Jurnal Tarbiyah. Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan Vol 10 No. 01 Januari-Juni 2026 http://jurnal. id/index. php/tarbiyah Pengembangan Instrumen Pembelajaran PAI Berbasis Nilai Aswaja An-Nahdliyah: Studi Literatur untuk Validasi Konseptual Maulida Hayatina1 Muslem2 Suhar3 1Institut Agama Islam Darussalam Martapura 2UIN Sumatera Utara 3Institut Agama Islam Darussalam Martapura maulidahayatina@iaidarussalam. Muslemjulok@uinsu. suhar@iaidarussalam. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan instrumen pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mampu mengukur internalisasi nilai secara sistematis, khususnya nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Selama ini, evaluasi pembelajaran PAI cenderung berfokus pada aspek kognitif dan belum secara optimal mengakomodasi dimensi afektif dan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen pembelajaran PAI berbasis nilai Aswaja AnNahdliyah melalui pendekatan studi literatur guna menghasilkan instrumen yang valid secara Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan analisis isi terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan dalam tujuh tahun terakhir. Proses pengembangan instrumen meliputi penentuan konstruk, operasionalisasi indikator, penyusunan kisi-kisi, dan perumusan butir angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen yang dikembangkan terdiri atas 4 konstruk utama . awasuth, tawazun, iAotidal, dan tasamu. , 8 indikator, dan 18 butir pernyataan angket berbasis skala Likert. Instrumen ini memiliki validitas isi yang kuat karena disusun berdasarkan sintesis literatur yang komprehensif. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa instrumen yang dihasilkan layak secara teoretis dan siap untuk diuji cobakan pada penelitian Kata kunci: instrument, pembelajaran PAI. Aswaja An-Nahdliyah, validasi konseptual. ABSTRACT This study is motivated by the limited availability of Islamic Religious Education (PAI) learning instruments capable of systematically measuring the internalization of values, particularly those of Aswaja An-Nahdliyah. Existing PAI assessment practices tend to emphasize cognitive aspects and have not optimally accommodated affective and character dimensions. This study aims to develop a PAI learning instrument based on Aswaja An-Nahdliyah values through a literature study approach to produce a conceptually valid instrument. The method employed is a literature review with content analysis of relevant scholarly sources published within the last seven years. The instrument development process includes construct identification, indicator Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Januari 2026. Hal. operationalization, blueprint design, and the formulation of questionnaire items. The results indicate that the developed instrument consists of four main constructs . awasuth, tawazun, iAotidal, and tasamu. , eight indicators, and eighteen Likert-scale questionnaire items. The instrument demonstrates strong content validity, as it is grounded in a comprehensive synthesis of the literature. In conclusion, the instrument is theoretically feasible and ready for further empirical testing in subsequent studies. Keywords: instrument. Islamic Religious Education (PAI). Aswaja An-Nahdliyah, conceptual PENDAHULUAN Transformasi global yang ditandai oleh akselerasi teknologi digital, peningkatan mobilitas sosial, serta intensifikasi interaksi lintas budaya telah memunculkan konsekuensi yang signifikan terhadap paradigma pendidikan. Pendidikan tidak lagi memadai jika hanya berorientasi pada transmisi pengetahuan, tetapi harus mampu mengembangkan kapasitas berpikir kritis, adaptabilitas, serta pembentukan karakter peserta didik secara komprehensif (OECD, 2021. Hefner, 2. Dalam kerangka ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) menempati posisi strategis karena berperan dalam membangun keseimbangan antara dimensi intelektual, spiritual, dan Secara konseptual. PAI tidak hanya diarahkan pada peningkatan pemahaman ajaran agama, tetapi juga pada penguatan kesadaran etis serta sikap keberagamaan yang inklusif. Urgensi ini semakin relevan di tengah tantangan global seperti