JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index Pemikiran John Locke Tentang Pendidikan * Muhammad Ravi Akbar Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus. Batusangkar. Indonesia Email: mrafiakbar369@gmail. Abstract John Locke's thoughts about education have become an important subject in the study of education. The background of the problem shows the complexity of society's demands during Locke's time and how his thinking tried to answer the educational challenges of his time. This research aims to detail Locke's educational concepts, analyze their philosophical foundations, and evaluate their impact on the development of the education system. The research method involves an intensive literature review of Locke's original works and expert interpretations. The research results outline Locke's views on the role of experience and the origins of knowledge in the formation of individual character. In addition, this research discusses the concept of human rights in the educational context advocated by Locke, revealing its relevance to the development of the modern education system. The conclusion highlights Locke's valuable contribution in establishing an educational paradigm that emphasizes the development of natural human potential and the formation of rational citizens. Keywords: John Locke. Thought. Education. Abstrak Pemikiran John Locke tentang pendidikan telah menjadi subjek penting dalam kajian ilmu pendidikan. Latar belakang masalah mengemukakan kompleksitas tuntutan masyarakat pada masa Locke dan bagaimana pemikirannya berusaha menjawab tantangan pendidikan pada zamannya. Penelitian ini bertujuan untuk merinci konsep-konsep pendidikan Locke, menganalisis landasan filosofisnya, serta mengevaluasi dampaknya terhadap perkembangan sistem pendidikan. Metode penelitian melibatkan telaah pustaka intensif terhadap karya-karya asli Locke dan interpretasi para ahli. Hasil penelitian menguraikan pandangan Locke tentang peran pengalaman dan asal-usul pengetahuan dalam pembentukan karakter individu. Selain itu, penelitian ini membahas konsep hak asasi manusia dalam konteks pendidikan yang diadvokasi oleh Locke, mengungkapkan relevansinya dengan perkembangan sistem pendidikan modern. Kesimpulan menyoroti kontribusi berharga Locke dalam membentuk paradigma pendidikan yang menekankan pada pengembangan potensi alami manusia dan pembentukan warga negara yang berakal Kata Kunci: Jhon locke. Pemikiran. Pendidikan. *** Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index PENDAHULUAN John Locke lahir di Wrington, dekat Bristol, pada tahun 1632, dalam keluarga yang memiliki latar belakang hukum, dengan ayahnya sendiri adalah seorang pengacara negara. Masa pendidikannya dimulai di lingkungan rumah sebelum akhirnya melangkah ke Sekolah Westminster pada tahun 1646, dan di sinilah dia melanjutkan pembelajarannya hingga tahun 1652. Pada tahun tersebut. Locke melanjutkan pendidikannya ke tingkat universitas dan bergabung dengan Universitas Oxford sebagai mahasiswa junior di Gereja Kristus. Setelah meraih gelar B. dan M. , beliau mencapai puncak pendidikannya di universitas ini ketika terpilih sebagai siswa senior di Gereja Kristus pada tahun 1659. Kemudian, pada tahun berikutnya. Locke diberi tanggung jawab sebagai dosen Bahasa Yunani, menunjukkan keahliannya dalam bidang linguistik (Ahmad. Asep. Perjalanan akademis Locke terus berkembang, dan pada tahap selanjutnya, beliau diangkat menjadi Pembaca dalam Retorika dan Sensor Filsafat Moral. Posisi ini mengukuhkan kontribusi intelektualnya yang menjadi dasar pemikirannya yang terkenal di bidang tersebut. John Locke mulai mengejar studi filsafatnya di Oxford, beliau menemukan bahwa lingkungan akademisnya dipenuhi oleh suatu bentuk Skolastisisme yang dianggapnya rendah dan membatu. Locke merasa tidak menyukai pendekatan ini, menganggapnya sebagai konsep yang rumit dengan istilah-istilah yang tidak jelas dan pertanyaan yang dianggapnya tidak berguna. Meskipun tanpa ragu, seperti beberapa filsuf Renaisans dan modern lainnya yang memberontak melawan Skolastik Aristotelian. Locke kemungkinan besar