Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (PPK) TERHADAP PEGAWAI DI SEKOLAH DASAR NEGERI 66 KOTA JAMBI Gum Akbar Putra Gumay Program Studi Keperawatan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Jambi Email: gumakbarp@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) merupakan tindakan awal yang harus segera diberikan kepada korban sebelum memperoleh penanganan medis lanjutan, terutama di lingkungan sekolah dasar karena anak-anak rentan mengalami kecelakaan dan cedera akibat tingginya aktivitas fisik dan lingkungan yang sulit diprediksi. Survei awal pada wali murid Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Jambi menunjukkan penanganan kejadian seperti pingsan, mimisan, dan luka lecet masih terbatas pada membawa korban ke UKS tanpa tindakan P3K yang memadai. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pegawai/staf terhadap siswa tentang pertolongan pertama pada kecelakaan di Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Jambi. Metode: penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling terhadap 35 pegawai/staf yang masih aktif bekerja, menggunakan kuesioner baku dari Sihombing . yang telah teruji valid dan reliabel (Cronbach Alpha 0,. , kemudian dianalisis secara univariat. Hasil: mayoritas responden berjenis kelamin perempuan . ,6%) dan berusia 31Ae 40 tahun . ,3%). Tingkat pengetahuan pegawai berada pada kategori baik di seluruh indikator, yaitu konsep pertolongan pertama . ,7%), pingsan . ,6%), luka dan perdarahan . ,6%), tersedak . %), gigitan dan sengatan . %), patah tulang . ,7%), serta keracunan makanan . ,3%) sebagai indikator dengan skor Saran: pihak sekolah disarankan mengadakan pelatihan P3K secara berkala bagi pegawai dan guru, menjalin kerja sama dengan puskesmas atau dinas kesehatan, serta melengkapi fasilitas UKS dengan peralatan dan panduan P3K yang memadai guna mempertahankan dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menangani kecelakaan di lingkungan sekolah. Kata Kunci: Kecelakaan. Pegawai sekolah. Pengetahuan. Pertolongan pertama. Sekolah dasar ABSTRACT Background: First aid is an initial action that must be given immediately to a victim before receiving further medical treatment, particularly in elementary school settings, as children are highly vulnerable to accidents and injuries due to high physical activity and unpredictable environments. A preliminary survey of parents at State Elementary School 66 Jambi City showed that handling of fainting, nosebleeds, and abrasions was still limited to bringing victims to the school health unit (UKS) without proper first aid measures. Objective: this study aimed to describe the level of knowledge of school employees/staff regarding first aid for accidents among students at State Elementary School 66 Jambi City. Method: this study used a quantitative descriptive design with a total sampling technique involving 35 active employees/staff, using a standardized questionnaire adapted from Sihombing . , which had been tested for validity and reliability (Cronbach's Alpha 0. , and analyzed using univariate analysis. Results: most respondents were female . 6%) and aged 31Ae40 years . 3%). The employees' level of knowledge was categorized as good across all indicators, namely the concept of first aid . 7%), fainting . 6%), wounds and bleeding . 6%), %), bites and stings . %), fractures . 7%), and food poisoning . 3%), which had the lowest Recomendation: schools are advised to hold regular first aid training for employees and teachers, establish collaboration with community health centers, and equip the UKS with adequate first aid facilities and accessible guidelines to maintain and improve preparedness in handling accidents at school. Keywords: Accident. Elementary school. First aid. Knowledge. School employees. Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 PENDAHULUAN umum tercatat mencapai 13 persenAA. Kecelakaan dan cedera pada anak usia Tingginya angka tersebut sejalan dengan sekolah masih menjadi masalah kesehatan temuan bahwa pengetahuan pertolongan masyarakat yang signifikan di tingkat pertama pada kalangan pendidik dan Menurut World Health Organization peserta didik di Indonesia masih bervariasi. (WHO), kecelakaan merupakan salah satu Sebagai contoh, hasil penelitian pada siswa penyebab utama kematian dan kecacatan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Sleman pada remaja, dengan proporsi kecelakaan Yogyakarta menunjukkan bahwa sebesar kendaraan bermotor sebesar 30 persen, 43,3 persen siswa memiliki pengetahuan cedera tidak disengaja sebesar 15 persen, kekerasan sebesar 15 persen, dan bunuh diri khususnya pada kasus patah tulang, akibat keseluruhan sekitar 72 persen kematian minimnya sosialisasi dan bimbingan praktik pada kelompok usia sepuluh hingga dua terkaitAA. Pada keempat faktor tersebut. Pada rentang usia penelitian terhadap 38 responden guru sepuluh hingga tujuh belas tahun, lebih dari sekolah dasar menunjukkan bahwa hanya satu juta kasus cedera berat yang berkaitan 10 responden . ,32%) yang memahami lingkungan sekolah setiap tahunnya. Data responden . ,68%) tidak memahaminya, tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sehingga pendidikan kesehatan dinilai perlu ditingkatkan bagi guru sekolah dasarAA. menghabiskan sebagian besar waktunya. Kondisi ini penting untuk diperhatikan merupakan area dengan risiko kejadian darurat yang tidak dapat diabaikanA,A. ketidaktepatan penanganan awal dapat Di tingkat nasional, kondisi serupa juga tergambar dari data yang menunjukkan meningkatkan risiko perdarahan, syok, bahwa sebesar 5,4 persen kejadian cedera infeksi, hingga kematianAA,AA. pada anak usia sekolah terjadi di lingkungan Secara lokal, permasalahan tersebut sekolah, dengan rentang usia lima hingga turut ditemukan di Sekolah Dasar Negeri 66 empat belas tahun, sementara prevalensi Kota Jambi. Hasil wawancara awal yang cedera pada kelompok usia sekolah secara dilakukan peneliti terhadap tiga puluh wali Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 sebelum bantuan medis profesional tiba. menunjukkan bahwa penanganan awal yang Keterbatasan akses terhadap layanan medis paling sering dilakukan ketika terdapat yang responsif, khususnya pada situasi membawa korban ke unit kesehatan sekolah (UKS), tanpa disertai tindakan pertolongan pengetahuan dan keterampilan P3K pada pertama yang sesuai standar. Jenis cedera tingkat individu dan komunitas terdekat, yang paling sering dilaporkan terjadi di sekolahA,A,AA. Fenomena pingsan, mimisan, dan luka lecet. pertolongan pertama pada pegawai sekolah Pada kasus yang lebih berat, seperti dasar tersebut mendorong peneliti untuk kejadian patah tulang akibat terjatuh dari melakukan kajian mengenai gambaran lantai dua, penanganan yang dilakukan guru tingkat pengetahuan pegawai terhadap terbatas pada membawa korban langsung ke siswa tentang pertolongan pertama pada rumah sakit atau menghubungi orang tua kecelakaan di Sekolah Dasar Negeri 66 tanpa tindakan stabilisasi awal. Kondisi ini Kota Jambi. memperlihatkan adanya kesenjangan antara METODE PENELITIAN kesiapan pengetahuan pegawai atau staf Penelitian ini merupakan penelitian sekolah dalam memberikan pertolongan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, pertama pada kecelakaan (P3K). yang bertujuan untuk menggambarkan Pertolongan pertama pada kecelakaan tingkat pengetahuan pegawai terhadap merupakan bantuan medis dasar yang siswa tentang