoan dan mengusai berbagai cabang ilmu keislaman pada usia yang belum genap 10 tahun. Sehingga dari situ Ibnu Sina dianggap sebagai manusia yang luar biasa. Bahkan Ibnu Sina pernah menceritakan jika dirinya hafal kitab metafisika Aristoteles di luar kepala, ia membaca sebanyak 40 kali sampai hafal semua kata dalam kitab itu, namun tak sedikitpun makna yang dapat ia pahami. Pemahaman yang menyeluruh baru diperoleh setelah Ibnu Sina membeli Kitab karangan alFarabi mengenai tujuan metafisika Aristoteles. Kenyataan ini membuat Ibnu Sina mengakui kedudukan al-Farabi sebagai guru kedua ( A. Assegaf, 2013:78-. Di samping itu. Ibnu Sina juga mempelajari ilmu kedokteran sejak usia 16 tahun secara otodidak, hingga ia menjadi seorang dokter yang termasyhur pada zamannya. Hal ini didukung oleh kesungguhannya dalam melakukan penelitian dan praktek pengobatan. Berkenaan dengan ini, ada sebagian yang mengatakan bahwa Ibnu Sina mempelajari kedokteran dari Ali Abi Sahl al-Masity dan Abi Manshur al-Hasan ibn Nuh al-Qamary. Selain itu upaya memperdalam berbagai cabang ilmu pengetahuan juga diperoleh Ibnu Sina ketika ia diberi kesempatan untuk memanfaatkan perpustakaan milik Nuh bin Mansyur yang pada saat itu menjadi Sultan di Bukhara. Dengan cara demikian, ilmu kedokteran yang ditekuni Ibnu Sina mengalami perkembangan yang signifikan karena didukung oleh keluasan teori dan praktik (N. Abuddin, 2010:. Sebagai pemikir yang inovatif dan kreatif. Ibnu Sina dikenal sebagai sosok ulamaAo yang produktif dalam melahirkan karya tulis. Karya-karyanya Ibnu Sina tergolong cukup banyak, bahkan hampir meliputi seluruh cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika, politik dan sastra Arab. Ibnu Sina menulis sebanyak 450 risalah. Dari sekian banyak karya itu, karya Ibnu Sina yang paling terkenal adalah Kitab al-SyifaAo (Kitab Penyembuha. dan buku Qanun fi al-Thibb (Undang-undang Kedoktera. Selain itu ada beberapa karya populer yang membuat nama Ibnu Sina dikenal dalam kancah ilmu pengetahuan, terutama di dunia Barat. Berikut ini adalah daftar karya ilmiah Ibnu Sina yang terkemuka (A. Assegaf, 2013:. Sirat al-Syaykh al-Rais (The Life of Ibn Sin. Al-Isharat wa-Aol-tanbihat (Remarks and Admonition. Al-Qanun fi Al-Thibb (The Canon of Medicin. Risalah fi Sirr al-Qadar (Essay on The Scret of Destin. Danishnama-i AoalaAoi (The Book of Scientific Konowledge Kitab al-ShifaAo (The Book of Healin. Kitab al-Najat (The Book of Salvatio. Kontribusi Pemikiran Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Era Modern Hayy ibn Yaqdhan sebuah mitos Persia yang didasarkan pada kisah Ibnu Sina dan selanjutnya ditulis oleh Ibnu Thufail ada abad ke-12. Uraian di atas menunjukkan bahwa Ibnu Sina adalah seorang ulama yang berpengetahuan luas dalam berbagai ilmu termasuk ilmu falsafah, walaupun ia lebih terkenal dalam bidang Dalam dunia intelektual, nama Ibnu Sina menjadi populer, bahkan perhatian dunia terhadapnya tidak hanya mencuat dari kalangan Islam, tetapi juga di kalangan Barat melalui dua karyanya yang berjudul Kitab al-SyifaAo dan Qanun fi al-Thibb. Pemikiran Ibnu Sina Tentang Pendidikan Seperti yang diketahui bersama bahwa pendidikan merupakan sarana utama untuk mempertahankan unsur-unsur pembeda dari makhluk lain, yaitu AukaramahAy yang dianugerahkan Allah kepada manusia (Q. S Al-IsraAo:. Pandangan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak akan pernah lepas dari kajian tentang hakikat manusia. Menurut Maragustam, pentingnya membidik manusia sebagai sentral segala konsep pendidikan dikarenakan manusia itu adalah unsur vital dalam setiap usaha pendidikan. Bahwa selain dipandang sebagai subjek, manusia juga dipandang sebagai objek dalam pendidikan (Maragustam, 2. Pandangan seseorang terhadap manusia akan berpengaruh terhadap konsep-konsep pendidikan yang ia kemukakan. Demikian halnya Ibnu Sina, ia juga memiliki pandangan tentang hakikat manusia, khususnya tentang konsep jiwanya. Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia yang disebut al-nafs al-nathiqat mempunyai dua daya, yaitu: . Daya praktis . l-Aoamila. , ini hubungannya dengan jasad. Daya praktis ini disebut juga al-aql al-Aoamali . kal atau intelegensia prakti. , yaitu daya jiwa insani yang memiliki kekuasaan atas badan manusia, dengan jiwa inilah manusia mampu melaksanakan perbuatan-perbuatan yang mengandung pertimbangan dan pemikiran yang membedakan dirinya dengan binatang. Daya teoritis . lAoalima. , ini hubungannya dengan hal-hal yang abstrak. Daya teoritis ini disebut juga al-aql al-nazhari . kal intelegensia teoriti. , yaitu daya jiwa yang berfungsi untuk menemukan konsep umum yang ditimbulkan dari materi. Perkembangan intelegensia di sini dipengaruhi oleh adanya proses interaksi dengan lingkungannya baik melalui proses belajar mengajar atau pengalaman-pengalaman. Untuk meningkatkan kualitas jiwa dan akal manusia, menurut Ibnu Sina, diperlukan latihan-latihan berupa penelitian dan pendidikan, karena sifat seseorang bergantung pada jiwa yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa manusia telah mempunyai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan, maka ia akan memperoleh kesenangan abadi di akhirat (A. Iqbal, 2. Sebaliknya, jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna akibat terengaruh JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 MEI 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. hawa nafsu, maka ia akan sengsara di akhirat. Pandangan seperti ini membawa implikasi kepada konsepnya Ibnu Sina tentang pendidikan yang mengutamakan pendidikan jiwa. TUJUAN Tujuan Pendidikan Ibnu Sina menjelaskan bahwa tujuan pendidikan memiliki tiga fungsi, yaitu: . tujuan itu menentukan haluan bagi proses pendidikan. tujuan itu bukan hanya menentukan haluan yang dituju tetapi juga sekaligus memberi rangsangan. tujun itu adalah nilai, dan jika dipandang bernilai, dan jika diinginkan, tentulah akan mendorong pelajar mengeluarkan tenaga yang diperlukan untuk mencapainya. Berangkat dari pandangan ini, tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina adalah pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu pendidikan juga harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan dan potensi yang dimilikinya. Khusus mengenai pendidikan jasmani. Ibnu Sina berpendapat hendaklah tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengan olahraga dan menjaga kebersihan. Sedangkan dalam kaitannya dengan keterampilan ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan, dll, sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja profesional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara profesional. Dengan adanya pendidikan jasmani itu diharapkan seorang anak didik akan terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan dengan pendidikan budi pekerti diharapkan seorang anak didik memiliki kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari dan sehat jiwanya. Dengan pendidikan kesenian seorang anak diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya khayalan. Begitu pula pendidikan keterampilan diharapkan bakat dan minat anak didik dapat berkembangan secara optimal. Khusus mengenai tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang berkepribadian akhlak mulia. Ibnu Sina juga mengemukakan bahwa ukuran akhlak mulia tersebut dijabarkan secara luas yang meliputi aspek kehidupan manusia, seperti aspek pribadi, sosial dan spiritual. Ketiganya harus berfungsi secara integral dan komperehensif. Pembentukan akhlak mulia ini juga bertujuan untuk mencapai kebahagiaan . aAoada. Kebahagiaan menurut Ibnu Sina dapat diperoleh manusia secara bertahap. Dari tujuan pendidikan yang berkenaan dengan budi pekerti, kesenian, dan perlunya keterampilan sesuai dengan bakat dan minat tentu erat Kontribusi Pemikiran Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Era Modern kaitannya dengan perkembangan jiwa seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan yang bersifat spiritual mendapat penekanan yang lebih (A. Iqbal, 2015:. Kurikulum Pendidikan Menurut Ibnu Sina, ada beberapa ilmu yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh anak didik berdasarkan tingkat perkambangan usianya, yaitu sebagai berikut: Usia 3-5 tahun, pada usia ini anak didik perlu diberi mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kesenian, seni suara, dan kebersihan dengan penekanan aspek afektif dan pendidikan akhlak. Usia 6-14 tahun. Kurikulum untuk anak usia ini mencakup pelajaran membaca dan menghafal al-QurAoan, pelajaran agama, pelajaran olahraga dan pelajaran syaAoir dengan penekanan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Usia 