Mulyati. Y Upaya Meningkatkan Patogenisitas Lecanicillium lecaniiAA. UPAYA MENINGKATKAN PATOGENISITAS Lecanicillium lecanii TERHADAP HAMA PENGISAP POLONG KEDELAI Riptortus linearis melalui REGULASI KITINASE DAN UJI KOMPATIBILITAS PESTISIDA (Efforts to Increase The Pathogenicity of Lecanicillium lecanii Against Soybean Sucking Pest Riptortus Linearis Through Chitinase Regulation and Pesticide Compatibility Test. Mulyati. Prodi Pendidikan IPA. FMIPA. Universitas Negeri Malang Email: yayuk. fmipa@um. Diterima : 12/07/2021 Disetujui : 18/08/2021 ABSTRACT The aim of this study was to increase the killing power of Lecanicillium lecanii through . regulation of chitinase synthesis and . finding compatible pesticides to be applied together with L. Analysis of the role of chitinase on the pathogenicity of L. lecanii was carried out through the selection of basal media composition, optimization of culture conditions . edia pH, temperature and incubation perio. , and bioassay against soybean pod sucking pest Riptortus linearis. Meanwhile, the compatibility test of fungi with pesticides was carried out by growing the fungus on PDA media added with fungicides with the active ingredients of carbendazine, triadimefon, methyl thiophanate, kaptan, iprodion, and mankozeb. The results showed that L. lecanii grown on I basal media, pH 5, temperature 30 oC, and an incubation period of 5 or 6 days was able to optimally increase chitinase Bioassays on R. linearis showed a mortality of up to 80% at 3 days after application. The pathogenicity of L lecanii in this study is much more significant than in previous research reports. the second study, the compatibility test with pesticides showed that L. lecanii was compatible with pesticides with the active ingredients of mancozeb. Pesticides with the active ingredients of kaptan, iprodione, carbendazine, triadimefon, and methyl thiophanate are toxic . trongly inhibi. the growth of L. lecanii colonies. The two findings of this study indicate that L. lecanii has good prospects as a bioinsecticide in terms of increasing its pathogenicity and compatibility with pesticides. Keyword: chitinase, pesticide compatibility. Lecanicillium lecanii, pathogenicity. Riptortus linearis ABSTRAK Penelitian ditujukan untuk meningkatkan daya bunuh Lecanicillium lecanii melalui . regulasi sintesis kitinase dan . menemukan pestisida kompatibel untuk diaplikasikan bersama dengan L. Tujuan tersebut dicapai melalui dua kegiatan penelitian yang berbeda. Analisis peran kitinase terhadap patogenisitas L. lecanii dilakukan melalui tahapan seleksi komposisi media basal, optimalisasi kondisi kultur . H media, suhu dan periode inkubas. , dan bioassay terhadap hama pengisap polong kedelai R. Sementara itu, uji kompatibilitas cendawan dengan pestisida dilakukan dengan menumbuhkan cendawan pada media PDA yang ditambahkan dengan fungisida berbahan aktif karbendazin, triadimefon, tiofanat metil, kaptan, iprodion, dan mankozeb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. lecanii yang ditumbuhkan pada media basal I, pH 5, suhu 30 oC, dan periode inkubasi 5 atau 6 hari mampu meningkatkan aktivitas kitinase secara optimal. Bioassay terhadap R. linearis menunjukkan mortalitas mencapai 80% pada 3 hari setelah aplikasi (HSA). Patogenisitas L lecanii pada penelitian ini jauh lebih signifikan dibandingkan pada laporan penelitian Pada penelitian kedua, uji kompatibilitas dengan fungisida menunjukkan bahwa L. lecanii kompatibel dengan pestisida berbahan aktif mankozeb. Pestisida dengan bahan aktif kaptan, iprodione, karbendazin, triadimefon, dan tiofanat metil bersifat toksik . enghambat kua. terhadap pertumbuhan koloni