e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (J-BIKES) 2025. Vol. 5 (No. : Halaman: 10-18 Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pemakaian Gurita Pada Ibu Nifas Relationship Between Knowledge and Octopus Use Behavior In Post-Part Mothers Silvia1*. Zulfa Hanum2 & Sri Raudhati3 1*,2,3Fakultas Kesehatan. Universitas Almuslim. Indonesia Disubmit: 28 Mei 2025. Diproses: 07 Juni 2025. Diaccept: 14 Juli 2025. Dipublish: 30 Juli 2025 *Corresponding author: E-mail: silvianew93@gmail. Abstrak Kepercayaan dan keyakinan budaya terhadap ibu post partum, masih banyak dijumpai lingkungan Mereka meyakini budaya perawatan ibu setelah melahirkan dapat memberikan dampak yang positif dan menguntungkan bagi mereka. Saat ini masyarakat beranggapan dan mempraktikan budaya yang dilakukan nenek moyang, seperti menggunakan gurita pada masa nifas yang kembali diminati dan dianggap memiliki manfaat untuk mempercepat proses pengembalian kondisi rahim. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku pemakaian gurita pada ibu nifas yang melahirkan di PMB Nuraida. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang melahirkan di PMB Nuraida Desa Pante Baro Kumbang Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden. Dari hasil uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. hasil perhitungan menunjukkan nilai p . < . berarti Ha diterima dan H0 ditolak dengan demikian didapatkan ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemakaian gurita di PMB Nuraida Desa Pante Baro Kumbang Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen. Penelitian ini disarankan agar responden tidak menggunakan gurita pada saat masa nifas, karena uterus akan kembali seperti semula seiring lamanya masa nifas Kata Kunci: Pengetahuan. Pemakaian Gurita Abstract Trust And belief culture to Mother post partum , still Lots found environment society . They believe culture maintenance Mother after give birth to can give positive impact And profitable for they . Moment This public assume And to practice culture that is carried out grandma ancestors , such as use octopus on time the return of postpartum in demand And considered own benefit For speed up the return process condition Research This done For know connection knowledge with behavior usage octopus on Mother postpartum women who gave birth at PMB Nuraida . Design research used is study cross sectional analysis Population in study This is Mother postpartum women who gave birth at PMB Nuraida Village Pantheon Baro Bee Subdistrict The Passover Siblah Krueng Regency Bireuen . Technique taking sample used in study This is with technique purposive sampling of 30 respondents . From the results test Chi-square with level 95% confidence ( = 0. 05 ) results calculation show p value . < . means Ha is accepted and H0 is rejected with thus obtained There is connection knowledge Mother with usage octopus at PMB Nuraida Village Pantheon Baro Bee Subdistrict The Passover Siblah Krueng Regency Bireuen . Research This It is recommended that respondents No use octopus on moment time postpartum , because the uterus will return like back to along duration time postpartum. Keywords: Knowledge. Behavior. Octopus Usage DOI: 10. 51849/j-bikes. v%vi%i. Rekomendasi mensitasi : Silvia. Hanum. , & Raudhati. Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pemakaian Gurita Pada Ibu Nifas. Jurnal Kebidanan. Keperawatan dan Kesehatan (JBIKES), 5 . : Halaman. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes PENDAHULUAN Masa nifas merupakan periode krusial pascakelahiran yang secara klinis dikategorikan sebagai rentan terhadap berbagai komplikasi kesehatan maternal. Di antara potensi risiko yang dapat timbul perdarahan pascapersalinan . ostpartum hemorrhag. , gangguan psikologis berupa Berdasarkan laporan dari World Health Organization (WHO), dua komplikasi yang paling berkontribusi terhadap kematian ibu pada masa nifas adalah infeksi dan perdarahan (Rosdiana. Anggraeni, and Jamila 2. Menurut laporan terbaru WHO, tingkat mortalitas maternal global masih Pada tahun 2020, tercatat sekitar 287. 000 wanita meninggal selama periode kehamilan, proses melahirkan, dan masa nifas. Yang memprihatinkan, hampir 95% dari seluruh kasus kematian maternal ini terjadi di negara-negara dengan ekonomi rendah dan menengah dengan mayoritas kasus sebenarnya dapat dihindari melalui tindakan medis preventif dan peningkatan sistem layanan kesehatan. Kesenjangan ini menyorot disparitas akses ke fasilitas kesehatan berkualitas dan menunjukkan adanya gap signifikan antar kelompok sosio-ekonomi. Data menunjukkan bahwa berpendapatan rendah pada 2020 mencapai 430 per 100. 000 kelahiran hidup, kontras dengan hanya 13 per 000 kelahiran hidup di negara-negara dengan ekonomi mapan. (WHO 2. Sementara Indonesia, berdasarkan pencatatan dari sistem Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) yang dikelola Kementerian Kesehatan, jumlah kematian maternal 005 kasus pada 2022, dengan peningkatan menjadi 4. 129 kasus pada Kondisi menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari tiga negara dengan AKI tertinggi di kawasan ASEAN(Kemenkes RI 2024 Adapun penyebab utama kematian ibu sepanjang tahun 2022 adalah hipertensi dalam kehamilan . , perdarahan . , gangguan jantung . , serta penyebab lainnya . 504 kasu. Dari seluruh kasus perdarahan tersebut, 15% merupakan Cakupan pelayanan dan kunjungan masa nifas secara nasional pada tahun 2022 tercatat sebesar 80,9%, dengan Provinsi Jawa Barat mencatatkan cakupan tertinggi sebesar 95,3%, diikuti oleh Sulawesi Selatan . ,5%) dan Banten . ,9%). Sebaliknya, provinsi dengan cakupan pelayanan nifas terendah adalah Papua Barat . ,9%), disusul oleh Provinsi Aceh yang menempati posisi keempat terbawah dengan cakupan hanya 55,3% (Dinkes Aceh 2. Dalam konteks Provinsi Aceh, berdasarkan data Profil Kesehatan Aceh Tahun 2022, tren Angka Kematian Ibu (AKI) 2018Ae2022 menunjukkan fluktuasi, namun tercatat penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2022 menjadi 141 per 100. kelahiran hidup. Kabupaten dengan angka kematian ibu tertinggi pada tahun tersebut adalah Aceh Timur . , sementara Kota Sabang menjadi satusatunya wilayah dengan nihil angka kematian ibu. Secara spesifik, jumlah kematian ibu pada masa nifas di Aceh tahun 2022 mencapai 70 jiwa, dengan e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Kabupaten Pidie mencatatkan kasus tertinggi . , dan Kota Sabang serta beberapa kabupaten lainnya melaporkan angka kematian nol. Kabupaten Bireuen, tercatat 3 kasus kematian ibu pada masa nifas (Kemenkes RI 2. Secara spesifik, wilayah administratif Kabupaten Bireuen sebanyak 11 kasus kematian maternal dari total 8. 