Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Volume 8. No 2. Novenber 2024 e-ISSN 2580-0531, p-ISSN 2580-0337 DOI: 10. 32696/ajpkm. v%vi%i. Pengembangan Potensi Pariwista Desa dengan Model Community Base Tourisme di Desa Bonmuti Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang Rex Tiran 1. Diana S. Natalia Tabun 2. Syahrin Badin Kamahi 3 Yefta Y. Sabaat 4* Prodi Ilmu Politik. Universitas Nusa Cendana. Kota Kupang. Indonesia Prodi Ilmu Politik. Universitas Nusa Cendana. Kota Kupang. Indonesia Prodi Ilmu Politik. Universitas Nusa Cendana. Kota Kupang. Indonesia Prodi Ilmu Politik. Universitas Nusa Cendana. Kota Kupang. Indonesia *Korespondensi : rex. tiran@staf. Abstrak Pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi politik mengenai penguatan kapasitas kepada pemerintah desa dan masyarakat Desa Bonmuti dalam pengelolaan sumber daya alam alam pegunungan, karena itu masyarakat diharapkan untuk turut berpartisipasi aktif n daerah pengembangan wisata berbasis masyarakat (Community Based Tourism-CBT) agar dapat membawa dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Permasalahan tata kelola sumberdaya, dalam hal ini partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam pembangunan pariwisata. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemaparan materi dan diskusi bersama perangkat desa dan masyarakat desa Bonmuti. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan karena partisipasi masyarakat merupakan keterlibatan secara aktif dalam setiap proses pengembangan dari industri pariwisata yang dimulai dari perencanaan, penentuan rancangan, pelaksanaan sampai pada pengawasan serta pengevaluasian, dan penikmatan hasilnya. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah masyarakat memahami hak dan kewajibanya sebagai warga negara untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengelolan sumberdaya khususnya dalam pengelolaan destinasi wisata pegunungan Desa Bonmuti sebagai Desa Pariwisata berbasis masyarakat. Kata kunci: Tata kelola Sumber Daya Alam. Pariwisata. Konsep Community Based Tourism (CBT) Abstract This community service aims to provide political education on capacity building for the village government and the Bonmuti Village community in managing natural resources in the mountains, therefore the community is expected to actively participate in managing natural resources in the mountains which are areas for developing community-based tourism (Community Based TourismCBT) so that it can have an impact on social and economic life. The problem of resource management, in this case community participation is very much needed in tourism development. The method used in this activity is the presentation of materials and discussions with village officials and the Bonmuti Village community. Community participation in managing natural resources is one of the important things that needs to be considered because community participation is an active involvement in every process of developing the tourism industry starting from planning, determining the design, implementation to supervision and evaluation, and enjoying the results. The result of this community service activity is that the community understands their rights and obligations as citizens to actively participate in the resource management process, especially in managing the mountain tourism destination of Bonmuti Village as a community-based Tourism Village. Keywords: Natural Resource Management. Tourism. Community Based Tourism (CBT) Concept. Submit: Oktober 2024 Diterima: Oktober 2024 Publis: November 2024 Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC-BY-NC-ND 4. Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) PENDAHULUAN Masyarakat lokal berperan penting dalam pengembangan desa wisata karena sumber daya dan keunikan tradisi dan budaya yang melekat pada penggerak utama kegiatan desa wisata. Dalam pandangan Hausler . CBT menekankan pada masyarakat lokal . aik yang terlibat langsung dalam industri pariwisata maupun tidak langsun. dalam bentuk memberikan kesempatan . dalam manejemen pembangunan pariwisata yang berujung pada pemberdayaan politik melalui kehidupan yang lebih baik, termasuk dalam pembagian keuntungan dan kegiatan pariwisata yang lebih adil bagi Hausler sebagai wujud perhatian yang kritis pada pembangunan pariwisata yang masyarakat lokal di daerah tujuan Desa Bonmuti adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang. Desa