Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Jurnal Anggapa Volume 5. Nomor 1. April 2026 Website Jurnal: ojs. id/index. php/anggapa Analisis Struktur Dermaga Tipe Tiang Pancang terhadap Beban Dinamis Menggunakan ETABS Reynaldo Pratama Intan1. Muhammad Shofwan Donny Cahyno2. Norman Ray3 Teknik Sipil. Universitas Widya Kartika. Surabaya. Indonesia, reynaldo@widyakatika. Teknik Sipil. Universitas Widya Kartika. Surabaya. Indonesia, shofwandonny@widyakatika. Teknik SIpil. Universitas Widya Kartika. Surabaya. Indonesia, normanray@widyakatika. STATUS ARTIKEL ABSTRAK Dikirim 24 April 2026 Direvisi 29 April 2026 Diterima 13 Mei 2026 Penelitian ini mengulas perencanaan dan desain struktur dermaga di Tanjung Perak Surabaya yang dirancang untuk mendukung kegiatan kapal selam kelas berat. Struktur atas diterapkan dengan sistem rangka pemikul momen khusus yang terbuat dari beton bertulang mutu K-350 dan tulangan BjTS 420B, sedangkan pondasi memakai spun pile berdiameter 600 mm dan kedalaman 30 meter. Metode perencanaan mengikuti standar nasional seperti SNI 2847:2019 dan SNI 1726:2019, serta didukung oleh simulasi numerik dengan perangkat lunak ETABS dan analisis elemen hingga. Beban yang dihitung meliputi beban gravitasi, gempa, gaya benturan kapal, dan gaya tambat. Analisis menunjukkan bahwa seluruh bagian struktur, termasuk pelat, balok, pile cap, serta sistem fender dan bollard, telah memenuhi persyaratan kekuatan dan keamanan terhadap beban kombinasi. Diharapkan penelitian ini menjadi sumber referensi dalam perencanaan struktur dermaga bagi fasilitas maritim yang memiliki risiko Kata Kunci: Analisis struktur. Berthing. Bollard. Dermaga. ETABS PENDAHULUAN Dermaga merupakan elemen penting dalam sistem pelabuhan yang berfungsi sebagai tempat sandar kapal dan aktivitas bongkar muat, sehingga perencanaan dan perancangannya harus mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan lingkungan secara menyeluruh. Stabilitas dan keamanan struktur dermaga bergantung pada kemampuannya menahan kombinasi beban gravitasi, lateral akibat gempa, serta beban dinamis dari aktivitas berthing dan mooring (Triatmodjo, 2. Menurut Bowles . , ketepatan dalam desain fondasi dan struktur sangat menentukan kinerja bangunan terhadap beban eksternal, terutama pada kondisi tanah dan lingkungan yang bervariasi. Sementara itu. SNI 2833:2016 menekankan bahwa struktur pelabuhan harus dirancang dengan mempertimbangkan gaya dari gelombang, arus laut, serta tekanan dari kapal bersandar agar menjamin umur layan dan keselamatan operasional. Hal ini juga diperkuat oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut . yang menyatakan bahwa setiap elemen dermaga harus memenuhi standar kekuatan dan fungsionalitas sesuai karakteristik kapal dan lokasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini secara khusus membahas perencanaan dan analisis struktur dermaga di Tanjung Perak Surabaya, dengan pendekatan berbasis SNI dan simulasi numerik menggunakan ETABS serta metode elemen hingga untuk memastikan struktur yang aman, efisien, dan andal. METODE Metodologi perencanaan struktur dermaga ini menggunakan pendekatan analitis yang mengacu pada standar