Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Februari 2024: 18-32 MANUSKRIP WAWACAN PANJI WULUNG KRITIK TEKS DAN KAJIAN HERMENEUTIK KARYA SASTRA Elis Suryani Nani Sumarlina1. Rangga Saptya Mohamad Permana2. Undang Ahmad Darsa3 1,2, 3, Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia Email: elis. suryani@unpad. id, 2rangga. saptya@unpad. id, 3undang. darsa@unpad. ABSTRAK. Tulisan ini mengambil objek kajian manuskrip berjudul Wawacan Panji Wulung, karya H. Muhamad Musa, salinan tahun 1862. Manuskrip tersebut diyakini satu-satunya karya sastra Sunda berujud manuskrip, yang disalin ke dalam teks manuskrip Jawa. Manuskrip Wawacan Panji Wulung (WPW) berdasarkan hasil penelitian Sumarlina . , teridentifikasi sebanyak delapan buah, terdiri atas dua buah teks naskah dalam bentuk tulisan tangan . dan enam buah teks naskah cetakan. Namun dalam tulisan ini secara khusus hanya melibatkan tiga buah manuskrip. Teks-teks naskah WPW dimaksud menggunakan huruf Cacarakan dan huruf Latin, berbahasa Sunda dan Belanda. Kedelapan manuskrip itu teksnya tidak ada yang utuh. Melalui garapan filologis, baik kodikologis maupun tekstologis, akhirnya dapat ditentukan tiga buah teks naskah WPW yang lebih banyak digunakan dalam rangka menyusun sebuah Edisi Teks Wawacan Panji Wulung yang lengkap dan bebas dari kesalahan, agar dapat lebih mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat pada saat ini, sehingga akhirnya bisa dipertanggungjawabkan dan dipandang mendekati teks aslinya. Metode penelitian menggunakan deskriptif analisis komparatif. Penggarapan teks didasarkan kepada metode landasan dan metode gabungan. Untuk teks WPW melibatkan pendekatan filologi dan hermeneutik. Kecacatan WPW ini disebabkan oleh gejala salah tulis di dalam tradisi penurunan sepanjang sejarah perkembangannya, meliputi penggantian . , penghilangan . , penambahan . , dan perubahan . Edisi Teks WPW yang digubah dalam bentuk wawacan, meliputi sebanyak 28 pupuh yang terdiri atas 1018 pada. Manuskrip WPW termasuk ke dalam salah satu khazanah susastra Sunda yang memiliki nilai tinggi, bila dibandingkan dengan karyakarya sastra lainnya yang sejaman. Hal ini tampak dari hasil tinjauan dari sudut pandang karya sastra, meskipun tinjauan yang dilakukan belum menyeluruh dan mendalam. Tinjauan dari aspek sastra pada dasarnya hanyalah sebagai pembuka jalan bagi penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain. Kata Kunci: Manuskrip Wawacan Panji Wulung. Kritik Teks. Kajian Hermeunetik Karya Sastra THE PANJI WULUNG WAWACAN MANUSCRIPT FOCUSES ON TEXT CRITICISM AND HERMENEUTIC ANALYSIS OF LITERARY WORKS ABSTRACT. This research examines the manuscript "Wawacan Panji Wulung" by H. Muhamad Musa, a copy This manuscript is thought to be the sole Sundanese literary work in the form of a manuscript that has been copied into Javanese manuscript text. Sumarlina's . investigation yielded eight Wawacan Panji Wulung (WPW) manuscripts, two of which were handwritten and six printed. However, this study only includes three The WPW manuscript passages in question employ Cacarakan and Latin letters in Sundanese and Dutch. None of the eight manuscripts have a full text. Philological research, both codicological and textological, was finally able to determine three WPW manuscript texts. The research approach employs descriptive comparative analysis. Text preparation is based on both basic and integrated procedures. The WPW text takes a philological and hermeneutical approach. WPW's flaws are the result of typographical errors in the tradition of decline throughout its existence, such as substitutions, omissions, additions, and transpositions. The WPW Text Edition, written in wawacan form, contains 28 pupuh totaling 1018 on. The WPW manuscript is one of Sundanese literature's gems, with a high worth when compared to other current works. This is evident from the review's outcomes in terms of literary works, despite the fact that the evaluation is not yet thorough or in-depth. The review of literary aspects is primarily intended to prepare the path for future research and can serve as a literary reference for other sciences. Keywords: Panji Wulung Wawacan manuscript, text criticism, hermeneutical study of literary works. PENDAHULUAN Manuskrip sebagai warisan dan dokumen budaya tinggalan berharga nenek moyang masa lampau, merupakan kearifan lokal yang sangat penting yang tidak ternilai harganya, karena mengandung pelbagai aspek budaya yang meliputi ide, gagasan, perasaan, pengetahuan, dan sikap hidup bangsa atau kelompok sosial budaya yang melahirkannya. Namun, manuskrip tersebut masih banyak yang belum dikaji, bahkan banyak yang masih terlantar. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya pengkaji harus menguasai aksara, tulisan, dan bahasa. Generasi Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 muda belum menginsafi bahwa dalam manuskrip terkandung sebagian warisan rohani bangsa Indonesia, beragam wahana ilmu pengetahuan nenek moyang yang harus dilestarikan (Robson, dalam Sumarlina, 2020. Sumarlina, 2. Keadaan seperti ini, terjadi juga pada manuskrip Sunda yang masih tersebar di masyarakat Jawa Barat secara perseorangan. Manuskrip Sunda merupakan sebagian dari peninggalan nilai-nilai budaya masyarakat Sunda, yang dapat digali sebagai sumber bagi sejarah sosial budaya Sunda itu sendiri. Penelaahan terhadap manuskrip Sunda harus segera dilakukan, karena sebagai dokumen budaya manuskrip tersebut dapat dijadikan sebagai referensi literasi bagi ilmu lain di era milenial saat ini. Manuskrip bisa dimanfaatkan sesuai dengan isi yang dikandungnya. samping itu, teks manuskrip pun mampu dikembangkan disesuaikan dengan kecanggihan WPW merupakan salah satu satu karya sastra yang digubah oleh R. Moehamad Moesa. Gubahannya itu disusun dalam satu kesatuan yang bulat, dengan jalinan bahasa . Sunda yang indah, disertai penggarapan dan pengungkapan yang artistik. Karya Moehamad Moesa ini terdapat di dalam naskah dan juga telah diterbitkan dalam bentuk cetakan, bahkan telah mengalami beberapa kali cetak Hal ini memberikan gambaran, bahwa karya sastra tersebut cukup disenangi dan karena itu cukup dikenal dalam masyarakat Sunda Ternyata. WPW telah disalin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Naskah WPW sebelum diteliti dan dikaji secara filologis terdapat cacat/kesalahan. Namun. Sumarlina . melakukan pengkajian serta mengedisi teks dan terjemahan PWP secara kritis serta menghasilkan suatu teks yang bersih dari kesalahan dan dianggap mendekati aslinya, sehingga dapat digunakan sebagai sumber penelitian ilmu-ilmu lainnya. Manuskrip sebagai hasil kreativitas generasi pendahulu telah memberikan peluang yang siap dijadikan dasar penelitian. Sehubugan dengan masalah tersebut, pengkajian WPW yang sudah dilakukan telah menyajikan edisi teks WPW yang baik dan dipandang paling dekat dengan teks aslinya, serta dalam bentuk yang sudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat generasi kita dan generasi mendatang. Salah satu alasan yang mendorong ke arah penelitian filolog di antaranya karena teks manuskrip yang tidak lengkap serta harus direkonstruksi dengan cara membandingkannya atau melengkapi teks manuskrip dimaksud, bahkan dengan cara membandingkannya dengan teks cetakan yang sudah dicetak ulang beberapa kali. Penyajian WPW dalam bentuk yang baik, utuh, dan mudah dibaca seperti tersebut di atas merupakan suatu upaya ilmiah dalam rangka menggali, meneliti, dan memanfaatkan warisan budaya bangsa. Tujuan penelitian WPW secara umum diarahkan agar masyarakat dapat memperoleh kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan menikmati karya tulis hasil pemikiran bangsa kita dalam hal ini WPW. Dengan demikian, diharapkan agar masyarakat mempertebal rasa cinta terhadap kebudayaan bangsanya sendiri. Usaha penggalian nilai-nilai hidup yang terkandung dalam sejarah dan kebudayaan bangsa sendiri merupakan suatu usaha yang sangat berharga dan perlu dilaksanakan secara berkesinambungan, karena Kebudayaan Nasional. METODE Manuskrip Wawacan Panji Wulung (WPW) sebagai objek kajian dalam tulisan ini keadaan awalnya sudah tidak utuh. Oleh sebab itu, terlebih dahulu harus dilakukan penggarapan secara filologis. Namun, penggarapan terhadap manuskrip itu memerlukan suatu metode kritik yang sesuai dengan keadan naskah yang Melalui kritik teks, dengan berbagai metodenya dapat menyajikan edisi teks WPW yang baik dan diperkirakan paling dekat dengan teks aslinya, serta dalam bentuk yang mudah dibaca dan dipahami. Untuk itu, dibedakan antara metode penelitian dengan metode kajian. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif komparatif analisis, sedangkan metode kajian yang dipakai ialah metode ktitik teks, melalui kajian kodikologi dan tekstologi. Pendekatan ke arah pengedisian teks tergantung pada keadaan naskah yang diteliti. Tiap-tiap metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Metode kajian tulisan ini menggunakan metode kajian kritik teks naskah jamak, melalui metode landasan dan gabungan, berdasarkan kondisi teks manuskrip yang tidak Pendekatan teks manuskrip WPW melibatkan pendekatan filologis dan hermeneutik karya sastra. Teks manuskrip A hanya bagian awalnya saja, sedangkan naskah B, meliputi bagian akhirnya saja, yang dianggap sebagai Sementara itu, teks manuskrip yang hilang atau kosong melibatkan naskah E berupa Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 manuskrip cetakan, agar manuskrip WPW menjadi lengkap dan utuh. Teknik pengumpulan sumber data, baik sumber data primer maupun sumber data sekunder, dalam tulisan ini ditempuh dengan cara studi kepustakaan disertai kerja lapangan. Pelaksanaan pengumpulan sumber data di perpustakaan juga ditempuh, untuk mendapatkan keterangan atau petunjuk yang tertera dalam berbagai katalogus dan hasil-hasil penelitian. Studi kepustakaan juga selain di Jawa Barat dan Jakarta, juga dilakukan di perpustakaan Radyapustaka Surakarta. Universitas Sebelah Maret Surakarta, dan perpustakaan Sonobudaya Yogyakarta. Dari beberapa perpustakaan tersebut, naskah WPW . ulisan tanga. didapatkan dari Bagian WPW berbahasa Jawa diperoleh dari perpustakaan Reksapustaka Pura Mangkunegaran Surakarta sebanyak dua buah naskah. Teks WPW cetakan didapatkan dari perpustakaan Museum Nasional Jakarta dan melalui studi lapangan. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN Manuskrip WPW berdasarkan kronologis sejarahnya berupa naskah salinan, baik langsung maupun tidak langsung dari manuskrip aslinya. Selain itu, manuskrip yang keadaannya sudah tidak utuh. Karena itu, naskah tersebut perlu terlebih dulu digarap secara filologis sebelum diadakan penyelamatan lebih lanjut mengenai isi dan pemahaman tentang arti serta maksud sebenarnya dari manuskrip Dalam tulisan ini hanya manuskrip primer yang dijadikan objek kajian. Manuskrip WPW cukup menarik untuk Maka dari itu, tidak menutup kemungkinan untuk digarap dari berbagai disiplin ilmu. Namun, dalam kesempatan ini sudah tentu tidak mungkin menggarap WPW dari berbagai segi itu. Atas dasar itulah, dalam tulisan ini akan membatasi ruang lingkup kajian dari segi filologi. Di samping itu, sebagai pembuka jalan dalam rangka pemahaman isi teks WPW akan dibahas dari segi sastranya walaupun hanya Dengan demikian, penggarapan WPW dalam tulisan ini hanya mencakup bidang filologi dan sastra, meskipun hanya berupa garis besar isi Identitas Manuskrip WPW Manuskrip WPW yang dijadikan sumber data primer dalam penelitian ini, ialah data manuskrip salinan dari naskah WPW yang terdapat di bagian naskah Museum Nasional Jakarta berjumlah dua buah manuskrip, masingmasing berkode SD 127 menggunakan huruf Latin yang bersebelahan dengan huruf Cacarakan serta SD 70 menggunakan huruf Latin. Selain itu, manuskrip salinan WPW dalam bentuk cetakan. Manuskrip tulisan tangan hasil kajian tesis disebutkan tidak lengkap. Manuskrip salinan dalam bentuk cetakan berjumlah enam Keenam WPW cetakan itu digunakan sebagai bahan bandingan dan pelengkap dalam rangka merekonstruksi kedua manuskrip tulisan tangan yang sudah tidak lengkap dimaksud. Dengan demikian, sumber data primer dalam penelitian tesis semuanya berjumlah delapan, yang terdiri atas manuskrip (A), (B). G, dan H. Dalam tulisan ini hanya dideskripsikan manuskrip yang dijadikan sumber primer dan manuskrip Jawa, sebagai bukti adanya keterjalinan antara WPW Sunda dan WPW Jawa. Sumber data sekunder yang berkaitan dengan manuskrip WPW di antaranya ialah manuskrip salinan yang tertulis dalam huruf Jawa, dalam bentuk manuskrip berjumlah dua buah, dan dalam bentuk cetakan sebanyak empat buah cetakan. Sumber data sekunder lainnya, yaitu berupa hasil-hasil pentransliterasian dan catatan-catatan lainnya yang ada kaitannya dengan manuskrip WPW. Manuskrip yang dijadikan sumber data primer dalam tulisan ini perlu dideskripsikan identitasnya secara lebih terinci, sehingga berdasarkan gambaran tersebut, usaha ke arah kritik teks dapat dilakuakan lebih Perlu dikemukakan terlebih dahulu bahwa urutan identifikasi sumber data dipertimbangkan berdasarkan teks naskah tulisan tangan . dan teks naskah cetakan. Dua naskah teks naskah WPW tulisan tangan . sesuai data tesis yang dijadikan bahan tulisan ini, masing-masing disebut dengan manuskrip (A) dan manuskrip (B). berhubung dengan manuskrip (A) ditulis dengan dua macam huruf, yaitu huruf Latin dan huruf Sunda-Jawa . , maka dapat dibedakan lagi menjadi A. 1 dan A. 2 Adapun teks manuskrip WPW cetakan yang berjumlah sebanyak enam buat, masing-masing disebut naskah C, naskah D, naskah E, naskah F, naskah G, dan naskah H. agar lebih jelas, naskah-naskah sumber data tersebut di atas identitasnya tampak sebagai berikut: Manuskrip (A) Ukuran 32,4 x 21,3 cm: ruang yang ditulisi 29 x 17cm, terdiri atas teks A. 1 29 x 8,5 cm dan teks A. 2 29 x 7,5 cm. Lebar ruang tulis teks A. 1 lebih besar 1 cm dari ruang tulis teks A. karena dari garis pemisah antarteks terdapat Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 margin selebar kira-kira 1 cm sebelah kanan teks tebal manuskrip 36 halaman, dimulai dengan nomor halaman 47 dan berakhir pada nomor halaman 82. Keadaan ini menandakan adanya halaman teks yang hilang, yaitu sejumlah 46 halaman . omor halaman 1-. pada bagian Sedangkan jumlah halaman teks yang hilang pada bagian akhir manuskrip sulit dipastikan, tetapi diperkirakan sekitar 145-an. Hal ini didasarkan atas perhitungan, apabila setiap halaman terdiri atas rata-rata 5 pada . teks dan jumlah pada keseluruhan diperkirakan mencapai 1018, maka 1018 dikurangi 294 Ae karena sampai dengan nomor halaman 82 termuat teks sebanyak 294 pada Ae tinggal 724 pada kemudian dibagi 5 akan diperoleh jumlah 144,8. Setiap halaman terdiri antara 33-34 baris untuk teks A. 1 dan untuk teks A. 2 antara 33-34 baris untuk teks A. 1 dan untuk teks A. 2 antara 2933 baris. Teks A. 1 ditulis dalam huruf Latin dan teks A. 2 dalam huruf cacarakan (Sunda-Jaw. yang keduanya ditulis pada kertas buatan pabrik tanpa watermark . ap kerta. dengan warna sudah kecoklat-coklatan. Huruf kapital dalam teks A. 1 digunakan di setiap kata awal pada baru padalisan pertama, sebagai contoh rejeng dei aki (A. 1,IV. Di sini tidak dibedakan antara tanda titik dan koma, keduanya memakai tanda titik-strip (. -). Sedangkan dalam teks A. 2 yang menggunakan cacarakan, ada tiga