Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Karakteristik dan Kejadian Luka Bakar Pada Masyarakat Characteristics and Incidence of Burns in the Community Niko Ari Arga1. Jufrizal2* Program Studi Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Bagian Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala *Email: jufrizal@usk. ABSTRAK Luka bakar merupakan masalah kesehatan yang signifikan dan serius. Sebagian besar pasien yang mendapatkan perawatan karena luka bakar membutuhkan waktu penyembuhan yang lama dan biaya yang signifikan untuk perawatan, pengobatan, dan pemulihan fungsi tubuh, baik dari segi estetika maupun rekonstruksi. Dalam kehidupan sehari-hari siapapun berpotensi terhadap terjadinya luka bakar, bisa terjadi di lingkungan rumah maupun diluar lingkungan rumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan kejadian luka bakar pada Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan sampel 396 responden Masyarakat di Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh. Data disajikan dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini didapatkan rerata usia adalah 39. 66, jenis kelamin mayoritas perempuan 296 responden . 7%), pendidikan didominasi tinggi berjumlah 318 responden . 3%) dan pekerjaan 274 responden . berada pada katagori IRT. kejadian luka bakar mayoritas pada katagori pernah 273 responden . 9%) dan katagori tidak pernah 123 responden . 1%) dan penyebab luka bakar mayorritas adalah karena thermal 364 responden . %). Diharapkan kepada masyarakat agar mencari sumber-sumber informasi yang relevan, terutama informasi dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus luka bakar dan dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: karakteristik, luka bakar, masyarakat ABSTRACT Burns are a significant and serious health problem. Most patients who receive treatment for burns require a long healing time and significant costs for care, treatment and restoration of body function, both in terms of aesthetics and In everyday life, anyone has the potential for burns, which can occur at home or outside the home environment. The aim of this research is to identify the characteristics and incidence of burn injuries in the community. This type of research is descriptive with a sample of 396 community respondents in Syiah Kuala District. Banda Aceh City. Data is presented with a frequency The results of this research showed that the average age was 39. the majority gender was female, 296 respondents . 7%), education was Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember predominantly high, numbering 318 respondents . 3%) and the occupation of 274 respondents . 2%) was in the domestic worker category. The majority of burn injuries occurred in the never category, 273 respondents . 9%) and the never category, 123 respondents . 1%) and the majority of burns were caused by thermal damage, 364 respondents . %). It is hoped that the public will look for relevant sources of information, especially information on providing first aid for burns and be able to apply it in everyday life. Keyword: characteristics, burns, society PENDAHULUAN Luka bakar menyebabkan kira-kira 180. 000 kematian setiap tahun. Mereka biasanya muncul di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah. Penyebab utama morbiditas adalah luka bakar yang tidak fatal. Luka bakar terjadi paling sering di rumah dan tempat kerja (WHO, 2. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan tahun 2018, luka bakar terjadi pada 0,7% orang di Indonesia, menempati urutan keenam di antara cidera yang tidak disengaja, menurun 40,9%. sepeda motor 40,6%, benda tajam atau tumpul 7,3%, transportasi darat lainnya 7,1%, dan kejatuhan 2,5%. Di Indonesia, 80% kejadian luka bakar banyak terjadi di rumah dibandingkan dengan terjadi di tempat kerja hanya 20% (Sari, dkk, 2. Luka bakar masyarakat umumnya terjadi di rumah dan lingkungan kerja, seperti terkena minyak goreng, air panas, setrika listrik, dan knalpot. (Indra S, dkk, 2. Jumlah kematian dan morbiditas yang terkait dengan luka bakar tinggi disebabkan oleh tingkat keparahan luka, kurangnya peralatan, sistem pertolongan yang tidak efektif, dan kurangnya pengetahuan penolong tentang prinsip pertolongan awal yang tepat. (Hughes, 2. Tubuh tidak akan mengalami kerusakan jika luka bakar ditangani dengan cepat dan tepat. Dibutuhkan evaluasi permukaan tubuh yang mengalami luka bakar, ditunjukkan dalam bentuk persentase kulit yang terkena luka bakar dan kedalaman infeksi (Tran, dkk, 2. Luka bakar sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan tenaga medis menghadapi tantangan. Negara menengah ke bawah memiliki tingkat luka bakar yang paling tinggi. Luka bakar dapat berasal dari api, air panas, listrik, kimia, kontak, radiasi, dan trauma dingin. Luka bakar dapat mempengaruhi orang dari segala