Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika e-ISSN: 2621-8135 Terakreditasi No: 79/E/KPT/2023 (Sinta . http://w. stt-tawangmangu. id/e-journal/index. php/fidei p-ISSN: 2621-8151 Vol. 8 No. 2 (Des. hlm: 221-237 DOI: https://doi. org/ 10. 34081/fidei. Diterbitkan Oleh: Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu Penghakiman bagi Perusak Bumi: Tinjauan Teologi Ekologis dalam Wahyu 11:18 dan Implikasinya bagi Pendidikan Kristen Anak di Gereja Daud Darmadi. * . Sekolah Tinggi Teologi Adhi Wacana Surabaya. Indonesia *) Email: dauddarmadi79@gmail. Diterima: 27 Feb. Direvisi: 04 Agustus 2025 Disetujui: 08 Agustus 2025 Abstract The escalating degradation of the earth demands early environmental stewardship, which should be instilled through Christian education for children. However, church-based Christian education curricula often lack integrated content on environmental sustainability. The decreasing engagement of children with nature contributes to a generation less concerned with the care of creation. This study aims to explore the concept of ecological theology based on Revelation 11:18 and examine its relevance to childrenAos Christian education. The research employs a hermeneutical approach to the biblical text and a qualitative descriptive analysis of educational practices within the church. The findings reveal three key insights. First. Revelation 11:18 highlights a sharp contrast between those who faithfully fulfill God's mandate and those who destroy the earth. in the final judgment. God rewards those who care for the earth and punishes its destroyers. Second, environmental stewardship is an expression of faithful obedience and a reflection of human nature as the imago Dei, participating in the restoration of creation. Third, childrenAos Christian education plays a strategic role in shaping ecological awareness through faith-based curricula and sustainable environmental projects. This study concludes that integrating ecological theological values into childrenAos Christian education is essential. Churches must develop curricula that instill responsibility to care for and restore creation in accordance with GodAos will. Keywords: Christian Education for Children. Destroyer of The Earth. Environmental Steward. God's Mandate. Guardian of Creation. CopyrightA2025. Daud Darmadi. Lisensi karya ini di bawah: Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. | 221 Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Abstrak Kerusakan bumi yang semakin masif menuntut upaya pelestarian lingkungan yang ditanamkan sejak dini melalui pendidikan Kristen anak. Namun, kurikulum pendidikan Kristen di gereja masih kurang mengintegrasikan materi mengenai kelestarian lingkungan. Aktivitas anak yang semakin minim di alam turut membentuk generasi yang kurang peduli terhadap keberlanjutan ciptaan. Penelitian ini bertujuan menggali konsep teologi ekologis berdasarkan Wahyu 11:18 dan mengkaji relevansinya bagi pendidikan Kristen anak. Metode yang digunakan adalah hermeneutik terhadap teks Alkitab serta analisis deskriptif kualitatif terhadap praktik pendidikan anak di gereja. Hasil penelitian menunjukkan: Wahyu 11:18 menegaskan kontras antara mereka yang setia menjalankan mandat Allah dan yang merusak bumi. Allah memberikan upah kepada yang memelihara bumi dan menghukum perusaknya pada hari penghakiman. Kedua, pemeliharaan lingkungan merupakan wujud kesetiaan iman dan refleksi natur manusia sebagai gambar Allah yang turut serta dalam pemulihan ciptaan. Ketiga, pendidikan Kristen anak berperan strategis dalam membentuk kesadaran ekologis melalui kurikulum berbasis iman dan proyek lingkungan berkelanjutan. Simpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai teologi ekologis dalam pendidikan Kristen anak. Gereja perlu menyusun kurikulum yang menanamkan tanggung jawab untuk menjaga dan memulihkan ciptaan sesuai kehendak Allah. Kata-Kata Kunci: Mandat Allah. Pemelihara Lingkungan. Penjaga Ciptaan. Pendidikan Kristen Anak. Perusak Bumi. Pendahuluan Karya penebusan Kristus tidak hanya terbatas pada keselamatan manusia secara individu, melainkan mencakup keselamatan seluruh ciptaan, termasuk alam Kitab Wahyu menyatakan bahwa langit dan bumi yang ada saat ini akan Tuhan akan menghadirkan langit dan bumi yang baru bagi umat Dua pandangan teologis utama tentang hal ini adalah pandangan anihilasi, yang percaya bahwa langit dan bumi saat ini akan lenyap dan digantikan oleh ciptaan yang sepenuhnya baru, dan pandangan restorasi, yang melihat pemulihan sebagai keberlanjutan dari ciptaan yang ada. Aliran anihilasi cenderung memandang bahwa langit dan bumi yang ada saat ini akan lenyap dan digantikan dengan yang sepenuhnya baru, 1 yang sering kali mengarah pada pengabaian tanggung jawab ekologis. 