Pelibatan Karang Taruna dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata Kabupaten Gresik Heryanto Susilo , Widodo Widodo 1* Mustakim Mustakim 1 , Sjafiatul Mardliyah , Widya Nusantara 1 1 1 Department of Nonformal Education; Faculty of Education, State University of Surabaya, Jawa Timur, Indonesia * Korespondensi: heryantosusilo@unesa.ac.id Tel: +62 812-3567-0163 1 Diterima: 13 Desember 2023; Disetujui: 27 Juli 2025; Diterbitkan: 31 Agustus 2025 Abstrak: Desa wisata menjadi orientasi masyarakat untuk mengangkat kearifan lokal. Tujuan penelitian ini mengkaji strategi pengembangan potensi lokal desa, mengkaji peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa, dan memaparkan program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian di Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Penelitian dilaksanakan Mei 2023 - Januari 2024. Informan penelitian berjumlah 10 orang terdiri dari satu kepala desa, satu kepala dusun, dua tokoh masyarakat, satu ketua karang taruna, tiga anggota karang taruna, dan dua warga desa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Analisis data menggunakan tiga teknik yakni: kondensasi data, penyajian data, dan kesimpulan. Temuan penelitian menggambarkan strategi pengembangan potensi lokal desa sebagai desa wisata, terintegrasi sebagai pusat ekonomi kreatif, optimalisasi potensi lokal desa sebagai inovasi desa mandiri, dan waduk Hulaan sebagai ekowisata (ecotourism). Peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa melalui karang taruna sebagai wadah generasi muda yang berorientasi pada pengembangan usaha masyarakat, ekonomi kreatif, kebudayaan, agama, penggerak masyarakat dan olahraga serta kesenian daerah. Program pengembangan desa melalui pemberdayaan masyarakat, sentral wisata kuliner, dan pengembangan kearifan lokal desa sebagai local wisdom, local knowledge, dan local genius. Kata kunci: Pemberdayaan masyarakat, potensi lokal, kearifan lokal, desa wisata, inovasi desa, dan ekowisata Abstract: Tourism villages have become a focus for communities to promote local wisdom. The objectives of this study are to examine strategies for developing the potential of local villages, to assess the role of youth organisations in enhancing the potential of local villages, and to present a programme for developing tourism villages based on local wisdom. The researcher used a qualitative research method with a case study approach. The research location was Hulaan Village, Menganti Subdistrict, Gresik Regency. The research was conducted from May 2023 to January 2024. There were 10 informants, consisting of one village head, one hamlet head, two community leaders, one youth organisation leader, three youth organisation members, and two villagers. Data collection techniques included participant observation, in-depth interviews, and document analysis. Data analysis employed three techniques: data condensation, data presentation, and conclusions. The research findings describe strategies for developing the village's local potential as a tourist village, integrating it as a centre for creative economy, optimising the village's local potential as an innovation for self-reliant villages, and Hulaan Reservoir as an ecotourism site. The role of the youth organisation in enhancing the village's local potential through the youth organisation as a platform for the younger generation focused on community business development, creative economy, culture, religion, community mobilisation, and local sports and arts. Village development programmes through community empowerment, a culinary tourism hub, and the development of the village's local wisdom, local knowledge, and local genius. Keywords: Community empowerment, local potential, local wisdom, tourist villages, village innovation and 1. Pendahuluan Masalah sosial yang paling sering dijumpai di desa wisata tampak dari minimnya infrastruktur. Adapun infrastruktur pendukung seperti akses jalan yang belum layak, penerangan yang minim, sanitasi yang buruk, transportasi penunjang yang minim, hingga sumber air bersih yang tidak memadai. Selain kendala infrastruktur, minimnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan, pengelolaan desa yang belum memiliki kecakapan untuk pengembangan desa wisata, dan https://ejournal.kemensos.go.id/index.php/jsk/article/view/3338 DOI : 10.33007/ska.v14i3.3338 209 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 belum tampak inovasi desa berbasis kearifan lokal untuk pengembangan desa wisata. Di sisi lain, pemerintah daerah lebih banyak melibatkan pihak luar untuk mengembangkan dewa wisata. Kehadiran desa wisata yang seharusnya dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya lokal mulai terkikis dengan hadirnya pihak luar. Budaya lokal masyarakat bagian dari kearifan lokal untuk menjadi diri sendiri (learning to be) dengan lingkungan sekitar (Karwati & Mustakim, 2018). Kearifan lokal desa menjadi daya tarik pengembangan pariwisata berkelanjutan yang tidak sejalan dengan masyarakat lokal menjadi awal pemicu kerusakan alam. Kearifan lokal merupakan perwujudan dari berbagai perilaku masyarakat yang berdampingan dengan alam, lingkungan, dan mampu untuk tidak merusak alam (Sufia & Amirudin, 2016). Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan desa wisata menjadi sumber pendapatan masyarakat, pelestarian lingkungan dan menjaga kebudayaan yang berkembang di masyarakat, serta menjadi peluang terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Peran serta karang taruna (Kartar) di masyarakat memiliki kontribusi positif dalam pengembangan desa wisata yang mandiri. Kartar sebagai garda generasi muda, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sebagai wadah ibu-ibu dalam menyiapkan inovasi produk unggulan desa, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) sebagai wadah petani dalam mengembangkan hasil pertanian. Meskipun berbagai unsur yang terlibat dalam pemberdayaan desa wisata, namun yang memiliki peran besar adalah generasi muda yakni para pengurus kartar. Generasi muda di desa Hulaan menjadi wadah perubahan untuk membangun desa wisata. Adanya kartar menjadi salah satu modal utama dalam pembentukan, dan pertumbuhan, serta perkembangan suatu desa terutama bagi para generasi muda (Cinthya et al., 2020). Sebagai organisasi kepemudaan hadirnya karang taruna sebagai wadah pengembangan potensi, dan peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat. Peneliti memilih kartar dalam pelibatan pemberdayaan masyarakat dikarenakan beberapa hal yakni: (1) kartar beranggotakan generasi muda yang tanggap dengan teknologi dan informasi; (2) inovasi desa muncul dari generasi muda, sehingga Desa Hulaan memiliki destinasi wisata baru sebagai cikal bakal desa wisata berbasis kearifan lokal; dan (3) pengelolaan desa wisata membutuhkan tenaga ekstra dan kolaborasi pemikiran dari