Volume 1 Issue 1 . Pages 71-84 Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran ISSN: 2721-1169 (Onlin. , 2721-1150 (Prin. PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KH. ABDURRAHMAN WAHID TENTANG MODERASI ISLAM Bagas Mukti Nasrowi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) 4 Magetan email: bagmukri@gmail. Abstract: This scientific study describes the strategic steps to moderate Islamic education by de-radicalizing and de-idealizing. One prominent figure who is concerned and concerned with expressing moderate Islam is KH. Abdurrahman Wahid. His ideas and ideas deserve to be interpreted in the perspective of Islamic education. The focus of the problem was emphasized on Gus Dur's thoughts on Islamic education, and then formulated in a model of deradicalization through education. The method used is a literature study with content The results of the study found that Gus Dur's thinking had implications for Islamic education which in its implementation was characterized by Neo-Modernist, liberation-based, multicultural-based Islamic Education, inclusive Islamic Education, and Humanist Islamic Education. The five approaches have supported the central structure of Islamic education rahmatan lil 'alamin which underlies the model of de-radicalization and de-ideology of Islamic education. Abstrak: Kajian ilmiah ini menjelaskan tentang langkah strategis moderasi pendidikan Islam dengan melakukan deradikalisasi dan deideologisasi. Salah satu tokoh yang inten dan concern dalam mengeksprsikan Islam yang moderat ialah KH. Abdurrahman Wahid. Ide dan gagasan beliau patut untuk diinterpretasikan dalam perspektif pendidikan Islam. Fokus permasalahan ditekankan pada pemikiran Gus Dur mengenai pendidikan Islam, untuk kemudian dirumuskan dalam suatu model deradikalisasi melalui pendidikan. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi . ontent analysi. Hasil penelitian menemukan bahwa pemikiran Gus Dur berimplikasi terhadap pendidikan Islam yang pada implementasinya bercorak Pendidikan Islam berbasis Neo-Modernis, berbasis pembebasan, berbasis multikultural. Pendidikan Islam yang inklusif, serta Pendidikan Islam humanis. Kelima pendekatan tersebut telah menopang struktur sentral pendidikan Islam rahmatan lil Aoalamin yang mendasari model deradikalisasi dan deideologisasi pendidikan Islam. Keywords: Moderasi, pendidikan Islam, deradikalisasi Copyright . 2020 Bagas Mukti Nasrowi ____________________________________________________________________________________ Received 25 Nopember 2019. Accepted 18 Februari 2020. Published 1 Maret 2020 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 71 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam PENDAHULUAN Fenomena akhir-akhir menjadikeprihatinan kita semua, baik dalambidang yang mengancam stabilitas keamanan nasional dan integrasi sosial. Seperti kejadian ledakan yang diduga bom bunuh diri terjadi di Markas Polrestabes Medan. Sumatera Utara, pada Rabu tanggal 13 Nopember 2019. 1 Dalam aksi teror tersebutdapat dipastikan memakan korban, baikdiri pelakunya maupun aparat dan warga yangtidak berdosa. Di samping itu,peristiwa tersebut jugamenimbulkan trauma psikologis bagipara korban yang masih hidup danjuga ketakutan di kalanganmasyarakat. Dari peristiwa tersebut ada hal yang sebenarnya tidak dapat kita lupakan saat ini adalah terorisme itu dapat berupa aktivitas non violence . error of min. dan terorisme yang berwujud aktivitas kekerasan . iolence activit. Hal lainnya adalah adanya penggunaan istilah stateof terrorism dan civil of terrorism, yang keduanya sama-sama berbahaya. Namun, seringkali pembicaraan mengarah pada apa yang kita namakan civil terrorism, sementara state ofterrorism tidak atau jarang dibahas oleh banyak pihak, termasuk akademisi. 