Vol. No. November 2025, hal, 180-187 https://doi. org/10. 54214/efada. Vol2. Iss02. Pelatihan Mind Mapping sebagai Media Pelatihan Pengembangan Berpikir Kritis Siswa Mts Nurul Wafa Kurma Nur Faifatur R. Samsul Arifin. Munir . Qurrotul Aini. 1,2,3,. Sekolah Tinggi Agama Islam Ahmad Sibawayhie Situbondo. Indonesia E-mail: . kurmanurfaifatur@gmail. com, . arifmardhutillah@gmail. munirradit93@gmail. com, . qurrotulain07@gmail. Info Artikel Kata kunci : Mind Mapping Berfikir Kritis MTs Nurul Wafa Penulis Koresponden : Kurma Nur Faifatur R E-mail : kurmanurfaifatur@gmail. ABSTRAK Pelatihan mind mapping di MTs Nurul Wafa dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, pemahaman materi, dan motivasi belajar siswa yang sebelumnya masih rendah akibat dominasi metode ceramah dan kurangnya variasi strategi pembelajaran. Kegiatan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model partisipatif melalui serangkaian sesi mulai dari sosialisasi, pelatihan dasar, praktik pembuatan mind map, simulasi pembelajaran, hingga evaluasi. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan signifikan dalam memahami konsep keagamaan seperti akidah, fiqih, akhlak, serta kandungan ayat dan hadis melalui visualisasi konsep yang lebih terstruktur. Penyusunan informasi dalam bentuk peta menghubungkan konsep, serta memahami hubungan antardalil dengan penerapan nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penggunaan warna, simbol, dan gambar tematik Islami mendorong siswa lebih terlibat aktif, kreatif, dan antusias selama proses belajar. Guru juga merasakan manfaat pelatihan dalam memperkaya metode mengajar sehingga proses pembelajaran menjadi lebih variatif, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik siswa. Secara keseluruhan, pelatihan mind mapping terbukti efektif sebagai strategi pembelajaran inovatif untuk meningkatkan pemahaman materi, retensi informasi, motivasi belajar, dan kemampuan berpikir kritis siswa di MTs Nurul Wafa, sehingga layak dikembangkan sebagai model pembelajaran berkelanjutan. PENDAHULUAN Pelatihan mind mapping menjadi topik yang menarik karena mencerminkan kebutuhan akan inovasi dalam dunia pendidikan masa kini. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan global yang semakin kompleks, siswa tidak lagi cukup hanya menghafal materi, tetapi perlu memiliki kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menghubungkan berbagai konsep secara Penggunaan mind mapping menawarkan pendekatan belajar yang visual dan terstruktur, sehingga mampu mengubah pola berpikir siswa menjadi lebih sistematis dan kreatif. Melalui Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A M. Kurma Nur Faifatur R dkk. pelatihan ini, guru dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu menciptakan suasana belajar yang interaktif, menyenangkan, dan mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis secara optimal (Mashudi and Pristine Adi, 2. Fenomena yang terjadi belakangan ini memperkuat urgensi pelatihan seperti ini. Banyak penelitian dan laporan pendidikan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia masih tergolong rendah, tercermin dari hasil survei internasional seperti PISA yang menyoroti lemahnya kemampuan analitis dan pemecahan masalah siswa. Selain itu, dunia kerja dan perguruan tinggi kini menekankan pentingnya critical thinking sebagai keterampilan abad ke-21. Oleh karena itu, pelatihan mind mapping bukan sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan strategis untuk membekali generasi muda agar mampu berpikir sistematis, kreatif, dan adaptif terhadap tantangan setiawan Bramianto And Lala Bella. AuBramianto Setiawan. Lala Bella,Ay Pengembangan Media Buku Saku Pada Mata Pelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 1 Sekolah Dasar Lala 10 Nomor 1 . : 787Ae802. Berpikir kreatif dipahami sebagai proses mental yang memungkinkan seseorang melahirkan gagasan baru dan orisinal untuk menjawab suatu permasalahan. Berpikir kreatif merupakan kemampuan berpikir divergen yang melibatkan keluwesan, kelancaran, dan orisinalitas dalam menghasilkan ide. Pandangan ini didukung oleh Torrance yang menekankan bahwa kreativitas muncul dari kepekaan terhadap masalah dan kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan solusi melalui cara yang tidak konvensional. Namun, beberapa ahli seperti Sternberg berpendapat bahwa berpikir kreatif tidak selalu berarti menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru, melainkan bagaimana seseorang mampu memodifikasi atau mengombinasikan ide yang sudah ada secara Sementara itu, pihak yang kontra terhadap pandangan ini beranggapan bahwa berpikir kreatif sulit diukur secara objektif karena sangat bergantung pada konteks, pengalaman, dan subjektivitas individu (Utami et al. , 2. Menurut Sudiarta, kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan penting yang perlu dikembangkan secara aktif oleh peserta didik. Keterampilan ini berperan dalam membantu siswa menghadapi berbagai persoalan lintas disiplin ilmu dengan menggunakan penalaran yang logis dan Berpikir kritis menuntut siswa untuk tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi, dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang sebelum mengambil keputusan terhadap apa yang dianggap benar atau layak dilakukan. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis menjadi dasar bagi peserta didik untuk menumbuhkan pemikiran yang reflektif, rasional, dan terarah dalam proses belajar (Appulembang, 2. Pemilihan MTs Nurul Wafa sebagai objek penelitian didasarkan pada kondisi pembelajaran di sekolah tersebut yang masih menunjukkan keterbatasan variasi metode mengajar yang digunakan Situasi ini menjadi alasan penting untuk menerapkan metode mind mapping sebagai alternatif Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Mind Mapping sebagai Media PelatihanAA. inovatif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan pandangan Buzan mind mapping membantu siswa dalam mengingat informasi, meningkatkan konsentrasi, serta memahami materi secara lebih mendalam melalui penggunaan gambar dan warna. Visualisasi konsep dalam bentuk cabang-cabang seperti pohon menjadikan metode ini selaras dengan cara kerja otak, sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan (Humairo Sukardi and Turhan, 2. Penerapan mind mapping di MTs Nurul Wafa dipandang tepat karena selaras dengan tuntutan pendidikan modern yang menekankan pentingnya pengembangan kemampuan berpikir kritis sebagai dasar terbentuknya cara berpikir reflektif dan rasional. Ennis menjelaskan bahwa berpikir kritis merupakan aktivitas intelektual yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan secara tepat berdasarkan alasan-alasan yang logis. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui beberapa tujuan utama: memperkuat kemampuan berpikir kritis siswa, membantu guru memperkaya metode pembelajaran dengan pendekatan yang lebih kreatif, serta menumbuhkan kemampuan analitis siswa dalam memahami konsep secara lebih mendalam. Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan di MTs Nurul Wafa diharapkan menjadi langkah strategis untuk mendorong peningkatan mutu pembelajaran dan pengembangan kompetensi intelektual siswa (Haniva et al. , 2. Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik masih tergolong rendah. Menurut Ariyanto et al, proses pengembangan kemampuan berpikir kritis memerlukan waktu dan pembiasaan yang konsisten, terutama dalam menumbuhkan kebiasaan siswa untuk mencari informasi secara mandiri, melatih kemampuan menghadapi dan memecahkan masalah, serta membuka cara pandang yang lebih luas agar mampu berkolaborasi dan bersaing secara sehat. Hal ini diperkuat oleh penelitian Safitri. Atrup, dan Hanggara yang menemukan bahwa sebagian besar siswa cenderung pasif selama pembelajaran, hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa berusaha memahami secara mendalam atau mengembangkan gagasan sendiri. Penelitian Prasetyono dan Haryono juga mengungkapkan bahwa lemahnya kemampuan berpikir kritis disebabkan oleh minimnya keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, ketidaktahuan terhadap tujuan materi, serta beban dari mata pelajaran lain yang menumpuk. Selain itu. Ridwan menambahkan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana, kurangnya sumber referensi, serta kesulitan memahami penjelasan guru turut memperburuk kondisi ini. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori konstruktivisme yang dikemukakan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman belajar. Teori ini relevan digunakan karena menjelaskan bahwa kemampuan berpikir kritis tidak akan berkembang jika siswa hanya menjadi penerima informasi pasif. Mereka perlu dilibatkan secara aktif dalam proses Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A M. Kurma Nur Faifatur R dkk. berpikir, berdiskusi, dan memecahkan masalah agar mampu mengkonstruksi pemahaman mereka Dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran, guru dapat mendorong siswa untuk lebih mandiri, reflektif, dan kritis dalam menyikapi setiap informasi yang diterima (Haniva et al. , 2. METODE PENGABDIAN Pelaksanaan kegiatan Pelatihan Mind Mapping sebagai Media Pelatihan Pengembangan Berpikir Kritis Siswa di MTs Nurul Wafa menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan model partisipatif (Adiningrat et al. , 2. Pengabdian kepada masyarakat melibatkan guru dan siswa secara aktif dalam pelatihan serta penerapan metode mind mapping