Strategi Guru dalam Penguatan Karakter Disiplin Pada Peserta Didik Di SMPN 56 Surabaya STRATEGI GURU DALAM PENGUATAN KARAKTER DISIPLIN PADA PESERTA DIDIK DI SMPN 56 SURABAYA Shinta Dwi Ramadhani (Universitas Negeri Surabaya. Indonesi. , shinta. 21069@mhs. Listyaningsih (Universitas Negeri Surabaya. Indonesi. , listyaningsih@unesa. Abstrak Karakter disiplin merupakan salah satu aspek penting dalam membentuk peserta didik yang bertanggung jawab dan bermoral baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam penguatan karakter disiplin peserta didik di SMPN 56 Surabaya dengan faktor pendukung dan penghambatnya. Teori yang terkait yaitu teori pendidikan karakter Thomas Lickona, yang mencakup tiga aspek: pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan tindakan moral . oral behavio. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak lima orang guru, yang terdiri dari guru yang tergabung dalam tim tata tertib dan guru Bimbingan dan Konseling (BK). Analisis data menggunakan Miles dan Huberman. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru dalam penguatan karakter disiplin meliputi: . sosialisasi peraturan . pemberian contoh . ole mode. , . inspeksi dadakan dan . pemberian peringatan dan apresiasi. Faktor pendukung strategi ini adalah kerja sama dengan aparat hukum (Babins. dan keterlibatan antara orang tua dan masyarakat. Sedangkan, faktor penghambatnya adalah provokasi antar teman. Kata Kunci: Karakter Disiplin. Strategi Guru. SMPN 56 Surabaya. Abstract Disciplined character is one of the important aspects in forming responsible and moral students. This study aims to describe teacher strategies in strengthening the disciplined character of students at SMPN 56 Surabaya with supporting and inhibiting factors. The related theory is Thomas Lickona's character education theory, which includes three aspects: moral knowing, moral feeling, and moral behavior. This study uses a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, in-depth interviews with discipline teachers and Guidance and Counseling teachers, and documentation. The number of informants in this study was five teachers, consisting of teachers who were members of the discipline team and Guidance and Counseling (BK) Data analysis using Miles and Huberman. The results of the study showed that teacher strategies in strengthening disciplined character include: . socialization of regulations . providing examples . ole model. , . surprise inspection and . giving warnings and appreciation. The supporting factors for this strategy are cooperation with law enforcement (Babins. and involvement between parents and community. Meanwhile, the inhibiting factor is the negative influence of the friendship environment. Keywords: Disciplinary Character. Teacher Strategy. SMPN 56 Surabaya PENDAHULUAN Pendidikan karakter merupakan suatu usaha untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai kepribadian pada peserta didik melalui proses pendidikan. Tujuan dari pendidikan karakter adalah agar peserta didik memiliki karakter dan prinsip moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial. Pendidikan karakter menjadi solusi penting dalam menghadapi krisis moral yang semakin memburuk di masyarakat. Pendidikan karakter sangat penting bagi generasi muda, jadi sangat penting untuk menerapkannya baik di sekolah maupun di rumah sebagai landasan untuk memperkuat karakter peserta didik. Kolaborasi yang efektif antara keluarga, sekolah, dan masyarakat akan mempercepat proses penguatan karakter, karena karakter terbentuk melalui pembiasaan, pengarahan, serta dukungan dari lingkungan yang kondusif (Pridayani & Rivauzi, 2. Penguatan pembentukan karakter saat ini sangat diperlukan, mengingat tingginya tingkat krisis moral yang melanda berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Salah satu nilai karakter yang harus diperkuat adalah kedisiplinan. Disiplin memiliki peran fundamental dalam kehidupan manusia, karena menjadi dasar terbentuknya nilai-nilai karakter positif lainnya. Pentingnya memperkuat nilai disiplin didorong oleh fakta Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 339 Ae 350 bahwa masih banyak perilaku menyimpang dan bertolak belakang dengan norma-norma kedisiplinan yang berlaku. Misalnya, kurangnya kedisiplinan di lingkungan sekolah, seperti melanggar aturan kebersihan, datang terlambat, tidak mengenakan seragam atau atribut lengkap, tidak melaksanakan tugas piket, serta memarkir kendaraan di tempat yang tidak semestinya. Berbagai perilaku tersebut mencerminkan bahwa peserta didik belum sepenuhnya menerapkan kedisiplinan dalam aktivitas sehari-hari di sekolah (Pribadi et al. , n. , 2. Nilai karakter disiplin perlu ditanamkan dalam pendidikan karakter di sekolah. Disiplin tidak hanya mencerminkan kepatuhan terhadap aturan dan ketertiban, tetapi juga menjadi landasan dalam pembentukan sikap integritas, tanggung jawab, dan kejujuran pada diri peserta Melalui penerapan nilai disiplin, seperti ketepatan waktu, ketaatan terhadap tata tertib, serta pelaksanaan tugas secara mandiri dan jujur, peserta didik dibimbing untuk memahami pentingnya menjalani proses yang benar dalam setiap aspek kehidupan. Nilai-nilai ini memiliki keterkaitan yang erat dengan prinsip-prinsip dalam pendidikan anti korupsi, yang menekankan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, kepatuhan terhadap hukum, dan penolakan terhadap segala bentuk penyimpangan. Oleh karena itu, penanaman nilai disiplin dalam lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pembentukan karakter individual, melainkan juga sebagai langkah dalam membangun budaya anti korupsi sejak usia dini, guna menciptakan generasi yang berintegritas dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara. Dalam dunia pendidikan, penyimpangan dari prinsip kedisiplinan semakin marak. Pelanggaran tata tertib sekolah dan kecurangan ujian sering terjadi dan bahkan dianggap wajar. Di sekolah, banyak peserta didik yang berperilaku tidak disiplin, seperti datang terlambat, melanggar peraturan, tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, atau berbicara tidak sopan kepada guru. Padahal kedisiplinan adalah bagian penting dari pendidikan Meskipun banyak lulusan sekolah yang memiliki prestasi akademik tinggi di berbagai mata pelajaran, tidak sedikit di antara