Identification of the ovulation phase in female adolescent through saliva-based ferning test Identifikasi fase ovulasi pada remaja putri melalui pemeriksaan ferning berbasis saliva Siti Nurhayati1. Imam Fungani2. Rizky Yuspitasari3 INFO ARTIKEL ARTICLE HISTORY: Artikel diterima: 13 April 2026 Artikel direvisi: 20 April 2026 Artikel disetujui: 27 April 2026 KORESPONDEN (Siti Nurhayati, snurhay870@gmail. ORIGINAL ARTICLE Halaman: 21 - 27 DOI: https://doi. org/10. 30989/mik. Penerbit: Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Indonesia. Artikel terbuka yang berlisensi CC-BYSA. Fakultas Kesehatan. Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. Jl Brawijaya Ringroad Barat. Ambarketawang. Gamping. Sleman. DI Yogyakarta, 55294. Indonesia Fakultas Kedokteran. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jl. Laksda Adisucipto. Papringan. Caturtunggal. Kec. Depok. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281. Indonesia. ABSTRACT Background: Female Adolescence begins with the signs of puberty, one of which is menstruation. Adolescents often experience irregular menstrual cycles, making it difficult for them to identify the ovulation phase. More accurate ovulation detection in adolescents can help identify hormonal imbalances or reproductive issues. Objective: To identify the ovulation phase in a more comfortable, affordable, and non-invasive manner does not compromise the privacy of adolescent. Methods: Cross-sectional design with a quantitative approach and purposive sampling technique. Data processing and analyzed were descriptively to identify the characteristics of saliva-based ferning test in detecting the ovulation phase Results: The results revealed that of a total 24 respondents, 17 female students . 8%) showed a ferning pattern, while 7 female students . did not a ferning pattern. A total of 15 out of 22 female student . 2%) showed a ferning pattern, while 7 female students . 8%) showed not ferning pattern. Conclusion: Saliva-based ferning test provides a practical, non-invasive, affordable, and privacy method for detecting the ovulation phase for female Keywords: Adolescents. Ovulation. Saliva. Ferning Test ABSTRAK Latar Belakang: Masa remaja putri dimulai dengan tanda-tanda pubertas, salah satunya menstruasi. Remaja sering mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi, hal ini membuat remaja sulit mengenali fase ovulasi. Deteksi ovulasi yang lebih akurat pada remaja dapat membantu dalam identifikasi gangguan hormon atau masalah pada reproduksi. Tujuan: Untuk identifikasi fase ovulasi yang lebih nyaman, murah, dan noninvasif dan tidak mengganggu privasi remaja. Metode: Menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan Sampel dipilih secara purposive sampling. Pengolahan dan analisa data dilakukan untuk mengidentifikasi gambaran pemeriksaan ferning berbasis saliva dalam mendeteksi fase ovulasi. Hasil: Hasil menunjukkan dari total 24 responden, sebanyak 17 siswi . ,8%) menunjukkan terbentuknya pola ferning . aun paki. sementara 7 siswi . ,2%) tidak menunjukkan pola ferning. Sebanyak 15 dari 22 siswi . ,2%) menunjukkan pola ferning . aun paki. , sedangkan 7 siswi . ,8%) tidak terbentuk pola ferning Kesimpulan: Pemeriksaan ferning berbasis saliva memberikan kemudahan untuk mendeteksi fase ovulasi pada remaja yang lebih praktis, non-invasif, tidak mengganggu privasi remaja dan berbiaya lebih rendah. Kata kunci: Remaja . Ovulasi. Saliva. Ferning Test https://ejournal. id/index. php/mik Media Ilmu Kesehatan Vol. No. April 2026 https://doi. org/10. 30989/mik. PENDAHULUAN Menurut Organisasi Pada Kesehatan Dunia (WHO), remaja didefinisikan peningkatan kadar hormon estrogen dan sebagai individu berusia 10 hingga 19 tahun progesteron di dalam tubuh yang tidak hanya mewakili sekitar 1,3 miliar orang atau 16% dari terdapat dalam aliran darah tetapi juga Indonesia, terdapat dalam saliva. Saliva merupakan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik salah satu cairan biologis dari dalam tubuh (BPS) yang dapat digunakan sebagai indikator mencapai 270,20 juta jiwa, dengan prevalensi diagnostic dalam pemeriksaan ferning. 9 Salah remaja pada rentang usia 8-23 tahun sebesar 27,94%. 