tanda baca yang dipakai, yaitu tanda . adalah sebagai tanda setiap pada baru, kemudian tanda garis miring ke kiri tunggal ( \ ) digunakan sebagai penanda setiap akhir padalisan, serta tanda garis miring ke kiri ganda ( \\ ) dipakai sebagai tanda setiap akhir Teks manuskrip (A) (A. 1 dan A. ini digubah dalam bentuk wawacan yang hanya terdiri atas 181 pada, yaitu antara nomor pada 114 sampai dengan pada 294 karena kondisinya sebagaimana dijelaskan di atas. Nama-nama pupuh yang digunakan baru dapat diketahui mulai nomor pada 124 yaitu Pangkur . , nomor pada 156 Kinanti . , nomor pada 213 Mijil . , dan nomor pada 229 Asmarandana . aru mencapai sejumlah 66 pada yang dipastikan masih ada beberapa pada sebelum nomor pada 124 berdasarkan konvensi pupuh dapat dipastikan adalah Sinom sebagaimana tampak di bawah ini. Ramy sora sasatowan, badak bantyng noe kakoeping, myjong handapen kijara, gerang geroeng matak risi, ryk nayk kana kai, njoesoed djalma noe di loehoer, ki djanggali djanggala, kysang lokot kawas mandi, ngadarygdyg moerijang te kawajaan (A, i. Manuskrip (A) ini tersimpan di bagian Koleksi Naskah Museum Nasional Jakarta . ekarang tersimpan di Bagian Naskah Perpusnas RI, dengan nomor kode SD. 127, berjudul Pandji Wulung. Berdasarkan catatan yang terdapat dalam katalog, naskah ini merupakan koleksi Holle. Kemudian didokumentasikan oleh pihak museum tertanggal 12 Mei 1972. Sebagai sumber data dalam penelitian ini, keseluruhan naskah tersebut lalu dibuat potretnya. Manuskrip (B) Ukuran manuskrip 34 x 21,3 cm. yang ditulisi 29 x 18 cm. tebal naskah 15 halaman, dimulai dengan nomor halaman 1 dan berakhir pada nomor halaman pada nomor Penomoran halaman naskah berdasarkan jumlah naskah yang ada. Keadaan seperti ini menandakan banyaknya halaman teks yang hilang. Namun, penulis tidak dapat memastikan berapa banyak halaman teks yang hilang itu, berhubung dengan naskah yang ada hanya bagian akhirnya saja, yang terdiri atas 77 Setiap halaman terdiri antara 30-31 baris, ditulis dalam huruf Latin. Bahasa yang dipakainya tergolong bahasa Sunda baru yang biasa dipergunakan oleh masyarakat Sunda dewasa ini. Manuskrip (B) ini ditulis di atas kertas buatan pabrik yanpa watermark . ap kerta. dengan warna kekuning-kuningan. Huruf kapital digunakan sebagai inisial kata pada baru untuk padalisan pertama, dan inisial nama diri Katjatoerkeun radja Gilingwesi, geus merenah di Karang Kapoetran. (B,XXVI. Dalam naskah (B) ini sudah dibedakan antara tanda koma (,) dan tanda titik (. ), tanda koma digunakan setiap akhir padalisan, sedangkan tanda titik dipakai pada setiap akhir pada. Selain itu, naskah ini sudah membedakan antara fonem /y/, /e/, dan fonem /eu/. Teks manuskrip (B) digubah dalam bentuk wawacan yang hanya terdiri atas 77 pada, yaitu antara nomor pada 942 sampai dengan pada Sebelum menginjak kepada pada 942 terdapat tiga padalisan akhir pada 491. Kondisi manuskrip ini sudah tidak lengkap sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya. Nama pupuh yang digunakan baru dapat diketahui mulai nomor pada 968, yaitu Sinom . Nama Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 pupuh sebelum nomor pada 988 atau antara nomor pada 968 sampai nomor pada 987 berdasarkan konvensi pupuh dapat dippastikan adalah pupuh Maskumambang, sedangkan mulai nomor pada 967 adalah pupuh Dangdanggula. Sebagai contoh, berikut ini disajikan noomor pada 968, yaitu pupuh Maskumambang. Manuskrip (B) dimulai dengan nomor pada 942 sampai dengan pada 1018 . Pada 1018 tersebut merupakan kolofon seperti tampak dalam contoh berikut ini. Sinom Tamatna kawoela ngarang. Poekoel toedjoeh malem Kemis. Di tanggal toedjoeh welasna. Kaleresan boelan april. Tahoen kangdjeng masihi. Sarywoe dalapan ratoes. Djeng genep poeloehdoewa. Marengan hidjarhna nabi. Srywu doewa ratoes toedjoeh poeloeh dlapan. (B, 15. 7:1. Manuskrip (B) dahulu tersimpan di bagian Koleksi Naskah Museum Nasional Jakarta, sekarang di Perpusnas RI, dengan kode SD. berjudul Tjarios Pandjiwoeloeng . esuai dengan judul naskah yang tercantum pada lembaran pertama bagian sisi naska. Perlu dijelaskan di sini bahwa sampul naskah ini terbuat dari kertas tebal dengan warna gabungan antara bercak merah dan bercak coklat. Berdasarkan catatan yang terdapat dalam katalog, naskah ini diinventarisasi dari koleksi naskah Holle tertanggal 3 Mei 1972. Sebagai sumber data primer dalam tulisan ini, keseluruhan naskah ini pun kemudian dibuat potretnya. Manuskrip E Teks WPW yang terbit pada tahun 1891 merupakan teks cetakan kedua yang ditulis dengan huruf Sunda-Jawa (Cacaraka. Diterbitkan oleh Batavia Landsdrukkerij, berjudul Pandji Woeloeng door Raden Moehamad Moesa Hoofd-Panghoeloe van Limbangan. Berukuran 12,7 x 20,4 cm: ruang yang ditulisi 15,5 x 9,5 cm. tebal naskah 268 Teks manuskrip ini tidak lengkap, karena ada beberapa lembar teks yang cacat/korup tulisannya melepuh seperti terkena kulit buah mangga, yaitu halaman 258 yang semuanya mencapai 6 pada, berkisar antara pada 981 sampai dengan pada 986. Kemudian terdapat halaman teks yang bolong sebanyak dua lembar, yaitu halaman 41 dan 42 yang meliputi pada 130 dan pada 134. Selain itu, ada dua halaman lagi yang sobek, yakni halaman 109 dan halaman 110 terdiri atas pada 401 dan pada 406. Namun, jika dibandingkan dengan teks cetakan lainnya, manuskrip E ini dianggap paling lengkap. Setiap halaman terdiri atas 20-21 baris, ditulis dalam huruf Sunda-Jawa (Cacaraka. seperti telah diuraikan di atas, dengan tulisan miring . Bahasa yang dipakainya ialah bahasa Sunda masa kini. Teks ini dicetak di atas kertas buatan pabrik tanpa watermark dengan warna yang sudah agak kecoklat-coklatan. Menggunakan jilid warna kuning. Dalam cara penulisan, tidak dibedakan anatara fonem /e/ dengan fonem /eu/. Di sini ada lima tanda baca yang digunakan, yaitu tanda . adalah sebagai awal nama setiap pupuh baru, kemudian tanda garis miring tunggal ke kiri ( \ ) digunakan sebagai penanda setiap akhir padalisan, dan tanda garis miring ganda ke kiri ( \\ ) dipakai sebagai tanda setiap akhir pada. Selain itu, digunakan pula tanda ( \\o\\ ) sebagai penanda akhir cerita secara keseluruhan, serta tanda . yang digunakan untuk setiap awal pada. Teks cetakan terbitan tahun 1891 ini digubah dalam bentuk wawacan, terdiri atas 1017 pada ditambah dengan satu pada awal yang tak Dengan demikian, jumlah pada secara keseluruhan mencapai 1018 pada. Namun, seperti telah diuraikan sebelumnya, ada beberapa lembar teks yang rusak. Tetapi, tidak mempengaruhi keseluruhan jumlah pada yang Teks WPW ini tersimpan di Perpustakaan Museum Nasional Jakarta, dengan nomor katalog xIV/ib. Seperti halnya teks lainnya, untuk penelitian ini keseluruhan teks dibuat Alasan Penyuntingan Teks Usaha merekonstruksi teks suatu naskah, pada dasarnya memerlukan naskah-naskah lain sebagai bahan bandingan. Perlu dikemukakan bahwa sehubungan dengan kondisi naskah WPW, dalam hal ini naskah (A) dan naskah (B) sudah tidak lengkap, maka sebagai bahan pembanding dalam rangka merekonstruksi teks tersebut digunakan sumber data primer lainnya berupa teks WPW cetakan sebanyak enam buah Tetapi, untuk keperluan suntingan teks, di antara keenam teks WPW cetakan itu dipilih sebuah teks yang dianggap paling lengkap, yaitu teks E melalui perbandingan antar-teks. Dengan demikian, di dalam penelitian ini teks E diangkat sebagai bahan bandingan utama untuk teks (A) dan teks (B). akan tetapi, apabila ternyata ada bagian-bagian teks yang rusak . atau Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 hilang . di dalam naskah (A) atau (B) dan kebetulan di dalam teks E pun mengalami hal yang sama, maka kehadiran teks-teks lainnya seperti yang disebutkan di atas dapat Tidak ada pilihan lain, meskipun di antara teks tadi tampak adanya perbedaan wujud, yakni antara manuskrip dan cetakan, karena hanya teks naskah itulah yang sementara waktu dapat digunakan. Perbandingan Kondisi Teks Naskah WPW Keadaan teka naskah WPW secara terinci telah dideskripsikan dalam pasal 3. 