di MTs Nurul Wafa. Kegiatan dilaksanakan selama 2 hari, mulai 10 Agustus hingga 11 Februari 2025, dengan empat sesi, berdurasi masing-masing 120 menit. Seluruh rangkaian kegiatan meliputi sosialisasi program, pelatihan dasar mind mapping, praktik pembuatan mind map, simulasi pembelajaran, pendampingan guru, serta refleksi dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Keberhasilan kegiatan diukur dari kemampuan guru dalam membuat dan menerapkan mind map, peningkatan pemahaman siswa, keterlibatan aktif peserta dengan kehadiran minimal 85%, penggunaan produk mind map dalam pembelajaran, serta adanya perubahan strategi mengajar guru menuju metode yang lebih variatif dan kreatif. Kegiatan dilaksanakan di lingkungan MTs Nurul Wafa dengan melibatkan sejumlah siswa yang aktif 120 siswa/i dalam kegiatan belajar dan organisasi sekolah. Subjek dipilih secara purposive sampling, karena dianggap memiliki antusiasme dan kemampuan partisipatif yang tinggi dalam kegiatan akademik. Melalui pelatihan ini, diharapkan siswa mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, serta meningkatkan kemampuan dalam memahami dan menyusun konsep pembelajaran secara visual menggunakan metode mind mapping. Melalui pendekatan ini, kegiatan pelatihan mind mapping di MTs Nurul Wafa tidak hanya memberikan data deskriptif mengenai peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa, tetapi juga menggambarkan bagaimana penerapan metode visual tersebut dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih mendalam, meningkatkan daya analisis, serta menumbuhkan semangat belajar yang kreatif dan interaktif. HASIL DAN PEMBAHASAN Meningkatkan Pemahaman Materi Pelatihan PKM yang dilaksanakan di MTs Nurul Wafa menunjukkan bahwa penggunaan metode mind mapping memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Mind Mapping sebagai Media PelatihanAA. pemahaman siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, terutama pada materi akidah, fikih, dan akhlak. Selama kegiatan berlangsung, siswa tampak lebih mudah memahami hubungan antar konsep setelah memanfaatkan peta pikiran sebagai media pendukung Melalui penggunaan mind mapping, siswa dapat menyusun informasi secara teratur, seperti memetakan rukun iman, rukun Islam, dan kaitannya dengan perilaku sehari-hari. Visualisasi berupa cabang-cabang ide, simbol, dan warna membantu siswa melihat hubungan antara dalil naqli . yat Al-QurAoan dan hadi. dengan penerapan nilai-nilai Islam dalam Penyajian visual tersebut menjadikan konsep abstrak lebih konkret, mudah dipahami, dan lebih lama diingat (Talib and Rifandi, 2. Hasil pelatihan memperlihatkan perkembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis Mereka tidak hanya menghafal materi, tetapi juga mampu menafsirkan serta menghubungkan berbagai konsep keagamaan secara lebih mendalam (Humairo et al. , 2. Ketika membuat mind map, siswa secara aktif mengidentifikasi hubungan antara iman, ibadah, dan akhlak sehingga pemahaman mereka terhadap ajaran Islam menjadi lebih relevan dan Selain itu, pengamatan selama kegiatan menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan mind mapping memiliki pemahaman konseptual lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran yang hanya menggunakan metode ceramah. Mereka mampu mengaitkan ayat dengan maknanya serta pesan moral yang terkandung di dalamnya secara lebih menyeluruh. Secara keseluruhan, pelatihan PKM di MTs Nurul Wafa membuktikan bahwa mind mapping bukan hanya mempermudah siswa dalam memahami materi, tetapi juga menciptakan proses belajar yang lebih aktif, kreatif, dan reflektif. Metode ini membantu siswa membangun pemahaman dan penghayatan nilai-nilai keislaman melalui proses berpikir yang tersusun dengan baik dan menyenangkan. Mempermudah Retensi Informasi Pelatihan PKM yang dilaksanakan di MTs Nurul Wafa menunjukkan bahwa penggunaan metode mind mapping tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi keagamaan, tetapi juga membantu mempertahankan hafalan dan pemahaman mereka dalam jangka waktu yang lebih panjang. Selama pelatihan, siswa yang memanfaatkan mind map dalam mempelajari Al-QurAoan. Hadis, serta Akidah Akhlak terlihat lebih mudah mengingat ayat, hadis, dan nilai-nilai moral karena adanya penguatan asosiasi visual melalui warna, simbol, dan gambar tematik Islami. Penyusunan materi dalam bentuk peta konsep memungkinkan siswa untuk menghubungkan antara dalil dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA A M. Kurma Nur Faifatur R dkk. pendekatan ini, proses menghafal tidak lagi sekadar mekanis seperti metode tradisional, tetapi juga lebih bermakna karena diiringi dengan pemahaman terhadap makna dan relevansi ajaran Islam (Malaya et al. , 2. Hal ini menjadi salah satu