Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1107 - 1114 Strategi Peningkatan Pelayanan Persampahan Berbasis 3R di Kelurahan Jatihandap Melalui Penerapan Contingent Valuation Method Muhammad Dimas Zulri1*. Iwan Juwana2 Teknik Lingkungan. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Institut Teknologi Nasional. Bandung *Koresponden email: mdimaszulri@gmail. Diterima: 2 April 2020 Disetujui: 11 Mei 2020 Abstract The increasing population in Indonesia is directly proportional to the growth of new settlements. In line with this, the growth of waste volume in Indonesia is closely related to the growth of its population. The level of welfare and lifestyle in Indonesia has resulted in a significant increase in waste generation, especially in urban areas. Jatihandap is one of the areas in Mandalajati Subdistrict. Bandung City that increases the influence of waste generation by each people and wants to improve the quality of its waste services to reduce these impacts. One way that can be done to measure the willingness of citizens to improve waste services is to measure the Contingent Valuation Method. Contingent Valuation Method (CVM) Based on the results of this study. WTP values were 138 people from 153 samples selected. The estimated WTP (EWTP) is Rp. 12,971 and the total WTP (TWTP) is Rp. 80,385,000 / month. Based on multiple linear regression analysis, the WTP value of Jatihandap Urban Village is influenced by the amount of garbage contributions and gender equality from the results of the questionnaire that has been Keywords: Contingent Valuation Method. Willingness to Pay. Improvement of Solid Waste Services. Influencing Factors. Jatihandap Village Abstrak Bertambahnya populasi di Indonesia berbanding lurus dengan bertumbuhnya pemukiman-pemukiman Sejalan dengan hal itu pertumbuhan volume sampah di Indonesia sangat berkaitan dengan pertumbuhan penduduknya. Timbulan sampah yang setiap harinya meningkat sangat dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Jatihandap menjadi salah satu daerah di Kecamatan Mandalajati. Kota Bandung yang mengalami dampak dari adanya timbulan sampah setiap harinya dan ingin meningkatkan kualitas pelayanan persampahannya untuk mengurangi dampak tersebut. Salah satu metode yang bisa diterapkan untuk mengukur kesediaan warga untuk berpatisipasi dalam meningkatkan pelayanan persampahan adalah Contingen Valuation Method (CVM). Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan nilai WTP sebanyak 138 orang dari 153 sampel yg terpilih. Nilai Estimasi WTP (EWTP) didapatkan sebesar Rp 12. 971 dan Total WTP (TWTP) didapatkan sebesar Rp 000/bulan. Berdasarkan analisis regresi linier berganda, nilai WTP Kelurahan Jatihandap dipengaruhi oleh besarnya iuran sampah dan kesamaan jenis kelamin dari hasil kuesioner yang sudah Kata Kunci: Contingent Valuation Method. Willingness to Pay. Peningkatan Pelayanan Persampahan. Faktor yang mempengaruhi. Kelurahan Jatihandap Pendahuluan Sampah merupakan sisa-sisa barang dari kegiatan manusia yang tidak terpakai lagi dan dibuang. Bertambahnya populasi di Indonesia berbanding lurus dengan bertumbuhnya pemukiman-pemukiman Sejalan dengan hal itu pertumbuhan volume sampah di Indonesia sangat berkaitan dengan pertumbuhan penduduknya. Khusus daerah perkotaan, timbulan sampah jauh lebih meningkat secara signifikan yang sangat dipengaruhi oleh gaya hidup dan tingkat kesejahteraan sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan . Dari masalah persampahan yang terjadi, dapat dikatakan bahwa masalah sampah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, tetapi perlu adanya kerja sama yang dinamis antara pemerintah dan Masyarakat perlu lebih aktif dalam penanganan persampahan karena secara langsung sangat Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1107 - 1114 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 dekat dengan sumbernya. Oleh karena itu hendaknya setiap rumah tangga harus bisa mengelola sampah di tahap pertama sebelum dikelola oleh TPS setempat agar timbulan sampah yang dikumpulkan di TPS dapat berkurang dan akan mengurangi beban timbulan sampah ke TPA . Salah satu metode ilmiah yang dapat mengukur kesediaan warga untuk meningkatkan pelayanan persampahan adalah pengukuran dengan Contingen Valuation Method (CVM). CVM merupakan metode survei lapangan yang dilakukan dengan melakukan wawancara dan kuesioner langsung kepada responden secara individual. Metode ini telah digunakan untuk memperkirakan nilai sosial yang berhubungan dengan masalah lingkungan dan telah