Volume 4 Issue 2 Bulan Desember 2025 Quality: Journal of Islamic Studies Online at https://jurnal. id/index. php/qjis/index E-ISSN: 2963-5330 MEMBANGUN BENTENG JIWA: PENSUCIAN DIRI SEBAGAI PONDASI KESEHATAN MENTAL DAN SPIRITUAL GENERASI MUDA ISLAM Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Hikmah Jakarta. International Open University Jakarta. Universitas SAHID Jakarta ABSTRAK Generasi muda Islam saat ini menghadapi berbagai tantangan psikologis, sosial, dan spiritual yang kian berat dan kompleks: tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, dan pengaruh budaya global yang mengikis identitas keislaman. Secara konseptual, tazkiyatun nafs . enyucian jiw. sebagai ajaran tasawuf dalam Islam menawarkan kerangka spiritual untuk membangun ketahanan jiwa . Kajian ini coba mengkaji bagaimana integrasi tazkiyatun nafs dapat menjadi fondasi pengembangan resiliensi pada generasi muda Islam. Metode kajian menggunakan studi pustaka dengan pendekatan analisis kualitatif terhadap sumber-sumber primer (Al-QurAoan. Hadis, dan karya ulama klasi. dan sumber sekunder . urnal ilmiah, buku, dan artikel terkait tasawuf dan psikologi Isla. Tazkiyatun nafsAidari nafs ammarah, lawwamah, muliAoah, hingga mutmaAoinnahAimenurut asumsi penulis, potensial untuk memperkuat kapasitas internal generasi muda Islam dalam menghadapi tekanan dan mempertahankan keseimbangan spiritual-emosional. Temuan kajian menunjukkan integrasi nilai-nilai tazkiyatun nafs . uraqabah, muhasabah, tawakkal, dan syuk. terbukti efektif dalam memperkuat ketahanan mental-spiritual. Kajian ini diharapkan dapat memberi rekomendasi strategis bagi pendidikan Islam, konseling berbasis nilai Islam, dan program pengembangan pemuda berbasis kultur islami. Kata kunci: Benteng Jiwa. Pensucian Diri. Kesehatan Mental-Spiritual. Generasi Muda Islam. ABSTRACT Today's young generation of Muslims faces increasingly complex psychological, social, and spiritual challenges: academic pressure, uncertainty about the future, and the influence of global culture that erodes Islamic identity. Conceptually, tazkiyatun nafs . urification of the sou. as a Sufi teaching in Islam offers a spiritual framework for building resilience. This study attempts to examine how the integration of tazkiyatun nafs can become the foundation for developing resilience in the young generation of Muslims. The study method uses a literature study with a qualitative analysis approach to primary sources . he Qur'an. Hadith, and works of classical scholar. and secondary sources . cientific journals, books, and articles related to Sufism and Islamic psycholog. Tazkiyatun nafs is assumed to strengthen the internal capacity of the young generation of Muslims in facing pressure and maintaining spiritual and emotional balance, including the nafs ammarah, lawwamah, muli'ah, and mutma'innah. The study's findings indicate that the integration of the values of tazkiyatun nafs . uraqabah, muhasabah, tawakkal, and syuk. has proven effective in strengthening mental-spiritual resilience. This study is expected to provide strategic recommendations for Islamic education. Islamic counseling, and resilience programs for the younger generation of Muslims. Keywords: Emotional Resilience. Self-Purification. Mental And Spiritual Health. Muslim Youth. PENDAHULUAN Generasi muda Islam di era kontemporer berada dalam pusaran tantangan multidimensi. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada tekanan global seperti perubahan iklim, krisis ekonomi, disrupsi teknologi, dan polarisasi Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai1Ai sosialAiyang saat ini kian menggejala diberbagai negara di dunia. Di sisi lain, tantangan internal seperti krisis identitas, depresi, kecemasan, dan alienasi spiritual semakin menghantui kaum muda, termasuk yang berlatar belakang Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2. menunjukkan peningkatan signifikan kasus gangguan mental di kalangan remaja dan usia muda, termasuk di negara-negara dengan mayoritas Muslim. Fenomena ini menunjukkan meskipun akses terhadap pendidikan dan informasi semakin terbuka, kesejahteraan jiwa . ental well-bein. generasi muda justru mengalami tekanan serius dalam tiga dekede terakhir. Dalam konteks keislaman, tantangan ini memunculkan pertanyaan kritis: bagaimana Islam, sebagai sistem nilai dan sistem spiritual, dapat memberikan solusi yang tidak hanya bersifat ritualistik, tetapi juga transformasional terhadap krisis kemanusiaan modern? Di sinilah konsep tazkiyatun nafsAi penyucian dan pemurnian jiwaAimenjadi relevan untuk dibahas. Dalam AlQurAoan misalnya, kata tazkiyah muncul sebanyak 15 kali, dan secara eksplisit dikaitkan dengan keselamatan jiwa, keberuntungan, dan ketenangan hati (QS. Asy-Syams: 9Ae. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam bersabda. AuSesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hatiAy (HR. Bukhari dan Musli. Namun, dalam praktik keagamaan kontemporer, fokus pada tazkiyatun nafs sering kali terabaikan atau tereduksi menjadi sekedar ritual formal tanpa kedalaman transformasi jiwa. Padahal, dalam tradisi tasawuf klasik, tazkiyatun nafs adalah proses panjang, intens, dan sistematis untuk membersihkan jiwa manusia dari sifat-sifat tercela . yahwat, hasad, uju. dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji . abar, tawakkal, ikhla. Proses ini sangat paralel dengan konsep psikologi modern seperti resiliensi, yakni kemampuan individu untuk pulih, bertahan, dan berkembang meskipun menghadapi tekanan, stres, atau trauma. Di ranah akademik, sebagian besar penelitian mengenai resiliensi pada generasi muda Islam cenderung mengadopsi kerangka psikologi Barat secara utuh, tanpa melakukan harmonisasi dengan konsep mental-spiritual yang khas dalam Islam. Sebaliknya, kajian tentang tazkiyatun nafs umumnya bersifat teologis atau bercorak tasawuf klasik, jarang dikaitkan secara langsung . eoritis-empiri. dengan tantangan psikologi modern. Studi yang secara sistematis mengintegrasikan proses pensucian jiwa dengan pengembangan resiliensi psikologis kontemporer melalui pendekatan interdisipliner masih relatif terbatas. Namun demikian, terdapat beberapa hasil kajian yang mulai mengaplikasikan perspektif teologis maupun pendekatan multidisipliner dalam konteks multi-disiplin, di antaranya adalah studi Ahmed & Hashem . Gumiandari et al. Belakya-Ince et al. Haramain & Afifiah . Rochman et al. , dan beberapa studi lainnya Kajian ini menawarkan kontribusi kebaruan pada tiga level: konseptual, metodologis, dan aplikatif. Secara konseptual, penelitian mengintegrasikan Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai2Ai lima dimensi tazkiyatun nafsAiyaitu taubat, mujahadah, muhasabah, tawakkal, dan ikhlasAike dalam kerangka resiliensi psikologis, sehingga menghasilkan model holistik yang memadukan spiritualitas Islam dengan prinsip-prinsip psikologi Pada tataran metodologis, kajian menerapkan analisis tematik . hematic analysi. yang bersifat kritis dan sistematis terhadap sumber primer . eks klasik Al-QurAoan dan Hadi. maupun sekunder . iteratur tasawuf dan psikologi Islam moder. , dengan pendekatan interdisipliner yang mengcombine ilmu tafsir, ilmu Hadis, tasawuf, dan psikologi Islam. Sedangkan dari segi aplikatif, temuan kajian dirancang menjadi model praktis yang dapat diadaptasi dalam berbagai konteks institusional, seperti sekolah Islam, pondok pesantren, komunitas Muslim, maupun organisasi kepemudaan Islam, guna memperkuat ketahanan psikologis berbasis nilai-nilai spiritual Islam. Adapun rumusan rumusan masalah kajian, pertama, apa saja yang mendasari prinsip-prinsip utama tazkiyatun nafs dalam tradisi Islam yang relevan dengan tujuan resiliensi?. kedua, bagaimana integrasi tazkiyatun nafs dapat membentuk jiwa yang tangguh pada generasi muda Islam?. ketiga, model seperti apa yang dapat dikembangkan untuk mengintegrasikan tazkiyatun nafs dalam program pembinaan resiliensi generasi muda? Dengan demikian tujuan kajian adalah mengurai dimensi-dimensi kunci tazkiyatun nafs yang mendukung pembentukan resiliensi. menganalisis sinergi antara konsep tazkiyatun nafs dan teori psikologi resiliensi modern. dan merumuskan model integratif untuk penerapan tazkiyatun nafs dalam pengembangan ketahanan jiwa . ental-spiritua. generasi muda Islam. Setidaknya terdapat tiga kerangka konseptual yang bisa diajukan untuk memahami topik kajian ini: . tazkiyatun nafs dalam perspektif Islam. resiliensi dalam ranah kajian psikologi kontemporer. Integrasi tazkiyatun nafs dan resiliensi. Dalam perspektif Islam, tazkiyatun nafs secara etimologis berasal dari akar bahasa Arab zakka-yazkiyyu-tazkiyyahAiberarti mensucikan, memurnikan, atau mengembangkan. Dalam konteks keislaman, tazkiyatun nafs merujuk pada proses penyucian jiwa dari noda dosa, sifat tercela, dan pengaruh negatif dunia. sekaligus mengembangkan potensi fitrah manusia agar kembali kepada Rabb-nya, seperti dijelaskan dalam Al-QurAoan (QS. Al-Lail: . Dalam literatur tasawuf klasik, tazkiyatun nafs merupakan inti dari perjalanan spiritual . Imam al-Ghazali, dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga tingkatan utama, yaitu: . nafs ammarahAijiwa yang cenderung kepada kejahatan dan dorongan hawa nafsu. nafs lawwamahAijiwa yang menyesali perbuatan buruk dan berusaha memperbaiki diri. nafs mutmaAoinnahAijiwa yang tenang, penuh ketenangan, dan ridha kepada Allah . l-Ghazali, 2. Proses transisi dari nafs ammarah menuju nafs mutmaAoinnah melibatkan serangkaian amalan dan ibadah yang bersifat spiritual dan psikologis, antara lain taubat . , mujahadah . erjuangan melawan hawa nafs. , muhasabah . valuasi dan introspeksi dir. , riyadhah . atihan spiritual atau Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai3Ai disiplin dir. , serta dzikrullah . engingatan terus-menerus kepada Alla. Melalui proses ini, jiwa dibersihkan dan dikembangkan menuju kedewasaan spiritual yang utuh. Kedua, di ranah kajian psikologi kontemporer, resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk pulih dari stres, trauma, atau kesulitan hidup, serta tetap berkembang secara positif (Masten, 2. Menurut konsep Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC), resiliensi mencakup lima dimensi, yakni ketahanan terhadap stress, kontrol diri, komitmen diri, kepercayaan diri, dan spiritualitas. Studi Masten. Connor, dan Davidson di atas menunjukkan bahwa faktor spiritual . merupakan salah aspek penting dalam membangun resiliensi, terutama pada populasi atau komunitas religius (Pargament, 1. Namun, dalam konteks Islam, dimensi spiritual ini jarang dijelaskan secara konseptual melalui kerangka ilmiah keislaman . slamic scientific framewor. Ketiga, integrasi antara tazkiyatun nafs dan resiliensi psikologis mengungkap adanya sejumlah titik konvergensi konseptual, di mana prinsipprinsip dalam tazkiyatun nafsAiyang mencakup taubat, mujahadah, muhasabah, tawakkal, dan ikhlasAimenunjukkan keselarasan struktural dan fungsional dengan komponen-komponen utama resiliensi