Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Meningkatkan Motivasi Belajar Menggunakan Student Teams Achievement Divisions Pembelajaran IPA Kelas IV SDN 48 Ternate Iwan Abdy1*. Andi Rahmadani2,Dwi Widyastuti Nurharyanto3 1, 2, 3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas khairun *Email: iwanabdy@unkhair. received 22/05/2025 . revised 05/07/2025 . accepted 26/07/2025 . published 02/08/2025 Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa SDN Ternate pada pelajaran IPA melalui penerapan metode Student Teams Achievement Divisions (STAD). Rancangan penelitian adalah penelitian Tindakan kelas dengan subjek penelitian Siswa kelas IV SDN 48 Ternate tahun pelajaran 2024/2025 yang berjumlah 22 orang. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Observasi dan Pengujian adalah dua pendekatan utama pengumpulan data. Motivasi belajar siswa yang terdiri atas: frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa. pada Prasiklus mempunyai rata-rata 28,41%, pada Siklus I mempunyai rata-rata 44,32%, sedangkan pada siklus II rata-rata mencapai 75%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa motivasi siswa meningkat 15,91% Pada Siklus I. Peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus II lebih besar dari siklus I sebesar 30,68%, hal ini dapat dikatakan bahwa indikator peningkatan motivasi belajar siswa sudah tercapai. Dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran metode STAD berpengaruh positif dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPA. Keywords: Motivasi Belajar. Student Teams Achievement Divisions (STAD). Pembelajaran IPA Abstract The research aims to determine the improvement of student learning motivation at SDN 48 Ternate in science subjects through the application of the Student Teams Achievement Divisions (STAD) metode. The research design is classroom action research with the subjects being 22 students from the fourth grade of SDN 48 Ternate for the 2024/2025 academic year. This research was conducted in two cycles. Observation and Testing are the two main approaches to data collection. Student learning motivation consists of: the frequency of questions asked by students, student attention, student cooperation in groups, and the increase in learning resources utilized by students. In the pre-cycle, the average was 28. 41%, in Cycle I the average was 44. 32%, while in Cycle II the average reached 75%. From these results, it can be concluded that student motivation increased by 15. in Cycle I. The increase in student learning motivation in cycle II is greater than in cycle I by 30. 68%, this indicates that the indicator of increased student learning motivation has been achieved. It can be concluded that the STAD method of learning has a positive effect and can enhance student learning motivation in science education. Keywords: Learning Motivation. Student Teams Achievement Divisions (STAD). Science Learning PENDAHULUAN Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 menjadi landasan pendidikan nasional yang berupaya mengasah kemampuan intelektual serta menumbuhkan karakter dan budaya bangsa yang terhormat. Tujuan utamanya adalah mewujudkan manusia yang teguh beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral lurus dan cerdas, dapat diandalkan dan kreatif, mampu berpikir sendiri, dan mewakili nilai-nilai demokrasi dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab. Terwujudnya sistem pendidikan nasional yang menyeluruh sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sangat penting untuk memperluas cakupan kewajiban ini. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 157 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Motivasi menurut Ridwan dalam Febrian & Saputri . mendefinisikan motivasi sebagai Energi pada individu yang mendorong mereka untuk melakukan latihan eksplisit dengan tujuan eksplisit. Apa pun yang dapat membujuk siswa atau orang untuk belajar disebut motivasi belajar. Tanpa motivasi belajar, seorang siswa tidak akan belajar dan selanjutnya tidak akan membuat kemajuan belajar. Motivasi belajar merupakan kondisi dimana peserta didik mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi belajar merupakan aspek dinamis yang penting dalam pembelajaran, yang mengharuskan upaya kongkrit guru untuk mempertahankan bahkan meningkatkannya (Diandaru, 2. Motivasi belajar yang dihasilkan dari suasana belajar yang nyaman dan kondusif akan memotivasi peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar guna mencapai hasil belajar yang setinggi-tingginya. Motivasi belajar memberikan dampak positif terhadap hasil belajar peserta didik (Seneru, 2. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan siswanya untuk suatu jabatan atau profesi tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Motivasi secara tidak langsung tumbuh dalam diri setiap indidvidu peserta didik yang telah dibentuk oleh guru. siswa menjadi percaya diri karena merasa akan ada upaya ketika siswa didalam kelompok tidak mengetahui atau memahami tentang materi yang diselesaikan (Andrian &Wahyuni, 2. Menurut hasil penelitian melalui observasi langsung, bahwa kebanyakan siswa yang besar motivasinya akan giat berusaha, tampak gagah, tidak mau menyerah, serta giat membaca untuk meningkatkan hasil belajar serta memecahkan masalah yang dihadapinya (Rahman, 2. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik hasrat dan keinginan berhasil serta dorongan kebutuhan belajar dan harapan dan cita-cita. Faktor eksternalnya yaitu adanya penghargaan, lingkungan yang kondusif dan kegiatan yang menyenangkan serta motivasi sebagai Energi pada individu yang mendorong mereka untuk melakukan latihan eksplisit dengan tujuan eksplisit (Fitriya dkk, 2. Motivasi belajar yang dimiliki peserta didik dalam setiap kegiatan pembelajaran sangat berperan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran tertentu. Siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar memungkinkan akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula, dalam proses pengajaran sangat diperlukan adanya motivasi (Fernando dkk, 2. Motivasi belajar siswa dalam mempelajari kelompok sains dipengaruhi oleh faktorfaktor yang berasal dari siswa dan guru. Faktor yang berasal dari diri siswa yaitu adanya ketertarikan dan semangat siswa untuk belajar mata pelajaran sains. Faktor dari guru yang berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa adalah kurikulum, interaksi guru dengan siswa dan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru (Ningsih, 2. Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh guru, sejauh mana guru itu dapat menguasai materi pembelajaran dan bagaimana cara guru menyampaikan materi tersebut kepada siswa dengan baik. Dalam proses belajar mengajar guru dituntun untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pembahasan dan kebutuhan siswa agar proses pembelajaran berjalan secara efektif sehingga terjadinya interaksi antara guru dan siswa yang membuat suasana belajar yang menyenangkan dan membantu siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan dengan baik (Sihombing dkk, 2. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata Pelajaran yang melatih anak untuk mengetahui dan memahami produk, proses ilmiah . ejala-gejala Ala. , dan Upaya pemupukan sikap ilmiah. yang disajikan dalam bentuk fakta, konsep, prinsip atau hukum. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 158 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Mata pelajaran IPA di sekolah dasar merupakan mata pelajaran yang dianggap paling sulit oleh siswa sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar mata Pelajaran tersebut. (Harpina dkk, 2. Beberapa kesulitan yang terjadi pada siswa dalam belajar IPA yaitu: rendahnya motivasi siswa, persiapan siswa dalam mengikuti pelajaran masih kurang dan siswa yang memahami materi mengalami kesulitan dalam membagi pengetahuan kepada Beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar siswa didalam mata pelajaran tertentu diantaranya faktor fasilitas sekolah, keluarga, intelektual, kemampuan siswa, timbal balik, media elektronik dan kedisplinan siswa (Rohman dkk, 2. Selanjuntnya Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Febiwanty & Mustika, . disimpulkan bahwasanya faktor yang mempengaruhi minat siswa terhadap pembelajaran IPA dikelompokkan menjadi dua faktor utama yaitu faktor Internal dan faktor eksternal, salah satu faktor eksternal yang dimaksudkan adalah metode pembelajaran yang kurang memotivasi siswa. Rendahnya aktivitas belajar siswa ditunjukkan oleh banyaknya siswa yang hanya diam, duduk, dan mendengarkan saja ketika proses pembelajaran berlangsung. Hal tersebut disebabkan oleh proses pembelajaran yang kurang memiliki daya tarik yang diterapkan oleh guru. Metode pembelajaran yang diterapkan guru cenderung membosankan sehingga siswa memiliki aktivititas belajar yang rendah