Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN: 2579-9843 (Media Onlin. Representasi Wacana Kalepasan sebagai Konsep Estetika dan Etika Spiritualitas Manusia dalam Kakawin Panca Dharma Ni Made Ari Dwijayanthi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Indonesia senja@gmail. Abstract The Kakawin Panca Dharma (KPD), comprising Dharma Sawita. Dharma Wimala. Dharma Niskala. Dharma Sunya, and Dharma Putus, presents a textual discourse on kalepasan . as the essence of human spirituality and aesthetic experience in Old Javanese literature. This study aims to examine how KPD represents kalepasan as both ethical and aesthetic dimensions of spirituality, while also exploring the aesthetic experience of the kawi . as an act of spiritual offering to the Creator. Employing a qualitative approach grounded in semiotics and hermeneutics, the research investigates the forms, functions, and meanings of kalepasan embedded in the language, symbols, and metaphors of the texts. The findings reveal that KPD articulates kalepasan not merely as a metaphysical doctrine but as an ethicalAeaesthetic practice rooted in humility, purification of the self, and the unification of the self . , the cosmos, and the divine. The figure of the kawi-wiku, exemplified by Kamalanatha, embodies a paradoxical stance of self-negation and self-affirmation, thereby generating a profound aesthetic experience. Liberation in KPD is not achieved through ritual formalism alone, but through contemplative silence, the cessation of bayu, sabda, idep . nergy, speech, though. , and the alignment with the niskala dimension. Silence . unya, putus, nirbhan. thus emerges as both the key aesthetic category and the highest ethical ideal, signifying the peak of rasa and ineffable bliss. Accordingly. KPD may be regarded as a Autemple of language,Ay where literature itself becomes a medium of inner yadnya . acred offerin. and a pathway to liberation. This study underscores the enduring significance of KPD not only as a philological and historical text, but also as a source of ethical and aesthetic spirituality relevant to contemporary reflections on human Keywords: Kakawin Panca Dharma. Liberation (Kalepasa. Aesthetics. Ethics. Spirituality. Silence Abstrak Kakawin Panca Dharma (KPD), yang terdiri atas Dharma Sawita. Dharma Wimala. Dharma Niskala. Dharma Sunya, dan Dharma Putus, merupakan naskah yang menguraikan wacana kalepasan sebagai inti spiritualitas dan estetika sastra Jawa Kuna. Penelitian ini bertujuan mengungkap representasi wacana kalepasan dalam KPD sebagai etika dan estetika spiritualitas manusia, sekaligus menelaah pengalaman estetik pengarang . sebagai bentuk persembahan spiritual kepada Pencipta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka semiotika dan hermeneutika sastra, untuk menelusuri bentuk, fungsi, dan makna ajaran kalepasan yang terjalin dalam struktur bahasa, simbol, dan metafora teks. Hasil kajian menunjukkan bahwa KPD menghadirkan kalepasan bukan semata sebagai konsep metafisis, melainkan sebagai laku estetik-etis yang menekankan kerendahan hati, kemurnian batin, dan penyatuan antara aku . , semesta, dan Pencipta. Posisi kawi-wiku yang dalam naskah Kakawin Dharma Sunya disebut Kamalanatha mengungkapkan dialektika diri, meniadakan identitas personal https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebagai kawi sekaligus menegaskan melalui naskah, tercipta pengalaman estetik yang penuh kedalaman rasa. Kalepasan dalam KPD tidak hanya dimaknai melalui ritual formal, melainkan melalui kontemplasi sunyi, pemadaman bayu, sabda, idep, serta pemusatan diri pada penyatuan niskala. Kesunyian . unya, putus, nirbhan. menjadi kunci estetika sekaligus etika, menandai puncak rasa dan kebahagiaan tertinggi yang melampaui wacana normatif. KPD dapat dipandang sebagai candi bahasa, yang menjadikan sastra menjadi medium yadnya batiniah, teks bertransformasi menjadi sarana pembebasan jiwa. Temuan ini menegaskan bahwa KPD tidak hanya menyimpan nilai historis dan filologis, tetapi juga menghadirkan etika dan estetika spiritual yang relevan bagi pemahaman manusia modern tentang jalan menuju kalepasan. Kata Kunci: Kakawin Panca Dharma. Kalepasan. Estetika. Etika. Spiritualitas. Kesunyian Pendahuluan Kakawin Panca Dharma selanjutnya disingkat (KPD) terdiri atas Kakawin Dharma Sawita. Dharma Wimala. Dharma Niskala. Dharma Sunya, dan Dharma Putus adalah lima kakawin yang menjelaskan kalepasan. Pengelompokan kelima naskah kakawin berdasarkan kelompok