psikologis, seperti regulasi emosi, adaptasi kognitif, kontrol diri, optimisme, dan makna hidup. Hubungan keselarasan tersebut secara sistematis dirangkum dalam tabel berikut: Pilar-pilar Takziyatun Nafs Kontribusi Terhadap Resiliensi Pilar 1: Taubat Membangun kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, mengoreksi diri, dan memulai kembali . o start agai. lGhazali, 2001. Abu-Nimer, 2. Pilar 2: Mujahadah Melatih ketahanan mental dan disiplin diri dalam menghadapi godaan, kesulitan, dan tekanan hidup (Schimmel, 2011. alJawziyyah, 1. Meningkatkan kesadaran diri . elf-awarenes. dan meregulasi emosi, sebagai kunci dalam menghadapi tuntutan internal dan Pilar 3: Muhasabah tekanan eksternal yeng dapat memicu stres . oping strateg. lMuhasibi, 2001. Abu-Nimer, 2. Pilar 4: Tawakkal Membangun kepercayaan diri dan pengurangan kecemasan melalui penyerahan diri kepada Allah . l-Ghazali, 2001. Haque. Pilar 5: Ikhlas Mengurangi beban psikologis dari pencarian validasi sosial serta memperkuat motivasi intrinsik . orongan dari dala. lGhazali, 2001. Keshavarzi & Haque, 2. Dengan demikian, tazkiyatun nafs tidak hanya berfungsi sebagai proses spiritual semata, melainkan juga sebagai mekanisme psikologis adaptif yang Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai4Ai berpotensi memperkuat ketahanan mental dan emosional individu. Kajian ini diharapkan memberikan kontribusi ganda, baik di level abstraktif-akademis . dan praktis-aksiologis. Pertama, di level teoretis, dengan memperkaya wacana akademik dalam bidang psikologi Islam melalui integrasi konseptual antara spiritualitas berbasis Al-QurAoan dan Hadis dengan prinsip-prinsip kesehatan mental kontemporer. Kedua, di level praktis-aksiologis, temuan kajian dapat dijadikan landasan operasional dalam merancang kurikulum pendidikan karakter, program bimbingan rohani, serta kegiatan pengembangan kepemudaan yang berakar pada nilai-nilai Islam dan berorientasi pada penguatan resiliensi psikologis. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan kajian kualitatif bersifat eksploratif dan komparatif-konstruktif, yang menggabungkan pendekatan studi pustaka dan analisis tematik. Karakter eksploratif dipilih untuk mengungkap fenomena yang relatif kurang dieksplorasi dalam literatur kontemporer, yaitu hubungan antara tazkiyatun nafs dan resiliensi psikologis. Sementara pendekatan komparatif-konstruktif digunakan untuk membandingkan, mengkritisi, dan merekonstruksi dua kerangka teoretisAitradisi spiritual Islam dan teori resiliensi modernAidemi membangun suatu kerangka teoritis integratifharmonis yang mampu mengidentifikasi titik-titik konvergensi konseptual sekaligus memetakan diferensiasi epistemologis di antara keduanya. Data kajian terdiri daridata primer yang bersumber dari teks-teks otoritatif, seperti: . Al-QurAoan, yang dianalisis melalui pendekatan tafsir tematik . l-tafsr al-mawsuAo. Hadis Nabi shalallahu alaihi wassalam terutama koleksi Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. karya klasik ulama tasawuf, seperti Imam al-GhazAl (IuyAAo AoUlm al-Di. Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Madarij al-Saliki. , dan al-Junayd al-BaghdAd (DawaAo al-Arwa. Sementara data sekunder mencakup literatur kontemporer dalam bidang psikologi Islam dan resiliensi, antara lain karya Syed Muhammad Naquib alAttas (Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Moralit. Malik Badri (The Dilemma of Muslim Psychologist. , dan Ahmad al-Dardr (RisAlah al-Tawu. , serta studi empiris dan teoretis dari jurnal ilmiah terindeks . iakses melalui Google Scholar. DOAJ, dan SINTA). Selain itu, dirujuk pula karya-karya psikologi modern tentang resiliensi, seperti karya Masten & Reed (Resilience in Developmen. Connor & Davidson (Connor-Davidson Resilience Scale/CD-RISC), dan Pargament (The Psychology of Religion and Copin. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka mendalam dan analisis dokumen tekstual, dengan fokus pada identifikasi ayat. Hadis, dan kutipan ulama yang relevan dengan konsep tazkiyatun nafs dan ketahanan jiwa. Analisis data menerapkan dua strategi utama: Analisis tematik deskriptif, yaitu mengidentifikasi, mengekstraksi, dan mengelompokkan tema-tema kunci ke dalam lima dimensi tazkiyatun nafs Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai5Ai . aubat, mujahadah, muuasabah, tawakkul, dan ikhla. , lalu menelusuri korelasinya dengan komponen resiliensi psikologis. Analisis komparatif konseptual. Analisis ini bertujuan memetakan kesamaan struktural, perbedaan ontologis, serta potensi integrasi antara dua paradigma tersebut. Proses analisis dilakukan secara bertahap melalui lima langkah sistematis, yakni reduksi data: memfilter dan memilih teks yang relevan dengan fokus kategorisasi data: mengklasifikasikan data ke dalam dimensi-dimensi tazkiyatun nafs. interpretasi data: menafsirkan makna spiritual dan implikasi psikologis setiap dimensi. sintesis: mengkonstruksi model integratif yang menghubungkan tazkiyatun nafs dan resiliensi. verifikasi dan kesimpulan: menarik makna holistik melalui identifikasi pola, hubungan sebab-akibat, dan keteraturan konseptual . onceptual regularit. Validitas temuan penelitian dijaga lewat triangulasi sumber, dengan membandingkan interpretasi dari berbagai teks otoritatif (Al-QurAoan. Hadis, dan karya ulama klasi. Selain itu, dilakukan validasi melalui peer debriefingAi diskusi dan validasi temuan dengan rekan sejawatAiyang dianggap netral untuk mendapat perspektif baru, mengidentifikasi