usia, jenis kelamin, dan bahkan potensi kehilangan pekerjaan karenanya. Luka bakar merupakan trauma yang berdampak paling berat terhadap fisik maupun psikologis, dan mengakibatkan penderitaan sepanjang hidup seseorang, dengan angka mortalitas dan morbiditas yang tinggi (Adiltya R, dkk, 2. Selama tiga puluh tahun terakhir, kemajuan dalam pengendalian trauma dan luka bakar telah menghasilkan peningkatan kelangsungan hidup dan penurunan angka kematian dari luka bakar yang parah. Manajemen awal yang tepat adalah kunci untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan hasil yang baik bagi korban luka bakar, baik yang mengalami luka bakar kecil maupun besar. Tingkat kematian untuk luka bakar dengan area permukaan tubuh (TBSA) 50% pada dewasa muda saat ini telah turun menjadi kurang dari 10%. Ini juga berlaku untuk Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember luka bakar dengan TBSA yang sangat luas, di mana lebih dari 50% pasien dapat Ini dapat dicapai berkat kemajuan dalam resusitasi, prosedur bedah, pengendalian infeksi, dan dukungan metabolik dan nutrisi. (Jeschke, dkk, 2. Tindakan pertama yang dilakukan pada korban luka bakar dengan Pendinginan harus diberikan tidak lebih dari tiga jam setelah insiden. Agen yang mengandung emas atau emas sulfadiazine juga dapat digunakan sebagai obat topikal pada luka bakar (Masood et all, 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik dan kejadian luka bakar pada METODE Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskripstif Populasi yang berdomisili di Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh berjumlah 21. 105 orang masyarakat, dengan menggunakan sampling didapatkan sampel berjumlah 396 orang. Penelitian dilakukan pada 2 Januari - 16 Februari 2023 dan melalui uji etik pada komite etik penelitian Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala dengan nomor Data dianalisis secara univariat dengan menampilan distribusi HASIL Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden Karakteristik Sub karakteristik Usia Rerata: 39. Jenis Kelamin Pendidikan Pekerjaan Perempuan Laki-laki Rendah Tinggi IRT Buruh/Tani PNS Wiraswasta Total Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa rerata usia adalah 39. 66, jenis kelamin mayoritas perempuan 296 responden . 7%), pendidikan didominasi tinggi berjumlah 318 responden . 3%) dan pekerjaan 274 responden . berada pada katagori IRT. Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Tabel 2. Kejadian luka bakar Kejadian Luka Bakar Pernah Tidak Pernah Total Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa kejadian luka bakar mayoritas pada katagori pernah 273 responden . 9%) dan katagori tidak pernah 123 responden . 1%). Tabel 3. Penyebab luka bakar Penyebab Luka Bakar Thermal Zat Kimia Elektrik Total Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa penyebab luka bakar mayorritas adalah karena thermal 364 responden . %). PEMBAHASAN Hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik responden dari usia ratarata 39. 66 dan berada usia produktif. Luka bakar adalah trauma yang sebagian besar disebabkan oleh kelalaian, baik di rumah maupun di tempat kerja. Ini dapat terjadi pada usia produktif, ketika banyak orang melakukan tugas, peran mereka sebagai pekerja. Akibatnya, trauma luka bakar sering terjadi saat melakukan aktivitas baik dirumah maupun di tempat kerja (Purwaningsih dkk, 2. Jenis kelamin mayoritas perempuan 296 responden . 7%). Ini bisa disebabkan oleh pekerjaan perempuan yang berpotensi berbahaya, seperti memasak, menggunakan kompor yang tidak layak atau tidak aman, pakaian wanita yang digunakan saat memasak . arena memiliki bahan yang mudah terbaka. , menggunakan colokan listrik, setrika, dispenser, catokan rambut, dan alat elektronik lainnya yang menghasilkan panas. Wanita memiliki risiko dua kali lebih besar daripada pria untuk mengalami luka bakar di negara berkembang (Shresta dan Gurung, 2. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat luka bakar pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Ini berbeda dengan pola cedera pada umumnya, di mana laki-laki cenderung mengalami lebih banyak cedera karena berbagai mekanisme. Memasak dengan api terbuka, atau kompor yang pada dasarnya tidak aman, yang dapat membakar pakaian yang longgar, juga menimbulkan risiko yang lebih tinggi bagi perempuan. Api terbuka yang digunakan untuk pemanas dan penerangan juga menimbulkan risiko, dan kekerasan yang dilakukan sendiri atau antarpribadi juga merupakan salah satu faktornya. Penelitian tentang masalah ini belum banyak dilakukan Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember (WHO, 2. Sebagai akibat dari banyaknya pekerjaan yang berkaitan dengan api dan listrik, seperti memasak dan menyetrika, penderita luka bakar yang paling rentan adalah wanita, yang bertanggung jawab atas peran utama dalam keluarga (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018. Ramdani, 2. Pendidikan didominasi tinggi berjumlah 318 responden . 