nasional Indonesia seperti SNI 2847:2019. SNI 1726:2019. SNI 1727:2020, dan SNI 1729:2020, serta panduan teknis dari Triatmodjo untuk perencanaan Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Perangkat lunak ETABS digunakan untuk simulasi dinamis berbasis respons spektrum, sementara analisis elemen hingga diterapkan dalam perancangan pelat lantai dan pile Dalam perhitungan desain struktural, semua beban seperti gravitasi, gempa, benturan kapal, dan tambat harus diperhitungkan dalam kombinasi beban. HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Struktur dan Material Struktur dermaga dirancang menggunakan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) berbahan beton bertulang sebagai sistem struktur atas. Pemilihan sistem ini didasarkan pada kebutuhan struktur yang mampu menahan beban lateral akibat gempa secara Koefisien daktilitas R sebesar 8 diadopsi dari SNI 1726:2019 untuk bangunan dengan sistem SRPMK. Struktur terdiri atas pelat, balok, dan kolom dengan beton mutu K-350 . c' = 30 MP. dan baja tulangan dengan kuat leleh fy = 420 MPa tipe BjTS 420B. Sedangkan elemen pondasi menggunakan beton mutu K-600 . c' = 55 MP. untuk mendukung gaya aksial dan momen akibat beban superstruktur. Gambar 3. 1 Idealisasi Struktur Dermaga Sumber: Hasil Desain Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Pondasi Spun Pile dan Pile Cap Jenis pondasi yang digunakan adalah spun pile berdiameter 600 mm dan kedalaman 30 Hasil pengujian tanah dan data bor log menunjukkan bahwa tanah sebagian besar terdiri dari lanau berlempung dan lempung berpasir yang relatif stabil, namun perlu fondasi dalam agar struktur dapat menanggung beban secara aman. Gambar 3. 2 Perhitungan Data Tanah SPT Sumber: Hasil Analisis Daya dukung aksial dari setiap tiang mencapai 132 ton, telah diuji dan validasi terhadap gaya tekan vertikal maksimum 131 ton serta gaya tarik maksimum 106 ton. Momen maksimum yang tercatat sebesar 21 ton-m masih berada di bawah kapasitas momen ultimit spun pile tipe sebesar 45 kNm. Sehingga pemakaian spun pile ini dipastikan aman dari kegagalan lentur dan Perencanaan Pile Cap dengan 2 Tiang Tekan (PC . Daya dukung 1 tiang yo 600mm = 132 ton Jumlah pile = 2 @ 600mm Gaya normal maksimum (P) = 246 ton Dimensi Pile Cap = 1200 y 2700 y 1100 mm Selimut beton = 70 mm Pemeriksaan tebal Pile Cap Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Cek Geser Satu Arah (Tulangan arah pende. ycOycycu = 132ycycuycu= 1320kN d =1100 Oe 70 Oe 22 = 1008 mm Oofc' Oo30 Vcx = ( 6 ) y bo y d = ( 6 ) y 1100 y 1008 = 1013 ycoycA OIycOycaycu = 0. 75 y 1013 = 760 ycoycA Diperlukan tulangan geser, digunakan D22-200 yayc y yceyc y ycc 2 y 0. 25 y yuU y 222 y 420 y 1008 ycOycycu = = 1613ycoycA yc yucycOycycu = 0. 75 y 1613 = 1209ycoycA yucycOycaycu yucycOycycu = 1969 ycoycA Ou ycOycycu Pile cap dirancang untuk dua tiang spun pile dengan dimensi 1200 mm 2700 mm 1100 mm dan selimut beton 70 mm. Analisis geser satu arah menghasilkan Vu = 1320 kN dan kapasitas geser terpasang Vc Vs = 2086 kN, membuktikan bahwa pile cap memenuhi persyaratan kekuatan. Untuk geser dua arah, nilai ultimate shear load juga tidak melampaui kapasitas Vc yang dihitung sebesar 1278 kN. Desain tulangan lentur pile cap dilakukan dengan bantuan software Finite Element, yang menunjukkan bahwa momen ultimit tidak melebihi 850 kNm. hasil tersebut, tulangan utama D22-200 dipasang di dua arah dan dinyatakan memadai. Gambar 3. 