dalam mengikuti proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dilaksanakan masih menggunakan metode konvensional dimana siswa tidak aktif dalam proses pembelajaran (Nurhaeni & Subagyo, 2. Dalam pendekatan pembelajaran konvensional, pengajaran disampaikan melalui ceramah, yang mendorong keterlibatan pasif dari siswa yang sering kali bersikap tenang, fokus pada mendengarkan dan mencatat informasi penting dari pelajaran. Akibatnya, sikap anak semakin apatis terhadap ajaran yang diajarkan. Hal ini akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap cara siswa belajar, khususnya selama kelas IPA, yang pada gilirannya akan mempengaruhi nilai akhir mereka (Setiawan and dkk, 2. Pembelajaran IPA merupakan suatu interaksi antara siswa dengan lingkungan Hal ini mengakibatkan pembelajaran IPA perlu mengutamakan peran siswa dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran tersebut. Guru berkewajiban untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran IPA (Riastuti dkk, 2. Pembelajaran IPA merupakan suatu interaksi antara siswa dengan lingkungan Masih terdapat banyak kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran IPA . Guru kurang mengikutsertakan siswa dalam proses pembelajaran, namun guru lebih cenderung menggunakan ceramah yang hanya menuntut kekuatan ingatan dan hafalan tanpa mengembangkan wawasan berpikir dan penyelesaian masalah yang memungkinkan siswa belajar lebih aktif (Farida, 2. Hasil belajar yang tinggi sesuai dengan kemampuan siswa, merupakan dambaan setiap siswa, guru, orang tua bahkan masyarakat. Secara psikologis kebutuhan berhasil dimaksudkan sebagai usaha menaikkan harga diri, sebab dengan berhasil mereka merasa harga dirinya diakui oleh orang lain. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan wali kelas IV Ibu Uswatun. yang dilakukan di lokasi penelitian ditemukan beberapa kesulitan yang terjadi pada siswa Kelas IV SDN 48 Kota Ternate dalam pembelajarana IPA, yaitu: IPA masih dianggap sebagai mata Pelajaran yang sulit. Proses pembelajaran IPA belum dapat menarik perhatian siswa This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 159 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ sehingga motivasi belajar siswa belum terangsang. Kelengkapan media pembelajaran yang ada disekolah masih sangat terbatas. Kegiatan pembelajaran masih berlangsung secara Mengatasi permasalahan diatas peneliti memilih menggunakan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan keaktifan siswa yakni Metode Pembelajaran STAD. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Sumarni & Mansurdin . dalam penelitiannya mengenai penggunaan metode Kooperative Learning Tipe STAD pada motivasi belajar siswa di Sekolah Dasar dikatakan bahwasanya Pembelajaran Kooperatif metode STAD berpengaruh positif dan dapat meningkatkan motivasi, sikap sosial, dan hasil belajar siswa. Fungsi motivasi dalam belajar adalah untuk mendorong atau menggerakan seseorang untuk melakukan kegiatan atau aktivitas guna untuk mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang kurang bermanfaat untuk tujuan Tersebut. Kondisi yang diuraikan diatas juga sesuai dengan hasil penelitian analisis dan pembahasan penelitian yang telah dilakukan oleh Sriana . model pembelajaran kooperatif tipe STAD berperan dalam meningkatkan hasil belajar dan layak digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menjadikan siswa partisipatif dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan aktifitas Melalui pembelajaran kelompok, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan tidak pasif, siswa menjadi lebih percaya diri memberikan pendapat dan saling membantu memotivasi siswa lainnya agar lebih mudah memahami materi pelajaran. Dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam proses pembelajaran maka dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Namun Peneliti tidak dapat melakukan analisis model pembelajaran kooperatif tipe STAD secara langsung kepada siswa karena sekolahsekolah terpaksa ditutup untuk mencegah penularan covid-19. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, peneliti berupaya untuk meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa SDN 48 Kota Ternate yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa, sehingga peneliti melakakukan penelitian langsung di tempat penelitian untuk melengkapi keterbatasan penelitian sebelumnya dengan judul AuMeningkatkan Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Metode STAD Pada Pembelajaran IPA Kelas IV SDN 48 Kota TernateAy. METODE PENELITIAN Paradigma PTK (Penelitian Tindakan Kela. menjadi landasan penelitian ini. Penelitian dilakukan pada kelas IV SDN 48 Ternate . Dari total 22 siswa, 10 laki-laki dan 12 perempuan. Penelitian ini dilakukan selama dua siklus pada tahun ajaran 2024/2025. Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Hari/Tanggal Mata Pelajaran Keterangan Senin, 29 April 2025 Kamis, 2 Mei 2025 Kamis, 16 Mei 2025 IPA IPA IPA Pra Siklus Siklus I Siklus II Ada beberapa tahapan dalam metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) yaitu: . Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar, . pembagian kelompok, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dimana setiap This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 160 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ kelompoknya terdiri dari 4-5 siswa secara heterogen, . presentasi dari guru, tahap ini guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari, . kegiatan belajar dalam tim, guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota tim betul-betul menguasai dan masing-masing memberi kontribusi, . kuis, siswa diberi kuis secara individual dan tidak dibenarkan bekerjasama, . penghargaan prestasi tim, pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok dilakukan guru dengan tahapan menghitung skor individu dan menghitung skor kelompok, setelah masing-masing kelompok memperoleh predikat guru memberikan penghargaan kepada masing-masing tim (Agustina dkk, 2. Teknik penelitian terdiri dari dua komponen utama: . Membuat strategi untuk meningkatkan Motivasi siswa belajar IPA dengan menggunakan Metode STAD. Melaksanakan strategi dalam dua siklus yang berbeda, ditandai sebagai siklus 1 dan siklus Observasi dan pengujian merupakan sarana utama pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai cara untuk mengawasi bagaimana keadaan di kelas, baik instruktur maupun siswa dapat mengambil manfaat dari melakukan observasi. Bersamaan dengan itu, setelah melakukan kegiatan belajar mengajar, siswa diharuskan mengikuti tes untuk memverifikasi kemajuannya. Setelah data diperoleh, selanjutnya data tersebut dianalisis untuk mengetahui apakah penelitian ini mengalami perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diharapkan. Tata cara pelaksanaan Penelitian dapat dilihat pada Gambar 1 (Purwati, 2. Perencanaan Refleksi SIKLUS 1 Pelaksanaan Pengamatan Perencanaan Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan Gambar 1. Diagram Siklus Pelaksanaan Tindakan Kelas Penelitian tersebut mencapai keberhasilan yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan yang terlihat pada hasil belajar IPA siswa setelah diterapkannya metode Pembelajaran STAD. Tercapainya ambang batas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang mensyaratkan nilai minimal 65 menunjukkan hal tersebut. Oleh karena itu, apabila hasil belajar siswa di kelas tempat penelitian dilakukan telah mencapai nilai ketuntasan minimal yang ditentukan penelitian, maka dianggap berhasil. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 161 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Tabel 2. Nilai Tes Akhir Nilai KKM X < 65 X Ou 65 Belum tuntas Tuntas Metode penelitian menjelaskan pendekatan, rancangan kegiatan, ruang lingkup atau objek, bahan dan alat utama, tempat, teknik pengumpulan data, variabel penelitian, dan teknik analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Motivasi Belajar Sepanjang setiap siklus, penulis melakukan latihan observasi untuk mengukur sejauh mana siswa terlibat dan termotivasi untuk belajar. Motivasi Belajar siswa diamati oleh dua observer dengan menggunakan lembar Aspek motivasi yang diamati yaitu frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan oleh siswa. Hasil observasi sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Motivasi Siswa pada Prasiklus. Siklus I dan Siklus II Rata-Rata Aspek Motivasi Prasiklus Siklus I Siklus II Frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa 13,64 31,82 68,18 Perhatian siswa 36,36 54,55 95,45 Kerjasama siswa dalam kelompok 27,27 40,91 72,73 Peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa 36,36 50,00 63,64 Rata-rata Motivasi belajar 28,41 44,32 75,00 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa yang terdiri atas: frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa pada Prasiklus mempunyai rata-rata 28,41%, pada Siklus I mempunyai rata-rata 44,32%, sedangkan pada siklus II rata-rata mencapai 75%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa motivasi siswa meningkat 15,91% Pada Siklus I. Peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus II lebih besar dari siklus I sebesar 30,68%, hal ini dapat dikatakan bahwa indikator peningkatan motivasi belajar siswa sudah tercapai. Adanya peningkatan motivasi siswa untuk belajar dikarenakan penerapan pembelajaran metode STAD, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Sumarni & Mansurdin . dalam penelitiannya menyatakan bahwa metode Pembelajaran Kooperatif tipe STAD berpengaruh positif dan dapat meningkatkan motivasi, sikap sosial, dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, tujuan penelitian sudah tercapai dengan menggunakan metode pembelajaran tipe STAD. Peningkatan motivasi dari This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 162 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ siklus I ke siklus II terjadi sesuai dengan tahap-tahap pada proses pembelajarannya. Siswa memperhatikan pada saat guru menyampaikan dan menjelaskan materi pembelajaran, bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, bertanya ketika diskusi kelompok dan diskusi kelas, serta memanfaatkan sumber belajar. Sehingga setiap tahap meningkatkan motivasi belajar siswa. Prestasi Belajar Prestasi Belajar Penerapan metode pembelajaran tipe STAD dilaksanakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar yang dimaksud adalah tingkat kemampuan belajar IPA yang tercermin pada skor atau nilai kemampuan mengerjakan soal-soal IPA yang telah dibelajarkan. Soal yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar adalah soal post test pada akhir siklus belajar. Data rata-rata tiap siklus prestasi belajar ada pada tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Daftar Nilai Tes Akhir Pembelajaran IPA Frekuensi Titik Interval Tengah Prasiklus Siklus I Jumlah Siklus II Tabel 5. Ketuntasan Belajar Pembelajaran IPA Uraian Prasiklus Siklus I Jumlah Siswa Jumlah Siswa yang belum Tuntas Belajar Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar %Ketuntasan Belajar Siswa Kenaikan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II Dari tabel 5. diatas terlihat bahwa Kisaran nilai pada prasiklus adalah 40 sampai 90 dengan ketuntasan belajar siswa sebanyak 9 Orang . %). Pada siklus I ketuntasan belajar siswa sebanyak 14 Orang . %) dan pada Siklus II ketuntasan belajar siswa sebanyak 20 Orang . %). Hal ini menunjukkan bahwa Ketuntasan belajar siswa menunjukkan kenaikan prestasi belajar pada siklus I sebesar 23% pada siklus I dan 27% pada siklus II. Siklus II ratarata prestasi belajar lebih baik dari siklus I. Hal ini karena siswa telah mengikuti metode pembelajaran tipe STAD mulai dari tahap penyajian materi yang diisi dengan demonstrasi, siswa terlibat aktif membantu guru. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Luh . yang menyatakan bahwa hasil belajar mata pelajaran IPA melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa SD Negeri 2 Tigawarsa Kecamatan Banjar Kabupaten Bulelang meningkat. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 163 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Aktivitas Guru Ada beberapa tahapan dalam metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilaksanakan guru yaitu: . Guru memulai kegiatan pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan memotivasi siswa untuk belajar, . pembagian kelompok, siswa, . presentasi dari guru, . kegiatan belajar dalam tim, . penghargaan prestasi tim. Indikator-indikator yang menjadi penilaian guru oleh pengamat meliputi: mengartikulasikan tujuan pembelajaran, menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar, menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang efektif, mengatur waktu secara efektif. Melaksanakan tahapan pembelajaran (Kegiatan Awal. Kegiatan Inti dan Kegiatan Akhi. Masing-masing Indikator memiliki rentang nilai 0-10. Dengan katagori O50% AuKurang BaikAy, 51%-60% AuCukup BaikAy, 61%-75% AuBaikAy,Ou76%AuSangat BaikAy. Rata-rata hasil penilaian aktivitas guru dapat dilihat pada tabel 6 dibawah ini. Tabel 6. Daftar Hasil Penilaian Aktivitas Guru Indikator Mengartikulasikan tujuan pembelajaran Menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang efektif Mengatur waktu secara efektif Melaksanakan tahapan pembelajaran (Kegiatan Awal. Kegiatan Inti dan Kegiatan Akhi. Jumlah Persentase Kategori (<50% AuKurang BaikAy, 50%-60% AuCukup BaikAy, 61%-75% AuBaikAy,>76%AuSangat BaikA. Prasiklus Siklus I Siklus II Kurang Baik Cukup Baik Sangat Baik Deskripsi Hasil Pelaksanaan Tindakan Siklus I Data Kegiatan Guru Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 6 diatas, terlihat bahwa indikator-indikator yang diidentifikasi kurang oleh pengamat meliputi: Mengatur waktu secara efektif. Pengamat mengklasifikasikan indikator dalam kategori Aucukup baikAy sebagai berikut: Mengartikulasikan tujuan pembelajaran. Menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang efektif. Melaksanakan tahapan pembelajaran (Kegiatan Awal. Kegiatan Inti dan Kegiatan Akhi. Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat bahwa penilaian kegiatan guru ketika proses pembelajaran berlangsung menurut pengamat yaitu berjumlah 25 dengan tingkat persentase 50%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam penelitian tindakan I kurang maksimal, jadi perlu adanya peningkatan aktivitas guru pada siklus II. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 164 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Data Kegiatan Siswa Dari data yang didapatkan diketahui bahwa motivasi belajar siswa yang terdiri atas: frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa pada Prasiklus mempunyai rata-rata 28,41%, pada Siklus I mempunyai rata-rata 44,32%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa motivasi siswa meningkat 15,91% Pada Siklus I. Dari penjelasan diatas menjelaskan bahwa kegiatan peserta didik dalam penelitian tindakan I kurang maksimal, jadi perlu adanya peningkatan aktivitas siswa pada siklus II. Hasil Belajar Siswa Dengan menggunakan metode STAD, seseorang dapat menilai tingkat pemahaman siswa secara individu dan berkelompok. Berdasarkan tabel 4, siswa dianggap tuntas jika hasil tesnya sama dengan atau lebih dari 65. Berdasarkan data, dari jumlah siswa tersebut, 14 siswa berhasil menyelesaikan belajar mandiri, sedangkan 8 siswa tidak tuntas. Hal ini menghasilkan tingkat keberhasilan 64%. Karena belum tercapainya tujuan belajar siswa pada siklus I, maka perlu ditingkatkan pada siklus II. Refleksi Hasil Penelitian secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini. Tabel 7. Rekapitulasi Hasil Penelitian Uraian Rata-rata Motivasi belajar Jumlah Siswa yang belum Tuntas Belajar Jumlah Siswa yang Tuntas Belajar % Ketuntasan Belajar Siswa Hasil Penilaian Aktivitas Guru Persentase Jumlah Siswa Prasiklus 28,41 Siklus I 44,32 Siklus II 75,00 Berdasarkan tabel 7 di atas dapat diketahui nilai kegiatan siklus I menunjukkan skor yang diperoleh pada hasil penilaian aktivitas Guru sebesar 25 . %). Persentase Motivasi Siswa sebesar 44, 32 % dan dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 64% . Sisw. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode STAD, aktivitas guru dan siswa pada siklus I ada peningkatan baik dari Penilaian Aktivitas Guru. Motivasi Belajar siswa dan juga hasil belajar siswa. Pada pembelajaran berikutnya, siklus II, peneliti perlu meningkatkan standar hasil belajar siswa. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 165 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Siklus II Data Kegiatan Guru Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 6, terlihat bahwa indikatorindikator sangat baik sebagai berikut: Mengartikulasikan tujuan pembelajaran. Menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang efektif. Melaksanakan tahapan pembelajaran (Kegiatan Awal. Kegiatan Inti dan Kegiatan Akhi. Dilihat dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa kegiatan guru selama kegiatan belajar mengajar, menurut pengamat memiliki total nilai 41 dengan tingkat persentase sebesar 82%. Tidak diperlukan siklus lagi karena hal ini menunjukkan keterlibatan guru dalam kegiatan belajar mengajar siklus II sudah semakin berkembang. Data Kegiatan Siswa Berdasarkan tabel 3 di atas dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa yang terdiri atas: frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa pada Siklus I mempunyai rata-rata 44,32%, sedangkan pada siklus II rata-ratanya mencapai 75%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa Peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus II lebih besar dari siklus I sebesar 30,68%, hal ini dapat dikatakan bahwa indikator peningkatan motivasi belajar siswa sudah tercapai. Berdasarkan hasil tersebut, pembelajaran siklus II tidak memerlukan siklus ketiga karena partisipasi siswa dalam semua tahapan proses telah berkembang. Hasil Belajar Setelah diterapkannya metode STAD, dapat diketahui sejauh mana pemahaman individu siswa mengenai materi pembelajaran IPA tersebut. Dari tabel 4, siswa dikatakan tuntas apabila nilainya Ou 65, dari Kisaran nilai pada Siklus II adalah 40 sampai 90 dengan ketuntasan belajar siswa sebanyak 20 Orang . %) sementara dua siswa tidak mencapai KKM. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan ketuntasan belajar siswa dengan dibuktikan hasil belajar siswa pada siklus II lebih besar dari siklus I. Berdasarkan hasi capaian tersebut dapat dikatakan bahwa penelitian yang dilakukan pada siklus II membuahkan hasil. Refleksi Berdasarkan tabel 7 di atas dapat diketahui Nilai kegiatan siklus I menunjukkan skor yang diperoleh pada hasil penilaian aktivitas Guru sebesar 41 . %). Persentase Motivasi Siswa sebesar 75,00 % dan dengan ketuntasan belajar siswa sebesar 91% . Sisw. Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode STAD, aktivitas guru dan siswa pada siklus I ada peningkatan baik dari Penilaian Aktivitas Guru. Motivasi Belajar siswa dan hasil belajar siswa. Statistik menunjukkan bahwa 91% siswa mampu menyelesaikan proses pembelajaran pada siklus II. Hasil ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan Metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus kedua telah meningkat atau membuahkan hasil. This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 166 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ Permasalahan yang dihadapi siswa adalah kurangnya keinginan dan keterlibatan dalam mempelajari IPA, yang mungkin disebabkan oleh sistem pendidikan yang lama dan penggunaan sumber belajar yang kurang optimal. Penulis menggunakan metode STAD untuk menerapkan modifikasi untuk mengatasi tantangan ini. Ada dua putaran upaya ini. Untuk mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya, penulis menggunakan metode STAD untuk menggugah minat siswa dan mendorong mereka untukberpartisipasi aktif. Dari awal siklus II hingga akhir, nilai rata-rata siswa terus meningkat. Hal ini menunjukkan peningkatan ketuntasan Belajar siswa 64% pada siklus I . % lebih tinggi dibandingkan prasiklu. dan 91% pada siklus II . % lebih tinggi dibandingkan siklus I. Pada akhir siklus II siswa telah mencapai 91% siswa memperoleh hasil lebih tinggi dari kriteria ketuntasan minimal yakni Ou 65. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi penuh dalam mata pelajaran telah dicapai. Hasil pengajaran IPA dapat ditingkatkan dengan penggunaan Metode Pembelajaran kooperatif tipe STAD. Peningkatan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN 48 Ternate, dari siklus I ke siklus II peneliti menemukan hasil belajar siswa meningkat sebesar 27%. Hasil belajar siklus I dikumpulkan dari 22 siswa yang memenuhi syarat nilai ketuntasan minimal KMM yaitu 65. Dalam kelompok ini, 14 siswa berhasil melewati siklus I, sedangkan 8 siswa tidak berhasil. Pada siklus I rata-rata nilai motivasi belajar siswa adalah 44,34%. Namun demikian hanya 50% tugas yang diselesaikan. Sebanyak 22 siswa dengan KKM 65 digunakan untuk mengetahui hasil belajar siklus II. Dari jumlah siswa tersebut, 20 siswa berhasil menyelesaikan siklus II, sedangkan 2 siswa tidak. Nilai rata-rata motivasi belajar siswa pada siklus II adalah 75% yangditentukan dengan menghitung rata-rata skor Perolehan motivasi belajar siswa. Selain itu, tingkat penyelesaiannya adalah 82%, menunjukkan tingkat penyelesaian yang tinggi. Tabel 8 Aktivitas Belajar Siswa KEGIATAN Pra- Siklus Siklus 1 Membaca 45% . 68 % . Memperhatikan 59% . 77% . Bertanya 31% . 45% . Sisw. Mengeluarkan Pendapat 22% . 36% . Mendengarkan 68% . 86% . Berdiskusi 68% . 81% . Menanggapi 36% . 63% . Bersemangat 54% . 81% . Siklus II 95% . 100% . Sisw. 59% . 54% . 95% . 