Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat Indah Listyaningrum1* Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Tanjungpura. Kalimantan Barat. Indonesia Korespondensi: indah. listyaningrum@fisip. Diterima: 17 September 2024. Disetujui: 3 Desember 2024. Diterbitkan: 31 Desember 2024 Abstrak: Pengasuhan anak merupakan faktor penting untuk mendukung perkembangan dan kesejahteraan anak. Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan, pemahaman mengenai sistem pengasuhan anak di masyarakat adat, terutama yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal, masih sangat kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sistem pengasuhan alternatif pada masyarakat Dayak Kanayatn di Dusun Gunung Loncek dan mengidentifikasi faktor protektif dan risiko yang ada. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, hasil penelitian menunjukkan dua bentuk utama pengasuhan alternatif, yaitu pengasuhan oleh kerabat berdasarkan hubungan darah . engasuhan kekerabata. dan melalui prosesi adat pangarusant . engasuhan angkat ana. Kedua bentuk pengasuhan ini memiliki akar budaya yang kuat dan dirancang untuk memastikan kesejahteraan anak secara holistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem pengasuhan alternatif di masyarakat Dayak Kanayatn memiliki faktor perlindungan yang mendukung perkembangan anak sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Temuan ini memiliki implikasi bagi pengembangan Pekerjaan Sosial Berbasis Budaya, yang menunjukkan bahwa integrasi praktik pengasuhan anak secara tradisional dapat memperkaya strategi pekerjaan sosial yang lebih peka terhadap budaya. Penelitian ini juga menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks budaya dalam pengembangan kebijakan dan praktik pengasuhan anak di masyarakat adat. Kata kunci: pengasuhan alternatif, kesejahteraan anak, nilai budaya, pekerjaan sosial berbasis budaya Abstract: Childcare is essential in supporting children's development and well-being. Many studies have been conducted. However, there still needs to be a greater understanding of parenting systems in Indigenous communities, especially those that integrate local cultural values. This study aims to explore alternative parenting systems in Dayak Kanayatn communities in Gunung Loncek Hamlet and identify the protective and risk factors that influence the parenting system for children. Using a descriptive qualitative approach, the results showed two primary forms of alternative care: care by relatives based on blood relations . inship car. and through the traditional procession of pangarusant . oster car. Both forms of foster care have strong cultural roots and are designed to ensure holistic child welfare. This research concludes that alternative care systems in the Dayak Kanayatn community have protective factors that support child development while preserving local cultural The findings have implications for developing culture-based social work. integrating traditional parenting practices can enrich social work strategies by considering cultural aspects. The research also emphasizes the importance of cultural context in developing childcare policies and practices in Indigenous communities. Keywords: alternative care, child welfare, cultural values, culture-based social work Pendahuluan Secara umum, idealnya anak diasuh oleh orang tua dalam lingkup keluarga inti, yang merupakan unit sosial terkecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak (Khairuddin, 1. Keluarga inti ini berfungsi sebagai fondasi pertama bagi perkembangan anak, di mana anak belajar nilai-nilai dasar, norma, dan perilaku yang akan membentuk kepribadian mereka di masa depan. Namun, dalam beberapa kasus, anak juga dapat diasuh oleh keluarga pengganti. Gunarsa . menyebutnya sebagai "pengasuh". Pengasuh ini merujuk pada individu-individu yang bertugas merawat anak-anak, baik https://ejournal. id/index. php/jsk/article/view/3378 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 berasal dari latar belakang profesional maupun non-profesional. Dalam konteks ini, pengasuhan tidak hanya terbatas pada hubungan biologis, tetapi juga mencakup hubungan sosial yang lebih luas, di mana individu lain dalam komunitas dapat berperan sebagai pengasuh. Kegiatan penitipan anak melibatkan serangkaian upaya yang bertujuan untuk memastikan perkembangan optimal dan kesejahteraan anak (Hoghughi, 2. Proses ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pemenuhan kebutuhan fisik, emosional, hingga pendidikan anak. Pengasuhan yang tepat