radikalisme, intoleransi, dan pergeseran nilai akibat arus globalisasi (Azra, 2. , sehingga menuntut adanya pendekatan pembelajaran PAI yang kontekstual dan responsif terhadap perkembangan zaman. Dalam konteks nasional, kebijakan pendidikan di Indonesia menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama sebagai bagian integral dari pembangunan karakter bangsa. Moderasi beragama mencakup prinsip keseimbangan . , keadilan . Aotida. , toleransi . , dan sikap moderat . yang berfungsi sebagai landasan dalam menjaga harmoni sosial (Kementerian Agama RI, 2. Implementasi nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran PAI menjadi suatu keniscayaan. Salah satu pendekatan yang relevan adalah integrasi nilai-nilai Aswaja An-Nahdiyah, yang menekankan keseimbangan antara tradisi dan modernitas serta antara teks normatif dan konteks sosial (Bruinessen, 2. Nilai-nilai ini berpotensi memperkuat pembentukan karakter moderat peserta didik dalam merespons dinamika sosialkeagamaan yang terus berkembang. Namun demikian, praktik pembelajaran PAI di lapangan masih menunjukkan kecenderungan dominasi aspek kognitif, sementara dimensi afektif dan internalisasi nilai belum terakomodasi secara optimal (Hidayat & Rahman, 2. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara tujuan normatif PAI dengan implementasi pembelajaran yang berlangsung. Selain itu, keterbatasan ketersediaan instrumen pembelajaran yang sistematis turut menjadi kendala dalam mengintegrasikan nilai secara eksplisit dan terukur. Banyak pendidik belum memiliki perangkat pembelajaran yang mampu mengoperasionalkan integrasi nilai dalam setiap komponen pembelajaran (Arifin, 2. Akibatnya, integrasi nilai Aswaja dalam praktik pembelajaran cenderung bersifat implisit, tidak terstruktur, dan sulit dievaluasi secara objektif. Sejumlah kajian mutakhir menunjukkan bahwa fokus penelitian dalam bidang PAI lebih banyak diarahkan pada inovasi model pembelajaran, pengembangan kurikulum, serta pemanfaatan teknologi digital (Prasetyo & Anwar, 2022. Rahman et al. , 2. Meskipun memberikan kontribusi yang signifikan, pendekatan tersebut belum secara spesifik menyentuh aspek pengembangan instrumen pembelajaran berbasis nilai. Penelitian terkait integrasi nilai Aswaja juga telah dilakukan, namun sebagian besar masih berada pada ranah konseptual atau terbatas Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Hayatina. Pengembangan Instrumen PembelajaranAA pada pengayaan materi ajar (Fauzi, 2021. Karim, 2. Meskipun berbagai penelitian telah membahas integrasi nilai dalam pembelajaran PAI, sebagian besar masih berfokus pada aspek konseptual dan belum menghasilkan instrumen evaluasi yang operasional dan terstandar. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengembangan nilai secara teoretis dengan implementasinya dalam bentuk alat ukur yang terstruktur. Dengan demikian, masih terdapat kekosongan penelitian dalam pengembangan instrumen pembelajaran yang komprehensif, operasional, dan siap diuji dalam praktik pembelajaran. Keterbatasan ini berimplikasi pada belum optimalnya implementasi nilai secara konsisten dan terukur dalam pembelajaran PAI. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih aplikatif melalui pengembangan instrumen pembelajaran PAI yang terintegrasi secara sistematis dengan nilai-nilai Aswaja An-Nahdiyah. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan instrumen angket berbasis nilai Aswaja An-Nahdliyah yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi telah dioperasionalkan secara sistematis ke dalam indikator dan butir terukur. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih berorientasi konseptual, penelitian ini menekankan pada penyusunan perangkat instrumen yang aplikatif dan dapat diimplementasikan dalam praktik Oleh karena itu, fokus utama penelitian ini adalah menjawab pertanyaan: bagaimana mengembangkan instrumen pembelajaran PAI yang terintegrasi dengan nilai-nilai Aswaja An-Nahdiyah melalui pendekatan studi literatur sehingga menghasilkan perangkat yang layak secara teoretis dan siap untuk diuji cobakan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur . ibrary researc. yang berfokus pada pengembangan instrumen angket berbasis nilai Aswaja AnNahdliyah. Sumber data berupa literatur ilmiah yang relevan dalam tujuh tahun terakhir, meliputi jurnal, buku, dan dokumen kebijakan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi dengan tahapan penelusuran, seleksi, dan klasifikasi literatur berdasarkan tema. Analisis data menggunakan content analysis yang mencakup reduksi data, kategorisasi, dan sintesis konsep. Pengembangan instrumen mengacu pada tahapan: . penentuan konstruk, . operasionalisasi indikator, . penyusunan kisi-kisi, dan . perumusan butir angket. Validitas instrumen dilakukan melalui validitas isi . ontent validit. yang didasarkan pada kesesuaian antara konstruk teoretis dan indikator yang dikembangkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengembangan instrumen angket dalam penelitian ini berlandaskan pada prinsip metodologis yang menempatkan validitas dan reliabilitas sebagai indikator utama kualitas alat ukur. Secara teoretis, penyusunan instrumen dilakukan melalui tahapan sistematis yang meliputi penentuan konstruk, pengembangan indikator, perumusan butir, serta pengujian validitas dan reliabilitas (DeVellis, 2017. Creswell & Creswell, 2. Validitas isi memastikan kesesuaian antara butir instrumen dan domain yang diukur, sedangkan validitas konstruk menegaskan keterwakilan konsep teoretis dalam instrumen. Sementara itu, reliabilitas menjamin konsistensi hasil pengukuran, baik melalui konsistensi internal seperti CronbachAos Alpha maupun uji stabilitas (Tavakol & Dennick, 2. Dengan demikian, instrumen yang dikembangkan tidak hanya sahih secara konseptual, tetapi juga memenuhi standar pengukuran ilmiah. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), pengukuran tidak cukup berfokus pada dimensi kognitif, tetapi juga harus mencakup dimensi afektif dan perilaku sebagai representasi internalisasi nilai. Hal ini sejalan dengan taksonomi afektif yang menempatkan pembentukan sikap dan karakter sebagai tujuan utama pendidikan (Krathwohl, 2. Oleh karena itu, instrumen dirancang untuk menangkap manifestasi nilai dalam bentuk sikap dan Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Januari 2026. Hal. kecenderungan perilaku, bukan sekadar pengetahuan deklaratif. Implikasinya, butir angket disusun secara operasional dan kontekstual agar mampu merefleksikan tingkat internalisasi nilai pada peserta didik. Nilai-nilai Aswaja An-NahdliyahAitawasuth, tawazun, iAotidal, dan tasamuhAimenjadi landasan konseptual sekaligus konstruk utama dalam pengembangan instrumen ini. Dalam kajian pendidikan Islam, nilai-nilai tersebut dipahami sebagai kerangka etik yang membimbing individu untuk bersikap proporsional dalam kehidupan sosial dan keberagamaan (Azra, 2020. Bruinessen, 2. Meskipun bersifat normatif, nilai-nilai tersebut memiliki dimensi operasional yang memungkinkan untuk diterjemahkan ke dalam indikator perilaku yang Proses operasionalisasi nilai merupakan tahap krusial dalam pengembangan instrumen. Nilai yang bersifat abstrak harus ditransformasikan menjadi indikator empiris agar dapat diamati dan diukur secara sistematis (Lickona, 2. Dalam penelitian ini, nilai Aswaja diterjemahkan ke dalam perilaku konkret, seperti kemampuan menghargai perbedaan, bersikap adil, serta menunjukkan moderasi dalam menyikapi perbedaan. Dengan demikian, setiap butir angket merepresentasikan dimensi spesifik dari nilai yang diukur. Integrasi nilai Aswaja ke dalam instrumen dilakukan melalui pendekatan berbasis konstruk, yaitu dengan memetakan setiap nilai ke dalam indikator perilaku yang relevan dengan konteks pembelajaran PAI. Sebagai contoh, tasamuh dioperasionalkan sebagai sikap toleran terhadap perbedaan, sedangkan iAotidal direpresentasikan melalui kemampuan bersikap adil dan objektif. Pendekatan ini memastikan keterkaitan yang jelas antara butir instrumen dan konstruk teoretis, sehingga meningkatkan ketepatan pengukuran (DeVellis, 2. Selain itu, instrumen ini dirancang menggunakan pendekatan multidimensional dalam pendidikan karakter. Lickona . menegaskan bahwa karakter mencakup dimensi moral knowing, moral feeling, dan moral action. Oleh karena itu, angket yang dikembangkan tidak hanya mengukur pemahaman nilai, tetapi juga sikap