2 Pandangan ini mengutamakan pewartaan Injil kepada Tim Lahaye. Penyingkapan Kitab Wahyu (Batam: Gospel Press, 2. Sabda Budiman. AuKritik terhadap pandangan anihilasi dan implikasinya dalam hidup orang percaya masa kini,Ay KALUTEROS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 2, no. : 12Ae26. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. A(Petrus Yuniant. kepedulian terhadap seluruh ciptaan, termasuk alam yang juga ( Santy Sahartia. dari mandat Tuhan kepada manusia. Isu kerusakan lingkungan menjadi persoalan global yang sangat mendesak, ditandai oleh berbagai bentuk kerusakan seperti deforestasi, polusi industri, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, perubahan iklim, kepunahan spesies, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Semua ini sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak terkontrol dalam mengejar kesejahteraan, seperti penambangan, pembukaan lahan, dan pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan lingkungan. Kondisi ini dapat mengancam kelangsungan hidup manusia, serta menimbulkan tantangan moral dan teologis, khususnya bagi gereja dan praksis pendidikan Kristen. 3 Dalam menghadapi dilema etis ini, penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia atas ciptaan Allah, sebagaimana Allah menempatkan manusia di Taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya (Kej. Gereja, baik secara universal, lokal, maupun individu, memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai pemeliharaan lingkungan melalui pendidikan Kristen, terutama kepada anak-anak. Dalam konteks kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan, mandat ini semakin relevan dan mendesak untuk diajarkan kepada anak-anak. Guru, sebagai pelaksana kurikulum pendidikan Kristen di gereja dapat mengajar dan menanamkan pemahaman bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab spiritual dan teologis. Pada masa sekarang ini kegiatan anak di luar ruangan yang menyatu dengan alam semakin semakin berkurang. Mereka lebih sering di dalam rumah, bermain gadget, untuk mengisi waktu luangnya. Dimana salah satu dampak negatif penggunaan gadget adalah kurangnya interaksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam. 5 Beberapa studi sebelumnya telah membuka jalan bagi pendekatan ini. Gule menekankan konsep eduekologi dalam pendidikan Kristen yang mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam kurikulum dan pembentukan Jefri Hina Remi Katu. AuTeologi Ekologi : Suatu Isu Etika Menuju Eskatologi Kristen,Ay CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika 1, no. : 65Ae85. Hendrico Xanana Siwy dan Stimson Hutagalung. AuMemelihara Surga Bumi: Analisis Persepsi Gereja terhadap Ekoteologi melalui Sudut Pandang Kejadian 2:15,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 6, no. : 148Ae63, doi:10. 59177/veritas. Belinda Mau dan Jenny Gabriela. AuDampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Perilaku Anak Remaja Masa Kini,Ay Excelsis Deo: Jurnal Teologi. Misiologi, dan Pendidikan 5, no. : 99Ae110, doi:10. 51730/ed. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. karakter murid secara eko-teosentris. 6 Sementara itu. Samosir dan Boiliu menyoroti pentingnya peran keluarga, gereja, dan sekolah dalam membentuk kesadaran ekologis melalui keteladanan dan praktik konkret dalam kehidupan sehari-hari. 7 Penelitian ini berbeda dengan dengan penelitian sebelumnya karena bermaksud untuk menajamkan makna Wahyu 11:18 dalam merumuskan strategi pendidikan Kristen yang mampu menanamkan kesadaran dan tanggung jawab ekologis kepada anak-anak sejak dini. Memberikan kontribusi baru dalam diskursus ekoteologi, sekaligus menawarkan pendekatan praktis bagi gereja dan pendidik Kristen dalam membentuk generasi yang bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggabungkan pendekatan eksegesis dan deskriptif-kualitatif secara terintegrasi. 8 Pendekatan eksegesis digunakan pada tahap awal untuk menjelaskan makna Wahyu 11:18, khususnya frasa Aumembinasakan barang siapa yang membinasakan bumi,Ay dengan mempertimbangkan konteks bahasa, budaya, dan historis teks. Metode eksegesis ini bertujuan menggali makna teologis-ekologis yang menjadi dasar konseptual penelitian serta menjembatani pemahaman teks dengan praktik pendidikan Kristen anak di gereja. Setelah makna teks diperoleh, metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk mengkaji, menyusun, dan menyajikan temuan secara sistematis. Metode ini diterapkan untuk menganalisis data dari berbagai sumber literatur yang mengacu pada teori-teori ekoteologi dan pendidikan Kristen. Hasil eksegesis teks dipadukan dengan data literatur untuk membangun kerangka konseptual mengenai bagaimana kesadaran ekologis anak dapat dibentuk melalui pendidikan Kristen. Hasil dan Pembahasan Dalam kitab Wahyu 11:18, dinyatakan bahwa Allah akan "membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi. " Ayat ini memberikan perspektif eskatologis bahwa bumi yang dirusak akan dipulihkan oleh Allah, namun manusia Yosefo Gule. AuKonsep Eduecologi dalam Pendidikan Agama Kristen Konteks Sekolah,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 3, no. : 181Ae201, doi:10. 