pertolongan pertama pada diberikan secara cepat dan tepat kepada kecelakaan (P3K) di Sekolah Dasar Negeri korban sakit, cedera, atau kecelakaan 66 Kota Jambi. sebelum memperoleh penanganan lanjutan kuantitatif dipilih karena penelitian ini Pengetahuan berfokus pada satu variabel yang telah mengenai P3K tidak hanya penting dimiliki ditentukan, tanpa menguji hubungan sebab- oleh tenaga kesehatan, tetapi juga oleh akibat antar variabel, dan menyajikan hasil tenaga pendidik, staf sekolah, dan peserta didik, mengingat seluruh warga sekolah bermakna. kesehatanAA. Penelitian Penelitian dilaksanakan di Sekolah Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Dasar Negeri 66 Kota Jambi (SD Negeri pengambilan data, penjagaan privasi dan 66/IV), yang berlokasi di Kecamatan kerahasiaan identitas responden melalui Telanaipura. Kota Jambi. Provinsi Jambi. berupa inisial atau Pengumpulan data dilakukan pada bulan nomor identifikasi, prinsip keadilan dan Februari sampai dengan Maret 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh responden secara setara tanpa seluruh pegawai atau staf Sekolah Dasar membedakan jenis kelamin atau latar Negeri 66 Kota Jambi yang berjumlah 52 orang berdasarkan data yang terdaftar pada meminimalkan risiko atau kerugian yang laman resmi Kementerian Pendidikan dan mungkin timbul selama proses penelitianAA. Kebudayaan. Teknik pengambilan sampel Pengumpulan yang digunakan adalah total sampling, yaitu menggunakan data primer yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi langsung oleh menyertakan seluruh anggota populasi yang Instrumen yang digunakan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi merupakan kuesioner baku yang diadopsi sebagai sampel penelitian. Berdasarkan dari penelitian Sihombing, terdiri atas 35 kriteria tersebut, diperoleh sebanyak 35 pernyataan yang mencakup tujuh indikator, orang pegawai atau staf yang memenuhi syarat sebagai responden. Kriteria inklusi penanganan pingsan, gigitan dan sengatan, meliputi pegawai atau staf yang masih aktif keracunan, tersedak, luka dan perdarahan, bekerja di sekolah tersebut, berusia minimal serta patah tulang . Setiap jawaban 20 tahun, bersedia menjadi responden, benar pada pernyataan positif diberi skor 1 mampu membaca dan menulis, serta dan jawaban salah diberi skor 0, sedangkan memiliki telepon seluler atau gawai. pada pernyataan negatif . utir nomor 7, 13. Kriteria eksklusi meliputi pegawai atau staf 22, dan . berlaku sebaliknya, yaitu yang tidak kooperatif atau sedang dalam jawaban AuyaAy diberi skor 0 dan jawaban kondisi sakit pada saat pengambilan data. AutidakAy diberi skor 1 karena instrumen yang Penelitian ini telah memperhatikan digunakan merupakan instrumen baku yang telah teruji sebelumnya, peneliti tidak penghormatan terhadap martabat manusia melakukan uji validitas dan reliabilitas Instrumen ini dinyatakan valid dengan nilai r hitung lebih besar dari 0,361 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 dan reliabel dengan nilai Cronbach's Alpha variabel penelitianAA. Tingkat pengetahuan sebesar 0,985. Prosedur pengumpulan data diawali kelompok, yaitu kategori baik dengan skor dengan pengajuan surat izin penelitian dari 24Ae35 . Ae100%), kategori cukup dengan Program Studi Keperawatan Universitas skor 12Ae23 . Ae75%), dan kategori kurang Jambi kepada pihak Sekolah Dasar Negeri dengan skor 0Ae11 (<56%)AA. 66 Kota Jambi. Setelah memperoleh Hasil penelitian disajikan dalam persetujuan dari pihak sekolah, peneliti bentuk tabel distribusi frekuensi yang menjelaskan tujuan, manfaat, dan prosedur memuat jumlah dan persentase responden penelitian kepada responden, dilanjutkan pada setiap kategori data demografi . enis kelamin, usia, agama, suku, dan