bias, dan meningkatkan kredibilitas serta kualitas penelitian secara keseluruhan dengan para Ustadz/AsatidzAiyang dipilih secara purposif karena memiliki kompetensi ilmu tasawuf dan psikologi IslamAidari Ponpes Sabilunnajah. Rancaekek. Bandung, yakni Ustadz Ahmad Royan. Lc. dan Ustadz Beni Sarbeni. Lc. serta Ponpes Mushab bin Umair, yakni Ustadz Mahfudz. Lc. MA. Tujuannya, untuk memastikan ketepatan hermeneutika dan relevansi konseptual temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan analisis tematik terhadap sumber-sumber tekstual dan literatur, ditemukan lima dimensi utama tazkiyatun nafs yang secara signifikan berkontribusi terhadap pembentukan resiliensi, seperti dalam bagan di bawah. Taubat adalah pondasi pemulihan diri. Taubat bukan sekadar ritual pengampunan, tetapi proses transformasi diri. Dalam konteks resiliensi, taubat mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perbaikan. QS. Al-Baqarah: 37 menunjukkan bahwa Adam dan Hawa setelah berbuat dosa diberi petunjuk untuk bertaubat, lalu Allah menerima taubat mereka. Ini mencerminkan self-forgiveness . emaafkan diri sendir. dan growth mindset . ola pikir dewas. Aikonsep kunci dalam resiliensi. Mujahadah adalah melatih ketahanan mental. Mujahadah adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan. Ibn Qayyim menyebutnya sebagai Aojihad akbarAo (Ibn Qayyim, 1. Dalam psikologi, ini mirip dengan pengaturan diri . elf-regulatio. dan ketekunan diri . elf-persistenc. Generasi muda yang terbiasa ber-mujahadah . enjaga shalat, melaksanakan puasa, atau terbiasa mengendalikan emosi/amara. memiliki kapasitas lebih tinggi untuk menghadapi tekanan atau berada dalam kendali kecerdasan emosional. Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai6Ai Sumber: Abstraksi penulis Muhasabah adalah evaluasi diri. Secara etimologis, muhasabah berarti meminta pertanggungjawaban diri, refleksi diri yang mendalam dalam tradisi Islam. Sebagaimana dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang berkata. AuHisablah diri kalian sebelum kalian dihisab . iiminta pertanggungjawaba. di akhiratAy . l-Ghazali, 2. , muhasabah harian mendorong individu untuk secara kritis mengevaluasi tindakan, niat, dan motivasi spiritualnya. Dalam perspektif psikologi kognitif, proses ini paralel dengan konsep cognitive restructuring dalam teori Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yakni satu teknik untuk mengidentifikasi, menantang, dan mengubah pola pikir disfungsional atau negatif menjadi lebih adaptif dan positif. Dengan demikian, muhasabah tidak hanya berfungsi sebagai alat spiritual, tetapi juga sebagai mekanisme psikologis yang efektif dalam meningkatkan kesadaran diri . elf-awarenes. , regulasi emosi, dan pembentukan resiliensi internal Tawakkal adalah percaya pada Allah sebagai sumber ketenangan. Tawakkal bukan pasif, tetapi aktif: berusaha maksimal, lalu menyerahkan hasil kepada Allah. QS. At-Thalaq: 3 menyebut. Audan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Ay Dalam konteks resiliensi, tawakkal mengurangi rasa cemas dan melecut sense of coherence . esuatu adalah rasional dan bermakna positi. (Antonovsky, 1. Ikhlas adalah melepaskan dari beban sosial. Dalam kerangka tasawuf Islam, ikhlas merujuk pada kemurnian niat dalam beramal semata-mata karena Allah, tanpa mencari pengakuan, pujian, atau imbalan dari manusia (AlGhazali, 2. Secara psikologis, ikhlas menjadi mekanisme perlindungan psikologis yang kuat, berfungsi sebagai mekanisme perlindungan diri . dari tekanan internal maupun eksternal, khususnya dalam konteks sosial yang menekankan performa dan citra diri. Di era digital yang didominasi media sosial, di mana individu kerap mengalami social comparison, fear of missing out (FOMO), dan tekanan untuk menampilkan identitas atau citra diri idealis, ikhlas menjadi fondasi internal yang melindungi kesehatan mental. Dengan melepaskan ketergantungan terhadap Aopengakuan sosialAo . ocial validation/social recognitio. , individu yang beramal dengan ikhlas mengalami penurunan beban kognitif dan emosional, serta mengembangkan regulasi diri yang sehat. Dengan demikian, ikhlas tidak Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai7Ai hanya merupakan dimensi spiritual yang utama, tetapi juga berperan sebagai strategi koping adaptif yang mendukung ketahanan mental . ental resilienc. di tengah tuntutan sosial kontemporer. Berdasarkan analisis dan temuan, peneliti mengusulkan Model Lima Pilar Tazkiyah-Resiliensi, seperti terlihat pada gambar di bawah. Model Lima Pilar ini menunjukkan bahwa proses tazkiyatun nafs adalah siklus dinamis-sirkuler yang saling memperkuat, bukan siklus linier. Setiap dimensi memberi kontribusi unik terhadap pembentukan resiliensi holistik. Sumber: Abstraksi penulis Generasi muda Islam saat ini berada dalam kepungan pusaran kompleksitas eksistensial. Di satu sisi, generasi muda Islam dihadapkan pada arus globalisasi, disrupsi teknologi digital, dan transformasi sosial yang bergerak sangat cepatAimelampaui kesadaran eksistensialnya. Di sisi lain, mereka menghadapi tekanan internal yang tak kalah berat: krisis identitas, alienasi spiritual, dan beban ekspektasi keagamaan yang bersifat formalistik dan normatif. Fenomena ini telah memberi kontribusi signifikan pada peningkatan angka gangguan kesehatan mental di kalangan remaja Muslim. Data World Health Organization (WHO, 2. menunjukkan bahwa lebih dari 13% remaja global mengalami depresi, dan angka ini cenderung lebih tinggi di kalangan pemuda yang mengalami identity stress akibat konflik antara nilai agama dan budaya sekuler. Di Indonesia, survei Kementerian Kesehatan . mencatat peningkatan kasus gangguan peningkatan rasa cemas dan depresi di kalangan pelajar dan mahasiswa, dengan faktor utama berupa tekanan akademik, relasi sosial, dan pencarian makna hidup. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO), konsumerisme simbolik, dan budaya hedonisme digital yang dipicu oleh platform media sosial terbukti secara empiris berkontribusi terhadap peningkatan stres, kecemasan, dan Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai8Ai depresi di kalangan generasi muda. Hasil survei global yang dilakukan oleh UNICEF . terhadap lebih dari 22. 000 remaja dari 21 negara menunjukkan bahwa 56% responden mengalami perasaan cemas atau tidak cukup baik . setelah melihat konten media sosial tentang kehidupan teman sebaya yang tampak sempurna, seperti liburan mewah, pencapaian akademik, atau relasi romantis. Fenomena ini dikenal sebagai social comparison distress, yang secara signifikan berkorelasi dengan penurunan harga diri dan peningkatan gejala depresi ringan, sedang, hingga tinggi. Berikutnya, hasil penelitian The Lancet Child & Adolescent Health . menyajikan fakta, bahwa remaja yang menghabiskan waktu 3 jam per hari di media sosial 34% memiliki risiko gejala depresi lebih tinggi. Studi longitudinal The Lancet yang melibatkan 12. 000 partisipan usia 13Ae18 tahun di enam negara, termasuk di Indonesia. Turki, dan Mesir. Studi ini juga mengungkap bahwa FOMO menjadi pemicu gangguan kesehatan mental generasi muda. Remaja yang melaporkan gejala FOMO cenderung merasa tertekan untuk selalu online, merasa cemas jika tidak segera membalas pesan, dan merasa hidup mereka AotertinggalAo dibandingkan teman sebayanya (Kelly et al. , 2. Dalam konteks konsumerisme dan hedonisme digital, hasil penelitian Common Sense Media . menunjukkan, 72% remaja Muslim di Amerika Serikat dan Eropa merasa tertekan untuk membeli produk tertentu agar diterima dalam komunitas maya, terutama terkait fasyen islami. Fenomena ini menciptakan halal consumerismAikonsumerisme yang dikemas dalam bingkai religius, yang mengukuhkan kompetisi sosial. Di Indonesia, survei Mizan Institute . 200 pelajar dan mahasiswa Muslim di 5 kota besar Indonesia (Jakarta. Bandung. Surabaya. Yogyakarta. Makassa. menunjukkan bahwa: 68% mahasiswa dan pelajar mengaku sering membandingkan dirinya dengan konten religius di media sosial, 44% merasa perlu membeli produk tertentu . ijab, buku, aksesor. agar dianggap Aoshalih secara sosialAo, dan 39% mengalami stres karena tidak mampu mengikuti tren gaya hidup muslim yang fenomena ini dianggap sebagai Aoreligiosity as performanceAo yang terkait dengan munculnya fenomena spiritual insecurity di kalangan muda. Selain itu, budaya hedonisme digital yang menyamar sebagai Aocara hidup bahagiaAo juga menjadi ancaman terselubung. Banyak konten media sosial yang menampilkan narasi Aonikmati hidupAo. Aoself-love dulu sebelum ibadahAo, atau AoAllah sayang kamu yang bahagiaAoAitanpa konteks teologis yang seimbang. Penelitian dari Institute for Islamic Psychological Studies (IIPS, 2. di Malaysia menemukan bahwa remaja yang terpapar pesan hedonistik-religius ini cenderung mengalami konflik batin antara keinginan untuk menikmati dunia dan rasa bersalah karena merasa Aokurang ibadahAo, yang pada akhirnya memicu existential anxiety dan moral distress. Studi ini menyimpulkan, tanpa arahan spiritual yang kontinyu, generasi muda rentan terjebak dalam siklus konsumsi, pencitraan, dan kecemasan eksistensial. Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai9Ai Temuan-temuan hasul riset di atas menunjukkan, media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi mesin pembentuk nilai, identitas, dan kesejahteraan psikologis. Dalam konteks Islam, hal ini menegaskan urgensi tazkiyatun nafs sebagai benteng spiritual yang melindungi jiwa dari arus budaya yang mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia. Ketika dunia maya . igital platfor. menawarkan validasi sesaat melalui likes dan followers, tazkiyatun nafs mengajarkan bahwa ketenangan sejati hanya ditemukan dalam qurAoul qulub bi dzikrillah . etenangan hati dengan mengingat Alla. Aisebuah ketahanan batin yang lebih kokoh dari fluktuasi dunia maya. Ironisnya, dalam konteks keislaman, generasi muda sering kali diberi beban tambahan: mereka diharapkan menjadi AoMuslim idealAoAishalih secara spiritual, taat dalam menjalankan ibadah, berprestasi secara akademik dan prefesional, dan menjadi panutan di lingkungan sosialAitanpa disediakan bekal psikologis dan spiritual yang memadai untuk menghadapi tekanan tersebut. Akibatnya, banyak dari mereka yang mengalami spiritual burnout, moral injury, atau bahkan kehilangan koneksi dengan agama karena merasa tidak pernah cukup baik. Fenomena ini menunjukkan ada dikotomi antara spiritualitas formal dan kesejahteraan jiwa, di mana praktik keagamaan justru menjadi sumber stres, bukan menjadi sumber ketenangan. Salah satu akar masalah utama dalam pembinaan generasi muda Islam adalah terinstrumentalisasinya spiritualitas. Dalam banyak konteks pendidikan dan sosial keagamaan, ibadah dan amal-shalih sering kali dipahami secara transaksional: shalat untuk menghindari azab, puasa untuk mendapat pahala, sedekah agar rezeki lancar. Pendekatan seperti ini, meskipun tidak salah secara syariah, berpotensi mereduksi kedalaman spiritual menjadi ajang mekanisme pertukaran, bukan transformasi jiwa. Di