perubahan signifikan yang tampak selama pelaksanaan pelatihan. Hasil pelatihan juga menunjukkan bahwa siswa mampu mengingat dan menerapkan konsep-konsep penting seperti rukun iman, tata cara ibadah, serta kandungan ayat Al-QurAoan dengan lebih baik. Ketika memetakan informasi, siswa secara aktif menghubungkan dalil, arti, dan penerapan nilai-nilai Islam sehingga pengetahuan menjadi lebih terstruktur dan mudah Pendekatan mind mapping terbukti sangat mendukung siswa dengan gaya belajar visual (Hasanah 2. Mereka dapat melihat hubungan antara konsep utama dan detail pendukung secara lebih jelas dan menyeluruh. Sebagai contoh, dalam mempelajari rukun Islam, siswa menggambarkan setiap rukun sebagai cabang utama yang dihubungkan dengan ayat atau hadis terkait, sehingga proses belajar menjadi lebih menarik, bermakna, dan mudah diingat. Secara keseluruhan, pelatihan PKM ini berhasil menunjukkan bahwa mind mapping merupakan strategi efektif dalam meningkatkan retensi dan pemahaman siswa terhadap materi pendidikan agama Islam melalui visualisasi yang kreatif dan terstruktur. Meningkatkan Keterlibatan dan Motivasi Belajar Siswa Pelatihan PKM yang diselenggarakan di MTs Nurul Wafa menunjukkan bahwa penggunaan metode mind mapping mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, interaktif, dan bermakna bagi siswa (Malaya et al. , 2. Selama proses pelatihan, siswa terlihat lebih bersemangat mengikuti pembelajaran karena metode ini melibatkan aktivitas kreatif seperti penggunaan warna, simbol, dan gambar bertema Islami dalam menyusun peta Kegiatan tersebut membuat siswa lebih aktif mengolah informasi sekaligus lebih mudah memahami keterkaitan antar materi secara visual. Pengalaman belajar yang didapatkan siswa selama pelatihan menunjukkan bahwa mind mapping tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga sebagai pendekatan partisipatif yang mampu meningkatkan rasa ingin tahu dan minat mereka terhadap materi Dengan menyusun sendiri peta konsep, siswa membangun pemahaman mereka secara mandiri, sehingga pembelajaran terasa lebih menyenangkan dan mudah diingat dalam jangka panjang. Pelatihan ini juga berdampak pada peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Saat menyusun mind map tentang kandungan ayat Al-QurAoan, riwayat hadis, sejarah kebudayaan Islam, maupun materi akhlak, siswa terlihat lebih kritis dalam menafsirkan makna dan menghubungkan pesan moral dengan kehidupan sehari-hari. Proses kreatif menata cabang Efada : Jurnal Pengabdian Masyarakat Diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAI ALI BIN ABI THALIB SURABAYA Pelatihan Mind Mapping sebagai Media PelatihanAA. konsep, memberikan warna, dan memilih simbol tertentu membuat siswa lebih terlibat secara emosional dan intelektual dalam pembelajaran. Selain itu, siswa yang mengikuti pelatihan menunjukkan tingkat retensi dan pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan metode ceramah yang biasanya digunakan di kelas. Visualisasi konsep melalui mind mapping membantu mereka memahami nilai-nilai keislaman secara lebih mendalam dan menginternalisasikannya dalam perilaku nyata. Hal ini menjadikan pembelajaran agama lebih reflektif, bermakna, dan relevan bagi perkembangan spiritual Secara keseluruhan, pelatihan PKM di MTs Nurul Wafa berhasil menunjukkan bahwa metode mind mapping dapat menjadi strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan siswa, serta kemampuan berpikir kreatif dan kritis pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. KESIMPULAN Pelatihan mind mapping yang dilaksanakan di MTs Nurul Wafa memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, khususnya dalam pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemahaman materi, dan retensi informasi siswa. Metode mind mapping terbukti membantu siswa memahami keterkaitan antar konsep, menyusun informasi secara visual, serta memperkuat daya ingat melalui penggunaan simbol, warna, dan cabang ide. Selain itu, pengalaman belajar berbasis visual ini membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran, terutama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang membutuhkan pemahaman mendalam dan terstruktur. Dari sisi guru, pelatihan ini memberikan alternatif strategi pembelajaran yang lebih variatif dan partisipatif dibandingkan metode ceramah konvensional. Guru menjadi lebih mampu memfasilitasi pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan sesuai dengan karakteristik belajar siswa. Secara keseluruhan, pelatihan ini menunjukkan bahwa mind mapping merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif dan relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di MTs Nurul Wafa, baik pada aspek kognitif, afektif, maupun motivasional. DAFTAR PUSTAKA