BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 1-6 Berbahagialah Mereka Yang Suci Hatinya Karena Mereka Akan Melihat Allah Sebuah Tinjauan Teologis Perspektif Injil Matius 5:8 Maria Roswita Boe1. Siprianus Soleman Senda2*. Mikhael Valens Boy3 1,2,3Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Email: 1boeroswita@gmail. com, 2*sendasiprianus@gmail. com, 3valensboy239@gmail. (* : coressponding autho. Abstrak - Sabda bahagia adalah sebuah ajaran moral dalam iman Katolik yang sejatinya adalah sebuah ajaran mengenai keutamaan-keutamaan teologal yang wajib dihayati dalam kehidupan kaum Kristiani, yakni iman, harapan dan kasih. Salah satu pokok dalam Sabda Bahagia adalah AuBerbahagialah mereka yang suci hatinya sebab mereka akan melihat AllahAy. Hal ini menjadi inspirasi bagi orang Kristiani untuk mengelola hidup kini dan di sini, dalam keterarahan menuju kebahagiaan akhir yang didambakan yakni memandang wajah Allah dalam kehidupan kekal. Penelitian ini bermaksud menggali makna teologis yang terkandung dalam salah satu pokok Sabda Bahagia yang disampaikan Yesus. Metode yang dipakai adalah penelitian pustaka dengan pendekatan analisis deskriptif. Hasil yang diperoleh adalah gambaran mengenai kaum Kristiani yang menghayati tiga keutamaan teologal yaitu iman, harapan dan kasih. Melalui penghayatan ketiga keutamaan itu secara konsisten dan konsekuen dalam kehidupan, terbentuklah hatinya yang suci, sehingga manusia kristiani itu dapat melihat Allah atau mengalami Allah. Kata Kunci: Sabda Bahagia. Suci Hati. Melihat Allah. Kaum Kristiani. Keutamaan Teologal Abstract - The Beatitudes are a moral teaching in the Catholic faith which is actually a teaching about the theological virtues that must be lived in the life of Christians, namely faith, hope and love. One of the points in the Beatitudes is "Blessed are the pure in heart for they will see God". This is an inspiration for Christians to manage life here and now, in a direction towards the desired final happiness, namely seeing the face of God in eternal life. This research aims to explore the theological meaning contained in one of the main points of the Beatitudes spoken by Jesus. The method used is library research with a descriptive analysis approach. The results obtained are a picture of Christians who live the three theological virtues, namely faith, hope and love. By consistently and consistently living these three virtues in life, a pure heart is formed, so that the Christian man can see God or experience God. Keywords: Beatitudes. Pure Heart. Seeing God. Christians. Theological Virtues PENDAHULUAN Kata bahagia menjadi suatu kosa kata umum dalam kamus hidup setiap orang. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin hidup menderita. Apa pun status dan kedudukan seseorang dalam hidup, keinginan atau kemauannya untuk mendapatkan kebahagiaan itu tetap sama. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana caranya agar saya atau keluarga atau kelompok saya hidup bahagia. Sampai sekarang di mana segala sesuatu bersifat instan dan artifisial, pertanyaan tentang kebahagiaan itu masih tetap sama. Jadi jika ditelusuri, pertanyaan pokok yang muncul tentang kebahagiaan ini merupakan suatu pertanyaan yang sama dan tetap sama, maka dapat dikatakan bahwa kebahagiaan ini memiliki suatu ciri yang umum dari dirinya. Jika pertanyaan sama tentang bagaimana orang dapat bahagia selalu muncul, maka pertanyaan susulan berikut adalah apa itu Konsep kebahagiaan sangat beragam, ada yang mengatakan kebahagiaan itu suatu perasaan yang tidak dapat didefinisikan. Ada pula yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu terletak pada harta kekayaan yang dimiliki, jika seseorang memiliki banyak harta pastilah hidupnya akan bahagia. ada yang lain mengatakan kebahagiaan itu merupakan suatu perasaan senang yang dibarengi dengan suasana aman dan damai dalam diri sendiri dan kelompok. Konsep-konsep kebahagiaan seperti ini akan menimbulkan suatu keputusasaan dalam diri ketika orang tidak memperoleh apa yang ia citacitakan atau inginkan dalam hidup. Maria Roswita Boe | https://journal. id/index. php/bullet | Page 1 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 1-6 Di dalam ajaran agama-agama pun terdapat beragam konsep mengenai arti dan makna dari Bagi kaum Hindu kebahagiaan itu adalah menjalankan kesulilaan dengan penuh hikmat dan saksama. Bagi mereka menciptakan kehidupan yang rukun dan damai antar sesama adalah wujud dari kebahagiaan (I MADE GAMI SANDI UNTARA 2019, . Bagi kaum Islam kebahagiaan merupakan suatu cara hidup yang membawa seseorang kepada pengoptimalan potensi diri, hidup mandiri, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain serta mampu menghadapi kejadian-kejadian yang terjadi dalam dirinya dan makna sejati dari kebahagiaan itu adalah menjalankan fitrah yang telah diberikan Allah kepada manusia. (Sulthon Nur Risky. Ratna Puspitasari, and Rahma Rosaliana Saraswati. AuAgama Dan Kebahagiaan: A Literatur Review,Ay Risenologi 3, no. : . Dalam tradisi Kristen konsep kebahagiaan yang benar dan sejati terdapat dalam Injil Matius 5:1-12 perikop tentang Sabda Bahagia. Di sana Yesus dengan jelas menggambarkan siapa yang disebut bahagia dan apa itu kebahagiaan. Tentunya apa yang digambarkan oleh Yesus dalam sabda bahagia tidak dimengerti secara literal tetapi harus dipahami dalam terang iman. Inti pokok dari ajaran Yesus dalam kotbah di bukit ini adalah bahwa untuk memperoleh Kerajaan Allah, tuntutan utama yang harus dijalani oleh seseorang adalah Sabda Bahagia. Kerajaan Allah itu sendiri memiliki dua dimensi yakni AusudahAy dan AubelumAy. Oleh karena itu, sabda bahagia sebagai tuntuntan untuk memperoleh Kerajaan Allah bagi kaum beriman merujuk pada suatu sikap iman. Ungkapan AuberbahagiaAy di sini adalah suatu sikap hidup atau cara hidup teosentris, yakni menerima Allah sebagai satu-satunya sumber kehidupan dan kebahagiaan. Allah yang merajai kehidupan. Untuk itu mereka rela melepaskan segala raja yang lain seperti raja kehormatan, raja harta, atau raja status sosial, dan mereka rela mempertaruhkan segala-galanya termasuk diri sendiri demi Sang Raja (Indonesia 1. Ada delapan Sabda Bahagia yang diungkapkan oleh Yesus dalam Injil Matius 5:1-12 yaitu berbahagialah mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, mereka yang suci hatinya, mereka yang dianiaya oleh sebab kebenaran, dan yang terakhir adalah mereka yang dianiaya dan dicela oleh sebab Tuhan. Semua sabda bahagia ini merupakan petunjuk jalan menuju keselamatan yang dinantikan oleh setiap kaum beriman. Penelusuran mengenai konsep Sabda Bahagia ini telah banyak digali dan dibahas oleh banyak pihak seperti Yohanes Enci Patandean dalam Jurnal Evangelikal membahas Pengajaran Tuhan Yesus tentang makna berbahagia (Patandean 2. Selain itu Noh Ibrahim Boiliu, dkk dalam Jurnal Kurios membahas tentang Pendidikan karakter melalui Sabda bahagia (Boiliu et al. Tak dapat dipungkiri bahwa pembahasan mengenai makna kebahagiaan yang ada dalam Matius 5: 1-12 ini telah banyak dibahas dalam berbagai artikel. Dalam penulisan ini penulis memfokuskan pembahasan secara khusus pada makna sabda bahagia ketujuh yang berbunyi berbahagialah mereka