ranah psikologi agama, hal ini dikenal sebagai extrinsic religiosityAiorientasi religiusitas pada manfaat eksternal, bukan manfaat internal . ertumbuhan keimanan dan ketaqwaa. (Allport, 1. Generasi muda yang dibesarkan dalam lingkungan seperti ini sering kali kehilangan makna . ense of meanin. ketika harapan ideal-transaksional tidak Misalnya, seorang remaja yang rajin shalat dan mengikuti pengajian namun tetap mengalami kegagalan akademik atau penolakan sosial bisa jatuh ke dalam keputusasaan, dengan pertanyaan: AuMengapa aku tetap menderita padahal aku taat?Ay Pertanyaan reflektif semacam ini, jika tidak direspons dengan pendekatan holistik, dapat memicu krisis iman dan gangguan mental. Di sinilah peran tazkiyatun nafs menjadi sangat krusial. Berbeda dengan pendekatan transaksional, tazkiyatun nafs menekankan proses transformasi internal yang berkelanjutanAibukan hanya tentang apa yang dilakukan, tetapi bagaimana dan mengapa dilakukan. Sebagaimana ditegaskan Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, tujuan utama ibadah bukan hanya pahala, tetapi maAorifatullah . engenalan kepada Alla. dan tazkiyah an-nafs . ensucian jiw. Proses ini menuntut refleksi, introspeksi, dan perjuangan ekstra melawan hawa nafsuAiunsur yang justru hilang dalam spiritualitas yang terinstrumentalisasi. Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai 10 Ai Media Sosial dan Krisis Identitas Diri Fenomena kontemporer lain yang memperparah krisis kesejahteraan psikologis adalah dominasi media sosial. Platform digital seperti Instagram. TikTok, dan X (Twitte. telah menjadi arena pertarungan identitas, di mana generasi muda terus-menerus membandingkan diri dengan citra ideal yang diproyeksikan oleh orang lain. Studi yang dilakukan oleh Primack et al. menunjukkan: ada korelasi positif antara penggunaan media sosial intensif dan peningkatan risiko depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri. Bagi generasi muda Muslim, tekanan ini semakin kompleks karena mereka juga harus menavigasi dualitas identitas: antara menjadi AoMuslim yang baikAo dan Aoanak muda yang up dateAo. Banyak dari mereka yang merasa harus membangun citra AoMuslim kerenAoAiyang bisa bersaing di dunia profesional, aktif di media sosial, tetapi tetap terlihat shalih. Akibatnya, muncul fenomena Aogaya hidup halalAo . alal lifestyl. yang lebih menekankan estetika daripada etika Islam: hijab yang fashionable, konten dakwah yang viral, dan ibadah yang Dalam konteks ini, ikhlasAikemurnian niat atau ketulusan hatiAi menjadi sangat rentan tergerus. Namun, justru di tengah krisis ini, tazkiyatun nafs menawarkan solusi radikal: kembali ke dalam . nward lookin. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual . piritual journe. dimulai dari pembebasan diri dari pandangan manusia . ida al-na. menuju keridhaan Allah . ida Alla. Konsep ini sangat relevan sebagai penangkal . terhadap budaya pop media sosial. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah . AuBarangsiapa manusia ridha dengan murka Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusiaAy. Kalimat ini tak cuma bermakna warning teologis, tetapi juga diagnosis psikologis, dimana ketergantungan manusia pada Aopengakuan sosialAo menjadi sumber utama kecemasan eksistensial . asa khawatir berlebihan tentang hidup atau kematia. Pendidikan Islam yang Belum Menjawab Kebutuhan Jiwa Sistem pendidikan IslamAibaik yang besifat formal maupun non-formalAi juga ikut berkontribusi terhadap krisis ini. Banyak lembaga pendidikan Islam masih berfokus pada aspek kognitif dan ritual, seperti lebih mengutamakan hafalan Al-QurAoan, penguasaan fiqih, dan kedisiplinan ibadah. Meski aspek kognitif dan ritual sangat penting, namun aspek afektif dan psikologisAiseperti pengelolaan emosi, regulasi stres, dan pembentukan identitas spiritualAisering kali terabaikan. Akibatnya, banyak generasi muda memiliki pengetahuan agama yang cukup, namun tidak dibarengi dengan kemampuan psikospiritual untuk menghadapi berbagai tantangan dan tekanan hidup. Padahal, dalam tradisi Islam klasik, pendidikan jiwa . arbiyatun naf. bukan sekadar materi pelengkap, melainkan inti utama dari seluruh proses pembelajaran dan transformasi perjalanan hidup manusia. Berbeda dengan model pendidikan modern yang cenderung bias dan reduksionisAimemisahkan pengetahuan dari moral, kognisi dari emosi, dan ilmu dari amalAipara ulama klasik justru memandang pendidikan sebagai proses holistik dengan target Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai 11 Ai utama membentuk insan kamil . anusia paripurn. , yakni individu yang antara akal, hati, dan perilaku mampu berjalan seimbang. Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan bukanlah komoditas netral, melainkan sarana determinasi dan intervensi nilai untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mensucikan jiwa dari sifat-sifat tercela, seperti riyaAo, hasad, ujub, dan tamak. Para pemikir besar Islam, seperti al-Farabi . 950 M), telah menempatkan tadbir al-nafs . engelolaan jiw. sebagai fondasi dari siyasah madaniyyah . olitik kota idea. , di mana keadilan sosial dimulai dari keadilan dalam diri individu. Baginya, masyarakat yang baik hanya mungkin terwujud jika warganya telah melalui proses kultivasi moral dan intelektual yang mendalam. Sementara itu. Ibnu Sina (Avicenn. dalam karyanya Al-Mantiq dan Al-Najat menekankan pentingnya pendidikan emosional dan psikologis sejak usia dini, termasuk pengenalan terhadap sifat-sifat jiwa dan cara mengendalikannya. Namun, tokoh yang paling sistematis dalam mengintegrasikan pendidikan jiwa ke dalam kurikulum keislaman adalah Imam al-Ghazali . 