ajaran atau wacana besar di dalamnya. Susunan lima kakawin ini dalam satu keropak mengisyaratkan tahapan-tahapan sebuah ajaran kemanunggalan atau pembebasan jiwa. Pada tataran dunia teks dan konteks Halliday . KPD menyajikan ajaran kalepasan sebagai proses kebahagiaan yang sederhana dari umat manusia. Pemenuhan kebahagiaan manusia modern Bali dilakukan dengan berbagai cara sehingga menimbulkan kesadaran spiritual kolektif. Modifikasi-modifikasi kesadaran spiritual kolektif disesuaikan dengan keadaan sosial saat ini. Semisal manusia modern cenderung mencari kambing hitam atas kegagalan-kegagalan dirinya, manusia modern merasa segala kekurangan dirinya merupakan tanggung jawab manusia lain (Jung, 2. Fenomena ini tampak dalam praktik upacara yadnya yang dilakukan secara besar-besaran, namun sering kali menimbulkan penderitaan setelahnya karena kehilangan dasar filosofis yang bersumber dari teks atau susastra (Acri, 2. Dalam kondisi semacam itu, menurut Palguna . manusia seharusnya kembali kepada teks dan nilai-nilai sastra sebagai jalan untuk kembali ke dalam dirinya Potensi diri hendaknya dikembangkan sebagai bentuk persembahan spiritual, seniman mempersembahkan karya seni, dan pengarang mempersembahkan karya sastra sebagai bentuk yadnya (Agastia, 2. Karya sastra adalah produk olahan rasa, karenanya ia dapat memberikan rasa, dan mengangkat manusia atau pembacanya ke tingkat pengalaman keindahan dan kenikmatan tertentu (Agastia, 2. Pengalamanpengalaman estetik antara pengarang dan pembaca terjalin melalui komunikasi kodekode bahasa, sastra, dan budaya (Halliday, 1992. Yasa, 2. Tersublimnya rasa seorang pengarang yang kemudian menggubahnya menjadi kakawin merupakan puncak kontemplasi seorang penikmat rasa. Komunikasi pengarang dengan pembaca terjadi berabad-abad lewat interpretasi rasa seorang reseptor, yaitu pembaca (Conway, 2. Pengarang dalam hal ini kawi dari kakawin menunjukkan eksistensi diri mereka dalam teks yang kemudian teks tersebut diintepretasikan sebagai sebuah jalan kalepasan dan kemanunggalan. Sehingga penelitian ini menyajikan bentuk, fungsi, dan makna ajaran kalepasan juga pengalaman estetik pengarang sebagai proses pemujaan kepada Pencipta melalui karya sastra. Dalam konteks ini, pengarang atau kawi menunjukkan eksistensi dirinya melalui Ia tidak semata menciptakan teks, melainkan menyingkap jalan kalepasan dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kemanunggalan jiwa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap wacana kalepasan sebagai etika dan estetika spiritualitas manusia, serta mengeksplorasi pengalaman estetik pengarang sebagai bentuk pemujaan kepada Pencipta melalui karya Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filologis, semiotik, dan hermeneutik untuk mengungkap wacana kalepasan dalam Kakawin Panca Dharma. Data primer berupa teks lima kakawin yang tergabung dalam keropak Panca Dharma, sedangkan data sekunder diperoleh dari kajian pustaka filologi, religius, dan Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, transliterasi, serta pembacaan kritis terhadap teks KPD. Proses ini dilanjutkan dengan penelaahan semiotik terhadap tanda, simbol, dan konsep-konsep kunci . isalnya sunya, putus, nirbhan. , serta hermeneutika tiga tahap, yaitu pra-pemahaman, interpretasi, dan pemaknaan ulang. Analisis dilakukan untuk mengungkap bentuk, fungsi, dan makna wacana kalepasan, serta bagaimana pengalaman estetik pengarang . termanifestasi sebagai laku spiritual dalam teks. Validitas hasil analisis dijaga melalui triangulasi teori dan sumber. Triangulasi teori dilakukan dengan menggabungkan perspektif semiotika, hermeneutika, dan estetika sastra, sedangkan triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan KPD dengan teks-teks ajaran lain, seperti JyAnasiddhAnta dan sejumlah kidung serta lontar yang relevan. Dengan demikian, interpretasi yang dihasilkan tidak bersifat subjektif semata, tetapi memperoleh legitimasi akademis dari kerangka teori dan literatur Hasil dan Pembahasan Pierce dalam Ratna . menyatakan bahwa tanda adalah logika, hasil pemaknaan tanda dikatakannya adalah hal yang logis. Semiotika memokuskan penelitiannya pada tanda. Bahasa sebagai sistem tanda dalam KPD menguraikan isi kakawin tentang proses pembebasan jiwa seorang pengarang dengan mencipta karya sastra sebagai sebuah persembahan (Agastia, 2. Aku wiku ya tan hana kAku/ ikA iki ya tan hana winulatan/ wulatana ri wulatta tinon/ wukas iU wulat ika patitis (Kakawin Dharma Sunya. Kakawin Dharma