165 kelahiran hidup selama tahun 2022, sebagaimana termuat dalam Dinas Kesehatan kabupaten tersebut. Berdasarkan tahapan kehamilan, distribusi insiden kematian menunjukkan bahwa enam kasus terjadi saat proses persalinan berlangsung, tiga kasus pada masa puerperium, dan dua kasus selama fase gestasi. Mengacu pada data Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, jumlah ibu yang menjalani masa nifas dari tahun 2022 hingga tahun 2023 tercatat sebanyak 513 orang, dengan distribusi 243 orang pada tahun 2022 dan 270 orang pada tahun Selama dua tahun tersebut, tidak terdapat laporan Angka Kematian Ibu (AKI) di wilayah kecamatan tersebut. Diperkirakan bahwa sekitar 60% kematian ibu terjadi setelah proses persalinan, dengan setengah dari angka tersebut berlangsung dalam 24 jam pertama masa nifas, yang sebagian besar dipicu oleh perdarahan postpartum. Salah satu penyebab utama dari perdarahan ini adalah kegagalan involusi uterus. Involusi sendiri merujuk pada proses fisiologis di mana uterus secara bertahap kembali ke ukuran dan berat pra-kehamilan . ekitar 60 gra. , yang dipicu oleh kontraksi otot polos uterus pasca-pelepasan plasenta. Mekanisme involusi melibatkan kontraksi dan retraksi berkelanjutan dari serabut otot uterus(Rosdiana et al. Pemulihan organ reproduksi selama komponen vital dalam proses pasca persalinan, dan menjadi parameter penting bagi tenaga kesehatan . okter, dinamika fisiologis uterus. Bila proses involusi tidak berlangsung secara optimal, dapat terjadi kondisi subinvolusi uteri yang berisiko menyebabkan perdarahan dan berkontribusi terhadap peningkatan angka kematian maternal pada masa nifas(Sitorus. Martini, and Mulyaningrum Fase puerperium sendiri ditandai oleh berbagai transformasi fisik dan psikologis yang menuntut intervensi dan Beberapa perubahan yang terjadi meliputi involusi uterus, laktasi, eliminasi lochia, perubahan sistem muskuloskeletal, dan relaksasi otot abdomen seperti diastasis recti. Oleh sebab itu, penyelenggaraan layanan pasca memenuhi kebutuhan kesehatan ibu dan bayi, termasuk tindakan preventif, deteksi dini, serta penatalaksanaan komplikasi yang mungkin timbul (Kurniawati 2. Kualitas pelayanan pada masa nifas menjadi pilar krusial dalam upaya menurunkan angka kematian ibu. Salah satu strategi efektif adalah memperluas aksesibilitas pelayanan kebidanan bagi setiap ibu. Dalam masa ini, proses pemulihan uterus ditandai dengan penurunan tinggi fundus dan intensitas kontraksi yang konsisten, hingga uterus tidak lagi teraba di atas simfisis pubis. Selain pendekatan medis, praktik-praktik berbasis budaya lokal masih banyak e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes tradisional (Susanti 2. Tradisi dan kepercayaan kultural terkait perawatan ibu pascamelahirkan masih memiliki tempat yang kuat dalam berbagai komunitas. Banyak masyarakat mempercayai bahwa praktik perawatan tradisional bagi ibu setelah persalinan memberikan berbagai manfaat kesehatan. Di era modern ini, masyarakat cenderung kembali mengadopsi praktik leluhur, termasuk penggunaan korset tradisional selama periode nifas yang semakin populer karena dipercaya mempercepat proses pemulihan rahim atau involusi pra-kehamilan. Pemakaian korset tradisional ini juga diyakini membantu mempertahankan bentuk tubuh, menciptakan sensasi nyaman, meningkatkan keseimbangan tubuh, serta menumbuhkan kepercayaan diri pada ibu pascamelahirkan. (Qomariah. Herlina, and Sartika 2. Secara fisiologis, tekanan yang dihasilkan oleh korset pada area perut dapat berfungsi sebagai penyokong region lumbopelvis melalui kompresi pada otot transversus Efek ini pada gilirannya akan otot-otot Kelemahan pada otot perut merupakan salah satu faktor penyebab nyeri punggung selama dan setelah Penggunaan korset tradisional, terutama bila dikombinasikan dengan program latihan fisik yang terstruktur, dapat mengurangi frekuensi nyeri punggung bawah pada ibu selama masa nifas, karena alat ini berkontribusi dalam