2 Masa remaja dimulai dengan tanda- tanda pubertas, salah satunya menstruasi. "ferning". Menstruasi adalah serangkaian perubahan metode sederhana untuk mendeteksi kadar fisiologis yang terjadi secara berkala pada estrogen dalam tubuh dengan mengamati sistem reproduksi wanita. pada umumnya pola kristalisasi pada cairan biologis, terutama siklus menstruasi berlangsung selama 28 saliva . ir liu. atau lendir serviks. Banyak remaja belum memahami perubahan tubuh yang terjadi selama siklus menstruasi, beberapa fase, yaitu fase menstruasi, fase sehingga sulit menentukan fase ovulasi atau folikuler . ebelum telur dilepaska. , fase masa subur. Hal ini terjadi karena remaja ovulasi . elepasan telu. dan fase luteal kurangnya pengetahuan tentang fase ovulasi . etelah sel telur dilepaska. dan pentingnya pemantauan ovulasi. Hal ini Sebuah penelitian yang melibatkan 596 Siklus Pemeriksaan Ferning 43,29% ferning berbasis saliva membuat metode gangguan menstruasi. 6 Gangguan menstruasi untuk mendeteksi fase ovulasi pada remaja sering kali berhubungan dengan fase ovulasi, karena ovulasi merupakan proses penting membantu remaja dalam mengetahui dan dalam siklus menstruasi yang dikendalikan memahami siklus menstruasi secara lebih oleh hormon estrogen dan progesteron. Jika Pemeriksaan ferning berbasis saliva ovulasi terganggu, maka siklus menstruasi memberikan kemudahan untuk mendeteksi responden di Yogyakarta menemukan bahwa Pemeriksaan juga dapat mengalami gangguan. Memahami fase ovulasi pada remaja yang lebih praktis, fase ovulasi membantu remaja mengenali tidak invasif, tidak mengganggu privasi remaja masa subur, hal ini penting untuk pendidikan dan berbiaya lebih rendah. seksual dan pencegahan kehamilan yang Berdasarkan tidak diinginkan pada remaja. diuraikan, maka rumusan masalah penelitian Identifikasi Fase Ovulasi Pada Remaja Putri Melalui Pemeriksaan Ferning Berbasis Saliva Siti Nurhayati1. Imam Fungani2. Rizky Yuspitasari3 P-ISSN 2252-3413. E-ISSN 2548-6268 Media Ilmu Kesehatan Vol. No. April 2026 https://doi. org/10. 30989/mik. ini yaitu bagaimana pemeriksaan Ferning Glas. dengan menggunakan pipet, biarkan berbasis saliva dalam mengidentifikasi fase sampel pada kaca preparat mengering secara ovulasi pada remaja putri. BAHAN DAN CARA PENELITIAN pengamatan diambil menggunakan mikroskop Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan perbesaran 50-100 kali. Selama proses analisis dengan mikroskop amati kuantitatif untuk mengidentifikasi fase ovulasi apakah ada pola . erning patter. yang pada remaja putri di SMA Muhammadiyah Kasihan pada tanggal 21 Maret 2025 dengan Pengolahan dan analisis data dilakukan pemeriksaan ferning berbasis saliva. Data secara deskriptif untuk mengidentifikasi hasil dikumpulkan dari responden yang memenuhi uji ferning saliva dalam mendeteksi fase kriteria inklusi. Sampel dalam penelitian ini Statistik deskriptif dipilih sebagai dipilih secara purposive sampling dengan pendekatan analisis karena penelitian ini karakteristik umum yaitu remaja putri berusia bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik 10-19 tahun, tidak memiliki gangguan sistem dan distribusi data yang diperoleh. cross-sectional reproduksi atau hormonal, tidak sedang dalam terapi hormonal atau obat lain yang dapat Terbentuknya pola ferning (Ferning memengaruhi kadar estrogen. Prosedur awal memberikan lembar informasi persetujuan menjadi responden. Wawancara Selanjutnya responden diberikan cup saliva untuk pengambilan sampel saliva dengan cara responden meludah ke dalam cup saliva, wadah diberi kode responden, label tanggal dan waktu pengambilan sampel. Cup Saliva di masukan kedalam cool box untuk menjaga temperatur sampel saliva dan mencegah Patter. elektrolit, terutama natrium klorida (NaC. dan beberapa jenis protein tertentu. Ketika kandungan garam yang tinggi tersebut membentuk pola ferning yang menyerupai daun pakis . dan dapat diamati secara mikroskopis. fenomena ini dikenal sebagai pembentukan pola ferning pada 13,19 Proses analisis di lakukan di laboratorium Teknologi Bank Darah Fakultas Kesehatan Universitas HASIL DAN PEM BAHASAN Jenderal Yogyakarta. Achmad Yani responden dioleskan ke kaca preparat (Objek Meskipun demikian, keandalan saliva sebagai indikator kuantitatif kadar hormon reproduksi masih menjadi perdebatan. Sebuah kajian terhadap lebih dari 1. https://ejournal. id/index. php/mik Media Ilmu Kesehatan Vol. No. April 2026 https://doi. org/10. 