3 berdasarkan tiap-tiap naskah. Dalam pasal ini, kedelapan naskah tersebut dicoba untuk dibandingkan. Perbandingan tersebut meliputi banyaknya pada setiap naskah, persentase, nomor akhir pada, serta kesamaan isi teks. Banyaknya pada setiap naskah berkisar antara 77 sampai dengan 1018 Perincian jumlah pada tersebut adalah: Teks (A) berjumlah 181 pada, teks (B) hanya mencapai 77 padaI, teks C sebanyak 986 pada . 963 pad. , teks D meliputi 960 pada . 758 pad. , teks E berjumlah 1018 pada, teks F mencapai 999 pada . 219 12 pad. , teks G berjumlah 981 pada . 862 33 pad. , dan teks H berjumlah 984 pada . 381 568 Kondisi teks naskah WPW berdasarkan banyaknya pada masing-masing naskah tersebut. Jika dihitung berdasarkan persentase pada yang ada dalam kedelapan teks naskah WPW itu, 1 Ae 113 114 Ae 294 295 Ae 941 942 Ae 991 992 Ae 1010 1011 Ae 1015 1016 Ae 1017 1017 Ae 1018 maka akan diperoleh angka-angka sebagai berikut: teks (A) 17,8%, teks (B) 7,6%. 96,9% . ,3% 94,6%=96,9%). teks D 94,3% . ,8% 74,5%=94,3%). teks E keseluruhannya 98,1% . ,4% 21,5% 1,2%=98,1%). teks G 96,4% . ,4% 84,7% 3,3%=96,4%). dan teks H 96,7% . ,4% 37,5% 55,8%=96,7%). Kedelapan teks manuskrip WPW apabila dilihat dari nomor akhir pada yang dimilikinya tidak sama. Hal itu secara sepintas dapat kita perhatikan melalui deskripsi naskah yang telah diuraikan sebelumnya. Teks A berakhir dengan nomor pada 294 . ada 114-pada . berakhir dengan nomor pada 1018. berakhir dengan nomor pada 991. teks D nomor pada terakhirnya 1016. teks E mempunyai nomor pada terakhir 1017. teks F bernomor akhir pada teks G memiliki nomor akhir pada 1010. dan teks H berakhir dengan nomor pada 1015. Dengan demikian, nomor pada terakhir tiap naskah tersebut bervariasi. Pada dasarnya, naskah E dan F yang berakhir dengan nomor pada 1017 apabila bagian pembuka . yaitu sebelum pada pertama naskah tersebut diberi nomor akhir pada kedua manuskrip itu pun akan sama dengan naskah B yang bernomor akhir Berdasarkan diagram nomor akhir pada, pendeskripsian teks WPW dapat disusun: teks (A), (B). G, dan H direkonstruksi berdasarkan teks D. E, dan teks F. teks (B), dan teks D direkonstruksi berdasarkan teks (A). G, dan H. teks (A), (B). G, dan H direkonstruksi berdasarkan teks C. G, teks H. teks (A) direkonstruksi berdasarkan teks (B), teks C. G, dan H. teks (A). F, dan G direkonstruksi berdasarkan teks (B). E, dan H. teks (A). F, dan G direkonstruksi berdasarkan teks (B). E, dan H. teks (A). G, dan H direkonstruksi berdasarkan teks B. E, dan teks F. teks (A). G, dan H direkonstruksi berdasarkan teks (B). Melihat keterlibatan semua naskah yang ada, meski dalam tulisan ini hanya melibatkan naskah A. B, dan E, ternyata naskah E selalu terlibat dalam rangka rekonstruksi teks (A), (B). Kekurangan-kekurangan yang terdapat pada naskah lain dapat dilengkapi oleh naskah E. dari itu, untuk merekonstruksi teks (A) dan (B) dapat didasarkan atas naskah E. Hal ini berarti secara jelas telah melibatkan metode landasarn dari semua manuskrip yang ada. Sesuai dengan keadaan naskah (A) dan naskah (B) yang sudah tidak lengkap, maka dalam hal ini peranan naskah E yang dianggap sebagai naskah cetakan paling lengkap dapat dijadikan sebagai landasan untuk merekonstruksi kedua manuskrip. Dengan demikian, penggarapan teks WPW selanjutnya thanya berdasarkan ketiga manuskrip itu, yakni naskah (A), (B), dan naskah E. Pertalian Naskah (A). Naskah (B), dan Naskah Pemikiran pertalian antara Manuskrip A. B, dan E, tampak bahwa yang pertama kali memperlihatkan adanya pada yang rusak atau padalisan yang hilang ada dalam teks (A), yaitu di dalam beberapa pupuh awal dan pupuh akhir. Baru setelah itu tampak keadaan yang sebaliknya, yakni dalam beberapa teks (B) dan juga teks E terdapat padalisan-padalisan yang rusak maupun hilang. Kekurangankekurangan, baik yang terdapat dalam teks (A), teks (B), maupun teks E, bisa diatasi dengan cara saling memberi dan menerima untuk bagian yang Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 rusak atau hilang itu. Keadaan seperti ini, pada dasarnya telah memberikan peluang untuk bisa menyatakan bahwa antara teks naskah (A), (B), dan E tersebut terdapat pertalian, selama dalam keadaan ini tidak terjadi penyimpangan konteks Yang pertama disusun adalah kesalahan atau penyimpangan yang terdapat dalam teks (A), kemudian disusul keadaan serupa untuk teks (B) dan teks E. Bertitik tolak dari adanya data-data itu, yang diakibatkan kesalahan menyalin berupa hilang . dalam bentuk pupuh, pada, dan padalisan, serta karena hilang . yang terdapat dalam teks (A) dan teks (B) tadi, berada pada tempat yang berlainan, sehingga akhirnya dapat diatasi oleh teks E. maka dapat disimpulkan, bahwa pertalian antara naskah (A) dan naskah (B) terletak pada naskah induknya masing-masing, yang keduanya mengacu kepada sebuah naskah induk. Dengan demikian, jelaslah bahwa naskah (A) dan naskah (B) berada dalam satu kelompok yang masing-masing berdiri Kedudukan teks E memegang peranan penting, sebab sebagaimana tampak dalam pembahasan melalui pasal-pasal sebelum ini, teks E dapat mengatasi semua kekurangan yang terdapat dalam teks (A) dan teks (B). Masih terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan untuk memperoleh jalan terang dalam rangka menelusuri sampai sejauh mana pertalian antara ketiga naskah tadi, sehingga dapat disusun sebuah silsilah, yang melukiskan titik pertemuan ketiga naskah di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa naskah (A) hanya memiliki 181 pada, terdiri atas 5 pupuh, yakni pupuh i sampai dengan pupuh VII, sedangkan naskah (B) hanya mempunyai 77 pada, yang meliputi 3 pupuh yaitu pupuh XXVI sampai dengan pupuh XXVi. Namun, kekurangankekurangan yang terdapat dalam naskah (A) dan naskah (B) sebanyak 761 pada tersebut, dapat diatasi oleh naskah E, meskipun dalan naskah E itu sendiri terdapat sebagian teks yang rusak . , sehingga akhirnya untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan jalan menggabungkan teks (A) dan teks (B) ke dalam teks E. sejumlah pada yang rusak karena sobek dalam naskah E tersebut, akan semakin mendukung ke arah pernyataan bahwa pertalian antara ketiga naskah itu berasal dari dua buah naskah induk yang bersaudara. Adapun naskah E dalam hal ini diturunkan dari salah satu naskah induk tersebut. Skema Hubungan Antara Naskah (A). Naskah (B) dan Naskah E Masalah yang dibahas selanjutnya adalah menentukan sampai sejauh mana pertalian yang terjadi antara manuskrip (A), manuskrip (B) dan manuskrip E. Pertalian antara manuskrip (A) dan manuskrip (B) terletak pada teks-teks cetakan yang diturunkannya masing-masing, yang keduanya dihibingkan dengan salah satu teks cetakan setiap kelompok tersebut. Dari manuskrip (A) dan manuskrip (B) ini diturunkan sebanyak enam buah teks WPW cetakan, yaitu dari teks (A) diturunkan teks C. E, dan F. kemudian dari teks (B) diturunkan teks D. G, dan teks H. Penurunan manuskrip atas dasar penulisan nomor pada, di samping penggunaan huruf dan tahun terbit. Berdasarkan penulisan nomor pada, semua teks cetakan yang kolofonnya tidak bernomor kemungkinan besar menginduk kepada manuskrip (A), walaupun teks manuskrip (A) itu tidak lengkap. Hal ini terbukti dengan adanya nomor-nomor pada setiap teks sama, yang bernomor pada akhir mencapai 1017 pada ditambah 1 pada alofon. Di samping itu, kelompok naskahh (A). E, dan F