34081/fidei. Christina Metallica Samosir dan Fredik Melkias Boiliu. AuEDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Pendidikan Agama Kristen Sebagai Upaya Menjawab Tantangan Krisis Lingkungan HidupAy 4, no. : 815Ae26. Sonny Eli Zaluchu. AuMetode Penelitian di dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. : 66Ae249. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. jugaA(Petrus memilikiYuniant. kewajiban moral untuk merawat dan menjaga ciptaan-Nya sebelum Santy Sahartia. enghakiman Apabila manusia melalaikan tugas tersebut, dan bahkan dengan tindakan aktif melakukan pengrusakan terhadap bumi akan berhadapan dengan penghakiman Allah. Kontras Tindakan Perusak dan Pemelihara Bumi Konteks dekat Wahyu 11:18 terdapat dalam perikop Wahyu 11:15Ae19 yang menggambarkan peniupan sangkakala ketujuh, pengumuman kemenangan kerajaan Mesias, serta dimulainya penghakiman ilahi. Ayat 15 menyatakan bahwa Kristus akan memerintah selama-lamanya, diikuti dengan sukacita sorgawi dan penghakiman atas umat manusia. Dalam ayat 18, disebutkan kelompok orang yang menerima upah yaitu mereka yang takut akan nama Tuhan, hamba-hamba-Nya, para nabi, dan orang-orang kudus yang mencakup umat percaya dari segala bangsa yang telah dikuduskan oleh karya penebusan Kristus. 9 Gambaran ini senada dengan Mazmur 115:13 dan nubuat Daniel 9, yang menunjukkan kesinambungan antara umat Allah dalam Perjanjian Lama dan Baru. Kelompok pertama ini adalah mereka yang tetap setia dan hidup dalam kebenaran di tengah tekanan sistem dunia yang Sebaliknya, ayat ini juga menyebut kelompok lain, yaitu mereka yang dibinasakan karena telah membinasakan bumi, yakni orang-orang yang hidup bertentangan dengan kehendak Allah dan mengabaikan mandat moral terhadap Kontras ini memperlihatkan pemisahan tegas antara mereka yang hidup dalam kekudusan dan mereka yang mencemari bumi, baik secara fisik maupun Frase "dan untuk membinasakan barang siapa yang membinasakan bumi" teks Yunaninya adalah IAnA EC IAAEC E I. Transliterasi: kai diaphtheirai tous diaphtheirontas tyn gyn. Kata sambung "dan" . menunjukkan hubungan antara tindakan Allah memberikan upah kepada hamba-hamba-Nya dan membinasakan mereka yang merusak bumi. Ini mengindikasikan bahwa kedua tindakan ini merupakan bagian dari penghakiman yang sama. Kata IAnA . adalah kata kerja infinitif aorist aktif dari diaphtheiry (IAAO), yang berarti "membinasakan", "merusak", atau "menghancurkan". Bentuk aorist di sini menunjukkan tindakan yang tuntas, bukan proses yang sedang berlangsung, tetapi peristiwa penghakiman yang definitif dan pasti. Kata IAAEC . adalah partisip aktif maskulin akusatif jamak dari kata yang sama De Heer. Wahyu kepada Yohanes (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Peter Wongso. Eksposisi Doktrin Alkitab: Kitab Wahyu (Malang: Literatur SAAT, 1. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. diaphtheiry (IAAO), yang berarti "mereka yang merusak" atau "yang sedang Partisip ini menunjukkan tindakan yang sedang berlangsung, yaitu, mereka yang terus merusak bumi. Jadi Allah akan membinasakan . mereka yang merusak . Dalam pandangan Heer, kata diaphtheiro mengandung makna ganda, yakni secara moral sebagai ketidakbertanggungjawaban manusia terhadap bumi dan secara harfiah sebagai penindasan dan kekerasan terhadap sesama dan ciptaan lainnya. Ada keterkaitan menarik antara kehidupan beriman kepada Yesus dengan tindakan untuk menjaga bumi. Tindakan iman dalam keseharian adalah suatu tindakan nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dalam teologi mistik kosmik St. Fransiskus menganggap bahwa manusia memiliki hubungan persaudaraan dengan segala ciptaan, yang berakar pada sakramentalitas ciptaan. Hal ini membawa pada pemahaman bahwa semua makhluk adalah sesama ciptaan dalam keluarga yang satu dari Sang Pencipta. 