SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN INSIDE-OUTSIDE CIRCLE UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA SMA KELAS XI PADA MATERI TEKS PROSEDUR Pittariawati SMA Negeri 2 Bangkinang Kota. Riau. Indonesia e-mail: pitta. riawaty66@gmail. Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keingintahuan peneliti terhadap dampak yang ditimbulkan oleh pengunaan model pembelajaran inside-outside circle untuk meningkatkan pemahaman siswa SMA kelas XI pada materi teks prosedur sehingga permasalahan dalam penelitian ini ialah AuSeberapa efektifkah penggunaan model Inside-outside circle dalam meningkatkan pemahaman siswa kelas XI pada materi Teks Prosedur di SMA N 2 Bangkinang Kota pada tahun pelajaran 2019/2020Ay. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan Model Inside-outside circle terhadap pemahaman siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada materi Teks Prosedur dan mengetahui pengaruh penggunaan Model Inside-outside circle terhadap aktivitas siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan . ction researc. sebanyak dua siklus. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas XI. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari rata-rata 60,33% pada saat pre test menjadi 64,33% pada saat post test siklus I dan meningkat menjadi 80% pada post-test siklus II. Simpulan dari penelitian ini model pembelajaran inside-outside circle mengingkatkan antusias belajar siswa yang akhirnya dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi prosedur teks di Kelas XI SMAN 2 Bangkinang Kota. Kata kunci: Bahasa Indonesia- inside-outside circle -SMA Negeri 2 Bangkinang kota Abstract This research is motivated by the researchers 'curiosity on the impact caused by the use of the inside-outside circle learning model to improve the understanding of high school students in class XI on procedural text material so that the problem in this study is "How effective is the use of the Inside-outside circle model in improving students' understanding of class XI in the Procedure Text material in Bangkinang City N 2 High School in 2019/2020 school year ". The purpose of this study was to determine the effect of the use of the Inside-outside circle model on students' understanding of Indonesian Language especially on the Procedure Text material and determine the effect of using the Inside-outside circle Model on student activities in Indonesian Language lessons. This research uses action research as much as two cycles. Each round consists of four stages: design, activity and observation, reflection, and The target of this research is Class XI students. From the results of the analyst found that student achievement has increased from an average of 60. 33% at the time of the pre-test to 64. 33% at the time of the post-test cycle I and increased to 80% at the post-test cycle II. The conclusion of this study the inside-outside circle learning model increases student enthusiasm that finally can increase students' understanding of the text procedure material in Class XI of SMAN 2 Bangkinang Kota. Keywords: Indonesian-inside-outside circle -SMA Negeri 2 Bangkinang City Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 PENDAHULUAN Pada Kurikulum 2013, mata pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis teks. Dalam pembelajaran berbasiskan teks. Bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuan Bahasa, melainkan sebagai teks yang berfungsi untuk menjadi aktualisasi diri penggunanya pada konteks sosial dan Dengan kata lain, teks harus dipandang sebagai satuan Bahasa yang bermakna secara kontekstual. Ini tentu saja merupakan sebuah hal yang sangat baik. Siswa akan mampu untuk aktualisasi diri dalam penggunan Bahasa Indonesia pada konteks sosial dan Namun yang menjadi permasalahannya ialah dalam proses pembelajaran. Sebagaimana diketahui bersama bahwa setiap sekolah memiliki keterbatasanketerbatasan tersendiri. Dengan pendekatan pembelajaran berbasis teks maka media yang paling mudah untuk didapatkan oleh seorang