Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Pengaruh Media Buku Cerita Bergambar Terhadap Kemampuan Bercerita Pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Madina Luhur Surabaya Meyrinda Eka Putri Riyani1. Aisyah2 Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Indonesia Email Korespondensi : meyrindaaekaa@gmail. 1,2, ABSTRAK Pendidikan untuk anak-anak kecil meliputi usia dari lahir sampai enam tahun, dengan tujuan untuk memaksimalkan semua potensi anak selama masa pertumbuhan dan perkembangan Salah satu metode yang dapat mendukung anak kecil dalam belajar bercerita adalah melalui penggunaan buku cerita yang memiliki ilustrasi. Buku cerita bergambar sangat mudah dimengerti oleh anak-anak, sebab menggunakan bahasa yang sederhana serta gambar yang menarik dan berwarnaPenelitian ini mengeksplorasi kemampuan bercerita anak-anak berumur lima hingga enam tahun dengan menggunakan buku cerita bergambar. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan apakah penggunaan buku cerita bergambar oleh anak-anak berusia 5-6 tahun di TK Madina Luhur Surabaya berpengaruh pada kemampuan bercerita mereka. Studi ini menerapkan metode kuantitatif dan memanfaatkan desain riset One Group Pretest Posttest Design. Sebanyak dua puluh anak yang berusia lima sampai enam tahun di TK Madina Luhur Surabaya menjadi sampel untuk penelitian ini. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi tes, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan uji t dan perangkat lunak SPSS versi 25. Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Sig. -taile. dengan tingkat signifikansi 0,05. Dengan demikian, nilai 0,000 lebih kecil dari 0,05, yang mengakibatkan Ho ditolak. Di TK Madina Luhur Surabaya, kemampuan bercerita pada anak usia 5-6 tahun dipengaruhi oleh penggunaan media buku cerita bergambar. Kata kunci: Kemampuan Bercerita. Media Buku Cerita Bergambar. Pendidikan Anak Usia Dini The Influence of Illustrated Storybook Media on Storytelling Skills in 5-6 Year Old Children at Madina Luhur Kindergarten Surabaya ABSTRACT Early childhood education includes children from birth to six years of age. The goal is to optimize all the childAos potential during their growth and development. One way to help early children learn to tell stories is to use picture story books. The medium of picture storybooks will be very easy to understand for children because it uses simple language and colorful The study investigated the ability of children aged five to six to tell stories using picture storybooks. The purpose of this study was to find out whether picture storybooks used by children aged 5-6 years in Madina Luhur Surabaya Kindergarten affect their ability to tell This study uses a quantitative approach and uses the One Group Pretest Posttest Design. The sample used in this study was twenty children between the ages of five and six years old at Madina Luhur Kindergarten Surabaya. Tests, observations, and documentation are the methods of data collection used. Data analysis was carried out using a t-test with SPSS version 25 calculation. The results showed that the value of Sig. -taile. with a significance level of 0. Therefore, the value of 0. 000 is smaller than 0. 05, so Ho is rejected. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X In Madina Luhur Kindergarten Surabaya, the storytelling ability of children aged 5-6 years is influenced by the medium of picture storybooks. Keywords: Storytelling Skills. Picture Book Media. Early Childhood Education Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini menurut Pertiwi, dkk . adalah proses tumbuh kembang anak dari usia 0 hingga 6 tahun, yang meliputi semua elemen fisik dan non fisik, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan sebaik-baiknya. Dalam hal itu orang dewasa perlu melakukan pemberian perilaku untuk membimbing, mengasuh, menstimulus serta memberikan kegiatan positif dengan tujuan untuk memfasilitasi dalam perkembangan dan pertumbuhan anak serta dapat menghasilkan keterampilan dan kemampuan pada anak tersebut. Dalam menjalani kehidupan, anak juga perlu suatu interaksi sosial, supaya anak dapat belajar berinteraksi sosial yaitu di sekolah, pendidik harus mengetahui pentingnya interaksi sosial