4 Detail Pilecap Sumber: Hasil Analisis Sistem Pelat Lantai Pelat lantai dermaga memiliki ketebalan 250 mm dan ditopang oleh balok dan kolom beton bertulang. Berdasarkan kriteria rasio bentang, pelat dikategorikan menjadi dua tipe: pelat satu arah dan dua arah. Pada pelat dua arah, tulangan diletakkan secara merata di kedua arah. Dari analisis elemen hingga, didapatkan bahwa momen maksimum pelat tidak melebihi 80 kNm, baik momen positif maupun negatif. Perencanaan tulangan utama untuk pelat menggunakan tulangan ulir D16-200 dengan jarak tulangan yang diperhitungkan agar memenuhi syarat minimum dan maksimum sesuai SNI 2847:2019. Penempatan tulangan juga memperhatikan selimut beton 40 mm untuk proteksi terhadap korosi. Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Gambar 3. 5 Detail Plat Lantai Sumber: Hasil Analisis Balok Beton Bertulang Perhitungan Tulangan Lentur : d = h Ae selimut Ae yo sengkang Ae yo tul Ae db/2 . sumsi awal digunakan D. = 500Ae 40 Ae 10 Ae 19/2 = 440. 5 mm C=T 0,85 x fcAo x a x b = As x fy a = (As x f. / . ,85 x fcAo x . Mn = Mu / yo = T x . Ae A x . Mn = As x fy x . Ae A x . Mn = As x fy x . Ae A x (As x f. / . ,85 x fcAo x . ) E A x As2 x fy2 / . ,85 x fcAo x . Ae As x fy x d Mn = 0 Dengan rumus di atas diperoleh: A Tulangan tumpuan kiri = 1363 mm2 ( Pakai 6 D19Ie Ata. AsAo =715 mm2 ( Pakai 3 D19Ie Bawa. Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya A Tulangan lapangan = 453 mm2 ( Pakai 3 D19Ie Ata. As Ao = 1347 mm2 ( Pakai 6 D19Ie Bawa. A Tulangan tumpuan kanan = 1364 mm2 ( Pakai 6D19Ie Ata. As Ao = 715 mm2 ( Pakai 3 D19Ie Bawa. Syarat jumlah tulangan minimum: yaycycoycnycu = OoyceycaA yca ycc = 440. 4yceyc yc yaycycoycnycu = yca ycc = 450 yceyc yc Sehingga As min yang menentukan adalah 450 mm2. Syarat jumlah tulangan maksimum : yuUycaycayco = yu1 85 O 30 ) = 0. ) = 0. 600 yceyc Amax = 0. Abal = 0. 75*0. 03 = 0. 0227 tidak boleh melebihi 0. 025 SNI 2847 ps. A s max = A max . d =3375 mm2. Perhitungan Tulangan Geser : Dari data di atas terlihat bahwa Vu max = 174 kN di tumpuan kiri COMB 2. ycOyca = 6 OoyceycaA. ycc = 123. 237 kN ycOyc Dibutuhkan. Vs = yuc Oe ycOyca = 108. 763 kN Vs maksimum : Vsmax = 2 fc' d . kN) >Vs . 7 kN) Persyaratan jarak sengkang maksimum di daerah sendi plastis adalah terkecil dari: Apabila digunakan sengkang 2 kaki D10 jarak 100 mm IeAv= 157 mm2. Vs terpasang = yayc. 157O420O440 = 290ycoycA IeSengkang 2 kaki D10-100 memadai untuk dipasang pada daerah tumpuan. IeSengkang 2 kaki D10-150 dipasang pada daerah lapangan. Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Gambar 3. 6 Detail Balok Sumber: Hasil Analisis Salah satu balok yang dianalisis berukuran 400 mm y 800 mm dengan bentang antar kolom A 4,5 meter. Analisis internal forces berdasarkan kombinasi beban (COMB1hingga COMB. menunjukkan momen maksimum hingga 359 kNm dan gaya geser maksimum hingga 406 kN. Tulangan lentur dihitung menggunakan metode keseimbangan momen dengan hasil sebagai A Tumpuan kiri : 5D22 atas, 3D22 bawah (As = 1629 mmA. AsAo = 998 mmA) A Tengah bentang : 3D22 atas, 5D22 bawah (As = 998 mmA. AsAo = 1276 mmA) A Tumpuan kanan : 5D22 atas, 3D22 bawah (As = 1248 mmA. AsAo = 998 mmA) Syarat tulangan minimum . mmA) dan maksimum . 0 mmA) terpenuhi di seluruh lokasi. Sengkang D10 dipasang 2 kaki dengan jarak 100 mm di daerah tumpuan dan lapangan, memenuhi kebutuhan terhadap kekuatan geser. Beban-Beban yang Diperhitungkan Beban gravitasi terdiri dari berat sendiri beton . 0 kg/mA), beban mati tambahan . kg/mA), dan beban hidup operasional sebesar 9000 kg/mA. Beban lateral akibat gempa dianalisis Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya menggunakan metode respons spektrum berbasis kombinasi mode (CQC) sebanyak 18 mode Beban tambahan khas dermaga seperti: A Berthing load dihitung berdasarkan energi kinetik kapal selam (KSS i Clas. saat merapat dengan kecepatan 0,1 m/detik menghasilkan energi benturan sebesar 180 kNm. Energi ini ditahan oleh 10 unit V-Fender tipe 400H. A Mooring force ditentukan oleh gaya angin dan arus laut terhadap badan kapal yang ditambatkan, menghasilkan gaya horizontal signifikan yang diteruskan pada struktur Bollard berkapasitas 50 ton dipasang untuk menahan gaya tersebut. Kombinasi beban untuk pengecekan struktur dan pondasi mengikuti rumus standar LRFD (Load and Resistance Factor Desig. , memastikan keamanan terhadap kondisi beban ultimate maupun serviceability. Analisis Sistem Fender dan Bollard KAPAL RENCANA Jenis kapal : Kapal Selam Submarine KSS i Class Mass Of Displacement. MD: 3600 ton (LWT Submarine Weight ) Panjang kapal. LOA : 89 m . ength over all ) Lebar kapal. B : 9,6 m . readth bed inside wall ) Working draft kapal. D : 7,6 m Sudut merapat maksimum : 0,00 A Kecepatan merapat (V) : 0,10 m/dt 8 Massa jenis air laut . : 1,03 ton/m3 9 Gravitasi . : 9,81 m/dt2 GAYA BENTURAN KAPAL Berthing Mode End Berthing yaycA = 0. 5ycAya ycO 2 Effective Berthing Energy (E. yaycA = 0. 5ycAya ycO 2 = 18 ton-m = 180 kN-M Gaya bentur ditumpu 10 Fender V400 yaycA =18 kN-M Tabel 3. 1 SVF Performance Compound Grade Size SVF 150 H SVF 200 H SVF 250 H SVF 300 H SVF 400 H SVF 500 H SVF 600 H SVF 800 H SVF 1000 H F . 12,80 17,10 21,40 25,70 34,20 40,00 51,30 67,40 85,50 A . 0,84 1,14 1,78 2,57 4,56 7,13 10,30 18,20 28,50 F . 8,44 11,30 14,10 16,90 22,50 15,50 33,80 45,00 56,30 A . 0,422 0,75 1,78 1,60 3,00 4,74 4,75 12,00 18,80 Sumber: PT Pelindo II Jurnal Anggapa. Volume 5. Nomor 1. April 2026. Universitas Widya Kartika. Surabaya Berdasarkan hitungan gaya berthing yang bekerja, diambil jenis V-Fender400H Dimana: EA = 4. 56ton-m (Per meter Panjan. > 1. 8 Ton-m RF = 34. 2 ton (Per meter Panjan. Sehingga digunakan Fender V400 dengan jarak antar Fender yaitu 8 m. Gambar 3. 7 Fender Tipe V Sumber: fender-indonesia. Perencanaan Bollard Dalam hal tentang standar alat penambat diasumsikan bahwa gaya traktif bekerja secara horisontal dansetengahnya gaya traktif ke atas bekerja secara bersamaan. Standar kekuatan Bollard untuk berbagai bobot kapal dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. 2 Tractive Forces of Vessels Gross Tonnage (GT) of vessel . 200