2 Persoalan kerentanan sosial, ekonomi, rasa kehilangan peluang politik danekspresi identitas menjadi kekhususan dalam keagamaan, seperti ibadah dan ritual. Untuk dapat terjadi kekerasan biasanya harus digabungkan dengan faktor-faktor lain, seperti doktrin ideologi yang ditanamkan oleh pemimpin kharismatik, pengembangan sistem rekruitmen yang efektif, dan organisasi yang mapan. Gagasan tentang perdamaian melalui agama Islam, seperti disampaikan oleh Mohammad Abu Nimer, sebenarnya sebuah gagasan yang hendak menurunkan nilai-nilai kedamaian dalam Islam dalam praktek hidup sehari-hari. Hanya saja semua terletak pada para penganutnya, terutama para pemimpin agama apakah bersedia untuk mengumandangkan perdamaian ataukah akan mengumandangkan peperangan atas nama agama. Sesungguhnya gagasan tentang Islam nir kekerasan, yang pernah dikemukakan oleh Abdurrahman Wahid. Hasan Hanafi, dan Nasir Hamid Abu Zaid, memberikan penjelasan lain bahwa Islam sebenarnya agama yang sangat mencintai perdamaian . on kekerasa. Abdurrahman Wahid ketika itu sebagai tokoh dunia . menggagas perlunya https://nasional. com/read/2019/11/13/09330991/live-streaming-ledakan-yang-diduga-bom-dipolrestabes-medan. Diakses pada Rabu, 13 Nopember 2019 Ariel Heryanto. State Terorism and Democracy in Indonesia (Singapura: ISEAS, 2. , 126. Mark Jergensmeyer. Religion. Globalization and Civil Society (Toronto. USA :Sage Publication, 2. Mohammad Abu Nimer. Nir Kekerasan dan Bina Damai dalam Islam: Teori dan Praktek. Diterj. Irsyad Rafsyadi dan Khairil Azhar, (Bandung: Alvabet dan Paramadina, 2. , 235-246. 72 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam perspektif teologi Islam yang mendorong adanya tindakan nir kekerasan. Sebagai salah satu World Conference Religions Peace (WCRP), sebagaipendiriIndonesian Conference Religions and Peace (ICRP). Abdurrahman Wahid bersama Syafii Maarif. Rm. Ismartono. Rm. Mudji Sutrisno, dan beberapa lainnya berupaya menggalang perspektif keislaman yang nir kekerasan. Oleh karena itu, gagasan tentang deradikalisasi agama ini ditempuh sebagai salah satu cara penanggulangan terorisme yang bersifat non violence melalui cara represif, proses hukum, penangkapan, penyidangan dan eksekusi dirasa kurang efektif, karena cara tersebut kurang menyentuh pada akar permasalahan yang sesungguhnya. Cara represif dengan pendekatan militeristik seperti penangkapan dan bahkan penembakan pelaku teror merupakan langkah memotong aksi teror dari tengah yang dianggap oleh banyak pihak tidak efektif. Para pelaku teror ternyata tidak juga menghentikan kekerasan, bahkan karena alasan membalaskan dendam saudaranya yang telah dieksekusi mati oleh aparat keamanan, alasan penahanan yang tidak sesuai prosedur, dan berbagai jenis tindakan negara atas mereka yang dituduh dan tertangkap menjadi teroris, maka kekerasan pun bermunculan dengan kekerasan baru. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan, dalam teori resolusi konflik, memang akan memunculkan kekerasan baru. Dari hal itulah kemudiandicari metode lain untuk menghentikan berbagai macam terorisme. Oleh karena itu, walaupun deradikalisasi agama dilakukan terhadap orang yang telah mengalami radikalisasi agama seringkali hal itu tidak akan bisa menghilangkan bekas dan dampak radikalisasi agama secara penuh. Bisa jadi hal itu hanya bersifat sementara. Hal ini dapat dilihat dari fakta adanya pelaku teror yang merupakan alumnus deradikalisasi agama, yaitu Abdullah Sonata dan Abu Tholut yang melakukan aksi terorisme melalui Jaringan Anshorut Tauhid (JAT). Mereka jaringanJamaah Islamiyah pimpinanAzhari bahkan disinyalir sebelumnya merupakan alumnialumni perang Afganistan bersama Osamah Bin Laden. Salah satu tokoh Islam yang concern pada wacana-wacana humanis, pluralis dan multikulturalis ialah KH. Abdurrahman Wahid. Gagasan-gagasan pemikiran beliau, merupakan sebuah ikhtiar melawan kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dan Abdurrahman Wahid, dkk. Islam nir Kekerasan (Yogyakarta: LKiS, 2. , 45-56. Muhammad Nurul Huda. Aku Mantan Teroris (Bandung:Mizan, 2. , 25. Bilveer Singh. Talibanization and Extremisme in Southeast Asia, (Sinngapura: ISEAS, 2. , 234. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 73 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam lewat tulisan-tulisan beliau juga bisa dilihat bagaimana kontribusinya meneguhkan Islam yang rahmatan lil Aoalamin. Pada dekade 1970 hingga awal 1990ketika KH. Abdurrahman Wahid muda, beliau merupakan sosok intelektulias yang konsisten menyelaraskan Islam dengan modernitas dan pembangunan di Indonesia. KH. Abdurrahman Wahid tidak ingin kemudian Islam dijadikan sebagai faktor yang menjadi penghambat usaha modernitas. Melihat gagasan-gagasan yang dilontarkan KH. Abdurrahman Wahid tentang keislaman maupun pendidikan yang bercorak rahmatan lilAoalamin nampaknya sangat relevan dengan program deradikalisasi paham keagamaan. Disinilah letak urgensi Artikel ini, penulis mencoba menginterpretasikan dan menarik pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tersebut dalam perspektif pendidikan, lebih spesifik lagi dalam perspektif pendidikan Islam. Sehingga kemudian dapat dikonseptualisasikan dalam sebuah model deradikalisasi yang memuat kerangka pandang yang mendasar terhadap Islam, nilai-nilai, model pembelajaran, serta lingkungan yang dapat menumbuhkan pengetahuan dan sikap toleran dengan berbagai agama, budaya, etnis dan lain sebagainya. DERADIKALISASI DAN DEIDEOLOGISASI PAHAM KEAGAMAAN Deradikalisasi merupakan proses moderasi terhadap pemikiran atau ideologi para pelaku teror maupun individu yang telah radikal, dalam bahasa lain mengembalikan pemikiran radikal mereka kepada ideologi yang moderat. Secara terminologi, program deradikalisasi pemahaman agama berarti menghilangkan pemahaman yang radikal atas ayat-ayat Al-QurAoan dan hadis, terutama menyangkut konsep jihad dan perang melawan kaum kafir. Dengan demikian, deradikalisasi bukan berarti melahirkan pemahaman baru tentang Islam, tetapi untuk meluruskan dan mengembalikan pemahaman Islam sebagai agama yang damai. Tetapi belakangan ini deradikalisasi mengalami perluasaan makna, sebagaimana yang disampaikan oleh Syamsul Arif, bahwa yang dimaksud dengan perluasan makna ialah deradikalisasi tidak melulu dipahami sebagai proses moderasi terhadap keyakinan dan perilaku seseorang yang sebelumnya terlibat dalam organisasi radikal, tetapi sebagai: "Deteksi secara dini, menangkal sejak awal, dan menyasar berbagai lapisan potensial dengan beragam bentuk dan varian yang relevan bagi masing-masing kelompok yang menjadi sasaranAy. Abdullah Ahmed an-NaAoim. Dekonstruksi Syariah (Yogyakarta: LKiS, 1. , 338. Syamsul Arifin. Studi Islam Kontemporer. Arus Radikalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia, (Malang: Intrans Publishing, 2. , 33. 74 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam Pemahaman kontekstual dan pembumian nilai humanitas agama akanmelahirkan aksi atau implementasi beragama yang jauh dari aksi-aksi kekerasan, radikalisme dan terorisme. Makna tidak melulu dipahami sebagai proses moderasi terhadap keyakinan dan perilaku seseorang yang sebelumnya terlibat dalam organisasi radikal, tetapi sebagai: "Deteksi secara dini, menangkal sejak awal, dan menyasar berbagaim lapisan potensial dengan beragam bentuk dan varian yang relevan bagi masing-masing kelompok yang menjadi sasaranAy. Pemaknaan seperti ini mulai berkembang sehingga deradikalisasi tidak hanya terbatas dilakukan pada bekas kombatan yang ditangkap dan dimasukkan ke penjara, tetapi juga dapat dilakukan di berbagai ruang publik melalui berbagai media. Deradikalisasi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pendidikan perdamaian merupakan salah satu cara yang efektif. Pendidikan ini berproses dalam pembelajaran yang mengajarkan realitas keragaman . agama, ras, suku, budaya, dan bahasa yang harus dikelola dan dihormati. Peserta didik akan dapat menjauhkan diri dari tindakan ekstrem dan radikal, terutama yang mengatasnamakan agama. Pendidikan perdamaian . eace educatio. dapat menjadi proses deradikalisasi umat beragama. PENDIDIKAN ISLAM RAHMATAN LILAoALAMIN DALAM PERSPEKTIF KH. ABDURRAHMAN