Niskala. Bait ke-. Terjemahannya: Aku wiku tidak ada milikku/ ini itu tidak ada kupandang/ pandangan dilihat dalam kau memandang/ ujung pandangan, itulah arah pandangan (Kakawin Dharma Sunya. Kakawin Dharma Niskala. Bait ke-. Kawi umumnya diartikan orang yang menciptakan kakawin, namun ada pula yang menyebutkan bahwa kawi merupakan sebutan bagi orang yang pekerjaannya berhubungan dengan pustaka, sastra, dan seniman (Zoetmulder, 2. Kawi dalam KPD merupakan seorang kawi dan seorang wiku. Wiku sebagaimana diketahui adalah seorang pendeta pertapa. Kawi-wiku Palguna . adalah seorang penyair juga seorang pertapa. Keduanya memiliki peran yang bersamaan dalam penciptaan. Tidak semua nama kawi bisa diidentifikasi dalam KPD, hanya dalam Kakawin Dharma Niskala. Dharma Sunya, dan Dharma Putus, nama kawi dapat diidentifikasi. Masing-masing menyebut Kamalanatha sebagai kawi-wiku kakawin tersebut. Pembicaraan tentang Kamalanatha sangat jelas diceritakan dalam Kakawin Dharma Niskala dan Dharma Sunya. Kamalanatha tampak bebas menggunakan dua atribut tersebut, yaitu sebagai kawi dan wiku. Kamalanatha seorang kawi Palguna . Agastia . tidak ada satu pernyataan pun yang menyebut demikian, yang ada justru https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sebaliknya, yaitu sebuah pernyataan yang meniadakan [Aiki tan uluh ni saU kawi . ni bukan oleh seorang kawi. Kakawin Dharma Sunya. Bait ke-. Itu dikatakan sebagai sebuah permohonan maaf atas hasil pekerjaan yang menurut Kamalanatha sendiri tidak memperlihatkan rasa sebuah kakawin yang indah. Oleh karena itu, disarankan agar rasa itu dicari dalam persatuan niskala yang diceritakannya. Persatuan niskala atau pembebasan jiwa seperti yang telah diuraikan sebelumnya, berarti pembersihan, penyucian, dan pengosongan atau pemadaman bayu, sabda, idep. Saran Kamalanatha dapat dipahami bahwa yang disebut rasa tidak cukup dicari dengan pemahaman teks belaka, tetapi pada pelaksanaan ajaran yang disampaikannya. Kakawin dalam hal ini KPD, khususnya Dharma Sunya, adalah suatu sarana pembersihan, penyucian, pengosongan, atau pemadaman bayu, sabda, idep. Bukan kakawin itu sendiri, melainkan pengalaman keindahan yang diadakannya. Jadi, menurut Kamalanatha, kakawin adalah salah satu manifestasi pengalaman keindahan sekaligus salah satu alat mengadakan pengalaman keindahan (Agastia, 2. Keindahan hanya mungkin dilahirkan oleh keindahan. Kamalanatha menyatakan bahwa seorang kawi menginginkan intisari pengalaman keindahan yaitu bebas dari keinginan. Kebebasan atau keindahan itulah pertemuan rasa. Pertemuan segala rasa dapat dipahami sebagai puncak rasa. Puncak rasa adalah persatuan niskala atau kebahagiaan yang tidak terlukiskan. Oleh karena itu, persatuan niskala disebut intisari keindahan (Palguna, 1. Lewat pernyataan ini bukan oleh seorang kawi. Kamalanatha justru menyatakan diri seorang kawi. Memang begitulah sepatutnya seorang kawi menyatakan diri menurut konvensi. Paling tidak ada dua cara seorang kawi menyebut dirinya. Pertama, menghindari dari penggunaan gelar tertentu bila berbicara tentang dirinya sendiri pada bagian epilog. Gelar-gelar yang dihindari antara lain kawiswara . aja kaw. , kawi siddha . awi yang telah mencapai kepenuha. , kawi nipuna . awi mahi. , karena sebutan itu biasanya digunakan untuk kawi yang menjadi pujaannya, yang mengilhaminya, pada siapa seorang kawi mempersembahkan kakawin-nya. Kedua, apabila seorang kawi menyebutkan identitas kawi-nya dia akan menyatakan diri sebagai kawi yang malang, kawi tanpa karas, kawi yang belum tentu bertemu dengan keindahan, kawi yang ditinggalkan oleh kawiswara . awi utam. , dan sebagainya. Seni pengungkapan diri seperti itu kemudian disusul permohonan maaf. Ditambahkan harapan moga-moga para kawiswara mengampuni kelancangannya yang berani meniru-niru tanpa pengetahuan yang cukup. Permohonan maaf juga ditujukan ke hadapan para pembaca yang budiman dan para pandita yang bijaksana serta tidak ketinggalan para pertapa yang sakti (Zoetmulder, 1994. Palguna, 1. Permohonan maaf semacam ini telah menjadi aturan, tidak hanya dalam satu kakawin, tetapi pada setiap kakawin. Bahkan, setiap kawi menuturkan keadaan dirinya, di mana pun dalam teks, ia selalu menggunakan permohonan maaf (Suarka, 2. Sepertinya ada semangat yang melatarbelakangi adanya aturan tersebut. Semangat yang tampak di balik aturan . permohonan maaf itu adalah perasaan kurang berarti, bahkan tidak berarti di hadapan keindahan (Acri, 2. Kamalanatha pun ikut mengadakan aturan itu, bahkan