kela. serta persetujuan . nformed consen. Peneliti kemudian mendampingi responden selama pertolongan pertama pada kecelakaan, memastikan kelengkapan jawaban, dan menginterpretasikan temuan pada masing- melakukan pemeriksaan ulang terhadap masing tabel. kuesioner yang telah diisi sebelum data dikumpulkan untuk dianalisis. HASIL PENELITIAN Data yang terkumpul diolah melalui hanya menghasilkan analisis univariat, kelengkapan dan konsistensi data, coding sehingga tidak terdapat hasil analisis untuk pemberian kode numerik pada setiap bivariat maupun multivariat. Data disajikan kategori jawaban, scoring untuk penilaian jawaban sesuai pedoman kuesioner, entry data untuk memasukkan data ke dalam pengetahuan pertolongan pertama pada perangkat lunak pengolah data, cleaning kecelakaan (P3K). untuk memeriksa ulang kebenaran data Karakteristik Responden yang telah diinput, dan tabulating untuk Penelitian ini melibatkan 35 responden menyusun data ke dalam bentuk tabel agar pegawai atau staf Sekolah Dasar Negeri 66 dapat dianalisis lebih lanjut. Analisis data Kota Jambi. Berdasarkan jenis kelamin. Penelitian ini bersifat deskriptif dan responden didominasi oleh perempuan. Berdasarkan usia, kelompok terbanyak Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 berada pada rentang 31 sampai dengan 40 oleh suku Melayu. Berdasarkan kelas yang diampu, responden paling banyak berasal Berdasarkan Islam, sedangkan berdasarkan suku, responden Karakteristik responden disajikan pada Tabel 1. terbanyak berasal dari suku Jawa, diikuti Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Demografik Responden Variabel Jenis Kelamin A Laki-Laki A Perempuan Usia A 21-30 tahun A 31-40 tahun A >40 tahun Agama A Islam A Kristen Suku A Jawa A Melayu A Bugis A Minang A Batak A Lainnya (Toraja. Bali. Aceh. Dayak. Betawi. Banja. Kelas yang Diampu A Kelas 1 A Kelas 2 A Kelas 3 A Kelas 4 A Kelas 5 A Kelas 6 Tingkat Pengetahuan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Frekuensi . Persentase (%) jawaban benar berkisar antara 86,3 persen hingga 97,7 persen. Indikator dengan Hasil analisis univariat terhadap tujuh capaian tertinggi adalah konsep dasar indikator pengetahuan P3K menunjukkan pertolongan pertama, sedangkan indikator bahwa seluruh indikator berada pada penanganan keracunan makanan. Rincian rata-rata Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 tingkat pengetahuan pada setiap indikator disajikan pada Tabel 2. Table 1 Ditribusi Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Indikator Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Indikator Konsep Pertolongan Pertama Penanganan Pingsan Luka dan Perdarahan Tersedak Gigitan dan Sengatan Patah Tulang (Fraktu. Keracunan Makanan Rata-rata Jawaban Benar . Pada indikator konsep pertolongan Persentase (%) Kategori Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik terluka lebih tinggi dari posisi jantung untuk . %) mengurangi aliran darah ke area luka. memahami bahwa pertolongan pertama Pemahaman terendah pada indikator ini harus diberikan sesegera mungkin dan terkait penanganan perdarahan yang tidak bersifat sementara sebelum korban dirujuk berhenti dan penanganan mimisan, masing- ke rumah sakit. Pemahaman terendah pada masing sebesar 94,3 persen. indikator ini terkait keharusan pertolongan Pada pertama untuk tidak menggantikan tindakan medis, dengan capaian 94,3 persen. penyebab patah tulang akibat cedera atau Pada indikator penanganan pingsan, mempertahankan posisi tulang agar tidak tindakan melonggarkan pakaian korban dan menempatkan korban di area yang teduh 100%), sedangkan pemahaman terendah tanpa kerumunan . asing-masing 100%). terkait teknik penekanan saat menstabilkan Namun, tulang yang patah, yaitu