Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 5 No. August 2025, pp. ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346. DOI: 10. 57163/almuhafidz. Journal Homepage: https://jurnal. stiq-almultazam. id/index. php/muhafidz/index Comparison Between Rasm Utsmani and Rasm ImlaAoi in Relation to the IAojazul Al-QurAoan (Komparasi Antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi Terhadap IAojazul QurAoa. Ahmad Muallim Umam,1* Nurusshobah1 1Universitas Islam Negari Mataram. Indonesia Article Info ABSTRACT Article history: This study examines the unique features of Rasm Utsmani and Rasm ImlaAoi, highlighting the ways these writing systems support the concept of iAojaz Al-QurAoan, particularly in terms of their influence on meaning, word structure, and the aesthetic qualities of the QurAoanic Using a qualitative-descriptive method, the study conducts textual analysis on selected QurAoanic verses that exhibit orthographic differences between the two scripts. The data were collected through literature review, encompassing canonical mushaf, classical QurAoanic sciences, and contemporary scholarly discussions. The analysis reveals that Rasm Utsmani functions beyond a mere orthographic convention it carries symbolic layers that convey profound meanings and support the QurAoanAos miraculous nature. While Rasm ImlaAoi prioritizes phonetic clarity for ease of reading and writing, it tends to lack the visual depth and exegetical richness present in Rasm Utsmani. The study suggests that integrating both systems in QurAoanic pedagogy balancing readability with a deeper appreciation of divine linguistic structure can enhance comprehension and spiritual engagement with the text. Received Dec 11, 2024 Revised Jun 27, 2025 Accepted Jun 27, 2025 Published Aug 26, 2025 Keywords: Comparative IAojaz Rasm ImlaAoi Rasm Utsmani How to Cite Umam. Ahmad Muallim and Nurusshobah Nurusshobah. AuComparison Between Rasm Utsmani and Rasm ImlaAoi in Relation to the IAojazul AlQurAoanAy. Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 5. ,180-199. https:// 57163/almuhafidz. This is an open access article under the CC BY license. Corresponding Author: Ahmad Muallim Umam Universitas Islam Negari Mataram. Jalan Gajah Mada No. Jempong Baru. Kecamatan Sekarbela. Kota Mataram. Nusa Tenggara Barat, kode pos 83116. Indonesia Email: mualimumam1@gmail. Copyright . 2025 Ahmad Muallim Umam. Nurusshobah Nurusshobah Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 PENDAHULUAN Proses pencatatan Al-QurAoan mengalami perubahan penting mulai dari zaman Nabi Muhammad Saw. sampai pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Sejarah penulisan Al-QurAoan menunjukkan adanya perubahan penting dari masa Nabi Muhammad Saw. hingga periode pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Pada masa Nabi, wahyu yang diturunkan ditulis oleh para sahabat secara terpisah dan belum memiliki sistem penulisan yang seragam. Ketika Islam mulai meluas ke berbagai wilayah, perbedaan dalam pelafalan dan penulisan Al-QurAoan mulai muncul, terutama disebabkan oleh keragaman dialek di kalangan kaum Muslimin. 1 Sebagai tanggapan atas situasi itu. Khalifah Utsman memutuskan untuk menyusun mushaf Al-QurAoan dalam format tulisan yang seragam, yang dikenal sebagai Rasm Utsmani. Hingga sekarang, sistem ini masih menjadi acuan utama dalam penulisan Al-QurAoan di seluruh dunia Islam. Di samping itu, berkembang pula Rasm ImlaAoi sebagai metode penulisan yang lebih menekankan pada aspek pelafalan dan kemudahan baca tulis, khususnya dalam konteks pendidikan dan penggunaan sehari-hari. Seiring proses ini, berkembang ilmu qiraAoat sebagai disiplin penting yang bertujuan memastikan bacaan Al-QurAoan tetap akurat sesuai riwayat sahih. Ilmu ini memegang peran utama dalam menjaga kemurnian bacaan sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. dan diturunkan oleh Allah Swt. Seiring dengan meluasnya Islam dan penyebaran mushaf ke berbagai wilayah, perbedaan cara membaca yang diwariskan melalui QiraAoat SabAoah juga berkontribusi pada perlunya standarisasi penulisan. Di sinilah Rasm Utsmani memainkan peran sentral dalam menjaga kesatuan penulisan serta pembacaan Al-QurAoan. Namun, dalam konteks masyarakat Muslim saat ini, masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai pentingnya sistem rasm. Para ulama memiliki perbedaan pandangan mengenai kedudukan Rasm Utsmani sebagian besar memandangnya sebagai tauqifi, yakni harus diikuti karena dianggap berasal dari ketetapan Nabi. Pandangan ini menekankan bahwa setiap bentuk tulisan dalam mushaf mengandung makna mendalam Isu mengenai kedudukan Rasm Utsmani dalam penyalinan mushaf Al-QurAoan tetap menjadi pembahasan penting dalam kajian AoUlam Al-QurAoan. Mayoritas ulama meyakini bahwa metode penulisan ini bersifat tauqifi, yaitu ditetapkan melalui petunjuk langsung Nabi Muhammad Saw. dan tidak dapat diubah berdasarkan ijtihad manusia. Pandangan ini dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap unsur penulisan dalam rasm baik berupa penambahan, pengurangan, atau bentuk grafis tertentu memiliki dimensi makna dan hikmah yang tidak bersifat kebetulan. Salah satu tokoh klasik yang menguatkan pandangan ini adalah Abu Amr ad-Dani . 444 H), seorang pakar terkemuka dalam ilmu qiraAoat dan rasm, menegaskan pentingnya mempertahankan rasm yang telah disepakati oleh para sahabat, karena rasm tersebut berasal dari Rasulullah Saw. dan diwariskan melalui para penulis wahyu. Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Ibn al-Jazari . 833 H), yang menyatakan bahwa penulisan mushaf pada masa Utsman bin Affan merupakan hasil bimbingan ilahi dan konsensus yang bersifat mengikat, sehingga harus dijaga dan dilestarikan. Dalam konteks IAojaz Al-QurAoan. Rasm Utsmani dipahami sebagai bagian dari keajaiban bahasa dan struktur Al-QurAoan yang memperkaya pemahaman terhadap Maulidati Masruroh dan Aswadi Syuhada. AuQiraAoat Al-QurAoan: Genealogi Kemunculan dan Perbedaan Bacaan,Ay Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin 26, no 1 . : 44-58, https://doi. org/10. 22373/substantia. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 2 Banyak kalangan awam belum memahami perbedaan Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi, bahkan mengira variasi tersebut sebagai kesalahan penyalinan. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah perbedaan rasm memengaruhi makna Al-QurAoan dan bagaimana keabsahannya dipandang masyarakat modern. Artikel ini menelaah Rasm Utsmani sebagai bukan sekadar metode tulis, melainkan bagian dari IAojaz Al-QurAoan, yang memadukan keajaiban bahasa dan struktur wahyu. Pembahasan mencakup pandangan ulama tentang status rasm, apakah bersifat tauqifi atau hasil ijtihad, serta relevansinya dalam menjaga keaslian dan kedalaman pesan Al-QurAoan di era kini. TINJAUAN PUSTAKA Kajian tentang perbedaan antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi telah banyak dikaji oleh para peneliti. Salah satu kontribusi penting datang dari penelitian Muhamad Fadlly bin Ismail. Nor Hafizi bin Yusof, dan Wan Ruswani binti Wan Abdullah dalam karya AuPerbandingan Mushaf Rasm Utsmani dan Mushaf Rasm ImlaAoi Menurut Perspektif Kaedah Rasm serta Implikasi. Ay3 Penelitian ini membahas enam kaidah utama rasm . l-Qawaid alSitta. dan menyimpulkan bahwa perbedaan kedua sistem penulisan mencerminkan pendekatan yang berbeda, bukan pertentangan. Namun, kajian ini belum membahas kaitannya dengan aspek kemukjizatan Al-QurAoan secara linguistik. Menanggapi celah tersebut, penelitian ini hadir dengan pendekatan baru yang menekankan aspek IAojaz AlQurAoan, khususnya dalam keindahan bahasa, struktur semantik, dan kekuatan retoris Penelitian lain yang dilakukan oleh Hadiyatun. Nawawi, dan Ibdalsyah dalam karyanya yang berjudul Au Pengaruh Metode Rasm Ustmani terhadap Kelancaran dan Pemahaman Membaca Al-QurAoanAy4 menunjukkan bahwa penggunaan Rasm Utsmani mampu meningkatkan kelancaran membaca serta memperdalam pemahaman makna Selain itu, sistem ini juga menjaga keaslian lafaz wahyu dan memberikan ruang bagi keberagaman qiraAoat. Namun, penelitian tersebut lebih berfokus pada aspek praktis dalam pembelajaran dan belum mengkaji keterkaitan sistem penulisan dengan nilai kemukjizatan teks secara konseptual. Penelitian oleh Fathul Amin yang berjudul AuKaidah Rasm Ustmani dalam Mushaf AlQurAoan Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-QurAoanAy5 juga menyoroti pentingnya penguasaan terhadap Rasm Utsmani dalam pendidikan Al-QurAoan. Menurutnya, sistem ini menjaga integritas lafaz wahyu serta mempererat kaitan antara teks dan qiraAoat. Namun, seperti halnya studi sebelumnya, pendekatannya belum mengaitkan secara langsung sistem penulisan dengan aspek linguistik dari IAojaz AlQurAoan. 2 Ummy Almas. Tri Ulva Chandra dan Wandi Abdul Rojak. AuPerbedaan Penulisan Rasm: Telaah I'jaz Rasm Al-QurAoan Perspektif M. Syamlul. At-Tahfidz,Ay Jurnal AT-TAHFIZH: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 4, 2 . : 123, https://doi. org/10. 53649/at-tahfidz. 3 Muhamad Fadlly bin Ismail. Nor Hafizi bin Yusof, dan Wan Ruswani binti Wan Abdullah. AuAL-IAoJAZ AL-TIBBI MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN,Ay Jurnal Al-Sirat 17, no. : 132-49, https://ejournal. my/index. php/alsirat/article/view/69. 4 Mustika Hadiyatun. Kholil Nawawi, dan Ibdalsyah Ibdalsyah. AuPengaruh Metode Rasm Utsmani Terhadap Kelancaran Dan Pemahaman Membaca Al-QurAoan,Ay As-SyarAoi: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga 4, no. : 147-57, https://doi. org/10. 47467/as. 5 Fathul Amin. AuKaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-QurAoan Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-QurAoan,Ay Tadris: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Islam 14, no. : 72-91, https://doi. org/10. 51675/jt. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Penelitian yang dilakukan oleh Aspandi dan Sarkoni dalam karya mereka yang berjudul "Menelaah Ulang Kodifikasi Struktur Ayat dan Surah Al-QurAoan Rasm Ustmani" 6 Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami kodifikasi mushaf AlQurAoan, khususnya Susunan ayat dan surah dalam penulisan Mushaf sesuai kaidah Rasm Utsmani. Disimpulkan bahwa kodifikasi bukan sekadar keputusan administratif Khalifah Utsman, melainkan bagian dari wahyu yang dibimbing langsung oleh Nabi SAW dan Jibril. Dengan pendekatan historis-teologis, filologis, dan analisis naskah, penelitian ini menegaskan keabsahan Rasm Utsmani serta membantah kritik orientalis dan pendekatan dekonstruktif, sekaligus memperkuat otoritas mushaf dalam kajian kontemporer. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan dalam kajian yang belum banyak dibahas, yakni bagaimana variasi sistem rasm dapat memengaruhi persepsi terhadap kemukjizatan Al-QurAoan. Fokus penelitian ini diharapkan dapat memperluas perspektif dalam studi rasm, bukan hanya terbatas pada masalah ortografi dan pedagogi, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dimensi linguistik dan estetika yang terkandung dalam Al-QurAoan. METODE Kajian ini memakai pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. , yakni metode yang mengandalkan telaah terhadap berbagai sumber tertulis untuk menelusuri perbedaan antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi, serta pengaruhnya terhadap konsep IAojazal-QurAoan. Data penelitian ini bersumber dari mushaf Al-QurAoan yang memuat kedua model rasm sebagai data primer, serta dari literatur sekunder, termasuk kitab tafsir, referensi ilmu Al-QurAoan klasik, maupun kajian kontemporer, artikel ilmiah, dan buku akademik terkait. 7 Menanggapi masukan reviewer, teknik analisis data dilakukan dalam dua tahap utama. Pertama, analisis komparatif struktural untuk mengkaji perbedaan bentuk dan pola penulisan kedua rasm, khususnya aspek penghilangan huruf. Tahap ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik masingmasing sistem. Kedua, analisis deskriptif interpretatif untuk memahami makna di balik bentuk tulisan dalam kaitannya dengan keunikan dan kemukjizatan Al-QurAoan. Pendekatan ini membantu menggali peran struktur visual mushaf dalam memperkuat pesan wahyu, menjaga keaslian teks, serta mengungkap dimensi estetika dan semantik bahasa Al-QurAoan. HASIL DAN DISKUSI Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani Al-muAojizaat merupakan bentuk feminin . uAoannat. dari kata maskulin . al-muAojiz. Kata al-muAojiz sendiri adalah isim faAoil yang berasal dari fiAoil aAojaza. Istilah ini berakar dari kata Aoajaza Ae yaAojizu Ae Aoajzan, uAojuzan, maAojizan, maAojizatan, dan maAojazatan, yang secara literal mencakup makna seperti lemah, tidak mampu, tak berdaya, tidak kuasa, serta tidak sanggup. Kata al-Aoajzu berarti ketidakmampuan atau ketidakberdayaan, dan merupakan kebalikan dari al-qudrah, yang berarti kemampuan atau kekuasaan. 8 Dalam Al-QurAoan, kata aAojaza beserta berbagai derivasinya muncul sebanyak 26 kali, tersebar dalam 21 surat dan 25 ayat. Istilah Aoajaza digunakan dalam 6 Aspandi. Aspandi dan Muhammad Sarkoni. AuMenelaah Ulang Kodifikasi Struktur Ayat dan Surah Al- QurAoan Rasm Usthmani,Ay KACA (Karunia Cahaa Alla. : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin 12, no. : 100114, https://doi. org/10. 36781/kaca. 7 Hamzah Amir. Metode Penelitian Kepustakaan (Library Researc. (Malang: Literasi Nusantara Abadi, 2. , 7. 8 Muhammad Amin Suma. Ulumul QurAoan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2022 ), 54. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 beberapa makna, salah satunya menunjukkan ketidakmampuan, sebagaimana terdapat dalam ayat berikut: a AcEEa a eEaeA A aOEa eI I eac aaN aNaUA AacO acacI aIa Iace a eI Eac eI I eaca NA AuSesungguhnya kami yakin bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri . ari kekuasaa. Allah di bumi dan tidak . dapat lari melepaskan diri . Nya. Ay {QS. Al-Jin . Dalam pengertian para ulama ilmu Al-QurAoan, mukjizat diartikan sebagaimana diterangkan oleh MannaAo al-Qaththan, dan lain-lain ialah: A eaIU a a UC EaEe a aa Oae aN a NEEa aEaO Oa a IE a eO aeOaeO U EaIaa acOaaNA AuSesuatu yang keluar dari kebiasaan umum dan diperlihatkan Allah melalui perantaraan seorang nabi sebagai bukti kebenaran risalah yang dibawanya. Ay Salah satu bentuk kemukjizatan Al-QurAoan tampak pada cara penulisannya yang dikenal dengan istilah Rasm UtsmaniAy. Rasm Utsmani merupakan metode resmi penulisan mushaf Al-QurAoan yang diberlakukan pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin AoAffan . Langkah ini dilakukan untuk menyatukan berbagai variasi cara penulisan dan qiraAoat yang berkembang di tengah kaum Muslimin. Tujuannya ialah menjaga kemurnian teks wahyu serta memelihara persatuan umat, agar tidak muncul perbedaan dalam pembacaan maupun penyalinannya. Sesudah Rasulullah SAW wafat. Al-QurAoan tersebar melalui hafalan serta catatan para sahabat dengan bentuk tulisan yang beragam. Pada era Khalifah Abu Bakar as-Siddiq. Al-QurAoan mulai dikodifikasi secara resmi, meskipun pada waktu itu belum memiliki standar ejaan yang seragam seperti yang kemudian diterapkan dalam Rasm Utsmani. Saat Islam meluas pada masa Khalifah AoUtsman bin AoAffan, perbedaan bacaan dan penulisan Al-QurAoan kian mencolok akibat ragam dialek setempat. Ketegangan memuncak saat penaklukan Armenia dan Azerbaijan pada 28 H, yang menimbulkan kekhawatiran akan perpecahan. Atas laporan Hudzaifah bin al-Yaman. AoUtsman membentuk tim penyusun mushaf standar dipimpin Zaid bin Tsabit, dibantu sahabat lain seperti Abdullah bin Zubair dan SaAoid bin al-Aoas. Dari inisiatif ini lahir mushaf resmi yang menjadi dasar Rasm Utsmani. Penulisan Mushaf Al- QurAoan Pada Masa Utsman Di masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, dilakukan upaya sistematis untuk menetapkan mushaf Al-QurAoan yang seragam, dengan tujuan mempersatukan berbagai bentuk bacaan yang mulai berkembang di kalangan kaum Muslimin. Sebuah tim khusus dibentuk untuk menyalin Al-QurAoan berdasarkan hafalan dan catatan para sahabat, serta diselaraskan dengan dialek Quraisy, bahasa asli wahyu. 10 Setelah penyelarasan selesai, mushaf-mushaf tersebut diperbanyak dan disebarkan ke berbagai wilayah utama dunia Islam, seperti Kufah. Basrah. Syam, dan Mekkah, disertai dengan qariAo resmi yang bertugas untuk membimbing umat dalam membaca dengan benar. Tulisan yang digunakan pada masa tersebut kemudian dikenal dengan nama Khat Kufi. 9 Zainal Arifin, "Mengenal Rasm Usmani: Sejarah. Kaidah, dan Hukum Penulisan Al-QurAoan dengan Rasm Usmani," Jurnal Suhuf 5, no. : 1-18, https://doi. org/10. 22548/shf. 10 Shalih Al-Fawzan, . Al-QurAoan dan Standarisasi Bacaan: Sejarah Penulisan Mushaf pada Masa Khalifah Utsman bin Affan (Jakarta: Pustaka Ilmu, 2. , 45. 11 Dian Febrianingsih, "Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani," AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman . 293-311, https://ejournal. id/mataraman/index. php/murabbi/article/view/1063/787. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Kemampuan berbahasa yang telah terinternalisasi dalam masyarakat Arab pada waktu itu menjaga kelestarian bahasa Arab. Awalnya, hanya orang Arab yang menjadi pengikut Islam, namun ketika Islam menyebar ke non-Arab, banyak yang kesulitan membaca mushaf tanpa tanda baca atau Untuk mengatasinya, ulama seperti Abu al-Aswad ad-DuAoali mengembangkan sistem titik dan harakat. 12 Meski sempat muncul variasi, akhirnya disepakati sistem standar global. Proses ini sempat memicu perbedaan bacaan karena ragam dialek, namun semua meyakini keabsahan masing-masing. Pada masa Khalifah AoUtsman, standarisasi mushaf dilakukan dengan cermat: naskah final dibacakan di hadapan sahabat untuk verifikasi, lalu mushaf tidak resmi dibakar. Mushaf hasil kodifikasi kemudian dikirim ke berbagai wilayah Islam, dan mayoritas ulama menyebut jumlahnya empat. Proses standarisasi mushaf Al-QurAoan pada masa Khalifah AoUtsman bin AoAffan r. menunjukkan ketelitian dalam menjaga keaslian wahyu. Langkah awal dilakukan dengan membacakan mushaf final di hadapan para sahabat untuk verifikasi dengan suhuf milik Hafshah binti AoUmar r. Setelah dinyatakan sah, mushaf-mushaf lain yang berbeda diperintahkan untuk dibakar guna menghindari perpecahan bacaan. Tindakan ini disepakati para sahabat, sebagaimana ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib r. bahwa proses tersebut dilakukan secara kolektif. Mushaf-mushaf resmi kemudian dikirim ke berbagai wilayah, antara lain Kufah. Bashrah, dan Syam, seperti disebut Abu AoAmr al-Dany dalam al-MuqniAo. Pendapat lain menyebutkan jumlahnya tujuh, termasuk Mekkah. Yaman, dan Bahrain. Al-Dany menilai bahwa pendapat pertama lebih kuat dan dipegangi oleh mayoritas imam. 14 Mushaf Utsmani dikenal sesuai daerah tujuannya: Mushaf Hijazy (Mekkah dan Madina. Mushaf AoIraqy (Kufah dan Bashra. , dan Mushaf Syamy (Sya. Mushaf yang disimpan oleh AoUtsman disebut al-Mushaf al-Imam. Untuk menghindari kesalahan baca, qariAo dari kalangan sahabat ditugaskan mendampingi distribusi mushaf, karena saat itu belum ada titik dan harakat. Praktik talaqqi menjadi sarana utama dalam pewarisan bacaan. Penulisan ulang mushaf dengan Rasm Utsmani bertujuan menjaga keseragaman dan kemurnian, karena rasm ini mengikuti qiraAoat mutawatirah dan menjadi pilar otentisitas Al-QurAoan hingga kini. Kodifikasi Mushaf Utsmani: Upaya Standarisasi Penulisan Al-QurAoan Penulisan mushaf Al-QurAoan pada masa Khalifah AoUtsman bin AoAffan sekitar tahun 35 H . M) dilakukan untuk mengatasi perbedaan bacaan dan dialek di wilayah Islam yang semakin luas. Mushaf ini menetapkan 114 surah, tidak sama dengan mushaf pribadi sahabat lain seperti Ubay bin KaAoab dan Ibn MasAoud. Penyusunannya mengikuti dialek Quraisy dan dilaksanakan oleh tim sahabat ahli, termasuk Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Zubair. 16 Kodifikasi ini merupakan tonggak penting dalam menjaga keseragaman dan otentisitas Al-QurAoan secara tertulis. Naskah disalin dari mushaf yang dikompilasi pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu disebarkan ke pusat-pusat pemerintahan Islam seperti Kufah. Basrah, dan Syam, disertai perintah untuk memusnahkan mushaf lain yang 12 Yusuf Al-Qardawi. Fiqh Al-QurAoan wa al-Sunnah Vol. 2 (Cairo: Dar al-Turath, 2. , 130. 13 Muhammad Mustafa. Al-Azami. The History of The QurAoanic Text From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments. Terj. Sohirin Solihin, dkk (Jakarta: Gema Insani Press, 2. , 105-106. 14 Badr al-Din Al-Zarkasyi. Al-BurhAn f AoUlm al-QurAoAn. Juz 1 (Beirut: DAr al-MaAorifah, 1. , 237Ae 15 Jalal al-Din Al-Suyuthi. Al-ItqAn f AoUlm al-QurAoAn. Juz 1 (Beirut: DAr al-Fikr, 1. , 134Ae135. 16 Muhammad Mustafa Al-Azami. The History of the Qur'anic Text from Revelation to Compilation : A Comparative Study with the Old and New Testaments (UK: Islamic Academy, 2. , 96Ae97. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Dengan demikian. Mushaf Utsmani menjadi standar otoritatif dalam transmisi Al-QurAoan. Sebelum kedatangan Islam, bangsa Arab menggunakan tulisan yang dikenal dengan khat Hijri. 18 Setelah Islam berkembang, jenis tulisan ini kemudian disebut khat Kufi. Pada masa itu, bahasa Arab tetap terjaga kemurniannya karena masyarakat memiliki kecakapan bahasa yang melekat kuat dalam diri mereka. Namun, ketika masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan. Islam telah menyebar luas hingga ke berbagai wilayah, sehingga pengikutnya tidak hanya berasal dari bangsa Arab. Akibatnya, timbul perbedaan dalam cara membaca Al-QurAoan karena masing-masing kelompok menggunakan dialek yang beragam. Sayangnya, tiap kelompok meyakini dialek mereka yang paling benar. 