14 tahun ke atas. Pada usia ini mata pelajaran yang perlu diberikan kepada anak berbeda dengan usia sebelumnya. Mata pelajaran diberikan kepada anak didasarkan atas bakat dan minatnya anak, sehingga anak diarahkan untuk menguasai suatu bidang ilmu tertentu, atau spesialisasi bidang keilmuan. Di samping itu Ibnu Sina membagi mata pelajaran ke dalam kelompok ilmu yang bersifat teoritis dan praktis. Ilmu yang bersifat teoritis meliputi ilmu tabiAoi . edokteran, astrologi, ilmu firasat, ilmu tafsir mimpi, ilmu kimi. , ilmu matematika dan ilmu ketuhanan . encakup ilmu tentang cara-cara turunnya wahyu, hakikat jiwa pembawa wahyu, muAojizat, ilham, ilmu tentang kekelan ruh, ds. Sedangkan ilmu yang bersifat praktis meliputi ilmu akhlak, ilmu pengurusan rumah tangga, ilmu politik terutama dalam kehidupan bermasyarakat yang menginginkan tegaknya keadilan dengan menetakan undang-undang dan syariAoat. Adapun konsep kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Dalam penyusunan kurikulum hendaklah memertimbangkan aspek psikologis anak. Kurikulum yang diterapkan harus mampu mengembangkan potensi anak secara otimal dan harus seimbang antara jasmani, intelektual dan akhlaknya. Kurikulum yang disusun harus berlandaskan keada ajaran dasar dalam Islam, yaitu alQurAoan dan Sunnah, sehingga anak didik akan memiliki iman, ilmu dan amal secara Kurikulum yang ditawarkan adalah kurikulum berbasis akhlak yang diperoleh melalui pendidikan seni dan syair (A. Iqbal, 2015:9-. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 MEI 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. METODE Metode Pendidikan Dengan pertimbangan psikologis anak. Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangannya. Penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan tidak kehilangan daya relevansinya. Metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi, magang, penugasan dan hukuman . arghib dan tarhi. Adapun penjelasannya sebagai berikut: Metode talqin digunakan untuk mengajarkan membaca al-QurAoan. Dimulai dengan memperdengarkan bacaan al-QurAoan kepada anak didik, sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut diminta untuk mendengarkan dan mengulangi bacaan tersebut perlahanlahan dan dilakukan berulang-ulang, hingga akhirnya ia hafal. Metode demonstrasi digunakan dalam pembelajaran yang bersifat praktik, seperti mengajarkan caranya menulis. Guru memberikan contoh tulisan huruf hijaiyyah di depan anak didik, kemudian guru meminta mereka untuk mendengarkan ucapan huruf hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya, dan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya. Metode pembiasaan dan keteladanan digunakan untuk mengajarkan akhlak. Metode ini menjadi lebih efektif apabila disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwa anak didik. Ibnu Sina mengakui adanya pengaruh Aumengikuti/meniruAy atau contoh teladan dalam proses pendidikan di kalangan anak pada usia dini terhadap kehidupan mereka, karena secara naluriyah anak mempunyai kecenderungan untuk mengikuti dan meniru segala yang dilihat, dirasakan, dan yang didengarnya. Metode diskusi digunakan dengan cara penyajian pelajaran di mana anak didik dihadapkan kepada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Ibnu Sina menggunakan metode ini untuk mengajarkan pengetahuan yang bersifat rasional da n teoritis. Metode magang digunakan untuk menggabungkan teori dan praktik. Metode ini memiliki manfaat ganda, yaitu membuat anak didik menjadi mahir dalam suatu bidang ilmu, juga akan mendatangkan keahlian dalam bekerja. Metode penugasan digunakan dengan cara guru memberikan tugas tertentu agar anak didik melakukan kegiatan belajar. Dalam hubungan ini. Ibnu Sina biasanya menyusun Kontribusi Pemikiran Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Era Modern sejumlah modul atau naskah kemudian menyampaikannya kepada anak didik untuk Metode targhib dan tarhib. Dalam pendidikan modern, metode targhib dikenal dengan istilah reward yang berarti ganjaran, hadiah atau penghargaan sebagai motivasi yang Namun dalam keadaan terpaksa, metode tarhib atau hukuman dapat dilakukan dengan cara memberi peringatan secara halus dan hati-hati (A. Iqbal, 2015:. Dari beberapa metode yang diuraikan di atas terdapat empat ciri-ciri penting