L. Dua hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa L. memiliki prospek yang baik sebagai bioinsektisida terkait dengan peningkatan daya patogenisitas dan kompatibilitasnya dengan pestisida. Kata Kunci: kitinase, kompatibilitas pestisida. Lecanicillium lecanii, patogensitas. Riptortus linearis Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :88 - 97 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Lindeman sebesar 49-54% (Moctezuma et al. Hasil penelitian Putra et al. menunjukkan bahwa L. lecanii menyebabkan mortalitas Bemisia tabaci sebesar 68. 5% pada 7 HSA. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengendalian hama menggunakan cendawan entomopatogen yaitu virulensi isolat (Khan et al. , 2. Virulensi isolat salah satunya ditentukan oleh kemampuannya memproduksi enzim degradatif (Hasan et al. Enzim degradatif tersebut berfungsi untuk mendegradasi kutikula serangga yang bertindak sebagai penghalang pertama melawan infeksi cendawan (Xie et al. , 2. Zhu et al. menyatakan bahwa kitinase merupakan enzim degradatif yang utama pada L. Khan et al. melaporkan bahwa L. 3 yang memproduksi kitinase tertinggi menunjukkan daya patogenisitas tertinggi pula terhadap green peach aphid Myzus persicae, dibandingkan 2 strain uji lainnya. Temuan ini menjadi informasi yang sangat penting terkait pengendalian hama menggunakan cendawan entomopatogen mengingat pada umumnya komponen utama eksoskeleton serangga merupakan senyawa kitin (Muthukhishnan et , 2. Upaya peningkatan virulensi cendawan dapat dicapai optimalisasi media serta kondisi kultur (Jholapara et al. , 2. Produksi kitinase diyakini dapat meningkat tajam apabila cendawan ditumbuhkan pada media dengan komposisi yang optimal (Rebecca et al. , 2. pH, suhu, dan periode inkubasi merupakan kondisi kultur yang mempengaruhi produksi Hal tersebut dikarenakan enzim hanya dapat diproduksi secara optimal pada pH dan suhu spesifik serta periode inkubasi tertentu (Vitolo, 2. Selain kitinase sebagai faktor internal, daya patogenisitas agens hayati juga dipengaruhi oleh faktor eksternal saat aplikasi di lapang. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja jamur tersebut dalam mengendalikan hama di lapangan adalah senyawa kimia, yaitu pestisida. Tkaczuk et al. menyatakan bahwa informasi mengenai pengaruh pestisida kimia terhadap cendawan entomopatogen sekaligus penentuan mengenai kemungkinan cendawan untuk diaplikasikan bersama dengan pestisida merupakan hal yang penting dalam pengendalian hama terpadu. Di Indonesia, uji kompatibilitas yang telah dilaporkan sampai saat ini adalah PENDAHULUAN Hama pengisap polong kedelai antara lain adalah Nezara viridula. Piezodorus hybneri, dan Riptortus linearis (Indiati et al. linearis (L. ) (Hemiptera: Alydida. merupakan salah satu jenis hama pengisap polong kedelai yang sangat penting di antara tiga jenis hama pengisap polong yang disebut di atas. Hama tersebut tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia dan menyebabkan kerugian panen, baik itu dari segi kualitas maupun kuantitas (Krisnawati et al. , 2. Kerugian hasil panen akibat hama pengisap polong kedelai hingga mencapai 80% (Prayogo. Upaya pengendalian R. linearis dengan menggunakan agens hayati telah banyak Lecanicillium lecanii (Zimm. ) (Viega. Zare Gams (Deuteromycotina: Hyphomycete. cendawan agens hayati yang sudah diketahui potensinya untuk mengendalikan berbagai jenis hama, termasuk didalamnya R. (Prayogo, 2. Cendawan ini memiliki kisaran inang yang luas, meliputi Ordo Orthoptera. Hemiptera. Lepidoptera. Thysanoptera, dan Coleoptera (Khoiroh et al. Meskipun sudah diketahui potensinya dalam mengendalikan hama, akan tetapi cendawan