EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 PENERAPAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DAPAT MENINGKATKAN PENGUASAAN SISWA MENCERITAKAN ISI DONGENG RUKAYA AHMAD SD IT Qurratu AAoyun Kota Gorontalo Email :rukayaahmad73@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian tindakan kelas untuk kelas 1 SD IT Qurratu AAoyun Kota Gorontalo untuk Mendeskripsikan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek dan Mendeskripsikan metode lebah berdengung dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek mendengarkan. serta Mendeskripsikan dampak penggunaan pendekatan komunikatif dan metode lebah berdengung dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek pada penelitian ini menggunakan Metode lebah berdengung merupakan metode mengajar yang digunakan dalam mengajarkan materi dongeng. Dalam pelaksanaannya metode lebah berdengung adalah siswa diberi kebebasan dalam mendongeng dengan teman-temannya, baik dengan teman satu bangku maupun dengan teman satu kelompok. Selama proses mendongeng guru mengamati dan memberi motivasi pada siswa untuk mendongeng bebas tanpa rasa takut kepada temannya. Guru dituntut dapat sedekat mungkin dengan siswa, sehingga tidak ditakuti oleh siswa, dalam pelaksanaannya bisa di luar kelas maupun di dalam kelas, bila di dalam kelas menjadi gaduh dengan suara-suara siswa mendongeng dengan bebasnya, teman yang diajak mendongeng boleh menambah atau ikut mendongeng untuk membantu ingatan temannya yang sedang mendongeng. Adapun lokasi penelitian ini adalah SD IT Qurratu AAoyun Kota Gorontalo Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan selama dua siklus, dapat disimpulkan beberapa hal antara lain :1. Kemampuan siswa dalam menyebutkan isi dongeng dapat ditingkatkan dengan menggunakan pendekatan komunikatif dan metode lebah Meningkatkan minat siswa dalam memahami isi dongeng dapat dilakukan dengan menggunakan metode lebah berdengung yang dipadukan dengan penggunaan media berupa boneka binatang. Perbaikan pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kata kunci : Tindakan. Kelas. Pembelajaran ABSTRACT The purpose of classroom action research for class 1 SD IT Qurratu a' is to: Describe the communicative approach in learning Indonesian on the listening aspect. and Describe the buzzing bee method in learning Indonesian on the listening aspect. Also describe/analyze the impact of using the communicative approach and the buzzing bee method in learning Indonesian on the listening aspect. In this study, the bee method was used. buzzing is a teaching method used in teaching fairy tale material. In its implementation, the buzzing bee method is that students are given the freedom to tell stories with their friends, either with one benchmate or with a group of friends. During the storytelling process the teacher observes and motivates students to tell stories freely without fear of their friends. The teacher is required to be as close as possible to the students, so that students are not afraid, in practice it can be outside the class or inside the class, if in the class it becomes noisy with the voices of students telling stories freely, friends who are invited to tell stories may add or join in storytelling to helping his friend's memory who was telling a story. The location of this research is SD IT Qurratu A'yun. City of Gorontalo. From the results of improving learning that has been carried out for two cycles, several conclusions can be drawn, including: 1. Students' ability to mention the contents of fairy tales can be improved by using a communicative approach and the buzzing bee method. Increasing students' interest in understanding the contents of fairy tales can be done by using Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 the buzzing bee method combined with the use of media in the form of stuffed animals. Improved learning can improve student learning outcomes. Keywords: Action. Class. Learning PENDAHULUAN Keberhasilan dunia pendidikan