generasi tua dan generasi muda yang energik dan memiliki ide-ide yang inovatif. Penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan tema penelitian ini yakni: (1) penelitian Muharam et al. (2024) tentang, peran karang taruna dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dalam lingkup desa, dimana karang taruna sebagai motor penggerak positif yang fokus pada aktivitas kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, dan keolahragaan; (2) penelitian Sugistin & Pujianto (2024) tentang partisipasi organisasi karang taruna di dalam lingkungan masyarakat, bahwa karang taruna memiliki fungsi sebagai agen penyadaran generasi muda terhadap lingkungan, sebagai wadah partisipasi pemuda dalam pembangunan, sebagai sarana pemberdayaan pemuda, dan sebagai pelopor setiap kegiatan di desa; (3) penelitian Nugroho et al. (2023) tentang pariwisata berbasis komunitas: memperkuat pemahaman dan bantuan dalam membentuk kelompok sadar pariwisata, memberikan gambaran bahwa lembaga kelompok sadar wisata (pokdarwis). Berdasarkan penelitian terdahulu yang menjadi pembeda dengan penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. 210 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 Tabel 1. Perbedaan Penelitian Terdahulu No 1 Nama Peneliti Muharam et al. (2024) Hasil Penelitian Terdahulu • Peran karang taruna dalam pengembangan dan pemberdayaan desa • Karang taruna sebagai motor penggerak yang positif, aktivitas kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, dan keolahragaan 2 Sugistin & • Partisipasi organisasi Pujianto (2024) karang taruna dalam lingkungan masyarakat • Karang taruna sebagai agen penyadaran generasi muda • Karang taruna sebagai wadah partisipasi pemuda dalam pembangunan • Karang taruna sebagai pemberdayaan pemuda • Karang taruna sebagai pelopor kegiatan desa 3 Nugroho et al. • Pariwisata berbasis (2023) komunitas • Karang taruna sebagai lembaga kelompok sadar wisata (pokdarwis) Sumber: Studi Pustaka Peneliti, 2023-2024. Hasil Penelitian Ini • Strategi pengembangan potensi desa sebagai desa wisata yakni: integrasi desa wisata sebagai pusat ekonomi kreatif, optimalisasi potensi lokal desa sebagai inovasi desa mandiri, dan waduk Hulaan sebagai ekowisata (ecotourism). • Peran karang taruna sebagai wadah generasi muda yang berorientasi pada pengembangan usaha masyarakat, ekonomi kreatif, kebudayaan, agama, sebagai penggerak masyarakat, dan pengembangan olahraga serta kesenian daerah. • Pengembangan desa sebagai pemberdayaan masyarakat, sentral wisata kuliner desa, dan pengembangan kearifan lokal melalui local wisdom, local knowledge, dan local genius. Berdasarkan tabel 1 tentang perbedaan penelitian terdahulu memberikan penjelasan bahwa perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini yang menjadi novelty yakni: (1) potensi desa menjadi desa wisata sekaligus sebagai pusat ekonomi kreatif masyarakat dan ecotourism; (2) karang taruna sebagai wadah generasi muda untuk mengembangkan ekonomi kreatif desa, kebudayaan lokal, nilai-nilai agama, kesenian daerah, dan pengembangan bakat olahraga generasi muda; (3) desa sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, sentral wisata kuliner desa, pengembangan pengetahuan lokal, kearifan lokal, dan kejeniusan lokal desa dalam membangun desa berbasis ecotourism. Konsep pemberdayaan memiliki makna upaya penyadaran kepada seseorang atau kelompok untuk memahami dan mengontrol dimensi-dimensi kekuatan yang dimiliki (religi, fisik, psikis, sosial, ekonomi, politik dan budaya) untuk mencapai kedudukan optimal dalam kehidupan (Susilo, 2017). Keterlibatan karang taruna sebagai pemuda desa merupakan generasi masa depan dan agen of change di masyarakat. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2016 tentang desa, secara umum menjelaskan pengembangan desa wisata tersebut secara tidak langsung akan melibatkan seluruh masyarakat desa, dan akan difasilitasi oleh pemerintah desa melalui pemberdayaan masyarakat untuk pembangunan desa (Widjajanti, 2011). Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya. Desa wisata memiliki potensi keunikan dan daya tarik wisata yang khas, serta menawarkan keaslian desa dari segi adat istiadat, budaya, keseharian, sosial budaya, arsitektur tradisional, dan tata ruang desa yang saling Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 211 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 integrasi menjadi pariwisata. Pengaruh globalisasi berimplikasi pada kehidupan masyarakat, berbagai masalah sosial, politik, budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat (Sugiharto & Kusumandari, 2016). Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia menjadi pusat perekonomian desa. Sebagai pusat perekonomian Desa Hulaan memiliki dua kearifan lokal yang menjadi sektor ekonomi masyarakat. Pertama, sektor industri rumahan tauge (cambah) dan kedua sebagai pusat produksi lontong. Melalui kearifan lokal industri rumahan tauge dan lontong Desa Hulaan menjadi desa wisata ekonomi kreatif. Selain itu, desa ini juga memiliki komunitas karang taruna yang mampu berinovasi untuk membangkitkan ekonomi masyarakat melalui desa wisata menuju kemandirian pangan. Berdasarkan kearifan lokal desa yang menjadi sektor utama perekonomian masyarakat maka peneliti merumuskan tujuan penelitian ini yakni: (1) strategi pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata; (2) peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa; dan (3) program-program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. 2. Metode Peneliti dalam mengumpulkan data lapangan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus untuk menggali secara mendalam isu-isu potensi kearifan lokal desa, peran serta karang taruna dalam mendukung potensi lokal, dan program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Penelitian ini berlokasi di Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Alasan dipilih lokasi penelitian ini karena masyarakat Desa Hulaan sedang menggalakan penciptaan desa wisata berbasis kearifan lokal. Waktu penelitian selama delapan bulan mulai dengan bulan Mei 2023 sampai dengan bulan Januari 2024. Informan penelitian dipilih menggunakan purposive sampling dimana peneliti menentukan informan kunci yang memiliki karakteristik yang sesuai dengan topik dan isu penelitian. Adapun informan kunci yang menjadi subjek penelitian berjumlah 10 orang, dengan rincian pada Tabel 2. Tabel 2. Data Informan Penelitian No Nama Usia Jenis Kelamin Kepala desa Keterangan 1 R1 56 Pria 2 R2 43 Pria Kepala dusun 3 R3 58 Pria Tokoh masyarakat 4 R4 60 Pria Tokoh masyarakat 5 6 7 8 9 R5 R6 R7 R8 R9 31 20 22 23 40 Pria Ketua karang taruna Pria Wanita Wanita Pria Anggota karang taruna Anggota karang taruna Anggota karang taruna Warga desa 10 R10 42 Pria Warga desa Sumber: Dokumen Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, 2024. Teknik