menjaga stabilitas pelvis dan struktur punggung (Dewi Taurisiawati 2. Salah satu praktik tradisional yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat adalah penggunaan gurita perut oleh ibu nifas. Budaya ini dipercaya percepatan involusi uterus dan pemulihan tonus otot abdomen, meredakan nyeri punggung, serta memberikan dukungan struktural pada bagian lumbopelvik. Tekanan yang diberikan gurita pada otot membantu memperkuat otot perut dan mempercepat penyesuaian postural ibu pasca persalinan. Bahkan, dalam beberapa kasus, penggunaan gurita disertai latihan fisik dinyatakan mampu menurunkan prevalensi nyeri punggung bawah, karena gurita membantu menstabilkan area pelvis dan tulang belakang(Sitorus et al. Dari hasil survei awal yang dilakukan oleh peneliti di Praktik Mandiri Bidan (PMB) Nuraida. Desa Pante Baro Kumbang. Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Kabupaten Bireuen, ditemukan bahwa dari 10 ibu nifas yang diwawancarai, 8 orang menggunakan gurita selama masa nifas, sedangkan 2 orang lainnya tidak menggunakannya. Dari 8 responden yang menggunakan gurita, mayoritas menyatakan bahwa pemulihan organ reproduksi karena membantu uterus kembali ke ukuran Sementara itu, satu dari dua responden yang tidak menggunakan gurita adalah kader posyandu yang telah efektivitasnya, sedangkan satu orang lainnya memilih tidak menggunakan gurita karena merasa tidak nyaman. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang AuHubungan pengetahuan dengan perilaku e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes pemakaian gurita pada ibu nifas di PMB NuraidaAy. Umur Berisiko tinggi (<20 tahun dan > 35 tahu. Tidak berisiko tinggi . -35 Pendidikan Dasar (SD/MI) Menengah (SMP. SMA) Tinggi (D i. S1. Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Jumlah Anak Primipara Multipara Grandemultipara Total METODE PENELITIAN Pendekatan merupakan jenis studi analitik dengan rancangan potong lintang . ross-sectional analytic stud. Metode pengambilan penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling(Jusdienar 2. Penelitian ini melibatkan sebanyak 30 Penelitian ini telah dilaksanakan di PMB Nuraida Desa Pante Baro Kumbang Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen. Penelitian ini telak dilaksanakan pada tanggal 4 Februari sampai 11 Maret 2025. Instrumen dalam (Sumber: Data primer tahun 2. penelitian ini menggunakan kuesioner Berdasarkan tabel 1 menunjukkan tentang pengetahuan 30 pertanyaan dan bahwa dilihat dari karakteristik umur Pengolahan data yaitu editing, coding, mayoritas responden berumur antara 20 processing, tabulating. Analisa data sampai 35 tahun . idak berisiko tingg. univariat mengunakan rumus persentase sebanyak 21 responden . %). Dilihat dan analisa bivariat menggunakan teknik dari karakteristik pendidikan, mayoritas chi square. menengah sebanyak 24 responden . %). Dilihat dari karakteristik pekerjaan HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di PMB mayoritas responden bekerja yaitu Nuraida Desa Pante Baro Kumbang sebanyak 16 responden . ,3%). Dilihat Kecamatan Peusangan Siblah Krueng dari karakteristik jumlah anak, mayoritas responden merupakan ibu multipara Kabupaten Bireuen diperoleh: sebanyak 16 responden . ,3%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Karakteristik Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Tentang Gurita Jumlah e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Jumlah responden . %). Dari jumlah tersebut, hanya 1 responden . ,3%) yang memiliki tingkat pengetahuan tergolong baik, . %) menunjukkan tingkat pengetahuan cukup, dan sisanya sebanyak 11 responden ,7%) pengetahuan rendah. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 95% ( = 0,. , diperoleh nilai p sebesar 0,001. Karena nilai p . < . , maka hipotesis alternatif (H. diterima dan hipotesis nol (H. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu dan praktik penggunaan gurita di PMB Nuraida. Desa Pante Baro Kumbang. Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Kabupaten Bireuen. Temuan studi mengindikasikan bahwa sebagian besar partisipan memiliki pemahaman yang cukup mengenai penggunaan gurita, yaitu sejumlah 14 partisipan . ,7%). Menurut pandangan peneliti, tingkat pengetahuan ibu nifas tentang penggunaan gurita berada dalam kategori cukup karena umumnya para ibu generasional dari generasi sebelumnya mengenai pengaplikasian gurita selama periode nifas. Tradisi dan keyakinan kultural terkait perawatan ibu pasca melahirkan komunitas masyarakat. Mereka memiliki kepercayaan bahwa praktik perawatan tradisional setelah persalinan dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi kondisi mereka. Aspek budaya atau kultur mampu membentuk kebiasaan dan tanggapan terhadap masalah kesehatan (Sumber : Data primer tahun 2. Berdasarkan tabel 2 di atas didapatkan bahwa sebagian responden memiliki tingkat pengetahuan cukup tentang pemakaian gurita yaitu sebanyak 14 responden . ,7%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Perilaku Pemakaian Gurita Perilaku Pemakaian Gurita Tidak Jumlah Jumlah (Sumber : Data primer tahun 2. Berdasarkan tabel 3 di atas responden memakai gurita pada masa nifas yaitu sebanyak 24 responden . %). Tabel 4. Hubungan Pengetahuan dengan perilaku Penggunaan Gurita Penget Baik Cukup Kurang Jumlah Pemakaian Gurita Jlh Jlh % 1 3,3 11 36. Tidak Jlh 4 13,3 5 16,7 6,7 14 46,7 0,001 0 11 36,7 (Sumber: Data primer tahun 2. Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4, dapat diinterpretasikan bahwa penelitian ini menggunakan gurita selama masa nifas, yakni sebanyak 24 orang e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes bermasyarakat, termasuk dalam bidang Praktik penggunaan gurita masih menjadi tradisi yang kuat di masyarakat hingga saat ini. Pengetahuan tentang cara penggunaan gurita bagi ibu nifas diperoleh dari keyakinan yang diwariskan oleh generasi terdahulu mengenai manfaat penggunaan gurita selama masa pemulihan pasca persalinan (Fajrin. Purwandari, and Mogonta 2. Berbagai mitos yang berkembang di kalangan ibu nifas dapat memengaruhi perilaku mereka, baik secara positif maupun negatif. Faktor-faktor seperti kepercayaan dan pengetahuan budaya meliputi persepsi tentang berbagai pantangan, hubungan sebab-akibat, serta pemahaman tentang kondisi kesehatan dan penyakit. Temuan mengindikasikan bahwa sebagian besar partisipan menggunakan gurita selama periode postpartum, dengan jumlah 24 responden . %). Menurut pandangan peneliti, dominasi penggunaan gurita ini kemungkinan dipengaruhi oleh tradisi lokal yang mengharuskan wanita pasca melahirkan mengenakan gurita sebagai alat penopang perut untuk mencegah kekenduran dan membantu pemulihan bentuk perut seperti sediakala. Evolusi sosial dan budaya dalam transformasi pola pikir masyarakat di wilayah tersebut. Perubahan dalam aspek sosial dan budaya dapat menghasilkan konsekuensi positif maupun negatif. Keterkaitan antara aspek budaya dan kesehatan sangat signifikan, sebagaimana terlihat pada komunitas pedesaan yang sederhana yang mampu bertahan dengan metode penyembuhan tradisional sesuai kebiasaan