teruji oleh berbagai pakar ekonomi untuk penerapannya. Dengan metode ini kita dapat mengetahui seberapa besar kemampuan dan kesediaan warga untuk meningkatkan pelayanan sampah mulai dari sumber utamanya hingga peningkatan fasilitas TPS-nya menjadi TPS 3R Penelitian ini dilakukan secara survei terhadap responden yang berkaitan, oleh sebab itu dapat ditentukan hipotesis awal terkait besarnya jumlah uang yang mampu diberikan responden untuk meningkatkan pelayanan persampahan di Kelurahan Jatihandap . Penelitian tugas akhir ini dilakukan terhadap nilai ekonomi lingkungan dari peningkatan pelayanan persampahan melalui TPS Cikadut dengan menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM). Nilai ekonomi lingkungan dapat berguna sebagai upaya peningkatan pelayanan PD Kebersihan terhadap masyarakat atas partisipasi kesediaan membayar lebih untuk mencapai hal tersebut . Metode Penelitian Lokasi Penelitian Pada penelitian ini, lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Jatihandap Sasaran objek penelitian adalah masyarakat yang terlayani oleh PD Kebersihan Kota Bandung melalui TPS Cikadut di Kelurahan Jatihandap Desain Survey Penelitian Perhitungan Slovin merupakan tahap awal yang dilakukan untuk mengukur jumlah sampel responden yang akan diwawancara dan diberikan kuesioner. Perhitungannya dilakukan berdasarkan jumlah total kepala keluarga yang ada di Kelurahan Jatihandap. Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Jatihandap pada tahun 2019 sebanyak 6. 285 KK dan berikut ini perhitungan jumlah sampel dengan tingkat error 8%: Untuk d=8% ycA n = ycAycc2 1 = 6285 y . 2 1 = 152,47 OO 153KK Dimana : n= jumlah sample N= banyaknya jumlah KK d= % tingkat error Kemudian dari jumlah yang didapatkan dilakukan wawancara dan pembagian kuesioner secara acak sebanyak 153 KK dari 6. 285 KK di kelurahan Jatihandap untuk mendapatkan informasi terkait Kuesioner yang dibagikan kepada responden berisikan 3 bagian utama. Pertama, data responden yang berisikan informasi pribadi responden yang terdiri dari usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir, jenis pekerjaan yang sedang dijalani, jumlah pendapatan tiap bulan, jumlah orang dalam 1 rumah, iuran retribusi sampah tiap bulan. Kedua, penilaian kualitas pengelolaan persampahan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan seputar kualitas pengelolaan persampahan saat ini seperti jumlah pengangkutan sampah tiap bulan, tepat waktunya kegiatan pengangkutan dan penilaian dari masingmasing responden. Ketiga, sikap partisipatif warga dan kesediaan membayar lebih (WTP) memuat pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana sikap partisipatif warga terhadap kondisi pengelolaan persampahan eksisting dan besaran nilai WTP yang mau dikeluarkan dari setiap responden. Pasar hipotetik yang dibentuk dalam kuesioner ini yaitu bahwa masalah sampah ini perlu solusi bersama antara pemerintah dan masyarakat sehingga masyarakat wajib berperan sebagai orang pertama yang menanggulangi masalah sampah ini di tahap awal . Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1107 - 1114 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Pengumpulan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari Data Primer dan Data Sekunder. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan secara observasi, wawancara, dokumentasi, sementara pengambilan data sekunder dilakukan langsung dengan meminta data ke Kelurahan Jatihandap . Analisis Data Data dan informasi yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan software SPSS. Hasil dari analisis tersebut berupa variabel-variabel apa saja yang paling berpengaruh terhadap kesediaan membayar warga untuk meningkatkan pelayanan persampahan di Kelurahan Jatihandap . Hasil dan Pembahasan Karakteristik Responden Karakteristik responden direpresentasikan melalui data usia, jenis kelamin, riwayat pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, jumlah orang dalam 1 rumah, iuran persampahan tiap bulan. Berikut ini karakteristik responden sebagai variabel yang mempengaruhi terhadap nilai WTP berdasarkan hasil kuesioner penelitian: Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1107 - 1114 Gambar 1. Grafik variabel yang mempengaruhi terhadap nilai WTP Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Analisis Nilai WTP Responden Nilai WTP responden didapatkan dari selisih biaya iuran sampah yang bersedia dibayarkan dikurangin dengan biaya iuran sampah eksisting. Berikut ini nilai WTP dari 138 responden yang memiliki nilai WTP . Tabel 1. Distribusi nilai EWTP responden WTP (Rupia. Jumlah Responden (KK) Frekuensi Relatif (Pf. EWTP (Rupia. 