dan kecenderungan perilaku, sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai internalisasi nilai peserta didik. Dari perspektif validasi konseptual, pengembangan instrumen berbasis nilai Aswaja didukung oleh literatur yang menekankan pentingnya instrumen evaluasi yang kontekstual dan berbasis nilai religius. Instrumen semacam ini memiliki relevansi yang lebih tinggi dengan realitas sosial peserta didik serta mampu menghasilkan data yang lebih autentik (Tilaar, 2019. Suyadi et al. Selain itu, integrasi nilai religius juga meningkatkan validitas ekologis, yaitu kesesuaian antara instrumen dan pengalaman nyata responden (Azra, 2. Namun demikian, pengukuran nilai menghadapi tantangan metodologis karena sifatnya sebagai konstruk laten. Nilai seperti tawasuth dan tasamuh tidak dapat diukur secara langsung, sehingga harus direpresentasikan melalui indikator perilaku (DeVellis, 2. Tantangan utama terletak pada penyusunan butir yang jelas, tidak ambigu, serta memiliki daya pembeda yang Selain itu, potensi social desirability bias perlu diantisipasi melalui perumusan butir yang kontekstual dan variatif (Podsakoff et al. , 2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai keislaman dalam instrumen evaluasi dapat meningkatkan sensitivitas pengukuran karakter. Studi Fauzi . dan Karim . menunjukkan bahwa instrumen berbasis nilai Islam lebih efektif dalam mengidentifikasi sikap Demikian pula. Suyadi et al. menegaskan bahwa pendekatan berbasis nilai menghasilkan pengukuran yang lebih komprehensif. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih bersifat konseptual dan belum menghasilkan instrumen yang operasional dan terstandar. Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Hayatina. Pengembangan Instrumen PembelajaranAA Oleh karena itu, penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut melalui pengembangan instrumen angket berbasis Aswaja An-Nahdliyah yang disusun secara sistematis dan operasional. Setiap nilai diturunkan menjadi indikator perilaku yang konkret dan diformulasikan ke dalam butir pernyataan yang terukur. Proses ini memperkuat kesesuaian antara konstruk teoretis dan indikator empiris, sekaligus meningkatkan validitas isi . ontent validit. Lebih lanjut, penurunan nilai ke dalam indikator didasarkan pada pendekatan saintifik dan Secara metodologis, proses ini merupakan bentuk operasionalisasi konstruk, sedangkan secara filosofis merupakan upaya menjembatani nilai normatif dengan realitas Nilai tawasuth dioperasionalkan sebagai sikap moderat yang tercermin dalam kemampuan menghindari ekstremitas dan mempertimbangkan berbagai perspektif, sedangkan tasamuh diwujudkan dalam sikap toleran dan kemampuan membangun relasi sosial yang Butir angket yang disusun merepresentasikan situasi nyata yang relevan dengan pengalaman responden, sehingga mampu menangkap kecenderungan sikap secara lebih autentik. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat validitas isi secara akademik, tetapi juga memastikan keselarasan dengan nilai dasar Aswaja An-Nahdliyah sebagai landasan ideologis dalam Secara keseluruhan, instrumen yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai representasi operasional dari nilai-nilai Aswaja dalam konteks pendidikan. Instrumen ini menjembatani kesenjangan antara konsep nilai dan praktik pengukuran, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan evaluasi pembelajaran PAI yang lebih holistik, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Proses operasionalisasi konstruk dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada tahapan transformasi nilai dari konsep abstrak menjadi indikator empiris yang Setiap nilai Aswaja An-Nahdliyah diturunkan menjadi indikator, kemudian dikembangkan menjadi sub-indikator, dan selanjutnya diformulasikan ke dalam butir pernyataan angket berbasis skala Likert. Alur operasionalisasi konstruk tersebut disajikan pada Gambar 1, berikut gambarnya: Gambar 1 Model Operasionalisasi Konstruk Instrumen Berbasis Nilai Aswaja An-Nahdliyah Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Januari 2026. Hal. Selanjutnya Mengacu pada model operasionalisasi konstruk pada Gambar 1, pengembangan instrumen dilakukan melalui pemetaan