terpengaruh olehnya lebih dari yang dia sadari pada awalnya. Namun, minat mendalam Locke terhadap filsafat sebenarnya muncul dari bacaan pribadinya tentang Descartes, bukan dari apa yang diajarkan di lingkungan akademis Oxford (Suryadi. Ahmad. Locke terlibat dalam studi dan refleksi yang mendalam terhadap pemikiran Descartes, memimpinnya pada suatu perjalanan intelektual yang berbeda dari mainstream pemikiran yang dominan di universitas tersebut (BatuBara. Keengganan Locke terhadap Skolastisisme yang dia temui di Oxford mencerminkan dorongan untuk menyelami filsafat yang lebih jelas, terstruktur, dan relevan dengan Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index pemahamannya sendiri, dan itulah yang mendasari orientasi pemikirannya dalam perjalanan akademisnya. Dari tulisan-tulisannya. John Locke dapat dianggap sebagai seorang yang sangat moderat dalam pendekatan filosofisnya. Dia adalah seorang empiris yang teguh, yakin bahwa seluruh materi pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari pengalaman melalui persepsi indera dan introspeksi. Pemikiran empirisnya menekankan pentingnya pengalaman dalam membangun pengetahuan, dan hal ini tercermin dalam keyakinannya bahwa pikiran manusia pada dasarnya merupakan tabula rasa yang terisi melalui pengamatan dunia sekitar. Namun, perlu dicatat bahwa Locke tidak terpaku pada batasan sempit pemikiran empiris yang mengakui hanya pengetahuan yang diperoleh melalui indra (Renna. Dalam pendekatannya yang moderat. Locke memperluas cakupan pengetahuannya. Berbeda dengan pandangan sempit empirisme lainnya. Locke tidak hanya membatasi pengetahuannya pada presentasi indra semata. Di sini, dia menunjukkan kecenderungannya sebagai seorang ahli metafisika. Penelitian ini mengeksplorasi sejauh mana teori kepemilikan John Locke dapat diterapkan pada hak kekayaan intelektual (HKI). Locke menyajikan teori kepemilikan ini dalam The Second Treatise of Government . , sebagai upaya mempertahankan individualisme dan membatasi kekuasaan monarki. Fokus penelitian adalah pada pandangan Locke terhadap HKI, mengidentifikasi relevansi dan kekuatan argumennya dalam konteks modern (Rubini. Langkah Locke untuk membatasi kekuasaan monarki memiliki implikasi filosofis pada konsep HKI, dan penelitian ini akan mengevaluasi sejauh mana teori tersebut mendukung atau menantang konsep HKI, terutama dalam konteks perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak diakui. Konsep Locke mengenai teori kepemilikan ingin dijelaskan dalam konteks hubungannya dengan hak kekayaan intelektual (HKI), yang mengakui hasil karya individu seperti penemuan atau karya intelektual tertentu yang diakui oleh masyarakat dan melibatkan hak ekonomi terkait dengan karya tersebut (Syafril. Zelhendri. Pertanyaan sentral yang ingin diajukan di sini adalah sejauh mana teori kepemilikan Locke, yang berasal dari konsep kepemilikan tangible property . roperti yang berwujud seperti tanah dan ruma. , dapat dianggap sebagai landasan Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index yang memadai ketika diterapkan pada hak kekayaan intelektual (HKI) yang berasal dari bentuk intangible property. Pandangan dalam pemikiran John Locke, yang terbentuk pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 di Inggris dan Eropa Barat, menekankan teori kepemilikan terutama pada tangible property seperti tanah, rumah, dan harta benda. Pada masa itu, sebelum Locke mengembangkan konsep otoritas individu terhadap monarki, penguasa memiliki kekuatan untuk merampas properti orang biasa yang dianggap berharga. Locke menyoroti kerentanan individu terhadap kebijakan penguasa dan membela hak kepemilikan individual yang bersifat tangible sebagai respons terhadap ketidakadilan yang terjadi (Haryanto. Ignatius. Pandangannya mengenai kepemilikan muncul sebagai tanggapan terhadap situasi sosial-politik pada masa itu, di mana otoritas monarki dapat mengeksploitasi dan merampas harta benda individu tanpa batasan moral atau hukum. METODE Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif, di mana peneliti melakukan analisis terhadap permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Sumber