memiliki sistem yang relevan dengan pembangunan, baik fisik maupun mental. Adaptasi dan antisipasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibina secara sistematik dan berkesinambungan. Dengan demikian untuk memecahkan masalah harus dimulai dengan peningkatan dan pemerataan kualitas tenaga pengajar dipendidikan dasar. Pendidikan merupakan wahana pokok bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia, karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan dasar perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Lebih-lebih sekolah dasar yang merupakan pondasi bagi seluruh jenjang Karena mendongeng perlu berbicara maka definisi berbicara dikemukakan oleh Puji Santoso dan Muhammad Jaruki . Mahir Berbahasa Indonesia (Baik. Benar. Santu. bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran,gagasan,atau perasaan secara lisan Pada awal pembelajaran bahasa Indonesia aspek mendengarkan di kelas I SD IT Qurratu AAoyun . Kecamatan Kota Tengah . Kota Gorontalo . tahun pelajaran 2020/2021, menemui beberapa hambatan. Penyebab-penyebabnya dapat berasal dari siswa, guru, serta sarana yang kurang memadai. Pada pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek mendengarkan di kelas I semester 2 di SD IT Qurratu AAoyun . Kecamatan Kota Tengah . Kota Gorontalo . 2020/2021 mengalami kegagalan. Hal ini berdasarkan latar belakang berdasarkan data yang ditunjukkan dari 27 siswa hanya 24 orang siswa yang mencapai nilai di atas 75 sehingga presentase ketuntasan belajar hanya 75 %. Oleh karena itu penulis bermaksud memperbaikinya melalui Penelitian Tindakan Kelas. Identifikasi Masalah Dari pembelajaran mendongeng ini dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut : Guru saat mendiskripsikan benda sekitar kurang menarik. Guru mendongeng tentang kerajaan yang kurang diminati oleh siswa. Saat mendongeng guru tidak menggunakan media yang dapat menarik siswa. Guru mendongeng dengan suara kurang menarik perhatian siswa. Siswa mendengarkan tapi kurang antusias. Siswa tidak dapat menceritakan dongeng yang telah didengarnya dari guru kepada Setelah mendengarkan guru mendongeng siswa tidak dapat menyebutkan isi dongeng. Semua data yang didapat di atas dapat diperbaiki melalui penelitian tindakan kelas. Analisis Masalah Dari masalah di atas peneliti menganalisis bahwa masalah yang perlu ditangani lebih dahulu adalah mengganti dongeng tentang kerajaan sebelum perbaikan dengan dongeng yang lebih menarik perhatian anak, seperti dongeng tentang binatang kemudian isi cerita . pesan moral dan akhlak disertai pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran yang lebih tepat yaitu pendekatan komunikatif dan metode lebah berdengung. Rumusan Masalah Berdasarkan analisis masalah tersebut di atas maka dirumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : Bagaimana cara menerapkan pendekatan komunikatif dan metode lebah berdengung untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia aspek mendengarkan pada siswa kelas I semester 2 SD IT Qurratu AAoyun . Kecamatan Kota Tengah . Kota Gorontalo . tahun pelajaran 2020/2021 Etimologi Karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI:2. dimaknai sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian. Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 seseorang yang berkarakter bearti orang yang memiliki kepribadian, berwatak, berakhlak, bersifat dan berperilaku. Pendidikan karakakter menurut Megawangi (Barwani dan Arifin:2. sebagai berikut: AuUsaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan denganbijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusiu positif pada lingkungannya Pelaksanaan pendidikan karakter merupakan amanat yang telah digariskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahuh 2003, yangmenyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilainilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap tuhan, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Lickona,Thomas :2013 ). Karakter atau sifat seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seseorang maka berdasarkan latar belakang yang peneliti telah uraikan diatas maka nilai baru penelitian ini yang merupakan inovasi adalah isi cerita . yang mengandung nilai pesan akhlak dan moral . adapun subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas SD IT Qurratu AAoyun bwejymlah 27 orang, dengan judul penelitian : AuPenerapan Pendekatan Komunikatif dapat Meningkatkan Penguasaan Siswa Menceritakan Isi DongengAy, adapun tempat penelitian adalah SD OT Qurratu AAoyun Kota Gorontalo , serta waktu penelitian pada tahun pembelajaran 2020/2021 dengan menggunakan metode lebah berdengung untuk mengajarkan materi dongeng. Kemudian teknik pengambilan data dengan melakukan pengamatan langsung . , wawancara kemudian studi pustaka, dengan diadakan pencatatan data, pemrosesan data. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Metode lebah berdengung merupakan metode mengajar yang digunakan dalam mengajarkan materi dongeng. Dalam pelaksanaannya metode lebah berdengung adalah siswa diberi kebebasan dalam mendongeng dengan temantemannya, baik dengan teman satu bangku maupun dengan teman satu kelompok. Selama proses mendongeng guru mengamati dan memberi motivasi pada siswa untuk mendongeng bebas tanpa rasa takut kepada temannya. Prosedur metode lebah berdengung yang harus dilakukan dalam pembelajaran adalah : Pertama,guru mendongeng dengan menggunakan alat bantu bisa berupa gambar maupun boneka atau alat lain yang dapat menarik perhatian siswa. Kedua, memberi penjelasan cara mendongeng yang benar dan runtut. Keempat,pelaksanaan mendongeng bebas dengan teman, guru membimbing dan memberi motivasi pada siswa. Kelima,siswa disuruh menyebutkan isi dari dongeng yang telah didongengkan oleh guru. Karena mendongeng perlu berbicara maka definisi berbicara dikemukakan oleh Puji santoso dan Muhammad jaruki . berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran,gagasan,atau perasaan secara lisan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sehingga hasil tes pembelajaran mendongeng diperoleh data sebagai berikut : nilai tertinggi yang diperoleh siswa 85, nilai terendah 45, dengan nilai rata-rata kelas 79 dan tingkat ketuntasan klasikal 89 %. Berdasarkan hasil tersebut maka perbaikan pembelajaran siklus I dilanjutkan dengan melakukan perbaikan pembelajaran siklus II. Dari hasil tes perbaikan pembelajaran siklus I diperoleh nilai : Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Nilai (X. Tabel 1 : Distribusi frekwensi hasil belajar siklus I Banyak Siswa Tally F1X1 (F. Jumlah Dari hasil tes perbaikan pembelajaran siklus II diperoleh nilai : Tabel 2. Distribusi frekwensi hasil belajar siklus II Nilai (X. Jumlah Tally Banyaknya Siswa (F. F1X1 Berdasarkan data hasil tes dan diskusi dengan teman sejawat, perbaikan pembelajaran tentang bercerita ada peningkatan pada masing-masing siklus. Baik peningkatan rata-rata prestasi belajar yang cukup signifikan, peningkatan apresiasi siswa terhadap pembelajaran. Berikut ini peneliti sajikan tabel hasil penilaian serta tingkat ketercapaian target sebagai perbandingan pada setiap siklus. Perbandingan Hasil Penilaian tiap Siklus. Nilai Nilai Ketuntasan KBM Rata-rata Tertinggi Terendah Awal Siklus I Siklus II Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Refleksi Siklus I Pada siklus I suasana proses pembelajaran terlihat masih kurang aktif, interaksi antara guru dengan siswa sudah terjadi dua arah. Namun demikian pada siklus ini semua siswa memperhatikan deskripsi benda sekitar dengan sungguh-sungguh, namun belum bisa untuk mendongeng sendiri. Dipandang dari sisi guru dalam perbaikan pembelajaran siklus pertama sudah terlihat aktif dan lebih kreatif, mendongeng lepas dari teks dongeng dan berdiri di depan kelas, memotivasi siswa dengan baik. Namun guru masih canggung dalam mendeskripsikan benda sekitar di depan kelas sehingga kelihatan agak kaku. Siklus II Peneliti membuat rencana dan melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II. Guru