mereka yang masih menunjukkan kelemahan dalam aspek karakter, baik dalam dunia pendidikan maupun dalam masyarakat (Pribadi et al. , n. , 2. Nilai kedisiplinan dikalangan peserta didik saat ini dirasa sangat lemah dan mulai menurun. Pergaulan dan lingkungan disebut-sebut sebagai penyebab utama Ketidakdisiplinan sering terlihat baik saat pembelajaran tatap muka maupun daring, seperti terlambat masuk kelas atau terlambat bergabung ke ruang pembelajaran daring. Masalah-masalah tersebut merupakan masalah yang tidak bisa dianggap remeh. Kedisiplinan sangat penting untuk menciptakan suasana belajar yang mendukung dan efektif demi mencapai tujuan pembelajaran (Pribadi et al. , n. Karakter disiplin sangat krusial karena menjadi indikator utama dalam menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Penanaman karakter sejak usia dini memegang peranan penting, yang tercermin dalam tiga aspek utama: pemahaman moral, empati moral, dan tindakan moral. Jika ketiga aspek ini dikembangkan secara maksimal, maka karakter positif akan terwujud. Sekolah bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan kepada warga negara yang berkarakter. Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Dalam konteks ini, pengembangan nilai-nilai seperti keadilan, keberanian, tanggung jawab, kejujuran, kewarganegaraan, disiplin, ketekunan, dan kepedulian sangatlah penting (Anwar, 2. Oleh karena itu, disiplin menjadi salah satu elemen utama dalam karakter yang perlu ditekankan di lingkungan sekolah. Disiplin juga dapat dipahami sebagai faktor pendorong yang membantu individu menjalankan tindakan berdasarkan aturan yang ditetapkan (NisaAo & Astari. Disiplin peserta didik merujuk pada ketaatan mereka terhadap aturan dan ketentuan yang berlaku di sekolah. Tujuan dari disiplin ini adalah untuk membantu peserta didik mengenali diri mereka, mengatasi masalah disiplin, dan mencegah munculnya masalah serupa. Selain itu, pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga peserta didik akan mematuhi aturan yang ada. Tata tertib sekolah biasanya dibuat dengan jelas oleh guru agar mampu menumbuhkan disiplin pada peserta didik, menciptakan suasana sekolah yang mendukung serta proses pembelajaran yang optimal. Tata tertib memiliki peran utama dalam mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat, sehingga proses pembentukan akhlak peserta didik dapat berlangsung secara maksimal selama berada di sekolah. Tata tertib ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap warga sekolah mengikuti peraturan yang jelas, bertindak dengan disiplin, serta melaksanakan tugas sesuai dengan fungsinya, demi terciptanya lingkungan yang kondusif untuk kelangsungan kegiatan sekolah (Senggo et al. Dengan adanya tata tertib, baik di sekolah maupun di rumah, disiplin yang tertanam dalam diri peserta didik akan diterapkan di mana saja dan kapan saja. Pengawasan terhadap penerapan tata tertib serta penjelasan mengenai pentingnya sikap disiplin diharapkan dapat menumbuhkan rasa disiplin di kalangan peserta didik (Dinata, 2. Belajar secara disiplin dapat membantu peserta didik menghindari rasa malas dan memupuk semangat untuk belajar, yang pada akhirnya akan meningkatkan Strategi Guru dalam Penguatan Karakter Disiplin Pada Peserta Didik Di SMPN 56 Surabaya kemampuan mereka. Disiplin merupakan kunci kesuksesan dan pencapaian. Dengan adanya disiplin, seseorang dapat meyakini bahwa kedisiplinan akan membawa manfaat nyata yang tercermin dalam tindakan Individu yang sukses umumnya memiliki kedisiplinan dalam berbagai aspek kehidupan mereka, yang turut berkontribusi pada keberhasilan mereka. Disiplin belajar peserta didik dapat tercapai dengan maksimal apabila sekolah dan para pendidik . memperbaiki proses pembelajaran, sehingga peserta didik memiliki peluang yang setara untuk belajar tanpa Hal ini memungkinkan terciptanya kerja sama yang baik antara guru dan peserta didik (Dinata, 2. Guru memiliki peranan sentral dalam memperkuat karakter peserta didik. Selain mendidik, guru berperan menginternalisasikan nilai-nilai moral melalui perilaku sehari-hari. Guru membantu peserta didik memahami pentingnya nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka. Di samping itu, guru berperan sebagai pembimbing dan konselor yang mendukung peserta didik dalam mengatasi masalah moral serta mengembangkan kemampuan dalam membuat keputusan yang bijaksana (Sidabutar et al. Dalam dunia Pendidikan, guru juga memiliki tugas yang tidak hanya terbatas pada pemaparan materi akademik, tetapi juga mencakup pembentukan karakter peserta didik, khususnya dalam hal kedisiplinan. Guru berfungsi sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan yang mempengaruhi perkembangan moral dan etika peserta didik. Guru memiliki tugas untuk menanamkan karakter disiplin melalui berbagai strategi yang tidak terkait langsung dengan pembelajaran formal (Amelia & Dafit, 2. Salah satu strategi yang paling efektif dalam memperkuat karakter disiplin adalah dengan memberikan teladan atau contoh yang baik. Guru yang datang tepat waktu, berpakaian rapi, dan menunjukkan perilaku sopan santun memberikan contoh nyata bagi peserta didik tentang pentingnya disiplin dalam aktivitas sehari-hari. Tindakan ini dapat membentuk perilaku peserta didik secara tidak langsung melalui observasi dan peniruan (Puspita et al. , 2. Selain itu, guru dapat menerapkan peraturan tertulis dan tidak tertulis di lingkungan sekolah. Penerapan peraturan ini membantu peserta didik memahami batasan-batasan yang harus dipatuhi, sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Strategi ini juga dapat diperkuat dengan pemberian penghargaan . dan hukuman . yang adil, sehingga peserta didik termotivasi untuk berperilaku disiplin (Amelia & Dafit, 2. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan oleh guru adalah melalui metode teladanan dimana guru perlu menjadi teladan yang positif bagi peserta didik dalam menjalankan disiplin, baik dalam hal waktu, perilaku, dan kepatuhan terhadap aturan. Misalnya, guru selalu datang tepat waktu, mengikuti peraturan yang berlaku di sekolah, dan menunjukkan sikap yang menghargai norma-norma yang ada. Dengan demikian, peserta didik akan mencontoh perilaku positif tersebut dalam aktivitas sehari-hari peserta didik. Dalam melancarkan strategi yang dilakukan oleh guru maka penguatan disiplin juga dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan dan konsekuensi yang sesuai. Guru dapat memberikan pujian atau reward bagi peserta didik yang menunjukkan sikap disiplin, seperti hadir tepat waktu atau menyelesaikan tugas tepat waktu. Sebaliknya, guru juga perlu memberikan konsekuensi yang sesuai bagi peserta didik yang menentang aturan, namun tetap dengan cara yang mendidik, bukan Hal ini akan membantu peserta didik memahami bahwa disiplin bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap konsekuensi yang timbul dari tindakan mereka (Rosdiana & Kurniawan, 2. Studi pendahuluan yang dilakukan melalui observasi dan wawancara pada 13 September 2024 di SMPN 56 Surabaya menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik yang kurang disiplin, seperti datang terlambat, membawa alat makeup ke sekolah, berambut panjang bagi laki-laki, tidak tertib berpakaian setelah kegiatan sholat maupun olahraga, tidak mengenakan atribut lengkap saat upacara, serta ada yang kedapatan merokok. Guru PPKn di sekolah tersebut juga mengonfirmasi bahwa peserta didik kerap mengenakan pakaian yang tidak sesuai saat pulang sekolah, seperti memadukan seragam olahraga dan atasan putih tanpa memakai sepatu, yang menurut beliau mencerminkan sikap kurang bertanggung jawab sebagai SMPN 56 Surabaya dipilih sebagai lokasi penelitian karena merupakan sekolah ramah anak namun tetap tegas dalam penegakan disiplin, seperti memberikan skors satu minggu kepada peserta didik yang ketahuan merokok, berbeda dengan sekolah lain yang cenderung lebih ringan dalam memberi sanksi atas pelanggaran Berdasarkan hasil dokumentasi data dari tahun 2022 hingga 2024, diketahui bahwa peserta didik SMPN 56 Surabaya masih menghadapi berbagai permasalahan kedisiplinan, khususnya terkait keterlambatan dan ketidaklengkapan atribut sekolah. Pada tahun 2022, jumlah keterlambatan peserta didik cukup bervariasi, dengan angka tertinggi terjadi pada bulan Maret sebanyak 291 kasus dan terendah pada Juli sebanyak 24 kasus. Tahun keterlambatan secara umum dibandingkan tahun sebelumnya, dengan puncak kasus pada Januari sebanyak 189 dan penurunan signifikan pada Juli dengan hanya 8 Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 339 Ae 350 Sementara itu, pada tahun 2024, kasus tertinggi tercatat pada Januari dengan 100 kasus dan yang terendah pada Oktober dengan 23 kasus, yang secara keseluruhan menunjukkan tren penurunan dibandingkan dua tahun Peserta didik yang tidak tepat waktu dan tidak menggunakan atribut sesuai ketentuan memiliki beragam alasan, seperti kesiangan, lupa, konflik dalam keluarga, kehilangan atribut, hingga faktor cuaca seperti Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi guru from zero to hero dalam penguatan karakter disiplin pada peserta didik di SMPN 56 Surabaya. Ditinjau dari data tabel 1. 1 terdapat perubahan yang lebih baik dari tahun 2022 menuju tahun 2024 jika dilihat dari permasalahan yang dilakukan oleh peserta didik seperti Dari data tabel diatas menunjukkan bahwa strategi guru sangat efektif untuk diterapkan di SMPN 56 Surabaya. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan strategi guru dalam penguatan karakter disiplin pada peserta didik di SMPN 56 Surabaya. Metode ini dipilih karena mampu menggambarkan data secara mendalam melalui hasil wawancara lisan serta pengamatan terhadap perilaku, sehingga tepat Lokasi penelitian ini adalah SMPN 56 Surabaya yang beralamat di Jl. Raya Dukuh Kupang Barat No. Dukuh Kupang. Kec. Dukuhpakis. Surabaya. Jawa Timur 60225. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa SMPN 56 Surabaya merupakan sekolah ramah anak namun tegas dalam pengambilan keputusan dibandingkan sekolah lain, serta terdapat permasalahan kedisiplinan peserta didik seperti keterlambatan datang ke sekolah, penggunaan dan membawa alat makeup, peserta didik laki-laki yang berambut panjang, penggunaan kerudung yang tidak sesuai standar sekolah, hingga kasus merokok di lingkungan sekolah. Informan dalam penelitian ini adalah individu yang memberikan informasi terkait situasi dan kondisi di lokasi penelitian guna menemukan variabel yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Informan memiliki peran penting dan strategis karena dari merekalah data-data mengenai variabel penelitian diperoleh selama proses Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan berdasarkan kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu guru yang diakui sebagai teladan dalam hal kedisiplinan dan guru yang menangani masalah kedisiplinan peserta didik. Berdasarkan kriteria tersebut, informan dalam penelitian ini adalah Ketua Tata Tertib SMPN 56 Surabaya. Ibu Surya Marinda Perdana. Pd. Gr. beserta inti staf, serta Guru Bimbingan Konseling SMPN 56 Surabaya. Ibu Saskianadia Dewi H. Pd. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan cara mengamati langsung perilaku peserta didik yang melanggar disiplin di SMPN 56 Surabaya, seperti keterlambatan datang ke sekolah, tidak mengenakan atribut lengkap, membawa dan memakai alat makeup, rambut panjang bagi peserta didik laki-laki, tidak tertib dalam berpakaian, tidak mengganti pakaian olahraga hingga pulang sekolah, hingga merokok. Selain itu, data juga dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur untuk memperoleh informasi secara lebih mendalam mengenai strategi guru dalam memperkuat karakter disiplin, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya di SMPN 56 Surabaya. Wawancara ini memberikan ruang bagi responden untuk menyampaikan pendapat secara terbuka. Adapun dokumentasi digunakan untuk memperkuat dan mencocokkan data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi, dengan menggunakan dokumen resmi seperti tata tertib sekolah dan laporan data keterlambatan peserta didik dari SMPN 56 Surabaya. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman, yang menekankan proses interaktif dan berkesinambungan hingga mencapai pemahaman mendalam dan data yang jenuh. Model ini melibatkan tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan menyaring dan menyederhanakan data mentah untuk mengidentifikasi pola-pola awal yang relevan, seperti data dari peserta didik dan guru terkait pelaksanaan disiplin. Tahap selanjutnya adalah penyajian data, yang dalam penelitian kualitatif umumnya disajikan dalam bentuk narasi teks karena bersifat deskriptif dan berdasarkan pengalaman individu. Melalui narasi ini, peneliti menggambarkan strategi guru dalam memperkuat karakter disiplin peserta didik di SMPN 56 Surabaya. Terakhir, kesimpulan dapat ditarik sejak awal proses analisis, namun bersifat sementara dan akan dipertegas setelah seluruh data terkumpul dan diverifikasi melalui berbagai teknik seperti triangulasi, untuk memastikan validitas dan keabsahan temuan. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi Guru Dalam Penguatan Karakter Disiplin Pada Peserta Didik Karakter disiplin peserta didik di lingkungan sekolah tidak dapat terlepas dari peran dan tanggung jawab guru. Guru memiliki tugas utama dalam menanamkan nilainilai kedisiplinan sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik serta menginternalisasikan nilai342 Strategi Guru dalam Penguatan Karakter Disiplin Pada Peserta Didik Di SMPN 56 Surabaya nilai disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Dalam upaya penguatan karakter disiplin, guru harus mampu merancang serta menerapkan strategi yang dinamis, mengingat setiap peserta didik memiliki latar belakang, kebiasaan, dan pola perilaku yang berbeda-beda. Perbedaan ini menuntut guru untuk tidak hanya berfokus pada pemberian materi secara teoritis, tetapi juga mengimplementasikan pendekatan yang bersifat aplikatif guna membentuk kebiasaan disiplin yang berkelanjutan. Sosialisasi Peraturan terhadap Peserta Didik Sosialisasi peraturan di lingkungan sekolah merupakan proses penting untuk menjelaskan dan menyebarkan aturan-aturan yang berlaku kepada seluruh warga sekolah, khususnya peserta didik. Tujuannya adalah agar peserta didik memahami, menerima, dan melaksanakan aturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah. Proses ini bersifat informatif sekaligus partisipatif, karena melibatkan peserta didik dalam memahami hak, kewajiban, batasan, serta konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan. Dengan demikian, sosialisasi peraturan menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kedisiplinan di kalangan peserta didik. Di SMPN 56 Surabaya, sosialisasi peraturan dilaksanakan dengan strategi yang terencana dan Tim tata tertib bekerja sama dengan guru dan wali kelas untuk menyampaikan peraturan secara jelas dan konsisten kepada peserta didik. Salah satu aturan yang disosialisasikan adalah mengenai kedisiplinan waktu kehadiran, di mana peserta didik harus hadir maksimal Jika terlambat, peserta didik tidak diberi hukuman fisik, melainkan sanksi yang mendidik karakter, seperti melaksanakan salat dhuha atau merawat tanaman nilai-nilai Adiwiyata. Penyampaian aturan ini dilakukan secara bergilir kepada kelas 7, 8, dan 9 oleh kepala sekolah yang didampingi oleh wali kelas. Selain itu, keterlibatan guru Bimbingan dan Konseling juga menjadi bagian penting dalam proses sosialisasi ini. Seluruh warga sekolah turut berperan dalam mengingatkan peserta didik akan pentingnya menaati aturan, baik melalui kegiatan rutin seperti upacara hari Senin maupun dalam interaksi harian. Dengan demikian, sosialisasi peraturan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen sekolah dalam menciptakan budaya disiplin yang kuat. Secara keseluruhan, sosialisasi peraturan di SMPN 56 Surabaya dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dengan membangun kerja sama antara tim tata tertib, guru BK, dan wali kelas. Peserta didik diberikan pemahaman terlebih dahulu mengenai peraturan yang berlaku sebelum diberi sanksi. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa sosialisasi bukan hanya tentang penyampaian aturan, melainkan juga proses pembentukan karakter yang mendorong peserta didik untuk disiplin secara sadar dan bertanggung jawab. Mengingatkan dan Mengapresiasi Peserta Didik Strategi guru dalam memperkuat karakter disiplin peserta didik dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu pemberian peringatan dan apresiasi. Strategi ini terbukti efektif dalam menanamkan kesadaran pentingnya kedisiplinan karena tidak hanya berfungsi sebagai pengingat, tetapi juga sebagai bentuk motivasi agar peserta didik lebih konsisten dalam menaati aturan Peringatan diberikan sebagai bentuk penguatan karakter disiplin yang disertai dengan penjelasan mengenai konsekuensi apabila aturan dilanggar. Pemberian peringatan oleh guru tidak hanya sebatas teguran, tetapi juga disertai dengan penanaman nilai tanggung jawab. Guru berupaya memberikan pemahaman mendalam kepada peserta didik tentang makna kedisiplinan serta pentingnya memilih sikap yang benar dalam menjalani kehidupan di sekolah. Melalui pendekatan ini, peserta didik diingatkan bahwa setiap tindakan memiliki pilihan dan konsekuensi, dan sebagai peserta didik yang sudah cukup dewasa, mereka diharapkan mampu membedakan antara tindakan yang baik dan buruk. Selain peringatan, strategi lain yang diterapkan adalah pemberian apresiasi kepada peserta didik yang menunjukkan perilaku disiplin. Bentuk apresiasi ini bisa berupa pujian, pemberian poin tambahan, ataupun reward sederhana seperti snack. Pemberian apresiasi dilakukan mempertahankan sikap disiplin, sekaligus menjadi contoh bagi peserta didik lain agar turut menerapkan sikap serupa dalam keseharian mereka di sekolah. Pemberian peringatan dan apresiasi merupakan pendekatan yang saling melengkapi dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik. Ketika melakukan pelanggaran, peserta didik akan diingatkan agar tidak mengulanginya, sementara ketika mereka menunjukkan perubahan positif dan konsistensi dalam kedisiplinan, mereka akan dihargai. Pendekatan ini membantu menciptakan suasana belajar yang lebih terarah, menanamkan nilai-nilai positif yang mendukung proses pendidikan secara menyeluruh. Pemberian Contoh (Role Mode. oleh Guru terhadap Peserta Didik Guru di SMPN 56 Surabaya memegang peranan vital dalam pendidikan, tidak sekadar menyampaikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik, tetapi juga berperan sebagai teladan yang patut dicontoh. Sebagai role model, guru di SMPN 56 bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang baik. Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 339 Ae 350 terutama karakter disiplin. Keteladanan guru menjadi faktor kunci dalam membentuk sikap peserta didik, sebab perilaku, ucapan, dan tindakan guru sehari-hari menjadi cerminan yang mudah ditiru oleh peserta didik dalam kehidupan mereka di lingkungan sekolah. Peran guru SMPN 56 sebagai teladan terlihat dalam bagaimana mereka menjalani aktivitas keseharian secara konsisten, baik dalam hal kedisiplinan waktu, penampilan, maupun etika dalam berkomunikasi. Guru yang datang tepat waktu, berpakaian rapi, dan berperilaku sopan memberi kesan yang kuat bagi peserta didik. Sikap dan kebiasaan baik yang terus diperlihatkan guru akan terekam oleh peserta didik dan perlahan menjadi pola yang mereka tiru dan terapkan dalam kehidupan seharihari di sekolah. Contoh nyata yang dilakukan oleh guru SMPN 56 Surabaya seperti datang lebih pagi sebelum jam masuk, menyambut peserta didik di gerbang sekolah, serta melaksanakan piket 6S menjadi bentuk pembiasaan disiplin yang konkret. Selain itu, ketertiban dalam atribut berpakaian juga mencerminkan nilai kerapian dan tanggung jawab yang bisa menjadi panutan bagi peserta Dengan adanya kebiasaan positif, tercipta lingkungan belajar yang kondusif yang mengarahkan peserta didik untuk tumbuh dalam budaya keteladanan. Strategi memberikan contoh atau menjadi role model ini menjadi salah satu pendekatan utama dalam memperkuat karakter disiplin peserta didik di SMPN 56 Surabaya. Peserta didik cenderung lebih mudah memahami dan meniru perilaku nyata daripada sekadar menerima teori. Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya menjelaskan pentingnya disiplin, tetapi juga harus mempraktikkannya secara konsisten agar peserta didik melihat bahwa nilai tersebut dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kehadiran guru sebagai panutan di SMPN 56 Surabaya memiliki peran besar dalam membentuk karakter peserta didik. Melalui keteladanan yang dilakukan secara terus menerus, guru membantu peserta didik memahami makna kedisiplinan secara utuh dan mendorong mereka menerapkannya dalam kehidupan Perilaku guru yang positif menjadi inspirasi dan pedoman bagi peserta didik untuk berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan disiplin. Inspeksi Dadakan yang dilakukan oleh Kesiswaan. Tim Tata Tertib. BK Peraturan sekolah memiliki peran vital dalam memperkuat karakter disiplin peserta didik di SMPN 56 Surabaya. Aturan tersebut menjadi pedoman utama dalam membentuk perilaku peserta didik agar menjadi individu yang tertib, bertanggung jawab, serta patuh terhadap norma dan tata tertib yang berlaku di lingkungan sekolah. Penyusunan peraturan ini dilakukan secara bersama-sama melalui musyawarah yang melibatkan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, tim tata tertib, serta guru bimbingan dan konseling agar aturan yang dibuat tidak hanya bersifat formal, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi sekolah. Dengan demikian, aturan tersebut dapat memberikan dampak positif dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh warga sekolah. Salah satu implementasi nyata dari peraturan yang disepakati bersama adalah kegiatan inspeksi mendadak atau sidak yang dilakukan secara berkala oleh tim yang terdiri dari guru, petugas kesiswaan, tim tata tertib, serta guru BK. Sidak ini dibagi menjadi beberapa tahap, mulai dari pemeriksaan mingguan yang fokus pada atribut peserta didik seperti kelengkapan seragam dan kerapian berpakaian, sidak bulanan yang memeriksa barang bawaan peserta didik agar tidak membawa benda yang tidak diperbolehkan, hingga sidak dadakan yang bertujuan menertibkan peserta didik, misalnya terkait penggunaan sepeda motor yang belum memiliki izin resmi atau masih di bawah umur. Pelaksanaan sidak ini memastikan peserta didik mematuhi aturan yang telah ditetapkan dan membantu menjaga ketertiban di lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaannya, sidak tidak hanya bertujuan menegakkan aturan, tetapi juga sebagai sarana memberikan efek edukatif kepada peserta didik yang Jika ditemukan pelanggaran, sekolah menerapkan konsekuensi yang bersifat mendidik, seperti melaksanakan sholat dhuha atau sholat ashar berjamaah di sekolah, membersihkan mushola, perpustakaan, atau menjalankan piket 6S. Bentuk hukuman tersebut tidak hanya menekankan sanksi, tetapi juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial antar peserta didik. Misalnya, pelanggaran membawa alat cukur yang digunakan untuk mencukur rambut di sekolah tidak hanya berakibat pada pemilik alat, tapi juga teman yang tidak melaporkan hal tersebut turut mendapat konsekuensi sebagai bentuk pembelajaran bersama. Selain dari sisi penegakan aturan dan pemberian sanksi. SMPN 56 Surabaya juga menekankan pentingnya sosialisasi dan pembiasaan terhadap peraturan sekolah. Guru dan pihak terkait secara rutin mengingatkan peserta didik tentang tata tertib yang harus dipatuhi dan memberikan apresiasi kepada peserta didik yang menunjukkan kedisiplinan. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan motivasi internal peserta didik agar disiplin bukan hanya karena takut pada sanksi, melainkan sebagai bagian dari sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan. Dengan demikian, guru juga menjalankan perannya sebagai contoh nyata atau role model dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Keterlibatan guru sebagai role model sangat krusial dalam memperkuat karakter disiplin peserta didik. Strategi Guru dalam Penguatan Karakter Disiplin Pada Peserta Didik Di SMPN 56 Surabaya Dengan sikap dan perilaku yang konsisten, seperti datang tepat waktu, berpenampilan rapi, serta berperilaku sopan santun, guru memberikan gambaran untuk dapat ditiru oleh peserta didik. Contoh yang baik membantu peserta didik untuk mengerti dan menerapkan nilai-nilai disiplin secara langsung, sehingga mereka tidak hanya menerima pelajaran disiplin secara teori, melainkan juga mampu menerapkannya dalam rutinitas sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah. SMPN 56 Surabaya menerapkan pendekatan yang sistematis dan terpadu untuk memperkuat karakter disiplin peserta didik. Mulai dari penyusunan peraturan melalui musyawarah, pelaksanaan sidak berkala, pemberian konsekuensi mendidik, hingga pembiasaan serta sosialisasi yang rutin, semua dilakukan dengan tujuan menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan Peran guru sebagai panutan dan tim tata tertib serta BK sebagai pelaksana aturan pun menjadi kunci keberhasilan dalam membangun budaya disiplin yang kuat di sekolah tersebut. Faktor Pendukung dalam Penguatan Karakter Disiplin. Melibatkan Babinsa atau Aparat Hukum sebagai Narasumber dalam Kegiatan Sekolah Dalam upaya memperkuat karakter disiplin peserta didik di SMPN 56 Surabaya, keterlibatan Babinsa (Bintara Pembina Des. dan aparat hukum sebagai narasumber di sekolah menjadi salah satu elemen penting. Kehadiran mereka memberikan sudut pandang yang lebih luas tentang betapa pentingnya kedisiplinan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Melalui peran ini, peserta didik mendapat pemahaman bahwa disiplin adalah modal utama untuk masa depan mereka agar mampu menjadi sosok yang bertanggung jawab dan berintegritas. Babinsa dan aparat hukum sering diundang untuk memberikan penguatan karakter disiplin melalui berbagai kegiatan atau event yang diadakan di sekolah. Mereka hadir secara aktif karena menyadari bahwa banyak peserta didik di sekolah ini berasal dari wilayah pinggiran yang memiliki tantangan khusus dalam hal kesadaran akan Oleh karena itu, kehadiran Babinsa dan aparat hukum menjadi pengingat yang kuat bagi peserta didik agar selalu menerapkan disiplin dalam setiap aspek kehidupan mereka. Observasi di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak peserta didik di SMPN 56 Surabaya yang pelanggaran tata tertib maupun perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter disiplin yang diharapkan. Menanggapi hal ini, sekolah tidak berjalan sendiri, melainkan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak eksternal seperti Babinsa, polisi, camat, dan lurah. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan dan nilai-nilai kedisiplinan yang kuat pada peserta didik. Salah satu wujud nyata dari kolaborasi tersebut adalah pelaksanaan penyuluhan khusus yang ditujukan kepada peserta didik yang terindikasi bermasalah. Penyuluhan ini dilakukan dengan harapan dapat mengubah sikap dan perilaku peserta didik agar lebih patuh dan taat terhadap peraturan serta norma yang berlaku di sekolah maupun di Pesan-pesan yang disampaikan oleh Babinsa dan aparat hukum dianggap lebih efektif karena datang dari pihak yang memiliki otoritas dan kredibilitas dalam bidang hukum dan keamanan. Selain sebagai bentuk pembinaan, kehadiran Babinsa dan aparat hukum juga memberikan efek pencegahan yang signifikan terhadap pelanggaran disiplin. Peserta didik merasa dihargai dan serius saat menerima materi dari narasumber yang langsung terkait dengan penegakan Hal ini mendorong mereka untuk lebih mematuhi aturan dan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan disiplin sebagai modal utama dalam membangun karakter. Kerja sama antara sekolah dan pihak eksternal tersebut juga memperkuat sistem pengawasan yang dilakukan oleh Dengan dukungan dari Babinsa dan aparat hukum, pengawasan menjadi lebih menyeluruh dan efektif sehingga pelanggaran dapat dicegah lebih dini. Hal ini turut meningkatkan kenyamanan dan keamanan di sekolah, yang berpengaruh positif pada kelancaran proses belajar mengajar. Selain itu, kolaborasi ini memperluas jaringan pembinaan karakter yang tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, tapi juga melibatkan unsur pemerintahan dan keamanan setempat. Dengan demikian, pembentukan karakter disiplin menjadi tanggung jawab bersama yang saling mendukung, sehingga peserta didik mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh menjadi generasi yang disiplin dan bertanggung jawab. Dengan strategi ini. SMPN 56 Surabaya mampu menunjukkan komitmen yang kuat dalam membentuk karakter disiplin peserta didik secara menyeluruh. Melalui sinergi antara sekolah dan aparat eksternal, peserta didik tidak hanya mendapatkan aturan dan sanksi, tetapi juga pemahaman mendalam tentang pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan mereka sekarang dan masa depan. Upaya ini menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menciptakan generasi yang berkarakter dan siap menghadapi tantangan di masyarakat. Keterlibatan antara Orangtua dan Masyarakat Keterlibatan orang tua dan masyarakat sekitar berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan suasana yang konsisten dan harmonis dalam menerapkan nilai-nilai disiplin kepada peserta didik. Guru sebagai pendidik tidak dapat bekerja sendiri dalam membentuk Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 339 Ae 350 karakter anak. Diperlukan dukungan dari pihak luar, terutama orang tua dan masyarakat, agar nilai-nilai disiplin yang ditanamkan di sekolah juga diterapkan secara berkelanjutan di rumah dan lingkungan sosial peserta didik. Ketika semua pihak, termasuk guru-guru di SMPN 56 Surabaya, sudah memiliki visi dan pendekatan yang selaras, maka upaya pembentukan sikap disiplin menjadi lebih mudah karena peserta didik akan menerima pesan yang sama dari semua lingkungan tempat mereka Di awal tahun ajaran, sekolah berusaha membangun pondasi kerja sama yang kuat dengan orang tua melalui pembagian surat perjanjian yang berisi aturan yang harus dipatuhi oleh peserta didik. Surat ini bertujuan agar orang tua memahami dan turut mengawasi perilaku anak-anak mereka di luar sekolah. Selain itu, masyarakat sekitar juga dilibatkan dalam proses penegakan disiplin, misalnya dengan melarang peserta didik menggunakan atau menitipkan sepeda motor di lingkungan sekitar sekolah. Tindakan ini mendukung sekolah dalam membatasi kebebasan yang berpotensi menurunkan kedisiplinan peserta didik. Dukungan dari orang tua dan masyarakat menjadi penguat yang tidak bisa dianggap remeh. Ketika sekolah, orang tua, dan masyarakat memiliki tujuan yang sama dalam membentuk karakter disiplin, maka proses pembinaan akan berjalan lebih efektif. Guru dapat dengan mudah menjalin komunikasi dengan orang tua ketika terjadi permasalahan, dan masyarakat turut serta menjaga norma yang telah disepakati bersama. Dalam kondisi seperti ini, peserta didik akan menyadari bahwa nilai-nilai disiplin tidak hanya berlaku di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari Namun demikian, keberhasilan program pembentukan karakter disiplin tidak selalu berjalan mulus. Beberapa orang tua peserta didik menunjukkan kurangnya dukungan terhadap strategi yang diterapkan guru di Ada orang tua yang tidak menanggapi ajakan komunikasi dari sekolah, bahkan terkesan pasrah terhadap segala bentuk kebijakan yang diambil pihak sekolah tanpa keterlibatan aktif. Sikap ini membuat proses pembinaan karakter menjadi terhambat, karena tidak ada kesinambungan antara pembelajaran di sekolah dan pengasuhan di rumah. Minimnya keterlibatan orang tua juga tampak dari ketidakhadiran mereka saat diundang ke sekolah. Kesibukan bekerja sering dijadikan alasan sehingga komunikasi antara guru dan orang tua menjadi terbatas. Beberapa orang tua bahkan tidak mengetahui perkembangan karakter anak mereka, dan hanya menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada pihak sekolah. Padahal, pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi antara lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Lingkungan keluarga yang kurang mendukung juga menjadi salah satu hambatan yang paling sering dihadapi guru dalam proses mendisiplinkan peserta didik. Ketika di rumah anak-anak tidak mendapatkan pembiasaan perilaku disiplin, maka sekolah akan kesulitan membentuknya Bahkan, perilaku yang telah dibina di sekolah bisa kembali luntur jika tidak ada penguatan dari lingkungan keluarga. Dalam kondisi seperti ini, upaya sekolah seolah berjalan sendiri tanpa dukungan dari tempat di mana anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu mereka di luar sekolah. Untuk itu, penting bagi sekolah untuk terus mencari strategi yang dapat menjembatani komunikasi dengan orang tua. Salah satu caranya adalah dengan membangun pendekatan yang lebih fleksibel, seperti menyediakan waktu konsultasi yang menyesuaikan dengan jadwal orang tua, atau memanfaatkan teknologi seperti grup komunikasi daring untuk memberikan informasi dan diskusi perkembangan peserta didik. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pentingnya peran mereka dalam membentuk karakter anak Penguatan karakter disiplin peserta didik tidak cukup jika hanya satu pihak yang bertanggung jawab. Kerjasama antara guru, orang tua, dan masyarakat merupakan dasar utama dalam membangun lingkungan yang konsisten dan mendukung dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan. Ketika ketiga elemen ini berjalan selaras, maka proses pembinaan karakter akan menjadi lebih efektif, menyeluruh, dan berkelanjutan bagi pertumbuhan peserta didik yang lebih baik. Faktor Penghambat dalam Penguatan Karakter Disiplin Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, strategi yang diterapkan oleh guru dalam penguatan karakter disiplin di SMPN 56 Surabaya berjalan secara sistematis dan melibatkan banyak pihak. Guru tidak hanya mengandalkan pendekatan langsung di dalam kelas, tetapi juga merancang kegiatan-kegiatan yang mendukung tumbuhnya kedisiplinan melalui ekstrakurikuler, pembiasaan harian, serta programprogram yang melibatkan komunitas sekolah. Pendekatan ini bertujuan agar peserta didik memahami bahwa disiplin bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan yang akan membentuk karakter mereka dalam jangka panjang. Penguatan karakter ini didukung oleh sejumlah faktor penting, salah satunya adalah keterlibatan pihak luar seperti aparat hukum atau Babinsa yang diundang menjadi narasumber dalam kegiatan sekolah. Kehadiran mereka membawa perspektif yang berbeda dan mampu menanamkan kesadaran bahwa disiplin juga berlaku Strategi Guru dalam Penguatan Karakter Disiplin Pada Peserta Didik Di SMPN 56 Surabaya dalam kehidupan bermasyarakat, bukan hanya di lingkungan sekolah. Peserta didik jadi memahami bahwa pelanggaran disiplin bisa berdampak serius dalam kehidupan nyata. Ini menjadi penguat bahwa sekolah tidak bekerja sendiri dalam membentuk karakter, melainkan membangun kolaborasi lintas sektor. Selain itu, dukungan dari orangtua peserta didik juga menjadi faktor krusial. Ketika orangtua sejalan dengan aturan sekolah, memberikan teladan yang baik, dan terus memantau perilaku anak-anak mereka, maka upaya yang dilakukan oleh guru akan berjalan lebih efektif. beberapa kasus, orangtua bahkan terlibat langsung dalam kegiatan pembinaan atau pengawasan di sekolah, terutama pada saat-saat tertentu seperti masa orientasi siswa atau saat adanya pelanggaran disiplin yang perlu penanganan Namun, meskipun strategi dan dukungan eksternal sudah cukup kuat, guru tetap menghadapi tantangan dalam proses pembentukan karakter disiplin, salah satunya adalah pengaruh teman sebaya. Pada usia remaja, antara 10 hingga 18 tahun, anak-anak cenderung lebih peka dan responsif terhadap sikap dan pendapat dari teman-temannya dibandingkan dari orang dewasa. Hal ini membuat peran lingkungan pertemanan sangat besar terhadap pembentukan perilaku, termasuk dalam hal Jika peserta didik berada di lingkungan teman yang positif, maka hal ini menjadi kekuatan. Namun sebaliknya, jika lingkungannya negatif, maka upaya pembinaan yang sudah dilakukan bisa terkikis secara perlahan. Lingkungan pertemanan yang tidak kondusif sering kali menjadi titik awal perubahan perilaku peserta didik yang awalnya patuh menjadi mudah membangkang. Ketika mereka melihat bahwa teman-temannya bebas melanggar aturan tanpa mendapat konsekuensi berarti, mereka akan tergoda untuk mencoba melakukan hal yang Terlebih lagi, remaja memiliki dorongan untuk diterima oleh kelompok sosialnya, sehingga mereka rela mengorbankan prinsip yang mereka yakini demi mendapatkan penerimaan sosial dari teman-teman sebaya. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan pengaruh teman bisa melebihi pengaruh guru dan orangtua dalam kondisi Pengaruh negatif dari teman sebaya juga semakin besar apabila sekolah berada di lingkungan sosial yang memiliki tantangan tersendiri. Seperti halnya SMPN 56 Surabaya yang berada di kawasan dengan latar belakang sosial ekonomi menengah ke bawah dan dekat dengan wilayah yang pernah terdampak masalah sosial. Kondisi ini menyebabkan sebagian peserta didik sudah terbiasa melihat atau bahkan mengalami langsung perilakuperilaku yang menyimpang dari norma, sehingga sensitivitas mereka terhadap pelanggaran disiplin menjadi Anak-anak yang sebenarnya memiliki karakter baik menjadi rawan terpapar perilaku buruk jika terusmenerus berada dalam pergaulan yang negatif. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh lingkungan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Awalnya, peserta didik hanya sebatas meniru hal-hal kecil yang dianggap tidak terlalu serius, seperti terlambat masuk kelas, berbohong kepada guru, atau membolos. Namun jika tidak segera ditangani, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi bentuk pelanggaran yang lebih berat seperti perundungan, pergaulan bebas, hingga kenakalan remaja lainnya. Guru menyadari bahwa tantangan ini memerlukan perhatian khusus dan strategi penanganan yang tidak hanya menekankan pada hukuman, tetapi juga pendekatan dialog dan pendampingan psikologis. Untuk mengatasi hal tersebut, guru berusaha menciptakan suasana kelas yang kondusif dan membangun relasi yang erat dengan peserta didik. Hubungan yang baik antara guru dan murid akan membuat peserta didik merasa dihargai dan lebih terbuka terhadap nasihat. Selain itu, guru juga melakukan pemetaan sosial terhadap peserta didik untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok pertemanan yang potensial menimbulkan pengaruh negatif. Dengan begitu, guru dapat lebih mudah melakukan intervensi preventif atau pengawasan terhadap kelompok tertentu yang dinilai rawan menularkan perilaku buruk. Dalam pelaksanaannya, sekolah juga menerapkan sistem pembinaan yang melibatkan tim tata tertib, guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta wali kelas untuk Peserta didik yang terlibat dalam pelanggaran tidak langsung dihukum, tetapi terlebih dahulu diajak berdialog dan dievaluasi latar belakang Jika terbukti bahwa pelanggaran tersebut terjadi karena pengaruh teman sebaya, maka penanganan juga melibatkan teman-temannya, tidak hanya individu yang melanggar. Ini dilakukan agar lingkungan sosial mereka bisa ikut dibenahi. Selain pendekatan kuratif, sekolah juga menekankan pendekatan preventif dengan memberikan penghargaan kepada peserta didik yang menunjukkan perilaku disiplin secara konsisten. Sistem reward ini tidak hanya berupa materi, tetapi juga pujian, sertifikat, dan kesempatan menjadi perwakilan sekolah dalam berbagai kegiatan. Strategi ini terbukti efektif dalam menumbuhkan semangat positif dan menciptakan budaya disiplin yang tumbuh dari dalam, bukan karena takut terhadap Dalam kondisi ideal, penguatan karakter disiplin seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah Masyarakat sekitar dan keluarga juga berkontribusi signifikan dalam pembentukan sikap dan Kajian Moral dan Kewarganegaraan (S. Volume 13 Nomor 4 Tahun 2025, 339 Ae 350 perilaku anak. Oleh karena itu, kerja sama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi landasan penting dalam membangun lingkungan yang mendukung perkembangan peserta didik untuk tumbuh sebagai pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab. Dengan demikian, meskipun pengaruh negatif dari teman sebaya menjadi tantangan besar dalam upaya penguatan karakter disiplin, strategi yang diterapkan oleh sekolah tetap dapat memberikan hasil yang positif apabila dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Pendekatan yang tidak hanya fokus pada hukuman tetapi juga pembinaan emosional dan sosial menjadi kunci dalam membentuk karakter disiplin yang kokoh pada diri peserta didik. Tantangan lingkungan dan pertemanan tidak bisa dihindari, tetapi bisa dihadapi dengan strategi yang tepat dan kerja sama dari semua pihak yang terlibat. PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa strategi guru dalam penguatan karakter disiplin peserta didik di SMPN 56 Surabaya diterapkan secara menyeluruh melalui berbagai pendekatan yang saling mendukung. Strategi tersebut meliputi sosialisasi peraturan secara konsisten, pemberian apresiasi atas perilaku positif, pengingat terhadap tanggung jawab disiplin, pemberian teladan langsung oleh guru, serta pelaksanaan inspeksi mendadak oleh pihak Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk menegakkan aturan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran internal dan membentuk kebiasaan disiplin yang berkelanjutan dalam diri peserta didik. Keberhasilan strategi ini turut didukung oleh keterlibatan pihak eksternal seperti Babinsa dan aparat hukum sebagai narasumber, serta sinergi antara guru, orang tua, dan masyarakat dalam membina peserta didik. Namun demikian, pengaruh negatif dari teman sebaya tetap menjadi tantangan yang dapat menghambat upaya tersebut, terutama ketika peserta didik berada dalam lingkungan pergaulan yang tidak kondusif. Kendati demikian, secara keseluruhan, strategi yang diterapkan terbukti mampu meningkatkan kedisiplinan peserta didik, terutama dalam aspek kepatuhan terhadap aturan sekolah. Temuan ini selaras dengan teori Thomas Lickona yang menekankan bahwa pembentukan karakter disiplin yang efektif harus mencakup pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan tindakan moral . oral behavio. sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan dalam proses pendidikan karakter. Saran Berdasarkan hasil penelitian mengenai strategi guru dalam penguatan karakter disiplin pada peserta didik di SMPN 56 Surabaya, disarankan agar pihak sekolah, khususnya para guru, terus mempertahankan dan mengembangkan strategi-strategi yang telah terbukti efektif, seperti sosialisasi peraturan, pemberian apresiasi, keteladanan, serta inspeksi mendadak, agar tetap relevan dengan perkembangan karakter dan kebutuhan peserta Selain itu, diperlukan evaluasi berkala untuk menyesuaikan pendekatan dengan dinamika peserta didik dari waktu ke waktu. Peneliti selanjutnya juga disarankan untuk memperdalam kajian terhadap faktor penghambat, khususnya pengaruh provokasi antar teman sebaya, guna mengetahui secara lebih rinci bagaimana pengaruh tersebut membentuk karakter peserta didik serta merumuskan strategi yang lebih spesifik untuk Tak kalah penting, peserta didik diharapkan dapat menunjukkan sikap disiplin secara konsisten dan bijaksana dalam memilih lingkungan pergaulan, agar nilai-nilai positif yang ditanamkan di sekolah dapat terinternalisasi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan Terima Kasih Diucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam penyusunan penelitian ini, khususnya kepada SMPN 56 Surabaya, termasuk Kepala Sekolah, para guru, tim tata tertib, serta peserta didik yang telah bersedia menjadi lokasi dan subjek penelitian, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam penguatan karakter disiplin peserta didik serta menjadi referensi bagi pelaksanaan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. DAFTAR PUSTAKA