pengumpulan data lapangan menggunakan jenis data primer dari hasil wawancara lapangan, dan observasi partisipan, serta data sekunder dari dokumen desa, program karang taruna, dan hasil dokumentasi kegiatan. Peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data lapangan mulai dari: (1) observasi partisipan, yakni peneliti menerjunkan diri di lokasi penelitian untuk mengamati kegiatan warga desa, program karang taruna, dan program desa wisata berbasis kearifan lokal; (2) wawancara mendalam, yakni peneliti menggali informasi dengan mewawancarai informan kunci 212 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 tentang strategi pengembangan potensi kearifan lokal, peran karang taruna dalam meningkatkan potensi desa, dan program-program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal yang dicanangkan oleh desa; dan (3) studi dokumen, yakni dokumen pendukung yang berkaitan dengan potensi kearifan lokal desa, karang taruna desa sebagai pelaksana program, dan dokumen pengembangan program dari stakeholders desa. Analisis data lapangan peneliti menggunakan tiga tahapan analisis data yakni: kondensasi data, penyajian data, dan kesimpulan (Miles et al., 2019). Pada tahap kondensasi data peneliti melakukan proses pemilihan data lapangan, hasil wawancara, dan dokumen yang mendukung penelitian. Berbagai data yang telah disajikan dalam bentuk sketsa, synopsis, matrik, dan bentuk lain. Kemudian hasil dari penyajian data disimpulkan dengan mencari pola-pola, konfigurasi, dan hubungan dari strategi pengembangan potensi kearifan lokal Desa Hulaan, peran karang taruna, dan pengembangan program desa wisata berbasis kearifan lokal. Peneliti menggunakan triangulasi teknik, triangulasi sumber, dan triangulasi waktu untuk menentukan kriteria keabsahan data. 3. Hasil Penelitian ini menyajikan tiga pokok bahasan yakni: (1) strategi pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata; (2) peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa; dan (3) program-program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. 3.1. Strategi pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia menjadi desa yang mandiri secara ekonomi karena mayoritas masyarakat bekerja dalam sektor informal. Berbagai lapangan pekerjaan informal yang menjadi penopang ekonomi masyarakat Desa Hulaan, mulai dari industri rumahan tauge hingga produksi lontong dalam skala besar. Potensi industri tauge dan lontong tidak dapat terpisahkan dari sumber mata air yang melimpah dan memiliki kandungan air yang sesuai dengan kebutuhan produksi tauge dan lontong. Potensi ini yang menjadi daya tarik untuk dikembangkan menjadi desa wisata berbasis kearifan lokal. Kondisi ini diungkapkan oleh Kepala Desa Hulaan bahwa: Masyarakat yang menekuni usaha tauge dan lontong + 50 keluarga dengan kisaran produksi 5-kilogram hingga 300-kilogram tauge, rata-rata 1-kilogram kacang hijau dapat menghasilkan 5–7-kilogram tauge, dan kebutuhan kacang hijau untuk produksi berkisar 16 ton per hari atau setara dengan 480 ton per bulan, sedangkan untuk lontong per hari setiap produsen memproduksi 40 kilogram hingga 150 kilogram lontong, untuk wilayah pemasaran tauge dan lontong sekitar Gresik, Kota Surabaya, Sidoarjo, dan Mojokerto (Interview.R1.2023). Kearifan lokal tauge dan lontong merupakan ekonomi kreatif masyarakat yang sudah berkembang dari generasi ke generasi. Maka dari itu, strategi yang digunakan dalam pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata melalui beberapa tahapan yakni: 1) integrasi desa wisata sebagai pusat ekonomi kreatif; 2) potensi kearifan lokal desa sebagai inovasi desa mandiri; dan 3) waduk Hulaan sebagai ekowisata atau ecotourism (wisata berbasis alam). Tiga strategi ini yang digalakkan oleh pemerintah Desa Hulaan dan komunitas karang taruna. Tahapan strategi pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata secara terperinci sebagai berikut: Pertama, Integrasi desa wisata sebagai pusat ekonomi kreatif, Desa Hulaan Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia terdiri dari tiga dusun mulai dari Dusun Sidomulyo, Dusun Tlogobedah, dan Dusun Hulaan. Sebagai desa wisata dan pusat ekonomi kreatif Desa Hulaan memiliki industri rumahan tauge (cambah), dan produsen lontong yang berpusat di Dusun Hulaan. Kondisi ini diungkapkan oleh kepala Dusun Hulaan. Industri rumahan tauge (cambah) dan produksi lontong merupakan usaha turun-temurun dari generasi ke generasi. Usaha ini menjadi sumber mata pencaharian masyarakat, dan rata-rata anak muda lulus SMA (sekolah menengah atas) jarang mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Generasi muda Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 213 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 di Desa Hulaan lebih memilih untuk membantu usaha orang tuanya, dengan belajar membuat tauge, dan produksi lontong sendiri (interview. R2.2023). Wirausaha industri tauge dan produksi lontong dalam skala besar menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Selain itu, unit usaha ini juga membutuhkan tenaga kerja yang ekstra dan banyak menyerap tenaga kerja produktif. Sebagai pusat ekonomi kreatif Desa Hulaan mengintegrasikan desa wisata dengan unit usaha industri rumahan. Integrasi lain dalam pengemasan desa wisata melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Karang Taruna Desa Hulaan dalam menyambut hari besar agama, sedekah bumi, pameran produk unggulan di ruang terbuka hijau area Waduk Hulaan. Kedua, potensi kearifan lokal desa sebagai inovasi desa mandiri tampak dari motivasi masyarakat dalam mewujudkan desa wisata berbasis ekonomi, mobilisasi sumber daya manusia melalui wadah karang taruna desa, memunculkan inovasi produk unggulan yang berbeda dengan daerah lain, dan pengembangan jejaring pemasaran produk unggulan. Kondisi ini diungkapkan oleh ketua karang taruna Desa Hulaan. Kami sebagai pengurus dan pelaksana program karang taruna Desa Hulaan menjadi jembatan masingmasing dusun di Desa Hulaan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat bahwa dengan adanya desa wisata dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, menciptakan peluang usaha baru, memberikan keterampilan baru untuk masyarakat dalam mengelola potensi lokal tauge dan lontong agar menjadi makanan yang lebih bervariatif, dan tujuan utamanya dapat menarik sebanyak-banyaknya wisatawan lokal untuk dapat menikmati keindahan alam, danau, dan fasilitas yang telah disediakan oleh Desa Hulaan (interview. R5.2023). Sebagai perwujudan inovasi desa mandiri berbagai produk unggulan desa di inovasi untuk menjadi produk baru yang memiliki nilai, daya jual, dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Desa Hulaan juga melakukan pengembangan jejaring pemasaran melalui website, instagram karang taruna, tiktok, facebook, whatsapp, dan media sosial lain yang dapat digunakan dalam penyebaran