sebesar 82,9 kepala korban pingsan yang disertai muntah tercatat lebih rendah, yaitu 85,7 persen. asing-masing Pada indikator keracunan makanan. Pada indikator luka dan perdarahan, sebagai indikator dengan capaian terendah seluruh responden . %) memahami secara keseluruhan, pemahaman terendah prinsip mengangkat bagian tubuh yang Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 secara nasional didominasi oleh guru Asumsi peneliti, komposisi keracunan makanan, yaitu sebesar 77,1 usia responden yang mayoritas berada pada persen, yang mengindikasikan adanya kerancuan responden antara penanganan berkontribusi terhadap tingginya capaian keracunan makanan dengan penanganan pengetahuan P3K pada penelitian ini, henti napas. karena pada rentang usia tersebut individu umumnya telah memiliki pengalaman kerja PEMBAHASAN dan paparan informasi kesehatan yang lebih Penelitian ini bersifat deskriptif dan banyak dibandingkan pegawai yang baru hanya menghasilkan analisis univariat, memulai karier. sehingga pembahasan berikut difokuskan Konsep Pertolongan Pertama pada interpretasi setiap variabel tanpa uji . ivariat/ Hasil pengetahuan responden terhadap konsep dasar pertolongan pertama berada pada Karakteristik Demografi Responden kategori baik . ,7%), dengan seluruh Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memahami bahwa pertolongan mayoritas responden berjenis kelamin pertama harus diberikan segera dan bersifat perempuan . ,6%) dan berusia 31 sampai sementara sebelum rujukan ke fasilitas dengan 40 tahun . ,3%). Secara teoritis, usia memengaruhi perkembangan pola pertama merupakan bantuan medis dasar yang diberikan kepada korban sakit, cedera, kognitif seseorang, sehingga individu pada atau kecelakaan sebagai tindakan awal rentang usia dewasa madya cenderung sebelum penanganan lanjutan oleh tenaga profesionalAA. pengalaman kerja yang lebih terakumulasi Secara Temuan ini sejalan dengan konsep dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. penerimaan informasi melalui pancaindra Dominasi jenis kelamin perempuan yang membentuk pemahaman kognitif seseorang terhadap suatu objekAA, dalam hal karakteristik umum tenaga pendidik di ini objeknya adalah prosedur P3K yang jenjang sekolah dasar di Indonesia, yang kemungkinan besar telah diperkenalkan Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 melalui pendidikan formal, pelatihan di membaringkan korban pada posisi kepala tempat kerja, atau paparan media informasi lebih rendah, melonggarkan pakaian, dan Dibandingkan dengan penelitian memiringkan kepala apabila terjadi muntah pada guru sekolah dasar yang menunjukkan untuk mencegah aspirasiAA. Rendahnya hanya 26,32 persen responden memahami pemahaman pada butir posisi kepala saat pertolongan pertama, hasil penelitian ini muntah ini merupakan temuan ilmiah yang justru menunjukkan capaian yang jauh lebih penting untuk dicermati, sebab kesalahan pada tahap ini berisiko menyebabkan Perbedaan sumbatan jalan napas akibat aspirasi disebabkan oleh perbedaan karakteristik muntahan, yang secara fisiologis dapat populasi, metode edukasi yang pernah berkembang menjadi kondisi yang lebih fatal dibandingkan pingsan itu sendiri. instrumen pengukuran yang digunakan Dibandingkan dengan penelitian pada pada masing-masing penelitian. Asumsi siswa yang menunjukkan edukasi P3K peneliti, tingginya pemahaman konsep mampu meningkatkan pengetahuan dari dasar P3K pada penelitian ini tidak serta- kategori kurang menjadi baik . ,6%) merta mencerminkan kesiapan praktik di setelah intervensiAA, hasil penelitian ini yang lapangan, karena pengetahuan konseptual sudah berada pada kategori baik tanpa . merupakan tingkat kognitif paling intervensi formal mengindikasikan bahwa dasar yang