Bonmuti memiliki potensi wisata pegunungan yang unik dan menarik, seperti alam gunung yang sangat asri dengan bentangan rerumputan dan bukit-bukit yang panjang. Walaupun sudah memiliki objek wisata yang menarik. Pada kenyataan di pengembangan desa wisata belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat desa Bonmuti. Contohnya, resort atau penginapan disekitar alam merupakan aset pariwisata yang dapat menunjang kebutuhan dan kepuasan wisatawan. Namun, pengembangan desa wisata tidak berpihak pada masyarakat lokal, karena masyarakat sejauh ini masih tetap menjadi penonton sementara Vol. 8 No. November 2024 investor dari luar misalnya swasta mendapat keuntungan dari aktivitas pariwisata ini. Padahal, masyarakat lokal pun menjadi salah satu faktor penyebab berkembangnya pariwisata desa wisata Bonmuti ini. Permasalahan ini hakekatnya merupakan bentuk dari kurang dipahaminya pengembangan desa wisata yang mengakomodir peran masyarakat untuk secara langsung pengembangannya dan memiliki hak untuk menerima manfaat dari kebijakan pengembangan desa wisata. Selain itu, adapula kekurangan yang melekat di lokasi wisata ini, yakni dilihat dari kondisi aksesibilitas . yang kurang baik, dan juga pengeloaan sarana masih sangat minim seperti belum adanya Kafe. Rumah makan. Agen perjalanan wisata dan lain Masalah tersebut tentu akan menjadi faktor penghambat dalam pengembangan pariwisata di Alam pegunungan, baik dari segi atraksi . arian ada. , amenitas (Rumah makan dl. hingga pada perlibatan partisipasi Dalam pengembangan suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW), masyarakat memiliki peran yang sangat penting sehingga proses pengembanganya dapat berjalan dengan baik. Suansri . mendefinisikan CBT memperhitungkan aspek keberlanjutan lingkungan, sosial dan budaya. CBT komunitas dan konservasi lingkungan. Atau dengan kata lain CBT merupakan alat untuk mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Dalam definisi yang disampaikan Suansri, gagasan untuk memunculkan sesuatu yang baru dalam pembangunan pariwisata adalah semata Ae mata untuk menjaga keberlangsungan pariwisata itu Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Sebagai tindak lanjut Suansri . 3:21- . Menyampaikan pointpoint yang merupakan aspek utama masyarakat berupa 5 dimensi yaitu: Dimensi indikator berupa adanya dana lapangan pekerjaan di sektor pendapatan masyarakat lokal dari sektor pariwisata. Dimensi indikator berupa mendorong masyarakat untuk menghormati pertukaran budaya, budaya pembangunan melekat erat dalam budaya lokal. Dimensi lingkungan dengan indicator mempelajari carryng meningkatkan kepedulian akan perlunya konservasi. Dimensi partisipasi dari penduduk lokal, komunitas yang lebih luas, menjamin hal Ae hal dalam pengelolaan Sumber Daya Alam. Dimensi Sosial, dalam kegiatan membutuhkan kerja sama serta keterlibatan dari masyarakat. Permasalahan yang ditangani pada warga Desa Bonmuti dalam proses pariwisata alam pegunungan adalah: . Kurangnya pemahaman masyarakat Vol. 8 No. November 2024 Kurangnya pengelolaan Desa pariwisata berbasis masyarakat di alam pegunungan mengembangkan potensi yang ada. Tujuan Kegiatan PKM ini adalah untuk Meningkatkan keterampilan berpikir masyarakat Desa Bonmuti mengenai pengelolaan sumber daya alam pariwisata pegunungan di Desa Bonmuti Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang sebagai destinasi wisata yang berbasis masyarakat, untuk terlibat secara aktif dalam proses pengelolaan sumberdaya pariwisata sehingga dapat membantu menciptakan ketentraman masyarakat yang sejahtera dalam kehidupan sosial dan ekonomi. METODE PELAKSANAAN Lokasi kepada masyarakat ini bertempat di Desa Bonmuti Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang. Jarak tempuh dari Lokasi perguruan Tinggi Universitas Nusa Cendana di Kota Kupang menggunakan transportasi darat. Dalam Penguatan Kapasitas masyarakat dalam pariwisata di Desa Bonmuti diperlukan metode yang relevan dan didasarkan pada persoalan yang sudah diuraikan di Adapun metode yang digunakan adalah : Advokasi dan Sosialisi yang bersifat interaktif bagi masyarakat Desa Bonmuti, serta membuka ruang diskusi bersama masyarakat dan pemerintah desa untuk dapat menyampaikan ide maupun gagasan. HASIL DAN PEMBAHASAN Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah sebuah provinsi di Indonesia Kepulauan Nusa Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) Tenggara. Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki keunikan budaya dan keindahan alam yang tersebar di 22 Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki 566 pulau, 246 pulau diantaranya sudah memiliki nama dan terdapat 4 pulau besar yaitu pulau Flores. Sumba. Timor dan Alor. Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten di wilayah NTT yang memiliki tujuan wisata. Ibu kota kabupaten ini berlokasi di Kota Oelamasi. Kabupaten Kupang merupakan kabupaten yang paling selatan di Negara Republik Indonesia. Kabupaten ini memiliki 25 buah pulau, dan 16 buah pulau diantaranya telah bernama dan 9 buah pulau belum diberi Sementara 3 buah pulau telah Kondisi wilayah di Kabupaten Kupang memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa untuk dikunjungi baik wisata alam maupun wisata budaya, tidak mengherankan jika daerah ini menjadi salah satu destinasi wisata bagi wisatawan lokal maupun wisatawan macanegara. Desa Bonmuti terletak di Kecamatan Amfoang Tengah. Kabupaten Kupang yang memiliki beberapa tempat wisata pegunungan yang selalu menarik kunjungan para wisatawan untuk berwisata. Selain keadaan pegunungan yang masih asri dan menawarkan keindahan alam melalui bentangan panorama gunung. Salah satu pegunungan yang sering diminati oleh para wisatawan adalah gunung Timau. Penduduk Bonmuti berjumlah 264 Kepala Keluarga, dengan jumlah 1. 265 jiwa. Latar belakang ekonomi mereka adalah sebagai petani dan peternak. Untuk pekerjaan petani dan peternak adalah pekerjaan tetap dan untuk berdagang tergantung pada musim. Sejauh ini Vol. 8 No. November 2024 pengelolaan wisata di pegunungan masih dikelola secara lokal, dan kami meyakini bahwa akan menjadi bagian destinasi wisata yang tidak kalah terkenalnya dengan tempat wisata di NTT lainnya, seperti Labuan Bajo atau lainnya, karena di pelataran gunung Timau juga ada sebuah proyek nasional yang sudah dibangun yakni gedung observaturium nasional. Dikutip dari KoranTimor. terdapat lima hal yang paling menarik di Gunung Timau, yaitu: Berada di dekat khatulistiwa Nusa Tenggara Timur (NTT) meski tidak berada tepat di garis lintang khatulistiwa. NTT tetap relatif dekat dengan garis edar matahari tersebut. Hal ini membuat Observatorium yang dibangun di Gunung Timau dengan 09A34A47. (LS) Ae 123A56A20. 1AE (BT) itu berjarak "lebih dekat" dengan langit karena bentuk bumi membesar di bagian khatulistiwa. Iklim yang mendukung Gunung Timau 300 mdpl sehingga lokasi ini berada di dataran menengah. Sehingga iklim maupun cuacanya cocok untuk pengamatan astronomi. Terlebih wilayah Kupang juga dinilai sebagai wilayah yang memiliki kemarau panjang di Indonesia sehingga langit pengamatan akan sering bebas dari Kawasan merupakan Cagar Alam dan Hutan Lindung Berbeda dengan observatorium sebelumnya yang dimiliki Indonesia peninggalan Belanda. Observatorium Boscha di Bandung. Gunung Timau merupakan wilayah cagar alam yang kelestarian lingkungannya amat dijaga. Tidak sembarang bangunan boleh didirikan di wilayah ini sehingga potensi untuk mengalami polusi cahaya seperti yang terjadi di Lembang. Bandung bisa diminimalisir. Karena Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) merupakan cagar alam dan hutan lindung. Gunung Timau menjadi keanekaragaman hayati tinggi. Berbagai tumbuhan endemik seperti Eucalyptus erophylla dan Eucalyptus alba tumbuh di hutan Gunung Timau. Berada di Pertengahan Belahan Langit Gunung Timau pertengahan belahan langit bumi karena dekat dengan khatulistiwa. Hal ini Observatorium Timau nantinya akan mampu unutk mengamati Tata Surya di belahan langit utara . orthern hemispher. maupun belahan langit selatan . outhern hemispher. Keistimewaan ini bahkan tidak dimiliki oleh observatorium dunia lainnya sebab kebanyakan observatorium berada di salah satu belahan saja. Seperti observatorium yang dimiliki Australia, hanya dapat melihat Tata Surya dari Observatorium Jepang dan Amerika hanya dapat melihat Tata Surya dari bagian langit utara saja. Keindahan Alam Selain karena memang berada di wilayah Cagar Alam Gunung Timau letaknya cukup terpencil, bahkan belum terdapat akses jalan yang memadai pembangunan Observatorium Nasional Timau. Sehingga wilayah ini memiliki keindahan yang menakjubkan. Berbagai macam hewan dan tumbuhan liar hidup secara alam di lokasi ini. Itu sebabnya Observatorium Timau diharapkan juga turut mampu menarik pariwisata di wilayah Kupang. Salah satu upaya yang kami lakukan