STRATEGI FORUM KOMUNIKASI ISLAMIYAH (FORKIS) DALAM PEMBERDAYAAN ANAK YATIM DI KELURAHAN KOTA BARU KECAMATAN BEKASI BARAT https://doi. org/10. 38214/jurnalbinaummatstidnatsir. Submitted: 03-10-2025 Reviewed: 12-11-2025 Published: 13-12-2025 Muhammad Akbar Akbarfurqan03@gmail. STID Muhammad Natsir Ae Indonesia Agus Samsono agussms1977@gmail. STID Muhammad Natsir - Indonesia ABSTRACT Orphans are a vulnerable group in need of economic support, education, and character development. In urban areas such as Bekasi Barat, they face various challenges ranging from limited religious education to the risk of negative social influences. The Islamic Communication Forum (FORKIS) plays a role in empowering orphans through community-based mentoring conducted three times a week, covering spiritual, intellectual, and emotional aspects. This study aims to identify the strategies of FORKIS in empowering orphans in Kota Baru Village. Bekasi Barat District, using a qualitative method. The results show that FORKIS implements programs such as QurAoan recitation. Islamic jurisprudence . , hadroh, martial arts. QurAoan Camp, pocket money provision, and ambulance services, categorized into three main aspects of the Al-MyAoyn Theology: education, social services, and health. These programs address not only religious aspects but also the social and emotional well-being of FORKISAos empowerment strategies are structured and comprehensive, representing daAowah bil hal in line with the spirit of Al-MyAoyn Theology, thus providing not only material assistance but also shaping the character, morality, and independence of orphans to become a generation of faith, knowledge, and resilience in accordance with Islamic values. Keywords : Orphans. Empowerment. Strategy ABSTRAK Anak yatim merupakan kelompok rentan yang memerlukan perhatian ekonomi, pendidikan, dan pembinaan Di wilayah urban seperti Bekasi Barat, mereka menghadapi tantangan kompleks, mulai dari keterbatasan pendidikan agama hingga risiko pergaulan bebas. Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) memberdayakan anak yatim melalui pembinaan berbasis komunitas tiga kali seminggu, mencakup aspek spiritual, intelektual, dan emosional. Tujuan Penelitian yaitu untuk mengetahui strategi Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) dalam pemberdayaan anak yatim di Kelurahan Kota Baru Keccamatan Bekasi Barat. Metode Penelitian yaitu kualitatif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa FORKIS menjalankan berbagai program pembinaan seperti tilawah, fikih, hadroh, silat. Al-QurAoan Camp, pemberian uang saku, dan upaya penyediaan ambulans. Seluruh kegiatan ini diklasifikasikan ke dalam tiga aspek utama Teologi Al-MyAoyn berupa pendidikan, pelayanan sosial, dan kesehatan. Program-program tersebut tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga aspek sosial dan emosional anak yatim. Strategi pemberdayaan FORKIS bersifat terstruktur dan menyeluruh, serta merepresentasikan daAowah bil hal yang sejalan dengan semangat Teologi Al-MyAoyn. FORKIS tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kemandirian anak yatim. Dengan pendekatan ini. FORKIS telah berkontribusi dalam membina generasi yang beriman, berilmu, dan berdaya, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kepedulian terhadap kaum lemah. Kata kunci : Anak Yatim. Pemberdayaan. Strategi. PENDAHULUAN Jurnal Bina Ummat: Membina dan Membentengi Ummat is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License 177 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 Salah satu manifestasi paling nyata dari ajaran sosial dalam Islam adalah kepedulian terhadap kaum yang lemah, terpinggirkan, dan membutuhkan uluran tangan, khususnya anak 1Al-Qur'an dengan jelas dan berulang kali menekankan pentingnya memperhatikan anak yatim sebagai bagian dari ciri keimanan yang sejati. Dalam banyak ayat, anak yatim disebutkan dalam konteks perintah untuk dipelihara, diperhatikan, dan diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sayang. 2 Bahkan dalam Al-QurAoan Surah Al-MyAoyn ayat 1-2 Allah berfirman: a ac a aA Aa aaEA AEO aIA aac A Eca aO O aE caa a AOIA a eA aOA a a a AE EO Oa aca EeOaA "Tahukah kamu . yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. (QS. Al-MyAoyn: 1Ae. Dalam Al-QurAoan Surah Al-MyAoyn ayat 1-2. Allah dengan tegas mencela dan mengecam mereka yang mendustakan agama, yaitu orang-orang yang menghardik anak yatim. Ayat ini memberikan pesan moral yang sangat kuat bahwa keberagamaan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa rajin ia beribadah secara ritual, tetapi juga dari sejauh mana ia menunjukkan kepedulian dan empati terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan, seperti anak yatim. Lebih lanjut, dalam Al-QurAoan Surah Adh-DuuA ayat 9-10. Allah berfirman: e AE Aa a ca ac A aO caaIA AOI aE a eC aN eA a acaA aO caaI aIa e aI a aA AEa aE aE a eI aN eA a a caaI EeOaA "Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. " (QS. Adh-DuuA: 9Ae. Ayat ini tidak hanya melarang perlakuan kasar terhadap anak yatim, tetapi juga mengisyaratkan perlunya pendekatan yang penuh kasih sayang, penghormatan terhadap martabat mereka, serta upaya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yatim, baik secara lahiriah maupun Di Kecamatan Bekasi Barat, anak-anak yatim menghadapi tantangan kompleks, bukan hanya kesulitan ekonomi akibat kehilangan figur ayah, tetapi juga ketertinggalan dalam pendidikan agama, pembentukan karakter, dan dukungan emosional. Kehidupan kota yang cepat, individualistik, dan berorientasi materi membuat mereka rentan terhadap krisis identitas, pergaulan bebas, penyalahgunaan teknologi, serta pengaruh gaya hidup negatif. Minimnya pembinaan moral dan spiritual memperbesar risiko ini, sementara kebutuhan mereka tidak cukup dipenuhi dengan bantuan finansial saja, melainkan memerlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup aspek akidah, akhlak, dan kepribadian. Dalam konteks ini, lembaga seperti Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) hadir dengan peran strategis. Berdiri sejak 1989 di Kelurahan Kota Baru. FORKIS menggabungkan fungsi dakwah, pendidikan, dan sosial dengan pendekatan daAowah bil hal, yakni dakwah melalui tindakan nyata yang terencana dan sistematis untuk memberdayakan umat, termasuk anak-anak yatim. Salah satu wujud nyata daAowah bil hal FORKIS adalah pembinaan dan pemberdayaan anak yatim yang telah menjadi fokus utama selama beberapa tahun terakhir. Berbasis komunitas dan dilakukan tiga kali seminggu, program ini menyasar pembentukan karakter melalui aspek spiritual, intelektual, dan emosional. FORKIS membina lebih dari 200 anak yatim tanpa sistem asrama, sehingga mereka tetap tinggal di keluarga atau wali namun memperoleh pendampingan agama, 1 Syaikh Hasan Ayyub. As-Suluk Al-IjtimaAoi (Fikih Sosia. : Membangun Masyarakat Berperadaban Islami. Terj. Nabhani Idris, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2. , hal 378. 2 Arif Maftuhin and others. Interkoneksi Islam Dan Kesejahteraan Sosial: Teori. Pendekatan. Dan Studi Kasus (Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Fakultas DaAowah UIN Sunan Kalijaga, 2. , hal. 3 Saiful Hadi El-Sutha. Mutiara Hikayat (Jakarta: Erlangga, 2. , hal 28. 