mereka. Faktor budaya atau kultur mampu membentuk kebiasaan dan respons terhadap isu kesehatan dan penyakit di seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, sangat esensial bagi praktisi kesehatan untuk tidak hanya mengedukasi tentang kesehatan, tetapi juga mengembangkan pendekatan yang komprehensif (Hertaty 2. Tradisi adat merupakan komponen perilaku masyarakat yang mendukung dinamika sosial sehingga menciptakan pola kebiasaan dalam komunitas tersebut. Tanpa disadari, adat istiadat yang mengakar dalam masyarakat dapat menjadi penghalang implementasi gaya hidup sehat di lingkungan komunitas, masyarakat yang berkaitan dengan asupan nutrisi, khususnya bagi ibu dalam masa nifas. (Hertaty 2. Berdasarkan temuan penelitian terlihat bahwa sebagian besar peserta penelitian menggunakan gurita selama periode postpartum yakni sejumlah 24 pemahaman baik sebanyak 1 orang . ,3%), tingkat pemahaman cukup sejumlah 12 peserta . %) dan tingkat pemahaman kurang sejumlah 11 peserta . ,7%). Berdasarkan analisis Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. , kalkulasi statistik menghasilkan nilai p . lebih rendah dari . , sehingga menegaskan bahwa Ha diterima sementara H0 ditolak. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat asosiasi antara tingkat pemahaman ibu dan penggunaan gurita di PMB Nuraida yang berlokasi di Desa Pante Baro Kumbang Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen. e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Investigasi serupa telah dilakukan oleh Sepiwir pada tahun 2021 dengan judul "Hubungan pengetahuan dan sikap ibu nifas terhadap penerimaan terapi komplementer berbasis kearifan lokal di poskesdes santapan timur". Riset tersebut mengadopsi pendekatan analitik cross sectional dengan populasi mencakup 75 ibu pasca persalinan, dan mengambil 43 partisipan sebagai sampel melalui pengumpulan data primer. Hasil analisis chi square mengidentifikasi adanya korelasi antara pengetahuan ibu pasca persalinan dengan penerimaan terapi komplementer tradisional . value = . , namun tidak ditemukan hubungan antara sikap ibu pasca persalinan dengan penerimaan terapi tersebut . value = Distinktif antara penelitian tersebut dengan studi ini terletak pada variabel terikat, jumlah responden, lokasi studi, dan periode pelaksanaan. Riset relevan lainnya dilaksanakan oleh Hinda pada 2023 berjudul "Pengaruh pemberian edukasi isu terkini dengan perilaku pemakaian gurita ibu nifas". Riset ini mengimplementasikan desain praeksperimental dengan model one group pretest and posttest, melibatkan 45 ibu pasca persalinan di PMB Lastakningdih sebagai sampel yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Kajian ini merujuk pada delapan jurnal yang membahas efektivitas bengkung dalam pemulihan pasca persalinan. Analisis terhadap jurnaljurnal yang memenuhi kriteria inklusi penggunaan bengkung efektif untuk proses rehabilitasi ibu pasca persalinan non-farmakologis perawatan postpartum. Penelitian ini berbeda dengan studi yang sedang dilakukan dalam hal variabel penelitian. Asumsi peneliti adanya hubungan pemakaian gurita di PMB Nuraida Desa Pante Baro Kumbang Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen dikarenakan oleh tingginya pengaruh budaya serta informasi dari keluarga atau orang terdekat sehubungan dengan pemakaian gurita pada masa nifas. Banyak yang menggunakan gurita dikarenakan hal ini merupakan perilaku turun temurun pada masa nifas. Selain itu juga dipengaruhi oleh karakteristik responden yang mayoritas merupakan ibu multipara sehinga sangat