tampak lebih ekstrem lagi karena mengatakan kakawin-nya bukan pekerjaan seorang kawi berarti aku bukan seorang kawi. Kamalanatha tidak memakai kata-kata permohonan maaf seperti pengarang kakawin lainnya gadung yang bergelantungan berharap mencapai rembulan, kawi yang lupa menulis syair, atau kawi yang ditinggalkan kawi utama. Kamalanatha justru memilih kalimat yang lugas ini bukan oleh seorang kawi (Agastia, 2. Dengan demikian, dua cara penyebutan diri yang disebutkan Zoetmulder pada paragraf sebelumnya, sekarang bisa ditambahkan dengan satu cara lagi, yaitu seorang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kawi bahkan tidak mengaku kawi. Bukan karena ia bukan kawi, melainkan betapa tidak pentingnya sebutan, identitas, nama dalam konteks pengalaman keindahan. Terlebih lagi dalam persatuan niskala (Palguna, 1. Kawi adalah orang yang dilahirkan oleh kakawin, sementara kakawin sendiri sebagaimana adanya sekarang, tidak jelas lagi diciptakan oleh siapa. Mungkin oleh seorang kawi, dua orang, atau barangkali lebih karena dalam tradisi berikutnya . seorang kawi memiliki kewenangan, yaitu memperbaiki, menambahkan, atau menambahi sebuah kakawin (Creese, 2. Keadaan meniadakan diri tersebut dilembagakan dalam bentuk aturan. Jadi terlalu dini menyebutkan bahwa seorang kawi memiliki tiga cara dalam penyebutan dirinya sesuai dengan suara nurani para kawi. Artinya, suara nurani kawi merupakan semangat berapi-api yang mendorong terjadinya penggubahan karya (Jung, 2. Memaknai aku . , semesta, dan Pencipta seperti melakukan rekreasi ke dalam Memahami diri sebagai aku, melihat keteguhan hati seorang kawi, memandang semesta, dan terakhir merindukan pencipta (Halliday, 1992. Yasa, 2. Kerendahan hati menjadi sebuah pandangan hidup dan dasar yang utama dalam proses penyatuan. Tidak ada pemisahan antara aku, kawi, semesta, dan pencipta jika kaitannya dengan pemaknaan secara keseluruhan dalam KPD. Hal itu terjadi karena seperti yang talah dikatakan berulang-ulang, bahwa keseluruhan adalah proses dan jalan menuju sunyi. Jika kemudian berbicara tentang teks dan konteks, penulis ingin memberikan penekanan pada pemaknaan bahwa kesatuan makna yang utuh terbangun atas konsistensi kawi kakawin melakukan penggubahan dalam KPD (Halliday, 1. Konsistensi ini berupa wacana kalepasan di dalamnya, wacana itu sendiri menyangkut bentuk, fungsi, dan makna. Tidak ada cara yang lebih mudah meneliti dan menuliskan kalepasan dengan cara yang sederhana, mengalir, tentu dengan bingkai ilmiah sebuah penelitian. Aku, kawi, semesta, dan Pencipta merupakan metafora yang dihadirkan kawi KPD untuk memudahkan pembaca memahami kalepasan. Kawi KPD melakukan ini karena dia menyadari bahwa sebagai seorang Kawi. Dia tidak memiliki apa-apa, tidak juga berhak pada karyanya. Begitulah kawi KPD menyebut dirinya. Aku wiku ya tan hana kAku (Aku wiku tidak ada milikk. Hal ini memang karena sebuah kerendahan hati, ketiadaan keinginan untuk mendapatkan apa pun. Ketiadaan keinginan ini dikatakan sebagai bentuk sederhana kalepasan yang begitu kompleks Kalepasan jika dikerucutkan tidak ada ujungnya karena ujung sesungguhnya adalah ketiadaan, kekosongan, dan kehampaan. Seorang kawi menyadari hal tersebut. Oleh karena itu, sebagai sajjana . rang bija. Dia memilih menyelamatkan dunia dengan Karya itu sendiri adalah wujud dari kalepasan itu, seperti kutipan di bawah ini. Swadharmma saU sAjjana masihiU dadi/ ndatan hana tyakta ri jwa niU sarat/ yawat ya mAsih drda bhakti nityasa/ lanA nurAgeki huripnya tan busur// (Kakawin Dharma Wimala. Wirama Xi. Bait ke-. Terjemahannya: Kewajiban seorang bijak adalah mengasihi . etiap oran. / tidak ada meninggalkan jiwa . di dunia/ karena ketulusan baktinya/ kekal abadi hidupnya yang selalu mengalir// (Kakawin Dharma Wimala. Wirama Xi. Bait ke-. Seorang bijak juga merupakan sebutan untuk seorang kawi, hanya orang bijak yang dapat menuliskan kebajikan dan ketidakbajikan secara bersama sebagai cerminan ataupun tuntunan (Acri, 2. Swadharmma saU sAjjana masihiU dadi . ewajiban seorang bijak adalah mengasihi sesam. Hal itu berarti bahwa artinya setiap yang melahirkan cinta dan kasih sayang merupakan cara untuk mengobati kerinduan bertemu . aca menyat. dengan pencipta. Bakti yang tulus tanpa meninggalkan jejak di dunia https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH adalah kekekalan seorang kawi karena hidup seorang kawi selalu mengalir dan menemukan muara lalu lebur menjadi satu dalam samudra kesunyian. Seorang kawi tidak hanya menuturkan