4 Muhammad Ali Anwar. AoAnak Yatim Dalam Presfektif Ad Duhaa 6-9 (Studi Komparatif Kitab Tafsir Ibnu Katsir. Al Misbah Dan Al Azha. Ao. Jurnal Ilmiah Innovative (Jurnal Pemikiran Dan Penelitia. , 9 . , hal. 5 Wawancara kepada Ustadz Sutisna Maulana. Pengurus FORKIS Kecamatan Bekasi Barat. Kabupaten Bekasi pada Tanggal 09 Mei 2025 STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 178 keterampilan, dan motivasi secara rutin. Pendekatan ini dinilai efektif karena menjaga keterlibatan anak dengan lingkungan nyata sekaligus memberi dukungan spiritual dan sosial yang berkelanjutan. Salah satu inovasi FORKIS adalah program umrah gratis bagi anak berprestasi, yang berfungsi sebagai penghargaan dan motivasi. Di Bekasi, terdapat pula lembaga asrama seperti Graha Yatim dan Dhuafa. Panti Asuhan Al-Fajar Berseri, dan Rumah Yatim Ar-Rahman, yang menyediakan fasilitas tinggal, pendidikan, dan pembinaan agama secara terstruktur. Pendekatan institusional ini unggul dalam kontrol dan rutinitas, namun memiliki tantangan adaptasi sosial ketika anak kembali ke masyarakat. Sebaliknya, model FORKIS yang terbuka dan inklusif memungkinkan anak tumbuh dalam konteks sosialnya sambil dibina secara konsisten. Keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan utama model ini, di mana FORKIS berperan sebagai jembatan antara anak yatim, donatur, dan lingkungan sekitar. Keberhasilan ini membuktikan bahwa pemberdayaan anak yatim dapat dilakukan dengan cara yang adaptif, humanis, dan sesuai konteks sosial, sekaligus menjadi inspirasi bagi model dakwah berbasis pemberdayaan di wilayah urban. Penelitian ini penting dilakukan terkait strategi yang dilakukan Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) dalam pemberdayaan anak yatim di Kelurahan Kota Baru Kecamatan Bekasi Barat, sehingga menjadi acuan bagaimana sebuah lembaga mampu membina memberdayakan anak yatim dengan program-program strategis. Teori Pemberdayaan Anak Yatim Penelitian ini menggunakan Teori Teologi Al-MyAoyn yang lahir dari pemikiran KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah, yang berakar pada tafsir mendalam terhadap Surah AlMyAoyn dalam Al-QurAoan. Teori ini menekankan bahwa keimanan seseorang kepada Allah tidak akan sempurna bila tidak diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial terhadap kaum dhuafa, anak yatim, dan kelompok masyarakat marginal lainnya. Dalam Surah Al-MyAoyn. Allah mengecam keras mereka yang secara lahiriah menjalankan ibadah, seperti salat, namun mengabaikan nasib anak yatim, enggan memberi makan fakir miskin, dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Bagi KH. Ahmad Dahlan, ayat-ayat dalam surah tersebut bukan hanya kritik atas bentuk ritualistik keagamaan yang kosong dari nilai sosial, tetapi juga seruan kuat untuk menjadikan agama sebagai kekuatan penggerak sosial yang mampu mengangkat harkat dan martabat manusia, khususnya mereka yang lemah. Dalam praktiknya. Teologi Al-MyAoyn mengandung prinsip bahwa amal ibadah bukan hanya bersifat vertikal . ubungan dengan Alla. melainkan juga horizontal . ubungan dengan manusi. Oleh karena itu, setiap individu Muslim dituntut untuk mengaktualisasikan keimanannya melalui aksi nyata, seperti memberi makan orang miskin, menyantuni anak yatim, mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan, dan memberdayakan mereka secara ekonomi dan sosial. Teologi ini tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga transformatif. Artinya, pemberian bantuan kepada masyarakat miskin bukan hanya untuk meringankan penderitaan sesaat, melainkan diarahkan untuk membangun kemandirian dan daya juang agar mereka tidak terus-menerus hidup dalam Berdasarkan teori Teologi Al-MyAoyn yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan, tiga pilar kerja utama yang menjadi fokus gerakan sosial keagamaan Islam adalah: Kesehatan Teologi Al-MyAoyn menekankan pentingnya menjaga dan merawat kesehatan masyarakat sebagai bagian dari ibadah dan implementasi nilai-nilai Islam. KH. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa menolong orang sakit, menyediakan fasilitas pengobatan yang terjangkau, serta memperhatikan kebutuhan medis kaum miskin adalah wujud nyata dari 6 Wawancara kepada Ustadz Sutisna Maulana. Pengurus FORKIS Kecamatan Bekasi Barat. Kabupaten Bekasi pada Tanggal 09 Mei 2025 7 Roni Tabroni. Islam Dan Media Mediasi Agama Dalam Ruang Publik (Malang: Literasi Nusantara Abadi, 2. , 8 Roni Tabroni. Islam Dan Media Mediasi Agama Dalam Ruang Publik,A. 179 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 keberislaman seseorang. Dalam konteks ini, kesehatan bukan sekadar aspek medis, tetapi menjadi bagian dari gerakan daAowah yang menyeluruh, karena orang yang sakit dan terabaikan adalah potret nyata dari ketidakpedulian sosial yang dikritik dalam QS. Al-MyAoyn. Pendidikan Pendidikan adalah pilar kedua dalam Teologi Al-MyAoyn. KH. Ahmad Dahlan percaya bahwa kebodohan adalah bentuk lain dari penindasan. Oleh karena itu, memberikan akses pendidikan bagi anak-anak yatim, dhuafa, dan kelompok marginal menjadi salah satu agenda daAowah utama. Al-MyAoyn tidak hanya mengajarkan untuk memberi makan orang miskin, tetapi juga membekali mereka dengan ilmu agar mereka bisa mandiri dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain. Pelayanan Sosial Pelayanan sosial adalah pilar ketiga yang sangat menonjol dalam gerakan berbasis Teologi Al-MyAoyn. Ini meliputi aktivitas seperti memberi makan orang miskin, memperhatikan anak yatim, membantu korban bencana, dan menjamin kehidupan kaum dhuafa. Dalam tafsir KH. Ahmad Dahlan, ayat-ayat dalam surat Al-MyAoyn tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial yang ada. Seseorang dianggap mendustakan agama jika ia tidak peduli terhadap yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin (QS. Al-MyAoyn: 1Ae. Maka dari itu, pelayanan sosial menjadi bentuk konkret iman dan amal salih. Melalui lembaga sosial, rumah yatim, dan layanan kemanusiaan, gerakan daAowah ini menjelma menjadi kekuatan sosial yang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Teologi Al-MyAoyn memiliki kaitan yang sangat erat dan signifikan dengan strategi daAowah, khususnya dalam konteks daAowah bil hal atau daAowah melalui tindakan nyata. KH. Ahmad Dahlan, sebagai pencetus teologi ini, memformulasikan gagasan bahwa daAowah tidak cukup hanya disampaikan melalui lisan dan ceramah . aAowah bil-lisa. , tetapi harus diwujudkan melalui aksi sosial yang menyentuh langsung kebutuhan umat, terutama mereka yang lemah secara sosial dan ekonomi, seperti anak yatim dan fakir miskin. Strategi daAowah berbasis Teologi Al-MyAoyn menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai sosial dalam Islam sebagai prioritas dalam program daAowah. Dalam hal ini, daAowah tidak hanya bertujuan mengajak kepada tauhid dan ibadah, tetapi juga kepada kepedulian sosial, keadilan, dan Pendekatan ini menempatkan daAowah sebagai solusi konkret atas problematika umat, seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, strategi daAowah berdasarkan Teologi Al-MyAoyn menuntut adanya program nyata berupa pembinaan anak yatim, pemberdayaan ekonomi umat, layanan pendidikan, kesehatan, dan bantuan kemanusiaan. Teologi ini juga membentuk paradigma bahwa keberhasilan daAowah bukan hanya dilihat dari banyaknya orang