mendongeng dengan berdiri dengan mimik dan intonasi suara dengan gerakan tubuh, serta disertai media berupa boneka binatang yang disesuaikan dengan dongeng yang sedang didongengkan oleh guru serta dipadu dengan metode lebah berdengung. Dalam melaksanakan pembelajaran siklus II, peneliti dibantu teman sejawat untuk melakukan observasi/pengamatan terhadap proses belajar mengajar dan pengamatan terhadap siswa dalam pembelajaran. Adapun hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer adalah sebagai berikut : Siswa yang mendongeng tanpa ditunjuk oleh guru/inisiatif sendiri meningkat menjadi 80 % dari keseluruhan siswa kelas I. Siswa yang mendengarkan dongeng dengan sungguh-sungguh 90 % dan sedang 10 %, aktivitas siswa dalam belajar mendongeng dengan inisiatif sendiri 90 %, dengan bimbingan guru 10 %, semua sudah belajar mendongeng. Refleksi Siklus II Kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus pertama mendorong peneliti untuk berupaya memperbaiki kekurangan. Dari sudut pelaksanaan proses perbaikan pembelajaran pada siklus kedua ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Suasana proses belajar semakin interaktif, sudah berjalan dua arah antara guru dengan siswa, siswa berani mendongeng dengan teman sebangku dengan suara keras walaupun kelihatan agak gaduh karena peneliti menggunakan metode yang penulis namakan metode lebah berdengung. Hal ini berlangsung selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Dari sudut guru dalam mengelola kegiatan perbaikan pembelajaran sudah cukup maksimal, guru tidak terpaku pada pola lama guru mendongeng siswa mendengarkan kemudian ganti siswa yang mendongeng, namun lebih mengoptimalkan interaksi siswa dengan guru dan banyak memberi kesempatan dan latihan mendongeng sendiri dengan temannya yang lain. Pada kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia materi menyebutkan isi dongeng, dengan ditugasinya siswa untuk banyak latihan mendongeng dengan teman sebangku maupun yang lain mendorong siswa lebih proaktif tanpa menunggu perintah dari guru. Terhadap siswa yang kurang berani dan kurang pandai guru memberikan bantuan mendongeng ulang tersendiri saat siswa yang lain mendongeng dengan teman yang lain. Kepada siswa yang berani mendongeng tanpa ditunjuk guru, guru juga memberi aplaus atau penghargaan pujian dan acungan jempol. Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat dan refleksi masing-masing siklus dapat di simpulkan indikator penelitian tindakan kelas mata pelajaran bahasa Indonesia materi mengidentifikasi unsur dongeng yang terdiri atas : . Guru trampil mengelola proses belajar mengajar bahasa Indonesia khususnya mendongeng, . Terjadinya interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa, . Siswa sudah bisa menceritakan kembali dongeng guru kepada teman sebangkunya, . Tercapainya target tingkat ketuntasan belajar klasikal dapat terwujud walaupun dengan dua siklus. Untuk pembahasan maka hasilnya adalah Pada awal pembelajaran guru bercerita dengan duduk sambil membaca buku, pada awalnya siswa mendengarkan cerita Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 dengan sungguh-sungguh namun pada pertengahan guru membaca cerita siswa merasa bosan, dan cenderung bermain sendiri, sehingga saat guru memberikan tugas bercerita banyak siswa yang tidak berani, hanya beberapa siswa yang bisa bercerita ke kepada teman sebangkunya. Hal ini disebabkan karena saat guru bercerita hanya 50 % siswa yang mendengarkan sungguhsungguh. Pada awal pembelajaran masih banyak siswa yang dalam belajar tidak bersuara/diam saja, tidak dapat mengawali bercerita. Perolehan nilai rata-rata kelas pada awal pembelajaran adalah 54,6. Sehingga perlu diadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) siklus I. Pada Siklus I guru mengubah dongeng yang semula pada awal pembelajaran berupa dongeng tentang kerajaan menjadi dongeng tentang binatang yang lebih disukai oleh siswa, sehingga siswa bisa lebih tertarik dan termotivasi dalam