yang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah (Mat. Sabda ini menggambarkan watak yang paling menyeluruh dari orang yang berbahagia, yakni mereka yang suci hatinya akan melihat Allah. Melihat-Nya dalam terang iman, mengumpamakan seseorang mengalami surga di bumi, dan hal ini secara implisit menghadirkan makna eskatologis dari kehidupan orang beriman yang akan melihat-Nya kelak di dalam surga dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, muka dengan muka, dan bukan melalui cermin yang kabur lagi (Simanullang 2018, . Yang menjadi suatu pertanyaan di sini adalah apa makna berbahagialah mereka yang suci hatinya serta apa dan bagaimana yang suci hatinya itu melihat Allah. Dalam hal ini penulis menelisik keutamaan-keutamaan teologal sebagai bentuk konkrit dalam menjalani Sabda Bahagia yang ketujuh ini sehingga hal tersebut bukan hanya ide semata tetapi sesuatu yang nyata atau riil dalam hidup orang beriman Kristiani. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan . ibrary researc. Penelitian dilakukan dengan literatur, maka sumber-sumber yang digunakan adalah sumber-sumber yang berkaitan dengan tema penulisan dan juga laporan penelitian terdahulu. Sumber yang digunakan terutama adalah Alkitab Deuterokanonika (Alkitab Deuterokanonika 2. Alkitab Edisi Studi (Alkitab Edisi Studi 2. La Bibbia (LA BIBBIA 1. , serta berbagai buku tafsiran biblika, maupun artikel yang membahas tema ini. Dengan pendekatan analisis deskriptif dan interpretasi, penulis berusaha untuk memahami dan mendeskripsikan tema ini dari perspektif teologis yang diusung penulis. Maria Roswita Boe | https://journal. id/index. php/bullet | Page 2 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 1-6 HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Latar Belakang teologis Injil Matius 5:1-12 Secara umum Injil Matius menampilkan Yesus sebagai pribadi agung yang menyapa semua orang, sebagai Putra Allah, tetapi Ia penuh belaskasih, murah hati, lemah lembut, rendah hati, miskin. Guru hebat yang penuh dengan kesabaran. Ia Immanuel. Allah beserta kita, dan dalam segala hal Ia mengutamakan kehendak Bapa di surga. (Stefan Leks 2002, . Dalam diri Yesus Kerajaan Allah terwujud nyata yakni dalam hidup, ajaran serta dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Injil Matius juga mendeskripsikan dengan sederhana konsep Gereja di mana ia menggambarkan Gereja sebagai suatu Jemaah yang memiliki pimpinan dan Pemimpin bertindak atas nama dan dengan wibawa Tuhan sendiri (Stefan Leks 2. Atas dasar inilah maka dalam Sabda Bahagia. Matius menampilkan pribadi dan sosok Yesus sebagai seorang Guru yang mengajar dengan penuh wibawa dan hebat, sosok guru yang tahu dan masuk dalam situasi umat-Nya bahkan bukan hanya tahu dan masuk tetapi hidup sebagaimana manusia pada umumnya. merasa lapar, haus, memiliki rasa kagum, merasa belas kasihan, dan lain Yesus sebagai Manusia yang sempurna. Ia hidup dalam komunitas masyarakat yang memiliki budaya dan aturan setempat dan setiap orang yang bertemu dengan-Nya pasti mengalami kehadiran-Nya yang membawa transformasi dalam diri mereka dan pembaharuan yang radikal. Sabda Bahagia merupakan suatu ajaran yang menyentuh kehidupan manusia seutuhnya, suatu evangelisasi hidup bagi kaum beriman baik hidup sosial maupun pribadi. Sabda Bahagia memberi suatu arah hidup yang memadai, yang bermutu, bermartabat dan jelas, sesuai dengan beragam situasi manusia, dan Sabda Bahagia juga merupakan ajaran menuju suatu pembaharuan dan transformasi hidup. Lewat Sabda Bahagia ini Yesus dengan begitu terbuka menggambarkan dengan banyak cara, kebahagiaan untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga meskipun harus melalui cara-cara yang paradoks, melalui hal- hal yang ditolak oleh dunia (Paulus VI 1967, . Paus Fransiskus dalam sebuah audensi umum mengatakan bahwa Sabda Bahagia adalah suatu panggilan bagi kaum beriman untuk menemukan apa yang pokok dan penting, apa yang sungguh dibutuhkan dalam hidup yang membuat seseorang rindu, haus dan lapar akan suatu kebenaran yang mutla (Katolik n. AuBerbahagialah mereka yang suci hatinya sebab mereka akan melihat AllahAy. Ajaran dari sabda bahagia yang ketujuh ini bukanlah sebuah ajaran untuk melihat Allah secara fisik melainkan suatu ajakan bagi kaum beriman untuk mengkontemplasikan Allah yang adalah Sang Kebenaran Artinya melalui kehidupan aktif manusia di dunia, ia diberi suatu kerinduan untuk hidup dalam keutamaan-keutamaan teologal sebagai bentuk kontemplasi akan Allah yang mana adalah suatu keterarahan kepada kebahagiaan sempurna atau tertinggi yang belum dialaminya saat ini melainkan di masa yang akan datang, ketika ia berhadapan muka dengan muka dengan Dia sang Kebenaran itu. 2 Makna AuBerbahagialahAy Makna AuberbahagialahAy di sini bukan ungkapan yang biasa melainkan sebuah ungkapan terdalam mAC (Yunan. : Makarios artinya diberkati atau beruntun. Jadi, maksud dari berbahagia di sini adalah suatu kebahagiaan atau sukacita yang tidak dipengaruhi oleh keadaan atau kondisi apa pun (Robert and Brown 2004, . Dengan kata lain, kata bahagia ini merupakan suatu kondisi batin seseorang yang beriman kepada Allah. Kata berbahagialah mengungkapkan suatu kesukacitaan yang mengandung rahasia di dalam diri yang begitu mendalam dan tidak tersentuh sehingga sukacita itu tidak dapat hilang karena situasi tertentu yang dialami oleh manusia dalam keadaan tertentu (Robert and Brown 2. Kebahagiaan ini bukan sekadar kebahagiaan lahiriah melainkan merujuk pada suatu kebahagiaan tertinggi atau dengan meminjam kata-kata Thomas Aquinas suatu kebaikan tertinggi yang adalah Allah sendiri. St. Thomas Aquinas, sebagaimana disitir oleh Simplesius Sandur, menguraikan bahwa kebahagiaan akhir dan sempurna terkandung tidak lain hanya dalam memandang esensi Allah (Sandur 2020, . Untuk memandang esensi Allah ini maka suatu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana seorang beriman dapat memandang esensi Allah yang adalah kebaikan atau kebahagiaan tertinggi itu? Injil Matius 5:8 mengatakan yang suci hatinya. orang yang suci hatinya dapat memandang esensi Allah. Maria Roswita Boe | https://journal. id/index. php/bullet | Page 3 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 1-6 3 Yang Suci Hatinya (Mat. Hati yang suci di sini merujuk pada kekudusan batin, motivasi dan sasaran yang benar. Memiliki keutamaan-keutamaan teologal dan menghidupinya dalam hidup merupakan bentuk penghayatan dari hati yang suci. Artinya bahwa dengan beriman yang teguh orang menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah (DV . menjalin relasi yang intim dengan Allah yang bertolak pada Sabda Allah sendiri, dan mengakui hidup sebagai suatu pemberian Allah yang patut disyukuri. (Indonesia 1. Dengan demikian secara tidak langsung hal ini telah menunjukkan suatu kesucian yang keluar dari dalam diri, atau seringkali disebut orang sebagai inner wisdom atau inner strength. Contoh pribadi yang memiliki kekudusan batin atau hati yang suci adalah Bunda Maria. Kekudusan Maria memancar dari iman, pengharapan dan kasihnya kepada Tuhan dalam kesediaan total untuk melaksanakan kehendak Tuhan melalui fiatnya (Senda et al. 2023, . Dalam Ensiklik Lumen Fidei Paus