yang hadir dalam pengajian atau jumlah mualaf, tetapi dari sejauh mana perubahan sosial positif dapat diwujudkan. Dalam konteks ini, daAowah yang ideal adalah daAowah yang mendorong transformasi struktural yakni mengubah kondisi umat dari yang tertindas menjadi berdaya dan mandiri. Dengan demikian, teologi Al-MyAoyn memberikan arah baru dalam strategi daAowah, yaitu daAowah transformatif yang bersifat praksis, sistematis, dan membumi. Maka dalam penelitian ini menggunakan teori teologi Al-MyAoyn yang relevan dengan kegiatan kegiatan FORKIS. Selain itu, terdapat teori lainnya yang dapat menggambarkan pemberdayaan khususnya pemberdayaan masyarakat Islam yaitu sebagaimana Teori Ashabiyah yang merupakan salah satu konsep sentral dalam pemikiran Ibnu Khaldun, seorang pemikir Muslim abad ke-14 yang dikenal sebagai bapak sosiologi dan historiografi Islam. Istilah Ashabiyah berasal dari akar kata Arab Aoasab, yang berarti ikatan atau solidaritas. Dalam konteks pemikiran Ibnu Khaldun. Ashabiyah merujuk pada solidaritas sosial atau semangat kolektif yang mengikat anggota suatu kelompok atau Konsep ini muncul dari pengamatan Ibnu Khaldun terhadap dinamika peradaban, mengapa suatu kelompok bisa bangkit, berjaya, lalu mengalami kemunduran. Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kekuatan utama di balik kemajuan suatu masyarakat bukan hanya kekuasaan STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 180 atau kekayaan, tetapi justru terletak pada kekompakan sosial yang dimiliki suatu kelompok. Ashabiyah adalah fondasi awal pembentukan masyarakat dan peradaban. Teori Ashabiyah dari Ibnu Khaldun merupakan salah satu kerangka konseptual dalam pengembangan masyarakat Islam. Dalam Islam, pengembangan masyarakat tidak sekadar dimaknai sebagai upaya perbaikan ekonomi atau sosial secara fisik, tetapi juga sebagai pembangunan jiwa kolektif umat yakni solidaritas, tanggung jawab sosial, dan kepekaan terhadap sesama. Di sinilah Ashabiyah mengambil peran penting. Ashabiyah, dalam pemikiran Ibnu Khaldun, adalah semangat kolektif atau solidaritas sosial yang menjadi dasar terbentuknya kekuatan umat. Solidaritas ini bukanlah kesukuan yang sempit, tetapi bisa meluas menjadi ikatan ideologis atau nilai keislaman yang menyatukan umat dalam satu cita-cita. Dalam konteks pengembangan masyarakat Islam. Ashabiyah mencerminkan etos kebersamaan, di mana anggota komunitas saling mendukung, membela yang lemah, dan bersama-sama membangun struktur sosial yang adil. Inilah yang menjadi ciri khas masyarakat Islam ideal, masyarakat yang tidak individualistis, melainkan saling menanggung beban dan berbagi peran untuk menciptakan kebaikan bersama. Penelitian yang terkait dengan pemberdayaan yatim antara lain: Pertama. Pemberdayaan Anak Yatim Melalui Program Pelatihan Keterampilan Hidup Sehari-Hari Di Panti Asuhan Ulil Abshar Dau Sengkaling Malang Penelitian ini ditulis oleh Murdiono dkk. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memberdayakan anak yatim melalui program pelatihan keterampilan hidup sehari-hari di Panti Asuhan Ulil Abshar Dau. Sengkaling. Malang. Metode yang digunakan melibatkan 14 anak panti asuhan dalam serangkaian kegiatan pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Program ini fokus pada pengembangan keterampilan praktis, seperti keterampilan komunikasi, keuangan, dan kegiatan sehari-hari yang memperkuat kemandirian anak-anak. Hasil dari penelitian ini mencakup peningkatan keterampilan praktis anak-anak panti asuhan, seperti kemampuan berkomunikasi, manajemen keuangan pribadi, dan kemandirian dalam melakukan tugas-tugas harian. Selain itu, peningkatan rasa percaya diri dan motivasi untuk mencapai tujuan hidup juga menjadi bagian integral dari hasil yang dicapai. Kesimpulan dari pengabdian ini menunjukkan bahwa program pelatihan keterampilan hidup sehari- hari efektif dalam memberdayakan anak yatim di Panti Asuhan Ulil Abshar Dau. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, anak-anak panti asuhan mampu mengembangkan potensi mereka dan siap menghadapi tantangan kehidupan masa depan. Kedua. Optimalisasi Pemberdayaan Yatim Dhuafa Melalui Pendayagunaan Zis Program Sanggar Lestari Laz Saku Yatim Indonesia. Penelitian ini ditulis oleh Isnani Aliya dan Sri Abidah Suryaningsih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan pengoptimalan dalam memberdayakan yatim dhuafa melalui pendayagunaan dana ZIS pada program Sanggar Lestari di LAZ Saku Yatim Indonesia serta menganalisis faktor pendorong dan penghambat dari pelaksanaan program Sanggar Lestari di LAZ Saku Yatim Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian Hasil penelitian ini menunjukkan pemberdayaan yatim dhuafa melalui program Sanggar Lestari telah optimal dari segi materi pembelajaran terutama siswa binaan setingkat SD berdasarkan peningkatan kemampuan dan nilai akademik, namun untuk setingkat SMA materi pembelajaran belum optimal. Terdapat faktor pendorong dan penghambat dari pemberdayaan Sanggar Lestari sehingga dapat memaksimalkan strategi terutama menggunakan strategi SO (Strength Opportunitie. untuk pengoptimalan program pemberdayaan secara maksimal. 9 Khoiruddin. AoAnalisis Teori Ashabiyah Ibn Khaldun Sebagai Model Pemberdayaan Ekonomi UmatAo. ASAS, 1 . , hal. 10 Khoiruddin. AoAnalisis Teori Ashabiyah Ibn Khaldun Sebagai Model Pemberdayaan Ekonomi UmatAo,A. Murdiono. Ahmad Fatoni, and Hadi Nur Taufiq. AoPemberdayaan Anak Yatim Melalui Program Pelatihan Keterampilan Hidup Sehari-Hari Di Panti Asuhan Ulil Abshar Dau Sengkaling MalangAo. Communnity Development Journal, 4. , pp. 12023Ae31. Isnani Aliya and Sri Abidah Suryaningsih. AoOptimalisasi Pemberdayaan Yatim Dhuafa Melalui Pendayagunaan Zis Program Sanggar Lestari Laz Saku Yatim IndonesiaAo. Jurnal Adz-Dzahab: Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Islam, 8. , 97Ae115. 181 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 Ketiga. Pemberdayaan Anak Pada Panti Asuhan Al Hikmah Di Kota Palembang Penelitian ini dilakukan oleh Randi dkk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana kualitas pendidikan anak di panti asushan Al Hikmah di Kota Palembang yang berbasis mikro dan mezzo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian bahwa anak dapat mengembangkan potensi dan kemapuan di luar pendidikan formal, hal ini tentunya bermanfaat untuk dirinya snediri, sehingga mampu merubah pola piker anak dengan sumber daya dan pelayanan sosial yang diberikan ole Panti asuhan. Panti asuhan juga mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan diri dalam melanjutkan kehidupan ketika berada diluar Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif untuk memahami secara mendalam strategi pemberdayaan anak yatim oleh Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) di Kelurahan Kota Baru. Kecamatan Bekasi Barat. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian terletak pada proses, makna, dan interaksi sosial yang tidak dapat diukur secara statistik, melainkan digali melalui narasi dan interpretasi dari para pengurus dan anak yatim binaan. Subjek penelitian adalah pengurus FORKIS, sedangkan objek penelitian adalah strategi pemberdayaan anak yatim yang dijalankan organisasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama. Pertama, observasi nonpartisipatif untuk mengamati langsung pelaksanaan kegiatan pemberdayaan tanpa terlibat secara Kedua, wawancara terstruktur dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan, guna memperoleh informasi mendalam yang relevan dengan fokus penelitian. Ketiga, dokumentasi berupa foto kegiatan, laporan resmi, daftar hadir, serta dokumen pendukung lain yang menjadi bukti otentik pelaksanaan program. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yakni reduksi data untuk merangkum dan memfokuskan pada informasi penting, penyajian data dalam bentuk terstruktur agar mudah dipahami, serta verifikasi untuk memastikan kesimpulan yang dihasilkan memiliki dukungan bukti yang valid dan konsisten. Dengan metode ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana strategi pemberdayaan FORKIS dirancang, dilaksanakan, dan berdampak pada kehidupan anak yatim. HASIL DAN DISKUSI Dalam upaya mewujudkan visinya sebagai lembaga sosial keagamaan yang amanah dan responsif terhadap kebutuhan umat. Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) merancang strategi pemberdayaan anak yatim secara komprehensif dan berkesinambungan. Strategi ini tidak hanya bersifat konseptual atau administratif, tetapi benar-benar diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata yang menyentuh berbagai aspek kehidupan anak-anak yatim, baik secara spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial. Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh FORKIS disusun berdasarkan hasil perencanaan yang matang, evaluasi kebutuhan riil anak-anak binaan, serta masukan dari para pembina dan tokoh masyarakat setempat. Pendekatan ini menunjukkan komitmen FORKIS untuk menjadikan anak-anak yatim tidak sekadar sebagai penerima bantuan pasif, melainkan sebagai subjek pembangunan yang berdaya, mandiri, dan siap menjadi generasi penerus umat. Implementasi dari strategi ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan dan pengembangan yang dilaksanakan secara terjadwal, terstruktur, dan disesuaikan dengan kapasitas sumber daya yang dimiliki lembaga. Berikut adalah uraian masing-masing kegiatan yang dilakukan FORKIS dalam rangka merealisasikan strategi pemberdayaan anak yatim Pembinaan Tilawah dan Pengajaran Al-QurAoan STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 182 Pembinaan tilawah dan pengajaran Al-QurAoan menjadi strategi fundamental FORKIS dalam memberdayakan anak yatim. Kegiatan rutin setiap Selasa ini tidak sekadar mengajarkan teknis membaca huruf Arab, tetapi juga menanamkan akhlak, kedekatan spiritual, dan pembentukan karakter melalui penguasaan tajwid, makhraj, dan adab membaca. Program dirancang melalui perencanaan partisipatif mulai dari identifikasi kebutuhan anak, diskusi lintas bidang, pelibatan tokoh masyarakat dan wali anak, hingga penyusunan jadwal, pembagian tugas, dan evaluasi berkala. Anak dibagi sesuai kemampuan, diberi target pembelajaran, dan dipantau perkembangannya secara terukur. Landasan program berpijak pada visi FORKIS untuk mencetak generasi beriman dan berilmu, dengan rujukan ayat-ayat Al-QurAoan yang menekankan kepedulian pada anak yatim. Melalui pendekatan ini, pembinaan tilawah berfungsi ganda sebagai sarana transfer ilmu dan pembinaan spiritual, sekaligus membangun kedisiplinan, rasa percaya diri, dan ketahanan moral anak-anak yatim binaan. Pembelajaran Fikih dan Akhlak Pembelajaran fikih dan akhlak merupakan bagian penting dari strategi pemberdayaan anak yatim yang diterapkan FORKIS. Program ini dijalankan secara rutin setiap Rabu dan Kamis sebagai kelanjutan dari pembinaan tilawah Al-QurAoan, dengan tujuan menanamkan nilai-nilai keislaman yang bersifat normatif sekaligus aplikatif. Fikih diajarkan secara bertahap mulai dari pemahaman dasar hingga penerapan praktis, mencakup ibadah harian seperti wudhu, shalat, puasa, dan zakat, serta fikih muamalah sesuai usia anak. Pembelajaran akhlak menekankan pembiasaan dan keteladanan, menginternalisasi nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat melalui interaksi sehari-hari. Sistem pembelajaran dirancang tematik, partisipatif, dan berbasis pengalaman, disesuaikan dengan tingkat usia dan kemampuan anak. Metode yang digunakan mencakup penjelasan, bercerita, praktik langsung, simulasi, dan bermain peran untuk memastikan anak memahami sekaligus mempraktikkan nilai yang dipelajari. Hasilnya terlihat dari perubahan perilaku nyata seperti meningkatnya sikap jujur, menghormati orang tua, dan membiasakan adab dalam pergaulan. Dengan pendekatan ini. FORKIS tidak hanya membekali anak yatim dengan ilmu agama, tetapi juga membentuk kepribadian mereka agar tumbuh menjadi individu yang beriman, mandiri, dan berakhlak mulia. Pelatihan Hadroh Pelatihan hadroh menjadi salah satu strategi pemberdayaan anak yatim yang dijalankan FORKIS untuk mengembangkan seni, mental, dan spiritual anak binaan. Berbeda dengan pembinaan agama yang bersifat kognitif, hadroh memberi ruang ekspresi kreatif dan menyenangkan melalui musik rebana dan lantunan shalawat. Kegiatan yang rutin dilakukan dua minggu sekali ini tidak hanya melatih keterampilan teknis memainkan alat musik, tetapi juga menghafal lirik, memahami makna syair, serta membangun kekompakan tim. Anak-anak belajar disiplin, percaya diri, dan kerja sama, sekaligus menginternalisasi nilai keislaman secara atraktif. Metode pembelajaran menggabungkan praktik langsung, kerja kelompok, dan bimbingan personal sesuai kemampuan masing-masing anak. Pendekatan ini dipilih karena FORKIS melihat pentingnya pembinaan yang menyentuh aspek spiritual, karakter, keterampilan, dan sosial secara Bagi anak yatim yang rentan kehilangan arah dan rasa percaya diri, hadroh menjadi media efektif untuk menyalurkan ekspresi diri, memperkuat identitas keislaman, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas. Hasilnya, anak-anak menunjukkan peningkatan keberanian tampil, keterampilan komunikasi, dan kedisiplinan, sambil tetap mencintai budaya Islam melalui seni. Latihan Silat Latihan silat merupakan salah satu strategi pemberdayaan anak yatim yang dijalankan FORKIS untuk membentuk kepribadian yang tangguh, berani, dan disiplin. Program ini menjadi pelengkap pembinaan spiritual dan intelektual, sekaligus menguatkan aspek fisik dan mental agar 183 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 anak-anak tumbuh sebagai individu yang kuat secara jasmani dan rohani. Kegiatan yang dijadwalkan satu hingga dua kali sebulan ini mengajarkan teknik bela diri, nilai-nilai kedisiplinan, keberanian, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap guru dan teman. Selain menjaga kebugaran tubuh dan meningkatkan daya tahan, silat menjadi sarana penyaluran energi positif, membangun rasa percaya diri, dan melatih kemampuan membela diri secara bertanggung jawab. Pendekatan ini juga melestarikan warisan budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam, menanamkan sikap ksatria, pengendalian diri, dan kehormatan. Meskipun program ini masih relatif baru dan intensitasnya belum maksimal. FORKIS berkomitmen mengembangkannya menjadi bagian integral dari pembinaan jangka panjang untuk membentuk generasi yatim yang berakhlak, sehat, dan siap menghadapi tantangan hidup. Al-QurAoan Camp Al-QurAoan Camp merupakan salah satu program unggulan FORKIS yang dilaksanakan