L. lecanii kurang memenuhi harapan sebagai agen pengendali biologis terkait dengan daya bunuh yang relatif lebih lambat dibandingkan pestisida kimia (Fang et al. Pada entomopatogen membutuhkan waktu lebih dari 7 hari untuk mematikan serangga inang (Faria dan Wraight, 2. Empat isolat L. yang terseleksi sebagai isolat yang paling berpotensi dalam mengendalikan telur R. linearis dibandingkan 33 isolat lainnya, membutuhkan waktu 6 hari untuk menekan 72% perkembangan telur R. linearis (Prayogo. Tiga isolat L. lecanii, yaitu L. lecanii 2, lecanii 3, dan L. lecanii 5 yang diujicobakan terhadap green peach aphid Myzus persicae hanya mampu menyebabkan mortalitas secara berturut-turut sebesar 47. 19%, 24. 56%, dan 17% pada 3 HSA. Pada 6 HSA, mortalitas persicae akibat aplikasi 3 isolat tersebut secara berturut-turut sebesar 67. 42%, 80. 22% (Khan et al. , 2. Pada pengamatan 5 hari setelah aplikasi (HSA). lecanii menyebabkan mortalitas T. Mulyati. Y Upaya Meningkatkan Patogenisitas Lecanicillium lecaniiAA. kompatibilitas L. lecanii dengan pestisida nabati (Indriati et al. , 2015 dan Prayogo, 2. Belum pernah ada laporan mengenai uji kompatibiltas L. lecanii dengan pestisida kimia. Penelitian ini penting dilakukan mengingat tingginya penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan R. Informasi mengenai kompatibilitas L. lecanii dengan pestisida kimia cendawan ini sebagai bioinsektisida. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini ditujukan untuk . menemukan komposisi media serta kondisi kultur yang dapat mengoptimalkan produksi kitinase L lecanii serta . menemukan pestisida kimia yang kompatibel untuk diaplikasikan bersama L. Upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan patogenisitas L. lecanii terhadap linearis yang selama ini kurang memenuhi harapan sebagai agens hayati terkait daya bunuhnya yang relatif lambat. penggaris, milar plastik, oven kering. magnetik stirer. Penentuan media basal optimal untuk analisis kitinase berdasarkan tiga karakter virulensi: pertumbuhan koloni, jumlah dan ukuran konidia Terdapat tiga komposisi media basal yang diuji, yaitu Media basal I. II, dan i. Media basal yang telah di auctoclave pada suhu 121oC selama 15 menit kemudian dituang kedalam petri dish sebanyak 15 ml. Pada media yang telah memadat kemudian dibuat lubang difusi dengan diameter 7 mm. Suspensi konidia sebanyak 65 AAL diinokulasikan pada lubang difusi dan diinkubasi pada suhu ruang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan pada parameter pertumbuhan koloni, 40 ulangan pada parameter jumlah konidia, dan 20 ulangan pada parameter ukuran konidia. Parameter-parameter yang diamati diukur pada 7 HSA. Pertumbuhan koloni diukur dengan mengukur dua sisi diameter koloni. Jumlah konidia dihitung dengan menggunakan Ukuran konidia diukur dengan menggunakan mikrometer meja dan BAHAN DAN METODE Tempat, waktu, alat, dan bahan Seluruh kegiatan penelitian dilakukan di Laboratorium Jurusan Biologi. FMIPA. UB. Penelitian tahap I . egulasi kitinase dan bioassay-nya terhadap R. dilakukan mulai Februari sampai dengan April 2. Penelitian tahap II . ji kompatibilitas cendawan dengan pesisid. dilakukan pada Mei-Juni Bahan-bahan yang digunakan yaitu isolat L. lecanii, serangga uji R. Potato Dextrose Agar (PDA). cling wrap. kertas saring. kitin bubuk. N-asetil D-glukosamin. Na2HPO4. 2H2O. KH2PO4. NaCl. NH4Cl. MgSO4. 7H2O. CaCl2. pereaksi Schales, buffer asetat, buffer fosfat, dan buffer Tris HCl, dan pestisida dengan bahan aktif karbendazin, tradimefon, tiofanat metil, kaptan, iprodion, dan mankozeb. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: cawan petri. laminar air tabung reaksi. jarum inokulum lurus. erlenmeyer 250 ml. bor gabus. hand sprayer. Tween blue tip. microfuge tube. shaking water bath. timbangan digital. sangkar untuk rearing R. linearis dengan diameter 30 cm dan tinggi 40 Pengaruh kondisi kultur terhadap aktivitas Kondisi kultur yang diuji antara lain pH, suhu, dan periode inkubasi. pH media yang diuji yaitu 4, 4. 5, 5, 5. 5, 6, dan kontrol masingmasing 4 ulangan. Variasi suhu yang diuji yaitu 25oC, 30 oC, 35 oC, dan kontrol . uhu ruan. dengan 6 ulangan. Aktivitas kitinase pada perlakuan pH dan suhu inkubasi ditentukan secara kuantitatif pada 5 HSA. Perlakuan periode inkubasi dilakukan selama 10 hari pada guhu ruang dan pengukuran aktivitas kitinase secara kuantitatif dilakukan setiap 24 jam selama 10 hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan anova satu arah. Apabila nilai Fhitung signifikan, uji lanjut dilakukan dengan LSD. Analisis kuantitatif aktivitas kitinase Erlenmeyer flask 100 ml yang mengandung 35 ml media diauctoclave selama 15 menit pada suhu 121 oC. Suspensi konidia sebanyak 1 ml 1 x 106 diinokulasikan pada media steril. Cendawan diinkubasi selama 5 hari pada rotary shaker. Pengukuran aktivitas kitinase adalah dengan menggunakan metode Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :88 - 97 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Scales dengan merujuk pada Spindler . dengan modifikasi. Satu unit aktivitas kitinase didefinisikan sebagai jumlah enzim yang dapat membebaskan glucosamine sebesar 1 AAmol per Desain penelitian adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan anova satu arah. Apabila nilai Fhitung signifikan, uji lanjut dilakukan dengan LSD. Uji kompatibilitas cendawan dengan Platting dilakukan di dalam laminar air flow dengan mengambil 1 ml pestisida dari masing-masing dimasukkan ke dalam cawan petri berdiameter 9 cm. Konsentrasi pestisida yang ditambahkan Pada cawan petri tersebut ditambahkan PDA sebanyak 10 ml. Tiap perlakuan diulang tiga kali. lecanii dari biakan murni diambil dengan menggunakan bor gabus berdiameter 1 cm, kemudian diinokulasikan ke dalam cawan petri yang telah diisi dengan fungisida dan PDA sesuai dengan perlakuan. Selanjutnya cawan petri disimpan di dalam ruangan pada temperatur 27-31oC. Pengamatan dilakukan setiap 12 jam sekali selama 7 hari. Data pertumbuhan koloni lecanii dianalisis dengan analisis variansi Bila ada pengaruh jenis fungisida terhadap pertumbuhan jamur tersebut, maka dilakukan uji lanjut beda nyata terkecil (LSD). Rumus penentuan aktivitas kitinase: Keterangan A : Aktivitas Kitinase (Unit ml-. , [GlcNA. : Konsentrasi N-asetil-D-glukosamina hasil reaksi enzimatis, ditetapkan dengan menggunakan persamaan kurva standar, t: waktu inkubasi. Vtr: Volume total reaksi enzimatis . Ve: Volume enzimatis yang digunakan . Va: Volume filtrat yang Uji Patogenisitas Inokulum terhadap Nimfa I R. Aplikasi inokulum terhadap nimfa I R. linearis dilakukan dengan cara disemprotkan pada seluruh tubuh nimfa yang telah dimasukkan dalam milar plastik. Jumlah nimfa yang diuji adalah 20 nimfa. Volume suspensi konidia larutan kitinase untuk setiap unit percobaan adalah 3 ml. Pada perlakuan kontrol, nimfa disemprot dengan akuades steril dalam jumlah yang sama (Indriyati, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan penelitian tahap I Media basal optimal untuk analisis kitinase berdasarkan tiga karakter virulensi: pertumbuhan koloni, jumlah dan ukuran Parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan media basal optimal untuk analisis kitinase yaitu pertumbuhan koloni, jumlah konidia, dan ukuran konidia. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa macam media basal berpengaruh terhadap pertumbuhan koloni dan jumlah konidia. Pada parameter ukuran konidia, hasil anova menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan ukuran konidia lecanii yang ditumbuhkan pada media basal I. II, dan i (Tabel . Namun demikian, konidia cendawan yang ditumbuhkan pada media basal I menunjukkan ukuran yang lebih besar dibandingkan media basal II dan i. Rata-rata ukuran konidia L. lecanii pada media basal I. II, dan i secara berturut-turut yaitu 625 AAm x 11. 875 AAm, 3. 875 AAm x 10. 375 AAm, 75 AAm x 11. 75 AAm. Penghitungan Mortalitas Nimfa R. Jumlah nimfa R. linearis yang mati terinfeksi L. lecanii dari masing-masing perlakuan dihitung pada 3, 6, dan 10 HSA. Rumus yang digunakan untuk menentukan keefektifan L. lecanii dalam menyebabkan mortalitas nimfa R. linearis adalah sebagai Mortalitas= Oc seranggayangmati x 100% Oc total seranggaperlakuan Data persentase hasil perhitungan mortalitas imago R. linearis ditransformasikan ke arc sin x sebelum dilakukan perhitungan dengan menggunakan sidik ragam. Mulyati. Y Upaya Meningkatkan Patogenisitas Lecanicillium lecaniiAA. Tabel 1. Pertumbuhan koloni, jumlah dan ukuran konidia L. lecanii pada 7 HSA, pada media basal I. II, dan i Parameter yang diamati Rata-rata Media Rata-rata Rata-rata koloni . (AA. i Keterangan: Hari Setelah Aplikasi. dalam satu lajur yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% dan 1% menurut uji LSD nitrogen, faktor pertumbuhan, dan oligomer Nacetyl-glucosamine (Jholapara et al. , 2. Karbohidrat pada yeast extract dan N-acetylglucosamine pada pepton sama-sama berperan sebagai sumber karbon. Berdasarkan kesamaan tersebut, dapat dikatakan bahwa L. memang lebih sesuai tumbuh pada media basal I dan kurang cocok pada media basal II maupun i. Pengaruh Kondisi Kultur terhadap Aktivitas Kitinase L. lecamii pada 7 HSA Hasil analisis menunjukkan bahwa pH, suhu, dan periode inkubasi merupakan kondisi kultur yang mempengaruhi aktivitas kitinase L. Kitinase L. lecanii diproduksi secara optimal pada pH 5, suhu 30 oC dengan periode inkubasi selama 3 hari (Tabel . Atas dasar paparan data, dapat disimpulkan bahwa media basal I memiliki potensi lebih baik dibandingkan media basal II dan i terkait tiga parameter yang dipakai sebagai acuan penentuan media basal yang akan dipakai pada analisis kitinase. Komposisi utama yang membedakan antara media basal I. II, dan i adalah sumber nitrogen Media basal I memiliki sumber nitrogen organik berupa urea dan yeast extract, sedangkan media basal II dan i memiliki sumber karbon berupa pepton. Pada dasarnya, yeast extract maupun pepton memiliki unsur penyusun yang sama. Yeast extract sebagai faktor pertumbuhan tersusun atas nitrogen, asam amino, vitamin terlarut dalam air, dan Pepton mengandung senyawa Sifat ionik gugus karboksil dan gugus amino suatu senyawa dipengaruhi oleh pH. Menurut Vitolo . , produksi kitinase dipengaruhi Hal perubahan daerah katalitik dan konformasi lecanii mampu menghasilkan kitinase pada pH 4 hingga pH 6. akan tetapi mencapai maksimum pada pH 5. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Sinkar dan Kasav . bahwa endokitinase mengalami peningkatan pada saat pH rendah. Tabel 2. Aktivitas kitinase pada berbagai perlakuan kondisi kultur Aktivitas Aktivitas kitinase (U Suhu kitinase (U ml-. Kontrol . Periode Inkubasi . Aktivitas kitinase (U ml-. Keterangan: Angka dalam satu lajur yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 1% menurut uji LSD Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :88 - 97 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Gambar 1. Aktivitas kitinase L. lecanii pada kondisi kultur . pH, . suhu inkubasi Vitolo et