informasi utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku. Buku dianggap sebagai alat untuk mengumpulkan informasi dan data di perpustakaan, mencakup berbagai jenis materi seperti buku, majalah, catatan sejarah, dan sumber lainnya. Proses penelitian melibatkan kegiatan membaca, meneliti, dan menganalisis penelitian-penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan topik penelitian. Pencarian artikel penelitian terdahulu yang mengulas Pemikiran John Locke tentang pendidikan Islam dilakukan melalui Google Scholar dan Google Book. Selain itu, peneliti juga memahami isi dari buku-buku tersebut agar dapat dijadikan sebagai sumber data yang relevan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka atau study library Menurut Mestika Zed . , studi pustaka atau kepustakaan dapat diartikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang terkait dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, dan mengolah bahan penelitian. Proses ini mewakili suatu upaya sistematis untuk mengakses dan memahami informasi yang telah ada dalam literatur yang relevan dengan topik penelitian yang sedang dijalankan. Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index Dengan melakukan studi pustaka, peneliti dapat memperoleh landasan teoritis yang kuat, menyusun kerangka konseptual, serta mengevaluasi temuan-temuan sebelumnya yang terkait dengan objek penelitian. Peneliti memilih artikel-artikel dan buku-buku peneliti sebelumnya dan mengembangkannya dalam bahasa sendiri. Penelitian ini memakan waktu tiga hari untuk mencari sumber literatur yang ada dan menganalisis isi dari berbagai literatur yang diperoleh untuk penelitian yang akan dianalisis dalam penelitian ini. Prosedur penelitian ini dilakukan Pertama, peneliti mencari dan mengumpulkan berbagai sumber informasi atau data. Kedua, peneliti membaca dan menganalisis informasi yang ditemukan dalam literatur yang berkaitan dengan penelitian yang diteliti seperti buku, dan artikel artikel peneliti sebelumnya. Informasi yang diperoleh dibuat dalam bentuk kalimat-kalimat yang berkorelasi dengan pemikiran Jhon PEMBAHASAN John Locke, seorang filsuf terkemuka yang namanya dan pemikirannya sangat diakui di kalangan penggemar filsafat, menjadi salah satu tokoh sentral dalam perkembangan ilmu filsafat. Selama perjalanannya, ilmu filsafat mengalami dinamika yang menghasilkan berbagai aliran, seperti rasionalisme, intuisionalisme, dan empirisme. Locke, yang secara khusus diakui sebagai pemimpin dalam aliran empirisme, menyatakan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman dan Peran Locke sangat signifikan dalam pengembangan ide-ide empiris, dengan menekankan bahwa pikiran manusia pada awalnya adalah "tabula rasa" yang diisi oleh pengalaman indera (Rubini. Pendekatan ini bertentangan dengan aliran rasionalisme yang meyakini bahwa pengetahuan diperoleh melalui akal budi dan rasio. Pendidikan menurut John Locke merupakan sebuah pengalaman yang hendak dialami oleh setiap manusia karena mencakup pengembangan karakter kepribadian dari manusia itu sendiri. Karakter yang dibentuk melalui pengalaman akan membawa seseorang kepada suatu pola pemahaman yang baik dan tentunya melalui pengalaman itulah yang akan memampukan seseorang untuk dapat berelasi dengan orang lain (Saryanto, dkk. Pengalaman hendaknya dijadikan sebagai Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index proses untuk mendidik dan membangun karakter-karakter dari setiap pribadi manusia, menurutnya manusia secara manusiawi akan berkembang melalui pengalaman yang dialami. Empirisme berasal dari bahasa Latin, asal katanya: empiri berarti Pemikiran ini dipelopori oleh John Locke . , fil- suf kebangsaan Inggris, yang terkenal dengan teorinya "tabularasa", arti- nya meja berlapis lilin yang belum ada tulisan di atasnya. Dengan kata lain, seseorang dilahirkan seperti kertas kosong yang belum ditulisi, maka pendidikanlah yang akan Perkembangan seseorang tergan- tung seratus persen pada pengaruh lingkungan atau pada pengalaman- pengalaman yang diperoleh dalam kehidupannya (Pransiska. Oleh karena itu, pen- didikan memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalamanpengalaman. Tokoh dari aliran ini adalah John Locke (Inggris: 1932- 1. Pandangan aliran ini berlawanan dengan kaum nativisme, karena berpendapat bahwa dalam perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu ditentukan oleh lingkungannya, atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Menurut aliran ini, manusia dilahirkan putih bersih seperti kertas putih, tidak membawa potensi apa-apa. Perkembangan selanjutnya tergantung dari pendidikan dan atau Menurut konsepsi empirisme ini pendidikan adalah mahakuasa dalam membentuk peserta didik menjadi apa yang diinginkannya. Pen- didikan dapat berbuat sekehendak hatinya, seperti ahli patung yang me- mahat patung dari kayu, batu, atau bahan lainnya menurut sesuka hatinya (Mukminin. Amir. Contoh lain misalnya: anak kembar yang dipisahkan oleh orangtuanya sejak kecil pada lingkungan keluarga yang berbeda. Oleh karena itu, pe- mikiran ini dinamakan pemikiran optimis dalam pendidikan. Menurut John Locke , hal-hal yang perlu diper- hatikan dalam pendidikan Pendidikan harus diberikan sejak awal mungkin. Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index Pembiasaan dan latihan lebih penting daripada peraturan, perintah, atau Anak didik harus diamati dari dekat untuk melihat: Apa yang paling tepat bagi anak itu sesuai dengan umurnya . Hasrat-hasratnya yang sangat kuat. Kecenderungannya mengikuti orangtua tanpa merusak sema- ngat anak itu. Anak harus dianggap sebagai makhluk rasional, dalam hal ini kepada anak harus diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut . Pelajaran di sekolah jangan sampai menjadi beban bagi anak, namun hendaknya menyenangkan dan merupakan suasana bermain yang membuka seluas-luasnya berbagai kemungkinan yang dapat timbul (Abdurrahman Asep. Pandangan John Locke tentang pendidikan didasarkan pada teori empiris tentang pengetahuan manusia dalam karyanya yang terkenal "An Essay Concerning Human Understanding". Ketika lahir, pikiran anak itu seperti batu tulis kosong "tabula rasa", yang kemudian diisi dengan data yang diperoleh dari pengalaman Sebaliknya. Lokce menolak doktrin tentang keberadaan ide-ide bawaan, mengklaim bahwa sejak lahir pikiran kita seperti kertas putih "tabula rasa"yang secara bertahap ditorehkan dengan data yang berasal dari pengalaman selama seluruh hidup kita. Locke ingin menggarisbawahi fakta bahwa seluruh pengetahuan kita berasal dari pengalaman melalui sensasi dan refleksi. Menurut pandangan Islam, teori empirisme ini disatu sisi ada benarnya dan disisi lain menunjukkan tidak tepatnya. Sisi benarnya yaitu teori empirisme ini searah dengan perspektif Islam yang menyebutkan bahwa pendidikan atau lingkungan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan peserta didik (Copleston. Frederick. Tetapi tidak dapat dikatakan sepenuhnya seperti itu, karena pendidikan dan lingkungan tidak seluruhnya dapat berpengaruh pada peserta Misalnya, perihal lahirnya Nabi Muhammad SAW, beliau lahir di lingkungan yang kurang mendukung, yaitu lingkungan pemuja patung dewa, lingkungan yang Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index selalu semangat, yang senang melakukan perang, terbiasa dengan berjudi, mabukmabukan, dan lain sebagainya. Tetapi. Nabi Muhammad SAW bisa menjadi seorang Nabi. Pemikiran pendidikan John Locke, seorang filsuf abad ke-17, memiliki relevansi yang kuat dengan pendidikan saat ini. Konsepnya tentang pikiran manusia sebagai "tabula rasa" yang kosong, yang terbentuk melalui pengalaman, tetap memainkan peran penting dalam pandangan pendidikan modern (Raikhan. Locke menekankan pentingnya pengalaman dalam pembentukan pengetahuan, sebuah ide yang sejalan dengan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dan pembelajaran aktif yang diterapkan dalam sistem pendidikan saat Peran orang tua dan guru dalam membimbing dan membentuk anak-anak, seperti yang ditekankan oleh Locke, masih menjadi aspek kunci dalam pendidikan kontemporer(Sugianto. Konsep Locke tentang pendidikan sebagai upaya untuk membentuk karakter dan moralitas individu terus memengaruhi