12 Seluruh alam semesta sebagai ekosistem harmonis, di mana manusia dan ciptaan lain saling terhubung dalam keutuhan dan nilai yang setara, dengan demikian akan terjadi hubungan yang saling menjaga. Ketika manusia menjaga bumi, maka bumi akan AomenjagaAo manusia. Gereja dan setiap orang percaya dapat berperan dalam menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari, seperti hemat energi, mengelola sampah, dan mendukung kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. Keadilan Allah dalam Menegakkan Penghakiman atas Perusak Bumi Konteks jauh Wahyu 11:18 berkaitan erat dengan tema besar kitab Wahyu dan narasi Alkitab secara keseluruhan, yakni kemenangan Kristus sebagai penguasa tertinggi yang datang untuk menegakkan kerajaan kekal-Nya dan menghakimi Bahasa simbolis kitab Wahyu menegaskan konflik antara kuasa Kristus dan kekuatan jahat, serta berakhir dengan penghakiman bagi yang menolak otoritasNya, 13 termasuk mereka yang merusak bumi. Frasa AuAllah telah datangAy menandakan bahwa pemerintahan Allah kini berlaku secara penuh dan nyata, dan saat itulah bangsa-bangsa dihakimi serta orang percaya menerima upah. Kerusakan terhadap bumi adalah bentuk pelanggaran serius terhadap mandat ilahi sejak Kejadian 2:15, sehingga menjadi bagian dari alasan penghakiman. Dosa De Heer. Wahyu kepada Yohanes. Peter C. Aman. AuTeologi Ekologi dan Mistik-Kosmik St. Fransiskus Asisi,Ay Diskursus Jurnal Filsafat Dan Teologi Stf Driyarkara 15, no. : 188, doi:10. 26551/diskursus. Lahaye. Penyingkapan Kitab Wahyu. Donald Guthrie dan Et. Tafsiran Masa Kini 3 (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. A(Petrus Yuniant. ciptaan adalah pemberontakan, kejahatan moral dan spiritual ( akan Santydiadili Sahartia. Allah secara adil. Pesan dari kitab Wahyu dalam konteks ini adalah menyatukan pesan tentang tanggung jawab manusia, keadilan Allah, dan pemulihan akhir ciptaan, yang akan digenapi dalam langit dan bumi yang baru (Why. 15 Dalam problematika dogmatik tentang apakah bumi ini akan diperbarui atau bahwa ada diciptakan suatu bola bumi baru yang sama sekali baru, peneliti memilih untuk beranggapan bahwa bumi yang ada sekarang ini tetap ada tetapi diperbarui. Sebab seandainya diciptakan bumi baru maka ciptaan pertama Allah haruslah disebutkan gagal untuk selamanya. Dalam konteks ini kitab Wahyu tidak menjelaskan dengan rinci, gambarannya lebih mengarah kepada suatu keadaan dimana Allah sedang mengerjakan suatu keadaan yang sangat baru. Selanjutnya, konteks peperangan rohani di kitab Wahyu, yang semakin intens sejak Wahyu 12, memberikan kerangka yang lebih luas bagi interpretasi Wahyu 11:18, dimana pengrusakkan bumi dapat ditafsirkan sebagai akibat dari kekuatan jahat yang melawan Allah. Hal ini nampak dalam penciptaan kembali bumi yang pertama, dalam narasi Kejadian 1, dimana bumi pada awalnya gelap gulita sebagai tindakan iblis yang telah dijatuhkan ke bumi. Jadi kekuatan jahat dari iblis mempengaruhi manusia untuk mengadakan pengrusakan masif terhadap bumi sampai kepada akhir zaman. Penggambaran dalam Kitab Wahyu menunjukkan konflik kosmis antara Kristus dan si jahat mencapai puncaknya, yang pada akhirnya para perusak bumi ini akan dibinasakan bersama dengan antikristus. Kejahatan akan mendapat murka sebagaimana diungkapkan dalam berbagai tema apokaliptik dalam kitab Wahyu. Perintah Allah sejak awal sudah sangat jelas bahwa manusia diberi mandat untuk mengelola dan bukannya menghabiskan. Stott, menjelaskan bahwa Allah memberikan manusia kekuasaan atas bumi sebagai kekuasaan yang diberikan, dan terus berkembang, namun selanjutnya bahwa kekuasaan itu dikerjakan dalam kooperatif dengan Allah. Manusia diberikan alam selanjutnya mengelola alam itu dalam pembudidayaan. 19 Jika kekuasaan atas bumi ini adalah mandat yang diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai bentuk kerjasama dengan-Nya dan mempertanggungjawabkan pengelolaan tersebut kepada-Nya. Manusia tidak George Eldon Ladd. Teologi Perjanjian Baru 2 (Bandung: Kalam Hidup, 2. De Heer. Wahyu kepada Yohanes. Lahaye. Penyingkapan Kitab Wahyu. Ladd. Teologi Perjanjian Baru 2. John Stott. Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. memiliki hak untuk memperlakukan lingkungan alam sesuka hati atau bertindak semena-mena terhadapnya. Penguasaan atas bumi tidak sama dengan perusakan. Karena bumi ini dipercayakan kepada manusia, maka pengelolaannya harus dilakukan secara bijaksana dan produktif sejak dini. Pemulihan Ciptaan dalam Bumi Baru: Mandat Memperbaharui Ciptaan Wahyu 11:18 juga mengandung pesan eskatologis bahwa dalam kemenangan Kristus, bumi akan dipulihkan. Dalam konteks dekat Wahyu 11:15-19, sangkakala ketujuh menandai deklarasi bahwa Kerajaan Mesias sudah datang dan akan memerintah selama-lamanya, hal ini mengisyaratkan pemulihan total di bawah pemerintahan Kristus. Ketika penghakiman terakhir tiba, tidak hanya kejahatan akan dimusnahkan, tetapi ciptaan juga akan dipulihkan sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam konteks keseluruhan kitab Wahyu, tindakan merusak bumi dianggap sebagai pengingkaran terhadap perintah Allah, dan konsekuensinya adalah Apner melalui perspektif eko-hermeneutik menjelaskan bahwa istilah tselem Elohim melampaui pandangan hirarkis tradisional yang cenderung menganggap manusia berada di atas ciptaan lainnya. Sebaliknya, manusia dipanggil untuk menjalankan tugas rada . dan kabash . dalam makna pemberdayaan yang penuh kasih, yang bersumber dari berkat Allah yang menciptakan kehidupan secara harmonis. 