pembelajaran. Dalam hal aktivitas belajar bercerita, sudah terjadi penurunan dalam hal yang tidak bersuara atau tidak dapat bercerita dari 36% menjadi 20%, hal ini dikarenakan siswa termotivasi guru dalam bercerita dan atas bimbingan guru, sehingga sudah banyak yang memiliki inisiatif sendiri bercerita dengan temannya. Sehingga hasil tes menyebutkan isi cerita terjadi kenaikan dari 60,9 menjadi 70,9. Pada siklus II guru memaksimalkan pembelajaran dengan bercerita dengan menggunakan media pembelajaran berupa boneka binatang yang disesuaikan dengan dongeng yang sedang didongengkan oleh guru dan dipadu dengan metode lebah berdengung/mendongeng bebas dengan teman sebangku maupun dengan teman lain, dalam hal ini kelas kelihatan gaduh namun hal ini menjadikan keunikan tersendiri dalam pembelajaran dan ternyata dengan metode ini pembelajaran menyebutkan isi dongeng di depan kelas berhasil dengan sempurna, dan keberanian siswa dalam bercerita sangat bagus. Aktivitas siswa dalam belajar bercerita dengan inisiatif sendiri meningkat menjadi 80%, hal ini secara lengkap dapat dilihat pada tabel hasil tugas bercerita. Pembahasan Hasil tes mengidentifikasi unsur cerita dari 27 orang siswa 100% tuntas dalam pembelajaran dan rata kelas menjadi 82. Adapun hasil angket yang diisi siswa saat awal dan akhir pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut : Siswa yang menyenangi pelajaran mendongeng terjadi peningkatan dari 75% menjadi 95%. Memahami materi sebelum dan sesudah digunakan metode lebah berdengung 52% pada awal pembelajaran menjadi 88%. Yang memanfaatkan kesempatan bertanya pada guru terjadi peningkatan dari 10% pada awal pembelajaran menjadi 75%, hal ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel angket. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran adalah suatu proses komunikasi, melalui komunikasi informasi dapat diserap oleh siswa. Namun dalam proses komunikasi terkadang terjadi salah penafsiran pesan. Sebaliknya guru kurang tepat dalam menyampaikan pesan sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menerima pesan tersebut. Agar tidak terjadi salah kesesatan, kesalahtafsiran, perlu adanya alat/sarana dan strategi yang tepat dan dapat membantu proses komunikasi dengan siswa pada waktu proses belajar mengajar berlangsung, salah satunya adalah media langsung siswa serta latihan yang berulang-ulang. Pada penelitian sebelumnya oleh Rissa shofiani yang berjudul Peningkatan Keterampilan menyimak dongeng dengan menggunakan mediaanimasi audiovisual melalui metode think pairs share UNS 2010, yang pada kesimpulannya keterampilan menyimak domgeng mengalami peningkatan setelah mengikuti pengajaran keterampilan menyimak dongeng , pada hasil penelitian kamipun meningkatkat setelah dilakukan PTK melalui perbaikan pembelajaran dari siklus I dan refleksi siklus I ke siklus II dan refeksi Siklus II, karena keterampilan menyimaka dongeng merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting. Sebab dapat meningkatkan aspek komunikatif dan produktif sehingga perbaikan pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Pada awal pembelajaran bahasa Indonesia materi Aumenyebutkan isi dongengAy, dari 27 siswa hanya 24 orang siswa yang sudah bisa mendongengkan kembali dongeng yang telah diceritakan guru di depan kelas kepada teman sebangkunya. Hal ini disebabkan karena dongeng yang didongengkan oleh guru diminati oleh siswa. Hasil tes pembelajaran menyebutkan isi dongeng diperoleh data sebagai berikut : nilai tertinggi yang diperoleh siswa 90, nilai terendah 45, dengan nilai rata-rata kelas 74,58% dan tingkat ketuntasan klasikal 75 %. Berdasarkan hasil tersebut maka dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) siklus I. Deskripsi per siklus 1. Siklus I Hasil belajar dapat disamakan pengertiannya dengan hasil produk belajar, yaitu merupakan suatu pola perbuatan, nilai ,makna, apresiasi,kecakapan,keterampilan yang berguna bagi masyarakat (Tim pengembangan MKDK IKIP semarang 2. ada tiga ranah hasil