Journal of Air Space and Science (JASS) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoa. Volume 1. Nomor 1. Tahun 2025, hlm. p-ISSN 0000-0000 e-ISSN 0000-0000 Pengaruh Adversity Quotient Terhadap Resilience Taruna Akademi Angkatan Udara Andre1*. Sukmo Gunadri1. Moch. Nurdi I1 ASekolah Staf dan Komando Angkatan Udara. Bandung. Indonesia *Email: andre@seskoau-mil. _____________________________________________________________________________ ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar adversity quotient berpengaruh terhadap resilience taruna AAU serta melihat tingkat perbedaan adversity quotient dan resilience pada setiap jenjang kepangkatan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Skala Adversity Quotient . aitem, =0,. dan Skala Resilience . aitem, =0,. dengan metode survei menggunakan analisis korelasi dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan peran yang signifikan antara adversity quotient terhadap resilience taruna Akademi Angkatan Udara. Arah hubungan positif menunjukkan bahwa semakin tinggi adversity quotient, maka tingkat resilience taruna Akademi Angkatan Udara akan semakin tinggi. Adversity quotient berperan sebesar 72,7% terhadap tingkat resilience taruna Akademi Angkatan Udara, sedangkan 27,4 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diamati pada penelitian ini, seperti kepribadian, self-esteem, self-efficacy dan dukungan sosial. Terdapat perbedaan adversity quotient dan resilience berdasarkan tingkat kepangkatan, di mana tingkat I dan IV lebih tinggi dari pada tingkat II dan tingkat i. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan . antara adversity quotient terhadap resilience Taruna Akademi Angkatan Udara dan terdapat perbedaan adversity quotient dan resilience pada setiap jenjang kepangkatan. Kata Kunci: adversity quotient, resilience, taruna Akademi Angkatan Udara ABSTRACT This study aims to determine how much adversity quotient influences the resilience of Air Force Academy cadets and to see the level of difference in adversity quotient and resilience at each rank The data collection method in this study used the Adversity Quotient Scale . items, = . and the Resilience Scale . items, = 0. with a survey method using correlation and regression analysis. The results of the study indicate that there is a positive relationship and a significant role between adversity quotient and resilience of Air Force Academy cadets. The direction of the positive relationship indicates that the higher the adversity quotient, the higher the level of resilience of Air Force Academy cadets. Adversity quotient plays a role of 72. 7% in the level of resilience of Air Force Academy cadets, while 27. 4% is influenced by other factors not observed in this study, such as personality, self-esteem, self-efficacy and social support. There are differences in adversity quotient and resilience based on rank level, where levels I and IV are higher than levels II and i. The conclusion of this study is that there is a significant . influence between adversity quotient and resilience of Air Force Academy Cadets and there are differences in adversity quotient and resilience at each rank level. Keywords: adversity quotient, air force academy cadets, resilience *Andre E-mail: andre@seskoau-mil. p-ISSN 2685-8991 e-ISSN 2808-2540 PENDAHULUAN Di lingkungan AAU, para taruna tidak hanya menjalani proses pendidikan akademik, tetapi juga mendapatkan pelatihan dan pembinaan dalam disiplin kemiliteran. Kondisi ini menuntut mereka memiliki ketahanan psikologis yang tinggi terhadap tekanan dan stres. Oleh karena itu, untuk dapat mengatasi berbagai tantangan selama masa pendidikan, taruna AAU perlu memiliki kemampuan psikologis khusus yang mendukung ketangguhan dan kemampuan adaptasi, yaitu adversity quotient dan resilience. Adversity sering disebut sebagai kecerdasan mengatasi kesulitan dan digunakan sebagai ukuran dalam menentukan respon atas masalah (Nastiti & Habibah, 2. Adversity quotient taruna menunjukkan kapasitas untuk mengubah tantangan yang dihadapi selama perkuliahan, baik menyelesaikan tugas individu, kelompok, praktikum, atau ujian, atau perpaduan seluruhnya yang menjadi peluang sukses dalam memperoleh IPK yang diinginkan. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai dan harapan tanpa memperdulikan apa yang terjadi, taruna dengan adversity quotient dapat mengembangkan kapasitas ketekunannya ketika menghadapi rintangan atau masalah dalam perkuliahan (Huda & Mulyana, 2. Sementara resilience dipandang sebagai kualitas fundamental yang membentuk dasar ketahanan emosional dan psikologis seseorang. Tanpa resilience, tidak ada keberanian, ketekunan, alasan, atau wawasan. Bahkan, resilience diakui mempengaruhi gaya berpikir dan kesuksesan seseorang (Ridwan, 2. Pada tahap awal pendidikan militer, taruna harus menghadapi dan mengatasi situasi yang menantang. Dalam hal ini resilience sangat berperan untuk melalui situasi tersebut. Selain itu, resilience meningkatkan kapasitas taruna untuk menahan dorongan emosional yang tidak menyenangkan (Wijaya et al. Oleh sebab itu, penelitian ini berfokus pada bagaimana pengaruh adversity quotient terhadap resilience Taruna Akademi Angkatan Udara serta perbedaan adversity quotient dan resilience berdasarkan jenjang kepangkatan Taruna AAU. II. METODE Penelitian ini menggunakan metode deduksi dengan tahapan sebagai berikut. Membangun hipotesis berbasis struktur teori. Mengumpulkan fakta atau data empiris terlebih dahulu. Menggunakan data untuk menguji hipotesis. Mengambil kesimpulan. Metode survei dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi dan regresi untuk mengukur seberapa besar pengaruh adversity quotient terhadap resilience Taruna AAU dan menggunakan angket sebagai alat pengumpulan data utama. Data kuantitatif dikumpulkan memakai skala psikologi sebagai alat ukur. Skala pengukuran adalah angket adversity quotient dan angket Pada angket tersebut, partisipan diminta memberikan respon yang sesuai dengan kondisi diri sesungguhnya dengan total 41 item yang memiliki nilai koefisien korelasi di antara 0,301 sampai 0,711 dan nilai reliabilitas 0,917. Data yang diperoleh kemudian dilakukan penskoringan dan hasil skoring dimasukan ke dalam tabel. Adapun Teknik analisis data pada penelitian kuantitatif memakai statistik deskriptif serta statistik inferensial (Sugiono, 2. Pengujian hipotesis pada penelitian ini dibuat formulasi sebagai berikut. H0: adversity quotient tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap resilience taruna Akademi Angkatan Udara. H0: tidak terdapat perbedaan resilience taruna tingkat I, tingkat II, tingkat i dan tingkat IV. H0: tidak terdapat perbedaan adversity quotient taruna tingkat I, tingkat II, tingkat i dan tingkat IV. Ha: adversity quotient berpengaruh positif dan signifikan terhadap resilience taruna Akademi Angkatan Udara. Ha: terdapat perbedaan resilience taruna tingkat I, tingkat II, tingkat i dan tingkat IV. Ha: terdapat perbedaan adversity quotient taruna tingkat I, tingkat II, tingkat i dan tingkat IV. Journal of Air Space and Science (JASS) Ae Seskoau Volume 1. Nomor 1. Tahun 2025: hlm. 47Ae52 Journal of Air Space and Science (JASS) Seskoau i. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Uji Regresi Sederhana Model Summary Change Statistics Std. Model R Adjusted Error of Square Square Square Estimate Change Change Sig. Change Predictors: (Constan. ADVERSITY QUOTIENT Dependent Variable: RESILIENSI Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai R menggambarkan keeratan antara variabel adversity quotient dan variabel resilience dengan nilai R=0,853, yang artinya ada hubungan yang kuat antara adversity quotient dengan resilience sebesar 85,3% dan nilai R-Square sebesar 0,726 yang berarti 72,6% dari variabel resilience. Sedangkan sisanya, sebesar . % - 72,6% = 27,8%) dijelaskan oleh faktor-faktor lainnya. Tabel 2. Perbedaan Adversity Quotient Taruna berdasarkan Tingkat Kepangkatan R Squared = . 