20 Perspektif ini menuntun manusia sebagai pemulih dan pembaharu atas ciptaan yang terkutuk karena dosa. Jika pada masa yang akan datang Tuhan akan memulihkan bumi secara sempurna, maka manusia pada masa kini, perlu menjadi agen pembaharu alam. Mandat mengelola alam bukan hanya sebatas tidak merusak namun lebih dari itu harus menjadi pembaharu yang dilakukan melalui tindakan nyata Yesus Kristus adalah wujud sejati dari "Gambar Allah," (Kol. 1:15. Ibr. yang menjadi dasar bagi identitas manusia sebagai penatalayan yang mencerminkan kualitas keilahian yang bukan dalam keserupaan fisik, melainkan dalam kapasitas spiritual dan tanggung jawab untuk menjaga dan memberdayakan ciptaan (Rom. Pada masa yang akan datang Kristus akan menegakkan pemerintahan-Nya dan akan memperbaharui bumi, maka menjadi serupa dengan Kristus haruslah diwujudkan dalam tindakan untuk memulihkan kembali bumi yang telah rusak. Dengan demikian, mandat pemeliharaan bumi di sini mencakup Grets Janialdi Apner. AuGereja Eko-Misional: Sebuah Tawaran Teologi Misi Ekologi Berdasarkan Eko-Hermeneutik Terhadap Kejadian 1:27-28 dan 2:15,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 7, no. : 171Ae83, doi:10. 30648/dun. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. A(Petrus Yuniant. lingkungan sebagai bentuk partisipasi dalam rencana Allah. ( Santy Sahartia. Upaya yang bisa dilakukan misalnya adalah melalui reboisasi, pengurangan limbah plastik, dan penerapan teknologi hijau untuk memperbaiki lingkungan yang telah dirusak. Dalam perspektif teologis, upaya-upaya ini bukan hanya tindakan ekologi, tetapi juga perwujudan dari iman yang menghargai ciptaan Allah dan berpartisipasi dalam pemulihan dunia yang telah jatuh. Kritik terhadap Perusakan Bumi Saat Ini Dalam konteks global saat ini, degradasi lingkungan terlihat jelas melalui fenomena-fenomena destruktif seperti deforestasi, pencemaran udara dan air, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta pemanasan global. Setiap tindakan ini merupakan bentuk eksploitasi yang secara langsung merusak alam, yang dalam iman Kristen dipahami sebagai ciptaan Allah yang berharga. Berdasarkan Wahyu 11:18, pengrusakan bumi tidak hanya berdampak ekologis tetapi juga memiliki implikasi moral dan spiritual. Sebagaimana yang sudah dijelaskan bahwa dalam ayat ini Tuhan akan menghukum mereka yang merusak bumi, hal ini memberikan landasan bagi kritik terhadap tindakan destruktif yang bertentangan dengan mandat pemeliharaan bumi yang diberikan kepada manusia. Dalam Wahyu 11:18 kata membinasakan dapat disamakan kata merusak, dengan mengangkat konsep Auperusak bumi,Ay dinilai bahwa ini adalah suatu istilah yang relevan dalam konteks tindakan destruktif modern. Beberapa kategori utama Auperusak bumiAy dapat diidentifikasi dalam aktivitas-aktivitas berikut ini: Deforestasi. Penebangan hutan secara ilegal, terutama di daerah tropis seperti Indonesia, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri kelapa sawit, kertas, dan kayu. Praktik ini mengakibatkan hilangnya habitat satwa liar, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta peningkatan emisi karbon yang memperburuk perubahan iklim. Contoh nyata terjadi di Sumatera dan Kalimantan, di mana deforestasi telah menyebabkan kerusakan habitat bagi spesies endemik seperti orang utan, memicu kebakaran hutan, dan menghasilkan polusi udara yang N Anjelina. Hendro Hariyanto Siburian, dan Yuli Berkatni. AuPeran Gereja dalam Menjaga Kelestarian Ekologi: Menyikapi Kerusakan Hutan Kalimantan oleh Perkebunan Sawit,Ay CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 161Ae74. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. Polusi Industri Polusi yang dihasilkan oleh limbah industri menjadi masalah serius bagi Industri besar sering kali membuang limbah beracun yang mengandung bahan-bahan berbahaya, seperti merkuri dan logam berat, ke sungai dan laut. Limbah ini merusak ekosistem perairan, mencemari udara, dan mengancam kesehatan manusia serta kehidupan satwa. Penelitian yang dilakukan oleh Paundanan dan Anwar menunjukkan adanya pencemaran serius terhadap perairan karena adanya kontaminasi logam berat. Penggunaan Plastik Berlebih Plastik sekali pakai merupakan salah satu tantangan terbesar bagi lingkungan Plastik yang tidak terurai mengalir ke laut, mengancam kehidupan spesies laut seperti penyu dan burung laut. Selain itu juga dapat menutup tunas-tunas mangrove saat air surut, sehingga apabila berlanjut dapat menghambat pertumbuhan mangrove. 23 Akumulasi polusi plastik telah menjadi ancaman jangka panjang bagi ekosistem global dan merupakan salah satu bentuk perusakan bumi yang paling sulit dipulihkan. Eksploitasi Berlebihan terhadap Sumber Daya Alam Tambang-tambang besar dan eksploitasi bahan bakar fosil mempengaruhi ekosistem lokal dengan menimbulkan kerusakan permanen, seperti tanah longsor, pencemaran air, dan perubahan lanskap alami. Kegiatan ini mempercepat degradasi lingkungan dan secara langsung melanggar prinsip pemeliharaan yang diamanatkan oleh Tuhan. Tindakan-tindakan yang merusak lingkungan mencerminkan kegagalan manusia dalam menjalankan tanggung jawab pemeliharaan bumi yang telah diamanatkan oleh Tuhan. Sebaliknya, penting untuk memahami bahwa tidak semua bentuk pemanfaatan alam semata-mata bersifat destruktif. Dalam konteks pembangunan dan kemajuan peradaban, beberapa eksploitasi sumber daya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti pangan, energi, dan tempat tinggal. Paundanan M. Riani E. and Anwar S. AuKontaminasi Logam Berat Merkuri (H. dan Timbal (P. Pada Air. Sedimen dan Ikan Selar Tetengkek (Megalaspis Cordyla L) Di Teluk Palu. Sulawesi TengahAy. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Managemen. 5 no. 2: 161. Devi Dwiyanti Suryono. AuSampah Plastik di Perairan Pesisir dan Laut : Implikasi Kepada Ekosistem Pesisir Dki Jakarta,Ay Jurnal Riset Jakarta 12, no. : 17Ae23, doi:10. 37439/jurnaldrd. Stott. Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. A(Petrus Yuniant. Oleh karena itu, yang menjadi masalah bukan semata pemanfaatannya, tetapi cara Santyyang Sahartia. kala tidak terkendali serta mengabaikan prinsip keberlanjutan. Jefri Hina, menyebut hal ini sebagai dilema etis, dan untuk menjawab masalah ini alam harus dikelola dalam keseimbangan. 25 Deforestasi diimbangi dengan reboisasi, polusi dilawan dengan penghijauan, penggunaan plastik diseimbangkan dengan daur ulang, dan eksploitasi sumber daya alam ditanggapi dengan konservasi dan pemulihan alam. Perspektif ini menuntut pendekatan yang lebih holistik dan berimbang, di mana manusia harus bertindak aktif mengupayakan pemulihan dan keberlanjutan melalui praktik ekologis yang adil, etis, dan bertanggung jawab demi kesejahteraan bersama. 26 Jadi sikap yang perlu dibangun adalah bukan menolak pembangunan, melainkan menerapkannya dengan tanggung jawab moral, spiritual, dan ekologis sesuai mandat menjaga ciptaan. Upaya Pemeliharaan Ciptaan Melalui Pendidikan Kristen Anak di Gereja Dalam pendidikan Kristen. Wahyu 11:18 memberikan dasar teologis untuk tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi . Pembahasan dalam ayat di atas menunjukkan bahwa Tuhan menghukum mereka yang "membinasakan bumi," yang berarti bahwa merusak lingkungan merupakan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Pendidikan Kristen dapat menerapkan ajaran ini untuk menekankan pentingnya perlindungan dan pemeliharaan ciptaan Tuhan. Anak-anak dapat diajarkan untuk mengambil peran aktif dalam praktik-praktik lingkungan yang baik, seperti daur ulang, mengurangi limbah, menjaga kebersihan alam, dan menanam pohon. Hal ini selaras dengan mandat Alkitabiah dalam Kejadian 2:15, di mana manusia diperintahkan untuk "memelihara dan menjaga" ciptaan Tuhan. 27 Ketika mandat ini diabaikan, konsekuensinya pada akhir zaman adalah penghukuman. Pendekatan pedagogi transformatif dan dekolonisasi pendidikan sangat relevan dalam membangun identitas spiritual dan ekologi anak-anak melalui pengalaman langsung yang holistik. Pendekatan ini menghindari model pembelajaran pasif yang hanya menyampaikan informasi dari luar, dan justru mendukung pembelajaran kontekstual yang menghubungkan anak-anak dengan lingkungan alam mereka. Dalam pendidikan agama, metode ini tidak hanya Katu. AuTeologi Ekologi : Suatu Isu Etika Menuju Eskatologi Kristen. Ay Ibid. Simon Simon. AuPeranan Pendidikan Agama Kristen Menangani Masalah Ekologi,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 2, no. : 17Ae35, doi:10. 47530/edulead. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. mempertanyakan otoritas pengetahuan normatif, tetapi juga mengedepankan pentingnya keterhubungan komunitas dan inklusi perspektif dari kelompokkelompok yang sering kali terpinggirkan. 