Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS ETNOMATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SD Hana Lestari1. Ima Rahmawati2. Rusdiono Mukri3. Pirda Amaliyah4 1,2,3,4 Institut Agama Islam Sahid Bogor hanalestari3011@gmail. DOI : https://doi. org/10. 56406/jkim. ABSTRACT The ability to convey mathematical concepts verbally and non-verbally is known as mathematical Students' mathematical communication can be improved through the ethnomathematics-based PBL model. This study aims to analyze the application of the ethnomathematics-based PBL model to enhance students' mathematical communication in mathematics The method used is a pre-experiment with a one-group pretest-posttest design. This research was conducted on fourth-grade students at SDN Cibening 01. Paamijahan District. Bogor Regency. The sample used was non-probability sampling, with a total sample in class IV, consisting of 30 The instruments used were students' mathematical communication tests and observation sheets to implement the ethnomathematics-based PBL model. The mathematical communication test was administered in two stages, namely pretest and posttest. The research obtained an average score of students' mathematical communication on the pretest of 50. 78%, while on the posttest it was 82. Data processing was analyzed using SPSS 26 for Windows with paired sample t-test with . with a significance value of 0. 000 <0. The results showed that there was a significant increase in students' mathematical communication between pretest and posttest. Thus, it can be concluded that there is an increase in students' mathematical communication before and after the application of the ethnomathematics-based PBL model in class IV SDN Cibening 01. Keywords: PBL. Ethnomathematics. Mathematical Communication ABSTRAK Keterampilan untuk menyampaikan konsep matematika baik secara verbal maupun non verbal dikenal sebagai komunikasi matematis. Komunikasi matematis siswa dapat ditingkatkan melalui model PBL berbasis etnomatematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model PBL berbasis etnomatematika untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa pada mata pelajaran matematika. Metode yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan one-group pretest-posttest design. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IV di SDN Cibening 01 Kecamatan Paamijahan Kabupaten Bogor. Sampel yang digunakan yaitu nonprobability sampling dengan sampel total di kelas IV yang berjumlah 30 siswa. Instrumen yang digunakan berupa tes komunikasi matematis siswa dan lembar observasi keterlaksanaan model PBL berbasis etnomatematika. Tes komunikasi matematis dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pretest dan posttest. Penelitian diperoleh skor rata-rata komunikasi matematis siswa pada pretest sebesar 50,78 % sedangkan pada posttest sebesar 82,07%. Pengolahan data dianalisis menggunakan SPSS 26 for windows dengan uji Paired Sample t-test dengan . dengan pemerolehan nilai signifikansi 0,000 < 0,01. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan yang signifikan komunikasi matematis siswa antara pretest dan posstest. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan komunikasi matematis siswa sebelum dan setelah diterapkannya model PBL berbasis etnomatematika di kelas IV SDN Cibening 01. Kata Kunci: PBL. Etnomatematika. Komunikasi Matematis Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENDAHULUAN Perubahan banyak terjadi pada abad 21. Perubahan ini mengharapkan sumber daya manusia akan lebih unggul. Pembentukan kualitas sumber daya manusia yang unggul sangat penting agar dapat menghadapi berbagai perubahan yang sudah ada pada suatu permasalahan Pembelajaran abad 21 merupakan sebuah upaya terhadap permasalahan yang terjadi dalam lingkup pendidikan (Lestari et al. , 2. Pembelajaran abad 21 siswa diharapkan memiliki keterampilan pemecahan masalah berpikir kreatif, berkolaborasi, berkomunikasi, dan berpikir kritis (Nopiani et al. , 2. Di Indonesia untuk mendukung penerapan pendidikan yang berpacu pada pembelajaran abad 21 bahwa permendikbudristek mengeluarkan SK Nomor 56 Tahun 2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam pembaruan pembelajaran dan menetapkan aturan hukum dalam penerapan kurikulum merdeka. Pemerintah membuat kebijakan agar kurikulum merdeka belajar dapat diterapkan sehingga siswa tidak ada rasa terbebani pada kegiatan belajar mengajar (Permendikbud, 2. Pendapat Kemendikbud . , kurikulum merdeka memiliki tiga ciri: pengembangan soft skills dan karakter, penekanan pada materi yang penting, dan fleksibilitas Pengembangan soft skills dan karakter ini selaras dengan Permendikbud Nomor 5 Tahun 2022 yang mengungkapkan bahwa kemampuan pada tingkat SD/MI/SDLB mesti memiliki kemampuan komunikatif. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) menjelaskan proses pembelajaran sebagai interaksi antara siswa, guru dan sumber belajar yang bertujuan agar siswa dapat mengembangkan potensi masing-masing. Dalam interaksi maka dibutuhkan komunikasi. SK Permendikbudristek 033/H/KR/2022 bahwa di Indonesia tujuan mata pelajaran matematika salah satunya ialah supaya siswa dapat mengkomunikasikan gagasan melalui grafik, tabel, simbol maupun sarana lain untuk menjelaskan suatu masalah atau keadaan dan mempresentasikan keadaan tersebut (Fitri & Darhi, 2. Keterampilan komunikasi dalam bidang ilmu matematika disebut dengan matehmatical communication atau komunikasi matematis. Keterampilan untuk menyampaikan konsep matematika baik secara verbal maupun non verbal dikenal sebagai komunikasi matematis (Lubis et al. , 2. Di Indonesia pada kenyataannya komunikasi matematis siswa pada kategori rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei PISA bahwa rata-rata komunikasi matematis siswa 3 tahun terakhir yaitu tahun 2015, 2018 dan 2022 mengalami penurunan dengan pemerolehan skor sebesar 389 pada tahun 2015, 379 pada tahun 2018 dan 366 pada tahun 2022. Hal ini sejalan dengan hasil TIMSS 2015, yang menilai kemampuan matematika siswa Indonesia pada tingkat 6 terendah dibandingkan dengan negara lain yang mengikuti survei tersebut (Lestari, 2. Menurut Nizam . mengungkap hasil survei TIMSS dari 49 negara. Indonesia berada pada peringkat ke-44. Indonesia memperoleh skor rata-rata 397, dengan perbandingan skor rata-rata 500 di seluruh Data kemampuan komunikasi matematis dapat dilihat melalui data literasi numerasi. Hal ini dikarenakan literasi numerasi adalah kapasitas individu untuk bernalar secara matematis dan merumuskan, menggunakan, dan menginterpretasikan matematika untuk memecahkan masalah dalam berbagai konteks dunia nyata (OECD, 2. Maka dari itu dibutuhkannya komunikasi matematis sebagai dasar pencapaian literasi numerasi. Pada hasil Asesmen Nasional (AN) pada capaian kompetensi literasi jenjang SD mencapai sebesar 61,53% sedangkan untuk numerasi mencapai sebesar 46,67%. Hal ini masih berada pada kategori sedang dengan rentang persentase 40%-70% (Kemenag, 2. Menurut Febrita & Harni . penyebab komunikasi matematis di Indonesia rendah yaitu pada saat guru mengajar belum mampu menerapkan pembelajaran yang inovatif. Pendapat tersebut diperkuat oleh Fitri et al. bahwa kegiatan belajar matematika diperlukan adanya kebaharuan dari guru terkait model pembelajaran sehingga tujuan Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 pembelajaran dapat tercapai. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran untuk meningkatkan komunikasi matematis dapat memfokuskan siswa sebagai peran utama dalam pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang memudahkan siswa dalam meningkatkan aktivitas belajar dan dapat mengembangkan kemampuan matematis siswa adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbasis etnomatematika. Model PBL berbasis etnomatematika merupakan merupakan suatu model pembelajaran yang menjadikan masalah menjadi fokus utama, dipraktikkan dan diidentifikasi terhadap suatu budaya di kehidupan sehari-hari serta dibutuhkannya kemampuan untuk penyelesaian masalah seperti kerja sama, berpikir kritis serta mampu menyatakan suatu hasil yang telah diselesaikan dengan tujuan untuk menghubungkan antara budaya dan matematika (Lestari et al. , 2. Maka dari itu tahapan model PBL berbasis etnomatematika menggunakan sintaks PBL dari Asmara & Septiana . dengan mengintegrasikan pendekatan etnomatematika sehingga tahapannya: Menyajikan masalah berbasis etnomatematika rumah adat. Mendiskusikan masalah berbasis etnomatematika rumah adat. Menyelesaikan masalah di luar bimbingan guru berbasis etnomatematika rumah adat. Berbagi Informasi. Menyajikan solusi berbasis etnomatematika rumah adat. Merefleksikan. Model PBL berbasis etnomatematika terhadap komunikasi matematis siswa sudah pernah diteliti oleh Yuningsih et al. namun, metode penelitian kajian literatur digunakan pada penelitian ini bukan penerapan langsung kepada siswa. Selain itu Kabupaten Bogor belum ada penerapan model PBL berbasis etnomatematika yang diperuntukkan meningkatkan komunikasi matematis siswa, penerapannya hanya model PBL saja. Sukriyatun et al. Model PBL untuk meningkatkan inovasi siswa pada mata pelajaran PAI SMP di Kota Bogor . Wiyanto . Pelatihan berpikir kritis dengan model PBL untuk siswa SMK YPUI Parung Bogor . Supardi . Penerapan model PBL materi persamaan dan fungsi kuadrat dalam meningkatkan hasil belajar siswa di kelas XI Tia SMKN 2 Bogor. Berdasarkan beberapa penelitian di atas dapat disimpulkan belum ada yang menerapkan model PBL berbasis etnomatematika untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa khususnya di SD Kabupaten Bogo sehingga menjadi kebaharuan dari penelitian ini. Model PBL berbasis etnomatematika akan dilakukan di kelas IV SD. Hal ini mengacu kepada permasalahan komunikasi matematis siswa yang rendah di kelas V sehingga perlunya pembiasaan di kelas IV untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa. Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model PBL berbasis etnomatematika untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa pada mata pelajaran METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode penelitian preeksperimen dengan one-group pretest-posttest design (Purnawinadi et al. , 2023. Siregar et al. Soesana et al. , 2. Pendapat Sugiyono . one-group pretest-posttest design adalah desain yang diterapkan dalam suatu penelitian dengan tahapan pretest, treatment serta Desain penelitian one-group pretest-posttest design dapat dilihat pada tabel 1: Tabel 1. one-group pretest-posttest design Pre-Test Treatment Post-test (Christensen et al. , 2. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Keterangan: : Nilai rata-rata tes awal . komunikasi matematis yang sebelum memulai menggunakan model PBL berbasis etnomatematika : Perlakuan/treatment yaitu menggunakan model PBL berbasis etnomatematika : Nilai rata-rata tes akhir . komunikasi matematis kelas eksperimen yang dilakukan setelah menggunakan model PBL berbasis etnomatematika Penelitian ini dilakukan di SDN Cibening 01. Kecamatan Pamijahan. Kabupaten Bogor. Aktivitas penelitian berlangsung pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025 dengan menggunakan metode nonprobability sampling, melibatkan 30 siswa dari kelas IV sebagai Data dikumpulkan melalui instrumen tes dan lembar observasi untuk menilai pelaksanaan model PBL berbasis etnomatematika. Tes komunikasi matematis diberikan sebelum dan setelah perlakuan. Lembar observasi digunakan selama pembelajaran dengan model tersebut untuk mengevaluasi sejauh mana tahapan model PBL diterapkan. Peneliti berperan sebagai pengamat untuk menilai implementasi model PBL berbasis etnomatematika dalam kegiatan belajar. Tes yang digunakan berupa soal cerita dalam bentuk esai, dengan skala penilaian sebagai berikut: siswa yang menjawab dengan benar mendapatkan skor 1 untuk informasi yang diketahui, 1 untuk menentukan pertanyaan, 2 untuk langkah 1 dan 2, serta 1 untuk kesimpulan, sehingga total skor per soal esai adalah 5. Lembar observasi bertujuan untuk menilai pelaksanaan model PBL berbasis etnomatematika dengan checklist yang terdiri dari dua opsi: 1 = ya dan 0 = tidak. Analisis data dilakukan menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis parametrik, termasuk uji asumsi klasik . ji normalitas dan homogenita. serta uji hipotesis . HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Komunikasi Matematis Siswa Berdasarkan hasil penelitian komunikasi matematis dapat diukur melalui indikator. Menurut Lubis et al. indikator komunikasi matematis yaitu: . Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematis secara tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar. Menghubungkan benda nyata, gambar atau diagram ke dalam ide matematika. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika. Berdasarkan hasil penelitian dengan penerapan model PBL berbasis etnomatematika diukur sebelum penerapan dan hasil indikator setelah penerapan dapat disajikan seperti berikut: Skor Rata-Rata Tes Komunikasi Matematis perindikator (%) Pretest Posttest 85,33 82,67 78,22 53,33 Indikator 1 47,33 Indikator 2 51,67 Indikator 3 Gambar 1. Skor Rata-Rata Komunikasi Matematis Siswa Per Indikator Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Berdasarkan gambar di atas penerapan model PBL Berbasis Etnomatematika terhadap komunikasi matematis siswa skor rata-rata pretest yang paling besar pada indikator 1 dengan skor rata-rata 53,33. Sedangkan skor rata-rata pretest yang paling kecil pada indikator 2 dengan skor rata-rata 47,33. Skor rata-rata posttest yang paling besar pada indikator 1 dengan skor ratarata 85,33. Sedangkan skor rata-rata posttest yang paling kecil pada indikator 2 dengan skor 78,22. Data yang diperoleh dari tes komunikasi matematis siswa terdiri dari data hasil pretest dan Pretest dan posttest digunakan pada penelitian ini dengan format dan isi soal cerita komunikasi matematis yang sama. Pretest diberikan sebelum perlakuan, tujuannya untuk melihat kemampuan awal siswa mengenai komunikasi matematis siswa. Posttest diberikan sesudah perlakuan, tujuannya untuk mengamati sejauh mana pengaruh komunikasi matematis siswa sebelum maupun sesudah diberi perlakuan berupa model PBL berbasis etnomatematika. Implementasi Penerapan Model PBL Berbasis Etnomatematika Pada model PBL berbasis etnomatematika terdiri dari 6 tahapan dimana setiap tahapannya mendapatkan skor persentase sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Observasi Keterlaksanaan Model PBL Berbasis Etnomatematika No. Tahapan Menyajikan masalah berbasis etnomatematika Mendiskusikan masalah berbasis etnomatematika Menyelesaikan masalah diluar bimbingan guru berbasis Berbagi Informasi Menyajikan solusi berbasis etnomatematika Merefleksikan Total Persentase 93,3% 88,6% 83,3% Kategori Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik 83,3% 91,6% 86,3% Sangat Baik Baik Sangat Baik Sangat Baik Berdasarkan tabel di atas memperoleh skor rata-rata persentase keterlaksanaan tahapantahapan model PBL berbasis Etnomatematika yaitu 86,3% dengan kategori sangat baik. Pemerolehan skor tersebut dijabarkan melalui 6 tahap yaitu: tahap pertama memperoleh skor rata-rata 91,6%, tahap kedua memperoleh skor rata-rata 78%, tahap ketiga memperoleh skor rata-rata 83,3%, tahap keempat memperoleh skor rata-rata 83,3%, tahap kelima memperoleh skor rata-rata 88,6%, dan tahap keenam memperoleh skor rata-rata 93,3%. Komunikasi Matematis Siswa Setelah diterapkan Model PBL Berbasis Etnomatematika Berdasarkan hasil pretest dan posttest diperoleh skor mean, media, modus, standar deviasi, range varians, min, max yang terdapat pada tabel berikut: Tabel 3. Deskriptif Komunikasi Matematis Siswa Statistik Mean Median Modus Standar Deviasi Range Varians Min Pretest 52,78 50,56 44,44 2,781 7,734 35,56 Posttest 82,07 81,11 81,11 1,737 3,016 74,44 Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Max Jumlah Siswa Persentase 67,78 52,78 82,86 82,07 Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pemerolehan nilai mean siswa pada pretest adalah 52,78, yang meningkat menjadi 82,07 pada posttest. Nilai median juga mengalami peningkatan dari 50,56 pada pretest, menjadi 81,11 pada posttest. Sementara modus dari 44,44 pada pretest menjadi 81,11 pada posttest. Perubahan yang terjadi dapat dinyatakan dari perlakuan model PBL Berbasis Etnomatematika dalam proses belajar untuk meningkatkan komunikasi matematis siswa. Perbedaan nilai komunikasi matematis siswa pada pretest maupun posttest dapat dilihat dari gambar berikut: Skor Rata-rata Pretest dan Posttest komunikasi matematis (%) 82,07 50,78 Pretest Posttest Gambar 2. Skor Rata-Rata Pretest dan Posttest Komunikasi Matematis Berdasarkan gambar di atas bahwa nilai rata-rata posttest komunikasi matematis siswa lebih tinggi dari pada nilai rata-rata pretest. Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat peningkatan komunikasi matematis siswa setelah diterapkan model PBL berbasis etnomatematika terhadap komunikasi matematis siswa. Selanjutnya untuk mengetahui apakah ada peningkatan yang signifikan atau tidak komunikasi matematis siswa setelah diterapkan model PBL berbasis etnomatematika pada mata pelajaran matematika dilanjutkan dengan pengujian menggunakan uji paired sample t-test. Sebelum dilakukan uji hipotesis, dilakukan uji asumsi klasik dengan uji normalitas dan homogenitas, dan didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Pretest dan Posttest Komunikasi Matematis Siswa Pretest Posttest Statistik 0,157 0,161 Shapiro Wilk Sig. 0,116 0,075 Berdasarkan tabel di atas bahwa sig untuk uji Shapiro Wilk pada Pretest sebesar 0,116 dan Posttest sebesar 0,075 menunjukkan nilai tersebut lebih besar dari Sig. 0,01 sehingga H1 diterima artinya nilai Pretest dan Posttest terdistribusi normal. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Tabel 5. Hasil Uji Homogen Pretest dan Posttest Komunikasi Matematis Siswa Data Pretest dan Posttest Sig. 0,263 Keterangan Homogen Berdasarkan tabel di atas bahwa nilai homogenitas sebesar 0,263 lebih besar dari Sig. 0,01 sehingga H1 diterima dan H0 ditolak artinya data terdistribusi homogen. Selanjutnya, data yang sudah berdistribusi normal dan homogen dilanjutkan dengan uji hipotesis menggunakan uji paired sample t-test dan didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis Keterangan Pair Pretest Posttest Mean -16,033 Std. Deviation 4,113 Sig. 0,000 Keputusan Uji H0 ditolak Berdasarkan tabel di atas pemerolehan skor probabilitas 0,000 < 0,01 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima maka rata-rata komunikasi matematis siswa memiliki perbedaan yang signifikan pada nilai pretest dengan posstest. Berdasarkan uji tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan skor rata-rata posttest komunikasi matematis siswa setelah penerapan model PBL Berbasis Etnomatematika dibandingkan dengan skor rata-rata pretest sebelum adanya perlakuan tersebut. Pada penelitian ini pemerolehan skor rata-rata pretest sebesar 50,78 dan skor rata-rata posttest sebesar 82,07. Berdasarkan hal tersebut skor rata-rata posttest memiliki skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan skor rata-rata pretest. Peningkatan ini terjadi karena pada proses pembelajaran model PBL berbasis etnomatematika lebih menekankan pada keaktifan siswa melalui kegiatan diskusi dan pertukaran ide untuk memecahkan masalah sehingga peningkatan komunikasi matematis siswa dapat terjadi (Purwati & Darussyamsu, 2. Penerapan model PBL berbasis etnomatematika ini terbagi menjadi 6 tahapan. Pada tahap pertama guru menyajikan suatu permasalahan yang berkaitan dengan rumah adat yang adat di daerah tertentu yang sudah terintegrasikan dengan matematika materi luas persegi dan panjang sesuai dengan lembar penyajian masalah yang sudah disediakan tiap pertemuan. Pada tahap ini siswa dibagi ke dalam kelompok yang sudah ditentukan dalam perencanaan pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa akan tetapi masih memiliki kekurangan pada pertemuan ke-1 yaitu guru tidak menekankan kembali permasalahan yang berkaitan dengan materi luas bangun datar maka persentase rata-rata pada tahap ini sebesar 93,3%. Pada tahap kedua mendiskusikan masalah berbasis etnomatematika rumah adat. Diskusi masalah ini dalam prosesnya masih dengan bimbingan guru, siswa diberi kebebasan bertanya terkait langkah-langkah dan penugasan yang akan mereka selesaikan yang disajikan dalam LKPD. Pada pertemuan ke 2 dan ke-3 memiliki persentase yang sama. Berdasarkan hasil pengamatan bahwa hal ini terjadi karena pada pertemuan ke-2 dan pertemuan ke-3 terdapat kendala yang berbeda. Pada pertemuan ke-2 kendala yang ditemui yaitu guru tidak mengarahkan siswa untuk berdiskusi hanya membagikan LKPD saja, sedangkan pada pertemuan ke- 3 terdapat temuan siswa belum berani mengajukan mengenai langkah-langkah dan penugasan yang diberikan dalam LKPD maka persentase rata-rata pada tahap ini sebesar 88,6%. Pada tahap ketiga menyelesaikan masalah di luar bimbingan guru berbasis etnomatematika rumah adat. Pada tahap ini, siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang telah didiskusikan secara berkelompok tanpa bimbingan langsung dari guru. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Mereka dapat mencari informasi dari berbagai buku atau sumber lain untuk menemukan solusi akan tetapi dari pertemuan ke-3 mengalami penurunan persentase pada pertemuan ke-4 dan ke5. Hal ini disebabkan karna ada kendala dalam tahapan PBL berbasis etnomatematika yang tidak terlaksana seperti guru belum seluruhnya mengontrol semua kelompok secara berkala sehingga persentase rata-rata yang diperoleh sebesar 83,3%. Tahap keempat yaitu siswa berbagi informasi bersama teman kelompoknya. Penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan kerja sama antar kelompok. Pada tahap ini siswa berbagi informasi yang mereka dapat dengan teman kelompoknya dan menyimpulkan solusi mana yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang telah disajikan akan tetapi masih ada temuan pada siklus ke-4 dan ke-5 bahwa guru belum memberikan dukungan kepada siswa dan hanya mengawasi saja sedangkan faktor dari siswanya belum seluruhnya mengemukakan ide dalam berbagi informasi sehingga pemerolehan persentase rata-rata sebesar 83,3%. Tahap kelima yaitu menyajikan solusi berbasis etnomatematika rumah adat. Pada tahap ini, siswa menyajikan solusi yang telah mereka temukan kepada kelompok lagi dengan melakukan presentasi di depan kelas. Presentasi ini mencakup penjelasan tentang konsep matematika dalam konteks rumah adat akan tetapi pada tahap ini pada siklus ke-6 mengalami penurunan persentase dan termasuk tahapan dengan pemerolehan terkecil dibandingkan dengan tahapan lain. Hal ini disebabkan karna guru tidak menjelaskan solusi yang terbaik atas jawaban siswa, kurangnya kemampuan analisis siswa terhadap masalah yang disajikan, kurangnya kerja sama antar siswa, siswa tidak menanggapi jawaban dari kelompok yang sedang presentasi dan siswa tidak mendapatkan apresiasi dari guru setelah melakukan presentasi sehingga pemerolehan persentase rata-rata sebesar 78%. Persentase pada tahap menyajikan dapat disebabkan siswa kurangnya pengetahuan awal dan siswa dituntut untuk menganalisis suatu permasalahan atas dasar pengetahuan yang telah dimilikinya tanpa bantuan guru (Istiqomah et al. , 2. Pada tahap terakhir yaitu tahap dimana siswa diajak untuk merenungkan proses pembelajaran yang telah mereka lakukan. Siswa dapat mendiskusikan bersama guru apa yang telah mereka pelajari dalam pembelajaran yang telah dilakukan akan tetapi pada pertemuan ke1 guru belum melakukan motivasi hanya me-review ulang materi saja sehingga pemerolehan persentase rata-rata pada tahap ini sebesar 91,6%. Pemerolehan persentase rata-rata model PBL berbasis etnomatematika secara keseluruhan yaitu sebesar 86,3%. Hal ini pun diperkuat oleh pendapat Yuningsih et al. yang menyatakan bahwa model PBL berbasis etnomatematika memiliki matriks yang berhubungan dengan komunikasi matematis. SIMPULAN Penerapan model PBL berbasis etnomatematika dapat meningkatkan komunikasi matematis siswa pada mata pelajaran matematika. Penerapan ini uga dapat mendorong pengembangan profesional guru, diharapkan dapat lebih inovatif dalam rancangan model pembelajaran serta dapat mendukung kebijakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. yaitu untuk mendorong identitas budaya serta menciptakan pembelajaran yang relevan. Keterbatasan penelitian ini yaitu hanya menggunakan pendekatan etnomatematika pada mata pelajaran matematika. Diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan untuk mengukur kompetensi lain seperti dengan menggunakan pendekatan yang memiliki relevansi dengan model PBL contohnya pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan tujuan mengupayakan kualitas pembelajaran yang baik pada mata pelajaran matematika khususnya di kelas tinggi awal tingkat SD. Volume 12 Nomor 02 Juni 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 REFERENSI