secara tahunan dengan pendekatan intensif untuk memperkuat pembinaan spiritual dan karakter anak yatim. Berbeda dengan kegiatan mingguan seperti tilawah atau kajian fikih, program ini berlangsung penuh selama beberapa hari dan dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca serta menghafal Al-QurAoan, membentuk adab islami, menanamkan kedisiplinan, dan melatih kemandirian. Kegiatan yang diisi dengan tahsin dan tahfiz Al-QurAoan, shalat berjamaah, pembinaan kebersihan diri dan lingkungan, motivasi keagamaan, permainan edukatif, serta refleksi malam muhasabah ini berhasil menyentuh sisi emosional anak, menumbuhkan kesadaran diri, serta mempererat ukhuwah antar peserta. Hasilnya, banyak anak menunjukkan perubahan positif seperti lebih rajin membaca AlQurAoan, disiplin bangun subuh, patuh pada orang tua, dan lebih percaya diri. Meski dilaksanakan setahun sekali, dampaknya berlanjut melalui pembinaan mingguan, menjadikan Al-QurAoan Camp sebagai strategi efektif yang menggabungkan pendidikan spiritual, pembinaan karakter, dan penguatan sosial dalam satu rangkaian kegiatan yang hangat, edukatif, dan membangun rasa memiliki terhadap komunitas. Santunan Anak Yatim berupa Uang Saku Program pemberian uang saku FORKIS dirancang sebagai strategi pemberdayaan yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga edukatif dan motivasional. Bantuan ini diberikan secara rutin dengan mempertimbangkan kedisiplinan dan partisipasi aktif anak yatim dalam kegiatan pembinaan, seperti tilawah, fikih, akhlak, hadroh, dan lainnya, yang dijadwalkan minimal 12 kali per bulan. Mekanisme ini menanamkan nilai bahwa setiap hak harus seimbang dengan tanggung jawab, sehingga anak-anak belajar tentang komitmen, disiplin, dan konsekuensi dari Pendanaan program berasal dari donasi masyarakat yang dikelola secara transparan, menjadikan FORKIS sebagai penghubung antara niat baik donatur dan kebutuhan nyata anak yatim. Dampak program terlihat tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan harian, tetapi juga pada pembentukan karakter, rasa tanggung jawab, empati terhadap keluarga, serta motivasi untuk terlibat aktif. Anak-anak menggunakan uang saku secara bijak, seperti membantu orang tua atau membeli perlengkapan sekolah, menunjukkan bahwa program ini berhasil menggabungkan bantuan ekonomi dengan pembinaan mental dan moral secara berkelanjutan. Fasilitas Kesehatan Fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dari strategi FORKIS dalam memberdayakan anak yatim, memastikan pembinaan mencakup aspek pendidikan, spiritual, sosial, dan fisik. Ketua FORKIS. Aat, menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan pemerintah dalam berbagai kegiatan sosial dan saat ini mengusulkan pengadaan ambulans untuk mendukung misi sosial yang STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 184 lebih luas, seperti layanan fardhu kifayah dan logistik program binaan. Ambulans tersebut direncanakan tidak hanya untuk keperluan pemakaman, tetapi juga mengantar anak sakit ke rumah sakit serta memfasilitasi kegiatan edukasi dan sosial di luar ruangan. Walaupun masih tahap pengusulan, inisiatif ini mencerminkan perencanaan strategis FORKIS dalam memperkuat infrastruktur operasional melalui kemitraan pemerintah, sekaligus meningkatkan respons cepat terhadap keadaan darurat kesehatan. Keberhasilan FORKIS juga terlihat dari mantan anak binaannya yang kini mandiri dan Saiful, yang dibesarkan di bawah pembinaan FORKIS, tumbuh tangguh melalui pembelajaran agama, bela diri, pelatihan keterampilan, dan pembinaan akhlak, hingga kini memiliki usaha persewaan tenda di Bekasi dan membuka peluang kerja bagi orang lain. Mega berhasil menjadi kepala divisi garmen di sebuah pabrik besar di Karawang, memimpin tim produksi dan mengawasi kualitas, berkat disiplin dan etos kerja yang dibentuk selama pembinaan. Dea, yang kini bekerja sebagai staf administrasi di PT. Kramayuda, juga meraih kemandirian berkat pendidikan agama, pembinaan karakter, dan pelatihan keterampilan yang diterimanya. Kisah Saiful. Mega, dan Dea menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan FORKIS melampaui bantuan materi, dengan fokus membentuk individu yang tangguh, mandiri, dan Melalui pendekatan berbasis komunitas yang berkelanjutan. FORKIS membuktikan bahwa anak yatim bukanlah beban masyarakat, melainkan aset berharga yang dapat menjadi pemimpin dan agen perubahan positif. Pembahasan Forum Komunikasi Islamiyah (FORKIS) telah menjalankan peran sosial keagamaannya melalui program pemberdayaan anak yatim yang dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan di Kelurahan Kota Baru. Kecamatan Bekasi Barat. Strategi yang diterapkan tidak hanya mencakup aspek keagamaan, tetapi juga menyentuh dimensi pendidikan, pembinaan karakter, penguatan mental, dan rencana pemberdayaan ekonomi. Pendekatan yang digunakan FORKIS ini ternyata sejalan dengan gagasan Teologi Al-MyAoyn, sebuah kerangka teologis sosial yang dicetuskan oleh KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang berakar pada pemahaman mendalam terhadap Surah Al-MyAoyn dalam Al-QurAoan, yaitu: 13 ao a a a aAyOaE aO EO aI E aIEA ao a ca Ay A EaE Eac aO OA a a AO Eac aO O aE a aA AOA AIA AEA AEA AEA AOA AOA a AyA AOA a a e a a AEOe aIA e e e a a a ca a a A EeOaeO aIA a e AAEA a a U ea a a e a e a aa ao ao aa AyEac aOI NI IA AyA Ay aOaOaeIaa eO aI Ee aIa eO a nIA AyEac aOe aI aN eI OaeO aIA u AN eO aIA a aEa eI aA a e a ea ae AuTahukah kamu . yang mendustakan agama? . Itulah orang yang menghardik anak yatim . , dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin . Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat . , . yang lalai terhadap salatnya . , yang berbuat riya . , dan enggan . Ay. (QS. Al-MyAoyn: 1-. Teologi Al-MyAoyn menekankan bahwa keimanan yang benar harus tercermin dalam aksi nyata terhadap kaum lemah, khususnya anak yatim dan fakir miskin. Dalam Surah Al-MyAoyn. Allah mengecam mereka yang secara lahiriah menjalankan ibadah, namun mengabaikan nasib anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin. Kritik terhadap ritualistik keagamaan yang kosong dari nilai sosial ini menjadi pijakan bagi KH. Ahmad Dahlan dalam menyusun strategi daAowah yang transformatif dan membumi. Teologi ini menuntut bahwa iman tidak hanya vertikal . ubungan dengan Alla. tetapi juga horizontal . ubungan dengan sesama manusi. 14 Dalam konteks ini, strategi FORKIS sangat relevan dengan semangat Teologi Al-MyAoyn, karena program-program yang dijalankannya merupakan bentuk konkret dari daAowah bil hal yaitu daAowah melalui tindakan 13 Roni Tabroni. Islam Dan Media Mediasi Agama Dalam Ruang Publik (Literasi Nusantara Abadi, 2. , hal. 14 Roni Tabroni. Islam Dan Media Mediasi Agama Dalam Ruang Publik,Ahal. 185 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 Pendidikan Salah satu pilar paling fundamental dalam Teologi Al-MyAoyn yang dikembangkan oleh KH. Ahmad Dahlan adalah pembebasan dari kebodohan, yang dijalankan melalui jalan pendidikan sebagai sarana pencerahan dan pemberdayaan umat. KH. Ahmad Dahlan melihat bahwa kebodohan merupakan bentuk lain dari penindasan yang sangat merusak, karena ia membuat seseorang tetap berada dalam ketertinggalan, ketergantungan, dan ketidakberdayaan. Oleh sebab itu, beliau menekankan pentingnya menjadikan pendidikan sebagai jantung dari daAowah sosial, agar setiap individu Muslim terutama mereka yang berasal dari kelompok marginal seperti anak yatim dan fakir miskin, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam masyarakat. Dalam konteks ini, strategi FORKIS dalam pemberdayaan anak yatim sangat selaras dengan semangat Teologi Al-MyAoyn, khususnya dalam pilar pendidikan. FORKIS tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi secara aktif merancang dan menyelenggarakan program pendidikan berbasis keagamaan yang sistematis dan berkesinambungan. Program tersebut Pembinaan Tilawah dan Pengajaran Al-QurAoan Dalam perspektif Teologi Al-MyAoyn, pembinaan keagamaan terhadap anak yatim bukan hanya merupakan bentuk pendidikan spiritual, tetapi juga bagian dari pelayanan sosial yang menegaskan keimanan melalui aksi nyata. Pembinaan Tilawah dan Pengajaran Al-QurAoan menjadi langkah awal dalam membekali anak yatim dengan kemampuan membaca AlQurAoan secara tartil serta memahami kandungannya. Hal ini sejalan dengan prinsip Teologi Al-MyAoyn yang menolak keberagamaan yang hanya bersifat ritualistik, dan mendorong pendidikan QurAoani sebagai dasar kemandirian spiritual dan intelektual anak-anak yang Pembelajaran Fikih dan Akhlak Pembelajaran Fikih dan Akhlak memiliki peran penting dalam menanamkan pemahaman hukum-hukum Islam sekaligus membentuk akhlak mulia. Program ini memperkuat nilainilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati yang merupakan cerminan dari semangat sosial dalam Teologi Al-MyAoyn. Pendidikan ini menjadi upaya mencetak anak yatim sebagai generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter mulia dalam bermasyarakat. Pelatihan Hadroh Pelatihan Hadroh, sebagai bagian dari seni Islami, memiliki nilai edukatif dan sosial yang Selain mengembangkan kreativitas, hadroh juga menanamkan kedisiplinan, kerja sama, dan rasa percaya diri. Dalam konteks Teologi Al-MyAoyn, ini merupakan bentuk pelayanan sosial yang mendorong ekspresi positif anak yatim melalui media yang religius dan menyenangkan, sebagai alternatif dari lingkungan pergaulan yang rawan pengaruh Latihan Silat Latihan Silat tidak hanya mengasah kemampuan fisik, tetapi juga menanamkan jiwa tangguh, kesopanan, dan rasa tanggung jawab. Dalam kerangka Teologi Al-MyAoyn, silat menjadi sarana membangun kemandirian dan ketahanan mental anak yatim agar mampu menghadapi tantangan kehidupan, sekaligus mempererat solidaritas dan ukhuwah antar sesama binaan. Al-QurAoan Camp Al-QurAoan Camp merupakan bentuk pembinaan intensif yang menggabungkan nilai spiritual, pendidikan karakter, dan suasana kebersamaan. Program ini tidak hanya meningkatkan hafalan dan pemahaman Al-QurAoan, tetapi juga menjadi ajang pembentukan 15 Ibid. STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 186 pribadi yang religius, tangguh, dan berwawasan luas. Al-QurAoan Camp mencerminkan penerapan langsung Teologi Al-MyAoyn, di mana keberagamaan diwujudkan dalam bentuk aksi nyata yang menyentuh sisi spiritual dan sosial anak yatim secara menyeluruh. Pendekatan pendidikan yang dilakukan FORKIS juga mendorong kedisiplinan, tanggung jawab, serta keterlibatan aktif anak-anak dalam setiap kegiatan. Program ini membentuk mereka agar tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan subjek dari proses pembinaan, yakni sebagai pribadi yang dilatih untuk mampu memimpin dirinya sendiri dan berperan aktif dalam Dengan demikian. FORKIS secara perlahan namun pasti melakukan kaderisasi umat melalui pembinaan anak yatim, yang berpotensi menjadi generasi pemimpin masa depan yang beriman, berilmu, dan berakhlak. Hal ini sangat sejalan dengan pemikiran KH. Ahmad Dahlan bahwa agama tidak hanya harus menyentuh ruang-ruang ibadah ritual, tetapi juga harus hadir di tengah problem sosial, termasuk kebodohan dan ketertinggalan. Dalam tafsir sosialnya terhadap Surah Al-MyAoyn. KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa mendustakan agama tidak hanya terjadi saat seseorang meninggalkan salat, tetapi juga ketika seseorang abai terhadap nasib kaum lemah dan tidak memberikan akses pendidikan yang layak bagi mereka. 16 Maka, apa yang dilakukan FORKIS melalui program-program pendidikannya adalah implementasi langsung dari daAowah transformatif berbasis Teologi Al-MyAoyn, yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen perubahan sosial dan pemberdayaan umat secara nyata. Pelayanan Sosial Salah satu aspek paling menonjol dari Teologi Al-MyAoyn adalah penekanan terhadap pentingnya pelayanan sosial sebagai bagian integral dari keimanan seorang Muslim. Dalam pemikiran KH. Ahmad Dahlan, sebagaimana tergambar dalam tafsir sosialnya terhadap Surah AlMyAoyn, seseorang dapat dikategorikan mendustakan agama bukan karena meninggalkan ibadah ritual semata, tetapi karena mengabaikan hak-hak sosial kelompok lemah, terutama anak yatim dan fakir miskin. Oleh karena itu, pelayanan sosial bukan hanya wujud dari amal kebaikan, tetapi juga merupakan indikator spiritualitas yang sejati, di mana iman kepada Allah dibuktikan melalui kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks ini. FORKIS telah menunjukkan implementasi yang nyata dan konsisten dari nilai-nilai pelayanan sosial sebagaimana dianjurkan oleh Teologi Al-MyAoyn. Lembaga ini tidak hanya menjalankan fungsi daAowah secara tekstual, tetapi juga menghadirkan aksi sosial yang konkret, menyentuh langsung kebutuhan anak-anak yatim yang menjadi binaannya. Program tersebut meliputi: Pemberian Uang Saku Salah satu bentuk pelayanan sosial yang sangat strategis adalah program pemberian uang saku, yang diberikan berdasarkan kehadiran dan kedisiplinan anak dalam mengikuti kegiatan pembinaan. Skema ini bukan hanya menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan ekonomi anak-anak, tetapi juga menjadi sarana edukatif untuk membentuk tanggung jawab, etos kerja, dan kemandirian sejak dini. FORKIS tidak hanya memberi, tetapi juga mendidik. Latihan Silat Latihan silat yang diselenggarakan FORKIS tidak hanya dimaknai sebagai olahraga fisik semata, tetapi merupakan bagian dari pelayanan sosial yang berorientasi pada pembinaan mental dan karakter anak yatim. Dalam perspektif Teologi Al-MyAoyn, pelayanan sosial harus mencakup upaya untuk mengangkat martabat dan keberdayaan kaum lemah, termasuk dengan membentuk generasi yang berani, percaya diri, serta mampu menjaga diri dan Melalui latihan silat, anak-anak yatim dibimbing untuk memiliki kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan solidaritas sosial, yang kesemuanya adalah nilai-nilai 16 Roni Tabroni. Islam Dan Media Mediasi Agama Dalam Ruang Publik,Ahal. 17 Ibid. 187 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 penting dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah interaksi sosial yang positif, menghindarkan mereka dari lingkungan pergaulan yang negatif, serta menciptakan rasa memiliki dalam komunitas binaan FORKIS. Al-QurAoan Camp Program Al-QurAoan Camp merupakan salah satu bentuk pelayanan sosial transformatif yang dijalankan FORKIS, sejalan dengan semangat Teologi Al-MyAoyn yang menekankan keterlibatan langsung dalam pembinaan kaum dhuafa dan yatim. Kegiatan ini menciptakan ruang pembelajaran intensif dalam suasana kekeluargaan, memberikan perhatian emosional dan spiritual kepada anak yatim secara lebih dalam. Tidak hanya berfokus pada aspek hafalan dan tilawah. Al-QurAoan Camp juga mendidik anak-anak dalam pembentukan karakter, kedisiplinan, dan ukhuwah Islamiyah. Kehadiran program ini menjadi sarana untuk mengisi kekosongan psikologis akibat kehilangan orang tua, serta sebagai bentuk nyata kepedulian sosial yang mendampingi dan membina anak-anak dalam suasana yang aman, terarah, dan penuh kasih sayang. Fasilitas kesehatan Bentuk lain dari pelayanan sosial yang sedang diupayakan FORKIS adalah pengadaan mobil ambulans, yang masih dalam tahap pengajuan kepada pihak pemerintah. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat mobilitas kegiatan sosial, termasuk mendukung layanan fardhu kifayah serta keperluan anak-anak binaan yang membutuhkan akses kesehatan. Walaupun belum terealisasi, langkah ini menunjukkan bahwa FORKIS memahami pentingnya infrastruktur sosial dalam menunjang pelayanan kepada masyarakat rentan. Upaya ini juga mencerminkan semangat Teologi Al-MyAoyn dalam menanggapi kebutuhan riil umat dengan solusi nyata yang sistemik. Pelatihan Hadroh Pelatihan hadroh yang dilaksanakan oleh FORKIS merupakan bentuk pelayanan sosial yang membina bakat seni anak-anak yatim dalam suasana yang religius dan penuh Teologi Al-MyAoyn menekankan pentingnya kepedulian terhadap kebutuhan sosial dan emosional kaum marginal, tidak hanya dalam bentuk material, tetapi juga dalam menciptakan ruang partisipatif bagi mereka untuk berkembang. Hadroh sebagai kesenian Islam tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai spiritual, mengembangkan keterampilan kerja sama, serta menyalurkan ekspresi diri secara positif. Kegiatan ini mencerminkan kepedulian FORKIS terhadap tumbuh kembang jiwa sosial anak yatim, sekaligus menjadi bentuk daAowah bil hal yang menyentuh langsung sisi emosional dan kebudayaan anak-anak. Namun demikian, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah, shalawat kepada Nabi SAW adalah bentuk ibadah agung yang memiliki keutamaan besar. Namun, karena ia termasuk dzikir dan ibadah, maka harus dilaksanakan sesuai bimbingan syariat . dan bukan sekadar berdasarkan semangat emosional atau tradisi yang berkembang. Shalawat yang disyariatkan adalah yang diajarkan langsung oleh Nabi SAW kepada para sahabatnya, seperti shalawat Ibrahimiyyah yang diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih. Sebaliknya, shalawat yang tidak disyariatkan baik karena berasal dari hadits palsu, buatan tokoh sufi, atau disertai ritual-ritual tambahan yang tidak berdasar dalil tergolong sebagai bidAoah, dan pelakunya terancam melakukan ibadah yang tertolak. Hadroh adalah bentuk seni islami yang umumnya menggabungkan syair pujian kepada Nabi SAW . asidah atau shalawa. dengan alat musik seperti rebana, dan seringkali dilakukan secara berkelompok dengan irama dan penampilan tertentu. Inilah yang menimbulkan perbedaan pandangan di kalangan ulama. Berdasarkan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam asy18 Ammi Nur Baits. Hukum Shalawat Diiringi Rebana. Diakses pada Tanggal 29 Juni 2025. STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 188 SyafiAoi. Imam Ahmad. Imam Ibnu Taimiyah, dan lainnya, penggunaan alat musik . ermasuk rebana yang dilagukan dalam acara-acara dzikir atau shalawa. yang menyerupai praktik Sufi seperti taghbiir, tari, dan nyanyian berirama dinilai sebagai perbuatan bidAoah yang menyimpang, bahkan oleh sebagian dinilai menyerupai perbuatan kaum musyrik terdahulu. Imam asy-SyafiAoi bahkan menyebut taghbiir sebagai perbuatan Zanadiqah yang menghalangi manusia dari Al-QurAoan. Lebih jauh lagi, berdzikir atau bershalawat secara berjamaah dengan suara keras serta menentukan waktu, tempat, dan bentuk tertentu yang tidak diajarkan oleh Nabi SAW, juga termasuk dalam larangan. Firman Allah dalam QS. Al-AAoraf ayat 205, yaitu: AOA a AE aA Ia eA aA a caOe aE acA a aAE A a a aE aOaEaa aEI I aI EeaAEA a Aac U aO eAOaU aO aO aI ea eN aI aI Ee aC eOE aEea a aO aOeEA AuDan dzikirlah . ngatlah, sebutlah nam. Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Ay (QS. Al-AAoraf: . Ibnu Katsir berkata. AuOleh karena itulah. Allah berfirmanAy. AaO aO aI ea eN aaI aI Ee aC eOaEA . an dengan tidak mengeraskan suar. , demikianlah, dzikir itu disukai tidak dengan seruan yang keras Ay Al-Qurthubi berkata. AuIni menunjukkan bahwa meninggikan suara dalam berdzikir . terlarangAy. Kegiatan hadroh oleh FORKIS sebagai media pemberdayaan anak yatim tentu memiliki tujuan mulia. Namun, niat baik ini tidak membenarkan metode yang keliru, jika ternyata dalam praktiknya terdapat bentuk-bentuk shalawat yang tidak disyariatkan, pementasan dengan musik yang menyerupai kebiasaan Sufi yang bidAoah, atau ritual berjamaah dan suara keras dalam berdzikir. Seluruh program pelayanan sosial yang dijalankan oleh FORKIS mencerminkan bahwa pendekatan yang digunakan tidak sekadar bersifat sesaat, tetapi juga bersifat transformatif. Artinya, pelayanan yang diberikan tidak hanya bertujuan untuk meringankan beban sesaat anak-anak yatim, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian, kepercayaan diri, dan kemampuan anakanak untuk bangkit dan berkontribusi dalam masyarakat. Konsep pelayanan sosial yang demikian sangat selaras dengan pemikiran KH. Ahmad Dahlan, bahwa iman sejati harus diekspresikan dalam bentuk tindakan nyata yang dapat mengubah keadaan dari yang lemah menjadi kuat, dari yang bergantung menjadi mandiri, dari yang tertinggal menjadi mampu memimpin. Kesehatan Dalam perspektif Teologi Al-MyAoyn sebagaimana diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan, pelayanan kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab sosial yang tidak terpisahkan dari keimanan seorang Muslim. Surah Al-MyAoyn secara tegas mencela orang-orang yang secara lahiriah tampak beragama, tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk mereka yang sakit, miskin, dan terpinggirkan. Oleh karena itu, memberikan akses kesehatan yang layak bagi masyarakat dhuafa, termasuk anak-anak yatim, adalah bagian dari daAowah yang aplikatif dan bermakna. DaAowah bukan hanya berbicara tentang ibadah ritual atau lisan, tetapi juga harus hadir dalam bentuk pelayanan sosial yang menyentuh langsung kehidupan umat, termasuk dalam hal kesehatan. Dalam penelitian ini, strategi FORKIS menunjukkan adanya kesadaran yang kuat terhadap pentingnya aspek kesehatan sebagai bagian dari pemberdayaan. Program tersebut meliputi: Latihan silat Latihan Silat yang dilakukan oleh FORKIS berfungsi sebagai bentuk nyata perhatian terhadap kesehatan fisik anak-anak yatim. Kegiatan ini melatih kebugaran tubuh, kelincahan, 19 Ibid. 20 Al-Qurthubi. Al-JamiAo Li Ahkam Al-QurAoan. Juz 7 (Beirut: Dar al-Kutub al-AoIlmiyya. , h. 21 Roni Tabroni. Islam Dan Media Mediasi Agama Dalam Ruang Publik,Ahal. 189 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 dan daya tahan, sekaligus menanamkan kedisiplinan hidup sehat. Latihan silat juga membentuk kontrol diri dan membentengi anak-anak dari gaya hidup sedentari serta kebiasaan yang merusak kesehatan, menjadikannya sarana pembinaan jasmani yang menyatu dengan nilai-nilai moral dan keislaman. Al-QurAoan Camp Al-QurAoan Camp tidak hanya berfungsi sebagai wadah pendidikan QurAoani, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental dan ketahanan psikologis anak yatim. Dalam suasana yang tenang, religius, dan penuh kasih sayang, anak-anak mendapatkan ruang untuk melepas tekanan batin, menumbuhkan rasa tenang, serta memperkuat kepercayaan diri. Lingkungan yang QurAoani dan terstruktur ini membangun suasana positif yang secara langsung berkontribusi terhadap kesehatan jiwa mereka. Dalam Teologi Al-MyAoyn, tindakan memperhatikan kebutuhan emosional dan mental anak-anak yatim merupakan bentuk nyata dari kepedulian sosial, sekaligus pengamalan iman dalam bentuk menjaga kehormatan dan kesejahteraan anak secara menyeluruh. Fasilitas kesehatan Meskipun hingga saat ini FORKIS belum memiliki fasilitas kesehatan permanen seperti klinik atau pos layanan medis sendiri, namun inisiatif pengajuan bantuan mobil ambulans kepada pemerintah menjadi indikator nyata bahwa lembaga ini sedang melakukan perintisan infrastruktur sosial Islami di bidang kesehatan. Langkah ini mencerminkan pemahaman FORKIS bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar pelengkap dari program daAowah, tetapi justru merupakan komponen yang integral dalam menciptakan kesejahteraan umat, sebagaimana digariskan oleh Teologi Al-MyAoyn. Rencana pengadaan ambulans ini bukan semata ditujukan untuk mendukung layanan fardhu kifayah, seperti penanganan jenazah, tetapi juga memiliki fungsi yang lebih luas dan Ambulans tersebut direncanakan untuk digunakan dalam mobilisasi kegiatan anakanak binaan FORKIS, seperti saat ada yang sakit dan perlu diantar ke fasilitas medis, saat anakanak membutuhkan pendampingan dalam kondisi darurat, atau untuk mendukung logistik dalam berbagai aktivitas sosial FORKIS. Dengan kata lain, ambulans ini menjadi sarana operasional yang multifungsi, yang memungkinkan FORKIS memberikan respon cepat terhadap kebutuhan kesehatan anak-anak yatim dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Usaha pengadaan ambulans ini juga mencerminkan bagaimana FORKIS memahami pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan pemerintah. Dalam kerangka Teologi Al-MyAoyn, daAowah sosial bukanlah tugas eksklusif individu atau ormas keagamaan saja, melainkan merupakan kerja kolektif umat dan negara. Dengan menjalin sinergi melalui pengajuan bantuan ke pemerintah. FORKIS telah membuka jalan untuk memperkuat infrastruktur daAowah sosial Islam yang berkelanjutan, profesional, dan berbasis kebutuhan nyata Dengan demikian, meskipun pengadaan ambulans ini masih berada dalam tahap perencanaan dan pengajuan, namun secara ideologis dan strategis, langkah ini telah mengukuhkan posisi FORKIS sebagai lembaga yang tidak hanya peduli pada aspek pendidikan dan spiritual, tetapi juga mempunyai kepedulian tinggi terhadap aspek kesehatan sebagai bagian dari pelayanan daAowah yang menyeluruh. Dalam kerangka Teologi Al-MyAoyn, ini adalah implementasi konkret dari seruan Al-QurAoan untuk menaruh perhatian serius pada kelompokkelompok rentan yang membutuhkan perlindungan, pelayanan, dan dukungan secara nyata. Maka FORKIS, melalui langkah ini, tengah menapaki jalur daAowah yang lebih utuh dan membumi yakni daAowah yang tidak hanya menyentuh akal dan hati, tetapi juga menjawab kebutuhan fisik dan sosial umat secara langsung. Berikut merupakan kegiatan pemberdayaan anak yatim oleh FORKIS Bekasi beserta korelasi masing-masing kegiatan dengan Teori Teologi Al-MyAoyn, yaitu: Tabel 1. Kegiatan Pemberdayaan Anak Yatim oleh FORKIS Berdasarkan Teori Teologi Al-MyAoyn STRATEGI FORUM KOMUNIKASI | 190 No. Kegiatan Pemberdayaan Pembinaan Tilawah Pengajaran AlQurAoan Pembelajaran Fikih dan Akhlak Pelatihan Hadroh Latihan Silat Al-QurAoan Camp Pemberian Saku Uang Upaya Fasilitas Kesehatan (Ambulan. Tujuan Kegiatan Aspek Teologi Korelasi dengan Teologi Al-MyAoyn Meningkatkan AlQurAoan, karakter Islami sejak Memberikan pemahaman tentang syariat Islam dan akhlak mulia dalam kehidupan seharihari Menanamkan rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW, kepercayaan diri dan kerja sama Membentuk Pendidikan Sesuai dengan semangat Teologi AlMyAoyn dalam membebaskan anak yatim dari kebodohan melalui pendidikan agama sebagai bentuk pelayanan sosial yang membina secara ruhani dan moral Pendidikan Pelayanan Mewujudkan nilai akhlak sosial Islami seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian social, ajaran utama dalam Surah Al-MyAoyn agar tidak hanya menjalankan ibadah ritual, tapi juga berakhlak sosial Pendidikan Pelayanan Pendidikan Pelayanan Kesehatan Mengintensifkan AlQurAoan, pembentukan adab dan kebiasaan Islami Memberikan dukungan ekonomi tanggung jawab dan Menjamin Dapat menjadi bentuk daAowah bil-hal jika dibimbing sesuai syariat. perlu hatihati agar tidak terjerumus dalam bidAoah, namun secara sosial mendekati konsep penguatan emosional dan penghiburan anak yatim dalam Teologi Al-MyAoyn Merupakan bentuk pembinaan karakter tangguh, yang mendukung aspek perlindungan dan pemberdayaan anak yatim, sejalan dengan nilai teologi AlMyAoyn dalam menguatkan kaum lemah agar berdaya dan mandiri Kegiatan pembinaan intensif ini mencerminkan pendekatan daAowah yang transformatif dan menyeluruh, sebagai bentuk konkret dari seruan Surah Al-MyAoyn untuk membina dan tidak mengabaikan anak yatim Merupakan implementasi pelayanan sosial Islam terhadap anak yatim, namun dilakukan dengan pendekatan keadilan dan tanggung jawab sosial dalam Teologi Al-MyAoyn Mewakili perhatian nyata terhadap aspek kesejahteraan fisik anak yatim, menunjukkan bahwa daAowah tidak hanya ritualistik, tetapi juga merespon kebutuhan riil sebagaimana amanat Surah Al-MyAoyn ayat 3 dan 7 Al-MyAoyn Pendidikan Pelayanan Kesehatan Pelayanan Pelayanan Kesehatan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa FORKIS tidak hanya bergerak dalam ranah daAowah lisan, tetapi juga telah melaksanakan daAowah bil hal yang bersifat praksis, transformatif, dan menyentuh kebutuhan konkret umat, khususnya anak-anak yatim. Seluruh program yang dijalankan memiliki keterkaitan erat dengan prinsip-prinsip Teologi AlMyAoyn. Dalam aspek pendidikan, kegiatan seperti pembinaan tilawah dan pengajaran Al-QurAoan, pembelajaran fikih dan akhlak, pelatihan hadroh, latihan silat, serta Al-QurAoan Camp menjadi wujud konkret upaya membebaskan anak yatim dari kebodohan dan membina mereka menjadi pribadi berilmu, berakhlak, serta berdaya saing. 191 | Bina Ummat | Vol 8 | No. 2 | 2025 Pada aspek pelayanan sosial, kegiatan seperti pembelajaran akhlak, hadroh, silat. Al-QurAoan Camp, serta pemberian uang saku dan penyediaan ambulans mencerminkan kepedulian terhadap kesejahteraan sosial dan emosional anak yatim, selaras dengan nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan empati sosial yang diajarkan dalam Surah Al-MyAoyn. Sementara itu, dalam aspek kesehatan, program latihan silat. Al-QurAoan Camp . alam konteks kesehatan menta. , serta pengadaan fasilitas ambulans menjadi bentuk perhatian terhadap perlindungan fisik dan kesehatan anak yatim. DAFTAR PUSTAKA Al-Qurthubi. Al-JamiAo Li Ahkam Al-QurAoan. Juz 7 : Dar al-Kutub al-AoIlmiyyah Anwar & Muhammad Ali . AoAnak Yatim Dalam Presfektif Ad Duhaa 6-9 (Studi Komparatif Kitab Tafsir Ibnu Katsir. Al Misbah Dan Al Azha. Ao. Jurnal Ilmiah Innovative (Jurnal Pemikiran Dan Penelitia. , 9 ,