guru Bahasa Indonesia di sekolah ialah buku pegangan guru dan siswa yang telah disediakan oleh pemerintan namun apabila siswa setiap pembelajaran Bahasa Indonesia siswa dihadapakan dengan teksteks yang ada di dalam buku pegangan siswa tersebut maka dapat dibayangkan betapa membosankannya pelajaran Bahasa Indonesia pada kurikulum 2013. Hal ini menjadi semakin buruk mengingat setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang belajar melalui visual . ang dapat dilihat atau diamat. , auditorial . ang dapat didenga. , atau kinestetik . ang dapat digerakkan atau dimanipulas. namun kadang-kadang ada juga siswa yang belajar dari penggabungan hal-hal tersebut. Untuk mengatasi hal itu maka guru Bahasa Indonesia haruslah dapat memberikan inovasi-inovasi dalam proses pengajaran di kelas salah satu nya ialah menghadirkan model-model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh panda indra siswa sewaktu pembelajaran. Bedasarkan permasalahan di atas maka peneliti, terdorong untuk melakukan sebuah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan sebuah model pembelajaran yang dapat mengaktifkan seluruh panca indra siswa. Model yang dipergunakan oleh peneliti ialah Inside-outside circle. Model yang dikembangkan oleh Spencer Kagan ini merupakan model pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar, dimana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Suharsimi . 1: 118-. mengatakan pemahaman (Comprehensio. ialah bagaimana seseorang mempertahankan, membedakan, menduga . , menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali, dan memperkirakan. Sedangkan Winkel dan Mukhtar (Sudaryono, 2012: . mengatakan pemahaman merupakan kemampuan seseorang untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari, yang dinyatakan dengan menguraikan isi pokok dari suatu bacaan atau mengubah data yang disajikan dalam bentuk tertentu ke bentuk yang lain. Selain dua pendapat tersebut. Benjamin S. Bloom (Anas Sudijono, 2008: . mendefiniskan pemahaman (Comprehensio. sebagai kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dari pengertian-pengertian tersebut maka dapat simpulkan pemahaman merupakan kemampuan seseorang untuk dapt memahami, menyimpulkan serta mampu untuk mengungkapkan hal-hal yang disampaikan atau diperdengarkan atau diajarkan kepadanya. Bloom dalam Wowo Sunarso Kuswana. mengatakan kemampuan pemahaman berdasarkan tingkat kepekaan dan derajat penyerapan materi dapat dibagi ke dalam tiga tingkatan yaitu . Menerjemahkan . Menerjemahkan diartikan sebagai pengalihan arti dari Bahasa yang satu ke dalam Bahasa yang lain sesuai dengan pemahaman yang diperoleh dari konsep tersebut. Dapat juga diartikan dari konsepsi abstrak menjadi suatu model simbolik untuk mempermudah orang Dengan kata lain, menerjemahkan berarti sanggup memahami makna Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 yang terkandung di dalam suatu konsep. Contohnya yaitu menerjemahkan dari Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Indonesia. Menafsirkan . Kemampuan ini lebih luas dari pada menerjemahkan, kemampuan ini untuk mengenal dan memahami. Menafsirkan dapat dilakukan dengan cara menghubungkan pengetahuan yang lalu dengan pengetahuan lain yang diperoleh berikutnya. Contohnya: menghubungkan antara grafik dengan kondisi yang dijabarkan sebenarnya, serta membedakanyang pokok dan tidak pokok dalam pembahasan. Mengeksplorasi . Ekstrapolasi menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi karena seseorang harus bisa melihat arti lain dari apa yang tertulis. Membuat perkiraan tentang konsekuensi atau mempeluas presepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus, ataupun Ketiga tingkatan pemahaman terkadang sulit dibedakan, hal ini tergantung dari isi dalam pelajaran yang dipelajari. Dalam proses pemahaman, seseorang akan melalui ketiga tingkatan secara berurutan. Teks prosedur adalah suatu bentuk teks yang berisi langkah-langkah atau tahapan tahapan yang harus dipenuhi dalam melakukan suatu kegiatan agar kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan secara teratur yang bisa membuat kegiatan yang dilakukan menjadi terhambat bahkan sampai gagal. Terdapat banyak kegiatan disekitar kita yang harus dilakukan menurut prosedur. Jika kita tidak mengikuti prosedur itu,tujuan yang diharapkan tidak tercapai dan kita dapat dikatakan sebagai orang yang tidak mengetahui aturan. Tetapi langkah-langkah tersebut tidak dapat di balik-balik. Teks prosedur juga dibagi menjadi teks prosedur sederhana dan teks prosedur kompleks. Teks prosedur sederhana yaitu teks yang berisi langkahlangkah yang singkat dan biasanya kurang dimengerti oleh pembaca. Sedangkan teks prosedur kompleks adalah teks yang berisi langkah-langkah yang lengkap dan terarah sehingga dapat dengan mudah untuk dimengerti oleh si pembaca. Menurut Indah dan Santi . 3: . teks prosedur memiliki kerangka atau struktur yakni, tujuan atau judul, bahan atau segala sesuatu yang dibutuhkan, dan langkah-langkah atau tahapan untuk mencapai tujuan. Struktur teks prosedur kompleks terdiri atas tujuan dan langkah-langkah (Kemdikbud, 2013: . Tujuan teks berisi petunjuk dan tujuan yang akan dicapai. Langkah-langkah berisi petunjuk mengerjakan sesuatu yang disusun secara sistematis. Model pembelajaran inside-outside circle pertama kali diperkenalkan oleh Spencer Kagan pada tahun 1993. Kagan mengatakan bahwa Model pembelajaran inside-outside circle, yaitu model dimana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Menurut Djamarah,dkk . 0: . , mengatakan bahwa model Inside Outside Circle adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa agar saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan. Metode ini bisa digunakan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, matematika, dan Bahasa. Menurut Lie A. , model pembelajaran IOC adalah teknik pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa agar saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan. Menyampaikan pesan pembelajaran secara efektif sesuai dengan teori yang ada. Sedangkan menurut Slameto . 0: . Model Pembelajaran Inside Outside Circle ini merupakan salah satu tipe dari Cooperative Learning yang bertujuan untuk melatih siswabelajar mandiri dan belajar berbicara, menyampaikan informasi kepada orang lain. Selain itu juga melatih kedisiplinan dan ketertiban peserta didik, serta menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Berdasarkan pengertian-pengertian model pembelajaran Inside Outside Circle menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Inside Outside Circle adalah model pembelajaran dengan sistem lingkaran luar dan lingkaran dalam di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 METODE Penelitian ini merupakan penelitian tindakan . ction researc. , karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai. lebih jelasnya dapat terlihat dari alur pada bagan dibawah ini: Gambar 1 siklus PTK Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di kelas. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian ini adalah guru. Guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan Penelitian ini menggunakan beberapa instrument antara lain silabus. RPP. Lembar Kerja. Sedangkan untuk instrument pengumpulan data berupa lembar pengamatan, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Instrument penelitian dalam penelitian ini yang pertama adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: . untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam waktu tertentu, . untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai, dan . untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto. Suharsimi, 2002:. Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual maupun secara klasikal. Di samping itu untuk mengetahui letak kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana indikator pencapaian yang belum tercapai maka untuk memperkuat data yang dikumpulkan, instrument kedua yang digunakan ialah lembar observasi. Lembar observasi ini di isi oleh teman sejawat selaku observer dalam penelitian ini. Hal ini bertujuan untuk mengetahui dan merekam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi kegiatan pembelajaran di kelas dan hasil tes siswa untuk dianalisis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dalam bentuk persentase, nilai rata-rata, serta disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Analisis deskriptif kualitatif digunakan pula untuk mengukur indikator kinerja berdasarkan kriteria ketuntasan minimal. Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Langkah-langkah analisis data adalah sebagai berikut: Mengkonversi skor hasil tes menjadi nilai (X) skala 0 Ae 100, dengan menggunkan (Arikunto, 1. XA Skor yang diperoleh/ dicapai Skor ideal Menentukan tingkat pencapaian ketuntasan belajar rumus: Nilai dicapai Nilai ideal Nilai dicapai kelompok . Secara kelompok = Nilai ideal Nilai rata A rata . Nilai klasikal Nilai ideal . Secara indvidu TB = Menentukan persentase ketuntasan belajar (Sudjana, 2. %A TB x 100 % dengan: TB = Jumlah siswa pada kategori ketuntasan belajar. N = Jumlah siswa secara keseluruhan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Data Pre-Test Berikut ini merupakan tabel persentase nilai hasil pre-test sebelum diberikan treatment apapun. (Adapun hasil dari pre-test siswa terlampir di lampiran H. Tabel . Hasil Pre-Test Siswa No. Total Nilai 90 Ae 100 75 Ae 89 60 Ae 74 0 Ae 59 Kemampuan Amat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Persentase 76,66667 23,33333 Dari tabel di atas terlihat bahwa siswa masih dominan berada pada level cukup yakni 76,67 Hasil Data Post-Test Siklus I. Setelah mendapat treatment pada siklus I. Berikut ini merupakan hasil PostTest siklus I. Tabel Hasil Post-Test siklus I No. Total Nilai 90 Ae 100 75 Ae 89 60 Ae 74 0 Ae 59 Kemampuan Amat Baik Baik Cukup Kurang Jumlah Persentase Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Berdasarkan data yang disajikan pada tabel di atas terlihat bahwa siswa kelas XI IPS 6 masih dominant berada pada level cukup namun dari grafik juga terlihat adanya penguranga jumlah siswa yang berada pada level kurang yakni pada saat pre test ada 7 siswa yang berada pada level kurang sedangkan setelah mendapat tindakan perbaikan pembelajaran siklus I berkurang menjadi 3 siswa saja. Hasil Data Post-Test Siklus II Setelah perencanaan pada siklus II direvisi, berikut merupakan hasil dari PostTest siklus II yang telah dilakukan oleh peneliti: No. Total Hasil Post-Test siklus II Kemampuan Jumlah Amat Baik Baik Cukup Kurang Nilai 90 Ae 100 75 Ae 89 60 Ae 74 0 Ae 59 Persentase Dari tabel di atas terlihat bahwa setelah pelaksanaan siklus II direvisi maka pemahaman siswa menjadi meningkat. Pada hasil post test siklus II 10% siswa berada pada level amat baik, 80% berada pada level baik, 10% siswa berada pada level cukup dan tidak ada satupun siswa yang berada pada level kurang. Hasil ini menandakan bahwa indikator keberhasilan treatment dalam PTK ini telah terpenuhi yakni sekitar 90% siswa berada pada level baik dan amat baik. Sehingga siklus i untuk penelitian ini tidak perlu untuk dilanjutkan. Berikut ini merupakan grafik nilai rata-rata siswa mulai dari pre-test hingga Post-Test siklus II: 60,33 64,33 Pre-test Siklus I Siklus II Rata-Rata Nilai Gambar Grafik Nilai Rata-rata Siswa Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Hasil Data Observasi Siklus I Berikut ini merupakan pengamatan selama aktivitas di siklus I. Tabel. Hasil Observasi Siklus I Keaktifan Jumlah Persentase Aktifitas Kelas Mengajukan pertanyaan ketika 15 Mampu menjawab pertanyaan 11 36,67 ketika kegiatan Inside-outside circle Mampu memberikan pertanyaan 13 43,33 ketika kegiatan Inside-outside circle Aktifitas Individu Mengerjakan Latihan Aktifitas Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa masih kurang dalam mengikuti proses pembelajaran. Hasil Data Observasi Siklus II Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran siklus II, berikut ini tabel hasil observasi kegiatan siswa pada siklus II: Tabel. Hasil Observasi Siklus II Aktifitas Aktifitas Kelas Mengajukan pertanyaan ketika Mampu