bagi anak. Anak diharapkan bisa mengatur tingkah laku serta mampu bekerjasama dalam Anak yang kurang berinteraksi akan mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatannya, anak juga dapat mengalami ketakutan dan kesulitan saat berkomunikasi. Interaksi sosial ini bisa terjalin dengan menggunakan bahasa dan Bahasa yang digunakan umumnya mudah dipahami dan digunakan oleh semua orang, memungkinkan orang-orang untuk berkomunikasi satu sama lain. Bahasa memungkinkan orang berkomunikasi satu sama lain melalui isyarat, tulisan, atau lisan. Melalui bahasa, anak-anak memiliki kesempatan untuk memperluas kosakata mereka dan mengekspresikan diri dengan lebih baik. Mereka belajar berpartisipasi dalam percakapan dan memanfaatkan kemampuan berbahasa untuk menghadapi berbagai tantangan. Ketika anak-anak belajar mendengarkan dan berbicara. Selain itu, mereka memperoleh kemampuan untuk mengumpulkan dan menyimpan berbagai informasi berharga dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain. (Gunarti. Winda dkk 2. Pada usia 5 hingga 6 tahun, perkembangan bahasa reseptif dan ekspresif anak sudah cukup baik. Anak-anak mulai berbicara dengan kalimat lengkap dan dapat mengubah kata-kata menjadi kata tanya, berita, atau kalimat negatif. (Hildayani. Rini 2. Dari observasi awal di sekolah TK Madina Luhur Surabaya pada bulan April tahun 2024, peneliti menemukan adanya permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan bercerita Faktanya, masih ada beberapa anak yang kurang dalam kemampuan bercerita menggunakan media video di televisi yang tersedia disekolah tersebut. Contohnya ketika guru bercerita dengan media video di televisi, anak awalnya hanya menyimak, melihat dan mendengarkan saja. Tetapi ketika guru sudah selesai bercerita, beberapa anak akan diminta untuk maju ke depan dan menceritakan kembali apa yang mereka dengar sebelumnya, lihat dan dengarkan, tetapi anak tersebut menjawab Auaku tidak tahu bu guruAy ada juga anak yang tidak mau maju karena malu dilihat teman-teman katanya. Salah satu metode pembelajaran yang melatih anak untuk mengembangkan bahasa serta menambah kosakata nya adalah metode bercerita. Menurut Ngura . Bercerita adalah menyampaikan sesuatu tentang suatu kejadian atau tindakan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain. Saat ini, sangat penting untuk memikirkan bagaimana cara pengembangan yang dapat membuat anak lebih tertarik kepada media buku cerita bergambar dibandingkan dengan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X televisi dan media lainnya. Sering kali anak menyaksikan cerita melalui berbagai saluran, seperti televisi, sanggar cerita, dan sebagainya. Media televisi, sanggar cerita, juga belum menjamin cocok untuk dunia anak-anak dan itu sangat berpengaruh pada kehidupan anak Jadi, memang sangat penting untuk mempertimbangkan hal tersebut dan mulai membuat cerita yang benar-benar cocok untuk dunia anak-anak. Menurut Zainiyati . , media dalam aktivitas belajar sangat krusial untuk proses pembelajaran karena dapat mendukung anak dalam memahami informasi dan membantu guru dalam merancang pelajaran mereka. Kegiatan bermain adalah ciri khas anak juga dapat dipadukan dengan kegiatan bercerita menggunakan media edukatif yang salah satunya adalah media buku cerita bergambar yang disediakan didalam kelas, bisa dengan membeli buku yang sudah jadi atau juga guru bisa membuat sendiri buku cerita yang singkat dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Karena semakin anak sering untuk berinteraksi dengan budaya dan dunia kata maka anak semakin berminat untuk melakukan kegiatan bercerita dengan berani dan percaya diri. Buku cerita bergambar tersebut juga harus menarik sehingga akan membuat anak senang dan betah untuk berlama-lama didalamnya. Bermain adalah sebuah aktivitas yang juga merupakan bagian integral dari dunia dan kehidupan anak. Menurut Solehuddin . , bermain dapat dilihat sebagai kegiatan yang bersifat sukarela, spontan, berfokus pada proses, memberikan kepuasan intrinsik, serta menyenangkan dan fleksibel. Hal ini dikarenakan bermain dilakukan berdasarkan keinginan dan kemauan anak itu sendiri. Menurut Fathurohmah . Keterampilan bercerita adalah mengungkapkan apa yang dirasakan, dialami, dibaca