ini Cacarakan, kemungkinan besar menginduk kepada teks A. Sedangkan teks-teks cetakan yang alofon-nya diberi nomor menginduk kepada naskah (B), yang mencapai nomor pada akhir 1018 pada. Hal ini tampak besar berdasarkan teks (B) itu sendiri, walaupun sebagian besar awal teks (B) sebanyak 25 pupuh atau 942 pada tidak ada. Kelompok (B) ini, kecuali teks H menggunakan huruf Cacarakan. Usaha ke arah rekonstruksi teks WPW, khususnya rekonstruksu teks (A) dan (B) digunakanlah teks E. Usaha rekonstruksi teks (A) oleh teks E persoalannya tidak begitu rumit, teks (A) dan teks E berada dalam satu kelompok. Yang diperkirakan memiliki persoalan agak rumit, adalah usaha rekonstruksi teks (B) dengan melandaskan kepada teks E. akan tetapi, seperti telah dipertimbangkan pula pada uraian di atas, kelompok (B) dapat bertemu dengan kelompok (A) dipertimbangkan atas adanya teks H. sehingga dengan demikian, dapatlah kiranya dimaklumi, mengapa teks (B) pun dapat direkonstruksi berdasarkan kepada teks E. WPW dalam Khazanah Susastra Jawa Teks WPW selain ditulis dalam bahasa Sunda terdapat pula dalam bahasa Jawa. Penulis berhasil menemukan sebanyak tujuh buah teks WPW yang dalam bahasa Jawa disebut Serat Panji Wulung. Terdiri atas dua buah naskah tulisan tangan, tiga buah teks cetakan, menggunakan huruf Jawa, satu buah teks cetakan dengan menggunakan huruf Latin, dan satu manuskrip tulisan tangan berupa teks Panji Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Wulung beserta kata-kata yang terdapat dalam teks Serat Panji Wulung, menggunakan huruf Jawa. Ketujuh manuskrip tersebut diperoleh dari Surakarta, masing-masing dari Perpustakaan Reksapustaka Mangkunegaran, terdiri atas dua buah naskah tulisan tangan memakai huruf Jawa dengan nomor kode D 147 dan D 148, sebuah teks cetakan menggunakan huruf Latin dengan nomor katalog O 162, dan satu buah naskah tulisan tangan menggunakan huruf Jawa dengan judul Serat Bausastra Kawi Panji Wulung dengan nomor kode C 38. Adapun dua buah manuskrip lainnya diperoleh dari Radyapustaka Surakarta bernomor kode 364 dan dari Perpustakaan Universitas Sebelas Maret Surakarta Pun. Di samping itu, tempat-tempat penyimpanan lainnya, yaitu Yogyakarta yang diperkirakan menyimpan naskah WPW telah Ternyata naskah WPW tak diperoleh di sana. Tempat-tempat yang sempat dikunjungi adalah Perpustakaan Paku Alaman Yogyakarta. Perpustakaan Museum Sanabudaya, yang selain memiliki katalog perpustakaannya sendiri juga menyimpan katalog Perpustakaan Tepas Kabujangan Widyabudaya Kasultanan Yogyakarta. Perpustakaan Javanologi Yogyakarta, serta dua perpustakaan wilayah di Yogyakarta. Manuskrip berbahasa Jawa dalam tulisan ini tidak akan dibicarakan lebih lanjut, karena tulisan ini lebih dipusatkan kepada rekonstruksi teks WPW yang berbahasa Sunda. Manuskrip teks Jawa dalam rangka memberikan gambaran yang nyata bahwa manuskrip WPW tersebut bukan hanya dikenal di daerah Jawa Barat, khususnya masyarakat Sunda bahkan sudah berkembang pula pada masyarakat Jawa melalui proses penerjemahan atau penyaduran. Hal ini tampak pada kolofon yang terdapat dalam teks WPW berbahasa Jawa berikut ini. Puniki cariyossipun Panyji Wulung Mrih sarkara kang makirtya nguni. Radyn Khaji ran Mukhaad Musa, ing Limbangan panguluny, ngarang srat Panji Wulung, basa Sundha jinarwan Jawi, mring Dyan Suryadijaya. Bantyn Kadhuhilut, ing mangke pirembagira, kang para lit lukitanipun kinardi, kacara Surakarta. ,1. I:. Manuskrip Serat Panji Wulung yang ditulis dalam bahasa Jawa itu berasal dari manuskrip WPW berbahasa Sunda gubahan Raden Haji Moehamad Moesa, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Raden Suryadijaya dari Banten Kaduhilut, sebagaimana tertera dalam kolofonnya. Penyalinan dan penerjemahan WPW ke dalam bahasa Jawa berkaitan erat dengan masalah hubungan antara kedua masyarakat, dalam hal ini masyarakat Sunda dengan masyarakat Jawa. Hubungan kebudayaan antara keduanya sudah terjalin cukup lama. Dalam bidang sastra misalnya, khususnya yang berkaitan dengan masalah manuskrip, banyak manuskrip Jawa yang dialihaksarakan maupun dialihbahasakan ke dalam bahasa Sunda. Hal ini tidak dapat kita Namun, kita pun tak dapat menutup mata karena ada manuskrip Sunda yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, salah satu di antaranya yaitu WPW hasil gubahan R. Moehamada Moesa. WPW Sebagai Karya Sastra Pengertian Wawacan Beberapa hal yang perlu diuraikan dalam tulisan ini adalah pengertian, kedudukan, dan klasifikasi wawacan, sebagai persiapan ke arah pemahaman mengenai seluk-beluk Wawacan Panji Wulung. Wawacan sebagai salah satu bentuk karya sastra masuk ke dalam khazanah susastra Sunda diperkirakan pada pertengahan abad XVII, dibawa oleh ulama Islam melalui pesantren dan kaum bangsawan (Ajip Rosidi, dalam Sumarlina, 2018, 2019 & 2. Seperti diketahui, pada zaman pengaruh Mataram, banyak orang Sunda terutama dari golongan pemerintahan pulang pergi ke Mataram, yang secara tidak langsung membawa pengaruh terhadap khazanah susastra Sunda dengan masuknya jenis baru, di antaranya ialah Wawacan secara etimologis berasal dari kata dasar AobacaAo. Fonem /b/ dalam bahasa Sunda sering berubah menjadi fonem /w/ atau sebaliknya, seperti: baca menjadi waca. menjadi wening. Kedua fonem tersebut, apabila dilihat dari artikulator dan artikulasinya termasuk ke dalam jenis konsonan bilabial. Kata waca mengalami proses pengulangan dwipurwa, ditambah akhiran Aean . wipurwa berafik. menjadi wawacaan, kemudian mengalami persandian menjadi wawacan. Pengulangan tersebut berfungsi untuk menunjukkan intensitas kerja, yaitu berarti membaca secara terus menerus apabila dihubungkan dengan pola Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kebudayaan masyarakat Sunda ketika lahirnya wawacan, pada waktu itu dapat dikatakan masih sedikit masyarakat Sunda yang dapat membaca. Istilah wawacan digunakan sebagai salah satu jenis karya sastra Sunda, yaitu semacam hikayat yang ditulis dalam bentuk puisi tertentu yang dinamakan dangding (Ajip Rosidi, dalam Sumarlina, 1990 & 20122. , atau sebagaimana dikemukakan Yus Rusyana . alam Sumarlina, 1990 & 2. wawacan ialah cerita panjang yang digubah menurut aturan pupuh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wawacan adalah sosok cerita yang tertuang dalam bait-bait dengan segala ikatan dan aturannya yang disebut AudangdingAy serta dapat dialunkan dalam lagu. Wawacan Sunda walaupun secara historis berasal dari Sastra Jawa, namun keasingannya bagi orang Sunda tak terasa. Bukti bahwa wawacan cukup memasyarakat dan telah dianggap milik orang Sunda terlihat dari betapa suburnya pertumbuhan jenis . wawacan tersebut di perladangan susastra Sunda. Wawacan, baik yang anonim maupun yang jelas identitas pengarangnya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan susastra Sunda, diperkirakan sejak pertengahan abad ketujuh belas hingga masa jayanya sekitar abad ke-19. Moehamad Moesa dapat dikatakan sebagai pelopor atau inovator dalam khazanah susastra Sunda, karena dialah yang mula-mula mengarang karya sastra bercorak realistis. Dalam karangan-karangannya. Moehamad Moesa telah meninggalkan alam supernatural dan tidak percaya terhadap takhayul dan hal yang gaib yang pada periode itu masih mewarnai karya-karya sastra sezamannya. Melalui hasil karyanya. Moehamad Moesa mulai mengikis hal-hal yang dianggap gaib, ajaib, dan luar biasa, serta alam supernatural yang kurang dapat diterima oleh akal sehat. Beliau telah memperkenalkan dunia nyata, sebagaimana tampak dalam Wawacan Panji Wulung. Dalam WPW, semua kesaktian, kepandaian, kekebalan, serta kegagahan bukan diperoleh melalui latihan fisik . dan rohani secara rutin sejak kecil