yang hingga sekarang masih banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini menujukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dalam bidang metode pengajaran masih relevan dengan tuntutan zaman. Adapun ciri-ciri itu antara lain: Pemilihan dan penerapan metode harus disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran. Metode yang diterapkan harus mempertimbangkan kondisi psikologis anak, termasuk bakat dan minatnya. Metode yang diterapkan tidak kaku, tetapi dapat berubah sesuai kondisi dan kebutuhan anak didik. Ketepatan dalam memilih dan menerapkan metode sangat menentukan keberhasilan Konsep Guru Guru memiliki peran sangat penting dalam pendidikan. Dalam hubungan ini. Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolokolok dan main-main di hadapan anak didik, serta sopan santun. Lebih lanjut, seorang guru sebaiknya dari kaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, telaten dalam membimbing anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak, dan tidak keras hati (I. Rasyid, 2019:779-. Ibnu sina juga menekankan agar seorang guru tidak hanya mengajarkan dari segi teoritis saja kepada anak didiknya, melainkan juga melatih segi keterampilan, mengubah budi pekerti dan kebebasannya dalam berfikir. Seorang guru harus mengutamakan kepentingan ummat daripada kepentingan diri sendiri, menjauhkan diri dari meniru sifat raja dan orang-orang yang berakhlak rendah, dan mengetahui etika dalam majelis ilmu (N. Abuddin, 2000:77Ai. Uraian di atas menunjukkan bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi keilmuan yang bagus, berkepribadian mulia dan kharismatik sehingga dihormati dan menjadi idola bagi anak didiknya. Hal ini penting, karena dengan kompetensi itu tentulah anak didik akan menyukainya, dan ilmu yang diajarkan guru mudah diterima oleh anak didik. Di samping itu. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 MEI 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. seorang guru dapat mencerdaskan anak didiknya dengan berbagai pengetahuan yang diajarkannya, dan dengan akhlak seorang guru dapat membina mental dan akhlak anak didik. Relevansi Pemikiran Ibnu Sina Terhadap Pendidikan Masa Kini Barangkali ada benarnya jika Ibnu Sina dikatakan sebagai produk sejarah. Bahwa suatu pemikiran sebagai produk masyarakat yang telah lalu, tentu akan jauh berbeda dengan situasi sosial dimana pendidikan harus berperan di dalamnya, seperti pada konteks pendidikan Begitu juga Ibnu Sina, konsep pendidikannya merupakan aplikasi dan responsi dari jawaban atas permasalahan sosial kemasyarakatan pada zamannya. (WM. Abdul, 2. Akan tetapi jika dicermati dengan seksama, maka format pemikiran Ibnu Sina tentang pendidikan akan tampak jelas, bahwa ia menggandrungi konsep pendidikan Islam dalam wujudnya yang humanis, seperti keterkaitan antara materi pelajaran dengan pertimbangan dalam menerapkan suatu metode pengajaran. Dengan kata lain, pendidikan hendaknya menggunakan strategi dan metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak Subtansi ide semacam inilah yang perlu dipertahankan dan dikembangkan lebih lanjut pada sistem pendidikan Islam dewasa ini. Di samping itu, pemikiran Ibnu Sina tentang pendidikan juga mengacu pada tiga aspek potensi . peserta didik, yaitu jiwa . l-qal. , jasad . l-jis. , dan akal . l-Aoaq. Dari ketiga aspek potensi tersebut Ae tanpa mengesampingkan aspek akal/rasio Ae Ibnu Sina tampak lebih cenderung menekankan pada aspek pendidikan jiwa . l-qal. atau sisi afektif dan akhlaq alkarimah (A. Assegaf, 2013:. Penekanan Ibnu Sina terhadap sisi afektif ini bukan berarti ia menafikan sisi lain seperti kognitif dan psikomotorik. Setidaknya penekanan tersebut dapat dipahami bahwa Ibnu Sina menyadari betul arti keterbatasan inderawi manusia, terutama akal/rasionya. Bahkan sejarah pemikiran manusia membuktikan keterbatasan akal. Pada abad pertengahan filsafat Yunani . dan filsafat Aristoteles . dapat dikatakan Umar Amir Hoesin menjelaskan bahwa kepudaran tersebut disebabkan antara lain karena analisis-analisis dengan akal itu belum tentu dapat menjawab semua pertanyaan dan mengumpulkan kebenaran yang sesungguhnya. Pikiran manusia . tidak mampu menjangkau wilayah non-rasional (M. Qamar, 2005:. Intuisilah . yang mampu memahami kebenaran secara kaffah. Manusia