al. menjelaskan bahwa enzim dapat berperilaku asam, basa, atau netral sesuai dengan konstitusi asam amino yang dapat mempengaruhi sisi aktif enzim. Berdasarkan pernyataan tersebut, diketahui bahwa sisi aktif enzim kitinase L. dipengaruhi oleh kondisi asam. Pada kisaran pH yang diuji, pH 5 dapat mempengaruhi secara optimal sisi aktif kitinase sehingga mampu berikatan dengan substrat yang pada gilirannya dapat menghasilkan aktivitas kitinase secara optimal pula. Pada pH dibawah 5 atau diatas 5, sisi aktif enzim tidak dapat bekerja optimal. Kondisi tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan berikatan dengan substrat sehingga aktivitas kitinase yang dihasilkan juga tidak optimal. Aktivitas kitinase lecanii pada kondisi asam hingga basa ditunjukkan pada Gambar 1a. semakin meningkat seiring dengan kenaikan suhu sampai ke tingkat optimal. Peningkatan suhu menyebabkan energi kinetik enzim semakin tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan gerakan vibrasi, translasi, dan rotasi antara enzim dengan substrat sehingga peluang substrat Ae enzim bereaksi semakin besar (Rochima, 2. Pada saat suhu kultur terus dinaikkan melebihi suhu optimal aktivitas enzim, maka akan mengakibatkan penurunan aktivitas enzim. Penurunan aktivitas kitinase tersebut diduga karena enzim mengalami denaturasi sehingga kehilangan sebagian aktivitasnya (Vitolo, 2. Aktivitas kitinase lecanii pada suhu inkubasi 25oC, 27oC, 30oC, dan 35oC ditunjukkan pada Gambar 1b. Periode Inkubasi Secara umum, aktivitas kitinase L. lecanii dimulai pada 24 jam setelah inkubasi dan mengalami peningkatan pada 2 hari setelah inkubasi (HSI) hingga 6 HSI. Hasil tersebut didukung pernyataan Sinkar dan Kasav . yang menyatakan bahwa aktivitas kitinase cendawan berfilamen, salah satunya yaitu L. lecanii, mengalami peningkatan seiring dengan periode inkubasi. Pada periode inkubasi yang lebih lama . elebihi periode waktu inkubasi Penurunan aktivitas kitinase diduga berkaitan dengan dihasilkannya protease yang mampu mendegradasi kitinase. Produksi kitinase pada kultur cendawan pada umumnya diketahui maksimum pada waktu inkubasi 3 dan 4 HSI. Periode inkubasi optimal aktivitas kitinase bergantung pada jenis substrat pada medium. Pada penelitian ini, aktivitas kitinase optimal dicapai pada hari Suhu Selain pH, reaksi-reaksi kimia yang dikatalisis enzim juga peka terhadap suhu. Hal tersebut dikarenakan enzim merupakan struktur protein yang akan mengalami denaturasi pada suhu yang tidak tepat. Denaturasi menyebabkan kerja enzim mengalami penurunan (Vitolo. Pada empat suhu yang diuji, pada suhu 25oC, kitinase diproduksi pada jumlah yang Produksi kitinase meningkat seiring dengan peningkatan suhu dan mencapai optimal pada suhu 30oC. akan tetapi tidak berbeda signifikan pada suhu 27oC . ata-rata suhu ruan. Produksi kitinase mengalami penurunan pada suhu 35oC. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Vitolo . yang menjelaskan bahwa aktivitas kitinase akan Mulyati. Y Upaya Meningkatkan Patogenisitas Lecanicillium lecaniiAA. kedua inkubasi pada media dengan sumber karbon N-acetyl-D-glucosamine. Aktivitas optimal tersebut bertahan hingga hari keenam Hasil melaporkan produksi optimal kitinase B. bassiana terjadi pada 3 HSI pada media wheat bran-based (Suresh dan Chandrasekharan. Nampoothiri et al. melaporkan periode inkubasi 4 HSI sebagai periode aktivitas kitinase optimal pada T. Harzianum TUBF 781. Pada paparan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa aktivitas kitinase tertinggi dijumpai pada media dengan sumber karbon kitin dan produk hidrolisisnya N-acetyl-Dglucosamine. Kesesuaian substrat diduga mempengaruhi sisi aktif enzim untuk