pemikiran pendidikan sekarang, dengan penekanan pada pengembangan keterampilan karakter, etika, dan nilai-nilai moral. Pemikiran Locke juga menyuarakan hak anak untuk mendapatkan pendidikan, sebuah konsep yang sejalan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan inklusivitas dalam pendidikan modern. Keterlibatan orang tua sebagai mitra aktif dalam proses pendidikan anak-anak, yang diakui oleh Locke, tetap menjadi prinsip penting dalam pendidikan masa kini. Meskipun pemikiran Locke muncul dari konteks sejarahnya, ide-ide inti yang dia ajukan mengenai pengalaman, kolaborasi, pembentukan karakter, dan hak-hak individu dalam pendidikan terus menjadi landasan yang relevan dalam pengembangan sistem pendidikan modern (Mbabho. , & Ansel. KESIMPULAN John Locke, seorang filsuf terkemuka pada abad ke-17, memainkan peran sentral dalam perkembangan ilmu filsafat dan memiliki relevansi yang signifikan dengan pendidikan saat ini. Ilmu filsafat berkembang dengan dinamika sendiri, menghasilkan berbagai aliran seperti rasionalisme, intuisionalisme, dan empirisme. Locke, sebagai pemimpin aliran empirisme, memandang pengetahuan berasal dari Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index pengalaman dan observasi, menentang pandangan rasionalisme yang meyakini akal budi sebagai sumber pengetahuan utama. Pandangan Locke pengalaman sebagai landasan pembentukan pengetahuan dan karakter individu. Baginya, pendidikan merupakan proses pengalaman yang membawa pada pengembangan karakter kepribadian manusia. Konsep "tabula rasa" atau pikiran sebagai "lembaran kosong" yang diisi melalui pengalaman indera menjadi dasar Hal ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman yang diterapkan dalam sistem pendidikan modern. Pentingnya peran orang tua dan guru dalam membimbing anak-anak, bersamaan dengan fokus pada pengembangan keterampilan karakter, etika, dan nilai-nilai moral, tetap menjadi nilai inti dalam pemikiran Locke tentang Hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan keterlibatan orang tua sebagai mitra aktif dalam proses pendidikan juga menjadi prinsip utama yang terus memengaruhi pandangan pendidikan masa kini. Meskipun pemikiran Locke muncul dari konteks sejarahnya, konsep-konsep inti yang dia kemukakan, seperti pengalaman sebagai dasar pengetahuan, kolaborasi antara orang tua dan guru, serta pembentukan karakter melalui pendidikan, masih relevan dalam perkembangan sistem pendidikan modern. Dengan demikian, warisan pemikiran Locke terus memberikan panduan berharga untuk memahami dan membentuk pendidikan di masa kini. *** DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. Asep. Pemikiran Pendidikan Muhammad Tholchan Hasan. Banten. A-Empat Anggota IKAPI Ahmad. Asep. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung. CV CENDEKIA PRESS Batubara. Siregar. , & Siregar. Liberalisme John Locke dan Pengaruhnya dalam Tatanan Kehidupan. JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT, 9. , 485-491. Muhammad Ravi Akbar: Pemikiran John Locke. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 2. Nomor 2. Juli-Desember 2023 https://jigm. org/index. php/jigm/index Copleston. Frederick. Filsafat John Locke. Yogyakarta. BASABI Haryanto. Ignatius. John locke dan Akar Pemikiran Kekayaan Intelektual. Jakarta. KPG (Kepustakaan Populer Gramedi. Mukminin. Amir. Konsep Dasar Teknologi Pendidikan. Kepulauan Riau. Yayasan Cendikia Mulia Mandiri. Pransiska. Konsepsi Fitrah Manusia Dalam Perspektif Islam Dan Implikasinya Dalam Pendidikan Islam Kontemporer. Jurnal Ilmiah Didaktika: Media Ilmiah Pendidikan Dan Pengajaran, 17. , 1-17. Raikhan. Liberalisme dan Kesadaran Naif. Studi Kritis Pemikiran Pendidikan John Locke Dan John Dewey. Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 4. , 101-112. Renna. Konsep Pendidikan Menurut John Locke dan Relevansinya bagi Pendidikan Sekolah Dasar di Wilayah Pedalaman Papua. Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, 4. , 7-16. Rubini. Pendidikan Karakter Anak: Sebuah Gagasan Besar. Pekan Baru. Academia Publication Saryanto, dkk. Dasar-Dasar Pendidikan. Pasaman barat. Penerbit Azka Pustaka