menentukan kebiasaan masa nifas sebelumnya dalam hal pemakaian gurita. Umur ibu juga bisa mempengaruhi perilaku ibu dalam pemakaian gurita, karena usia yang masih muda cenderung mengikuti setiap instruksi orang yang lebih tua, dalam hal ini seperti ibunya atau mertuanya. Pendidikan ibu dalam kategori menengah bisa berpotensi memiliki pengetahuan yang kurang update tentang pemakaian Keyakinan dan praktik budaya terkait perawatan ibu pasca persalinan masih banyak ditemukan dalam berbagai Banyak masyarakat memiliki persepsi bahwa tradisi perawatan setelah melahirkan memberikan efek positif bagi kesehatan ibu. Di era modern ini, masyarakat tetap mengadopsi dan praktik-praktik leluhur, seperti penggunaan pengikat perut pasca persalinan yang kembali populer karena dipercaya mempercepat proses pemulihan rahim atau involusi uteri ke kondisi pra8 e-ISSN : 2807-2448 com/index. php/bikes Dinkes Aceh. Profil Kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Fajrin. Irmasanti. Atik Purwandari, and Debbie Christie Mogonta. AuLiterature Review Efektifitas Penggunaan Bengkung Terhadap Pemulihan Pada Ibu Nifas. Ay 6. :161Ae70. Hertaty. Dessy. AuPengaruh Praktik Budaya Dan Kesehatan Pada Ibu Masa Nifas Di Daerah Aliran Sungai ( DAS ) Tahun 2023 The Effect of Culture and Health Practices on Postpartum Mother in the River Watershed Area ( DAS ) in Ay Jusdienar. Buku Ajar Statistik Ekonomi. edited by Efitra. Jambi: PT Sonpedia Publishing Indonesia. Kemenkes RI. AuProfil Kesehatan Aceh Ay Enabling Brestfeeding 1Ae10. Kemenkes RI 2024. AuSehat Negriku. Ay Kurniawati. Putri. AuHubungan Pengetahuan Dan Budaya Dengan Terapi Uap Panas ( Peusale ) Pada Ibu Nifas Di Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar Tahun 2021 Journal of Pharmaceutical and Health Research. Ay 3. :50Ae53. 47065/jharma. Qomariah. Siti. Sara Herlina, and Wiwi Sartika. AuPengaruh Pemakaian Bengkung Terhadap Involusi Uterus Pada Ibu Nifas Diwilayah Kerja Puskesmas Siak Hulu Ii. Ay JOMIS (Journal of Midwifery Scienc. :28Ae37. 36341/jomis. Rosdiana. Rosdiana. Surti Anggraeni, and Jamila Jamila. AuPengaruh Senam Nifas Dan Mobilisasi Dini Terhadap Involusi Uterus Pada Ibu Post Partum. Ay Jurnal Ilmu Keperawatan Dan Kebidanan 13. :98Ae105. 26751/jikk. Sitorus. Ester Yohana. Sri Martini, and Festy Mahanani Mulyaningrum. AuCorrelation Between the Use of Bengkung Towards Uterine Involution in Postpartum Mothers. Ay 22Ae31. Susanti. Ita. AuHubungan Budaya Dengan Proses Penyembuhan. Ay Prosiding Seminar Nasional Biotik 10. :165Ae69. WHO, (World Health Organizatio. AuMaternal-Mortality @w. Ay (Qomariah et al. Penggunaan pengikat perut pada area abdominal merupakan salah satu praktik budaya yang umum dilakukan selama masa nifas. Di berbagai wilayah Indonesia, tradisi ini masih dipercaya sebagai metode perawatan pasca persalinan yang Manfaat yang diklaim dari penggunaan pengikat perut antara lain memulihkan tonus abdomen, mengurangi nyeri punggung, dan memberikan dukungan pada area punggung ibu pasca pembentukan postur tubuh yang baik. Tekanan dari pengikat perut pada area abdominal berfungsi sebagai penyokong transversus abdominis. (Sitorus et al. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti dapat menyimpulkan beberapa Kesimpulan. Diantaranya adalah adanya korelasi antara tingkat pengetahuan ibu dengan praktik penggunaan gurita pasca persalinan di Praktik Mandiri Bidan Nuraida yang berlokasi di Desa Pante Baro Kumbang. Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, dalam wilayah Kabupaten Bireuen. DAFTAR PUSTAKA