informasi tentang keunggulan desa wisata. Wadah karang taruna desa menjadi pusat dalam pengembangan program desa wisata, di sisi lain peran perangkat desa dan pimpinan desa sebagai pengambil kebijakan dalam mendukung program-program desa wisata untuk mewujudkan tujuan dari desa wisata. Ketiga, waduk Hulaan sebagai ekowisata atau ecotourism (wisata berbasis alam), kehadiran desa wisata memberikan harapan besar bagi pecinta kuliner, karena waduk Hulaan menjadi sentra kuliner desa, dan sebagai pariwisata berbasis alam. Kondisi ini diungkapkan oleh anggota karang taruna. Desa Hulaan menjadi pusat produksi tauge dan lontong yang sudah turun temurun dari generasi ke generasi. Sebagai sentra penghasil tauge dan lontong Desa Hulaan juga menawarkan keindahan alam berupa danau Hulaan yang berada di Dusun Hulaan. Maka dari itu sebagai pengurus karang taruna kami menawarkan waduk Hulaan menjadi ekowisata (ecotourism) yang menawarkan kuliner desa dan pariwisata alam (interview. R6.2023). Gencarnya promosi desa wisata dengan konsep ecotourism menjadi daya tarik bagi masyarakat luas untuk hadir dan menikmati makanan khas Gresik di sentra kuliner desa, dan keindahan waduk Hulaan. Sebagai sentra kuliner desa dan pariwisata berbasis alam waduk Hulaan menjadi ecotourism yang menawarkan keindahan alam, wisata air, dan ruang terbuka bagi masyarakat sekitar. Dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat sekitar seperti yang diungkapkan oleh anggota karang taruna. Hadirnya waduk Hulaan memberikan dampak positif pada pembangunan desa, adapun dampak yang dirasakan oleh masyarakat sekitar adalah pada sektor ekonomi, peningkatan ekonomi lokal terutama industri rumahan tauge yang semakin banyak, dan produksi lontong semakin meningkat. Pada sektor pemberdayaan masyarakat, tampak dari masyarakat secara berkesinambungan mulai aktif dalam perencanaan dan implementasi desa wisata, dan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi desa secara berkelanjutan, sektor lingkungan, tampak masyarakat mulai sadar akan pelestarian 214 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 kearifan lokal tauge dan lontong sebagai warisan turun temurun, dan desa wisata sebagai ecotourism yang menawarkan wisata alam berbasis pendidikan dan budaya (interview. R8.2023). Dampak nyata pelibatan karang taruna dalam pemberdayaan masyarakat melalui desa wisata menjadi sektor penggerak ekonomi rakyat. Dampak positif yang dirasakan masyarakat yakni: peningkatan sektor ekonomi lokal industri rumahan, keberdayaan masyarakat seiring dengan partisipatif masyarakat mulai dari perencanaan, dan implementasi desa wisata, masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi desa berbasis kearifan lokal tauge dan lontong secara turun temurun, dan desa wisata sebagai ecotourism berbasis pendidikan dan budaya di masyarakat. 3.2. Peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa Peran karang taruna di masyarakat memainkan peran penting dalam meningkatkan atau mengembangkan potensi lokal desa, yakni: 1) sebagai wadah generasi muda; 2) sebagai penggerak masyarakat; dan 3) sebagai pendukung program pemerintah desa. Peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa. Pertama, sebagai wadah generasi muda, keberadaan karang taruna Desa Hulaan sebagai wadah generasi muda dalam menjalankan program-programnya memiliki lima bidang antara lain: (1) bidang pengembangan sumber daya manusia; (2) bidang pemuda dan olahraga; (3) bidang agama dan kebudayaan; (4) bidang informasi dan hubungan masyarakat; dan (5) bidang ekonomi kreatif. Program karang taruna dalam mendukung desa wisata berbasis pemberdayaan kearifan lokal melalui kegiatan menghidupkan Waduk Hulaan sebagai ecotourism berbasis pendidikan dan budaya, area waduk sebagai tempat olahraga dan senam, tempat rekreasi air, serta menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat melalui pembukaan stan pameran kuliner. Kegiatan-kegiatan ini sudah sejalan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 2007, tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakat (Permendagri No. 5 Tahun 2007), ada tiga poin penting peran karang taruna yakni: (1) sebagai pengembangan usaha kesejahteraan sosial; (2) ekonomi produktif dan rekreatif; serta (3) olahraga dan kesenian. Kedua, sebagai penggerak masyarakat, anggota karang taruna merupakan generasi muda yang memiliki semangat, kreativitas, loyalitas, dan rela berkorban untuk membangun desa. Sebagai penggerak masyarakat karang taruna Desa Hulaan memiliki peran penting dalam mendukung berdirinya desa wisata Waduk Hulaan. Adapun peran organisasi karang taruna sebagai penggerak masyarakat dengan mengangkat kearifan lokal melalui kegiatan pemberdayaan Masyarakat. Kondisi ini diungkapkan oleh anggota karang taruna yakni: Karang taruna yang kami rasakan menjadi wadah untuk generasi muda saling mencurahkan ide, kreativitas, problem, potensi desa yang dapat digali, dan sebagai tempat untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi masyarakat Desa Hulaan. Selain itu, kami sebagai anak-anak muda desa semakin tertantang untuk menciptakan inovasi (interview. R8.2023) Program desa wisata berbasis pemberdayaan masyarakat dengan kearifan lokal industri rumahan tauge dan pengusaha lontong memberikan dampak positif untuk mengangkat potensi desa. Melalui kegiatan-kegiatan festival kampung tauge dan lontong di Desa Hulaan. Adapun peran karang taruna desa melalui beberapa tahapan mulai dari perencanaan program, identifikasi potensi di masyarakat, membentuk komunitas usaha, melaksanakan kegiatan-kegiatan yang membuat daya tarik masyarakat untuk datang ke Kampung Tauge dan Lontong Desa Hulaan. Ketiga, karang taruna sebagai pendukung program pemerintah desa, melalui kepala desa sebagai pimpinan tertinggi di desa. Inovasi dari karang taruna desa dengan membuat program pemberdayaan masyarakat berbasis ecotourism untuk mendukung program-program pemerintah desa dengan melibatkan masyarakat sekitar. Program desa wisata menjadi daya dukung program pemerintah Desa Hulaan. Peresmian Waduk Hulaan, Kampung Tauge dan Lontong menjadi daya tarik daerah sebagai kearifan lokal Desa Hulaan. Lima program pemerintah desa seiring dengan peresmian Kampung Tauge dan Lontong Desa Hulaan yakni: (1) mengangkat kearifan lokal desa sebagai potensi sektor ekonomi; (2) revitalisasi waduk sebagai ecotourism dan tempat hiburan air masyarakat; (3) Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 215 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 pengembangan produk inovasi desa dari olahan tauge dan lontong; (4) sebagai ruang terbuka dan sarana rekreasi, olahraga, dan tempat hiburan masyarakat; dan (5) cikal bakal program desa berdaya yang mampu mengoptimalkan potensi desa dan membuka lapangan usaha untuk masyarakat Desa Hulaan. 