dirinya, tetapi menuturkan aku . sebagai kekuatan karyanya. Aku yang bisa saja berarti dirinya . adalah bagian yang penuh romantika dalam KPD. Dia . seolah tidak terlibat, tetapi terlibat. Cara menyembunyikan diri di setiap kata merupakan keistimewaan yang dimiliki. Ketika karya KPD dibaca, pembaca . merasa menjadi aku . , aku . , aku . emesta para kawi atau tubu. Sungguh KPD penuh misteri, setiap kalimatnya adalah nyanyian sunyi yang datang dari beberapa abad silam (Palguna, 1. Nyanyian sunyi menjadi nyanyian pengiring dalam segala kehidupan aku . Rumah sunyi dapat ditemukan dengan iringan nyanyian sunyi yang konstan, terus menerus didengar, dinyanyikan, dan dilaksanakan. Suara merdu nyanyian sunyi berasal dari hati seorang sunyi. Nyanyian sunyi itu adalah Kakawin Panca Dharma. SAmpun labdha guru praboddha karugup satata lana humuUgu riU hati/ raksan cupwana sAri-sAri nika homiduUakuna ri sandhi niU tuput/ byaktAwAs pahilaU nikaU tiga rahasya ri pamusat ikA ri niskala/ nora U uabda hidup ndatan pahamuUan pranawa huwus amindha niskala// (Kakawin Dharma Sunya. Dharma Niskala. Bait ke-. Terjemahannya: Sesudah berhasil ajaran . yang telah bangun kesadarannya diresapi, selalu ada dalam hati/ jaga di dalam cupu hati, terus-menerus itu tujukan pada persatuan dengan benar/ terbukti jelas itu penghilang tiga yang rahasia saat sirnanya di alam niskala/ tiada kata, pikiran tidak meninggalkan bekas, aksara suci telah berpadu niskala// (Kakawin Dharma Sunya. Dharma Niskala. Bait ke-. SArwwatma wruddhi sakariU taya snya Uuni/ mAntuk ta riU taya ta rakwa wukasnya teki/ yan saU putus tan umale-mla saUka niU rat/ mAryya sarira hana tan tumuti wipAtha// (Kakawin Dharma Putus. Bait ke-. Terjemahannya: Setiap atma yang datang . ke alam sunyi/ tidak akan pulang kembali meninggalkan bekas di sini/ jika memang telah putus, maka tidak akan bisa kembali ke dunia asalnya/ tubuhnya pun tidak diliputi kejahatan// (Kakawin Dharma Putus. Bait ke-. Sumbah niU wwaU amrsite pada maheswara saphala kitA srayeng mangy/ wyApiwyApaka mrtti kita sarwwa gata wimala yoga laksana/ ONG kArAtmaka mantra nirmala sksma wukasiU aganal maweh licin/ unyA sthana ri sAri niU samaya nirbbhana wukas i payandi niU smrtti// (Kakawin Dharma Wimala. Bait ke-. Terjemahannya: Sembah sujud kepada engkau penguasa segala keindahan/ engkau berada di manamana dalam setiap yang suci dan melakukan jalan yoga pengendalian/ kekuatan mantra, kesucian diri, sungguhlah disebut licin/ bertempat dalam sari kesunyian yang kosong dan menyatu dalam penciptaan// (Kakawin Dharma Wimala. Bait ke-. Uke Uhawan kinati kacuUka tluUiU hedayA lumaku aUawaU-UawaU/ jujubuganA rum arum tAta tAta bya pwaka bun akniU kawiuwarA/ kuliU UlaUanakun kabeh krana ira n saram hana parA labdha paIdithA/ suksma unyA karAma cintya mahA Iirbhana tan hana mban awak nira// (Kakawin Dharma Sawita. Bait ke-. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Demikianlah kesungguhan hati yang digerakkan oleh pikiran/ yang kotor kemudian dibuat wangi dengan susunan yang dibuat oleh Kawiswara/ peperangan . alam dir. hendak dilaksanakan, karena beliau adalah wiku yang termasyhur/ jiwa menyatu dalam kesunyian, menjadi satu dengan Maha Nirbhana, tidak ada yang tersisa dalam dirinya// (Kakawin Dharma Sawita. Bait ke-. Keseluruhan bait yang dikutip di atas merupakan bait yang mengandung kata Kesunyian merupakan pilihan kata yang tidak terlupakan dalam tiap-tiap teks KPD, seolah-olah kesunyian menjadi penekanan penting kawi KPD. Kesunyian . unya, putus, nirbhan. , apa pun yang disebut tetaplah ia adalah kehampaan, tidak bisa dibayangkan . an paUun-aUu. , tidak terperikan . an patuduha. , dan di luar jangkauan pikiran . Jika digambarkan dalam bentuk tabel, maka kesunyian letaknya paling Sementara para pencari sunyi berada di sisi luar seperti molekul-molekul yang kemudian bersenyawa dengan kesunyian saat penyatuan itu telah terjadi (Jung, 2. Kutipan bait di atas selain sebagai bentuk konsistensi kakawin tentang kalepasan, juga mengingatkan penulis pada sebuah kejadian yang dapat dikatakan wujud sederhana aku . melakukan kalepasan. Perilaku atau kejadian tanpa sadar itu adalah ketika sedang dalam keadaan penat maka mata akan terpejam sejenak, lalu ketika mata dibuka kembali, semua kepenatan sejauh mata terasa hilang (Palguna, 1. Penyebab dari hilang tersebut adalah keinginan untuk menemukan tempat yang sunyi. Berkali-kali penulis ingin tuliskan bahwa rumah yang bernama kesunyian hanya dapat ditemukan oleh kesunyian . Kesunyian