dapat bereaksi lebih cepat sehingga aktivitas kitinase mencapai optimal pada waktu yang lebih cepat. Aktivitas kitinase selama 10 hari inkubasi ditunjukkan pada Gambar 2. Efektifitas tersebut dicapai pada 3 HSA. Tabel 3. Mortalitas pengamatan 3, 6, dan 10 HSA Perlakuan Rata-rata Total Notasi [In Hari . H10 10,75 3,75 10,25 H10 16,75 H10 16,75 Keterangan: Angka dalam satu lajur yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 1% menurut uji LSD Hasil-hasil penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa L. lecanii merupakan cendawan entomopatogen yang kurang memenuhi harapan sebagai agen pengendali Moctezuma et al. melaporkan bahwa pada kerapatan 109. lecanii mampu Thrips Lindeman sebesar 49-54% pada 5 HSA. Penelitian yang dilakukan Suhairiyah et al. dengan menggunakan kerapatan konidia 108 dan 109, pengamatan pada 7 HSA menunjukkan tingkat mortalitas Spodoptera litura secara berturut-turut sebesar 80% dan Putra et al. melaporkan bahwa pada pengamatan 7 HSA. lecanii mampu menyebabkan mortalitas Bemisia tabaci sebesar 68,5%. Hasil penelitian Khan et al. menunjukkan bahwa pada kerapatan konidia 108, tiga isolat L. lecanii (L. 3, dan L. yang diujicobakan terhadap green peach aphid Myzus persicae hanya mampu menyebabkan mortalitas secara berturut-turut sebesar 47. 19%, 24,56%, dan 26,17% pada 3 HSA. Pada 6 HSA, mortalitas persicae akibat aplikasi 3 isolat tersebut secara berturut-turut sebesar 67,42%, 80,70%, dan 68,22%. Berdasarkan beberapa laporan hasil penelitian tersebut, dapat dinyatakan bahwa hasil penelitian ini memberikan harapan yang lebih baik terkait pemanfaatan L. sebagai agen pengendali biologis. Patogenisitas lecanii yang tinggi diduga berkaitan dengan Gambar 3. Aktivitas Kitinase L. lecanii pada 10 hari periode inkubasi Uji Patogenisitas L. lecanii terhadap Hama Pengisap Polong Kedelai Riptortus linearis Bioinsektisida berbahan aktif L. diaplikasikan dalam bentuk suspensi. Preparasi inokulum dilakukan pada kondisi kultur optimal sesuai rekomendasi tahap penelitian Aplikasi inokulum menggunakan tiga konsentrasi yang berbeda. Hasil anova faktorial menunjukkan bahwa interaksi konsentrasi inokulum dan hari pengamatan berpengaruh signifikan terhadap patogenisitas Lecanii (Tabel . Berdasarkan Tabel 3, diketahui bahwa dibandingkan dua konsentrasi perlakuan Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :88 - 97 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Pinnamaneni et al. dan Fang et al. menyatakan bahwa optimalisasi kondisi kultur pada saat preparasi inokulum diperlukan untuk keberhasilan Hal dikarenakan media dan kondisi kultur tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan dan sporulasi cendawan, tetapi juga viabilitas dan virulensi konidia. Pada hasil penelitian sebelumnya, diperoleh media basal yang mampu mendukung produksi kitinase serta produksi konidia dalam jumlah yang optimal. Selain media basal yang optimal, pada penelitian tahap I juga diperoleh kondisi kultur yang meliputi pH media, suhu inkubasi, serta periode inkubasi yang optimal pula untuk mendukung produksi kitinase serta jumlah konidia. Pada tahap preparasi inokulum, hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang telah disebutkan yaitu terkait media yang digunakan, pH media, serta umur inokulum . eriode inkubas. Pada beberapa penelitian yang telah disebutkan, media kultur yang digunakan yaitu beras jagung. Adamek liquid media . lukosa 20 g L-1, corn step liquor 15 g L-1, yeast extract 20 g L-1, dan tween 80 4 g L-. Informasi lain yang diperoleh dari laporan penelitian tersebut yaitu periode inkubasi . mur inokulu. , yaitu berkisar 20-21 HSI. Adanya perbedaan komposisi media serta periode inkubasi tersebut dimungkinkan mempengaruhi produksi kitinase L. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mendapat jawaban yang pasti terkait hal-hal tersebut. Hasil dan Pembahasan Penelitian Tahap II Kompatibilitas Bioinsektisida Berbahan Aktif L. lecanii dengan Pestisida Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa jenis pestisida berpengaruh terhadap pertumbuhan cendawan L. lecanii (Tabel . Pertumbuhan koloni L. lecanii tertinggi terjadi pada medium yang diberi perlakuan fungisida dengan bahan aktif mankozeb. Hal ini berarti bahwa mankozeb merupakan jenis fungisida yang paling kompatibel . apat diaplikasikan bersam. dengan L. lecanii dibandingkan dengan fungisida lainnya. Hasil ini sesuai dengan pernyataan Koppert . bahwa fungisida dengan bahan aktif mankozeb dapat dikombinasikan penggunaannya dengan L. Selain diameter pertumbuhan, aplikasi bersamaan dengan fungisida juga dapat mempengaruhi perubahan warna koloni. Pada berbagai jenis perlakuan fungisida, hanya pada media yang ditambahkan fungisida berbahan aktif mankozeb yang tidak menimbulkan perubahan warna koloni (Gambar . Tabel 4. Pengaruh jenis pestisida terhadap pertumbuhan dan warna koloni L. Rata-rata diameter pertumbuhan Jenis Fungisida Warna koloni koloni L. lecanii pada hari ke-7 Karbendazin Coklat kehitaman Triadimefon Coklat kehitaman Tiofanat metil Coklat kehitaman Kaptan 21,03b Putih kecoklatan Iprodion 27,13 Putih kecoklatan Mankozeb 46,07d Putih kekuningan Kontrol Putih kekuningan LSD 1% 2,81 Keterangan: Angka dalam kolom yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 1% uji LSD) . Gambar 4. Pertumbuhan dan warna koloni L. lecanii pada media PDA fungisida: a. tiofanat metil. PDA saja . Mulyati. Y Upaya Meningkatkan Patogenisitas Lecanicillium lecaniiAA. Pestisida dengan bahan aktif kaptan pertumbuhan koloni, akan tetapi tidak bersifat toksik . enghambat kua. Hasil penelitian ini sesuai dengan Alves et al. , yaitu dari dua jenis iprodion yang diberikan, iprodion 2 bersifat menghambat pertumbuhan L. akan tetapi tidak bersifat toksik. Meskipun demikian, fungisida berbagan aktif kaptan dan iprodion tetap tidak dapat diaplikasikan bersamaan dengan L. lecanii terkait dengan pertumbuhan cendawan. Tkaczuk . menyatakan bahwa fungisida tertentu dapat entomopatogen dan hendaknya tidak diterapkan serempak dengan agen hayati. Selang waktu penggunaan fungisida berbahan aktif mankozeb dengan bioinsektisida berbahan aktif L. lebih pendek penerapannya dibandingkan membutuhkan selang waktu yang lebih lama untuk aplikasinya bersama dengan L. Akan tetapi, berapa lama selang waktu yang pasti untuk kombinasi penggunaan fungisida dengan cendawan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Temuan dua kegiatan penelitian di atas memberikan prospek positif penggunaan bioinsektisda berbahan aktif L. Pada penelitian tahap 1, temuan media basal dan kondisi kultur optimal untuk preparasi inokulum L. lecanii yang mampu menunjukkan daya bunuh yang lebih cepat dibandingkan temuan penelitian sebelumnya memberikan harapan baru terkait penggunaan cendawan entomopatogen untuk pengendalian hama. Temuan penelitian tahap II memberikan informasi bahwasannya aplikasi bioinsektisida berbahan aktif L. lecanii di lapang bersamaan dengan pestisida tertentu tidak mempengaruhi daya bunuhnya terhadap hama sasaran. Penelitian tahap II. Bioinsektisida berbahan aktif L. lecanii dapat diaplikasikan bersama dengan pestisida berbahan aktif mankozeb. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yang telah mendanai penelitian tahap I dan kepada Fakultas MIPA. Universitas Negeri Malang yang telah mendanai penelitian tahap II. DAFTAR PUSTAKA