28 Dengan cara ini, nilai keberlanjutan yang melintasi berbagai disiplin ilmu dapat tertanam dalam identitas anak-anak, memperkuat kepedulian mereka terhadap ekologi dan komunitas global. Sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan Gereja perlu mengusahakan pendidikan Kristen bagi anak-anak di gereja yang berfokus pada kesadaran lingkungan dan tanggung jawab spiritual. Kurikulum pendidikan Kristen Anak di gereja perlu dirancang dengan menambahkan pembahasan tentang Artinya dalam kurikulum ada topik-topik pembahasan tentang pelestarian lingkungan, yang dikerjakan dengan mengintegrasikan antara pelajaran di dalam kelas dengan kegiatan di luar kelas. Pendidikan Kristen Anak di gereja dapat berperan signifikan dalam menumbuhkan karakter anak-anak sebagai penjaga ciptaan Tuhan, bukan sebagai Pertama, pembelajaran mengenai penciptaan dan tanggung jawab sebagai penjaga alam menjadi dasar yang penting. Dalam hal ini, anak-anak dapat diajarkan mengenai penciptaan melalui Kitab Kejadian 1-2, yang menggambarkan bumi dan seluruh isinya sebagai karya Tuhan yang baik dan berharga. Selain itu, cerita bergambar tentang penciptaan dan tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi dapat menjadi media visual yang kuat, dilanjutkan dengan diskusi pendek yang memotivasi anak-anak untuk menjaga lingkungan di gereja dan 29 Kegiatan-kegiatan semacam ini dapat meningkatkan kesadaran anak-anak akan pentingnya kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari tanggung jawab mereka sebagai ciptaan Tuhan. Kedua, konsep AustewardshipAy atau pengelolaan lingkungan dapat diperkenalkan untuk memperkuat peran anak-anak dalam merawat ciptaan Tuhan. Teologi stewardship dapat diposisikan sebagai ekspresi iman yang menjembatani kerohanian dan pemeliharaan lingkungan dalam suatu komunitas. 30 Anak-anak diajarkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab langsung dalam memelihara Kegiatan seperti proyek kebersihan gereja, di mana anak-anak berpartisipasi dalam membersihkan area gereja atau taman bermain, membantu mereka Chad Rimmer. AuEcology and Christian education: how sustainability discourse and theological anthropology inform teaching methods,Ay Consensus 41, no. doi:10. 51644/fvdz6587. Simon. AuPeranan Pendidikan Agama Kristen Menangani Masalah Ekologi. Ay John Stevie Manongga. AuStewardship Ekologis Berbasis Alkitab: Integrasi Hermeneutika Kontekstual dan Doktrin Ineransi,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika 8, no. 76Ae98, doi:10. 34081/fidei. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. A(Petrusbahwa Yuniant. menjaga kebersihan adalah salah satu bentuk penghormatan ( Santy Sahartia. Tuhan. Demikian pula, kegiatan menanam pohon atau tanaman hias di halaman gereja memberi anak-anak pengalaman langsung dalam merawat tanaman, sebagai upaya menanamkan rasa tanggung jawab yang lebih dalam terhadap lingkungan. Ketiga, mengajarkan tentang pengurangan plastik dan daur ulang merupakan langkah konkret dalam mendidik anak-anak tentang bahaya limbah plastik dan pentingnya penggunaan ulang. Tantangan mingguan tanpa plastik, diwujudkan dengan mendorong anak-anak untuk membawa bekal tanpa menggunakan plastik sekali pakai. Hal ini sejalan dengan Paliling dan Nunung yang mengangkat konsep menjadi garam dan cahaya dengan cara memupuk kebiasaan baik dalam menjaga lingkungan melalui pembatasan dalam penggunaan plastik. 31 Sesi daur ulang kreatif dilakukan dengan mengubah barang bekas seperti botol atau kaleng menjadi benda yang berguna. Hal ini menjadi sarana pembelajaran praktis yang mengajarkan nilai kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan. Pembuatan poster lingkungan, yang mengingatkan masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan membuang sampah pada tempatnya, menambah kesadaran anak-anak sekaligus mengajak mereka menyuarakan pesan peduli lingkungan. Dengan demikian, melalui berbagai kegiatan yang menyenangkan dan mendidik, pendidikan Kristen anak di gereja mampu membangun karakter anak-anak sebagai penjaga ciptaan Tuhan yang bertanggung jawab. Keempat, mengajarkan nilai-nilai iman dalam merawat lingkungan melalui kegiatan seminar, retreat, pendidikan rohani berbasis lingkungan, di mana anakanak diajak untuk belajar bersekutu dan berdoa secara khusus untuk alam dan Kegiatan ini dapat menjadi momen refleksi bagi mereka untuk mensyukuri serta bertanggung jawab atas alam sebagai ciptaan Tuhan. 32 Budiman dan Laukapitang menjelaskan bahwa pelayanan gereja yang berbasis ekologi dapat membangun komunitas peduli lingkungan yang dapat memberikan kontribusi positif dalam pelestarian lingkungan. 