3.3. Program-program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal Inovasi program yang digalakkan untuk mendukung pengembangan program desa wisata berbasis kearifan lokal di Desa Hulaan menerapkan tiga pengembangan program yakni: (1) program pemberdayaan masyarakat; (2) program wisata kuliner; dan (3) program pengembangan kearifan lokal desa. Pertama, program pemberdayaan masyarakat desa berbasis kearifan lokal merupakan gerakan pemberdayaan masyarakat yang bersumber dari bawah berbasis pada kebutuhan masyarakat yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi desa. Hal ini terbukti dari industri rumahan mengalami peningkatan ekonomi, Desa Hulaan menjadi Sentral Kampung Tauge dan Lontong Kabupaten Gresik, dan Waduk Hulaan menjadi destinasi wisata masyarakat sekitar. Gambaran program pemberdayaan masyarakat seperti pada Gambar 1 dan 2. Gambar 1. Pamflet Launching Stand Kampung Tauge dan Lontong Desa Hulaan Gambar 2. Stand Ibu-ibu Jualan di Kampung Tauge dan Lontong Desa Hulaan Gambaran kegiatan pemberdayaan masyarakat pada Gambar 1 (Pamflet launching stand Kampung Tauge dan Lontong) merupakan hasil dari kreatifitas karang taruna untuk mendukung program desa wisata, dan Gambar 2 (Stand ibu-ibu jualan di Kampung Tauge dan Lontong Hulaan) sebagai kegiatan untuk menghidupkan UMKM lokal di Desa Hulaan. Program pemberdayaan desa wisata sebagai kampung tauge dan lontong di Waduk Hulaan merupakan pembuka akses untuk memberdayakan masyarakat; meningkatkan daya tawar barang; inovasi kuliner tauge dan lontong; dan partisipasi masyarakat untuk mewariskan budaya. Kedua, program wisata kuliner berbasis kearifan lokal merupakan program sentralistik kuliner olahan tauge dan lontong yang dijadikan satu di kawasan danau Desa Hulaan. Konsep wisata kuliner yang ditawarkan oleh karang taruna dan pemerintah Desa Hulaan adalah untuk menarik pengunjung melalui kuliner khas Desa Hulaan sebagai industri rumahan tauge dan produsen lontong. Melalui program wisata kuliner pengunjung dimanjakan dengan berbagai masakan khas dan produk-produk usaha menengah kecil mikro (UMKM) sebagai produk unggulan desa wisata berbasis kearifan lokal atau kampung tauge dan lontong. 216 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 Ketiga, program pengembangan kearifan lokal desa, potensi desa sebagai cikal bakal desa wisata dan desa berdaya. Program pengembangan kreativitas masyarakat dengan mengangkat kearifan lokal dan potensi desa setempat. Sebagai destinasi wisata Waduk Hulaan menawarkan pemandangan air, kuliner, dan produk lokal yang menjadi daya tawar masyarakat untuk datang ke Waduk Hulaan. Gambaran inovasi tauge dan lontong binaan Desa Hulaan seperti pada Gambar 3 dan 4. Gambar 3. Produk UMKM Tauge Crispy Gambar 4. Waduk Hulaan dan Sarana Ecotourism Gambaran program kearifan lokal seperti pada Gambar 3 (Produk UMKM tauge crispy) merupakan produk unggulan dari hasil tauge yang diolah menjadi makanan yang dapat dinikmati semua kalangan; dan Gambar 4 (Waduk Hulaan dan sarana ecotourism) berbasis pendidikan dan budaya yang dapat dinikmati oleh semua usia baik anak sekolah, masyarakat umum, dan para pengunjung dari berbagai daerah. Dalam pengembangan kearifan lokal desa ada tiga poin penting yang menjadi tujuan dari pengembangan program yakni: (1) terciptanya masyarakat yang memegang teguh local wisdom sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat; (2) terciptanya masyarakat yang memiliki pengetahuan lokal (local knowledge) sebagai pelestari budaya dan tradisi adat istiadat masyarakat; dan (3) masyarakat sebagai pewaris peradaban memiliki kecerdasan setempat (local genius). 4. Pembahasan Pembahasan hasil penelitian pelibatan karang taruna dalam pemberdayaan masyarakat melalui desa wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik menghasilkan temuan sebagai berikut: 4.1. Strategi pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata Potensi kearifan lokal yang berkembang di Desa Hulaan menjadi daya pikat masyarakat untuk berbondong-bondong datang ke kampung tauge dan lontong. Konsep kampung kuliner yang ditawarkan oleh Waduk Hulaan menjadi destinasi wisata kuliner pencinta tauge dan lontong. Potensi tauge dan lontong yang melimpah menjadi pemasok pasar-pasar tradisional di wilayah Gresik, Surabaya, Krian, Mojokerto, dan Lamongan. Perputaran ekonomi masyarakat melalui usaha tauge dan lontong menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat Desa Hulaan, Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Rata-rata dalam satu rumah dapat memproduksi 5-kilogram hingga 300-kilogram tauge. Potensi kearifan lokal ini menjadikan Desa Hulaan sebagai kampung tauge dan lontong. Kearifan lokal merupakan perwujudan dari berbagai perilaku masyarakat yang berdampingan dengan alam, lingkungan, dan mampu untuk tidak merusak alam (Prabandari et al., 2018). Integrasi desa wisata sebagai pusat ekonomi kreatif tersebar di tiga dusun yakni: Dusun Sidomulyo, Dusun Tlogobedah, dan Dusun Hulaan. Kearifan lokal produk tauge dan lontong menjadikan Desa Hulaan sebagai kampung berdaya yang secara ekonomi masyarakat mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Melalui integrasi desa wisata perkembangan potensi kearifan lokal desa dapat berpengaruh pada, “sektor-sektor lain seperti sektor pertanian, sektor makanan atau kuliner, sektor industri, sektor perkebunan, dan sektor peternakan, serta tidak terlepas dari Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 217 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 peningkatan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat” (Saputra & Ismaniar, 2019). Dengan terbukanya Waduk Hulaan sebagai ecotourism destinasi wisata air dan ruang terbuka untuk berbagai aktivitas masyarakat. Potensi kearifan lokal desa sebagai inovasi desa mandiri, kondisi ini tampak pada Waduk Hulaan sebagai pariwisata berbasis alam (ecotourism), serta sebagai eduwisata atau wisata edukasi bagi masyarakat dengan tujuan agar masyarakat yang berkunjung dapat menikmati lokasi wisata sekaligus dapat memperoleh pengalaman pembelajaran baru. Konsep ecotourism dan eduwisata Waduk Hulaan tercermin dalam beberapa program yakni: (1) sentral kuliner; (2) gelanggang olahraga; (3) wisata air; dan (4) ruang terbuka untuk berkumpul masyarakat. Inovasi penyebaran informasi menggunakan website desa, instagram karang taruna, tiktok, facebook, whatsapp, dan media sosial. Desa wisata dikembangkan untuk pelestarian budaya di suatu desa, menciptakan peluang usaha sebagai pergerakan ekonomi masyarakat, dan mempersiapkan sapta pesona sebagai bagian dari pelayanan desa wisata (Rahmi & Pandu, 2020). Pelayanan yang maksimal dalam membangun desa berdaya memberikan kontribusi untuk peningkatan ekonomi rakyat. Desa Hulaan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui penggalian potensi desa sebagai penghasil tauge dan lontong. Memaksimalkan potensi alam, sumber air, daun pisang, dan kemampuan