63 0,457 68 0,493 7 0,051 Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai EWTP responden sebagai tambahan terhadap biaya iuran sampah eksisting responden Kelurahan Jatihandap dalam upaya peningkatan pelayanan persampahan melalui TPS Cikadut total sebesar Rp 12. 971/bulan. Nilai WTP didapatkan melalui metode bidding game yang diajukan kepada responden, selanjutnya dikurangi dengan biaya retribusi sampah sebelumnya, sehingga nilai TWTP yang didapatkan nantinya murni untuk peningkatan pelayanan persampahan di Kelurahan Jatihandap tanpa memperhitungkan biaya fasilitas atau operasional yang telah berjalan sebelumnya . Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 No. p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1107 - 1114 Tabel 2. Distribusi nilai TWTP responden WTP Frekuensi Populasi TWTP (Rupia. (Responde. (KK) (Rupia. Total Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Jatihandap yang bersedia membayar dalam upaya peningkatan pelayanan persampahan diperkirakan sebanyak 5. 489 KK . dari jumlah populasi eksistin. dengan nilai TWTP sebesar Rp 80. 000/bulan. Nilai TWTP merupakan acuan untuk rekomendasi dalam upaya peningkatan pelayanan persampahan di Kelurahan Jatihandap melalui TPS Cikadut dari segi anggaran/dana pembiayaan. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai WTP dilakukan analisis uji t, uji F dan uji koefisien determinasi. Analisis Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen dengan variabel dependen dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05 . Hipotesis yang diterapkan pada penelitian ini yaitu: C Ho = Nilai WTP tidak dipengaruhi secara signifikan oleh variabel independen. C Ha = Nilai WTP dipengaruhi secara signifikan oleh variabel independen. Tabel 3. Hasil Uji t Variabel Independen t Hitung t Tabel Keterangan Usia -1,022 1,97882 t hitung < t tabel Jenis Kelamin 0,387 1,97882 t hitung < t tabel Pekerjaan -0,999 1,97882 t hitung < t tabel Tingkat Pendidikan 1,97882 t hitung < t tabel Jumlah Orang Setiap Rumah 1,219 1,97882 t hitung < t tabel Tingkat Pendapatan 1,97882 t hitung < t tabel Iuran Sampah -9,508 1,97882 t hitung < t tabel Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Penelitian ini menerapkan analisis uji t dengan 2 kriteria pengujian yaitu: . C Ho = apabila nilai t hitung > t table maka kesimpulan ditolak. C Ha = apabila nilai t hitung < t table maka kesimpulan diterima. Variabel independen dengan pernyataan Ho diterima adalah variabel tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan di kelurahan Jatihandap sebagai variable independen memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai WTP sebagai variabel dependen. Kemudian, dilakukan analisis uji F untuk mendapatkan hasil pengujian yang menunjukkan pengaruh seluruh variabel independen terhadap nilai WTP . ariabel depende. dengan tingkat signifikansi 0,05. Pengujian ini diterapkan dengan kriteria hipotesa sebagai berikut: C Ho = Hubungan antara seluruh variabel independen terhadap variabel dependen tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. C Ha = Hubungan antara seluruh variabel independen terhadap variabel dependen menunjukkan pengaruh yang signifikan F Hitung 4,586 Tabel 4. Hasil analisis Uji F F Tabel Keterangan 2,080 F Hitung > F Tabel Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 hal 1107 - 1114 Kriteria pengujian yang diterapkan pada analisis uji F adalah sebagai berikut: C Ho = kesimpulan diterima apabila nilai F hitung < F tabel. C Ha = kesimpulan ditolak apabila nilai F hitung > F tabel. Berdasarkan Tabel 4, penentuan pengaruh seluruh variabel independen berdasarkan perbandingan nilai F hitung dengan F tabel untuk signifikansi 5%. Diketahui bahwa hasil perbandingan menunjukkan keterangan hasil pengujian (H. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel independen yang ada memiliki hubungan satu sama lainnya . yang berpengaruh terhadap variabel dependen (WTP). Analisis korelasi ganda dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel independen dengan variabel dependen secara serentak Koefisien determinasi ditunjukkan dengan nilai R square atau adjusted R square. Hasil uji korelasi ganda dan determinasi dapat dilihat pada Tabel 5 . Tabel 5. Hasil uji korelasi ganda dan determinasi Model Summary Model R Square Adjusted R Std. Error of Square the Estimate 0,445 0,198 0,155 Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Berdasarkan Tabel 5, didapatkan nilai R sebesar 0,445. Hasil