belum tentu selaras dengan responden kemungkinan telah memperoleh kemampuan aplikasi nyata saat menghadapi paparan informasi P3K sebelumnya, baik kondisi darurat sesungguhnya. melalui pengalaman kerja di lingkungan Penanganan Pingsan sekolah maupun sumber informasi lain. Hasil Asumsi peneliti, kesenjangan pemahaman spesifik pada penanganan muntah saat penanganan pingsan berada pada kategori pingsan mencerminkan bahwa pengetahuan responden bersifat umum dan belum mengenai posisi kepala korban yang sepenuhnya menjangkau detail teknis yang disertai muntah tercatat lebih rendah berisiko tinggi, sehingga pelatihan lanjutan . ,7%) dibandingkan butir pernyataan perlu difokuskan pada aspek-aspek teknis lainnya pada indikator ini. Teknik yang semacam ini, bukan hanya pada konsep tepat dalam penanganan pingsan meliputi . ,6%). Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 Luka dan Perdarahan Hasil penanganan luka dan perdarahan berada pada kategori baik . ,6%), dengan capaian preventif dasar dibandingkan tindakan tertinggi pada prinsip elevasi bagian tubuh yang terluka untuk mengurangi aliran darah mengancam nyawa. %), namun capaian lebih rendah pada Tersedak penanganan perdarahan yang tidak kunjung Hasil berhenti dan penanganan mimisan . ,3%). Secara fisiologis, perdarahan terjadi penanganan tersedak berada pada kategori akibat kerusakan pembuluh darah yang baik . %), dengan capaian terendah pada butir mengenai teknik penempatan kepalan terbuka dan tertutup, dan penanganannya tangan pada garis tengah tubuh di bawah tulang dada . ,4%). Manuver Heimlich mencegah kehilangan darah berlebih yang merupakan teknik pertolongan pertama dapat mengarah pada syok hipovolemika. standar untuk mengeluarkan benda asing Perawatan awal yang tidak efektif terhadap yang menyumbat jalan napas, yang secara luka juga berisiko menjadi pintu masuk teknis memerlukan ketepatan posisi tangan bakteri yang dapat menyebar ke seluruh dan arah tekanan agar efektif dan tidak tubuh dan membahayakan korbanAA. Temuan korbanAA. Ketepatan posisi anatomis dalam mimisan memiliki capaian relatif lebih manuver ini merupakan aspek teknis yang kompleks dan memerlukan latihan praktik mengingat kedua kondisi tersebut termasuk konseptual, sehingga wajar apabila capaian kejadian yang cukup sering dilaporkan terjadi pada siswa di SD Negeri 66 Kota dibandingkan butir konseptual lainnya pada Jambi berdasarkan hasil wawancara awal indikator yang sama. Asumsi peneliti, penelitian ini. Asumsi peneliti, tingginya kesenjangan pengetahuan teknis semacam pemahaman pada prinsip elevasi luka ini memperkuat urgensi pelatihan berbasis | 10 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 simulasi atau praktik langsung . ands-on responden terhadap penanganannya secara Asumsi berbasis ceramah, mengingat keterampilan peneliti, tren pengetahuan yang lebih tinggi psikomotor pada P3K umumnya lebih pada kasus dengan paparan lebih sering efektif dikuasai melalui repetisi praktik . igitan serangg. dibandingkan kasus yang dibandingkan pemaparan teori semata. jarang terjadi . igitan ula. mencerminkan Gigitan dan Sengatan pola pembelajaran berbasis pengalaman Hasil . xperiential dijelaskan dalam teori bahwa pengalaman penanganan gigitan dan sengatan berada turut memengaruhi tingkat pengetahuan pada kategori baik . %), dengan capaian seseorangAA. terendah pada penanganan gigitan ular Patah Tulang (Fraktu. melalui teknik bendungan atau ikatan di Hasil bawah area gigitan . ,6%). Secara teori, penanganan patah tulang berada pada kategori baik . ,7%) sebagai indikator penyebab serta teknik penanganan yang dengan capaian kedua terendah, dengan berbeda-beda, misalnya pengeluaran sengat secara hati-hati pada sengatan lebah atau