yang hatinya bersih . albun sali. akan selalu siap menerima pengetahuan dari Tuhan. Intuisi . isi afekti. adalah essensi manusia, sebab ia yang mengendalikan seluruh fungsi organ dan psikis manusia yang kemudian melahirkan gerak Bahkan Rasulullah juga memberikan penekanan pada sisi afektif pendidikan Kontribusi Pemikiran Ibnu Sina dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam di Era Modern melalui hadis Auala wahiya al-qalbuAy, yaitu: ingat! ia adalah hati (A. Hafiz dkk, 2023:12681. Dengan preferensi itu, maka pendidikan Islam harus berorientasi pada kecerdasan jiwa anak didik. Salah satu diantaranya yang terpenting adalah perlunya pendidikan penyucian jiwa. Hal ini sangatlah beralasan, karena ketika kita meninjau ayat Q. S Al-Baqarah: 151, maka yang paling pertama dilakukan dalam proses pembelajaran justru adalah upaya penataan diri . , baru diikuti proses taAolim al-kitab . roses pengajaran kitab atau mater. dan disusul dengan taAolim . terhadap sesuatu yang belum diketahui anak didik. Bertolak dari psikologi. anak didik mengajar menjadi titik . esiapan pengembangan potensinya baik dari aspek intelektual, emosional, maupun spiritual. Tegasnya, pendidikan yang berorientasi kepada jiwa dapat mencerdaskan anak didik sekaligus membentuk kepribadian yang berakhlak mulia. Profil anak didik seperti ini sangat dibutuhkan dalam konteks kekinian (A. Susanto, 2. Apalagi dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia, akhlak menjadi sesuatu yang sangat prioritas. Bahkan akhlak mulia menjadi salah satu indikator penting dalam rumusan tujuan Pendidikan Nasional . asal 3 UU Sisdiknas Tahun 2. Oleh karena itu, perhatian tokoh dan praktisi pendidikan sangat dibutuhkan untuk membangun karakter bangsa ke arah yang lebih terhormat. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Ibnu Sina meskipun lebih dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu kedokteran, namun beliau juga merupakan salah satu tokoh muslim yang dipandang memiliki perhatian serius dalam kaitannya dengan masalah ummat, termasuk di dalamnya adalah masalah pendidikan. Beliau dilahirkan dalam lingkungan masyarakat yang menganut paham SyiAoah Ismailiyyah, akan tetapi beliau mengembangkan pemikiran dengan caranya sendiri untuk mencari suatu kebenaran. Dengan sangat rasional Ibnu Sina juga mampu menghadirkan ide-ide yang cemerlang dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, tak terkecuali ilmu tentang pendidikan. Pandangan Ibnu Sina tentang pendidikan dapat dilihat melalui gagasannya yang apik tentang tujuan, kurikulum, metode dan konsep guru. Pada dasarnya pandangan Ibnu Sina tersebut masih sangat aktual dan relevan dengan perkembangan pendidikan modern sekarang Relevansinya terletak pada upaya mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat. JBPAI Ae VOLUME. 3 NOMOR. 3 MEI 2025 e-ISSN : 3031-8343. p-ISSN : 3031-8351. Hal. kesiapan, keenderungan dan potensi yang dimilikinya, tanpa mengabaikan unsur akhlak alkarimah sebagai ciri-ciri dasarnya anak didik. DAFTAR RUJUKAN Assegaf. Abd. Rachman. Aliran Pemikiran Pendidikan Islam: Hadharah Keilmuan Tokoh Klasik Sampai Modern. Jakarta: Rajawali Pers, 2013. Hafiz. Romdaniah. Nizar. Mauliza. Nata. , & Mu'ti. Teori Pendidikan Ibn Sina dan Jean Piaget: Perbandingan antara Perkembangan Kognitif dan Pertumbuhan Usia Peserta Didik. Rayah Al-Islam, 7. , 1268-1285. Iqbal. Abu Muhammad. Pemikiran Pendidikan Islam: Gagasan-gagasan Besar Para Ilmuwan Muslim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015. Maragustam. Filsafat Pendidikan Islam: Menuju Pembentukan Karakter Menghadapi Arus Global. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semestas, 2014. Nata. Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo, 2000. Nata. Abuddin. Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidisipliner. Jakarta: Rajawali Pers, 2010. Qamar. Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik. Jakarta: Erlangga, 2005. Rasyid. Konsep pendidikan ibnu sina tentang tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan guru. Ekspose: jurnal penelitian hukum dan pendidikan, 18. , 779790. Susanto. Filsafat ilmu: Suatu kajian dalam dimensi ontologis, epistemologis, dan Bumi Aksara. WM. Hermeneutika, estetika, dan religiusitas: Esai-esai sastra sufistik dan seni Sadra Press.