itu Hyang Tunggal. Seseorang yang belajar hakikat melepas tidak akan berhenti untuk senantiasa mengikhlaskan yang terjadi. Menerima sesuai dengan kadar ikhlas dalam dirinya dan berusaha mengatasi apa pun dengan memaksimalkan dirinya serta tidak mencari kambing Rasa seperti ini yang menjadi dasar dari yadnya . orban suci yang tulus ikhla. , yang pada masa sekarang sering dilakukan dengan besar-besaran, tetapi membuat pelaku yadnya menderita kemudian terlilit utang. Menurut Zoetmulder . menjelaskan, bahwa praktik-praktik matiraga berusaha memeroleh daya magis tanpa mempersembahkan korban. Sumbernya bukan lagi suatu tata upacara yang lepas dari kemauan manusia, yang dijabarkan dalam peraturan-peraturan yang baku, melainkan dalam daya upaya pribadi, perbuatan manusia itu sendiri. Siwa yang ditujunya ada pada pusat di dalam tubuhnya, pada hulu hatinya sehingga diri menjadi tempat bernaung semesta. Cukup pujalah semua yang ada dalam diri karena di setiap tempat tubuh manusia adalah tempat para dewa. Segala sesuatu . alam tubuhm. merupakan hidup yang keramat (Sanghyang Huri. , merupakan Ciptaan Tertinggi (Wisesa-Kary. , tubuhmu dalam tangan, dalam kaki, kulit, daging, otot, tulang, pembuluh utama, buah pelir, jantung, empedu, pangkal tenggorokan (Palguna, 1. Setiap titik pada tubuh adalah aksara yang hidup dan selalu bergerak ke segala penjuru menghidupkan sudut-sudut pikiran. Bukankah tubuh dikatakan Bhuwana Alit yang merupakan bentuk analog dari Bhuwana Agung. Tubuh sebagai lautan luas yang penuh gejolak, tetapi semakin diselami jauh ke dalam, ketenangan akan didapati. Lautan yang tenang adalah tempat segalanya bermula dan bermuara. Demikian pula tubuh yang selalu membebaskan diri untuk menjadi apa pun. SaUksupania hilaU tikaU krutawara ri sira wuwus atiUgal ing kriya/ ya deniU ya tatan hana guru kasisya ri sira natimuddha Iirguna/ ngka teUgwan katumu U rasa ta ya warah kadi winarahi saUkaniU warah/ maUke pwa katukan wukasniU amiweka ri hilaUanikaU tutur hidup// (Kakawin Dharma Putus. Wirama I. Bait Ke-. Terjemahannya: https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pendeknya, tiada anugerah dari beliau yang telah meninggalkan upacara religi/ makanya adalah tidak ada guru tidak ada murid, bagi beliau tidak ada kebodohan, tidak ada kekurangan/ itulah tempat pertemuan perasaan yang disadari bagaikan diberi tahu oleh sabda Ilahi/ kini hingga di kemudian hari manakala memperlakukan dengan hati-hati hilangnya kesadaran batin// (Kakawin Dharma Putus. Wirama I. Bait ke-. Sesungguhnya sesuatu yang dicari ke luar akan ditemukan dan hilang di dalam Tidak ada yang lebih bodoh atau lebih pandai, tidak ada guru pun tidak ada murid. Semua sama, lahir dari kekosongan berakhir dengan kehampaan. Tubuh aku . tma, penyai. adalah kumpulan rasa yang dipertemukan oleh keinginan penyaatuan. Kerinduan pemujaan sama dengan keperihan yang indah. Bukankah, semua bermula dari dalam diri, maka tetaplah kembali ke dalam diri (Conway, 2. Diri merupakan kuil pemujaan, alam olah tapa-brata itu konsentrasi batin merupakan salah satu praktik yang paling penting sehingga lambat laun diri pribadi atau Atman makin diutarakan. Dalam lingkungan kehidupan pribadi sang Atman-lah menjadi pusat yang memancarkan segala daya kekuatan, sama seperti Brahman yang menjadi pusat semesta (Zoetmulder, 1. Paramasiwa yang dituju ada pada pusat di dalam tubuh, pada hulu hati sehingga diri menjadi tempat bernaung semesta. Maka, memuja yang ada dalam diri karena di setiap tempat tubuh manusia adalah tempat para dewa. Segala sesuatu . alam tubuhm. merupakan hidup yang keramat (Sang Hyang Huri. , merupakan Ciptaan Tertinggi (Wisesa-Kary. , tubuhmu dalam tangan, dalam kaki, kulit, daging, otot, tulang, pembuluh utama, buah pelir, jantung, empedu, pangkal tenggorokan (Palguna, 1. Oleh karena itu, setiap titik pada tubuh adalah aksara yang hidup dan selalu bergerak ke segala penjuru menghidupkan sudut-sudut pikiran. Bait ke-4 dari Kakawin Dharma Putus yang telah dikutip di awal subbab di atas mewakili kesederhanaan jalan Kesederhanaan yang dimaksudkan bukanlah tanpa usaha, melainkan tanpa Justru ritual yang terpenting adalah ritual perkumpulan rasa . gka teUgwan katumu U rasa ta ya warah kadi winarahi saUkaniU warah/ itulah tempat pertemuan perasaan yang disadari bagaikan diberi tahu oleh sabda Ilah. Tubuh adalah tempat pertemuan rasa, setiap rasa berkumpul di hulu hati. Pusat yang dikatakan menjadi bagian tengah-tengah tubuh, baik secara vertikal maupun horizontal ialah