sangat penting untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan tahap usia, terutama pada masa awal kehidupan anak, yang sering disebut sebagai "tahun emas". Tahun emas ini merupakan periode kritis di mana anak mengalami perkembangan pesat dalam berbagai aspek, termasuk kognitif, sosial, dan emosional. Freud . alam Sarwono, 2. menekankan bahwa periode ini memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian dan akan berdampak pada perkembangan psikologis anak di masa mendatang. Oleh karena itu, pengasuhan yang baik selama periode ini sangat penting untuk memastikan bahwa anak dapat tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental dan emosional. Peran orang tua dalam pengasuhan anak memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan kepribadian anak. Orang tua berfungsi sebagai model bagi anak, di mana sikap dan perilaku mereka akan ditiru oleh anak. Hal ini disebabkan oleh peran fundamental orang tua dalam memberikan pengasuhan sejak dini (Supanto, 1. Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua akan membentuk cara anak berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana mereka memahami dunia di sekitar mereka. Pola pengasuhan juga berperan penting dalam proses sosialisasi di dalam keluarga, yang merupakan lembaga pertama yang mengenalkan dan mendorong internalisasi nilai-nilai budaya (Garna, 1. Melalui interaksi sehari-hari, anak belajar tentang norma-norma sosial, etika, dan nilainilai yang berlaku dalam masyarakat mereka. Setiap orang tua memiliki pola pengasuhan yang unik, dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti latar belakang pendidikan, pengalaman pribadi, dan nilai budaya. Kebutuhan dasar anak, yang meliputi aspek fisik, emosional, dan stimulasi mental, harus dipenuhi agar pertumbuhannya optimal. Pola pengasuhan yang tidak tepat dapat mengakibatkan masalah dan meningkatkan risiko gangguan kepribadian, yang tercermin dari data statistik yang menunjukkan sekitar 20% anak mungkin terpengaruh (Prasetya, 2. Penelitian menunjukkan bahwa pengasuhan alternatif, seperti dari orang tua pengganti, memiliki peran penting dalam perkembangan kemandirian dan kreativitas anak (Ginitasari, 2. Selain itu, kualitas pengasuhan yang baik, yang dipengaruhi oleh pendidikan ibu, memiliki dampak positif signifikan terhadap perkembangan anak (Zeitlin, 1990. Sunarto, 1995. Mahlia. Herlina, 2013. Supanto, 1990. Maccoby, 1. Oleh karena itu, perhatian terhadap pola pengasuhan dalam keluarga sangatlah penting. Ketiga, kajian tentang pola asuh dalam komunitas, yang termasuk dalam penelitian yang dilakukan oleh Badruddin . Rahman dan Yusuf . , dan Baki . Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pengasuhan anak di dalam keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh nilainilai budaya dan agama, tetapi juga oleh kemampuan orang tua untuk berpikir kreatif dalam menentukan arah hidup anak. Faktor-faktor seperti rendahnya tingkat pendidikan juga mempengaruhi perilaku pengasuhan orang tua. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan dan pengetahuan orang tua sangat berpengaruh terhadap cara mereka mengasuh anak. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan dalam bidang pengasuhan anak, masih jarang ditemukan studi yang memeriksa pemenuhan kebutuhan dasar anak melalui sistem pengasuhan yang berbeda, seperti dalam masyarakat tribal atau suku. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam penelitian yang perlu diisi dengan studi-studi yang lebih mendalam mengenai praktik pengasuhan di berbagai budaya. Literatur yang ada menunjukkan bahwa perspektif mengenai kesejahteraan anak dan pengasuhan cenderung mengikuti teori Barat (Selin, 2. Meskipun teori-teori ini memberikan wawasan yang berharga, mereka mungkin tidak sepenuhnya relevan dengan konteks budaya yang berbeda, seperti di Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik . Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnis, dengan total mencapai 1. 331 kategori suku bangsa. Setiap suku bangsa memiliki cara dan tradisi Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 tersendiri dalam mengasuh anak, yang dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan kepercayaan yang dianut dan tentunya akan mempengaruhi sistem pengasuhan anak. Meskipun terdapat kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar, namun setiap suku bangsa memiliki bahasa, adat istiadat, dan sistem kepercayaan yang berbeda, termasuk dalam praktik pengasuhan anak. Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak di Indonesia tidak dapat dipandang secara homogen, melainkan harus dilihat dalam konteks budaya yang spesifik. Pengasuhan anak merupakan faktor penting dalam mendukung perkembangan dan kesejahteraan anak. Dalam konteks global, pengasuhan yang baik diakui sebagai salah satu kunci utama untuk meningkatkan kualitas hidup dan perkembangan individu (Maknun, 2. Meskipun telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai pengasuhan anak, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman mengenai sistem pengasuhan yang berlaku di masyarakat adat, terutama yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal. Penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya ini membentuk praktik pengasuhan dan mempengaruhi perkembangan anak. Sistem pengasuhan anak juga memiliki faktor protektif dan faktor risiko yang tentunya sangat krusial bagi tumbuh kembang Faktor-faktor ini dapat mencakup dukungan emosional, pendidikan, dan stabilitas lingkungan, yang semuanya berkontribusi pada kesejahteraan anak. Hasil temuan kajian yang dilakukan oleh Suharto. Rusmana, dan Pratiwi . dalam penelitian "Situation Analysis of Child Protection in Indonesia: A Case Study in Kebumen of Central Java and TTS and Sikka of East Nusa Tenggara (NTT)" mengungkapkan bahwa dalam sistem pengasuhan anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat seperangkat keyakinan yang memperbesar faktor risiko terhadap perkembangan anak. Salah satu falsafah yang dianut oleh masyarakat setempat adalah Audi ujung rotan ada emas,Ay yang berarti untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan, anak harus dididik dengan keras. Falsafah ini bisa mencerminkan harapan tinggi yang dimiliki orang tua terhadap anakanak mereka, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan yang berlebihan. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai yang ada dalam budaya lokal dapat memperbesar faktor risiko. Masyarakat yang menganut pandangan bahwa kesuksesan hanya dapat dicapai melalui disiplin yang ketat dan pendidikan yang intensif dapat mengabaikan kebutuhan emosional dan psikologis anak. Nilai-nilai pengasuhan yang diterima oleh orang tua berpotensi menyebabkan perkembangan yang negatif pada anak, sebagaimana yang diungkapkan oleh Brooks . Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak dalam masyarakat tradisional atau suku yang masih kental dengan adat, budaya, dan tradisi, rentan terhadap faktor risiko dalam perkembangan anak. Ketika budaya masyarakat setempat memperbesar faktor risiko, nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh oleh orang tua juga dapat berkontribusi pada perkembangan negatif anak. Namun, terdapat kemungkinan bahwa nilai-nilai budaya dalam masyarakat tradisional tersebut juga mengandung faktor perlindungan yang dapat mendukung perkembangan anak. Oleh karena itu, analisis mendalam mengenai nilai-nilai budaya sangat penting untuk menentukan apakah mereka lebih cenderung berfungsi sebagai faktor risiko atau justru sebagai faktor perlindungan dalam konteks pengasuhan anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus pada sistem pengasuhan alternatif dalam komunitas Dayak Kanayatn di Dusun Gunung Loncek. Komunitas ini memiliki sistem pengasuhan yang kaya dan unik, yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan tradisi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi apakah praktik pengasuhan yang ada memiliki faktor perlindungan yang melindungi hak-hak anak demi kepentingan terbaik dan kesejahteraan anak, meskipun didasarkan pada pengetahuan lokal dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Dengan memahami sistem pengasuhan yang diterapkan dalam komunitas ini, kita dapat mengidentifikasi elemen-elemen yang mendukung kesejahteraan anak dan bagaimana hal tersebut dapat diintegrasikan ke dalam praktik pengasuhan yang lebih luas. Nilai-nilai budaya dan tradisi masing-masing suku dapat mempengaruhi perkembangan anak secara positif atau negatif. Oleh karena itu, penting untuk Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 melakukan penelitian lebih lanjut yang mengeksplorasi bagaimana sistem pengasuhan dalam masyarakat tribal dapat memenuhi aspek perlindungan dan kesejahteraan anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih lanjut tentang keunikan dan kekuatan praktik pengasuhan anak dalam masyarakat suku, yang dapat bermanfaat dalam pengembangan praktik pekerjaan sosial berbasis tradisi dan budaya lokal (Indigenous Social Wor. Dengan mengadopsi pendekatan yang menghargai dan memanfaatkan kearifan lokal, intervensi sosial dapat lebih efektif dan relevan dengan konteks budaya yang ada. Hal ini penting, mengingat bahwa setiap masyarakat memiliki dinamika dan tantangan tersendiri dalam pengasuhan anak yang memerlukan pendekatan yang disesuaikan. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar untuk upaya advokasi hak-hak anak di tingkat lokal dan nasional, hal ini dikarenakan pengasuhan anak adalah isu yang kompleks dan multidimensional yang memerlukan pendekatan Dengan memahami dan menghargai keragaman praktik pengasuhan di berbagai komunitas, dapat meningkatkan kesejahteraan anak sekaligus memperkuat kohesi sosial dan budaya dalam Penelitian ini merupakan langkah awal untuk mengeksplorasi sistem pengasuhan anak dalam konteks budaya yang khas. Diharapkan, hasilnya dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pengasuhan di Indonesia dan tempat lain. Oleh karena itu, sangat penting untuk melanjutkan penelitian yang mendalam dan komprehensif mengenai pengasuhan anak di berbagai konteks budaya. Penelitian ini harus tidak hanya memperhatikan teori yang ada, tetapi juga mengintegrasikan pengalaman dan nilai-nilai lokal. Dengan pendekatan ini, kita dapat menciptakan sistem pengasuhan yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak-anak, memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, tanpa memandang latar belakang budaya mereka. Metode Desain penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap fenomena sosial dan budaya yang kompleks, seperti praktik pengasuhan, yang tidak dapat diukur secara kuantitatif (Creswell, 2. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam tentang pengasuhan alternatif yang diterapkan di komunitas, khususnya di Dusun Gunung Loncek. Kabupaten Kubu Raya. Kalimantan Barat. Dengan latar belakang budaya yang kaya dan beragam, komunitas ini menawarkan wawasan unik mengenai cara-cara pengasuhan yang berakar pada tradisi lokal (Patton, 2. Wawancara mendalam dan observasi partisipatif digunakan untuk mendapatkan informasi tentang pengalaman dan perspektif keluarga yang menggunakan pangoanant . engasuhan alternati. dalam merawat balita mereka. Wawancara mendalam memungkinkan peneliti untuk menggali cerita pribadi dan pandangan yang mungkin tidak muncul dalam interaksi yang lebih terstruktur (Kvale & Brinkmann, 2. , sementara observasi partisipatif memberikan kesempatan untuk melihat langsung interaksi sehari-hari dan dinamika sosial dalam konteks alami (Angrosino, 2. Informan penelitian dipilih secara purposive, berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Kriteria ini mencakup faktor-faktor seperti usia anak, keterlibatan dalam praktik pengasuhan alternatif, dan tingkat partisipasi dalam kegiatan komunitas (Palinkas et al. , 2. Informan terdiri dari aktivis LSM yang berperan sebagai penggerak pemuda desa. Sekretaris Adat Dayak Kanayatn setingkat Desa. Temanggung, serta tokoh adat, orang-orang tua, bidan desa, bidan kampung, guru TK setempat, dan keluarga-keluarga yang memiliki anak berusia 0-5 tahun. Proses wawancara dilakukan setelah memperoleh persetujuan verbal dari semua informan. Sebelum wawancara, peneliti menjelaskan tujuan penelitian dan hak-hak mereka sebagai partisipan, termasuk hak untuk menarik diri kapan saja. Untuk menjaga kerahasiaan, identitas informan dilindungi dengan menggunakan inisial dalam penulisan hasil penelitian (Berg & Lune, 2. Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 Selain itu, analisis data kualitatif dilakukan untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari wawancara dan observasi, sehingga dapat memberikan pemahaman yang holistik mengenai praktik pengasuhan alternatif dalam konteks budaya setempat (Braun & Clarke, 2. Proses analisis melibatkan pengkodean data, pengelompokan temuan berdasarkan kategori tematik, dan interpretasi data dalam kerangka teori pengasuhan dan budaya (Miles. Huberman, & Saldaya. Untuk meningkatkan kredibilitas dan validitas temuan, triangulasi data dilakukan dengan membandingkan informasi dari berbagai sumber dan teknik, serta melibatkan anggota komunitas dalam proses verifikasi temuan (Denzin, 1. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman praktik pengasuhan di masyarakat adat serta implikasinya bagi kebijakan sosial dan pendidikan. Hasil 1 Pangoanant dalam Masyarakat Dayak Kanayatn Berdasarkan hasil wawancara dengan Temanggung . etua ada. , diketahui bahwa Pangoanant berasal dari kata "ngoant" yang berarti mengasuh dan "bahoant" yang berarti AuberasuhAy. Dengan demikian, pangoanant memiliki arti pengasuhan, dan orang yang mengasuh disebut pangoant . Istilah ini mencerminkan nilai-nilai budaya yang mendalam dalam masyarakat Dayak Kanayatn, di mana pengasuhan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan tanggung jawab kolektif komunitas. Istilah pangoanant berasal dari komunitas Dayak Kanayatn di Dusun Gunung Loncek yang berasal dari Manyuke. Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak dalam masyarakat ini sangat dipengaruhi oleh sejarah dan tradisi yang telah ada selama berabad-abad. Di sisi lain, ada juga sebutan pengasuhan yang dikenal sebagai Pangahoant, yang juga berarti pengasuhan, tetapi digunakan oleh komunitas Dayak Kanayatn yang berasal dari Sui Ambawang. Perbedaan istilah ini menunjukkan adanya keragaman dalam praktik pengasuhan yang ada di antara sub-kelompok masyarakat Dayak. Menurut Temanggung . etua adat setempa. , pangoanant adalah istilah dalam masyarakat Dayak Kanayatn yang merujuk pada pengasuhan alternatif atau pengganti bagi anak. Dalam konteks ini, pangoanant tidak hanya berfungsi sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai figur yang memberikan bimbingan dan dukungan emosional kepada anak. Dalam sistem ini, seseorang yang diberi kepercayaan oleh orang tua anak memiliki hak penuh untuk mengasuh, merawat, dan membimbing Kepercayaan ini merupakan cerminan dari hubungan yang kuat antara orang tua dan pangoant, di mana orang tua merasa yakin bahwa anak mereka akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sama seperti yang mereka berikan. Terdapat dua versi pangoanant: pertama, pengasuh yang diberikan hak berdasarkan hubungan darah . engasuhan kekerabatan/kinship car. , dan kedua, pengasuh yang ditunjuk melalui prosesi adat pangarusant . engangkatan anak/foster car. , yang melibatkan kekerabatan sosial atau kedekatan dengan anak. Kedua versi ini menunjukkan fleksibilitas dalam sistem pengasuhan yang ada, di mana masyarakat dapat menyesuaikan praktik pengasuhan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Pangoanant biasa berfokus pada pengasuhan yang bersifat informal dan lebih fleksibel, sedangkan Pangoanant Adat melibatkan proses ritual yang diakui secara adat dan memiliki makna yang lebih dalam dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Dayak Kanayatn. Proses ini tidak hanya sekedar formalitas, tetapi juga merupakan bagian integral dari identitas budaya masyarakat, di mana setiap langkah dalam pengasuhan diiringi dengan nilai-nilai dan norma-norma yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, kedua jenis pangoanant ini mencerminkan cara masyarakat Dayak Kanayatn dalam mengatur dan melaksanakan pengasuhan anak, baik dalam konteks kekerabatan maupun melalui prosesi adat yang formal. Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak dalam masyarakat ini tidak hanya dilihat dari aspek praktis, tetapi juga dari sudut pandang budaya Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 dan spiritual yang mendalam. 2 Sistem Pengasuhan Alternatif Berdasarkan Kekerabatan Pertalian Darah (Kinship Car. pada Masyarakat Dusun Gunung Loncek Kinship care atau pengasuhan berdasarkan kekerabatan pertalian darah dalam masyarakat Dayak Kanayatn merupakan praktik di mana anak-anak diasuh oleh anggota keluarga atau kerabat dekat ketika orang tua biologis tidak dapat merawat mereka. Praktik ini sangat penting dalam menjaga kesinambungan hubungan keluarga dan memastikan bahwa anak tetap berada dalam lingkungan yang familiar dan aman. Peran keluarga dan kerabat dalam menyediakan dukungan emosional dan sosial bagi anak-anak sangat berarti. Berdasarkan hasil wawancara dengan Temanggung . etua adat setempa. , diketahui bahwa dalam konteks ini pangoant tidak hanya berfungsi sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai keluarga dan tradisi yang harus diteruskan kepada generasi Seseorang yang diangkat sebagai pangoant . oleh orang tua anak memiliki hak penuh untuk mengasuh, merawat, serta membimbing anak. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan yang tinggi dari orang tua kepada pangoant, dimana mereka yakin bahwa pangoant akan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Pangoant ini diberikan keleluasaan untuk mengurus anak dan bertanggung jawab di dalam Keleluasaan ini memungkinkan pangoant untuk menyesuaikan metode pengasuhan dengan kebutuhan spesifik anak, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang Jenis pangoanant . pertama ini diambil berdasarkan pertalian darah, yaitu individu yang memiliki hubungan keluarga dengan anak. Dalam masyarakat Dayak Kanayatn, sistem pertalian darah menggunakan sistem bilineal/parental, yang berarti seorang anak dapat mengikuti jalur kekerabatan baik dari pihak ayah maupun ibu. Hal ini menciptakan jaringan dukungan yang luas, di mana anak tidak hanya bergantung pada satu individu, tetapi juga pada seluruh keluarga Dalam konteks hubungan kekerabatan, hubungan terputus pada sepupu delapan kali. Aturan ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hubungan kekerabatan dalam masyarakat Dayak Kanayatn, di mana setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap anggota keluarga lainnya. Pentingnya hubungan ini terutama terlihat dalam perkara perkawinan, di mana hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar tidak merusak keturunan. Praktik ini mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, di mana menjaga kualitas keturunan dianggap sebagai hal yang sangat Selain itu, juga diperhatikan kelekatan anak dengan calon pangoant, seperti nenek/kakek, kakak/abang, paman/bibi, dan lain-lain. Kelekatan ini menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan siapa yang akan menjadi pangoant, karena hubungan emosional yang kuat dapat mendukung perkembangan anak secara keseluruhan. Orang tua memberikan kepercayaan penuh kepada pangoant untuk menjalankan tugas pengasuhan bukan tanpa alasan. Dalam kondisi tertentu, orang tua ingin memastikan bahwa balita mereka tetap memenuhi segala kebutuhan dasar, seperti kasih sayang, makanan, minuman, keamanan, dan kesempatan bermain, terutama ketika orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut karena harus bekerja seharian. Pangoanant versi pertama ini mirip dengan sistem pengasuhan anak oleh keluarga pengganti yang umum ditemukan dalam masyarakat. Ketika orang tua bekerja, anak dilimpahkan kepada pihak lain untuk diasuh sementara waktu, sehingga anak tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan. Di Dusun Loncek, mayoritas masyarakat Dayak Kanayatn bekerja di ladang untuk berkebun, menanam padi, dan menoreh getah . ebanyakan dilakukan oleh ibu-ib. , sementara sebagian lainnya bekerja di hutan untuk mengelola kayu . ayoritas dilakukan oleh bapak-bapa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengasuhan anak dalam masyarakat ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan sosial yang ada. Banyak warga dusun yang juga bekerja paruh waktu . istem shif. di perusahaan sawit yang terdapat di sekitar dusun. Oleh karena itu, pangoant yang telah diberi kepercayaan penuh ini memiliki peran yang sangat penting untuk memastikan kesejahteraan anak tetap terpenuhi, meskipun orang tua tidak dapat mengasuh secara penuh dalam kesehariannya. Dalam konteks ini, pangoant Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 tidak hanya berfungsi sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai pengganti orang tua yang memberikan kasih sayang dan perhatian yang dibutuhkan anak. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada keterbatasan dalam waktu dan sumber daya, masyarakat Dayak Kanayatn tetap berkomitmen untuk memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan pengasuhan yang berkualitas. Sistem Pengasuhan Alternatif Melalui Prosesi Adat Pangarusant (Pengangkatan Anak/ Foster Car. pada Masyarakat Dusun Gunung Sistem pengasuhan alternatif yang dilakukan melalui prosesi adat pangarusant merupakan praktik pengangkatan anak berbasis adat dalam masyarakat Dusun Gunung Loncek. Proses pangarusant ini tidak hanya melibatkan aspek praktis dari pengasuhan, tetapi juga mengandung nilai-nilai spiritual dan budaya yang mendalam. Berdasarkan wawancara dengan temanggung . etua adat setempa. diketahui bahwa proses pangarusant memperhatikan nilai-nilai budaya dan tradisi yang mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak yang dilakukan karena berbagai alasan, seperti ketika anak sering sakit, petunjuk dari mimpi, atau dalam kasus anak yatim piatu. Hal ini menunjukkan bahwa pengasuhan dalam masyarakat ini tidak hanya didasarkan pada kebutuhan fisik, tetapi juga pada kebutuhan emosional dan spiritual anak. Tujuan dari proses ini adalah untuk menjauhkan anak dari gangguan roh jahat dan memastikan kesehatan serta kesejahteraan mereka. Dalam konteks ini, pengasuhan dianggap sebagai tanggung jawab yang tidak hanya melibatkan individu, tetapi juga komunitas dan kekuatan spiritual yang lebih besar. Orang tua atau kerabat yang menerima petunjuk melalui mimpi bertugas menentukan pengasuh, yang dipilih melalui proses betanung . ersemedi/memohon petunju. yang dipimpin oleh seorang Imam Panyangahat . emimpin proses