90% . Hal ini dapat dilihat dari Tabel 8 bahwa pada pembelajaran pra penelitian aktivitas belajar . ktivitas visua. siswa dengan indikator membaca adalah 48% yang meningkat menjadi 68% pada siklus I dan 95% pada siklus II . Untuk indikator perhatian . ktivitas visua. , sebanyak 59% siswa memperhatikan pra penelitian, meningkat menjadi 77% pada siklus I dan 100% pada siklus II, semua siswa memperhatikan presentasi guru atau Pada prapembelajaran, hanya 31% siswa bertanya atau bertanya . egiatan lisa. , yang meningkat menjadi 45% di siklus I dan 59% di sikulus II. Ini adalah pertumbuhan yang sangat penting dan sudah mulai berani bertanya. Pada studi pra studi, indikator untuk mengungkapkan pendapat . ral activit. adalah 22%, meningkat menjadi 36% pada siklus I This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 167 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ dan 54% pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang cukup besar, dan keberanian siswa mulai terlihat untuk menjawab pertanyaan yang diberikan. Indikator pendengaran . uditory activit. pada pra studi mencapai 68%, meningkat menjadi 86% pada siklus I dan 100% pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai mengapresiasi dan fokus pada semua konten yang dijelaskan, dan mulai mengapresiasi lawan Kategori diskusi . egiatan menyima. pada prastudi studi sebesar 68%, meningkat menjadi 81% pada siklus I, dan 95% pada siklus II. Pada pra penelitian kategori respon terhadap opini . ktivitas menta. sebesar 36% meningkat menjadi 63% pada siklus I dan 90% pada siklus II. Pada prastudi kategori kegembiraan . ktivitas emosiona. meningkat sebesar 54%, meningkat menjadi 81% pada siklus I, dan meningkat menjadi 100% pada siklus II. Adapun peningkatan paling signifikan dari aktivitas siswa ada pada indikator bersemangat dari 54% prasiklus menjadi 81 % pada siklus I meningkat sebesar 27%, kemudian kembali meningkat menjadi 100% pada siklus ke II. Hal ini menandakan dengan menggunakan metode STAD mampu meningkatkan motivasi dan juga hasil belajar siswa kelas IV SDN 48 Kota Ternate. Sejalan dengan penelitian Berdasarkan hasil tes, hasil belajar dari kondisi awal ke kondisi akhir mengalami peningkatan persentase siswa tuntas mengalami peningkatan sebesar 25,65%. Banyaknya siswa yang tuntas yaitu 39 Nilai tertinggi pada hasil tes ini adalah 90 dan nilai terendah 75. Persentase jumlah siswa tuntas sebesar 100%. Berdasarkan indikator keberhasilan maka proses pembelajaran dikatakan berhasil karena banyaknya siswa yang tuntas sudah mencapai 100%. Hasil penelitian ini Sejalan dengan penelitian terdahulu oleh (Luh, 2. yang menyatakan bahwa hasil belajar mata pelajaran IPA melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa SD Negeri 2 Tigawarsa Kecamatan Banjar Kabupaten Bulelang meningkat, hal dibuktikan terjadi peningkatan hasil belajar antara siklus I . ata-rata 66, daya serap 66%, ketuntasan belajar 59%) dan siklus II . ata-rata 75, daya serap 75%, ketuntasan belajar 94%). Terjadi peningkatan hasil belajar antara siklus I dan siklus II, menunjukkan kenaikan rata-rata daya serap 9% dan pada ketuntasan belajar mengalami kenaikan sebesar 35%. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa pada semester Genap Tahun Pelajaran 2024/2025 siswa kelas IV SDN 48 Kota Ternate lebih termotivasi untuk belajar IPA dengan menggunakan metode pembelajaran tipe STAD karena pembelajaran dengan menggunakan metode STAD mempermudah siswa memahami materi pembelajaran serta memotivasi siswa untuk belajar Bersama menggunakan metode pembelajaran tipe STAD, motivasi belajar siswa yang terdiri atas: frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa, perhatian siswa, kerjasama siswa dalam kelompok, dan peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan siswa pada Prasiklus mempunyai rata-rata 28,41%, pada Siklus I mempunyai rata-rata 44,32%, sedangkan pada siklus II rata-rata mencapai 75%. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa motivasi siswa meningkat 15,91%, hal ini dapat dikatakan bahwa indikator peningkatan motivasi belajar siswa sudah tercapai. Capaian rata-rata hasil belajar meningkat secara signifikan yakni sebesar 64% . Sisw. pada siklus I dan 91% . Sisw. pada siklus II berhasil menyelesaikan tujuan pembelajarannya. Saran yang dapat penulis sampaikan yaitu, . Dalam pembelajaran siswa hendaknya lebih banyak diberikan tugas kelompok sesuai dengan materi untuk meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa dalam proses pembelajaran, . Dalam pembelajaran, guru hendaknya lebih meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan yang dilakukan oleh siswa, dan guru hendaknya This Is an open access article under the CC BY SA-4. 0 licence | 168 Jurnal Armada Pendidikan Vol. No. Agustus 2025 https://doi. org/10. 60041/jap/v3i1. ISSN 2985-8623 /Print/ ISSN 2985-7902 /Online/ bertindak sebagai fasilitator dan siap membantu siswa saat mengalami kesulitan dalam DAFTAR PUSTAKA