3%), semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah mendapatkan informasi. Didalam penelitian ini terdapat 274 responden . 2%) IRT menurut studi Marfu'ah, . kepada ibu rumah tangga dengan temuan studi . ,5%) memahami setelah diberi instruksi kesehatan tentang luka bakar. Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pola piker, seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki pemikiran yang lebih baik dan tepat tentang kesadaran akan pertolongan pertama, sedangkan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah lebih cenderung memberikan pertolongan pertama yang buruk atau tidak tepat (Arifuzzaman, dkk. , 2. Menurut Sulastri, dkk . tingkat pendidikan dan pengetahuan dapat menentukan kemampuan seseorang untuk menyerap dan memahami pengetahuan umum. Fakta dan menjelaskan bahwa responden dalam penelitian ini adalah lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Pendidikan memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana informasi diserap. Untuk meningkatkan wawasan responden tentang kemampuan pertolongan pada luka bakar, informasi sebelumnya tentang penganganaan luka bakar, seperti penyebab luka bakar, jenis luka bakar, derajat luka bakar, dan metode pengobatan luka bakar, akan bermanfaat (Damayanti dan Setyorini, 2. Pekerjaan 274 responden . 2%) berada pada katagori IRT. Menurut WHO . , pekerjaan yang meningkatkan paparan terhadap api. ibu rumah tangga muda yang melakukan tugas rumah tangga seperti memasak. dan faktor risiko luka bakar lainnya. Di India, penelitian yang serupa terhadap 390 responden menemukan bahwa sebagian besar luka bakar dialami oleh perempuan . %), perempuan dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga . %), dan 84,6 persen luka bakar terjadi di rumah. Sebagian besar luas luka adalah kurang dari 25% . ,2 %) (Krishnamurthy et all, 2. Menurut Purwanilngsilh dan Rosa . luka bakar dapat mengakibatkan trauma yang dialami oleh pekerja baik di rumah maupun di tempat kerja. Ini dapat terjadi pada pekerja dengan fungsi terkait dan pekerja produktif, tetapi juga dapat terjadi pada pekerja dengan pekerjaan terkait. Dengan demikian, kejadia trauma sangat dipertanyakan saat melakukan aktivitas Luas luka bakar juga sangat dipengaruhi oleh penutup luka bakar dan situasi di sekitarnya. Dari hasil penelitian tentang kejadian luka bakar mayoritas pada katagori pernah 273 responden . 9%) dan katagori tidak pernah 123 responden . 1%). Menurut Olivia . di Indonesia, kecenderungan orang untuk memberikan pengobatan awal pada pasien adalah dengan memberikan pasta gigi pada area yang terkena dampak . ,2%), mengoleskan minyak . ,3%), mengoleskan olesan . ,8%), mengonsumsi kecap pada area yang terkena dampak . ,6%), membiarkan atau mengabaikannya . ,4%). Jurnal AssyifaA Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Kejadian luka bakar sangat dipengaruhi oleh pengetahuan yang baik tentang bagaimana penanganan luka bakar tersebut, ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susilowati . dengan membebaskan tubuh penderita dari zat penyebab adalah langkah pertama dalam pengobatan. Daerah yang terbakar harus direndam atau disiram dengan air dingin . ukan air e. Ini akan meningkatkan rasa sakit. Jika area terbakar lebih dari 10% penderita, mereka harus dirawat di RS untuk mencegah dehidrasi. Luka bakar yang luas harus segera mendapatkan tambahan cairan. Karena pentingnya memberikan pertolongan pertama ketika terjadi luka bakar di rumah, penelitian akan dilakukan tentang cara memberikan pertolongan pertama kepada keluarga yang terkena luka bakar. Selain pengetahuan akan pertolongan pertama pada luka bakar juga sangat diperlukan sikap dalam melakukan tindakan tersebut. Semakin positif sikap dalam penanganan luka bakar, maka akan berdampak pada penanganan luka bakar, ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arga, dkk . dalam hasil peneltiannya menunjukkan bahwa sikap masyarakat terhadap penanganan luka bakar pertama adalah positif, yaitu 380 responden . %). SIMPULAN Hasil penelitian didapatkan rerata usia adalah 39. 66, jenis kelamin mayoritas perempuan 296 responden . 7%), pendidikan didominasi tinggi berjumlah 318 responden . 3%) dan pekerjaan 274 responden . 2%) berada pada katagori IRT. Kejadian luka bakar mayoritas pada katagori pernah 273 responden . 9%) dan katagori tidak pernah 123 responden . 1%) dan penyebab luka bakar mayorritas adalah karena thermal 364 responden . %). SARAN Diharapkan kepada masyarakat agar mencari sumber-sumber informasi yang relevan, terutama informasi dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus luka bakar, serta dapat melakukan penanganan luka bakar sesuai dengan prosedur yang benar. DAFTAR PUSTAKA