perhitungan SPSS tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara variabel independen dengan variabel dependen berupa hubungan dengan tingkatan sedang. Interpretasi hubungan sedang ini dapat dilihat pada Tabel Koefisien Korelasi, di mana nilai R sebesar 0,573 tergolong ke dalam rentang 0,400 - 0,599 yang memiliki hubungan sedang . Berdasarkan Tabel 6, hasil perhitungan SPSS menghasilkan nilai R square sebesar 0,198 . ,8%) dan sebesar 0,155 . ,5%) untuk nilai adjusted R square. Hasil analisa SPSS ini menunjukkan besarnya persentase pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen yaitu sebesar 19,8 % atau 15,5% variabel dependen. Sisa persentase sebesar 80,2% atau 85,5% merupakan besarnya pengaruh lain yang tidak diinput untuk model penelitian dalam studi kasus ini. Berdasarkan pada Tabel Koefisien Korelasi, interpretasi nilai adjusted R square ini memiliki tingkat ketepatan yang rendah, karena 0,155 termasuk ke dalam interval koefisien 0,11-0,30. Tingkat ketepatan yang rendah mengartikan bahwa masih banyak variabel independen di luar model penelitian yang berkaitan dengan nilai WTP . Kemudian, digunakan analisis linier berganda untuk mengetahui model perhitungan WTP berdasarkan hubungan antara variabel dependen dan variabel independennya sebagai faktor yang mempengaruhi besar-kecilnya nilai WTP di Kelurahan Jatihandap. Dapat dilihat bahwa variabel independen secara signifikan memiliki pengaruh besar apabila nilai Sig. variabel tersebut memiliki nilai lebih kecil dari nilai alpha () < 0,05. Hasil output coefficient dapat dilihat pada Tabel 6 . Tabel 6. Output Coefficient Model (Konstanta/Variabel Independe. Usia Jenis Kelamin Jenis Pekerjaan Pendidikan Coefficients Unstandardized Coefficients Std. Error 356,005 2020,932 Standardized Coefficients Beta Sig. 5,124 -253,067 -555,320 1137,500 367,692 608,705 332,509 -0,060 -0,073 0,369 -0,688 -0,912 3,421 0,s493 0,363 0,001 265,244 564,519 0,049 0,470 0,639 -0,090 -0,031 0,174 -1,067 -0,290 2,080 0,288 0,772 0,040 Jumlah Orang -310,862 291,295 Penghasilan -138,596 477,965 Iuran 1741,900 837,647 Variabel Dependen: WTP Sumber: Hasil perhitungan, 2019 Serambi Engineering. Volume V. No. Juli 2020 hal 1107 - 1114 p-ISSN : 2528-3561 e-ISSN : 2541-1934 Berdasarkan hasil analisa SPSS pada Tabel 6, variabel dependen Iuran Retribusi sampah dan Jenis Kelamin menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap nilai WTP. Setelah mendapatkan variabel independen yang signifikan, selanjutnya didapatkan model perhitungan WTP serta faktor yang mempengaruhi besar-kecilnya nilai WTP tersebut dalam bentuk regresi linear berganda sebagai berikut: WTPi = 10. 356,005 1741,900 IU Ae 555,320 JK Berdasarkan persamaan regresi linear berganda di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut . C Konstanta sebesar 10. 356,005 merupakan biaya tetap dari WTP sebelum dipengaruhi variabelvariabel lainnya. C Koefisien regresi variabel Iuran Sampah sebesar 1741,900 merupakan variabel dengan koefisien bernilai positif yang menunjukkan akan adanya peningkatan nilai WTP dari pengaruh variabel Iuran Sampah. Semakin bertambah jumlah variabel tersebut maka semakin meningkat nilai WTP yang dihasilkan. C Koefisien regresi variabel jenis kelamin sebesar -555,320 merupakan variabel dengan koefisien bernilai negatif yang menunjukkan akan adanya penurunan nilai akibat pengaruh jenis kelamin. Semakin bertambah nilai variabel tersebut maka akan semakin menurun nilai WTP yang Berdasarkan penjelasan di atas, maka nilai WTP responden dalam upaya peningkatan pelayanan persampahan di Kelurahan Jatihandap dan/atau lainnya, dapat dilakukan di daerah yang memiliki iuran retribusi sampah yang lebih tinggi/ lebih stabil dan jenis kelamin yang lebih sedikit kesamaannya dengan penjelasan visualisasi pasar hipotetik yang telah direncanakan sebelumnya kepada responden sebagai gambaran agar responden lebih paham dari tertarik terhadap manfaat peningkatan pelayanan persampahan di Kelurahan Jatihandap . Kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan didapat nilai kesediaan WTP di Kelurahan Jatihandap sebesar Rp. 971/bulan dan total WTP sebesar Rp 80. 000/ bulan. Nilai WTP ini dipengaruhi oleh 2 faktor dependen terbesar menurut analisis SPSS yaitu iuran sampah dan jenis kelamin Berdasarkan nilai WTP yang didapat dapat diberikan beberapa rekomendasi antara lain merenovasi/mendesain ulang TPS Cikadut menjadi TPS 3R Cikadut, menambah armada alat pengumpul sampah, memperbaiki jadwal pengumpulan sampah agar lebih teratur dan efisien. Daftar Pustaka