33 Untuk membuat pembelajaran lebih Gilbert Paliling dan Donny Stevianus Nunung. AuPeran Orang Percaya dalam Konservasi Lingkungan: Mengaplikasikan Ajaran Matius 5:13-16 sebagai AoGaramAo dan AoCahayaAo dalam Mempertahankan Bumi yang Lebih Berkelanjutan,Ay Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi 5, no. : 52Ae59, doi:10. 54553/kharisma. Siwy dan Hutagalung. AuMemelihara Surga Bumi: Analisis Persepsi Gereja terhadap Ekoteologi melalui Sudut Pandang Kejadian 2:15. Ay Sabda Budiman dan Yunus D. Laukapitang. AuPelayanan Pastoral Berbasis Ekologi Sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup,Ay SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 5, 2 . : 82Ae96, doi:10. 34307/sophia. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika. Vol. No. Des. interaktif, gereja dapat mengadakan permainan edukatif tentang alam, seperti kuis atau teka-teki, yang menambah wawasan mereka tentang keanekaragaman hayati dan pentingnya melindungi spesies langka. Pendidikan anak berbasis lingkungan dapat mempererat relasi kasih dengan sesama, alam, dan Tuhan, serta menumbuhkan karakter peduli dan empati. Kelima. Pembelajaran melalui proyek yang berkesinambungan juga dapat mengajarkan anak-anak bahwa kontribusi kecil dan konsisten sangat berarti bagi Salah satu program yang dapat diimplementasikan adalah pembelajaran di luar kelas yang berbasis kearifan lokal. 35 Anak diberi kesempatan untuk memahami kebenaran tentang menjaga lingkungan dalam perspektif sebagai anak pribumi yang menyatu dengan alam dalam keseharian. Pembahasan lebih luas tentang hal ini dapat dikembangkan melalui penelitian lanjutan. Keenam, pemberian penghargaan dan melibatkan anak untuk lebih aktif dalam menjaga lingkungan. Gereja bisa memberikan penghargaan atau sertifikat kepada anak-anak yang menunjukkan kepedulian lebih, misalnya dalam mengurangi sampah atau berhasil merawat tanaman. Selain itu, anak-anak diajak untuk berbagi pengalaman tentang upaya menjaga lingkungan yang mereka lakukan di rumah atau sekolah, dan pengalaman ini dapat disampaikan dalam kebaktian anak atau pertemuan khusus lainnya. Mengikutsertakan anak dalam kegiatan bank sampah di lingkungan gereja untuk mendorong anak memiliki kepedulian dalam mengurangi volume sampah. 36 Melibatkan anak dalam perlombaan tentang lingkungan hidup agar anak memiliki semangat juang dan tanggung jawab dalam menjaga alam. Pendidikan lingkungan berbasis gereja, dapat menjadi ruang di mana anak-anak dapat belajar, mempraktikkan iman mereka, dan memperkuat relevansi iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Carolus Borromeus Mulyatno. AuPendidikan Lingkungan Sejak Usia Dini dalam Perspektif Teologi Pemerdekaan Y. B Mangunwijaya,Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, 5 . : 4099Ae4110, doi:10. 31004/obsesi. John B Acharibasam dan Janet McVittie. AuConnecting Children to Nature Through the Integration of Indigenous Ecological Knowledge Into Early Childhood Environmental Education,Ay Australian Journal of Environmental Education 39, no. ): 349Ae61. Ike Setyaningrum. AuKarakteristik Peningkatan Pengelolaan Sampah Oleh Masyarakat Melalui Bank Sampah,Ay Jurnal Teknik PWK 4, no. : 2015. Roulina Novita Br Sitorus Firman Kristian Dominggus Agung Sinaga1. AuPeran Gereja dalam Pendidikan Lingkungan: Perspektif Teologi Kristen dan Nilai Pancasila untuk Transformasi Ekologi,Ay Artia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 1Ae7. Penghakiman bagi Perusak Bumi, . (Daud Darmad. A(Petrus Yuniant. Simpulan ( Penelitian Santy Sahartia. ini menegaskan pentingnya peran manusia sebagai penjaga ciptaan Allah, sebagaimana tercermin dalam Wahyu 11:18, dimana setiap orang yang merusak bumi akan mendapatkan hukuman. Pendidikan Kristen Anak memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak sejak dini agar memiliki kesadaran sebagai penjaga ciptaan. Upaya menjaga lingkungan melalui Pendidikan Kristen Anak di gereja dilakukan melalui pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan pembelajaran Alkitab dengan lingkungan hidup untuk menghubungkan iman dengan tanggung jawab ekologis. Menanamkan konsep stewardship sebagai tanggung jawab iman. Menerapkan pembelajaran tentang pengurangan plastik dan daur ulang sebagai praktik konkret. Penguatan nilai-nilai spiritual melalui kegiatan rohani dan kegiatan edukatif berbasis lingkungan. Pembelajaran berbasis kearifan lokal membantu anak memahami keterikatan mereka dengan alam dalam keseharian. Pemberian penghargaan serta pelibatan aktif dalam kegiatan lingkungan seperti bank sampah dan lomba tematik lingkungan dapat mendorong semangat dan tanggung jawab anak. Daftar Pustaka