hingga dewasa. Pandangan ditampilkan Moehamad Moesa dalam karyakaryanya mendapat pengaruh besar dari Holle sebagai teman dekatnya. Hal lain yang tak kalah pentingnya dari pengaruh tersebut ialah bahwa Moehamad Moesa telah melepaskan bahasa Jawa sebagai bahasa tulis. Dapat dikatakan bahwa WPW bukan merupakan cerita Panji. Istilah Panji dalam WPW hanya penamaan, yang digunakan sebagai nama seorang tokoh utama (Panji Wulun. dalam cerita tersebut. Ciri- ciri cerita Panji dalam khazanah susastra Sunda hadir dalam Cerita Pantun. Kedudukan WPW Berdasarkan Zaman Sejarah sastra Sunda dalam periode zaman kemarin menghasilkan berbagai genre, di antaranya ialah guguritan, wawacan, sisindiraan, pupujian, novel, dongeng, dan cerita pendek. Sejak H. Muhammad Moesa, para pengarang Sunda pada zaman ini menyebutkan nama mereka dalam ciptaannya, seperti H. Hasan Mustapa. Kalipah Apo. Ardiwinata. Berbeda dengan sastra zaman buhun yang agung, kuat, dan bebas merdeka, maka sastra Sunda pada zaman kemarin sering memperlihatkan jiwa lemah zamannya yang pada umumnya dipengaruhi oleh feodalisme dan sikap merendah serta sedih yang merindukan zaman dahulu. Sastra Sunda pada zaman kemarin menyodorkan kejadian-kejadian dan tatanilai pada zamannya, juga dengan konflik-konfliknya, sesuai dengan perjalanan orang Sunda dalam sejarahnya waktu itu, dari periode pengaruh Islam dan Jawa ke periode pengaruh Barat. Dalam zaman kemarin banyak sekali sastra Sunda yang bernilai tinggi, antara lain Wawacan Mahabrata dan Wawacan Ramayana yang termasuk sastra dunia, sastra Wawacan Panji Wulung ciptaan Muhammad Moesa yang merupakan pelopor ke arah sastrasastra naturalis. Kedudukan wawacan dalam khazanah susastra Sunda berdasarkan uraian tersebut mulai berkembang sejak periode zaman kamari Aozaman kemarinAo. Dalam kenyataan itu. WPW kemungkinan besar termasuk ke dalam periode zaman kamari Aozaman kemarinAo. Hal ini diperkuat apabila dilihat dari segi isi tteks WPW yang banyak menggambarkan suasana kehidupan keraton walaupun ada sedikit perbedaan dengan wawacan-wawacan lain yang dianggap sezaman. Kedudukan WPW Berdasarkan Isi Wawacan ditinjau dari segi isinya dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu wawacan klasik, wawacan peralihan, dan wawacan Ciri, karakterisasi, dan struktur wawacan tiap zaman tidak akan diuraikan secara terinci dalam tulisan ini. Wawacan-wawacan: Rengganis. Damarwulan. Johar Manikem termasuk ke dalam wawacan klasik. Ciri-ciri mendasar dari wawacan-wawacan tersebut ialah masih bersifat kraton sentris dan supernaturalis, atau dengan kata lain isi ceritanya tak masuk akal atau dengan kata lain isi ceritanya tak masuk akal atau tidak rasional karena berada di luar dunia Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Sedangkan karakterisasi tokoh-tokohnya bersifat tipologis. Penulisan wawacan secara umum harus memenuhi syarat-syarat adanya unsur-unsur, seperti: manggalasastra . , isi, dan Namun, baik dilihat dari unsur manggalasastra, isi, mupun penutupnya tiap zaman mempunyai kekhasan masing-masing. Sebagai contoh, dalam wawacan klasik unsur manggalasastra pada umumnya menggunakan doxologi, yaitu kata-kata pujian yang ditujukan kepada Tuhan, dewa, dan sebagainya yang dianggap supernatural power. Bagian penutup biasanya mencantumkan nama pengarang atau penyalin wawacan tersebut, malahan ada juga yang mencantumkan hari, tanggal, bulan, tempat, dan tanggal penulisan. Syarat lain yang tidak bisa diabaikan dalam penulisan wawacan adalah adanya aturan Dalam uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa wawacan ialah cerita panjang yang digubah memakai aturan pupuh. Yang dimaksud dengan pupuh ialah aturan untuk membuat dangding . da 17 macam pupu. Dangding yaitu puisi yang digubah menurut aturan pupuh (M. Salmun, dalam Sumarlina. Pupuh memiliki ikatan berupa gurulagu . etentuan vokal pada akhir lari. , ikatan berupa guruwilangan . etentuan banyaknya sukukata pada tiap larik/padalisa. , ikatan berupa gurugatra . etentuan jumlah larik tiap larik/padalisa. , ikatan berupa gurugatra . etentuan jumlah larik tiap bait/pad. untuk satu jenis pupuh, dan ikatan berupa karakter pupuh. Gurugatra dan karakternya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Gambaran Cerita Berdasarkan Karakter Pupuh Dangdanggula Pupuh Dangdanggula muncul dalam teks WPW sebanyak lima kali, yaitu pada pupuh I. IX. XIV. XVi, dan XXVI . ihat tabel . Pupuh ini digunakan sebagai wadah pembuka cerita. Sudah merupakan suatu kebiasaan di kalangan para Dangdanggula, di samping pupuh Asmarandana dan Sinom, dipakai untuk memulai wawacannya. Hal ini dalam WPW secara eksplisit disebutkannya: AuDangdanggula nu awit digurit, nu dianggit carita baheula. Ay (Dangdanggula yang pertama-tama kubuat dangding, yang kugubah cerita lama. Pupuh Dangdanggulai dalam wawacan selain dipakai sebagai pembuka cerita juga digunakan untuk melukiskan kegembiraan yang amat sangat serta keagungan. Lukisan ini tercermin pada Dangdanggula pupuh IX, di mana tersimpul rasa kegembiraan yang meluapluap dari Panji Wulung beserta seisi istana kerajaan Cempa, karena Panji Wulung berhasil menyelamatkan putri serta diangkat menjadi putra mahkota, sedangkan Raja Cempa beserta rakyatnya bersuka cita karena putrinya selamat dari bahaya serta telah mendapatkan pasangan yang gagah, tampan, pemberani. Demikian pula pada Dangdanggula pupuh XVi pada dasarnya menyajikan penceritaan yang bersifat gembira, penuh harapan, dan bangga. Di dalamnya dipaparkan tentang kembalinya ibu kandung Panji Wulung yang bernama Nyi Mas Tunjungsari ke Kerajaan Sokadana serta dinobatkan menjadi permaisuri. Pengangkatan dan penobatan dianggap oleh penggubah sebagai suatu anugrah yang membanggakan serta sangat menggembirakan, karena itulah episode tersebut digubah dalam pupuh Dangdanggula. Lukisan lain yang bernadakan adanya kebanggaan dan kesukacitaan tampak dalam pupuh XIV ketika Panji Wulung bermaksud memberitahu tentang pengangkatan dan penobatan dirinya menjadi Pangeran Adipati di Kerajaan Cempa kepada ayah angkatnya, yaitu Patih Jayengpati, yang disampaikannya melalui surat, dan merasa bangga pula karena dapat mengirim bermacammacam harta benda miliknya. Pada umumnya pupuh Dangdanggula itu menggambarkan suasana gembira, suka cita, bahkan keagungan. Namun, tidak demikian suasana yang terjadi pada pupuh XXVI. Pupuh ini secara umum mengutarakan suasana sesudah perang melawan pemberontak dalam usaha makar yang dipimpin oleh Andakasura dan patih Cempa, meskipun usaha kudeta itu dapat Namun, paparan tersebut melukiskan suasana kedukacitaan di kalangan kerajaan Cempa. Kemungkinan besar bukanlah maksud penggubah untuk menempatkan AukedudukanAy ini di dalam pupuh Dangdanggula-nya melainkan lukisan ini dimaksudkan sebagai pengantar kepada pupuh berikutnya, yaitu Maskumambang, pupuh XXVII, yang berkarakter utama keprihatinan serta kedukaan yang amat Asmarandana Pupuh ini dalam WPW muncul sebanyak lima kali, yaitu pupuh II. VII. XII. XVII, dan XX. Asmarandana pada umumnya berkarakter sedih, prihatin namun prihatin karena gejolak asmara. Pupuh ini selain melukiskan percintaan dapat juga dipakai untuk memaparkan sesuatu yang mengandung nasihat, lukisan yang dapat dibawakan oleh Asmarandana ialah yang bersifat Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 curahan rasa . , romantis atau yang bersifat memuji kehidupan di desa. Gambaran sifat sedih yang dikandung dalam pupuh ini tampak pada pupuh II yang memaparkan kesedihan Tunjungsari karena diusir oleh Raja atas fitnahan Di dalam pupuh II ini pun diperlihatkan suasana pilemburan AopedesaanAo sebagaimana disebutkan J. Kartomi. Suasana tersebut digunakan pengarang