Fransiskus mendeskripsikan bahwa Iman lahir dari perjumpaan dengan Allah yang hidup, yang memanggil kita dan menyatakan kasih-Nya, kasih yang menuntun kita dan yang bisa kita andalkan untuk melindungi serta membangun hidup kita (Fransiskus 2013, . Paus menegaskan bahwa iman yang kita terima dari Allah sebagai anugerah adikodrati, menjadi cahaya bagi langkah kita, yang menuntun perjalanan hidup kita melewati waktu. Terang iman itu datang dari masa lalu dan juga datang dari masa depan (Fransiskus 2. Artinya iman memampukan seseorang berdiri dari masa lalu dan berlangkah maju menatap masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa beriman itu merupakan suatu tindakan manusia yang mengarahkan orang pada kesaksian hidup akan kebenaran. Kesaksian itu akan menjadi nyata dengan pertolongan batin yang murni artinya seperti dikatakan di atas suci hatinya. Kesucian yang nampak keluar dari dalam diri yang tak kelihatan yakni dari hati manusialah yang memungkinkannya memberi kesaksian yang Mmanusia yang mengandalkan hati yang murni akan sampai pada tahap transformasi hidup, yakni tahap di mana manusia mampu Aumelihat AllahAy dalam kehidupan nyata. Transformasi hidup membawa orang untuk berpengharapan teguh bahwa kebahagiaan yang paling utama adalah rindu akan Kerajaan surga dan hidup kekal yang dijanjikan Kristus. Kerinduan akan Kerajaan Surga dan hidup yang kekal inilah yang membuat orang mencintai segala pekerjaan yang dibuatnya sehingga apa saja pekerjaan yang dilakukan di dunia ini menjadi satu bentuk persembahan yang utuh bagi Dia sang penyelenggara hidup. Dalam hal ini seseorang tidak lagi bekerja karena motivasi-motivasi tertentu melainkan bekerja demi Kerajaan Surga dan hidup kekal yang diidamkan. Akhirnya dengan meminjam sekali lagi kata-kata Thomas Aquinas dapat disimpulkan bahwa keutamaan teologal iman, harap dan kasih itu bagaikan sebatang pohon yang tumbuh di tanah. iman sebagai akar pohon, harapan sebagai batangnya dan kasih sebagai buahnya dan pohon itu adalah hidup Allah dalam diri manusia itu sendiri (Largus Nadeak 2004, . 4 Melihat Allah Ungkapan melihat Allah dalam konteks ini bukan berarti melihat Allah secara fisik melainkan suatu tindakan spiritual, melihat dalam terang iman Kristen. Melihat di sini juga diartikan sebagai suatu sikap batin yang membawa terus-menerus orang percaya kepada pengharapan yang bersifat eskatologi (Sapan 2020, . Artinya tindakan-tindakan seseorang menampilkan kekudusan yang mana mencerminkan cara hidup Kristus sendiri sehingga hidup kaum Kristiani itu menjadi antisipasi masa mendatang. Perutusan kaum Kristiani adalah mengingatkan sesama untuk mengarahkan perhatian pada suatu kebahagiaan yang mendatang. Hidup bersaudara, hidup dalam cintakasih, hidup menurut Roh, mendengarkan sabda Tuhan merupakan corak atau tanda Aumelihat AllahAy dalam terang iman. 5 Relevansi sabda bahagia ketujuh bagi kaum Kristiani pada masa kini Di zaman modern di mana dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengglobal, makna iman bergeser, makna ajaran Yesus dalam Injil-injil yang merupakan suatu ajaran mengenai jati diri seorang Kristen pun bergeser dan berubah. Hal- hal yang membantu umat beriman untuk untuk menjalani hidup yang suci dan meningkatkan iman semakin merosot dan Sabda Tuhan yang menjadi sapaan pribadi mungkin relevan dan mungkin juga sudah tidak relevan lagi bagi kebanyakan orang Kristen. Dengan melihat situasi-situasi seperti ini Gereja dipanggil untuk memberi kesaksian sebagai saksi Kristus. Maria Roswita Boe | https://journal. id/index. php/bullet | Page 4 