hulu hati. Setiap titik dalam tubuh manusia memiliki aksara. Setiap aksara yang terdiri atas sepuluh aksara (SA. BA. TA. NA. MA. SI. WA. YA disebut dasaksar. , kemudian menjadi lima aksara (SA. BA. TA. I disebut pancaksar. , lalu menjadi tiga aksara (ANG. UNG. MANG disebut tryaksar. , dan terakhir menjadi (OM disebut ekaksar. Ekaksara menyuarakan OM dengan sebutan ongkara. Penghuni hulu hati adalah ongkara ngadeg dan ongkara nyungsang. Keduanya perwujudan lingga-yoni yang mewakili karakter maskulin dan feminis dalam diri. Jika ongkara ini diputar, maka timbullah getaran yang menciptakan kehangatan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang luar biasa (Palguna, 1. Analog tubuh dengan semesta beserta para dewa yang bersemayam dipaparkan dalam Kidung Ajikembang . ait 1-. Dikatakan bahwa sinar suci Sanghyang Widhi dalam wujud sembilan dewa, menghuni kesembilan penjuru alam semesta dan organ vital dalam tubuh manusia dalam rangka memberikan kekuatan dan perlindungan demi kesempurnaan hidup manusia. Kesembilan dewa penguasa tubuh dan semesta disebut dengan dewata nawa sanga, terdiri atas Dewa Iswara. Dewa Maheswara. Dewa Brahma. Dewa Rudra. Dewa Mahadewa. Dewa Sangkara. Dewa Wisnu. Dewa Sambu, dan Dewa Siwa (Suarka. Alam semesta. Dewa Iswara berada di alam timur. Di dalam tubuh . Dewa Iswara bersemayam di jantung bertugas memberikan keselamatan dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH perlindungan, kekayaan, serta menumbuhkan rasa bakti kepada Tuhan. Dewa Maheswara berada di alam tenggara. Di dalam tubuh manusia. Dewa Maheswara bersemayam di paru-paru, memberikan kepandaian sehingga manusia mahir dalam kehidupan. Dewa Brahma berada di alam selatan, bersemayam di hati, memberikan kekuatan dan perlindungan sehingga manusia menjadi sempurna, panjang umur, dan mampu menguasai pengetahuan suci. Dewa Rudra berada di alam barat daya, bersemayam di usus, memberikan kesadaran akan kebenaran, mendidik manusia berperilaku baik, dan menjadi teladan di muka bumi (Suarka, 2. Dewa Mahadewa berada di alam barat. Di dalam tubuh. Dewa Mahadewa bersemayam di ginjal, memberikan kekuatan dan perlindungan kepada manusia serta menumbuhkan sifat dan sikap keberanian pada diri manusia. Dewa Sangkara bersemayam di alam barat laut, dalam tubuh bersemayam di limpa, memberikan kekuatan dan perlindungan kepada manusia dalam mengendalikan diri dan memiliki kesetiaan. Dewa Wisnu menguasai alam utara, bersemayam di empedu, memberikan kekuatan dan perlindungan sehingga manusia memiliki keteguhan hati, sopan dalam bertingkah laku, bijaksana, dan rupawan. Dewa Sambu berada di timur laut, bersemayam di katup jantung, memberikan kekuatan dan perlindungan serta menumbuhkan rasa kedamaian dan cinta kasih pada diri manusia. Dewa Siwa berada di alam tengah, bersemayam dalam tumpukan hati, memberikan kekuatan dan perlindungan serta menumbuhkan kewibawaan, tingkah laku luhur, kesetiaan, kejujuran, dan kegemaran untuk melakukan semadi pada diri manusia (Suarka, 2. Kekuatan para dewa dalam tubuh manusia beserta aksara-aksaranya juga terdapat dalam Jnanasiddhanta. Seperti yang sudah dijelaskan pada latar belakang bahwasanya kalepasan dalam KPD tidak didapatkan hanya dengan membaca KPD, tetapi harus dibekali pengetahuan lain tentang teks-teks lain dengan ajaran yang sama. Niskala-sunyaputus, tidak dibedakan begitu mencolok dalam isinya, tetapi ketiganya memiliki hubungan yang tidak terpisahkan sebagai ajaran kalepasan tingkat lanjut . Misalnya kutipan dalam JyAnasiddhanta di bawah ini yang mengatakan, bahwa kalepasan merupakan jalan yang dipilih untuk pembebasan jiwa, serta tempat di tubuh yang dipilih untuk pembebasan. Om namah siwAya IkaU pinaka mArga niU kapralinan de saU pandita tiga lwirnya Nistha : riU Siwa-dwara Madhya : riU tuUtuU iU ghrana Uttama : riU tutuk Ika ta katiga nora mulih riU janma muwah, yan kuna karugupan iU Niskala-JyAna. NkAna sinaUguh Parama-Kaiwalya, liU saU pandita. Sira Acintya-pada. Acintya Ua, tan kuna deniU aUun-aUun. Ya sinaUguh Acintyapada sira. Ya ta mataUhyan tutuh iU paUawruh saU bhujaUga. Ika riU kina-kina, ri saU Siwa-Buddha. MaUkana tan hana wanuh kumawruhi lawan ta saU bhujaUga, tan kagawokana riU paUawruh iU apaUawruh. aUhiU Siwa-Buddha juga, ya tutun paUawruhira. Apan ta sira aUwruhi kinaruhan, hinan iUahisi lawan tan pesi. Terjemahannya: Om Hormat kepada Siwa Adapun tiga jalan bagi sang bijak yang menuju peleburan: alan lewa. upacara nistha : . iwa ke lua. lewat ubun-ubun. alan lewa. upacara madhya. : . iwa ke lua. lewat ujung hidung. alan lewa. upacara uttama : . iwa ke lua. lewat mulut. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Ketiga . ini semuanya tidak menuju kelahiran kembali lagi, asal seseorang telah menguasai pengetahuan mengenai Dunia yang tidak tampak (NiskalaJyAn. Di sana terdapat Kesunyian Tertinggi (Parama-Kaiwaly. , menurut sang Di sana terdapatlah Takhta Acintya (Acintya-pad. Acintya berarti tidak dapat ditangkap oleh akal budi atau pikiran. Itu disebut Acintya-pada, tempat bagi Dia yang tidak terkurung oleh konsep-konsep. Itulah puncak pengetahuan bagi seorang murid. Sejak zaman dahulu tempat ini diketahui oleh pendeta-pendeta Siwa dan Buddha. Dengan demikian, tidak seorang pun tahu, kecuali orang-orang bijak, tidak seorang pun pantas dikagumi karena mengetahui mereka yang mempunyai pengetahuan, hanya pemuja-pemuja Siwa dan Buddha, merekalah hendaknya diikuti dalam pengetahuan mereka. Karena mereka tahu, apa yang . diketahui termasuk yang ada isinya dan yang tidak ada isinya. Sejatinya jalan yang dimaksudkan itu merupakan jalan yang ada di dalam tubuh. Pengetahuan dan ajaran berperan sangat penting dalam pembentukan kekuatan jiwa atau keteguhan hati pencari sunyi. Memang ajaran kalepasan sangat bersifat rahasia karena pengetahuan tingkat tinggi ini hanya bisa diterima dan dijalani oleh seseorang yang bijak. Kecerdasan, intelektual bukanlah ukuran yang menjadi dasar seseorang memiliki sikap Justru sikap bijak hanya dimiliki oleh seseorang yang sederhana, penuh penerimaan, dan selalu berusaha menggapai tujuan yang kosong (Sauer, 2018. Nikitina. Tiga jalan di atas terkadang lebih dikenal dengan tiga jalan kematian. Jalan kematian tersebut dipahami sebagai jalan pembebasan total. Pembebasan total diartikan sebagai menyatunya aku . dengan Pencipta, bukan sebagai pertemuan dengan yang menjadi dewa-dewa yang diharapkan hadir pada saat pemujaan. Pembebasan total adalah cara membimbing jiwa yang sedang berangkat menuju ke kesunyian (Zoetmulder, 1. Pemusatan pikiran merupakan cara sederhana yang dikatakan oleh seorang bijak. Pembebasan jiwa ini tentu tidak mengharapkan keinginan mendapatkan imbalan, pembebasan jiwa adalah jalan untuk memutus reinkarnasi. Seseorang yang dikatakan telah mencapai titik sunyi tidak akan bisa kembali untuk bereinkarnasi ke alam sakala (Palguna, 1. Seorang pencari sunyi tidak hanya dinilai dan ditentukan oleh fisik semata, terkadang banyak yang berpura-pura sebagai pencari sunyi. Mereka yang berpura-pura kadang tidak menyadarinya. Kepura-puraan justru disebabkan oleh ingin menunjukkan diri, seolah paling sunyi, paling tahu segalanya, termasuk paling tahu tentang sastra. Kepura-puraan ini cenderung akan mengakibatkan penderitaan terlebih lagi tidak akan mampu mencapai pembebasan total tersebut (Zoetmuder, 1. Kesimpulan Karya sastra merupakan produk olahan rasa yang mampu membangkitkan pengalaman estetik dalam diri pembaca, serta mengangkat kesadaran menuju tingkat keindahan dan kenikmatan batin yang lebih tinggi. Dalam Kakawin Panca Dharma, bentuk, fungsi, dan makna ajaran kalepasan tercermin sebagai sikap hidup yang menubuh dan bertumbuh secara alami melalui proses kontemplasi dan kesadaran individual. Proses ini merupakan rekreasi spiritual yang menyingkap relasi antara aku . , semesta, dan Pencipta sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kesadaran kolektif yang lahir dari pengalaman estetik ini menumbuhkan kerendahan hati sebagai landasan utama dalam proses pembebasan jiwa menuju kebahagiaan sejati. Dalam konteks ini, kakawin tidak sekadar teks, tetapi menjelma menjadi candi bahasa, persembahan simbolik yang ditata dengan rasa, ditulis dengan laku, dan dipersembahkan kepada Yang Mahasuci. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Representasi wacana kalepasan sebagai etika dan estdalam KPD menunjukkan bahwa pembebasan jiwa tidak tercapai melalui ritual formalistik semata, melainkan melalui pemurnian rasa, pemusatan batin, dan penyatuan antara diri, semesta, dan Pencipta. Sastra, dalam hal ini kakawin, berperan sebagai media reflektif yang menjembatani antara dimensi personal dan spiritual, antara teks dan pengalaman. Wacana kalepasan dalam KPD bukan sekadar ajaran normatif, melainkan sebuah proses eksistensial yang ditenun melalui bahasa, rasa, dan kesunyian. Dalam sunyi, seorang kawi meniadakan diri dan mempersembahkan karyanya sebagai upacara batin. Inilah estetika dan etika spiritualitas yang menjadi inti dari KPD: penyatuan. Daftar Pustaka