WAHID Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang berdasarkan pada ajara-ajaran Islam. Ajaran Islam merupakan ajaran yang sempurna, tidak hanya membahas hubungan vertikal dengan Allah SWT saja tetapi membahas juga tentang hubungan horizontal manusia dengan manusia lain dan lingkungannya. Maka dari itu dalam penyelenggaraannya pendidikan Islam seharusnya mampu melahirkan peserta didik yang komunikatif,bekerja sama dan peduli terhadap sesama, tanpa melihat golongan, etnis dan ideologi yang dianut. Semua itu karena ajaran Islam bersifat rahmatan lilAoalamin, maka sebagai seorang muslim wajib menjaga terciptanya kedamaian keharmonisan kehidupan. Pendidikan Islam menurut KH. Abdurrahman Wahid menjadi titik balik yang harus dijadikan pangkalan untuk merebut kembali wilayah-wilayah lain yang kini sudah lepas. menjadi tumpuan langkah strategis untuk membalikkan arus yang menggedor pintu Imam Mustofa. AuDeradikalisasi Ajaran Agama: Urgensi. Problem dan SolusinyaAy. Akademika. Vol. No. 2, 10 Syamsul Arifin. Studi Islam Kontemporer . , 33. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 75 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam pertahanan umat Islam. Wacana perlunya memasukan program deradikalisasi lewat pendidikan merupakan hal yang kontekstual saat ini. Deradikalisasi dalam konteks membekali siswa dengan nilainilai yang dapat membendung paham radikal. Kelompok radikal mudah melakukan doktrinisasi terhadap mereka yang sejak awal tidak memiliki atau mempunyai nilainilaikemanusiaan seperti toleransi, tolong-menolong, inklusifitas, empati dan sebagainya. Untuk itu menjadi tugas pendidikan dari sejak dini untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Pendekatan integratif dan berkesinambungan dengan memasukkan keterlibatan institusi pendidikan menjadi urgen karena di setiap negara memiliki karakteristik tersendiri dalam metode penanganan masalah radikalisme dan terorisme. Di Indonesia dengan komposisi masyarakat yang majemuk secara ras, suku,dan agama dibutuhkan penanganan secara holistik dengan melibatkan institusi pendidikan. Hal ini disebabkan bahwa aksi radikalisme dan terorisme di Indonesia lebih dipicu karena kekurangan pahaman masyarakat dalam menghadapi realitas yang plural dalam berbagai aspek. Ditambah lagi dengan berbagai faktor sosial dan politik dari luar yang menjaditrigger . bagi aksi radikal dan terorisme di Indonesia. Deradikalisasi lewat institusi pendidikan dikontekskan sebagai upaya menanamkan dan membekalipeserta didik dengan nilai-nilai luhur. pendidikan memiliki peran yang strategis dalam proses penanaman dan transfer nilai-nilai. hal itu karena pendidikan mempunyai fungsi melakukan integrasi sosial, yaitu menyatukan berbagai sub budayadan mengembangkan masyarakat yang memiliki nilai-nilai bersama dalam kondisi majemuk. Sebagaimana disebut dalam teori rekonstruksianisme, bahwa pendidikan diyakini mempunyai peranan yang positif dalam merekonstruksi masyarakat. Masyarakat yang direkonstruksi adalah masyarakat yang dapat hidup dalam suasan lebih mementingkan kebersamaan daripada kepentingan individu. Ide-ide KH. Abdurrahman Wahid bisa dianaliss dan dijadikan masukan bagi dunia pendidikan Islam. Pada prosesnya penulis menemukan setidaknya ada empat ide beliau yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran politik, pendidikan dan sosial beliau. Di antaranya Islam sebagai Etika Sosial. Pribumisasi Islam. Universalisme Islam, dan Kosmopolitanisme Islam. Empat ide-ide dasar tersebut dielaborasikan dalam pembahasan terkait dengan relevansinya terhadap Pendidikan Islam berparadigmarahmatan lilAoalamin. Ada lima ciri Abdurrahman Wahid. Tuhan Tidak Perlu Dibela, (Jakarta: Saufa. , 63. 76 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam Pendidikan Islam berparadigma rahmatan lilAoalamin yang dielaborasikan dari pemikiran pendidikan maupun keIslaman KH. Abdurrahman Wahid, yaitu: Pendidikan Islam berbasis Neo-Modernisme AliranNeo-Modernis memahami ajaran dan nilai kandungan al-QurAoan dan Sunnah dengan mempertimbangkan dan mengikutsertakan khazanah intelektual klasik di samping mencermati kesulitan-kesulitandan kemudahan yang ditawarkan dunia teknologi modern. Sumber rujukannya adalah al-QurAoan. Sunnah, dan khazanah klasik serta pendekatan keilmuan yang muncul era abad ke 19 dan 20, dengan kata lain keilmuan yang muncul di era Bagi KH. Abdurrahman Wahid pendidikan Islam haruslah memadukansesuatu yang tradisional dan modern. Beliau berusaha menyintesiskan kedua pendidikan ini, yakni pendidikan Islam klasik dengan pendidikan Barat modern dengan tidak melupakan esensi ajaran Islam. 14Beliau berusaha konsisten mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, tetapi tetap melihat ke depan dan mengadopsi pemikiran barat modern yang sangat relevandengan Islam sehingga dari sintesis tersebutmenghasilkan neo-modernisme untuk melihat pesan utuh al-QurAoan. KH. Abdurrahman Wahid paham betul bagaimana merealisasikan salah satu kaidahushul fiqh yang terkenal, yaitual-muhafadzah bil qadimish-shalih wal-akhdzu biljadidil ashlah, mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil hal-hal yang baru yang lebih baik. Kaidah inilah yang dipegang oleh Abdurrahman Wahid sebagai prinsip dalam Islam. Kataal-Muhafazah Aoala al-Qadim al-Salih, menggarisbawahi adanya unsur perenialisme dan essensialisme, yang bercorak regresif dan konservatif terhadap nilai-nilai Ilahi dan nilai-nilai insani . udaya manusi. yang telah ada dan dibangun serta dikembangkan oleh parapemikir dan masyarakat terdahulu. Namun sikapsikap tersebut muncul setelah dilakukan kontekstualisasi, dalam arti mendudukkan khazanah intelektual Muslim klasik dalam konteksnya. Sedangkan kata al-Akhzi bi al-Jadid al-Aslah menunjukkan adanya sikap dinamis dan progresif serta sikap rekonstruktif walaupun tidak Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2. Greg Barton,Biografi Gus Dur The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, (Yogyakarta: LkiS. , 138. Faisol. Gus Durdan Pendidikan Islam. Upaya Mengembalikan Esensi Pendidikan di Era Global, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. , 82. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 77 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam bersifat radikal. Hal-halyang dipandang relevan akan diadopsi dan dilestarikan dalam usaha mencari alternatif lain dalam konteks pengembangan pendidikan Islam. Pendidikan Islam Berbasis Pembebasan Paradigma pendidikan Islam sebagai pembebas dilandasi oleh pemikiran KH. Abdurrahman Wahid yaitu Islam sebagai etika sosial. Gagasan beliau yang berada pada ranah Islam sebagai pembebas. Gagasan ini merupakan upaya beliau dalammembebaskan manusia dari struktur sosial yang mengekang. KH. Abdurrahman Wahid menempatkan Islam sebagai agama pembebasan, dalam pemaparannya beliau mengatakan bahwaPada dasarnya Islam adalah agama pembebasan. Secara historis, ia muncul sebagai proses, betapa pun tidak langsungnya, terhadap ketidakadilan yang terdapat di masyarakat Jazirah Arab. Seluruh kepustakaan mengenai tradisi kenabian menunjukkan bahwa Islam adalah sebuah agama yang membela kaum miskin, kaum yang terabaikan, dan kaum yang tak Al-QurAoan secara eksplisit memberikan perintah supaya memperhatikan hak-hak fundamental mereka serta melindunginya dari segala bentuk manipulasi. Seyogyanya Pendidikan Islam dalam perspektif KH. Abdurrahman Wahid, yaitu pembelajaran yang membebaskan manusia dari belenggu-belenggu tradisionalis yang kemudian ingin di daur ulang dengan melihat pemikiran kritis yang terlahir oleh Barat Dengan demikian akan memunculkan term pembebasan dalam pendidikan Islam dalam koridor ajaran Islam yang harus dipahami secara komperhensif, bukan pemahaman yang parsial. Dalam perspektif KH. Abdurrahman Wahid, dengan kebebasan yang dimilikinya, manusia dapat berkembang menjadi individu yangkreatif dan produktif sehingga mampu mengemban tugas kekhalifahan dengan baik. Bagi beliau bahwa kebebasan berpikir merupakn filsafat hidup yang