untuk melukiskan kelahiran Panji Wulung serta sebagian kehidupan masa kecilnya. Karakter Asmarandana yang romantis belum tampak pada Asmarandana pupuh VII, sebab dalam pupuh tersebut hanya menceritakan perkelahian Panji Wulung dengan penculik putri Andayaningrat, yang akhirnya dimenangkan oleh Panji Wulung. Episode akhir pupuh ini baru mengarah kepada hal-hal yang bersifat sedikit romantis, karena menceritakan keberhasilan Panji Wulung menolong putri serta pertemuan antara keduanya. Karakter Asmarandana yang khas, yaitu romantis tampak dan terasa pada pupuh XII. perkawinan antara Raden Panji Wulung dengan Andayaningrat, putri raja negara Cempa yang berhasil ditolong oleh Panji Wulung. Pada akhir episode ini tampaknya Ajip Rosidi mengenai karakter pupuh ini dapat dibuktikan, karena dalam pupuh itu terdapat hal-hal yang bersifat Di dalamnya dilukiskan tentang nasihatnasihat yang harus dijalankan oleh seorang calon raja, yang akan memangku jabatan sebagai raja. Pupuh XVII, pada dasarnya memperlihatkan suasana romantis bercampur suka cita karena dalam episode itu dilukiskan keadaan di kerajaan Cempa saat penobatan Andayaningrat sebagai pewaris tahta kerajaan yang kemudian diserahkan kembali kepada Panji Wulung yang sudah menjadi suaminya. Pesta pora yang diselenggarakan untuk menyambut penobatan Raden Panji Wulung di negara Cempa tersebut menandakan suasana yang suka cita bagi seluruh abdi negara beserta rakyatnya. Pupuh XX pada dasarnya mengandung suasana keprihatinan dan kekhawatiran seluruh masyarakat Kerajaan Cempa karena untuk sementara mereka akan ditinggalkan oleh rajanya, yang bermaksud untuk mengunjungi Kerajaan Sokadana, yang tiada lain rajanya itu adalah ayah kandung Panji Wulung. Peristiwa lain yang dilukiskan dalam episode itu ialah penolakan Panji Wulung untuk dijadikan raja di Kerajaan Sokadana, dengan salah satu alasan karena dia telah dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Cempa. Untuk selanjutnya, tahta kerajaan Sokadana tersebut diberikan kepada adik angkatnya, yaitu Raden Panji Pamekas. Sinom Pupuh Sinom sama halnya dengan pupuh Dangdanggula dan Asmarandana, muncul dalam WPW sebanyak lima kali, yaitu pada pupuh i. Vi. Xi. XXI, dan XXVi. Pada umumnya, pupuh ini digunakan untuk melukiskan cerita yang panjang, lukisan didaktis, pernyataan yang sifatnya serius, suasana yang keras, hebat, dan tidak kurang pula lukisan kegembiraan. Dengan demikian, pupuh Sinom dapat menampung pelbagai macam suasana atau memiliki daya lukis suasana yang luas dan bervariasi. Pupuh i dan pupuh Xi pada dasarnya menceritaka hal-hal yang sifatnya didaktis. Lukisan ini tampak saat Panji Wulung dinasihati oleh ayah angkatnya yang bernama Patih Lembu Jayengpati . dan ketika Panji Wulung menasihati Patih Giling Wesi (X. Sinom pupuh Vi masih terasa adanya suasana didaktis bercampur kekhawatiran. Setelah Panji Lembu Wulung berhasil menolong putri dari negara Cempa. Panji Wulung mengembalikan putri ke negaranya. Namun. Panji Wulung merasa was-was takut tidak diterima oleh raja meskipun Andayaningrat telah Selain itu, tampak pula suasana kegembiraan dan suka cita di negara Cempa yang sedang menyambut putri raja beserta calon Lukisan suasana gembira bercampur didaktis tampak pada pupuh XXI, saat penobatan Raden Panji Pamekas saudara angkat Panji Wulung sebagai pengganti Panji Wulung memerintah Kerajaan Sokadana. Dalam pupuh itu juga menampung deskripsi tentang nasihat raja sepuh Sokadana kepada Panji Pamekas. Sinom pupuh XXVi dalam WPW digunakan sebagai penutup cerita. Dalam pupuh tersebut dilukiskan keadaan Andakasura ketika mendapat hukuman dari raja Cempa (Panji Wulun. atas usaha makar yang dilakukannya beserta patih Cempa serta para pengikutnya. Pada dasarnya pupuh ini melukiskan suasana duka atau keprihatinan, di samping adanya unsur didaktis yang terdapat di akhir cerita. Kinanti Pupuh Kinanti merupakan salah satu pupuh yang cukup dikenal di daerah Jawa Barat, di samping pupuh Dangdanggula. Sinom dan Asmarandana. Kepopulerannya ini kemungkinan disebabkan keteraturan bentuknya: jumlah silaba yang sama pada setiap padalisan, yaitu depalan silaba, juga perselangan bunyi akhir padalisan . uru lag. yang teratur antara vokal i dan a, setelah bunyi akhir padalisan yang pertama u. Pupuh Kinanti, menurut Margaret J. Kartomi cocok untuk melukiskan cinta. Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kebahagian, keramahtamahan, ucapan selamat datang, keindahan alam, nasihat moral dan juga biasa dipakai untuk pembuka cerita. Demikian pula pendapat Harjawiraga, bahwa selain pemaparan yang berisikan nasihat, pupu Kinanti pun bisa digunakan untuk pembuka cerita. Begitu banyaknya macam dan suasana lukisan yang bisa ditampung oleh Kinanti, sehingga keprihatinan terutama dalam asmara, pengharapan, dan penantian pun dapat ditampungnya. Teks WPW memuat pupuh Kinanti sebanyak empat kali, sebagaimana tampak pada tabel 7, yaitu pupuh V. XI. XVI, dan XXi. Lukisan yang tampak pada pupuh V pada dasarnya menampilkan suasana keindahan alam, saat Panji Wulung mengadakan perjalanan beserta pengiring setianya dalam rangka mencari ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup. Dalam pupuh ini ada kekurangserasian antara bentuk pupuh dengan karakternya, karena selain menampilkan suasana keindahan alam juga dilukiskan adanya suasana keras dan hebat yang terjadi ketika berlangsungnya perkelahian antara Panji Wulung dengan perampok yang menyatroni kediamannya di tengah malam buta, walaupun akhirnya perkelahian tersebut dimenangkan oleh Panji Wulung. Kinanti, pupuh XI berisikan lukisan yang menggambarkan penyerahan kekuasaan kerajaan Gilingwesi kepada Panji Wulung karena rajanya tewas di medan perang. Lukisan suasana yang ditampilkannya cenderung mengarah kepada sehubungan dengan diangkat dan dinobatkannya Ki Sudarma menjadi pemangku tahta kerajaan Gilingwesi. Pada dasarnya, pupuh XVI pun penyerahan kekuasaan dari raja Cempa kepada putrinya, bernama Andayaningrat yang akhirnya kekuasaannya itu diserahkan kepada suaminya, yakni Panji Wulung. Episode ini diakhiri dengan suasana romantis. Lukisan suasana gembira tampak pula dalam Kinanti, pupuh XXi yang diselingi unsur didaktis. Hal ini tampak ketika Panji Pamekas telah dinobatkan menjadi raja Sokadana dan mendapat nasihat dari Panji Wulung. Kinanti, pupuh XXi ini diakhiri dengan suasana peralihan dari gembira dan haru kepada suasana pedas dan keras karena pupuh berikutnya berwadahkan Pangkur, yang memiliki karakter keras dan pedas, di samping nafsu dan amarah. Pangkur Pupuh Pangkur berkarakter keras dan Di dalam Pangkur, terkandung sifat permulaan atau persiapan dari sesuatu peristiwa yang nadanya keras, pedas, dan hebat. Jadi, merupakan lukisan tentang gejala-gejalanya saja, misalnya kesiapsiagaan, keberangkatan pasukan menuju medan laga. Selain itu, pupuh Pangkur biasa dipakai pula untuk mengisahkan perjalanan atau pengembaraan, dan menurut Satjadibrata Aupengembaraan yang terdorong nafsuAy, kematian atau maut, juga teka-teki, demikian menurut Margaret . alam Emuch Hermansoemantri, 1979:. , biasa dinyatakan dalam pupuh Pangkur, di samping Durma. Pupuh ini muncul dalam WPW sebanyak dua kali, yaitu pupuh IV dan XXIV. Pupuh IV digunakan oleh penggubah untuk mengisahkan perjalanan atau pengembaraan Panji Wulung yang disertai Jangga-Janggali. Ketika di perjalanan, mereka bertemu dengan perampok, maka perkelahian pun tak terhindarkan. Perkelahian itu dimenangkan oleh Panji Wulung, yang akhirnya semua perampok tersebut, yang diketuai Jayapati takluk dan setia menemani pengembaraan Panji Wulung, sedangkan Pangkur pupuh XXIV mengandung lukisan tentang persiapan usaha makar yang dilakukan Andaka Sura, dengan jjalan mempengaruhi patih beserta para mantri kerajaan Cempa di saat raja mereka sedang mengadakan kunjungan ke kerajaan lain. Dalam pupuh ini sudah tampak gejala-gejala ke arah terjadinya perang besar. Durma Pupuh Durma muncul dua kali dalam WPW. Pupuh ini pada dasarnya berkarakter sama dengan Pangkur, yaitu pedas, keras, dan hebat. Kendatipun dibawakannya terasa ada perbedaannya. Durma dipakai untuk melukiskan berlangsungnya peristiwa atau adegan yang keras, tajam, dan hebat, misalnya peristiwa pertengkaran, perkelahian, peperangan, atau peristiwaperistiwa yang dibarengi kemarahan yang hebat. Durma, dalam WPW muncul pada pupuh X dan XXV. Suasana khas Durma yang pedas, keras, dan hebat tampak pada keduanya. Pupuh X melukiskan suasana peperangan antara kerajaan Cempa yang dipimpin oleh Panji Wulung dengan kerajaan Gilingwesi yang juga dipimpin oleh rajanya. Di dalam pertempuran tersebut dimenangkan oleh kerajaan Cempa. Sedangkan Durma, puph XXV memperlihatkan suasana peperangan antara pemberontak dalam rangka usaha makar, yang dipimpin oleh Andaka Sura dengan pihak kerajaan Cempa itu sendiri, yang dipimpin oleh Panji Wulung yang dibantu oleh Raja Sudarma dari Gilingwesi. Usaha makar tersebut akhirnya gagal karena Andaka Sura sendiri akhirnya melarikan diri. Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Maskumambang Maskumambang sebanyak dua kali, yaitu pupuh XXII dan pupuh XXVII. Pada umumnya, pupuh ini berkarakter utama prihatin dan pilu. Karena itu, biasanya digunakan untuk melukiskan kedukaan yang sangat mendalam, keprihatinan, dan kerinduan. Lukisan yang mengandung kepiluan dan keprihatinan yang sangat mendalam tidak tampak pada pupuh XXII, karena di dalam pupuh XXII tersebut hanya melukiskan suasana serius. Pupuh XXII memperlihatkan keadaan di Kerajaan Sokadana saat sesudah penobatan Panji Pamekas yang dinobatkan menjadi pengganti Panji Wulung. Panji Pamekas mendapat berbagai wejangan yang sangat berharga dari Panji Wulung mengenai cara-cara mengatur negara beserta segenap rakyat Sokadana. Suasana prihatin, duka, serta kepiluan yang mendalam sebagai karakter khas Maskumambang, baru terlihat pada pupuh XXVII, ketika Andaka Sura beserta Patih Cempa melarikan diri ke hutan belantara dan akhirnya ditemukan oleh paraa prajurit yang sedang Keduanya kemudian diborgol dan dibawa ke keraton setelah diarak berkeliling. situ diperlihatkan suasana duka, pilu, dan prihatin Andaka Sura serta patihnya. Magatru Pupuh Magatru hanya muncul satu kali dalam WPW, yaitu pada pupuh XV. Watak dan suasana pupuh Magatru mempunyai kesamaan secara relatif dengan pupuh Maskumambang. Tetapi walaupun demikian, ada juga sedikit perbedaan antara keduanya, yaitu agak meluasnya variasi yang dapat dinyatakan dalam pupuh Magatru. Selain itu. Magatru biasa dipakai untuk melukiskan sesuatu yang mengandung keprihatinan terutama penyesalan dan ratapan, karena watak pupuhnya: prihatin, sedih, sesal. Lukisan yang tampak pada pupuh XV mengandung suasana haru, sedih, dan serius. Suasana haru di sini, bukan sedih karena mengalami kesengsaraan, namun terharu karena mendapat kegembiraan. Dalam pupuh tersebut tampak ayah dan ibu angkat serta ibu kandung Panji Wulung terharu membaca surat dari Panji Wulung yang mengabarkan bahwa dirinya sudah menjadi prabu anom di kerajaan Cempa. samping itu, tampak pula suasana serius tatkala Panji Wulung mendengarkan wejangan dari raja sepuh kerajaan Cempa. Mijil Pupuh Mijil digunakan penggubah WPW untuk menampung suasana susah, sedih, celaka, sepi, dan sunyi yang muncul pada pupuh VI. Lukisan suasana tersebut di atas diperlihatkan dan dialami plleh para perampok yang menyantroni tempat tinggal Panji Wulung. Namun, semua perampok itu dapat dikalahkann oleh Panji Wulung. Dengan demikian, suasana yang tampak adalah suasana sedih, susah, serta Suasana sunyi dan sepi juga diperlihatkan ketika kejadian tersebut berlangsung pada malam hari, tatkala semua penghuni rumah terlelap tidur. Selain itu, suasana sunyi dan sepi pun tampak dalam kehidupan Panji Wulung selanjutnya selama mengembara dan menetap untuk sementara di rumah seorang juru tani. Pucung Pucung muncul dalam WPW hanya satu kali, yaitu pupuh XIX. Watak dan suasana yang dapat dibawakan oleh pupuh Pucung adalah nasihat, kaget, sadar dan himbauan. Lukisan suasana yang demikian tampak pada pupuh XIX tersebut, ketika Panji Wulung mendapat berbagai nasihat dari ayah kandungnya, yaitu Prabu Dewakeswari dari kerajaan Sokadana. Selain itu, suasana sadar dan himbauan pun diperlihatkan tatkala Panji Wulung sadar, bahwa dirinya sudah dinobatkan menjadi Raja Cempa. Dengan demikian. Panji Wulung tidak dapat mengganti Sebagai gantinya, dia menghimbau ayahnya untuk mengangkat adik angkatnya, yakni Panji Pamekas sebagai pengganti dirinya. Dari seluruh uraian yang berkaitan dengan karakter pupuh ini, secara umum dapat dikatakan bahwa penggubah WPW pada hakekatnya memahami karakter pupuh atau suasana-suasana yang biasa dibawakan oleh setiap pupuh. Hal ini karena adanya kesesuaian antara suasana lukisan yang ditampilkannya dengan karakter pupuh-nya. Namun demikian, ada juga hal-hal agak menyimpang apabila melihat suasana lukisan yang tergubah pada pada-pada terakhir sesuatu pupuh yang Karena suasana yang hadir pada pada-pada terakhir itu lebih mendekati karakter pupuh berikutnya. Hal ini mungkin pada-pada terakhir tersebut dipakai penggubah sebagai tumpuan atau pengarahan terhadap pupuh SIMPULAN Teks manuskrip Wawacan Panji Wulung (WPW) yang berbahasa Sunda ini merupakan Manuskrip Wawacan Panji Wulung Kritik Teks Dan Kajian Hermeneutik Karya Sastra (Elis Suryani Nani Sumarlina. Rangga Saptya Mohamad Permana. Undang Ahmad Dars. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 salah satu karya sastra yang digubah oleh Moehamad Moesa. Teks naskah WPW ini telah mengalami beberapa kali cetak ulang, antara lain pada tahun 1871, tahun 1876, tahun 1891, tahun 1908, tahun 1913, dan tahun 1922, baik dalam huruf Cacarakan maupun huruf Latin. Dalam teks-teks manuskrip WPW ternyata ditemukan beberapa perbedaan walaupun tidak terlalu mencolok, di antaranya dalam hal penomoran pada dan corak bahasa Sundanya, di samping kondisi fisik naskah yang rusak sehingga menimbulkan kecacatan beberapa bagian teksnya. Ditemukannya dua buah teks naskah WPW dalam bentuk tulisan tangan . yang menggunakan huruf Latin dan Cacarakan . askah A dan naskah B), walaupun teksnya tidak utuh, ternyata dapat memberi kesaksian yang mampu mengatasi kecacatan teks-teks naskah WPW cetakan itu. Di antara kedua teks naskah . , naskah (B) memuat informasi waktu penulisannya, yaitu tanggal 17 April 1862. WPW ini termasuk karya sastra yang memiliki nilai tinggi dibandingkan dengan karyakarya sastra sezamannya, bahkan dari segi isinya. WPW ini telah mampu menjembatani khazanah susastra Sunda klasik ke alam suasana Sunda yang modern. dari suasana dunia supernaturalis ke dunia realistis, walaupun masih bertahan pada lingkungan keraton. Hal ini merupakan pantulan dari gejala dan suasana alam . menjelang terciptanya karya ini. Berkat pengalaman dan pendidikan serta didukung oleh hoofd-panghoeloe. Moehamad Moesa menuangkan ide dan gagasannya yang luas dan Ia tidak terbelenggu oleh pandanganpandangan yang bersifat naturalistis, bahkan ia sangat realistik melihat dunia dengan rasionya, bukan melalui angan-angan yang berada di luar dunia nyata. Kesaktian-kesaktian mistik yang bercorak takhayul disingkirkannya dengan menampilkan tokoh-tokoh yang gagah perkasa berkat gemblengan fisik secara teratur. Dengan dimikian, ia telah mampu menempatkan dirinya sebagai seorang pengarang yang berhasil. DAFTAR PUSTAKA