penekanan saat menstabilkan tulang yang observasi tanda reaksi alergi pada gigitan patah . ,9%). Prinsip utama penanganan serangga tertentu, mengingat sebagian fraktur adalah mempertahankan posisi gigitan dapat menularkan penyakit atau tulang agar tidak bergerak berlebihan tanpa memicu reaksi anafilaksis yang mengancam memberikan penekanan langsung pada area cedera, karena penekanan yang tidak tepat Relatif lebih rendahnya pemahaman berisiko memperparah kerusakan jaringan pada penanganan gigitan ular dibandingkan dan pembuluh darah di sekitar tulang yang gigitan serangga umum dapat dijelaskan patah, sehingga dapat meningkatkan risiko secara ilmiah oleh faktor paparan, yaitu perdarahan dan syokAA. kejadian gigitan ular jauh lebih jarang Rendahnya pemahaman pada butir ini terjadi di lingkungan perkotaan seperti area merupakan temuan ilmiah yang signifikan sekolah dibandingkan gigitan serangga karena bertentangan dengan prinsip dasar sehari-hari, | 11 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 menyebabkan penanganan yang justru keracunan makanan . ,1%). Secara teori, penanganan keracunan makanan berfokus diterapkan secara keliru di lapangan. pada dua fase utama, yaitu penyelamatan Dibandingkan anggota Palang Merah Remaja di SMP tindakan awal berupa pengenceran atau Negeri 2 Kuta Utara yang menunjukkan dehidrasi akibat muntah dan diare, bukan fraktur dari kategori baik sebesar 0 persen pemberian napas buatan yang secara klinis sebelum pelatihan menjadi 87,5 persen lebih relevan untuk kondisi henti napas. setelah pelatihanAA, hasil penelitian ini yang Temuan bahwa lebih dari 20 persen telah mencapai 93,7 persen tanpa pelatihan formal khusus menunjukkan hasil yang penanganan keracunan makanan dengan relatif lebih tinggi, namun kesalahpahaman napas buatan mengindikasikan adanya spesifik pada teknik penekanan tetap perlu tumpang tindih pemahaman . menjadi perhatian khusus. Asumsi peneliti, antara protokol penanganan keracunan dengan protokol resusitasi pada kondisi indikator ini namun rendahnya pemahaman pada satu butir teknis krusial menunjukkan bahwa evaluasi pengetahuan P3K tidak kegawatdaruratan yang berbeda mekanisme cukup dilihat dari skor rata-rata semata, dan indikasinya. melainkan perlu ditelaah pada tingkat butir Kondisi ini dapat dijelaskan oleh keterbatasan akses responden terhadap miskonsepsi spesifik yang berisiko tinggi. edukasi P3K yang terstruktur dan spesifik Keracunan Makanan per jenis kasus, sehingga pengetahuan yang Hasil terbentuk cenderung bersifat generalisasi dari kasus kegawatdaruratan yang lebih penanganan keracunan makanan berada familiar, seperti henti napas atau tersedak. pada kategori baik namun dengan capaian Asumsi peneliti, rendahnya capaian pada . ,3%), dengan pemahaman paling rendah pada pemberian napas buatan sebagai pengetahuan yang paling memerlukan intervensi edukasi lanjutan dibandingkan | 12 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 P3K kesalahan penanganan pada kasus ini area-area berpotensi menunda pertolongan yang tepat miskonsepsi teknis yang teridentifikasi dan memperberat kondisi korban. dalam penelitian ini. Temuan Ilmiah Keseluruhan Hasil penelitian ini turut menjawab Secara keseluruhan, temuan ilmiah fenomena yang dikemukakan pada bagian utama dari penelitian ini adalah bahwa pendahuluan, yaitu adanya kesenjangan Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Jambi terhadap terhadap kejadian cedera di lingkungan sekolah dengan kesiapan pengetahuan berada pada kategori baik di seluruh indikator, dengan pola penurunan capaian kategori baik, temuan pada tingkat butir kasus-kasus pernyataan menunjukkan bahwa kesiapan manuver Heimlich dan stabilisasi fraktu. tersebut belum sepenuhnya merata pada serta kasus dengan paparan lebih jarang di seluruh aspek teknis P3K, sehingga potensi lingkungan sekolah . eperti keracunan makanan dan gigitan ula. praktik di lapangan tetap perlu menjadi . eperti Pola Meskipun pengetahuan, di mana pengetahuan pada level "tahu" . dan "memahami" lapangan masih terbatas pada rujukan ke . UKS tanpa tindakan P3K yang memadai. dicapai melalui paparan informasi umum. KESIMPULAN "aplikasi" . yang menuntut Berdasarkan tujuan penelitian yang ketepatan teknis memerlukan pembelajaran telah ditetapkan, dapat disimpulkan bahwa pegawai Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Temuan pengulanganAA. Jambi pergeseran pendekatan edukasi P3K di perempuan, berusia 31 sampai dengan 40 tahun, beragama Islam, dan bersuku Jawa. Gambaran tingkat pengetahuan pegawai | 13 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 terhadap siswa tentang pertolongan pertama SARAN pada kecelakaan secara keseluruhan berada Bagi pihak Sekolah Dasar Negeri 66 pada kategori baik di seluruh indikator yang Kota Jambi, disarankan untuk mengadakan diteliti, meliputi konsep dasar pertolongan pertama, penanganan pingsan, tersedak, kecelakaan secara berkala dan berbasis luka dan perdarahan, patah tulang, gigitan praktik . , dengan prioritas materi dan sengatan, serta keracunan makanan. pada penanganan keracunan makanan. Meskipun demikian, temuan pada tingkat teknik stabilisasi patah tulang, dan posisi pemulihan korban pingsan, mengingat pemahaman responden belum sepenuhnya ketiga area tersebut menunjukkan capaian merata pada aspek-aspek teknis yang pengetahuan yang relatif lebih rendah berisiko tinggi apabila salah diterapkan, dibandingkan indikator lainnya. Sekolah khususnya pada penanganan keracunan juga disarankan melengkapi fasilitas unit makanan, teknik stabilisasi patah tulang, kesehatan sekolah (UKS) dengan peralatan dan posisi korban pingsan yang disertai P3K yang memadai serta menyediakan panduan tertulis dan mudah diakses oleh Temuan ini mengindikasikan bahwa Kesehatan dasar terhadap P3K sudah memadai, tetapi disarankan untuk menjalin kerja sama rutin kesiapan pada aspek keterampilan teknis spesifik masih memerlukan penguatan agar penyuluhan dan pelatihan praktis P3K bagi pegawai dan guru sekolah dasar, sebagai kegawatdaruratan yang tepat di lapangan. bagian dari program promosi kesehatan Gagasan lanjutan yang relevan dari temuan berbasis sekolah. Bagi peneliti selanjutnya, ini adalah perlunya kajian lebih mendalam disarankan untuk melakukan penelitian mengenai kesenjangan antara pengetahuan dan praktik aktual pegawai sekolah dalam menghadapi situasi kedaruratan riil, serta berhubungan dengan tingkat pengetahuan P3K P3K, mengembangkan penelitian yang berbasis simulasi yang menyasar secara mengukur kesenjangan antara pengetahuan spesifik pada area miskonsepsi yang dan praktik nyata di lapangan, serta menguji teridentifikasi dalam penelitian ini. efektivitas modul pelatihan P3K berbasis Puskesmas Dinas pengetahuan konseptual pegawai sekolah Bagi faktor-faktor | 14 Babul Ilmi_Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan https://jurnal. stikes-aisyiyah-palembang. Vol. No. Juni 2026. Hal. e-ISSN 2622-6200 | p-ISSN 2087-8362 penyusunan penelitian ini. Ucapan terima keterampilan teknis pegawai sekolah dasar. kasih juga disampaikan kepada pihak Sekolah Dasar Negeri 66 Kota Jambi atas UCAPAN TERIMAKASIH izin dan kerja sama yang diberikan selama Penulis mengucapkan terima kasih Program Studi Keperawatan, proses pengambilan data, serta kepada seluruh pegawai dan staf yang telah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Jambi, atas dukungan akademik penelitian ini. dan fasilitas yang diberikan selama proses DAFTAR PUSTAKA