sebagai pemahaman dan pencerahan kepada masyarakat agar tidak menjual tanah Vol. 8 No. November 2024 mereka yang berada di sekitaran pegunungan Timau. Beranjak dari beberapa lokasi pariwisata di NTT, banyak warga masyarakat yang menjual tanah mereka kepada para investor baik dalam negeri maupun dari luar negeri. Sehingga terjadi privatisasi tempat wisata dan masyarakat tidak memiliki akses untuk dapat melaksanakan kegiatan ekonomi mereka di kawasan pariwisata tersebut. Kegiatan pengabdian yang kami laksanakan di Desa Bonmuti adalah sebuah langkah agar dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang pengembangan potensi pariwisata yang memiliki implikasi positif terhadap sektor pertanian dan perkebunan di wilayah tersebut. Dengan adanya peningkatan kunjungan wisatawan maka dapat dipastikan hasil pertanian dan perkebunan dapat di jual langsung kepada para wisatawan sehingga menambah pendapatan masyarakat setempat tanpa harus mengeluarkan ongkos transportasi untuk datang menjualnya di Kota Kupang. Kehadiran Observatorium Nasional Timau pembangunan daerah ini karena dapat mendorong percepatan pembangunan sektor pariwisata dan peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat Masyarakat penting dalam pengembangan desa wisata karena sumber daya dan keunikan tradisi dan budaya yang melekat pada komunitas tersebut merupakan penggerak utama kegiatan desa wisata. Salah satu masalah yang kami dapatkan adalah kurangnya memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan keunikan budaya di desa Bonmuti. Terdapat beberapa budaya lokal seperti tari-tarian dan upacara adat sebelum memanen hasil pertanian dan memanen madu yang Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) masih dipertahankan sebagai nilai-nilai lokal yang dapat menjadi daya tarik Pemanfaatan media sosial untuk mempromosikan alam dan budaya adalah salah satu cara modern yang kami informasikan kepada masyarakat sehingga mereka dapat informasi kepada khalayak. Dalam mendorong konsep CBT masyarakat desa Bonmuti maka pemerintah desa harus mengembangkan komunitas-komunitas lokal yang dapat mendukung laju pariwisata Desa, komunitas yang dikembangkan dalam hal ini adalah komunitas tenun ikat untuk membuat kain tenun yang dapat dipasarkan kepada para wisatawan, dikhususkan pada usaha-usaha rumahan untuk memasarkan produk makanan bagi wisatawan. Komunitas-komunitas lainnya diharapkan dapat di berdayakan oleh pemerintah sebagai mitra untuk mendukung pengembangan pariwisata Dalam kesejahteraan masyarakat desa melalui pemanfaatan kawasan pariwisata, maka masyarakat harus dapat berperan aktif bersama pemerintah desa untuk selalu pembangunan yang berlangsung di Upaya lainnya yang kami lakukan dalam upaya peningkatan kapasitas masyarakat di desa Bonmuti adalah membentuk lembaga intermediary Pemerintah . esa, daerah dan nasiona. Kepentingan Masyarakat dan Pasar. Keberadaan lembaga ini memiliki posisi strategis untuk membangun komunikasi Lembaga intermediary di desa Bonmuti sangat dibutuhkan agar posisi masyarakat tidak hanya sebagai objek pembangunan tetapi selalu dilibatkan sebagai aktor Vol. 8 No. November 2024 Masyarakat pun memiliki hak yang sama untuk mengawal perencanaan, proses dan output dari pembangun KESIMPULAN Dari kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang kami laksanakan di Bonmuti dengan judul Pengembangan Potensi Pariwista Desa dengan Model CBT di Desa Bonmuti Kecamatan Amfoang Tengah Kabupaten Kupang, maka adapun kesimpulan dan saran yang kami dapatkan sebagai berikut: Kesimpulan: Program Studi Ilmu Politik akan menjadikan Desa Bonmutu sebagai desa binaan untuk mengawal pengelolaan dan pembangunan pariwisata. Pemerintah desa dan masyarakat menerima dan ingin menerapkan pariwisata Community Based Tourism (CBT) Pegunungan Timau Pemerintah Desa akan membuat pengelolaan dan pengembangan pariwisata di desa Bonmuti Pemerintah desa dan Masyarakat meningkatkan Sumber Daya Manusia di bidang pariwisata. Saran: Kepada Pemerintah melibatkan masyarakat dalam setiap proses pembangunan di desa Bonmuti . Kepada Pemerintah Desa untuk Intermediary sebagai lembaga pengawasan dan pengawalan terhadap proses pembangunan Amaliah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (AJPKM) . Kepada masyarakat agar terlibat berpartisipasi dalam proses pembangunan Desa Bonmuti. Masyarakat menjaga dan melestarikan setaip destinasi wisata yang ada di desa Bonmuti. REFERENSI