belajar, yaitu kogniktif, efektif, dan psikomotorik. Ranak kogniktif adalah hasil belajar yang berupa pengetahuan atau kemampuan baru yang bersifat kognitif, ranah afektif adalah hasil belajar yang berupa perubahan perubahan sebagai akibat telah dilakukan proses belajar sedangkan ranah psikomotorik adalah hasil belajar yang berupa keterampilan keterampilan praktis oleh anggota badan seperti tangan, kaki, dan alat indera dan sebagainya. Peneliti membuat rencana dan melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus I. Guru mengganti deskripsi benda pada awal pembelajaran dengan benda yang diminati dan disukai oleh siswa, seperti binatang. Dalam melaksanakan pembelajaran siklus I, peneliti dibantu teman sejawat untuk melakukan observasi/ pengamatan terhadap proses belajar mengajar dan pengamatan terhadap siswa dalam pembelajaran. Adapun hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer adalah sebagai berikut : Siswa yang mendeskripsikan benda sekitar dengan inisiatif sendiri meningkat dari 50 % menjadi 75 % dari keseluruhan siswa kelas I. Siswa yang mendengarkan pendeskripsian benda sekitar dengan sungguh-sungguh meningkat dari 50 % menjadi 75 % dan siswa yang mendengarkan penndeskripsian benda sekitar dengan sedang berkurang dari 40 % menjadi 25 %, aktivitas siswa dalam belajar mendeskripsikan benda sekitar dengan inisiatif sendiri 75 %, dengan bimbingan guru 25 %. Sehingga hasil tes pembelajaran mendongeng diperoleh data sebagai berikut : nilai tertinggi yang diperoleh siswa 90, nilai terendah 80, dengan nilai rata-rata kelas 82 dan tingkat ketuntasan klasikal 100 %. Berdasarkan hasil tersebut maka perbaikan pembelajaran siklus II Dari hasil penelitian diatas maka sesuai dengan teori yang telah disampaikan yaitu Pendidikan karakakter menurut Megawangi (Barwani dan Arifin:2. sebagai berikut: AuUsaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusiu positif pada lingkungannya Pelaksanaan pendidikan karakter merupakan amanat yang telah digariskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahuh 2003, yangmenyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap tuhan, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Lickona,Thomas :2013 ). Karakter atau sifat seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seseorang maka berdasarkan latar belakang yang peneliti telah uraikan diatas maka nilai baru penelitian ini yang merupakan inovasi adalah isi cerita . yang mengandung nilai pesan akhlak dan moral. Juga berdasarkan dari hasil penelitian oleh kentarsi rabawati. M Sutami dan M. Gosong dimuat dijurnal Ejurnal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha program Studi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia ( volume 2 tahun 2023 yang berjudul Penerapan Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas XI SMK Negeri 1 Denpasar: dalam jurnal tersebut menyimpulkan bahwa hambatan yang dialami oleh guru ketika menggunakan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah : 1. Siswa masih tanpak malu dalam mengemukakan pendapatnya, kurang lancer bercerita/berbicara dan struktur kalimatnya belum runut. Bahasa Indonesia yang digunakan tidak sesuai deangan kaidah,3. Mencari materi yang cocok untuk semua dan menarik perhatian mereka. Sehingga dalam penelitian kami ada perbaikan dalam pengajaran mulai dari siklus I dan siklus II sehingga hambatan yang dikemukan penelitui sebelumnya dapat diatas dengan perbaikan metode dan perbaiakn pengajaran sesuai yang telah kami terapkan. KESIMPULAN Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan selama dua siklus, dapat disimpulkan beberapa hal antara lain : Kemampuan siswa dalam menyebutkan isi dongeng dapat ditingkatkan dengan menggunakan pendekatan komunikatif dan metode lebah berdengung. Meningkatkan minat siswa dalam memahami isi dongeng dapat dilakukan dengan menggunakan metode lebah berdengung yang dipadukan dengan penggunaan media berupa boneka binatang. Perbaikan pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA