ARTIKEL PENELITIAN PENGARUH TERAPI BERMAIN DAKON TERHADAP STATUS KOGNITIF LANSIA HIPERTENSI DI PUSKESMAS SUMBANG 1 THE EFFECT OF DAKON PLAY THERAPY TOWARDS COGNITIVE STATUS OF ELDELY WITH HYPERTENSION AT THE PUBLIC HEALTH CENTER, SUMBANG 1 Siska Dewi Oktaviani1, Siti Haniyah2, Wasis Eko Kurniawan3 1,2,3 Program Studi Keperawatan, Universitas Harapan Bangsa E-mail: siskaokta2000@gmail.com ABSTRAK Latar belakang: Lansia merupakan proses penuaan ditandai dengan adanya penurunan daya tahan fisik, dan rentang mengalami kesehatan. Pertumbuhan penduduk lansia diberbagai wilayah akan menimbulkan berbagai masalah fungsional seperti penurunan tingkat kognitif dan penyakit hipertensi. Hal ini akan terlihat pada lansia yang mengalami gangguan orientasi, perhatian, konsentrasi, berpikir, mengingat dan bahasa serta gangguan pengetahuan seperti masalah proses berhitung, berkomunikasi, dan dalam memecahkan suatu masalah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pegaruh terapi bermain dakon terhadap fungsi kognitif lansia hipertensidi wilayah Puskesmas Sumbang 1. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan pendeketan pre-eksperiment one group pre-testpostest dengan jumlah responden sebanyak 28 lansia yang mengalami hipertensi, pengukuran fungsi kognitif menggunakan instrument Mini Mental State Examination (MMSE) yang di lakukan sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain dakon. Hasil: penelitian ada perbedaan yang segnifikan dalam skor pretest dan posttest (p = 0,000). Diskusi: Pada penelitian terapi bermain dakon dapat meningkatkan status kognitif lansia hipertensi. Kata kunci: Hipertensi, Terapi Dakon, Tingkat Kognitif ABSTRACT Background: Elderly is an aging process characterized by a decrease in physical endurance, and the range of experiencing health. The growth of the elderly population in various regions will cause various functional problems such as cognitive decline and hypertension. This will be seen in the elderly who have impaired orientation, attention, concentration, thinking, remembering and language as well as knowledge disorders such as problems with counting, communicating, and solving problems. The purpose of this study was to determine the effect of playing dakon therapy on the cognitive function of the elderly with hypertension in the Sumbang 1 Public Health Center area. Method: This study uses an experimental research design with a pre-experimental one group pre-test-posttest approach with a number of respondents as many as 28 elderly people who have hypertension, measuring cognitive function using the Mini Mental State Examination (MMSE) instrument which is carried out before and after giving Dakon play therapy. Result: Showed that there was a significant difference in the pretest and posttest scores (p = 0.000).Discussion: In the study of dakon play therapy can improve the cognitive status of the hypertensive elderly. JURNAL SKOLASTIK KEPERAWATAN VOL. 8, NO. 2 Juli-Desember 2022 ISSN: 2443 – 0935 E-ISSN 2443 - 16990 Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 2 | Jul - Dec 2022 | 167 Pengaruh Terapi Bermain Dakon Terhadap Status Kognitif Lansia Hipertensi di Puskesmas Sumbang 1 Keywords: Cognitive Level, Dakon Therapy, Hypertension PENDAHULUAN Penduduk lanjut usia (lansia) secara biologis mengalami proses penuaan yang ditandai dengan penurunan daya tahan fisik, dan rentang mengalami kesehatan. Hal ini disebabkan karena degenerasi dari struktur sel, jaringan, dan sistem organ serta mempengaruhi fungsi normalnya. Proses penuaan pada manusia adalah proses yang tidak dapat dihindari, semakin tingginya pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat maka semakin tinggi pula usia harapan hidup (UHH) (Shokhifah, 2019) Menurut World Health Organization (WHO) (2018) menunjukan populasi lansia mencapai 901.000.000 jiwa atau 12% dari jumlah populasi keseluruhan. Populasi lansia terbanyak terdapat di wilayah Asia khususnya di negara Jepang dan Korea Selatan yang mencapai 4,22 miliar jiwa atau sebanyak 60% dari jumlah penduduk di dunia (UNESCAP, 2011). Indonesia menjadi salah satu negara bagian Asia Tenggara yang memiliki jumlah populasi lansia terbanyak mencapai 24,49 juta jiwa atau sekitar 9,27% dari jumlah keseluruhan populasi (Badan Pusat Statistik, 2018) Prevalensi lansia di Indonesia didominasi oleh lansia muda pada usia 60-69 tahun sebanyak 63,39%, kemudian oleh lansia menengah pada usia 70-79 tahun sebanyak 27,92 dan lansia pada usia 80 tahun ke atas Sebanyak 8,69%. (Pusat Statistik, 2018). Jumlah lansia terbanyak di Indonesia pada tahun 2018 tercatat di Provinsi Jawa Timur (3.173.263 jiwa), Jawa Tengah (2.933.346 jiwa), Jawa Barat (2.723.497 jiwa), Sumatera Utara (640.094 jiwa), dan Sulawesi Selatan (538.034 jiwa) (Pusdatin, 2018). Data tersebut menunjukkan banyaknya populasi lansia di Indonesia yang memerlukan perhatian khusus terhadap masalah kesehatan lansia (Badan Pusat Statistik, 2018) Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh penduduk berada pada Provinsi Jawa Tengah adalah hipertensi, Tercatat sebanyak 37,57% penduduk mengalami masalah kesehatan tersebut. Prevalensi hipertensi lebih tinggi pada perempuan (40,17%) dibanding pada laki-laki (34,83%). Prevalensi di perkotaan sedikit lebih tinggi (38,11%) dibandingkan di perdesaan (37,01%). Prevalensi meningkat seiring bertambahannya usia. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas tahun 2018 menunjukkan angka kejadian hipertensi sebanyak 61.518 kasus, dengan kejadian tertinggi sebanyak 11.943 kasus di wilayah Sumbang 1, kedua dengan 4.394 kasus di wilayah Gumelar, dan ketiga dengan 2.921 kasus di wilayah Baturraden 1 (Profil Kesehatan Banyumas, 2018) Pertumbuhan penduduk lansia diberbagai wilayah akan menimbulkan berbagai masalah fungsional seperti penurunan tingkat kognitif dan penyakit hipertensi (Fobia and Prasetya, 2017). Lansia dengan penurunan tingkat kognitif dan hipertensi mengakibatkan perubahan pada struktur dari fungsi otak dan organ lainnya yaitu pada hipotalamus. Hal ini akan terlihat pada lansia yang mengalami gangguan orientasi, perhatian, 168 | Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 1 | Jul - Dec 2022 Siska Dewi Oktaviani, Siti Haniyah, Wasis Eko Kurniawan konsentrasi, berpikir, mengingat dan bahasa serta gangguan pengetahuan seperti masalah proses berhitung, berkomunikasi, dan dalam memecahkan suatu masalah (Wahyuni and Nisa, 2016) 2019) Permainan memiliki efek merangsang pada memori dan komunikasi pada lansia, dapat mengubah fungsi hippocampus otak dan meningkatkan memori (Xue et al., 2021) Tingkat kognitif seseorang umumnya menurun secara normal seiring bertambahnya usia. Kognitif adalah bagian terbesar dari otak. Seiring bertambahnya usia sel-sel otak akan berkurang menyebabkan hilangnya memori dan kesulitan berkonsentrasi dan berkomunikasi. Secara umum, tingkat kognitif dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tekanan darah, penggunaan obat antihipertensi, obesitas, pekerjaan, merokok, durasi hipertensi dan kurangnya latihan fisik (Sauliyusta and Rekawati, 2016) Masalah hipertensi pada lansia merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi fungsi kognitif terutama penurunan daya ingat (Suwanti, 2021) Salah satu permainan yang dapat merangsang fungsi kognitif adalah permainan dakon. Menemukan bahwa menggunakan permainan dakon tradisional memiliki dampak positif pada perkembangan kognitif, terutama pada berhitung pada anak usia dini. Permainan dakon juga merupakan permainan klasik, mudah dimainkan. Salain itu, orang dewasa yang lebih tua menggunakan kemampuan kognitif mereka untuk menghitung dan menganalisis biji dakon mana yang akan dimainkan. Mengenai kemampan kognitif, memori jangka pendek adalah bagian dari kemampuan kognitf lansia (S. Putri et al., 2019) Ada beberapa cara untuk meningkatkan fungsi kognitif pada lansia, baik secara farmakologi maupun non farmakologi. Dibandingkan dengan intervensi farmakologi, penggunaan intervensi non farmakologi memainkan peran yang lebih penting pada lansia. Penelitian yang dilakukan oleh Putri, Setyaningsih, Sukmaningtyas (2019) menjelaskan bahwa intervensi non farmakologi melalui terapi seni, terapi warna mandala memiliki kemaknaan dalam menurunkan fungsi kognitif lansia dengan rata-rata penurunan sebesar 0,69 point. Intervensi lain yang dapat dilakukan untuk menaikan fungsi kognitif lansia adalah dengan latihan atau permainan yang melatih konsentrasi atau atensi, orientasi (tempat, waktu, dan situasi) dan memori (Putri et al., Berdasarkan data Rekam Medis di Puskesmas Sumbang 1 pada tanggal 15 November 2021 di dapatkan kasus hipertensi sejak bulan JuniOktober 2021 sebanyak 69 kasus yang terjadi dari usia 40-76 tahun. Hipertensi pada lansia dengan rentang usia 60-76 tahun sebanyak 24 kasus, didapatkan 65 kasus pada perempuan dan 4 kasus pada lakilaki. METODE Metode penelitian ini adalah dengan menggunakan experimental dengan pendekatan pre-eksperiment one group pre-test-posttest yaitu untuk melihat pengaruh satu variabel dengan variabel lainnya dengan memberikan perlakuan dengan terapi bermain dakon. Terapi bermain dakon dilakukan 9 kali dalam 3 minggu, yang di lakukan melalui prolanis. Evaluasi dalam penelitian Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 2 | Jul - Dec 2022 | 169 Pengaruh Terapi Bermain Dakon Terhadap Status Kognitif Lansia Hipertensi di Puskesmas Sumbang 1 diukur dengan melihat perbedaan skor fungsi kognitif sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain dakon. Teknik dalam terapi bermain dakon di lakukan secara berpasangan dalam satu sesi permainan. Mini Mental State Examination (MMSE). Penelitian ini dilakukan di Wilayah Puskesmas Sumbang 1, pengumpulan data dilakukan selama 3 minggu pada tanggal 26 maret-14 April 2022. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 28 responden dengan teknik pengambilan sampelnya menggunakan pendekatan purposive sampling sedangkan pada analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test, pengolahan data menggunakan SPSS. HASIL Dalam bab ini, hasil penelitian dan pembahasan akan disajikan berdasarkan data yang diisi oleh responden dan penelian dilakukan dengan menggunakan kuesioner Tabel 1. Distribusi karakteristik lansia Kategori Usia Elderly Old Pendidikan Tidak Sekolah SD SMP SMA Total Berdasarkan Tabel 1 dapat dideskripsikan bahwa usia lansia dengan hipertensi rata-rata di Puskesmas Sumbang 1 adalah elderly dengan usia 60-74 (85,7%) Frekuensi Persentase (%) 24 4 85,7 14,3 1 15 8 4 28 3,6 52,6 28,6 14,3 100,0 tahun, tingkat pendidikan lansia lebih dominan di tingkat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 15 respoden (53,6 %). Tabel 2. Distribusi fungsi kognitif sebelum dan sesudah di berikan terapi bermain dakon pada lansia hipertensi Kategori Normal Ringan Sedang Berat Total Jumlah 2 10 14 2 28 Sebelum Presentase (%) 7,1 35,7 50,0 7,1 100,0 Jumlah 8 15 5 0 28 170 | Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 1 | Jul - Dec 2022 Sesudah Presentase (%) 28,6 53,6 17,9 0 100,00 Siska Dewi Oktaviani, Siti Haniyah, Wasis Eko Kurniawan Berdasarkan tabel 2 dapat di deskripsiksan bahwa fungsi kognitif lansia sebelum di berikan terapi dakon di wilayah puskesmas sumbang 1 sebagian besar dengan fungsi kognitif yang sedang sebanyak 14 responden (50,0%). Sedangkan fungsi kognitif lansia sesudah di berikan terapi dakon di puskesmas sumbang 1 sebagian besar dengan fungsi kognitif yang ringan sebanyak 15 responden (53,6%). Tabel 3. Pengaruh Terapi Bermain Dakon terhadap Fungsi Kognitif Lansia Hipertensi Fungsi Kategori Normal Ringan Sedang Berat Total Sebelum Jumlah Presentase (%) 2 7,1 10 35,7 14 50,0 2 7,1 28 100,0 Berdasarkan tabel 3 dapat di deskripsikan bahwa hasil analisa menunjukan terdapat pengaruh terapi bermain dakon pada lansia hipertensi di wilayah Puskesmas Sumbang 1 dengan hasil 0,000 (p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh terapi bermain dakon terhadap fungsi kognitif lansia hipertensi di puskesmas sumbang 1 PEMBAHASAN Karakteristik Lansia Berdasarkan Tabel 1 dapat di dideskripsikan bahwa usia lansia dengan hipertensi rata-rata di Puskesmas Sumbang 1 adalah elderly dengan usia 60-74 tahun. Orang di katakan lansia jika usianya adalah 60 tahun atau lebih sebagaimana dijelaskan dalam World Health Organization (WHO), penurunan kognitif merupakan penurunan yang di sebabkan oleh penyakit degeneratif pada susunan sistem syaraf dan merupakan proses alami yang dapat dilalui oleh semua orang tua dari waktu ke waktu (Putri et al., 2019). Peneliti berasumsi Sesudah Jumlah Presentase (%) 8 28,6 15 53,6 5 17,9 0 0 28 100,00 p-value 0,000 bahwa semakin bertambanhnya usia pada lansia akan mengalami penurunan fungsi kognitif. Tingkat pendidikan lebih dominan pada tingkat sekolah dasar (SD) sebanyak 15 responden (53,6%). Hal ini selaras dengan penelitian Hutasuhut et al., (2020) bahwa seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi memiliki faktor pelindung terhadap resiko berkembangnya disfungsi kognitif. Peneliti berasumsi bahwa pendidikan merupakan aspek yang memiliki pengaruh terhadap proses perkembangan fungsi kognitif seseorang, bahwa lansia yang memiliki riwayat pendidikan lebih dari pendidikan dasar yaitu SMA dan Sarjana memiliki fungsi kognitif yang tergolong normal. Pendidikan merupakan proses pengalaman hidup, sekaligus proses stimulus intelektual yang akan mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Pencapaian pendidikan yang rendah berarti lebih sedikit pengalaman mental dan lingkungan, Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 2 | Jul - Dec 2022 | 171 Pengaruh Terapi Bermain Dakon Terhadap Status Kognitif Lansia Hipertensi di Puskesmas Sumbang 1 yang mengakibatkan kurang stimulasi intelektual. Sehingga akibatnya persepsi seseorang akan buruk. Fungsi kognitif sebelum dan sesudah terapi Menurut hasil penelitian, frekuensi penurunan fungsi kognitif pada lansia sebelum di berikan terapi bermain dakon dengan hasil 2 orang responden dengan fungsi kognitif normal dengan skor 27. Lathifah et al., (2018) Telah melakukan penelitian tentang terapi bermain congklak di laksanakan selama 3 minggu yang membuktikan ada peningkatan pada aspek fungsi kognitif. Penelitian lain dengan judul pengaruh bermain congklak terhadap memori jangka pendek lansia di ketahui setelah di lakukan terapi bermain sebanyak 2 siklus dalam 2 hari berturut-turut responden mengalami peningkatan fungsi kognitif dengan nilai p < 0,05 (S. Putri et al., 2019) Gangguan penurunan kognitif pada lansia meliputi gangguan memori jangka pendek dan jangka panjang, serta gangguan intelektual. Lansia memiliki fungsi negatif yaitu penurunan fungsi kognitif akibat bertambahnya usia, sehingga kemampuan kognitif lansia akan berkerja lebih lambat dibandingkan dengan orang dewasa (Has et al., 2020) Peneliti berasumsi bahwa dari Kuesioner ini memiliki 12 pertanyaan atau perintah yang terkait dengan, orientasi, registrasi, atensi, memori, dan bahasa. Kuesioner untuk meningkatkan fungsi kognitif di berikan dalam 15 menit dengan penilaian berikut : skor 27-30 ( fungsi kognitif normal), 21-26 (gangguan kognitif ringan), 11-20 (gangguan kognitif sedang), 0-10 (gangguan kognitif berat). Pada saat pelaksanaan terapi bermain dakon lansia melakukan permainan 3 kali seminggu selama 3 minggu dan SOP terapi untuk melakukan permainan dakon meliputi : fase orientasi (sapaan terapeutik, evaluasi pertemuan, kontrak topik, waktu, tempat), fase kerja (memori sensorik(menggunakan isyarat indra penglihatan, observasi aktif, pengenalan nama)(benda yang terlihat), memori jangka pendek (mengidentifikasi waktu dan tempat, menghitung angka, menggambar, mengikuti perintah, menggabungkan huruf, menyusun kata untuk mencocokan, menggabungkan kalimat dan mengulanginya, menggabungkan nama dan kata), memori jangka panjang (bercerita dan mengingatnya), tahap evaluasi (review, tindak lanjut, kontrak yang akan datang pada topik, waktu, tempat). Dari hasil penelitian diketahui bahwa frekuensi fungsi kognitif pada lansia setelah di berikan terapi bermain dakon , mengalami perubahan pada 28 responden, 8 orang responden pada status kognitif normal, Hal ini didukung dengan hasil posttest menggunakan Mini Mental Stase Examination (MMSE) yang di lakukan, pada bagian skor terdapat 3 orang dengan skor tertinggi 29, maka dapat di simpulkan ada pengaruh setelah diberikan terapi bermain dakon terhadap status kognitif lansia hipertensi Hasil penelitian yang di lakukan oleh Putri et al., (2019) bahwa permainan congklak digunakan sebagai stimulus yang menyenangkan yang sangat baik terhadap fungsi otak dalam memproses informasi. Stimulus yang menyenangkan membuat otak dengan cepat melaksanakan fungsinya dalam memproses informasi untuk meningkatkan fungsi kognitif termasuk memori. 172 | Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 1 | Jul - Dec 2022 Siska Dewi Oktaviani, Siti Haniyah, Wasis Eko Kurniawan Peneliti berasumsi bahwa permainan dakon dapat meningkatkan fungsi kognitif pada lansia, karena ada beberapa aspek yang mempengaruhinya yaitu aspek orintasi, bahasa, atensi, memori, fungsi kognitif, kalkulasi, perubahan fungsi kognitif. Pengaruh terapi bermain dakon terhadap status kognitif lansia hipertensi Berdasarkan tabel 3 ditunjukan hasil yang didapatkan adalah kategori ringan (53,6 %) walaupun responden memberi peningkatan pada skor Mini Mental Stase Examination MMSE. Penyebabnya adalah otak lansia perlu dilatih untuk berkosentrasi dalam permainan dakon, maka bagian-bagian otak yang mengalami penurunan dapat diregenerasi, semakin dapat memenuhi kebutuhan sel dan melancarkan aliran darah dan memenuhi kebutuhan sel yang terdapat diotak sehingga permainan dakon dapat membuat kinerja dengan baik. Hasil penelitian fungsi kognitif sebelumnya dan terapi bermain dakon yang telah diberikan, hasil yang didapat adalah ada pengaruh terapi bermain dakon pada lansia hipertensi di wilayah Puskesmas Sumbang 1 dengan hasil 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh terapi bermain dakon terhadap fungsi kognitif lansia hipertensi di puskesmas sumbang 1. Hasil penelitian ini menunjukan ratarata fungsi kognitif pada lansia mengalami kenaikan skor, dengan hasil uji Wilcoxon nilai p=0,000. Hasil penelitian ini sesuai dengan Putri et al., (2019) bahwa intervensi permainan dakon yang diberikan dapat meningkatkan fungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif pada lansia yang mendapat intervensi permainan dakon untuk meningkatkan dan mempertahankan fungsi kognitif. Permainan dakon merangsang fungsi kognitif lansia karena permainan dakon memiliki poin-poin tertentu yang dapat merangsang aspek kognitif lansia seperti orintasi, bahasa, atensi, memori, fungsi kosentrasi, kalkuklasi, perubahan fungsi kognitif. Menurut Shokhifah, (2019) Pada saat memasuki masa lansia akan terjadi perubahan-perubahan dalam diri yang meliputi perubahan fisik, perubahan psikososial dan perkembangan kognitif, yang di maksudkan dalam perkembangan kognitif adalah penurunan daya ingat jangka pendek, kemampuan belajar dan memperoleh keterampilan serta informasi baru, menurunannya proses pikir yang mulai lambat. Penelitian berasumsi bahwa orang yang lebih tua akan mengalami penurunan fisiologis dalam tubuh, salah satunya adalah perubahan kognitif. Perubahan kognitif yang terjadi pada lansia dapat berupa penurunan kognitif karena kurangnya motivasi dan kesulitan mengingat hal-hal yang telah terjadi dalam jangka waktu yang lama. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ana, (2018) yang mengatakan penurunan fungsi kognitif sebesar 16% pada kelompok usia 60-69 tahun, kemudian 21% pada kelompok usia 70-74 tahun dan 40% pada kelompok usia 80 tahun ke atas. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hubungan positif antara usia dengan penurunan kognitif. Intervensi permainan dakon yang telah di berikan secara terjadwal 9 kali pertemuan selama 3 minggu dengan tujuan melatih fungsi kognitif. Setelah dilakukan intervensi permainan dakon telah didapatkan peningkatan fungsi kognitif pada aspek orientasi, bahasa, atensi, memori, fungsi kognitif, kalkulasi, perubahan fungsi kognitif. Selaon aspek tersebut, permainan dakon Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 2 | Jul - Dec 2022 | 173 Pengaruh Terapi Bermain Dakon Terhadap Status Kognitif Lansia Hipertensi di Puskesmas Sumbang 1 juga memiliki manfaat sosial, seperti dapat membuat lansia berinteraksi dengan pemain lain (lansia), melatih motorik halus, melatih kesabaran dan ketelitian, sportifitas dan kemampuan analisis. Hasil penelitian ini sesuai dengan Has et al., (2020) bahwa intervensi yang diberikan dapat meningkatkan fungsi kognitif pada aspek orientasi, bahasa, atensi, memori, fungsi kosentrasi, dan perubahan fungsi kognitif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Sumbang 1 Kabupaten Banyumas dapat disimpulkan sebagai berikut 1. Usia lansia dengan hipertensi rata-rata berusia 60-74 tahun DAFTAR PUSTAKA Ana, lutfi. (2018). Pengaruh senam otak (brain gym) terhadap fungsi kognitif pada lansia di posyandu reksogati kelurahan sogaten kota madium. Skripsi, 2(2). https://doi.org/10.1016/j.gecco.2 019 Ayu TP, N. R. I., Setyaningsih, R. D., & Sukmaningtyas, W. (2019). Pemberian terapi warna mandala dan peningkatan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar, 14(2), 127–134. https://doi.org/https://doi.org/10. 32382/medkes.v14i2.891 Badan Pusat Statistik. (2018). Statistik Penduduk Lanjut Usia 2018. Fobia, D., & Prasetya, A. W. (2017). Perbedaan fungsi Kognitif Lansia yang Kategori Elderly dengan Lansia Kategori Old. Jurnal Penelitian Kesehatan, (85,7%), sedangkan tingkat pendidikan lansia lebih dominan di tingkat Sekolah Dasar (53,6%) 2. Terdapat peningkatan fungsi kognitif pada lansia setelah pemberian intervensi permainan dakon pada lansia. permainan dakon dapat meningkatkan fungsi kognitif setelah intervensi tersebut diberikan , terdapat perbedaan nilai kognitif sebelum dan seseudah di berikan intervensi permainan dakon di Puskesmas Sumbang 1. 3. Ada pengaruh terapi bermain dakon terhadap status kognitif lansia hipertensi di Puskesmas Sumbang 1 dengan hasil 0,000 (p<0,05). 60–63. https://doi.org/http://journal.stikv inc Has, E. M. M., Roziqin, M., & Wahyuni, S. D. (2020). Uno stacko : permainan untuk meningkatkan fungsi kognitif lansia. 1707(April), 1703–1707. Hutasuhut, A. F., Anggraini, M., & Angnesti, R. (2020). Analisis Fungsi Kognitif Pada Lansia Ditinjau Dari Jenis Kelamin, Riwayat Pendidikan, Riwayat Penyakit, Aktivitas Fisik, Aktivitas Kognitif, Dan Keterlibatan Sosial. Jurnal Psikologi Malahayati, 2(1), 60– 75. https://doi.org/10.33024/jpm.v2i 1.2428 Lathifah, M. N., Haryanto, J., & Fauziningtyas, R. (2018). Permainan Tradisional Dhakonan Mencegah Progresifitas Tingkat Demensia Pada Lansia. Wiraraja Medika, 174 | Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 1 | Jul - Dec 2022 Siska Dewi Oktaviani, Siti Haniyah, Wasis Eko Kurniawan 7(1), 26–32. https://doi.org/10.24929/fik.v7i1. 379 Profil Kesehatan Banyumas. (2018). Profil Kesehatan 2018 Ayo Hidup Sehat Mulai Dari Kita. Putri, D. A., Induniasih, & Palestin, B. (2019). Status Psikososial Lansia Di Pstw Abiyoso Pakem Sleman Yogyakarta Tahun 2019. Poltekkes Joga, 53(9), 1689–1699. Putri, S., Wahyu, E., & Rahma, S. (2019). Pengaruh Bermain Congklak terhadap Memori Jangka Pendek Lansia di Panti Pelayanan Sosial Lanjut Usia Dewanata Cilacap. 52(1). Sauliyusta, M., & Rekawati, E. (2016). Aktivitas Fisik Memengaruhi Fungsi Kognitif Lansia. Jurnal Keperawatan Indonesia, 19(2), 71–77. https://doi.org/10.7454/jki.v19i2. 4 Shokhifah, H. (2019). Pengaruh Memory Games (Terapi Permainan Mencocokan Gambar) Terhadap Fungsikognitif Pada Lansia. Skripsi. Suwanti, F. Z. F. A. (2021). Hubungan kejadian hipertensi dengan fungsi kognitif pada lansia di desa jampiroso selatan kota temanggung. Wahyuni, A., & Nisa, K. (2016). Pengaruh Aktivitas dan Latihan Fisik terhadap Fungsi Kognitif pada Penderita Demensia. Majority, 5(4), 12–16. Xue, B., Xiao, A., Luo, X., & Li, R. (2021). The effect of a game training intervention on cognitive functioning and depression symptoms in the elderly with mild cognitive impairment: A randomized controlled trial. International Journal of Methods in Psychiatric Research, May. https://doi.org/10.1002/mpr.188 7 Jurnal Skolastik Keperawatan | Vol. 8, No. 2 | Jul - Dec 2022 | 175