dan dilihat oleh pencerita. Keterampilan bercerita dapat untuk membentuk generasi yang kreatif dan inovatif. Sedangkan menurut Aprilia & Nuryani . Bercerita adalah salah satu kebiasaan yang ada sejak dulu. Dengan bercerita, individu akan mendapatkan informasi baru, menumbuhkan daya ingat, daya nalar, dan imajinasi anak tersebut serta kepekaan pendengaran. Bercerita sering kali membawa anak-anak memasuki dunia imajinasi yang penuh warna dan fantasi. Aktivitas ini sangat bermanfaat untuk merangsang kreativitas mereka dalam berpikir dan berimajinasi, serta mengembangkan kemampuan mereka untuk mencipta cerita sendiri di masa depan dan dalam kehidupan mereka. Melalui bercerita, anak-anak juga diperkenalkan pada berbagai perasaan dan emosi, seperti kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, atau kemarahan, yang membantu mereka memahami dan mengenali emosi mereka sendiri. Selain itu, mereka juga belajar tentang perasaan orang lain, yang mengajarkan mereka untuk lebih peka dan memahami keadaan di sekitar mereka. Menurut Masitoh dan rekan-rekan . , teknik bercerita yang menggunakan ilustrasi gambar dapat menarik perhatian anak, yang berarti metode ini berhasil. Sementara itu, menurut Vadilah dan tim . , buku cerita bergambar membantu anak memahami cerita melalui teks yang didukung oleh ilustrasi. Salah satu media yang sangat berguna untuk membantu perkembangan anak-anak di usia dini adalah buku cerita bergambar. Mereka tidak hanya menyenangkan untuk dibaca, tetapi juga berkontribusi besar pada pembentukan dasar-dasar pendidikan, kemampuan sosial dan emosional yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik. Buku cerita bergambar juga merupakan alat yang dapat mengajarkan banyak hal kepada anak seperti, melatih kemampuan berbahasa dan berbicara anak, membantu anak dalam berimajinasi, serta membantu anak untuk mengasah daya ingat dan kreativitasnya untuk Menurut Restuningtyas & Hasibuan . , buku cerita bergambar merupakan jenis buku yang mengombinasikan kalimat dan gambar dengan baik, sehingga keduanya saling Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X mendukung untuk menciptakan sebuah cerita yang utuh. Melalui gambar-gambar tersebut, pembaca dapat mempelajari berbagai karakter, tempat, dan berbagai hal lainnya dari lokasi yang jauh dan sulit dijangkau. Gambar-gambar ini tidak hanya memberikan gambaran tentang masa depan, tetapi juga dapat mengilustrasikan masa lalu dengan jelas. Dalam bercerita, hal yang perlu dilihat lebih dalam saat memilih ilustrasi gambar yang akan digunakan adalah bahwa penggunaan ilustrasi gambar dimaksudkan untuk membuat pesan yang dituturkan lebih jelas dan jalan ceritanya dapay menarik perhatian anak. Gambar ilustrasi harus menggambarkan jalan cerita yang disampaikan, berwarna, besar, dan mudah dilihat oleh anak. Buku cerita bergambar merupakan karya yang mengintegrasikan kalimat dan gambar dengan harmonis, sehingga keduanya saling memperkaya dan membentuk sebuah kisah yang Melalui ilustrasi yang ada, pembaca dapat menjelajahi berbagai karakter, kawasan, serta beragam hal menarik dari tempat-tempat yang jauh dan sulit dijangkau. Gambar-gambar tersebut bukan hanya memberikan gambaran tentang masa depan, tetapi juga mampu mengilustrasikan masa lalu dengan jelas. Merujuk pada latar belakang masalah yang telah dijelaskan, pembahasan dari penelitian ini adalah AuApa pengaruh buku cerita bergambar terhadap kemampuan bercerita anak berusia 5 hingga 6 tahun di TK Madina Luhur Surabaya?Ay. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pengaruh buku cerita bergambar terhadap keterampilan bercerita pada anak-anak berumur 5 hingga 6 tahun di TK Madina Luhur Surabaya. METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain yang melibatkan pre-test dan post-test. Sebelum dan setelah perlakuan pre-test dilaksanakan. Dengan cara ini, dapat mendapatkan hasil yang lebih efektif dan dapat dibandingkan dengan situasi sebelumnya. Selain dilakukan metode pre-test dan post-test, penelitian ini juga menggunakan metode observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan sampel 20 anak berusia antara lima dan enam tahun yang terdaftar di TK Madina Luhur Surabaya dengan teknik pengambilan sampel non random