19 Untuk mencegah perpecahan dan kekeliruan bacaan. Khalifah Utsman membentuk sebuah tim yang terdiri dari 12 sahabat, di antaranya Zaid bin Tsabit. Ubay bin KaAoab. Abdullah bin az-Zubair, dan Anas bin Malik. Panitia ini bertugas menyiapkan dan memperbanyak mushaf baku yang dapat digunakan oleh seluruh umat Islam. Para ulama merumuskan enam kaidah utama dalam penulisan Mushaf Utsmani: penghilangan huruf . misalnya tidak ditulisnya huruf alif dalam kata " aA"Oa AIaaeA . aAonidaA. yang seharusnya mengandung alif menurut aturan biasa. 21Al-Ziyadah (Penambahan Huru. : Huruf tertentu ditambahkan, seperti penambahan alif pada katakata tertentu setelah huruf wawu atau pada huruf hamzah yang ditulis di atas huruf lain. Penulisan hamzah, penggantian huruf . , serta penggabungan atau pemisahan kata . asl dan fas. , misalnya penyatuan kata AuA AyCaEAdengan AuAAy aIA, dilakukan untuk menyesuaikan dengan qiraAoat yang sahih dan mencegah perselisihan bacaan. Kodifikasi pada masa Khalifah Utsman menjadi dasar penulisan mushaf yang tetap digunakan hingga sekarang. Perkembangan Baru Penulisan Mushaf Pasca Utsman Setelah masa Khalifah Utsman bin Affan, penulisan mushaf Al-QurAoan mengalami pembaruan signifikan. Pada masa kepemimpinannya . Ae656 M), penyebaran Islam yang pesat ke berbagai daerah menyebabkan timbulnya perbedaan dalam bacaan dan ejaan Al-QurAoan. Utsman pun menetapkan bacaan berdasarkan dialek Quraisy, lalu menyebarkan mushaf baku ke berbagai wilayah dan memerintahkan penghapusan salinan yang tidak sejalan dengannya demi menjaga keutuhan teks. Kemudian, mushaf tersebut dilengkapi dengan tanda baca serta sistem penulisan yang lebih teratur agar memudahkan umat dalam membaca dan memahami. Upaya ini dilakukan untuk melestarikan wahyu sekaligus menjawab kebutuhan umat Islam yang terus 17 Yasir Dutton. AuThe Codification Of The QurAoan: A Study Of The Original Manuscripts,Ay Journal Of QurAoanic Studies 3, no. : 3Ae7. 18 Subhi As-Shalih. Mabahis Fi Ulum Al-Quran (Beirut: Darul Ilmi, 1. 19 Jalal al-Din Al-Suyuthi. Al-ItqAn f AoUlm al-QurAoAn. Juz 5 (Beirut: DAr al-Fikr, 1. , 20 Muhammad Mustafa. Al-Azami. The History of The QurAoanic Text From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments. Terj. Sohirin Solihin, dkk (Jakarta: Gema Insani Press, 2. , 99-100. 21 Siti Pujianti. AuKaidah Rasm Utsmani dalam Penulisan Mushaf Al-QurAoan,Ay Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadis 20, no. : 50. 22 Ellya Suryani. AuPenerapan Kaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-QurAoan,Ay Jurnal Studi Al-QurAoan 14, no. : 128. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 23 Setelah kodifikasi Al-QurAoan pada masa Khalifah Utsman bin Affan, penulisan mushaf terus berkembang untuk menjawab kebutuhan umat Islam yang semakin luas. Mushaf awal belum dilengkapi harakat dan titik pembeda huruf, sehingga pemahaman saat itu sangat bergantung pada hafalan dan bimbingan langsung dari para qariAo. Pemberian Harakat (Nuqath al-iAora. Salah satu perkembangan penting setelah masa Khalifah AoUtsman bin AoAffan r. adalah penambahan harakat . uqath al-iAora. dan titik pembeda huruf . uqath aliAoja. demi menjaga ketepatan bacaan Al-QurAoan, terutama karena banyaknya pembaca dari kalangan non-Arab. Mushaf Utsmani pada awalnya tidak memuat tanda baca agar tetap memuat berbagai qiraAoat, namun keberagaman bahasa saat itu menyebabkan kesalahan pengucapan . l-Aoujmah dan al-lah. Ulama seperti Ziyad bin Abihi bersama Abu al-Aswad ad-DuAoali mulai memperkenalkan sistem tanda titik berwarna untuk membantu pembaca membedakan harakat. Pada perkembangan selanjutnya, ditambahkan tanda sukun dan tasydid untuk memperjelas bacaan. Menurut al-AAozam, sistem tanda baca ini berkembang berbeda di tiap wilayah, namun akhirnya metode Bashrah yang lebih maju diadopsi secara luas dan menjadi dasar sistem penulisan mushaf saat ini. 26 Walaupun terdapat perbedaan dalam penerapan tanda baca, hal itu tidak berdampak pada keaslian bacaan Al-QurAoan. Sejumlah peneliti, di antaranya Guidi dan AoIzzat Hassan, berpendapat bahwa penggunaan harakat terinspirasi dari sistem penulisan bahasa Syriak. Adapun Abu alAswad al-DuAoali, tokoh yang dikenal sebagai perintis tanda diakritik dalam bahasa Arab, wafat pada tahun 69 H . M). Standarisasi dan Rasm Utsmani: Keaslian dan Keberagaman Bacaan Al-QurAoan Setelah Mushaf Utsmani disebarkan, ia menjadi rujukan utama dalam penyalinan dan pengajaran Al-QurAoan. Untuk mencegah kebingungan, mushaf yang tidak sesuai diperintahkan untuk dimusnahkan. Namun, perbedaan kecil tetap muncul akibat variasi qiraAoat dan dialek. 27 Untuk mengatasi kebingungan bacaan, titik pembeda mulai ditambahkan pada huruf yang serupa bentuk namun berbeda pelafalan, setelah sistem harakat diperkenalkan. Langkah ini mencegah kekeliruan di kalangan pembaca nonArab. Inisiatif tersebut dikaitkan dengan Nashr bin AoAshim dan Yahya bin YaAomar, yang ditugasi al-Hajjaj bin Yusuf atas perintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Melalui pertimbangan matang, keduanya menghidupkan kembali tradisi nuqath al-iAojam, sehingga lahirlah metode al-ihmal dan al-iAojam dalam penulisan Al-QurAoan. 28 Al-ihmal membiarkan huruf tanpa titik (A)A, sedangkan al-iAojam menambahkan titik (A)A. Rasm Utsmani dipakai menjaga keaslian qiraAoat, berbeda dari rasm imlaAo yang mengikuti ejaan sehari-hari. Ilmu Rasm mempelajari variasi ini, termasuk penghilangan atau 23 Aldie Fitra dan Lia Listiana, "Peradaban Terbentuknya Mushaf Al-QurAoan (Sejarah Terbentuknya Mushaf Rasm Ustman. ,Ay Qolamuna: Jurnal Studi Islam 8, no. : 58-68, https://doi. org/10. 55120/qolamuna. 24 Febrianingsih, "Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani. 25 Patimah Batubara. Proses pemberian titik . pada huruf-huruf al-quran oleh Abu Al-Aswad Ad-DuAoali (Thesis. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2. , 87. 26 Sakti Irfan Jaya, dkk, "Penyempurnaan Penulisan Al-QurAoan Pasca KhulafaAoAl-Rasyidin: Suatu Tinjauan Historis,"Hamalatul Qur'an: Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an 6, no. : 138-51, https://doi. org/10. 37985/hq. 27 Fitra dan Listiana, "Peradaban Terbentuknya Mushaf Al-QurAoan (Sejarah Terbentuknya Mushaf Rasm Ustman. 28 Abd al-Hayy al-Farmawy. Qishshah al-Nuqath wa al-Syakl fi al-Mushaf al-Syarif (Kairo: Mathba'ah Hassan, t. ), 2. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 penambahan huruf. Revisi modern hanya mempermudah pembacaan tanpa mengubah rasm asli. Contoh Perbedaan Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi Perbedaan antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi merupakan kajian penting dalam ilmu Rasm al-QurAoan, karena mencerminkan dinamika historis penulisan mushaf. Rasm Utsmani disusun pada masa Khalifah Utsman bin AoAffan sebagai upaya standarisasi bacaan, sedangkan Rasm ImlaAoi mengikuti kaidah ejaan Arab modern yang lebih mendekati pelafalan. 30 Variasi teknis, misalnya pada penulisan alif, waw, dan yaAo, tidak memengaruhi lafaz maupun makna. Memahami perbedaan ini penting untuk menjaga keaslian Al-QurAoan. Pertama. Al-Hadzf (Penghilangan Huru. dalam Rasm Utsmani . Kalimat (AA U A )Aa NAsebagaimana Allah Swt berfirman: a ca A Aa a U OA a a a AEacO a a aE Ea aE aI eE eaA UAE aIea IaeA Artinya: (Diala. yang menjadikan bagimu bumi . hamparan dan langit sebagai atap,Ay (QS. Al-Baqarah: . Pada ayat ini, kata AA U A Aa NAyang berarti "bumi sebagai hamparan", ditulis tanpa huruf alif, yang seharusnya ada di antara huruf ra dan syin. Penghilangan alif ini menyebabkan kedua huruf tersebut terlihat menyatu, yang dapat diartikan sebagai simbol ketergantungan manusia yang tak terpisahkan dari bumi. Penghilangan alif ini juga mengisyaratkan bahwa meskipun bumi berfungsi sebagai tempat tinggal manusia, tidak seluruhnya dapat dihuni, karena hanya sebagian tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal. Sebaliknya, kata UA aIaeAyang berarti "langit sebagai atap", ditulis secara lengkap tanpa penghilangan alif. Ini menggambarkan bahwa langit menyelimuti bumi dengan sempurna, tanpa ada bagian yang terlewatkan. Dalam ayat lain Allah Swt berfirman: AE aI eO NO EaaC eOaIN aOa aC eOaI aIac aE eI aEa eIa eI aIe aA a aE eI a aca a aE aI Eea e aE a eOaeeO a NE a aaiO aE eI AaCe aEaeeOA a aOa e CA AaIe aA a aE eIA Artinya: (Ingatla. ketika Musa berkata kepada kaumnya. AuWahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan . anak sapi . ebagai sembaha. (QS. Al-Baqarah . Dalam ayat lain Allah Swt berfirman: a AE aO aE Oa aA A a acI Ca eOaIO acca a eO NN a Ee aC eN aI aI eN a eOUA a aOCA e ca AEA Rasul (Nabi Muhamma. berkata, wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-QurAoan ini . sesuatu yang diabaiakan. Ay (QS. AlFurqan:. 29 Zainal Arifin, "Mengenal Mushaf Al-QurAoan Standar Usmani Indonesia: Studi Komparatif atas Mushaf Standar Usmani 1983 dan 2002," Jurnal Suhuf 4, no. : 1-22, https://doi. org/10. 22548/shf. 30 Fathul Amin. AuKaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-QurAoan Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-QurAoan. Ay 31 Muhammad Syamlul. IAojAzu Rosmi al-QurAoAn (Kairo: DAr al-Salam, 2. , 123-124. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Dalam ayat ini, kalimat A ON aC eOaIAyang berarti "wahai kaumku" dan AA a A ON Ayang berarti "wahai Tuhanku" ditulis tanpa huruf alif yang seharusnya ada setelah huruf yaAo. Penghilangan alif ini membuat huruf yaAo dan kata yang mengikutinya tampak lebih dekat, mengisyaratkan kedekatan yang erat antara pihak yang memanggil dan yang Sebagai contoh, penghilangan alif pada kata AA a A ON Amenandakan kedekatan yang intens antara Rasulullah Saw. dan Allah Swt. , yang selalu hadir untuk memenuhi kebutuhan Rasul-Nya. Begitu pula pada kata AON aC eOaIA, penghilangan alif setelah yaAo menunjukkan kedekatan antara Nabi Musa dan kaumnya, mengingat bahwa Nabi Musa diutus dari kalangan mereka sendiri. Ae NOOA ca AI aOaIe aEeIa aEaeO aE aI Ee aI acI aOA a AaOEacEeIa aEaeO aE aI Eea aIA Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa. (QS. Al-Baqarah:. Kata AIA a A Eea aIAdalam ayat ini ditulis dengan alif, yang membuat huruf mim terpisah dari mm berikutnya, mengisyaratkan bahwa awan yang Allah turunkan untuk Bani Israil terpisah, mencerminkan keraguan dalam iman mereka. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara mereka dan Nabi Musa. Sebaliknya, dalam surah al-A'raf: 160, kata aA Eea NIaIAditulis tanpa alif, yang membuat kedua huruf mim saling bersambung, melambangkan kesatuan dan kebersamaan antara orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa, yang mendekatkan mereka dengan sang Nabi. Di dalam ayat lain Allah Swt berfirman: a a AEAEa NA a A E I aac o aN I Aa O aN aEa aO aIA a A aONEeaiA AaOEacO aI N aIIaO aO aIEaO NA a AE aA NA AuDan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya. Ay (QS. Al-Baqarah:. Kata aA aNaEaOIAyang berarti "mereka kekal" ditulis dengan menghapus alif antara huruf khaAo dan lam, yang membuat kedua huruf tersebut tampak bersambung. Ini menggambarkan bahwa kekekalan dan Kenikmatan yang Allah Swt anugerahkan kepada para penghuni surga bersifat kekal dan tidak pernah terputus atau berakhir. Contoh al-Hadzf dalam Rasm Utsmani tampak pada penulisan Ibrahim di surah Al-Baqarah tanpa huruf yaAo (AIA a A)uae NNA, berbeda dengan penulisan lengkap di surah lain (A)ueNOIA. Variasi ini menunjukkan bahwa Rasm tidak hanya mengikuti bunyi, tetapi juga a a mempertimbangkan konteks ayat dan penempatan kata dalam mushaf. Hal ini menegaskan bahwa Rasm Utsmani bukan hanya cara menulis mushaf, tetapi juga memuat aspek keindahan bahasa . Aojaz bayan. dan menjadi hasil kodifikasi Al-QurAoan yang dilakukan dengan penuh ketelitian. Penulisan ini turut memelihara ciri khas visual dan nilai spiritual Al-QurAoan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Kalimat AIUA Aua e NA Pada pembahasan sebelumnya, fokus utama diarahkan pada bentuk penulisan kata AIA UAA a A u eAmenurut Rasm ImlaAoi, yakni ditulis lengkap dengan menyertakan huruf alif sebagai representasi panjang fonetik. Namun, agar analisis lebih komprehensif, perlu juga disajikan bentuk penulisan menurut Rasm Utsmani. Dalam Mushaf Utsmani, seperti pada QS. an-NisaAo ayat 36, penulisan A aue NaIUAdalam Rasm Utsmani umumnya tanpa huruf alif di antara sin dan nun. Tanda mad dalam Rasm Utsmani hanya ditunjukkan melalui harakat, bukan huruf, sehingga mempertahankan bentuk tulisan hasil kodifikasi pada masa Khalifah Utsman bin AoAffan. Pendekatan ini mengutamakan bunyi, estetika, dan nilai sejarah. Kata AIA UAA a Au eAtercatat dua belas kali di Al-QurAoan, sebelas tanpa alif dan sekali dengan alif di QS. Al-Baqarah ayat 83, sebagai penegasan perintah Allah kepada Bani Israil. Penghilangan huruf seperti ini bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari sistem penulisan bermakna yang tetap menjaga ketepatan bacaan lewat qiraAoat dan tanda baca resmi. a a a a ea AC A A UIA AI eaOe aE aeE a ea a eO aI aceE NA a AcEEa aOaEe aOE aOe aI eA e a a aO e a a e aacI IeO A (Ingatla. ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil. AuJanganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah. (QS. Al-Baqarah: . Di dalam ayat ini kalimat A UIA a A eAdituliskan dengan alif yang nyata, terang dan tegas sebab ayat ini menceritakan ketika Allah Swt memerintahkan bani israAoil untuk berbuat kebaikan. Allah memerintahkannya dengan sangat tegas dan jelas. Disebabkan karena kerasnya hati orang-orang bani israAoil laksana batu bahkan lebih keras dari Sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya. Allah Swt berfirman: a a UAE Aa aN aO aEEa a aa aO a a ac Ca aOA a ACa EaOa aEI aII a NEA a ac CA AuKemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga . seperti batu, bahkan lebih keras. Ay (QS. Al-Baqarah: . Sedangkan dalam ayat lain kata AIA UAA aa A u eAditulis dengan tanpa alif, yakni dengan menyambungkan huruf sin dengan nun. a eANeaOaOacN Eac aOI IIaO aEa EaO aEI EA AA a Ee aCe Ea nO eEac a eEaa aOEe ae a aEe ae a aOeEaIa NO aeEaIa NOA a ACA a a a a a ea a aa a a aAOA Oae uaEaO aN a a I NaEA aa a a a UAOA aII aca aE eI aOa eeaA U AE aceAA a e e U a a a aI eI aA aO EaNau I eI aON a eOU aU Ee aI eaA A aEa UOIA a Aa a NO a e a NaEA e a aI aIA U AE AaEaNau a aA (QS. An-Nisa 4:. aAcEE OaeE a e aaEO aaN aeOU n OaEe NOEa aOe aIuA a aAIU aOa aO Ee aC e Na aOEeOa Na aI NO aOEe aI NEA AIO aO eEa a aOA a ca e AaOA a a Aa aOA a a a AEAA a A a eEaIA a AA a aAEaIA A aIIA e AEa aA e AEe aC ea Na aOA ca A eaONaIa aE eI ua acIA ca A aOA ca AcEEa aeE aaOA ca A aOe aIA e AEa aOE aOaI aIEa aEA (QS. Ar-Rahman:. Vol. 5 No. August 2025, pp. AOA U AaE aI aIaea UeE Aa aA Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 a A aI uaaceEA a aN eE aaeA AeE e Na aIA aa AeE eA a yang berarti AukebaikanAy Ditulis bersambung, a Dalam ayat-ayat di atas. Kata AIA aa AeE eA Mengisyaratkan bahwa: AuKebaikanAy yang kita lakukan sudah selayaknya bersambung dan tidak terputus. Bahwa orang orang yang paling berhak menerima kebaikan adalah mereka yang memiliki hubungan kekerabatan atau kedekatan sosial dengan individu seperti keluarga, kerabat sebelum berbuat baik kepada orang lain. Ditulis dengan alif kecil juga mengingatkan kepada kita bahwa kebaikan sekecil apapun tetap bernilai besar disisi Allah Swt. Dan akan menyambungkan kita kepada cinta dan kasih sayangNya. Kalimat aA au ae aNIAdalam surah Al-Baqarah dan selain surah Al-Baqarah Dalam surah Al-Baqarah kalimat ibrahim ditulis 15x dengan tanpa menuliskan huruf yaAo. Contohnya pada surah Al-Baqarah:127. Allah Swt. a a a A Oua e NA a a a AEA AO Ee aEa aOIA AIA AaIA AacEA AIA AuA a ca a a caAOE aacIa a aCac eE IIA a AaOu e Oa eAa a ueaN aI Ee aC aO a I aI Eea eOA a a Au(Ingatla. ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail . eraya berdo. AuYa Atuhan kami, terimalah . dari kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ay Dalam Al-QurAoan, nama Ibrahim terkadang ditulis tanpa huruf yaAo. Hal ini dikaitkan dengan riwayat bahwa beliau disebut Ibrahim sebelum menerima wahyu dan Ibrahim setelah menjadi nabi. Penulisan tanpa yaAo di awal mushaf, seperti pada Surah Al-Baqarah, mencerminkan masa sebelum kenabian, sedangkan penulisan lengkap di surah lain menunjukkan fase kenabiannya. Secara total, nama beliau disebut 54 kali dengan penulisan sempurna memakai yaAo, menegaskan kemantapan status Sebagaimana termaktub dalah surah Ali Imran: 65 AIOA ca Aua acIA a AOI aOa aE eI Na aI aEaO Ee NaEaIA e aAcEEA a AO aOa aEuae aaNA U a NeO a a aI aOIA Sesungguhnya Allah telah memilih Adam. Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga AoImran melebihi segala umat . i masa mereka masimg-masin. Adapun penambahan yaAo pada nama beliau mengisyaratkan akan bertambahnya kemuliaan pada diri beliau dengan diangkatnya beliau sebegai seorang nabi, dan akan lahir dari diri beliau para nabi yang akan meneruskan dakwah beliau. Sebagaimana qaAoidah bahasa Arab mengatakan: AO IEOI E EO O IEOIA Aupenambahan pada mabna . menunjukkan penambahan pula pada makna . uatu kalima. Ay. Kalimat AA a AOA a A E aeIAyang berarti AujanjiAy ditulis dalam rasm ImlaAoi sebanyak 4x. Sebagaimana Allah Swt berfirman: QS. Ali Imran:9 QS. SabaAo:30 s a a AacIe uaIacE aI EIA ca A Aa aON ua acIA a AOA a AA E aeIA a AcEEa aeE aOeEA a a a aa a eAac EOa eOI aceE aOA s ACaE Eac aEI aIOA AU aOaeE a ea eC a aIO aIA aa a A Oa eOI aceE a eae aO aI aeINa aA Namun dalam surah Al-Anfal: 42 Kalimat miiAoaad ditulis tanpa menggunakan alif. Allah Swt berfirman: 32 Syamlul. IAojAzu Rosmi al-QurAoAn, 73. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 a Ae A AO aA eca AA e ac EA aa Aa Ea eAa eI a E aeIA a Aa aA aE II aE eI aOEa eO a aOA e Aua e aIaI aEea e aO EacIeOa aO aNI aEea e aO Ee aCA e a ca AA aO NO aOA a a a AONEaEaI EaO eCA ca AE a I aOaIa s aOaeaO a NaO aI eI a acO a I aOaIa s aOua acIA ca A aOA a aAE aI eI aNEA a AcEEa eaIU aE aI aI eAa UOeE EOa eNEA aAcEEA AO aE UOIA U AEa aIA Penjelasan: Jika diperhatikan lebih dalam Pada kalimat miAoad yang ditulis dengan menggunakan alif adalah AujanjiAy yang bersumber dari Allah Swt, oleh karenanya ditandai dengan alif yang jelas, sebagaimana kejelasan dan kepastian janji Allah swt. Sedangkan kalimat miAoad yang berada pada surah Al-Anfal ayat 42 adalah janji yang bersumber dari manusia, oleh karenanya ditulis tanpa menggunakan alif yang nyata, sebagaimana janji manusia pada umumnya yang masih samar bahkan terkadang seringkali tidak ditepati. Maasya Allah Kedua. Washl dan fashl . enyambungan dan pemisaha. Sebagaimana Allah swt berfirman: a a s A a acI aaEI NIA a AEAEa NA A ea a eO aI eI eaa aN eEaeINa aEEac aI aaCa eO aIeI aN aI eIA AaOa a EacOe aI N aIIa eO aO aIEaO NA a ea as aeCU o CaEaO NN a Eac aO aCe Ia aII CaE OaaO aN I aa OaaEI AA A acIa acNaU acOaN eI AaeO aNA AOA ANA AOA U a a e ea a U a a a e a a e e a a e AyA ANEa a eO aIA Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh bahwa untuk mereka . surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata. Auinilah rezeki yang diberikan kepada kami Ay . Di dalam ayat ini kalimat (AEEac aIA a ) yang berarti Ausetiap kaliAy ditulis dengan menyambungkan huruf kulla dan ma. Sedangkan dalam rasm ImlaAoi ditulis dengan memisahkan keduanya. Mengisyaratkan bahwa rezeki dan kenikmatan yang diterima ahli surga senantiasa menyambung dan tak pernah terputus sebagai balasan atas keimanan dan kebaikan yang pernah dilakukan oleh ahli surga selama hidup di dunia. Setiapkali rezeki itu habis, seketika itu juga datang rezeki yang sama, terus menyambung dan tak Oleh karena nya kalimat kullama ditulis dengan menyambung. Ketiga. Al-hamzah Sebagaimana contohnya dalam kalimat A aEa aeaI aAkalimat A aEa aeaI aAyang berarti Auorang- orang yang berilmuAy tercantum dua kali di dalam Al-QurAoan dengan bentuk khusus, berbeda dengan rasm ImlaAoi )A(EIA, mengisyaratkan akan kedudukan para ulamaAo yang tidak sama dengan menusia pada umunya. Allah Swt. Berfirman : AOI aeE Oa eEa aIO aIA a AOI Oa eEa aIO aI aOEacA a ACa eE aN eE Oa ea aOO EacA Katakanlah: AuAdakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?Ay Terdapat dalam surah Al-SyuAoaraAo: 197 33 AoAla Muhammad Musthafa NaAoimah. IAojAzu Al-QurAoani F Rasmi al-AoUtsmAni (Alexandria: Sirojul Munir, 2. , 9-10. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 a a a AaOaaE O aEI acaEI OU aI O EaINu EaeaI a A AOEA e a a a a a e a a a ea a e a a AOI u e NaeA AuDan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?Ay (QS. Al-SyuAoaraAo: . Contoh lain dalam surah Al-MaAoidah:18 Allah Swt. Berfirman: AcEEa aO aa NaceaNauA ca AacAaN NO eaI aI aeIaea aA a AaOCaEa EeOa aNA a AO aOEIA AuOrang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: AuKami ini adalah anakanak Allah dan kekasihAekekasihNyaAy. Kalimat A aeIaea aAtermaktub dalam Al-QurAoan, penulisan kata AaeIaea aAdengan bentuk ini hanya muncul sekali, yaitu pada Surah Al-MaAoidah ayat 18. Bentuk ejaannya berbeda dari rasm ImlaAoi (A)IA, sebagai isyarat bahwa klaim Yahudi dan Nasrani yang menyebut diri mereka anak-anak Allah adalah penyimpangan serius. Karena itu. Allah menegaskan: "Katakanlah: Lalu mengapa Dia menghukum kalian karena dosa-dosa kalian? Kalian hanyalah manusia di antara makhluk yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menghukum siapa yang Dia kehendaki. " Penulisan istimewa ini menegaskan bahwa pengakuan tersebut tidak berdasar dan berlebihan. Keempat. Badal . Sebagaimana dalam kalimat . A)EA aEOA ca Sebagaiman Allah Swt berfirman pada QS. Al-Baqarah: 43: a a AENEOa OaEO IA a ca AOaCaeOIOA AIOA a e AENEA a a a a e a e a ca AEAEOa aONaOA AuTegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang Ay ca yang berarti shalat muncul 67 kali dalam Al-QurAoan dengan ejaan aAEA aEOA berbeda dari rasm ImlaAoi (A)EAEA. Penulisan khusus ini menunjukkan keistimewaan shalat Kata sebagai ibadah paling utama dalam Islam. Ia menjadi amalan pertama yang akan dihisab di alam barzakh, sekaligus menjadi penentu nasib seorang hamba di akhirat kelak. Karena kedudukannya yang sangat vital, penulisan kata aEA NEOA ca dalam Al-QurAoan pun hadir dengan bentuk yang tidak biasa. Penulisan ini berfungsi sebagai penanda penting, seperti garis bawah atau huruf tebal dalam teks, untuk menarik perhatian. Penggantian huruf alif dengan waw menunjukkan makna khusus: alif memberi kesan pemisahan, sedangkan waw melambangkan penyambungan, menandakan bahwa shalat menghubungkan hamba dengan Allah Swt. Selain itu, penulisan kata aAEA NEOA ca tanpa alif pemisah juga mengandung makna istimrar atau kesinambungan, menggambarkan bahwa kewajiban shalat bersifat terus-menerus dan tidak akan terputus hingga hari kiamat. Kelima. Al-Jiyadah . Sebagaimana dalam kalimat AAuI AeAuOeIA Allah Swt berfirman dalam QS. Ali Imran: 144: 34 Syamlul. IAojAzu Rosmi al-QurAoAn, 166. 35 Syamlul. IAojAzu Rosmi al-QurAoAn, 168. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 a a Ca Ea aII Ca EAAOI aI acI U uaaceE OEA A aO Caa aE I aCEa a I aEa NeO a NaCa aE IA AIA AIA AOA AuA a AA AEA AEA ANA e aa a aa a caAcEE NA AOIA ca AacA a aOaII OaI aCE aEa NO aCa O aN AaEaI OA aca Aa aO aOa aOAAcEEa aOA a AEE aA Dalam surah al-AnbiyaAo: 34 Allah Swt. a Aa aII Ca EaE E E na auOAAOI EIa EaA A Aa aN aI ENaEa aO aIA ca AIIA e a a a a a a aa Dalam banyak ayat, kalimat A AuIAditulis dengan bentuk tulisan yang biasa, namun dalam ayat diatas kalimat A AuI IAyang berarti Aujika ia matiAy ditulis dengan cara yang berbeda yaitu a A AuOeI IAtentunya Pasti ada hikmah di balik semua itu. Ayat ini menjadi pengingat bagi para sahabat bahwa Rasulullah Saw. adalah manusia yang menerima wahyu dan pada waktunya akan wafat. Kematian beliau tidak boleh menjadi alasan kembali kepada penyembahan berhala. Ketika beliau wafat, banyak sahabat yang terkejut hingga Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq menegaskan kebenaran ayat ini. Ini menunjukkan wafatnya Rasulullah bukan peristiwa biasa, sehingga Al-QurAoan pun menuliskannya dengan bentuk yang istimewa. Keenam, kata yang dapat dibaca dua bunyi . iraAoa. Contoh nya dalam surah Al-Fatihah:4 Allah Swt. Berfirman: a aIEA AE Oa eOaI E aO aIA a aA aIEAimam AoAshim, al-KisaAoi. YaAoqub, dan Kholaf membacanya Pada kalimat AEA dengan itsbatu al-Alif baAoda al-Mm atau memanjangkan huruf A IAsepanjang dua harakat (A)IEEA. Adapun selain nya membacanya dengan hadzfu al-Alif baAoda al-Mm atau dengan kata lain membaca huruf A IAdengan tanpa memanjangkannya sepanjang dua harokat (A)IEEA. Contoh lain misalnya dalam surah Al-AAoraf: 57 Allah Swt berfirman: a AaO aN aO Eac aO Oaea aEA n AIO Oa a eO a eeaa aNA a ea a eU A a aAEOA AuDan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya . Ay a al-Makki wal ikhwan, dan kholaf membacanya dengan menPada kalimat a a AEOA sukun kan huruf yaAodan tanpa alif setelah huruf yaAo )A (EOeAsedangkan imam yang lain membacanya dengan mem-fathah kan huruf yaAo dan membacanya dengan alif setelah yaAo )A(EOA. 37 Format penulisan Mushaf Utsman secara mendasar berbeda dari ejaan Arab modern. Perbedaan ini mencakup penghilangan huruf . l-hadh. , penambahan huruf yang tidak dilafalkan . l-ziyada. , dan bentuk kata yang tidak selalu sesuai ortografi kontemporer. Ketidaksesuaian ini bukan kekeliruan, melainkan upaya menjaga kesinambungan antara qiraAoah dan teks tertulis. Pola tersebut juga 36 Abdu al-Fattah Abdu al-Ghani al-QAdhi, al-Budru al-ZAhirah (Kairo: DAr al-SalAm, 2. 37 al-QAdhi, al-Budru al-ZAhirah, 186. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 mencerminkan ijtihad sahabat dalam mempertahankan keaslian Al-QurAoan sejak masa Perspektif Ulama terhadap Perbedaan Rasm dan Pengaruhnya pada Pemahaman Dalam kajian Islam, ulama berbeda pendapat tentang penulisan Al-QurAoan, terutama antara rasm Utsmani dan rasm ImlaAoi. Perbedaan ini telah lama menjadi bagian dari diskusi ilmiah. Di kalangan ulama, perbedaan ini melahirkan tiga pendekatan pokok. Pertama, pendekatan tauqifi yang menganggap bahwa rasm merupakan bagian dari wahyu yang bersifat tetap dan tidak boleh diubah. Pendukung pandangan ini sering mengacu pada riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan instruksi langsung kepada para pencatat wahyu terkait cara menulis huruf-huruf tertentu dalam Al-QurAoan. A O AC EIO OeE O IEOI O I NEE O I EeI OA,A O A ECEI O A EA,A"EC EOA AO EOI O CEIE EO IE EOO AuIN E EEA AyLetakkan tintamu dan pegang pena dengan benar. Luruskan huruf baAo, bedakan sin, dan jangan kaburkan mim. Tulislah nama Allah dengan indah. Panjangkan tulisan Ar-Rahman dan perindah Ar-Rahim. Setelah itu, letakkan pena di telinga kirimu agar lebih mudah diingatAy. Kedua, pendekatan ijtihadi memandang Rasm Utsmani sebagai bentuk konvensi yang disepakati para sahabat di era Khalifah AoUtsman bin AoAffan, sehingga statusnya tidak mutlak sakral. Walaupun demikian, sejumlah ulama, di antaranya Imam Malik dan Ahmad bin Hanbal, tetap menegaskan perlunya mempertahankan model penulisan tersebut demi menjaga keaslian mushaf Al-QurAoan. Asyhab meriwayatkan. Imam Malik menolak penulisan dengan ejaan modern dan tetap menganjurkan mengikuti bentuk tulisan pertama. Imam Ahmad juga berpendapat haram menyalahi khat Utsmani dalam huruf-huruf seperti wawu, alif, dan yaAo. Ketiga, pendekatan tawfiqi bersikap moderat: Rasm ImlaAoi boleh digunakan dalam pendidikan atau pembacaan publik selama tidak menimbulkan kesalahpahaman, sementara Rasm Utsmani tetap menjadi standar mushaf resmi untuk menjaga keaslian teks. Variasi bentuk tulisan dalam rasm tidak hanya berdampak pada aspek teknis penyalinan, tetapi juga memengaruhi pemahaman makna ayat-ayat Al-QurAoan. Perbedaan pandangan ulama tentang rasm, khususnya antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi, melahirkan tiga pendekatan. Salah satunya adalah pendekatan tauqifi yang menganggap Rasm Utsmani bersifat sakral dan wajib dijaga keasliannya. Pendekatan ijtihadi memandang rasm sebagai hasil ijtihad sahabat yang bisa disesuaikan selama makna tetap 39 Sebagai contoh, penulisan kata A( AEOAshala. dalam Rasm Utsmani yang berbeda dari ejaan fonetis modern A EAEAmenyiratkan adanya lapisan makna yang lebih dalam, tidak sekadar sebagai bentuk bacaan. Perbedaan ini menuntun pembaca untuk menelusuri nilai spiritual dan simbolik dari setiap lafaz. Beberapa ulama kontemporer seperti Muhammad Syamlul berpendapat bahwa perbedaan tersebut memiliki nilai makna tersirat yang memperkaya penafsiran. Senada dengan itu. Fakhruddin al-Razi 38 Fathul Amin. AuKaidah Rasm Utsmani dalam Mushaf Al-QurAoan Indonesia sebagai Sumber Belajar Baca Tulis Al-QurAoan. Ay 39 Mira Shodiqoh, "Ilmu Rasm Quran," Tadris: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Pendidikan Islam 13, 1 . : 91-101, https://doi. org/10. 51675/jt. Comparison Between Rasm Utsmani and RasmA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 menekankan bahwa setiap elemen teks Al-QurAoan, termasuk variasi huruf, memiliki potensi maknawi yang dapat dikaji melalui pendekatan tafsir analitik. Dalam konteks tertentu, bentuk visual rasm turut menekankan makna ayat. Contohnya, pada QS. Taha . :14, penulisan A acI NEEAdalam Rasm Utsmani memberikan tekanan visual yang memperkuat pesan tauhid. Dengan demikian, rasm bukan sekadar media tulis, tetapi juga sarana ekspresi makna wahyu. Sikap terhadap perbedaan rasm memengaruhi cara memahami Al-QurAoan secara tekstual dan spiritual. Pendekatan tawfiqi menjadi jalan moderat: Rasm ImlaAoi digunakan untuk memudahkan pembaca awam, sedangkan Rasm Utsman dipertahankan dalam kajian ilmiah. Ulama seperti Muhammad Syamlul dan Fakhruddin al-Razi menegaskan bahwa setiap unsur rasm, termasuk huruf dan harakat, menyimpan makna yang dapat digali melalui ijtihad. 40 Maka, sikap terhadap perbedaan rasm turut memengaruhi kedalaman pemahaman dan pengalaman spiritual terhadap Al-QurAoan. Relevansi Perbedaan Rasm dengan Studi Ilmu Al-QurAoan Kontemporer Perbedaan sistem penulisan Al-QurAoan, terutama antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi, berperan penting dalam perkembangan kajian Al-QurAoan kontemporer. Dari perspektif filologi dan sejarah, variasi ini membantu merekonstruksi proses kodifikasi dan penyebaran mushaf sejak masa Nabi hingga kini. Kajian terhadap rasm juga memperkaya diskusi tentang keaslian teks Al-QurAoan dan kesinambungannya di berbagai komunitas Muslim. 41 Lebih dari itu, keberagaman rasm menjadi medium interaksi antara warisan intelektual klasik dan pendekatan ilmiah kontemporer. Dalam diskursus keilmuan saat ini baik di ranah tradisional Islam maupun dalam kajian QurAoan oleh akademisi Barat isu rasm menjadi medan kajian yang menjembatani metode tafsir tradisional dengan analisis tekstual modern. Hal ini menciptakan peluang integratif dalam memahami bagaimana proses pewahyuan, penulisan, dan pelestarian Al-QurAoan berlangsung dalam kerangka sejarah yang terus berkembang. Dalam kajian iAojaz Al-QurAoan, perbedaan Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi dianggap memiliki nilai mukjizat tersendiri. Keunikan ejaan Rasm Utsmani dipandang sebagai petunjuk ilahi yang melampaui penjelasan bahasa semata, sekaligus menunjukkan kekhasan struktur Al-QurAoan. Secara praktis, variasi rasm memengaruhi pelestarian naskah dan pendidikan. Rasm Utsmani dijaga untuk mempertahankan keaslian mushaf, sedangkan Rasm ImlaAoi dipakai guna memudahkan pembelajaran bagi pemula. Pendekatan ini menunjukkan keseimbangan antara kemudahan akses dan nilai ilmiah, menjadikan perbedaan rasm tema penting dalam kajian teologis, filologis, dan pedagogis. KESIMPULAN Kajian ini menegaskan bahwa perbedaan antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi bukan sekadar variasi penulisan, melainkan cerminan dinamika sejarah dan teologi dalam kodifikasi Al-QurAoan. Rasm Utsmani, yang dibakukan pada masa Khalifah Utsman bin AoAffan, berperan menjaga keseragaman teks di tengah ragam dialek dan qiraAoat. Mayoritas ulama menganggap sistem ini bersifat tauqifi, yakni bersumber dari bimbingan Nabi dan 40 Ummy Almas. Tri Ulva Chandra, dan Wandi Abdul Rojak, "Perbedaan Penulisan Rasm: Telaah I'jaz Rasm Al-QurAoan Perspektif M. Syamlul," At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 4, no. : 130145, https://doi. org/10. 53649/at-tahfidz. 41 Muflikhatul Khoiroh. Suqiyah Musafa'ah, dan Liliek Channa AW. Studi Al Quran (Surabaya: Uin Sunan Ampel Surabaya, 2. , 121-126. 42 Ihwan Agustono. AuKarakteristik Kesarjanaan Barat Kontemporer Dalam Studi Al QurAoan," (Disertasi: UIN Sunan Ampel Surabaya, 2. , 136-147. Vol. 5 No. August 2025, pp. Ahmad Muallim U. Nurusshobah N. Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 tidak boleh diubah. Namun, sebagian ulama kontemporer memandangnya sebagai hasil ijtihad yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman, selama tidak merusak makna Dalam konteks ini. Rasm Utsmani juga dipandang sebagai bagian dari IAojaz AlQurAoan, karena mengandung unsur kebahasaan dan simbolik yang memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Di sisi lain. Rasm ImlaAoi hadir sebagai respon terhadap kebutuhan literasi dan pendidikan modern, yang memudahkan pembaca awam dalam mengakses teks AlQurAoan. Namun, minimnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan makna dari masing-masing rasm sering menimbulkan kesalahpahaman, bahkan anggapan bahwa perbedaan itu adalah kesalahan penyalinan. Oleh karena itu, pemahaman tentang rasm perlu diperkuat melalui pendidikan yang komprehensif. Penelitian ini menegaskan bahwa sistem rasm tidak hanya memengaruhi aspek visual teks, tetapi juga berdampak pada cara umat memahami, menafsirkan, dan menghayati pesan ilahi. Maka, pelestarian dan pengkajian mendalam terhadap Rasm Utsmani adalah bagian penting dalam menjaga otentisitas Al-QurAoan sekaligus memperkaya pengalaman spiritual pembacanya. BATASAN Penelitian ini secara khusus membahas perbandingan antara Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi, dengan titik tekan pada peran keduanya dalam menunjukkan aspek iAojaz pada tampilan visual penulisan Al-QurAoan. Kajian ini tidak meliputi uraian tentang sejarah penyusunan mushaf, kondisi politik pada masa awal Islam, maupun ragam qiraAoat secara Fokus penelitian terletak pada analisis bagaimana unsur grafis dalam mushaf mengandung makna yang tidak sepenuhnya dapat diungkap hanya melalui pendekatan fonetik. KONTRIBUSI PENULIS Penulisan artikel ini merupakan hasil kerja kolaboratif yang dibagi secara proporsional sesuai bidang keahlian masing-masing penulis. Penulis pertama bertugas dalam merancang arah kajian serta membangun dasar teoritis terkait posisi teologis sistem Rasm Utsmani dan Rasm ImlaAoi berdasarkan pandangan ulama klasik. Ia juga mendalami argumen normatif mengenai sifat tauqifi atau ijtihadi dalam penulisan Penulis kedua berfokus pada eksplorasi aspek visual dan linguistik dalam rasm, serta mengaitkannya dengan makna implisit dalam struktur penulisan mushaf sebagai bagian dari keistimewaan Al-QurAoan. Kajian ini mencakup penelusuran terhadap unsur kebahasaan dan bentuk grafis yang memiliki nilai tafsir yang mendalam. Sementara itu, penulis ketiga berperan dalam menyusun pendekatan metodologis dan merangkai hasil temuan menjadi argumentasi yang utuh dan konsisten. Ia juga mengoordinasikan keterpaduan isi artikel serta melakukan integrasi antara sumber literatur klasik dan kontemporer agar pembahasan menjadi lebih komprehensif. Dengan sinergi tersebut, artikel ini diharapkan memberikan sumbangan yang berarti dalam pengembangan studi Al-QurAoan, terutama dalam memahami peran penting sistem rasm tidak hanya sebagai bentuk penulisan, tetapi juga sebagai medium pemaknaan ilahiah yang sarat makna dan layak dijadikan objek penelitian ilmiah lebih lanjut. REFERENSI