masyarakat untuk mengelola bahan alam menjadi sumber pangan bagi masyarakat luas. Produksi tauge dan lontong dalam jumlah besar menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Desa Hulaan dari generasi ke generasi. Industri pariwisata sebagai peluang besar untuk menarik pengunjung, potensi alam sebagai pendorong kemajuan desa, sektor pariwisata memberikan peluang pekerjaan yang menjanjikan, dan menumbuhkan jiwa entrepreneur generasi muda untuk menciptakan inovasi baru (Samtono et al., 2022). Inovasi baru dibutuhkan secara terus menerus sebagai proses belajar, menciptakan hal baru, dan menghasilkan pekerjaan baru sebagai proses belajar sepanjang hayat (Mustakim et al., 2021). Penelitian ini memberikan kontribusi, pada aspek strategi pengembangan potensi kearifan lokal sebagai desa wisata. Pertama, integrasi desa wisata sebagai ekonomi kreatif; kedua, potensi kearifan lokal desa sebagai inovasi desa mandiri; dan tiga, waduk Hulaan sebagai ekowisata atau ecotourism (wisata berbasis alam). Kondisi ini memperluas bahwa pemahaman dinamika non-barat wilayah pasca-Soviet kegiatan kewirausahaan dan praktik pemberdayaan yang mengintegrasikan faktor budaya dan sosial-politik lokal (Al-Dajani, 2011). Warisan budaya dan dinamika masyarakat menjadi bagian dari integral proses pemberdayaan sebagai kekuatan lokal dalam pengembangan pariwisata yang mempengaruhi pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, dan pembangunan berkelanjutan (Yousafzai & Aljanova, 2025). Akhirnya, melalui integrasi desa wisata sebagai ekonomi kreatif memberikan ruang desa untuk mengembangankan potensi lokal yang dimiliki desa melalui inovasi desa mandiri, dan wisata berbasis alam sebagai pariwisata lokal yang menjadi ciri khas daerah dengan ecotourism berbasis kewirausahaan. 4.2. Peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa Karang taruna memiliki peran yang sangat sentral dalam membangun desa untuk mewujudkan desa yang berdaya. Sebagai wadah generasi muda karang taruna Desa Hulaan memiliki lima bidang pengembangan program untuk mendukung desa wisata meliputi: (1) bidang pengembangan sumber daya manusia, melalui kegiatan edukasi masyarakat dalam mewujudkan desa berdaya melalui kegiatan peningkatan produksi tauge menjadi nilai yang lebih produktif; (2) bidang pemuda dan olahraga, kegiatan olahraga disentralkan di area Waduk Hulaan seperti olahraga bola voli, senam, dan bersepeda; (3) bidang agama dan kebudayaan, generasi muda karang taruna bekerja sama dengan Masjid di lingkungan Desa Hulaan untuk merayakan hari-hari besar Islam, pengajian akbar, dan sholawatan yang mendatangkan massa banyak menggunakan area Waduk Desa Hulaan; (4) bidang 218 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 informasi dan hubungan masyarakat, sebagai mediator dan penghubung petani tauge dan lontong untuk mensupport pemerintah desa dalam menjalankan program unggulan desa untuk membuat Kampung Tauge dan Lontong di Desa Hulaan; dan (5) bidang ekonomi kreatif, karang taruna mengidentifikasi secara mendalam potensi yang dapat diangkat dan dikembangkan dari produksi Tauge dan Lontong untuk menjadi kuliner yang dapat diterima segala kalangan usia. Kontribusi organisasi karang taruna atau karang taruna memiliki peran sebagai, “…pembangunan kesejahteraan sosial di masyarakat yang memiliki kualitas sumber daya manusia, memanfaatkan tenaga lokal dalam penyelenggaraan program pemberdayaan, pemberdayaan memiliki orientasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dari bawah “bottom-up”, dan kerjasama yang saling bersinergi dalam membangun masyarakat melalui kemitraan sektor swasta dan pemerintah secara kontinyu”(Hanifah & Unayah, 2017). Peran karang taruna sebagai penggerak perubahan lingkungan, masalah perekonomian, dan pengelolaan pembangunan wisata (Azis & Makassar, 2023). Hal ini memberikan gambaran bahwa peran karang taruna sangatlah penting di lingkungan masyarakat. Program-program desa seyogyanya disesuaikan dengan perkembangan zaman sehingga dikemas lebih menarik, sesuai dengan era digital, dan melatih kesadaran akan tanggung jawab masing-masing anggota untuk berperan serta dalam berorganisasi (Nadya et al., 2023). Karang taruna sebagai penggerak masyarakat desa memberikan dampak besar dalam kemajuan desa wisata. Melalui program Kampung Tauge dan Lontong anggota Karang Taruna Desa Hulaan dapat mengambil peran dalam perencanaan program untuk mendukung pemerintah Desa Hulaan, mengidentifikasi potensi yang ada di masyarakat, sebagai bahan untuk menentukan program tindak lanjut karang taruna, membentuk komunitas belajar bersama masyarakat sehingga semua warga masyarakat dapat belajar tentang cara membuat tauge dan lontong, dan menciptakan kegiatan-kegiatan untuk menarik masyarakat dalam jumlah besar. Peran organisasi sebagai komunikasi penerimaan aktif dengan cara menjadi pendengar yang baik di masyarakat, menerima umpan balik yang membangun (konstruktif), menghargai berbagai perspektif dan kebutuhan anggota, mampu dalam menyelesaikan konflik dengan efektif, dan mewujudkan lingkungan kegiatan yang inklusif dan saling support (Sulistira et al., 2023). Sebagai penggerak kemajuan desa, generasi muda diharapkan memiliki kemampuan pola pikir, cara hidup yang baik agar tidak terjerumus pada perbuatan yang menyimpang, memberikan sumbangan ide-ide kreatif, pemuda yang berkarakter, dan memiliki tanggung jawab sosial di masyarakat (Falaq & Sa’diyin, 2023). Peran karang taruna untuk mendukung program-program pemerintah desa melalui program pemberdayaan kearifan lokal merupakan pondasi dasar untuk mengajak masyarakat ikut serta dalam mewujudkan kampung tauge dan lontong Desa Hulaan. Revitalisasi waduk Hulaan sebagai sarana hiburan masyarakat dan olahraga air, serta gelanggang olahraga. Pengembangan produk inovasi dari tauge dan lontong menjadi produk unggulan desa. Menjadikan ruang terbuka di area Waduk Hulaan sebagai tempat rekreasi keluarga, olahraga bola voli, dan panggung hiburan. Waduk Hulaan sebagai sentra kuliner kampung tauge dan lontong, serta tempat untuk menampilkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Desa Hulaan. Peran serta karang taruna dalam mendukung program desa semakin baik jika revitalisasi dan pemberdayaan anggota karang taruna menjadi pondasi dasar untuk peningkatan program desa. Pelatihan dan pemberdayaan anggota karang taruna sebagai kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan pemuda menjadi motivasi anggota karang taruna dalam pengembangan masyarakat (Pramarta & Timur, 2023). Lebih lanjut, untuk mendukung program pemerintah desa dibutuhkan pemuda yang produktif, pemudah yang memiliki kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, dan memiliki komitmen dalam mengerjakan tugas yang diemban (Mardiana & Sugiharto, 2023). Penelitian ini memberikan kontribusi pada aspek peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa. Pertama, sebagai wadah generasi muda; kedua, sebagai penggerak masyarakat; dan ketiga, karang taruna sebagai pendukung program pemerintah desa. Kondisi ini memperluas dari pendapat teori pemberdayaan yang melibatkan langkah-langkah penting bahwa pemberdayaan yakni: menciptakan lingkungan yang mendukung partisipatif aktif dalam pengambilan keputusan, akses Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 219 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 sumber daya untuk mencapai tujuan pemberdayaan, dan sebagai sarana komunikasi untuk membangun kepercayaan serta kolaborasi di masyarakat (Rachmad, 2022). Akhirnya melalui peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa, peran karang taruna menjadi posisi yang penting untuk membangun desa wisata melalui wadah generasi muda melalui bidang pengembangan sumber daya manusia, bidang olah raga, dan keagamaan. Karang taruna sebagai penggerak masyarakat untuk menumbuhkan ekonomi lokal, pengelolaan desa wisata, dan menjadi pendukung program-program pengembangan desa berbasis kearifan lokal. 4.3. Program-program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal Program pemberdayaan masyarakat yang sudah berjalan hingga saat ini adalah pemberdayaan penguatan motivasi generasi muda untuk mengembangkan usaha baru sesuai dengan kearifan lokal Desa Hulaan sebagai penghasil tauge dan lontong. Pemberdayaan karang taruna melalui unit usaha baru produk UMKM di Desa Wisata Waduk Hulaan. Menciptakan kegiatan-kegiatan mingguan, bulanan, dan tahunan untuk menarik para wisatawan dari luar daerah untuk menikmati indahnya Waduk Hulaan, dan kuliner unggulan Desa Hulaan. Keseluruhan program pemberdayaan semakin baik jika karang taruna mampu dalam tertib administrasi dan manajerial, mampu memfasilitasi dan memediasi masyarakat, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, mampu dalam memberikan informasi yang sesuai kebutuhan masyarakat, mampu mengedukasi, dapat memanfaatkan teknologi secara bijak, kemampuan advokasi sosial, pendampingan, memberikan motivasi masyarakat, dan sebagai pelopor program desa (Solihat & Istika, Dwi Kusumaningrum Pramukti, 2023). Program wisata kuliner memberikan kabar gembira bagi para pelaku UMKM di Desa Hulaan. Sentral wisata kuliner menjadi destinasi wisata yang menarik banyak pengunjung. Olahan tauge dan lontong sebagai kearifan lokal desa menjadi daya tarik untuk memanjakan wisatawan. Tata kelola wisata kuliner yang baik memberikan dampak signifikan untuk peningkatan ekonomi masyarakat, membuka peluang lapangan pekerjaan, dan sebagai upaya optimalisasi potensi alam sebagai kuliner lokal desa (Samtono et al., 2022). Pengembangan kearifan lokal desa semakin baik apabila mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dalam pengembangan kearifan lokal ada tiga output yang menjadi program unggulan desa dan karang taruna desa. Pertama pengembangan kearifan lokal (local wisdom) dengan cara menggerakkan para petani tauge dan pengusaha lontong untuk ikut terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan desa setiap tahun, Kedua terwujudnya pengetahuan lokal (local knowledge) melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengolahan hasil tauge dan lontong untuk dikembangkan menjadi kuliner kekinian, produk unggulan, dan makanan ringan sebagai pemenuh kebutuhan masyarakat. Ketiga masyarakat memiliki kecerdasan setempat (local genius) untuk memberdayakan masyarakat yang sadar akan pelestarian budaya, tradisi, adat istiadat setempat, kepercayaan, dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Desa Hulaan. Pengembangan kearifan lokal menjadikan desa sebagai ecotourism dan ekowisata. Ekowisata sebagai konsep yang menggabungkan pariwisata berwawasan lingkungan dengan konservasi, dan peningkatan ekonomi masyarakat untuk kesejahteraan bersama (Hidayat et al., 2023). Penelitian ini memberikan kontribusi pada aspek program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal. Pertama, program pemberdayaan masyarakat desa berbasis kearifan lokal; kedua, program wisata kuliner berbasis kearifan lokal; dan ketiga, program pengembangan kearifan lokal. Kondisi ini memperluas pandangan desa wisata yang tidak terlepas dari peran serta pemerintah daerah, dan pemerintah pusat dalam merencanakan kawasan pariwisata desa, melalui kolaborasi forum pemerintah dan non-pemerintah dalam pengelolaan aset desa, sehingga penting untuk melibatkan forum yang diprakarsai lembaga publik untuk pengambilan keputusan (Luh et al., 2023). Akhirnya melalui program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal, program 220 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 pemberdayaan masyarakat yang digagas oleh karang taruna dapat menjadikan desa sebagai desa berdaya, desa wisata kuliner, dan desa sebagai pelestarian budaya lokal untuk menciptakan desa yang memiliki local wisdom, local knowledge, dan local genius. Gambaran model pelibatan karang taruna dan pemberdayaan masyarakat desa wisata Kabupaten Gresik, sebagai novelty dari penelitian ini tersaji dalam Gambar 5. Gambar 5. Model pelibatan Karang Taruna dan pemberdayaan masyarakat Desa Wisata Kabupaten Gresik 5. Kesimpulan Potensi lokal Desa Hulaan sebagai industri rumahan tauge dan produksi lontong menawarkan kuliner lokal. Strategi pengembangan potensi lokal sebagai desa wisata tercermin melalui integrasi desa wisata sebagai pusat ekonomi kreatif dari generasi ke generasi. Optimalisasi potensi kearifan lokal sebagai inovasi desa mandiri tercermin melalui desa wisata sebagai basis ekonomi masyarakat, mobilisasi sumber daya manusia, inovasi produk UMKM, dan pengembangan jejaring pemasaran produk. Waduk Hulaan sebagai ekowisata atau ecotourism (wisata berbasis alam) menawarkan keindahan wisata air, wisata alam, dan kuliner lokal. Peran karang taruna dalam meningkatkan potensi lokal desa melalui pemanfaatan karang taruna sebagai wadah generasi muda yang berorientasi pengembangan usaha, ekonomi kreatif, kebudayaan, dan agama. Sebagai penggerak masyarakat, dan sebagai tempat pengembangan olahraga dan kesenian daerah yang menjadi kearifan lokal desa. Program-program pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal dengan cara menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, program wisata kuliner desa sebagai sentral kuliner daerah, dan program pengembangan kearifan lokal desa dengan mewujudkan desa sebagai local wisdom, local knowledge, dan local genius. Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 221 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 6 Saran Penulis memberikan saran untuk peneliti selanjutnya, kajian pemberdayaan masyarakat memiliki banyak strategi di lapangan. Kondisi ini menjadi daya tarik bagi peneliti selanjutnya untuk mengkaji strategi inovasi pemberdayaan masyarakat seiring dengan digitalisasi dan globalisasi. Ucapan terimakasih: Penulis mengucapkan terimakasih kepada Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Nonformal yang telah mendanai penelitian, dan mendukung kelancaran penelitian ini. Daftar Pustaka Al-Dajani, H. (2011). Impact of women’ s home-based enterprise on family dynamics: evidence from Jordan. Development and Learning in Organizations: An International Journal, 25(2). https://doi.org/10.1108/dlo.2011.08125bad.009 Azis, F., & Makassar, U. M. (2023). Peran Karang Taruna Dalam Pembangunan Di Desa Kalimbua . INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3(3), 5896–5902. Cinthya, Rr. D., Syafirah, L., & Nawangsari, E. R. (2020). Strategi Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus UMKM Batik Teyeng Kecamatan Benowo Kota Surabaya). Jurnal Sosial Ekonomi Dan Politik, 1(3). Falaq, M., & Sa’diyin, M. (2023). Peran Karang Taruna dalam Pembinaan Generasi Muda menurut Peraturan Menteri Sosial Nomor 23 Tahun 2013 (Studi Kasus Karang Taruna Galow Tunas Bangsa Desa Lowayu Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik Tahun 2022). JOSH: Journal of Sharia, 2(1), 44–50. Hanifah, A., & Unayah, N. (2017). Konstribusi Organisasi Sosial Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Penelitian Dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 14(01), 85–100. Hidayat, C. W., Weganofa, R., & Liskinasih, A. (2023). Peningkatan Perekonomian Masyarakat Dengan Mengembangkan Ekowisata Berbasis Kearifan Lokal. EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 8(1), 50–57. https://doi.org/10.37676/ekombis.v11i1.3184 Karwati, L., & Mustakim, M. (2018). Model Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Dengan Kearifan dan Nilai Budaya Lokal Melalui Pendekatan Sosial Entrepreneurship. JIV-Jurnal Ilmiah Visi, 13(2), 157–164. https://doi.org/10.21009/JIV.1302.9 Luh, N., Dewi, Y., Supriyono, B., Fefta Wijaya, A., & Rochmah, S. (2023). Local Wisdom-Based Sustainable Tourism Village Development Collaboration in Badung Regency. In International Journal of Science and Society (Vol. 5). http://ijsoc.goacademica.com Mardiana, F., & Sugiharto, M. (2023). Karang taruna: pemberdayaan, penguatan kelembagaan dan peningakatan kapasitas sdm. SEMANGGI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(April), 85–97. Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2019). Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook (Fourth). Arizona State University. Muharam, A. F., Hafiyudin, I., & Pamungkas, P. K. (2024). Peran Karang Taruna dalam Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Lingkup Desa : Studi Kasus Desa Mekarwangi Kecamatan Sindangkerta Kabupaten Bandung Barat. Proceedings UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG, 4(1), 167–174. Mustakim, M., Sulistiono, E., Saripah, I., & Dinni, F. (2021). Memupuk Keberaksaraan: Berinovasi Dalam Perspektif Belajar Sepanjang Hayat. Comm-Edu (Community Education Journal), 4(1), 6. https://doi.org/10.22460/comm-edu.v4i1.6738 Nadya, S. R., Jannah, S. M., & Utami, N. F. (2023). Peran Karang Taruna RW 13 Desa Pagerwangi dalam Meningkatkan Minat Remaja dalam Berorganisasi di Era Digital. Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 25(2), 386– 392. Nugroho, A. W., Prasetyo, S. I., Candra, I. A., Saputra, R. A., & Putra, A. S. (2023). Community-Based Tourism: Strengthening understanding and assistance in establishing tourism awareness group. Journal of Community Service and Empowerment, 4(2), 271–282. https://doi.org/10.22219/jcse.v4i2.26389 222 Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 209-223 Prabandari, D., Avenzora, R., & Sunarminto, T. (2018). Kearifan Lokal untuk Pengembangan Ekowisata di Kota Bogor. Media Konservasi, 23(3), 274–280. Pramarta, P., & Timur, J. (2023). PKM Pedampingan Revitalisasi Anggota Karang Taruna RT 10 RW 02 Tanjung Barat Jagakarsa Jakarta. Abdi Jurnal Publikas, 1(6), 560–564. Rachmad, Y. E. (2022). Empowerment Theory: Cáceres Conquistadores Publicaciones Internacionales. https://doi.org/https://doi.org/10.17605/osf.io/wymnz Rahmi, S., & Pandu, S. T. A. (2020). Implementasi Sapta Pesona Sebagai Upaya Dalam Memberikan Pelayanan Prima Pada Wisatawan di Desa Wisata Pentingsari. Jurnal Administrasi Bisnis Terapan ( JABT ), 2(2), 6. Samtono, S., Rahayu, E., & Risyanti, Y. D. (2022). Upaya Pengembangan Ekonomi Kreatif Sektor Wisata Kuliner Kampung Singkong. RESONA : Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat, 6(2), 153. https://doi.org/10.35906/resona.v6i2.1223 Saputra, A. A., & Ismaniar. (2019). Peran Pemuda Sebagai Agent of Change Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pada Usaha Pariwisata Kuliner Di Kampung Nelayan Ampang Pulai Kabupaten Pesisir Selatan. Journal of Multidicsiplinary Research and Development, 1(4), 835–842. Solihat, A. I., & Istika, Dwi Kusumaningrum Pramukti, D. S. (2023). Peran Karang Taruna Dalam Program Pemberdayaan Masyarakat di Irigasi Bendhung Lepen Mrican, Giwangan, Umbulharjo, Yogyakarta. Jurnal Mitra Indonesia, 2(25), 1–11. Sufia, R., & Amirudin, A. (2016). Kearifan Lokal dalam Melestarikan Lingkungan Hidup (Studi Kasus Masyarakat Adat Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi). Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian Dan Pengembangan, 1(4). Sugiharto, D. Y. P., & Kusumandari, R. B. (2016). Model Development in the Context of Vocational Village Community Empowerment in Central Java. International Journal of Information and Education Technology, 6(7), 564–569. https://doi.org/10.7763/ijiet.2016.v6.752 Sugistin, R. F. C., & Pujianto, W. E. (2024). Partisipasi Organisasi Karang Taruna Di Dalam Lingkungan Masyarakat Desa Jati Sidoarjo. Jurnal Rimba : Riset Ilmu Manajemen Bisnis Dan Akuntansi, 2(1), 170–182. https://doi.org/https://doi.org/.61132/rimba.v2i1.554 Sulistira, N. F., Nasichah, N., Qoblia, P. I., & Rizki, T. S. (2023). Peran Komunikasi Penerimaan Aktif Dalam Membangun Kerjasama Tim di Dalam Organisasi. Ndonesian Journal of Learning Studies, 3(1), 1–8. Susilo, H. (2017). The Impact of Basic Literacy Program to Create a Learning Society. Proceedings of the 9th International Conference for Science Educators and Teachers (ICSET 2017), 118, 52–55. https://doi.org/10.2991/icset-17.2017.9 Widjajanti, K. (2011). Model pemberdayaan masyarakat. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12. Yousafzai, S., & Aljanova, N. (2025). Empowerment and collective action: feminist solidarity through women’s entrepreneurship in Kyrgyzstan’s community-based tourism. International Journal of Gender and Entrepreneurship, 17(1), 135–159. https://doi.org/10.1108/IJGE-02-2024-0066 (Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Heryanto Susilo, Widodo Widodo, Sjafiatul Mardliyah, Widya Nusantara, & Mustakim Mustakim Pelibatan Karang Taruna Dalam Pemberdayaan Masyarakat Melalui Desa Wisata di Desa Hulaan Kabupaten Gresik 223