032 (Adjusted R Squared = . Type i Sum Source of Squares Corrected Model Intercept TINGKAT Error Total Corrected Total Mean Square Sig. Tabel di atas, nilai signifikansi sebesar 0,009. Taraf signifikansi di bawah 0,05, sehingga H2 diterima dan H0 ditolak. Dengan demikian, terdapat perbedaan adversity quotient taruna berdasarkan tingkat kepangkatannya di AAU. Tingkat adversity quotient berdasarkan tingkat kepangkatan taruna AAU dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3. Data Statistik Perbedaan Adversity Quotient Taruna berdasarkan Tingkat Kepangkatan TINGKAT KOPTAR SERSAN SERMADATAR SERMATUTAR Total Mean Std. Deviation p-ISSN 2685-8991 e-ISSN 2808-2540 Berdasarkan tabel tersebut, taruna dengan tingkat kepangkatan KOPTAR memiliki rata-rata adversity quotient yang lebih tinggi yaitu sebesar 106,52. Diikuti oleh taruna dengan tingkat kepangkatan SERMATUTAR sebesar 103,37. Kemudian taruna dengan tingkat kepangkatan SERSAN sebesar 101,29. Sedangkan adversity quotient taruna dengan tingkat kepangkatan SERMADATAR memiliki rata-rata paling rendah yaitu 101,29. Dengan demikian, taruna dengan tingkat satu dan empat memiliki adversity quotient yang lebih tinggi dari taruna dengan tingkat dua dan tiga. Peneliti melakukan uji hipotesis ketiga menggunakan uji anova satu jalur untuk melihat perbedaan variabel resilience berdasarkan tingkat kepangkatan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 4. Perbedaan Resilience Taruna berdasarkan Tingkat Kepangkatan Type i Source Sum of Mean Square Sig. Squares Corrected Model Intercept TINGKAT Error Total Corrected Total Berdasarkan tabel di atas, nilai signifikansi sebesar 0,004. Taraf signifikansi di bawah 0,05 sehingga H3 diterima dan H0 ditolak. Dengan demikian, terdapat perbedaan kemampuan resilience taruna berdasarkan tingkat kepangkatannya di AAU. Tingkat resilience berdasarkan Tingkat kepangkatan taruna AAU dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5. Data Statistik Perbedaan Resilience Taruna berdasarkan Tingkat Kepangkatan TINGKAT Mean Std. Deviation KOPTAR SERSAN SERMADATAR SERMATUTAR Total Berdasarkan tabel di atas, taruna dengan tingkat kepangkatan KOPTAR memiliki rata-rata kemampuan resilience yang lebih tinggi yaitu sebesar 160,86. Posisi kedua yaitu taruna dengan tingkat kepangkatan SERMATUTAR sebesar 153,89. Kemudian taruna dengan tingkat kepangkatan SERMADATAR sebesar 152,99. Sedangkan kemampuan resilience taruna dengan tingkat kepangkatan SERSAN memiliki rata-rata paling rendah yaitu 150,95. Dengan demikian, taruna dengan tingkat satu dan empat memiliki kemampuan resilience yang lebih tinggi dari taruna dengan tingkat dua dan tingkat tiga IV. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan . adversity quotient terhadap resilience Taruna Akademi Angkatan Udara yakni dengan persentase pengaruh sebesar 72,6%, sedangkan 27,4 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diamati pada penelitian. Journal of Air Space and Science (JASS) Ae Seskoau Volume 1. Nomor 1. Tahun 2025: hlm. 47Ae52 Journal of Air Space and Science (JASS) Seskoau Terdapat perbedaan adversity quotient dan resilience berdasarkan tingkat kepangkatan, dimana tingkat I dan IV lebih tinggi dari pada tingkat II dan tingkat i. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi kepada Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoa. atas bantuan dan fasilitas yang diberikan dalam pelaksanaan penelitian, serta kepada Pusat Litbang Teknologi Pertahanan Udara atas kontribusi berupa data teknis dan pendampingan VI. CATATAN PENULIS Penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan terkait dengan publikasi artikel ini dan menyatakan bahwa naskah ini bebas dari unsur plagiarisme. p-ISSN 2685-8991 e-ISSN 2808-2540 VII. DAFTAR PUSTAKA