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 3. No. Februari-Maret 2024 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 1-6 Menjadi Kristen bukan hanya sekedar mencari jalan mana ke surga, melainkan suatu kegembiraan, suatu kebebasan untuk melayani sesama dengan kasih yang telah Allah berikan. Menjadi saksi Kristus berarti memancarkan Cahaya pembaharuan Kristus kepada masyarakat (Frans Magnis-Suseno. Beriman Dalam Masyarakat Butir-Butir Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1. , . Cahaya pembaharuan yang dapat dibagikan oleh kaum Kristiani di masa kini kepada masyarakat ajaran Sabda Bahagia. Berbahagialah orang yang suci hatinya sebab mereka akan melihat Allah adalah ajakan bagi setiap orang Kristen untuk memilih apa yang terbaik dalam hidup. Seperti Maria duduk di bawah kaki Tuhan mendengar-Nya dengan penuh perhatian demikian juga sabda bahagia menjadi sebuah tanggapan hati dari orang kristiani dalam menjalani hidup. Menjalani hidup dengan hati yang penuh sukacita merupakan suatu kesadaran akan kehadiran Allah yang tidak terputus. Sabda bahagia yang ketujuh ini dapat diaplikasikan dalam hidup melalui hal-hal sederhana seperti berdoa dengan hati yang tulus dan murni. menghadirkan diri di hadapan Allah sebagaimana adanya, menggunakan teknologi dengan tanggung jawab, tidak menyebarkan hoaks terutama saat ini di mana dengan pesatnya perkembangan teknologi di bidang komunikasi mengubah banyak pola relasi antar manusia, menghidupi nilai-nilai iman kristiani dengan benar dan baik, dan masih ada hal-hal lain yang masih dapat dilakukan. Hal semacam inilah yang disebut dengan pengalaman religius. Pengalaman religius yakni manusia mengalami sesuatu yang yang lain akan yang kudus, yang mana ia melihat bahwa Allah hadir dalam dunia dan kehidupannya, secara mendalam ia mengalami bahwa hidupnya terarah kepada hal- hal yang luhur, terarah kepada kepenuhan, terarah kepada Dia sang Kebenaran mutlak, dan mengalami Allah sebagai yang tak terbatas dan menjadi sumber dan dasar hidupnya (Taringan 2015, . Inilah inti dari Sabda bahagia ketujuh melihat Allah sebagai yang tak terhingga dan sang Kebenaran mutlak, yang hadir dalam dunia dan hidup setiap orang sebagai penunjuk menuju pada suatu hidup yang mendatang. KESIMPULAN Memiliki tujuan dalam hidup sangatlah penting, di mana tujuan hidup itu mengarahkan orang pada suatu titik yang perlu ia capai. Sabda Bahagia ketujuh AuBerbahagialah orang yang suci hatinya sebab mereka akan melihat AllahAy adalah tujuan hidup kaum beriman Kristiani. Menaruh hati yang suci pada setiap hal yang dilakukan adalah tindakan melihat Allah yang menyata dalam hidup atau mengalami Allah. Melihat Allah dipahami sebagai sebuah pengalaman religius dan juga sekaligus sebuah pengalaman iman. Dengan demikian kebahagiaan sempurna yang belum dialaminya di dunia ini telah dipersiapkan melalui tindakan-tindakan nyata dalam masa aktif manusia di dunia ini. Iman, pengharapan dan kasih adalah tiang utama dalam hal ini. Seperti diuraikan di atas, ketiga keutamaan teologal ini bagaikan sebatang pohon, di mana iman sebagai akar, pengharapan sebagai batang dan kasih sebagai buahnya. Demikianlah juga kaum Kristiani sekali lagi diundang untuk menghayati dan mewartakan Kerajaan Allah kepada sesama tiada hentinya. Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah, hal ini meletakkan dalam hati setiap orang suatu kerinduan akan sesuatu yang akan datang, suatu kebahagiaan yang mana Allah siapkan bagi orang yang Ia kehendaki yang adalah kerinduan akhir manusia yakni kebahagiaan sejati dalam memandang Wajah Allah di akhir zaman. DAFTAR PUSTAKA