betanun. Proses ini menjadi sangat penting karena menunjukkan bahwa pengasuhan anak tidak hanya dilihat dari segi fisik, tetapi juga melibatkan dimensi spiritual yang kuat. Imam Panyangahat, sebagai figur yang dihormati dalam masyarakat, memiliki peran sentral dalam memberikan nasihat dan bimbingan mengenai pilihan pengasuh yang tepat, memastikan bahwa keputusan tersebut sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma budaya yang berlaku. Proses ini juga berfungsi untuk menilai kesesuaian pengasuh berdasarkan indikator keberhasilan perkembangan anak yang tidak berdasarkan kepada hubungan kekerabatan pertalian darah, melainkan dari kekerabatan sosial dan faktor kelekatan pada anak merupakan kunci utama. Ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat Dayak Kanayatn, kelekatan emosional antara anak dan pengasuh lebih diutamakan dibandingkan dengan hubungan darah semata. Jika hasilnya tidak memuaskan, anak dapat diangkat kembali untuk mencari pengasuh yang lebih cocok. Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi keluarga untuk memastikan bahwa anak mereka mendapatkan pengasuhan yang terbaik, dan jika ada ketidakcocokan, mereka dapat melakukan penyesuaian dengan segera. Pengasuh dapat diangkat untuk jangka waktu tertentu atau tanpa batas waktu, tergantung pada kondisi anak. Keputusan mengenai jangka waktu pengangkatan ini mempertimbangkan kebutuhan spesifik anak dan kondisi pengasuh, mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang dinamika keluarga dan sosial dalam konteks pengasuhan. Selama proses ini, orang tua tetap memiliki hak penuh atas anak, tetapi memberikan tanggung jawab pengasuhan kepada pangoanant demi kebaikan anak. Keterlibatan orang tua dalam proses ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengalihan tanggung jawab, ikatan keluarga tetap terjaga dan orang tua tetap berperan aktif dalam kehidupan anak. Ketika anak yang diangkat dewasa dan menikah, pengasuh berhak menerima ucapan terima kasih dan cinderamata sebagai penghargaan atas jasanya. Penghargaan ini mencerminkan rasa syukur dan pengakuan terhadap kontribusi pangoant dalam membesarkan anak, serta menunjukkan pentingnya hubungan sosial yang terjalin antara pengasuh dan anak. Jika pengasuh telah meninggal, cinderamata diberikan kepada keturunan pengasuh. Tradisi ini menunjukkan penghormatan yang Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 dalam terhadap nilai-nilai keluarga dan kekerabatan, di mana pengorbanan dan dedikasi seorang pengasuh diakui tidak hanya oleh anak yang diasuh, tetapi juga oleh generasi berikutnya. Proses pangarusant mencerminkan upaya masyarakat Dayak Kanayatn untuk memastikan kesejahteraan anak-anak mereka. Pengasuhan yang baik, dengan memperhatikan aspek kelekatan, merupakan kunci dalam proses ini. Penelitian menunjukkan bahwa pangarusant bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga merupakan ekspresi kepedulian yang mendalam terhadap masa depan anak-anak. Dalam hal ini, pangoant berupaya memenuhi berbagai aspek kebutuhan dasar anak, termasuk kebutuhan fisik, emosional, dan stimulasi mental. Proses ini menggambarkan komitmen masyarakat untuk menjaga kesejahteraan anak dan memastikan bahwa mereka tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan dukungan. Pembahasan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pengasuhan alternatif dalam masyarakat tradisional Dusun Loncek, baik melalui pangoanant berdasarkan hubungan darah . inship car. maupun melalui prosesi adat pangarusant . oster car. , memiliki kesamaan dengan pengasuhan anak pada umumnya. Menurut teori pengasuhan yang dikemukakan oleh Bronfenbrenner . , lingkungan sosial dan budaya memainkan peran penting dalam perkembangan Kedua sistem ini menekankan pentingnya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak, serta memenuhi kebutuhan dasar mereka. Perbedaan utama terletak pada alasan di balik perlunya pengasuhan alternatif bagi balita. Sistem pangoanant mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan dan kekerabatan, sedangkan pangarusant lebih menekankan pada aspek spiritual dan budaya. Teori attachment yang dikembangkan oleh Bowlby . juga relevan di sini, karena menekankan pentingnya hubungan emosional yang aman antara anak dan pengasuh dalam mendukung perkembangan psikologis anak. Dalam konteks pengasuhan alternatif ini, media dongeng dan syair berperan penting dalam mengajarkan nilai-nilai luhur kepada balita. Menurut Vygotsky . , interaksi sosial dan budaya sangat penting dalam proses pembelajaran anak. Melalui