menjawab pertanyaan ketika kegiatan Inside-outside Mampu memberikan pertanyaan ketika kegiatan Inside-outside Aktifitas Individu Mengerjakan Latihan Keaktifan Jumlah Persentase 86,67 86,67 86,67 Dari data di tabel terlihat bahwa jumlah siswa yang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran di siklus II sangat meningkat yakni sekitar 86,67% dari jumlah siswa telah aktif dalam proses pembelajran. Pembahasan Berdasarkan data hasil penelitian pada siklus I dan II, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Model Inside-outside circle sangat membantu siswa meningkatkan hasil belajar mereka pada materi Teks Prosedur pada pelajaran Bahasa Indonesia walaupun setelah siklus I dilaksanakan siswa belum memperlihatkan peningkatan pemahaman terhadap pembelajaran yang diberikan. Hal in iterbukti dari hasil belajar siswa yang tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Siswasiswa masih dominan berada pada level cukup dan 3 orang siswa masih berada pada level kurang serta tidak ada seorang siswa pun yang berada pada level baik dan amat Jurnal Pendidikan Tambusai SSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 73-81 Volume 4 Nomor 1 Tahun 2020 Hal ini tentu saja menjadi sebuah pertanyaan bagi peneliti mengapa setelah mendapatkan perbaikan pembelajaran pada siklus I, pemahaman siswa tidak berbeda jauh dari pada saat pre test dilaksanakan. Untuk mengetahuii hal tersebut peneliti menganalisis hasil tes siswa dan lembar observasi pelaksanaan kegiatan yang diamati oleh obsever yang bertugas. Berdasarkan hasil lembar pengamatan maka dapat diketahui bahwa: Guru belum sepenuhnya mampu mengorganisasikan kelas sebagaimana yang tertera di dalam RPP yang telah disusun sebelumnya sehingga dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tahapan yang terlalu lama dan ada pula tahapan yang lupa untuk dilaksanakan. Sehigga hasil penelitian pun tidak seperti yang diperkirakan Siswa tidak termotivasi ketika melakukan kegitan Inside-outside circle karena sebagain dari mereka tidak paham tahapan-tahapan dalam kegiatan tersebut sehingga ketika kegiatan ini tidak berjalan dengan lancar dan waktu pun menjadi Untuk mengatasi hal tersebut maka peneliti merevisi pelaksanaan kegiatan pada siklus II dengan disesuaikan dengan RPP yang telah di buat sebelumnya sehingga tidak ada tahapan yang tertinggal atau terlalu lama dalam pelaksanaannya. Berikut ini merupakan peningkatan yang terjadi pada diri siswa mulai dari peningkatan pemahaman dan peningkatan aktivitas belajar yang terlihat dari tingkat keaktifan siswa dalam proses pembelajaran: . Setelah mendapatkan dua kali treatment . enggunaan Model Inside-outside circle ) pada siklus I dan siklus II, pemahaman siswa terdahap materi Teks Prosedur mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari ada peningkatan nilai rata-rata siswa pada saat pre test hingga post test siklu II. Setelah mendapatkan dua kali treatment . enggunaan Model Inside-outside circle ) pada siklus I dan siklus II, tingkat keaktifan siswa pun menunjukan adanya peningkatan yakni mulai dari 11hingga 15 siswa yang aktif dalam pembelajaran siklus I menjadi 26 yang aktif di dalam proses pembelajaran siklus II. KESIMPULAN Setelah diberikan dua kali treatment melalui siklus I dan siklus II maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut: Model Inside-outside circle memiliki dampak positif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Hal in terbukti dari ada peningkatan nilai rata-rata siswa mulai pre test hingga post test siklus II yakni 60,33% menjadi 64,33 % pada saat post test siklus I dan akhirnya 80% pada post test siklus II. Hal ini menyebabkan siklus i tidak perlu lagi untuk dilaksankan. Penerapan Model Inside-outside circle juga mempunyai pengaruh positif terhadap aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan keaktifan siswa dalam aktifitas kelas, dimana awalnya hanya dari 11 hingga 15 siswa yang aktif dalam pembelajaran pada siklus I menjadi 26 siswa yang aktif di dalam proses pembelajaran siklus II DAFTAR PUSTAKA