30989/mik. immunoassay estradiol berbasis saliva memiliki validitas yang terbatas dalam (Ferning Patter. Hal apabila dibandingkan dengan pengukuran peningkatan hormon estrogen sebagai penanda ovulasi, sementara 7 responden hormon saliva secara kuantitatif perlu . ,2%) tidak menunjukkan pola ferning dilakukan secara hati-hati. 22 Oleh karena (Ferning Patter. Pada kelompok dengan siklus menstruasi 21Ae35 hari sebanyak 15 dari 22 responden . ,2%) menunjukkan . tetap relevan sebagai metode pola ferning, sedangkan 7 responden skrining karena tidak bergantung pada . ,8%) tidak terbentuk pola. akurasi pengukuran konsentrasi hormon Gambar 1. Data Saliva Ferning digunakan untuk tujuan klinis yang lebih Tabel 1 menunjukkan distribusi hasil berdasarkan kategori siklus menstruasi (<21 hari dan 21Ae35 har. Penyajian data sebagai indikator fase ovulasi pada remaja putri. selama 5 hingga 15 menit. Gambar 1 . menunjukkan dalam masa tidak subur, 2 . menunjukkan masa subur, ditandai . Pola ferning yang membentuk Ferning Test Berbasis Saliva < 21 Hari 21-35 Hari Total dengan munculnya pola daun pakis Tabel 1. Distribusi Hasil Pemeriksaan Siklus Mestruasi Gambar 1 menunjukkan pola saliva kristalisasi seperti pola daun pakis pada Hasil Pemeriksaan Ferning Test Tidak Terbentuk Total Pola Pola konsentrasi elektrolit . erutama NaA dan ClA) dan perubahan komposisi protein meningkat di fase pra-ovulasi. Interaksi antara garam dan komponen organik Berdasarkan Tabel. menghasilkan formasi kristal bercabang pemeriksaan ferning berbasis saliva, dari menyerupai daun pakis. 14 Dalam fase ovulasi, elektrolit (Na. cenderung meningkat dibanding fase pra- atau . ,8%) Identifikasi Fase Ovulasi Pada Remaja Putri Melalui Pemeriksaan Ferning Berbasis Saliva Siti Nurhayati1. Imam Fungani2. Rizky Yuspitasari3 P-ISSN 2252-3413. E-ISSN 2548-6268 Media Ilmu Kesehatan Vol. No. April 2026 https://doi. org/10. 30989/mik. pasca-ovulasi. Pada terbentuknya pola ferning yang jelas. ,8%) tidak terbentuk pola Beberapa studi menyebutkan bahwa sifat ferning pada fase menstruasi 21 - 35 hari. fisiko-kimia Hal ini bisa disebabkan oleh faktor lain, kapasitas buffe. juga berubah selama salah satunya status gizi yang diukur siklus menstruasi dan dapat mendukung menggunakan IMT. Indeks Massa Tubuh pola kristalisasi. 15 Dengan demikian, (IMT) memegang peranan krusial dalam regulasi sistem endokrin yang secara . isalnya responden menunjukkan ferning positif konsisten dengan teori hormon-estrogen yang meningkat menjelang ovulasi. pembentukan pola ferning pada saliva. Tabel 2. Identifikasi Indeks Masa Tubuh dan obesitas terjadi akumulasi jaringan (IMT) dengan Siklus Menstruasi Siklus Mesntruasi 21 - 35 < 21 Hari Total Hari Kategori IMT Underweight Normal Overweight Obesitas Total Pada individu dengan status gizi lebih lemak yang berlebih akan menstimulasi ovarium untuk memproduksi androgen secara berlebihan. Peningkatan fraksi androgen yang bersirkulasi selanjutnya menghambat pematangan folikel dan mengganggu mekanisme ovulasi, yang Berdasarkan Tabel 2 kelompok IMT bermanifestasi sebagai ketidakteraturan underweight, seluruh responden . %) siklus menstruasi. 17,20 berada pada kategori siklus normal. Hal Indeks (IMT) merupakan cara pengukuran berat badan kelompok overweight, di mana seluruh yang disesuaikan dengan tinggi badan, . %) dihitung menggunakan cara berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat Sementara itu, pada kelompok IMT tinggi badan dalam meter . g/m. normal, sebagian besar responden . Perhitungan IMT menguanakan rumus dari . juga menunjukkan siklus normal, sebagai berikut: meskipun terdapat 2 responden . ,3%) yang memiliki siklus <21 hari. Secara Hasil penghitungan Indeks Massa Tubuh ,3%) yang mengalami siklus (IMT) klasifikasi menurut klasifikasai Kriteria berasal dari kelompok yaang memiliki Asia Pasifik menjadi underweight, normal (<21 indeks masa tubuh (IMT) normal. https://ejournal. id/index. php/mik Media Ilmu Kesehatan Vol. No. April 2026 https://doi. org/10. 30989/mik. dan overweight, dengan rentang angka bias interpretasi visual pada pemeriksaan sebagai berikut: Kategori Underweight Normal Overweight Obesitas IMT . g/mA) < 18. 5 - 22,29 23 - 24. Ou 30 Diperlukan mengembangkan variabel yang lebih luas. terdapat beberapa hal yang perlu menjadi Indeks Masa Tubuh (IMT) kategori perhatian dalam normal dapat menjaga keseimbangan hormon dan menjaga metabolisme tubuh TERIMA KASIH