1111 M). Dalam Ihya Ulumuddin. Imam al-Ghazali secara eksplisit menyatakan bahwa tujuan utama ilmu bukanlah untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dan mengubah perilaku. Ia membagi ilmu menjadi dua kategori: Aoilmun yanfaAou . lmu yang bermanfaa. dan Aoilmun la yanfaAou . lmu yang tidak bermanfaa. Yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat bukanlah ilmu yang hanya menghafal dalil atau menguasai gramatika Arab, melainkan ilmu yang mampu menyentuh hati, menggerakkan jiwa, dan mendorong seseorang pada taqwa dan akhlak mulia. Sebaliknya, ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang hanya berhenti pada lisan, tanpa meresap ke dalam hati dan tidak mengubah cara hidupAiseperti debat teologis yang memicu permusuhan, atau hafalan hadis tanpa pemahaman makna dan tujuan. Lebih jauh. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa hati . adalah raja dalam tubuh, dan seluruh anggota badan adalah bawahannya. Jika hati sehat, maka seluruh tubuh akan sehat. jika hati rusak, maka kerusakan akan menyebar ke segala aspek kehidupan . l-Ghazali, 2. Dalam konteks pendidikan, ini berarti bahwa tanpa pemeliharaan jiwa dan penyucian hati, semua ilmu yang diperoleh akan kehilangan fungsinya sebagai AonurAo . dan berubah menjadi beban atau alat pamer. Oleh karena itu, dalam kurikulum madrasah atau pondok pesantren klasik, selain pelajaran fikih, tafsir, dan bahasa, terdapat pula mata pelajaran akhlak, suluk, dan riyadhatun nafsAi latihan spiritual yang dirancang untuk membentuk ketahanan batin, kesabaran hati, dan ketulusan niat. Sayangnya, dalam sistem pendidikan Islam kontemporer, warisan pedagogis ini banyak yang terabaikan. Fokus dominan pada aspek kognitif dan hafalanAidiperparah oleh budaya ujian, ranking, dan sertifikasiAitelah menggeser perhatian dari dimensi afektif dan spiritual. Akibatnya, muncul fenomena yang disebut Aokealiman tanpa ketakwaanAo atau Aoilmu tanpa hikmahAo, di mana seseorang bisa fasih berbicara tentang surga dan neraka, tetapi Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai 12 Ai hidupnya penuh dengan stres, amarah, dan kecemasan. Padahal, seperti ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. AuAku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang muliaAy (HR. Bukhar. , bukan sekadar mengajarkan hukum atau ritual. Dengan demikian, pemulihan konsep tarbiyatun nafs bukanlah sekadar nostalgia terhadap model pendidikan Islam masa lalu, tetapi saat iniAidi era maraknya krisis mental dan spiritual manusia modernAimenjadi kebutuhan Model pendidikan Islam yang autentik harus kembali memosisikan penyucian jiwa sebagai poros, bukan hilir kajian. Hanya dengan pendekatan seperti ini, generasi muda Islam dapat tumbuh tidak hanya sebagai individu yang cerdas, tetapi juga sebagai pribadi yang tangguh, seimbang, dan tenang di tengah gejolak dan tututan zaman yang kian disruptif. Untuk itu, ke depan, diperlukan reorientasi, revitalisasi, dan reaktualisasi pendidikan Islam yang mampu mengintegrasikan tazkiyatun nafs ke dalam kurikulum inti, bukan sebagai materi ajar parsial. Misalnya, materi muhasabah harian, mujahadah nafs, atau dzikrullah bisa dikreasi menjadi modul bimbingan spiritual yang sistematis. Di Pesantren Tebuireng dan Pesantren Gontor sudah mulai muncul inisiatif, seperti program retret spiritual, konseling al-QurAoan, dan program pengembangan diri yang mengintegrasi pendekatan psikologi dan pendekatan tasawuf. Namun, inisiatif dari kedua pesantren itu masih bersifat parsial, marjinal, dan sporadis. belum menjadi role model berstandar nasional di seluruh Pondok Pesantren. Menuju Pemulihan Jiwa: Tazkiyatun Nafs Sebagai Terapi Holistik Di tengah krisis kesehatan mental yang kian meluas, tazkiyatun nafs dapat dipandang sebagai model terapi holistik yang mengintegrasikan dimensi spiritual, emosional, dan kognitif. Berbeda dengan terapi Barat yang seringkali memisahkan jiwa dari Tuhan, tazkiyatun nafs menawarkan pendekatan berbasis tauhid, di mana kesejahteraan jiwa dan kesehatan mental manusia tidak terlepas relasinya dengan AokehendakAo Sang Pencipta. Secara konseptual, praktik tazkiyatun nafs menunjukkan adanya afinitas epistemologis dan fungsional dengan sejumlah pendekatan terapi psikologis kontemporer, sehingga memungkinkan terjadinya dialog interdisipliner antara spiritualitas Islam dan ilmu psikologi. Pertama, muhasabahAisebagai proses refleksi kritis atas niat, pikiran, dan tindakanAimemiliki paralelisme struktural dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), khususnya dalam mekanisme cognitive restructuring yang bertujuan mengidentifikasi dan mentransformasi pola pikir disfungsional menjadi adaptif. Kedua, tawakkal, yang menekankan penerimaan atas ketentuan Ilahi setelah berusaha maksimal, selaras dengan prinsip Acceptance and Commitment Therapy (ACT), yaitu penerimaan terhadap ketidakpastian hidup sambil tetap berkomitmen pada nilai-nilai hidup yang bermakna. Ketiga, dzikrullahAisebagai latihan kesadaran akan kehadiran AllahAiberkorespondensi dengan mindfulness-based interventions, yang mengembangkan perhatian penuh . resent-moment awarenes. untuk Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai 13 Ai mengurangi kecemasan dan menata regulasi emosional. Keempat, taubat dapat dipahami sebagai bentuk narrative therapy, di mana individu merekonstruksi narasi diri dari Auaku yang