nilai ke dalam indikator dan sub-indikator yang terukur yang sudah terjustifikasi secara teoritis. Setiap butir angket disusun untuk merepresentasikan dimensi spesifik dari konstruk yang diukur, sehingga mendukung validitas konseptual Rincian struktur instrumen tersebut disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Kisi-Kisi dan Dasar Teoretik Instrumen Angket Nilai Aswaja An-Nahdiyah: Konstruk Indikator Tawasuth (Modera. Keterbukaan Sub-Indikator No. Buti Menerima Tidak Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura Jum Justifikasi Teoritik Sikap moderat ditandai dengan keterbukaan terhadap perbedaan dan penolakan terhadap klaim kebenaran Hayatina. Pengembangan Instrumen PembelajaranAA Sikap tidak Kemampuan Keseimbanga n hak dan Tawazun (Seimban. Keseimbanga n dunia dan Menghindari Bersikap Mempertimbangk an berbagai sudut Mengambil Menunaikan Menghargai hak orang lain Mengatur waktu ibadah dan Tidak kewajiban agama Sikap adil IAotidal (Adi. Konsistensi Menghargai Tasamuh (Tolera. Kemampuan Tidak memihak Berdasarkan fakta Bersikap jujur Tidak Menghormati keyakinan orang Tidak Bekerja sama dengan siapa saja Menjaga Copyright A 2026. Fakultas Tarbiyah IAI Darussalam Martapura tunggal (Azra, 2. Moderasi beragama menuntut individu ekstremitas dalam berpikir dan bersikap (Bruinessen, 2. Sikap objektif merupakan bagian dari moderasi yang rasionalitas dan perspektif (Azra. Prinsip tawazun keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam kehidupan individu dan sosial (Kemenag RI, 2. Keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi merupakan karakter utama dalam pendidikan Islam (Azra, 2. Nilai iAotidal mengacu pada keadilan dan ketegasan dalam menempatkan sesuatu secara proporsional (Bruinessen, 2. Kejujuran dan merupakan bagian dari karakter adil dalam perspektif pendidikan karakter (Lickona, 2. Tasamuh terhadap pluralitas dan keberagaman dalam masyarakat (Azra, 2. Toleransi tidak hanya bersifat pasif, tetapi juga aktif dalam hubungan sosial yang Tarbiyah Darussalam. Volume 10. No. Januari 2026. Hal. harmonis (Bruinessen. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini berhasil mengembangkan instrumen angket pembelajaran PAI berbasis nilai Aswaja An-Nahdliyah melalui pendekatan studi literatur yang sistematis. Instrumen yang dihasilkan terdiri atas empat konstruk utama, yaitu tawasuth, tawazun, iAotidal, dan tasamuh, yang diturunkan ke dalam indikator, sub-indikator, yang telah terjustifikasi secara teoritis. Proses pengembangan dilakukan melalui tahapan operasionalisasi konstruk yang menghubungkan nilai normatif dengan indikator empiris, sehingga menghasilkan instrumen yang memiliki landasan konseptual yang kuat. Secara substantif, instrumen ini tidak hanya berfungsi untuk mengukur aspek kognitif, tetapi juga mampu merepresentasikan dimensi afektif dan kecenderungan perilaku sebagai bentuk internalisasi nilai karakter peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen yang dikembangkan berpotensi menjadi alat evaluasi pembelajaran PAI yang lebih holistik dan kontekstual, khususnya dalam mengukur nilai-nilai keislaman berbasis Aswaja An-Nahdliyah. Dari sisi teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan instrumen berbasis nilai dengan menghadirkan model operasionalisasi konstruk yang sistematis dan Sementara itu, secara praktis, instrumen ini dapat dimanfaatkan oleh pendidik sebagai perangkat evaluasi yang lebih terarah dalam menilai capaian pembelajaran berbasis karakter. Meskipun demikian, penelitian ini masih terbatas pada tahap validasi konseptual melalui studi Oleh karena itu, penelitian selanjutnya perlu melakukan uji validitas empiris dan reliabilitas, baik melalui uji ahli maupun uji lapangan, untuk memastikan kualitas psikometrik Selain itu, pengembangan lebih lanjut dapat diarahkan pada penyempurnaan butir angket yang selanjutnya dilakukan pengujian efektivitas instrumen dalam berbagai konteks Oleh karena itu, instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam penguatan evaluasi pembelajaran PAI berbasis nilai, serta berkontribusi dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter yang moderat, seimbang, adil, dan toleran. DAFTAR PUSTAKA