mementingkan hak-hak dasar manusia atas kehidupan. Namun, bagi beliau yang berpandangan bahwa kebebasanberpikir merupakan suatu keniscayaan dalam Islam, akan tetapi hal itu juga harus dalam koridor batas-batasnya, yakni menyadariketerbatasan dan relativisme pemikiran manusia di hadapan Allah, karena tidak ada yang absolut dan kekal kecuali Allah swt. Pendidikan Islam Berbasis Multikulturalisme Syaiful Arif,Humanisme Gus Dur: Pergumulan Islam dan Kemanusiaan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. , 132. Faisol. Gus Dur dan Pendidikan Islam. , 89. Rohani Shidiq. GusDur Penggerak Dinamisasi Pendidikan Pesantren, (Yogyakarta: Istana Publishing. , 81. 78 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam Gagasan menjadikan pendidikansebagai media mewujudkan masyarakat yang multikultural sudah di rintis oleh KH. Abdurrahman Wahid. Ketika para pakar seperti John Rawls melihat kemajemukan sebatas fakta. KH. Abdurrahman Wahid memahaminyasebagai Bagi beliau, keberagaman adalah rahmat yang telah digariskan Allah swt. Menolak kemajemukan sama halnya mengingkari pemberian Ilahi. Keberagaman merupakan kodrat manusia. KH. Abdurrahman Wahid cenderung memandang keberagaman sebagai Karena keberagaman adalah rahmat,beliau optimistis keberagaman akan membawa kemaslahatan bangsa, bukan memecah bangsa. Masuknya Islam di Indonesia tidak serta merta menghilangkan budaya yang telah Para penyebar Islam di segenap nusantara dapat dengan baik mengakomodasi budaya disekitarnya untuk diramu dalam kegiatan dakwah Islam mereka. Hal ini yang menjadi cikal bakal multikulturalisme di Indonesia. Seperti yang dikatakan oleh KH. Abdurrahman Wahid bahwa dalam merumuskan pemahaman agama dan menginternalisasikan nilai-nilai agama, tidak serta merta mengesampingkan budaya yang ada. Sebagaimana ide yang menjadi trademark dari pemikirannya yaitu AuPribumisasi IslamAy. Pemikiranini lahir dari hasil pembacaan beliau terhadap realitas sejarah tentang pola penyebaran Islam di Indonesia. Sebagai sebuah metode, pribumisasi Islam memang memiliki ranahnya sendiri. Ranah tersebut yakni, hubungan antara Islam sebagai agama hukum, dengan kebudayaan sebagaiupaya manusia mengolah kehidupan. Hubungan antara agama dan kebudayaan merepresentasikanhubungan antara aturan dan perubahan. Sebuah hubungan kontradiktif yang sering berujung pada ketegangan. Oleh karena itu, sebagai realitas konseptual, pribumisasi Islam tidak an sich berada di ranah keagamaan, tetapi juga murni diranah kebudayaan. Pada titik inilah hubungan agama dan budaya menggambarkan hubungan ambivalen, tetapi saling Seperti yang digambarkan KH Abdurrahman Wahid mengenai Agama (Isla. dan budaya mempunyai independensi masing-masing, tetapi keduanya mempunyai wilayah tumpang tindih. Bisa dibandingkan dengan independensi antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Orang tidak dapatberfilsafat tanpa ilmu pengetahuan, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah filsafat. Di antara keduanya terjadi tumpang tindih sekaligus perbedaanperbedaan. Agama (Isla. bersumberkan wahyu dan memiliki norma-norma sendiri. Karena Benyamin F. Intan. Damai Bersama Gus Dur, (Jakarta: Kompas, 2. , 70. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 79 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam bersifat normatif, maka ia cenderung menjadi permanen. Sedangkan budaya adalah buatan Oleh sebab itu, ia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan cenderung selalu berubah. Perbedaan ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya. Pendidikan Islam Inklusif Pendidikan Islam yang merupakan sub sistem pendidikan nasional mempunyai andil yang cukup besar dalam upaya transformasi nilai-nilai religiusitas kepada peserta didik, hal ini harus dimulai dari umat Islam, mengingat Islam sebagai agama mayoritas. Perubahan paradigma pendidikan Islam harus dilakukan. Hal ini dikarenakan paradigma yang selama ini dipakai ternyata lebih membentuk manusia yang egois, tertutup . , intoleran, dan berorientasi pada kesalehan personal. Dalam menghadapi pluralitas masyarakat: multi etnik dan multi religi yang dibutuhkan adalah paradigma pendidikan yang toleran, inklusif dan berorientasi pada kesalehan sosial dengan tidak melupakan keshalehan individual. Inklusif adalah sikap berfikir terbuka dan menghargai perbedaan tersebut dalam bentuk pendapat, pemikiran, etnis, tradisi budaya hingga perbedaan agama. 23 Pandangan inklusif KH. Abdurrahman Wahid ditunjukkan dari sikap beliau yang menolak formalisasi, ideologisasi, dan syariAoatisasi Islam. Menurut beliau, mereka yang terbiasa dengan formalisasi, akan terikat kepada upaya untuk mewujudkan Ausistem IslamiAy secara fundamental dengan mengabaikan pluralitas masyarakat. Di sisi lain. KH. Abdurrahman Wahid melihat bahwa upaya ini mudah untuk mendorong umat Islam kepada upaya-upaya politis yang mengarah pada penafsiran tekstual dan radikal terhadap teks-teks keagamaan. Padaakhirnya upaya tersebut menjadi legitimasi dalam melakukan kekerasan sebagai respon terhadap resistensi masyarakat yang majemuk. Umat Islam seyogyanya menghindari eksklusivisme dan lebih menekankan pada agenda nasional bagi kepentingan semua kelompok masyarakat, termasuk minoritas dan nonpribumi. Umat Islam hendaknya tidak hanya mengejar kepentingan jangka pendek dan kepentingan Islam semata, tetapi hendaknya lebih menekankan kepada kepentingan nasional. Syaiful Arif. Humanisme Gus Dur. , 102. Abdurrahman Wahid. Pribumisasi Islam:Pergulatan Negara. Agama,dan Kebudayaan, (Depok: Desantara, 2. , 117. Agus Mahfud. Ilmu Pendidikan Islam Pemikiran Gus Dur, (Sleman: Nadi Pustaka, 2. , 138. Achmad Junaidi. Gus Dur Presiden Kyai Indonesia. Pemikiran Nyentrik Abdurrahman Wahid dari Pesantren Hingga Parlemen Jalanan, (Surabaya: Diantama. , 25. Abdurrahman Wahid. Islamku. IslaM Anda. Islam Kita. Agama Masyarakat Negara Demokrasi, (Jakarta: The Wahid Institute, 2. , xvii. 80 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam seperti usaha memperbaiki kehidupan rakyat dalam bidang ekonomi, pendidikan, politik, dan Alasan KH. Abdurrahman Wahid berpendapat demikian, karena kalau kalangan Islam hanya menekankan kepentingan sendiri yang bersifat jangka pendek, maka hal itu akan dikhawatirkan akan sentimental . jangka panjang. 25 Sikap inklusifnya terlihat dari idenya tentang universalisme Islam dalam berbagai manifestasi ajaran-ajarannya. Rangkaian ajaran yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum agama, keimanan, serta etika. Unsur inilah yang sesungguhnya menampilkan kepedulian yang sangat besar kepada unsur-unsur utama dari kemanusiaan . l-insaniyya. Pendidikan Islam Humanis Pendidikan dalam prosesnya bukan hanya mentransfer ilmu semata, akan tetapi lebih dari itu yaitu usaha untuk memanusiakan manusia. Pendidikan harus mampu memunculkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri manusia yang telah dibawa dari Untuk itu pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif saja, akan tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai kemanusiaan. Humanisme merupakan salah satu tema yang menonjol dalam pikiran-pikiran KH. Abdurrahman Wahid. Humanisme beliau adalah apresiasi terhadap hal-hal yang baik pada diri manusia, sekaligus sebagai wujud dari ketundukan kepada Allah. Baginya, manusia menempati kedudukan yang tinggi di alam semesta, sehingga harus mendapatkan perlakuan yang seimbang dengan kedudukan tersebut. Individu manusia memiliki hak-hak dasar yang tidak dapat dilanggar. Hak-hak dasar itu, yang dalam konteks lain disebut hak-hak asasi manusia, menyangkut berbagai aspek seperti penyediaan kebutuhan pokok, perlindungan hukum, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat dan berserikat, perlakuan yang sama di muka hukum. Beliau AuAgama disandingkan dengan kemanusiaan. Jika tidak, ia akan menjadi senjata fundamentalistik yang memberangus kemanusiaanAy. Pernyataan ini menyiratkan kesadaran beliau akan perlunya Abdurrahman Wahid. Pergulatan Negara. Agama, dan Budaya, (Depok: Desantara, 2. , 89. Abdurrahman Wahid. Islam Kosmopolitan. Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, (Jakarta: The Wahid Institute. Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 81 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam kemanusiaan sebagai nilai-sandingan yang harus berdampingan dengan agama sehingga agama tidak berbalik arah, menyerang manusia atas nama Tuhan. Berdasarkan deskripsi di atas terlihat bahwa KH. Abdurrahman Wahid menemukan ajarankemanusiaan dalam universalisme Islam. Beliau menggambarkan bahwa Islam memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kemanusiaan dengan jaminan atas lima hak dasar . ulliyat al-kham. manusia di dalam Maqasid al-SyariAoah. Rasa kemanusiaan dalam Islam juga tergambarkan pada berbagai ajaran Islam tentang toleransi dan keharmonisan Dari kelima pandangan beliau tentang deradikalisasi dan deideologisasi melalui pendidikan islam rahmatan lilAoalamin tidaklah cukup hanya dengan sebuah teori dan pemikiran saja tapi perlu suatu implemantasi yang matang dalam pendidikan islam. Selanjutnya agar pendidikan Islam itu betul-betul menjadi pendidikan rahmatan lilAoalamin ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah, kebebasan, kesetaraan, keadilan, persamaan, etika dan perdamaian. Nilai-nilai fundamental ini harus ditanamkan dalam pendidikan Islam yang selama ini masih jauh api dari panggang. Untuk menuju pendidikan yang rahmatan lilAoalamin dibutuhkan sebuah pendidikan Islam humanis yang menghargai pluralisme dan multikulturalisme. Pelaksan Islam rahmatan lilAoalamin membutuhkan sebuah sikap yang bijaksana dalam mengelolanya. Yaitu sikap yang profesional, tidak mudah emosional, tetapi tetap sabar sambil memberikan pemahaman yang lengkap tentang Islam. Pelaksanaan Islam rahmatan lilAoalamin membutuhkan rasionalitas, penguasaan diri, sabar, terus mencari jalan keluar, persuasif, pemaaf, kasih sayang, husn al-dzann . erbaik sangk. , tasamuh . , tawasuth . , adil, demokratis, take and give. Karena demikian sulitnya mengelola Islam rahmatan lilAoalamin ini, maka tidaklah mengherankan jika kadang timbul gejolakdan letupan yang menggambarkan tidak efektifnya Islam rahmatan lilAoalamin. Islam rahmatanlilAoalamin tidak hanya telah membawa kemajuan dunia Islam, bahkan dunia Eropa dan Barat. Islam rahmatan lilAoalamin juga telah ditransformasikan dan dipraktikkan dalamkehidupan bangsa yang menerima kesatuan dalam keragaman, moderasi, toleransi, rukun dan damai. Bertolak dari paradigma rahmatan LilAoalamin di atas, sudah saatnya pendidikan agama lebih seimbang dalam hal transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral serta juga fungsinya Payaman J. Simanjuntak dkk,Gus Dur. Sang Rekonsiliator, (Jakarta: HIPSMI, 2. , 77. Syaiful Arif. Humanisme Gus Dur. , 280. 82 Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 1 . , 2020 Pemikiran Pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid tentang Moderasi Islam mentransfer ilmu agama . Banyak pihak yang mengeluhkan bahwa pendidikan Islam belum mampu membina akhlak peserta didik, hal ini disebabkan karena pendidikan Islam belum dapat secara optimal melakukan transformasi nilai keagamaan dan moral. PENUTUP Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid Pendidikan Islam lilAoalamin memiliki lima unsur pengembangan dalam implementasinya yaitu. pertama pendidikan Islam neo-modernis. Kedua, pendidikan Islam berbasis pembebasan. Ketiga, pendidikan Islam berbasis multikulturalisme. Keempat, pendidikan Islam yang inklusif. Kelima, pendidikan Islam yang humanis. Humanis memerupakan salah satu gagasan pokok dari konsep rahmatan lilAoalamin. Oleh karena pemikiran pendidikan Islam KH. Abdurrahman Wahid memiliki relevansi dengan konsep pendidikan Islamrahmatan lilAoalamin. Humanisme Islam yang merupakan gagasan sentral beliau ditopang oleh ide-ide keislamannya yaitu universalisme Islam, kosmopolitanisme Islam. Islam sebagai etika sosial dan pribumisasi Islam. DAFTAR PUSTAKA