dikarenakan ditemukan permasalahan ini di 1 kelas saja . dari populasi sebanyak 80 anak . HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian ini dibuktikan dalam tabel dibawah : Pair Tabel 1. Ringkasan Hasil Uji Hipotesis SPSS Versi 25 Paired Samples Test Paired Differences Mean Std. Std. Error 95% Confidence Deviatio Mean Interval of the Difference Lower Upper Pretest Ae -5. Posttest Sig. Hasil dari sampel tes paired untuk pengambilan keputusan berdasarkan signifikansi ditunjukkan di atasNilai Signifikansi . -taile. yang didapat . dengan tingkat signifikansi 0,05 terlihat dari perhitungan sebelumnya. Dengan demikian, hasil 0,000 berada Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X di bawah 0,05, maka Ho tidak diterima. Pengaruh dari media buku cerita bergambar terlihat pada kemampuan bercerita anak-anak yang berusia 5-6 tahun di TK Madina Luhur Surabaya. Adapun hasil dari pengumpulan data dari pre-test yang akan disajikan dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut : Tabel 2. Hasil Penilaian Pre-Test No. Nama Indikator Asen Habil Althaf Rio Eir Rifky Ragnar Al fatih Raffasya Ara Qhira Aisyah Syaira Zahra Naqiyyah Gea Mysha Hasna Salsa Rafif Aspek yang Diamati Indikator Indikator Indikator Indikator Jumlah Skor Hasil RataRata Skor Adapun hasil dari pengumpulan data dari post-test yang akan disajikan dalam bentuk tabel adalah sebagai berikut : Tabel 3. Data Hasil Post-Test No. Nama Indikator Asen Habil Althaf Rio Eir Rifky Ragnar Al fatih Raffasya Ara Qhira Aisyah Syaira Zahra Naqiyyah Gea Mysha Hasna Aspek yang Diamati Indikator Indikator Indikator Indikator Jumlah Skor Hasil RataRata Skor Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Salsa Rafif Kriteria Penilaian = Anak Berkembang Sangat Baik (BSB) = Anak Berkembang Sesuai Harapan (BSH) = Anak Mulai Berkembang (MB) = Anak Belum Berkembang (BB) Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa buku cerita bergambar memiliki peranan yang signifikan dalam mengembangkan keterampilan bercerita pada anak. Media buku cerita bergambar sendiri sangat bermanfaat untuk membangun rasa percaya diri anak, kemampuan anak dalam menambah kosakata nya sendiri dalam bercerita, anak mampu percaya diri bercerita dihadapan orang banyak, menceritakan kembali isi cerita secara sederhana, serta menyampaikan ide dan imajinasi nya dalam bercerita. Semua hal diatas didukung dengan analisis di tabel perbandingan hasil pretest dan posttest yang menunjukkan adanya pengaruh yang penting antara penggunaan buku cerita bergambar dan kemampuan bercerita anak-anak berusia 5 hingga 6 tahun di TK Madina Luhur Surabaya. Selain itu. Juniza dkk. mengklaim bahwa buku cerita yang bergambar merupakan jenis media cerita dengan kualitas tertentu, yang mendukung hasil penelitian ini. Buku cerita bergambar membantu keterampilan bahasa anak karena membantu mereka bercerita dan berbicara. Kosa kata baru juga dapat diperkenalkan oleh guru ketika mereka meminta anak untuk menceritakan kembali cerita atau memberikan komentar. Penggunaan buku cerita bergambar dapat membantu anak mengembangkan kemampuan bercerita dalam pembelajaran, kemampuan bercerita anak tampak saat guru mengajak mereka berdialog melalui tanya jawab. Guru membuat pertanyaan yang mendorong anak untuk mengulangi cerita yang telah disampaikan, serta berbagi pengalaman pribadi dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. (Rusmaeni, dkk 2. DOKUMENTASI SIMPULAN Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa di TK Madina Luhur Surabaya, anak-anak berusia 5-6 tahun tidak sering membaca buku cerita yang memiliki gambar saat belum dilakukan penelitian, tetapi setelah dilakukan penggunaan buku cerita yang bergambar, terlihat terdapat dampak dalam kemampuan bercerita anak usia 5-6 tahun di TK Madina Luhur Surabaya. Ini ditunjukkan oleh statistik Uji T untuk kedua tes, yang melibatkan 20 anak. Pengaruh tersebut dapat dilihat dengan adanya perubahan pada kemampuan anak dalam menambah kosakata nya sendiri dalam bercerita, anak mampu percaya diri bercerita dihadapan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X orang banyak, menceritakan kembali isi cerita secara sederhana, serta menyampaikan ide dan imajinasi nya dalam bercerita. DAFTAR PUSTAKA