gagalAy . menjadi Auaku yang kembali dan berkembangAy. , sehingga mampu melecut harga diri dan harapan. Dari perspektif metodologis, keselarasan ini tidak hanya menunjukkan relevansi empiris tazkiyatun nafs, tetapi juga keterukurannya melalui indikator psikologisAiseperti penurunan kecemasan, peningkatan self-efficacy, dan penguatan makna hidup. Lebih dari sekadar intervensi simtomatik, tazkiyatun nafs menawarkan pendekatan holistik-transformatif yang menyasar akar ontologis penderitaan psikologis: kesakitan jiwa . akibat keterpisahan dari fitrahAikeselarasan eksistensial dengan hakikat penciptaan manusia sebagai hamba Allah. Dengan demikian, tazkiyatun nafs tak hanya kompatibel dengan psikologi modern, melainkan juga memperkaya paradigma terapeutik dengan dimensi spiritual-transendental yang sering kali absen dalam model sekuler. Untuk merespons krisis ini, kajian melihat perlunya pendekatan sistemikkomprehensif yang melibatkan empat pilar utama. Pertama, peran institusi pendidikan Islam, terutama untuk mengintegrasikan modul tazkiyatun nafs dalam kurikulum sekolah dan pesantren dan melatih guru/ustadz dalam dasar-dasar psikologi dan konseling berbasis nilai-nilai Islam. Kedua, peran layanan konseling Islam yang terampil dan aplikatif mengintegrasi pendekatan psikologis modern dan spiritual Islam. Ketiga, mereduksi wajah dan retorika keagamaan yang menakutkan . eperti diksi Aodosa besarAo. Aoazab nerakaAo, atau Aosiksa kuburA. dan menggantinya dengan diksi yang lebih menenangkan, seperti Aorahmatan lil AoalaminAo. Aoberkasih sayangAo, dan Aomenerima taubatAo. Mendorong kajian Islam mengutamakan bahasan isu-isu kontemporer, seperti stres, kecemasan, atau krisis identitas, dengan pendekatan Al-QurAoan dan Keempat, membiasakan praktik muhasabah dan dzikr harian sebagai bentuk perawatan jiwa, dan membangun budaya keluarga yang mendukung ekspresi emosional dan refleksi spiritual, disamping ketaatan ibadah formal. Hasil bahasan dan temuan kajian di atas faktual telah memberi penegasan bahwa spiritualitas Islam bukan hanya pelengkap, tetapi inti dari ketahanan Berbeda dengan pendekatan psikologi sekuler yang sering mengabaikan dimensi transenden, tazkiyatun nafs menawarkan fondasi yang kokoh karena berakar pada relasi vertikal antara manusia-sang Pencipta . ablum minalla. Studi ini juga menjawab kritik terhadap pendidikan Islam yang terlalu fokus pada aspek kognitif . afalan, fiqi. tanpa memperhatikan dimensi afektif dan psikologis dalam pendidikan Islam. Dengan mengintegrasikan tazkiyatun nafs, institusi pendidikan Islam dapat menciptakan generasi yang tidak cuma alim, tetapi juga tangguh secara mental-emosional. Lebih dari itu, kajian ini juga menunjukkan, bahwa konsep tasawuf klasik, beradsarkan hasil analisis, relevan sebagai sarana terapi modern . odern therapy too. , asalkan konsep tasawuf diinterpretasikan secara utuh-integratif dalam konteks kehidupan kontemporer. Misalnya, mujahadah bisa diterapkan dalam Daffa Shilbi. Afkar Khaibar Alfaruqi. Fazlur Faladz Al Farabi. Launa Ai 14 Ai melawan kecanduan media sosial, sementara muhasabah bisa menjadi alat refleksi harian bagi pelajar dan mahasiswa. Temuan menarik lainnya adalah, bahwa sikap ikhlasAiyang sering dianggap sebagai konsep spiritual murniAiternyata memiliki dampak langsung terhadap kesehatan mental. Generasi muda yang beramal dengan ikhlas cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah karena mereka tidak terjebak dalam validasi sosial atau kompetisi semu, yang ujungnya cuma mememicu lahirnya sifat narsisme, eksistensialisme semu, hedonisme, dan konsumerisme. SIMPULAN Tazkiyatun nafsAiatau penyucian jiwa menurut ajaran IslamAibukan hanya praktik spiritual, tetapi juga kerangka teoretis yang relevan untuk membangun resiliensi generasi muda Islam. Lewat lima pilar utamaAitaubat, mujahadah, muhasabah, tawakkal, dan ikhlasAitakziyatun nafs menawarkan pendekatan holistik yang memadukan ketahanan mental-emosional-spiritual. Perjalanan dari nafs ammarah menuju nafs mutmaAoinnah . enukil ide Imam al-Ghazal. mencerminkan proses transformasi diri yang relevan dengan tantangan psikologi kontemporer: kecemasan, ketidakpastian, dan krisis identitas. Agar memiliki relevansi teoritis dan empiris, studi ini merekomendasi dua hal berikut. Pertama, implikasi teoritis. Studi ini telah berupaya menautkan kajian psikologi modern dengan tazkiyatun nafs sebagai kerangka spiritual Islam . ecara holisti. , sebagai alternatif terhadap model kajian resiliensi Barat yang cenderung sekuler-individualistik. Studi ini juga memperkaya wacana tasawuf kontemporer dengan merelasi konsep klasik . eperti nafs ammarah hingga mutmaAoinna. ke isu-isu psikologi kontemporer, sehingga menunjukkan relevansi ajaran tasawuf dalam ilmu sosial-humaniora seperti psikologi. Kedua, implikasi praktis. Studi ini mengusulkan empat rekomendasi berikut: . integrasi sistematis tazkiyatun nafs dalam kurikulum pendidikan Islam. pengembangan program kepemudaan berbasis praktik spiritual, seperti muhasabah dan retret. penelitian empiris untuk menguji efektivitas model iniAibaik secara teoritis-konseptual maupun secara empiris-aktualkontekstual. kolaborasi antara ulama, pendidik, dan psikolog dalam merancang intervensi akademis isu kesehatan mental berbasis nilai-nilai Islam dan psikologi modern. Dengan demikian, tazkiyatun nafs dapat menjadi fondasi strategis bagi pembentukan mental-spiritual generasi muda Muslim yang resilien, seimbang, dan berakar pada fitrah spiritualnya. DAFTAR PUSTAKA