dongeng, anak-anak tidak hanya terhibur tetapi juga diajarkan tentang moralitas, kejujuran, dan nilai-nilai kehidupan yang penting dalam masyarakat Dayak Kanayatn. Dongeng dan syair dipilih berdasarkan kondisi psikologis anak, baik saat bahagia, sedih, atau ketika perlu dinasehati. Proses ini mengajarkan anak untuk mengenali dan mengelola emosi mereka, yang sangat penting bagi perkembangan psikologis dan sosial mereka. Dengan demikian, hasil penelitian mengindikasikan bahwa kedua sistem pengasuhan alternatif tersebut telah memenuhi kebutuhan dasar anak, termasuk aspek fisik biomedis, emosional/kasih sayang, dan stimulasi mental. Teori kebutuhan Maslow . dapat digunakan untuk memahami bagaimana pengasuhan yang baik memenuhi kebutuhan dasar anak, yang pada gilirannya mendukung perkembangan mereka secara holistik. Pangoant berupaya memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang cukup, perawatan kesehatan, kebersihan, dan lingkungan yang layak. Mereka juga memberikan kasih sayang, rasa aman, dukungan emosional, serta stimulasi yang sesuai dengan perkembangan anak. Sistem pengasuhan ini memberikan faktor protektif yang mendukung perkembangan anak secara Dalam hal ini, pengasuhan di masyarakat Dayak Kanayatn menunjukkan bahwa meskipun dalam situasi yang sulit, mereka tetap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak Oleh karena itu, penting untuk terus mendukung dan melestarikan praktik-praktik pengasuhan yang berbasis pada kearifan lokal, sehingga generasi mendatang dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Kesimpulan Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengasuhan alternatif yang diterapkan dalam komunitas Dayak Kanayatn, baik melalui sistem kinship care maupun foster care, secara efektif mendukung tumbuh kembang anak. Kedua sistem pengasuhan ini tidak hanya melindungi hak hak Indah Listyaningrum Pengasuhan Alternatif dalam Masyarakat Tradisional: Studi Kesejahteraan Anak di Dusun Gunung Loncek. Kalimantan Barat SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol. No. : hal 100-109 anak akan kebutuhan pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga sejalan dengan konsep kepentingan terbaik bagi anak, dengan memperhatikan aspek fisik, emosional, dan mental. Selain itu faktor kelekatan merupakan kunci utama dari proses pengasuhan yang ada khususnya pada proses adat pangurusant . engangkatan anak/ foster car. Dengan demikian, pengasuhan alternatif bagi anak dalam masyarakat tradisional Dusun Gunung Loncek ini dapat dianggap sebagai praktik pengasuhan yang memiliki protective factor dalam yang mendukung perkembangan anak secara holistik. Saran Hasil penelitian ini mengungkapkan beberapa temuan penting yang dapat ditindaklanjuti dalam bentuk saran. Pertama, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami lebih dalam praktik pengasuhan anak di berbagai masyarakat suku. Dengan mengeksplorasi komunitas yang berbeda, kita dapat memperoleh wawasan tentang faktor sosial, budaya, dan ekonomi yang mempengaruhi pengasuhan, serta mengidentifikasi praktik terbaik yang dapat diadaptasi. Dukungan kelembagaan juga sangat penting untuk mengembangkan model pelayanan sosial yang mengintegrasikan nilai-nilai Model ini harus dirancang dengan mempertimbangkan kearifan lokal agar lebih efektif dan diterima masyarakat. Pendidikan dan penyuluhan tentang pengasuhan yang baik harus menjadi prioritas, terutama di daerah kurang terlayani. Kerja sama antara lembaga pendidikan. LSM, dan pemerintah daerah dapat memperluas distribusi materi edukasi berbasis nilai budaya lokal, meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri orang tua. Program pelatihan dan workshop perlu diadakan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak. Pelatihan ini harus fokus pada keterampilan pengasuhan dan dukungan terhadap perkembangan emosional anak, serta menciptakan ruang bagi orang tua untuk berbagi pengalaman. Selain itu, evaluasi dan pemantauan terhadap program yang telah dilaksanakan penting untuk memahami dampak inisiatif dan melakukan penyesuaian guna meningkatkan efektivitas. Pendekatan komprehensif dan kolaboratif diharapkan dapat membangun sistem pengasuhan yang menjamin kesejahteraan anak dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Ucapan terimakasih: Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Kepala Desa Teluk Bakung. Kepala Dusun. Ketua RT dan RW di Gunung Loncek, serta Tetua Adat dan seluruh masyarakat dusun yang telah memberikan informasi dan data yang relevan untuk mendukung penelitian ini. Daftar Pustaka