Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 2 Tahun 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-06 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Available online at : https://journal. id/index. php/jbpab Pendidikan di Era Milenial dan Manajemen Pendidikan di Sekolah Tripitoyo1. Rusmiyati2,Kabri3,Partono Nyana Suryanadi4 Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga. Indonesia Alamat: Program Studi Pendidikan Keagamaan Buddha. Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga. Kabupaten Boyolali. Provinsi Jawa Tengah. Indonesia Korespondensi penulis: tripitoyo66@gmail. Abstract. Buddhist education in the millennial era faces various internal and external challenges, especially in adapting to the character of the younger generation who are highly dependent on information technology but weak in filtering moral values. Buddhist educational institutions also still face structural problems such as limited human resources, lack of contextual strengthening of Dhamma values, and an institutional image that is not yet strong in This study uses a library research method with content analysis and hermeneutics techniques to explore the relevance of Buddhist teachings to the dynamics of modern education. In the context of the Merdeka Belajar policy. Buddhist education has a great opportunity to transform through a flexible learning approach, strengthening student character, integrating spiritual values, and improving education management. In addition, the implementation of Buddhist leadership principles such as the Dasa Raja Dhamma and meditation practices can be a distinctive force that distinguishes Buddhist schools from other institutions. This transformation requires the active role of teachers, principals, foundations, and Buddhist organizations to synergize in building meaningful and competitive education in the digital era. Keywords: Buddhist Education. Millennial Era. Independent Learning. Educational Management. Dhamma Values. Buddhist Leadership. Student Character. Meditation. Abstrak. Pendidikan Buddhis di era milenial menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal, terutama dalam menyesuaikan diri dengan karakter generasi muda yang sangat bergantung pada teknologi informasi namun lemah dalam penyaringan nilai-nilai moral. Lembaga pendidikan Buddhis juga masih menghadapi masalah struktural seperti keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya penguatan nilai Dhamma secara kontekstual, serta citra institusi yang belum kuat di masyarakat. Studi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan teknik analisis isi dan hermeneutika untuk menggali relevansi ajaran Buddha terhadap dinamika pendidikan modern. Dalam konteks kebijakan Merdeka Belajar, pendidikan Buddhis memiliki peluang besar untuk bertransformasi melalui pendekatan pembelajaran fleksibel, penguatan karakter siswa, integrasi nilai-nilai spiritual, dan pembenahan manajemen pendidikan. Selain itu, implementasi prinsip-prinsip kepemimpinan Buddhis seperti Dasa Raja Dhamma dan praktik meditasi dapat menjadi kekuatan distingtif yang membedakan sekolah Buddhis dari lembaga lain. Transformasi ini membutuhkan peran aktif guru, kepala sekolah, yayasan, dan organisasi Buddhis untuk bersinergi dalam membangun pendidikan yang bermakna dan berdaya saing di era digital. Kata Kunci: Pendidikan Buddhis. Era Milenial. Merdeka Belajar. Manajemen Pendidikan. Nilai Dhamma. Kepemimpinan Buddhis. Karakter Siswa. Meditasi. LATAR BELAKANG Perkembangan pendidikan terus berlangsung seiring dengan kemajuan peradaban manusia yang diikuti oleh berbagai bentuk perubahan. Tiga faktor utama mendorong perubahan dalam pendidikan, yakni meningkatnya harapan orang tua terhadap mutu pendidikan, penyesuaian zaman, serta pergeseran pandangan masyarakat terhadap fungsi Di Indonesia, pendidikan agama secara konseptual diarahkan untuk membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan ketentuan hukum yang berlaku. Pendidikan Buddhis sebagai bagian dari sistem pendidikan agama, turut mengalami tantangan yang serupa, bahkan lebih kompleks dari sisi teknis. Received: April 15,2025 . Revised: April 30 ,2025 Accepted Juni 27, 2025. Published: Juni 30, 2025 Pendidikan di Era Milenial dan Manajemen Pendidikan di Sekolah Permasalahan utama mencakup pelaksanaan pendidikan yang belum optimal dan keterbatasan jumlah tenaga pengajar agama Buddha yang tersebar di berbagai institusi (Rachmadi, 2. Di era milenial, tantangan semakin meningkat dengan kemudahan akses informasi. Hal ini berdampak pada perilaku siswa yang cenderung permisif, kurang selektif dalam menggunakan internet, serta terpengaruh oleh lingkungan sosial, sehingga nilai-nilai etika dan moral sering kali diabaikan (Suryadi, 2. Keberlanjutan pendidikan Buddhis sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam memadukan pemanfaatan teknologi informasi modern dengan internalisasi ajaran Dhamma dalam proses pembentukan karakter peserta didik (Gunawan, 2. Di lapangan, masih terdapat keterbatasan tenaga pendidik dalam menerjemahkan ajaran Dhamma yang bersifat tekstual ke dalam praktik kehidupan sehari-hari yang relevan dan kontekstual. Beberapa studi menunjukkan bahwa generasi milenial memiliki ciri khas seperti kepercayaan tinggi terhadap konten buatan pengguna . ser generated conten. , penggunaan ponsel yang lebih dominan dibanding televisi, kecanduan media sosial, minat baca konvensional yang rendah, dan kecakapan teknologi yang melebihi generasi sebelumnya. Lembaga pendidikan Buddhis memiliki tanggung jawab besar dalam membina aspek tentang spiritual dan moral peserta didik, sehingga peserta didik menjadi salah satu komponen penting yang harus diperhatikan. Kementerian Agama Republik Indonesia mencatat adanya 49 Dhammasekha yang berfungsi sebagai institusi pendidikan formal Buddhis yang tersebar di berbagai wilayah (Kementerian Agama RI, 2. Untuk meningkatkan kualitas institusi pendidikan tersebut, diperlukan manajemen yang menyeluruh terhadap semua komponen Keberhasilan proses pembelajaran dapat diukur dari keterlibatan dan perkembangan peserta didik, sehingga diperlukan pendekatan sistematis dalam pengelolaan siswa yang mencakup penyusunan kurikulum yang relevan, pelatihan guru yang berkelanjutan, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, serta pembinaan kedisiplinan, karakter, dan sistem evaluasi yang terstruktur. KAJIAN TEORI Pendidikan Buddhis bersumber dari istilah Pali sikkhA, yang merujuk pada proses pelatihan spiritual tiga aspek utamaAietika . , meditasi . amAdh. , dan kebijaksanaan . ayyA)Aiuntuk mencapai pencerahan atau bodhi (Threefold Training, 2. Proses ini mencakup pelatihan diri secara sistematis guna membersihkan batin dan mewujudkan kebijaksanaan sejati, sebagai dasar kemajuan spiritual. Tujuan utama pendidikan tersebut adalah mengantarkan individu dari kondisi penderitaan menuju kebahagiaan sejati melalui realisasi kebijaksanaan sempurna, atau AnuttarAAcSamyakAcSaEbodhiAienlightenment tanpa Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-06 bandingan (Tibetan Buddhist Encyclopedia, 2024. Nichiren Buddhism Dictionary, 2. Konsep ini menegaskan bahwa setiap insan memiliki potensi bijaksana intrinsik, dan pendidikan Buddhis berfungsi sebagai sarana untuk menggali dan melepaskan kebijaksanaan itu dari tabir kebingungan (Dharma Realm Buddhist University, 2. Manajemen peserta didik merupakan integrasi antara konsep AumanajemenAy yaitu kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan tertentu dengan Aupeserta didikAy, yaitu individu yang sedang menjalani proses pengembangan diri dalam dunia pendidikan (Mulyasa, 2. Pada tahap ini, siswa memerlukan berbagai sumber informasi guna menunjang pertumbuhan dan perkembangan Tujuan utama dari manajemen peserta didik adalah memberikan layanan maksimal selama masa belajar, memfasilitasi pengembangan potensi siswa, serta mengoordinasikan aktivitas yang mendukung proses pendidikan (Sagala, 2. Kegiatan ini meliputi pengembangan intelektual, pembinaan sosial, serta pendampingan aspirasi dan kemampuan peserta didik. Prinsip-prinsip pelaksanaannya mencakup pendekatan yang bersifat humanistik, penghormatan terhadap keberagaman siswa, serta keselarasan dengan visi dan misi pendidikan (Uno, 2. Disiplin dapat dimaknai sebagai sikap taat terhadap aturan serta norma yang berlaku, disertai pengendalian diri. Pendidikan Buddhis merujuk pada pengembangan moral dan kendali diri sesuai ajaran Buddha. Hal ini tercermin dalam SigAlaka Sutta, yang menekankan hubungan harmonis antara guru dan siswa. Guru berperan sebagai pendidik yang penuh perhatian dan kasih sayang, sedangkan siswa diharapkan menunjukkan sikap hormat, kesungguhan, dan kedisiplinan dalam belajar. Karakter adalah seperangkat nilai moral, etika, dan sikap positif. Tujuan dari pembinaan karakter adalah membentuk individu yang jujur, penuh bertanggung jawab, serta memiliki empati terhadap sesama. Proses ini dilakukan melalui berbagai saluran seperti keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat, serta media (Kemendiknas, 2. Dalam ajaran Buddha. SigAlaka Sutta dan Lohicca Sutta menegaskan pentingnya etika dalam hubungan antara guru dan siswa sebagai bagian dari pendidikan karakter (Bodhi, 2. Evaluasi pembelajaran merupakan proses sistematis yang digunakan untuk mengukur pencapaian siswa. Dalam pendidikan Buddhis, evaluasi tidak hanya menilai kognitif, tetapi juga melibatkan aspek spiritual dan etis siswa. Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi siswa, menentukan ketuntasan belajar, serta menyusun program perbaikan . dan pengayaan sesuai kebutuhan (Permendikbud No. 104 Tahun Pendidikan di Era Milenial dan Manajemen Pendidikan di Sekolah Kepemimpinan dalam ajaran Buddha menitikberatkan pada peran pemimpin sebagai pembimbing yang mengembangkan potensi dan kualitas terbaik dari para pengikutnya, bukan sebagai penguasa absolut (Rahula, 2. Pemimpin Buddhis diharapkan menjalankan perannya dengan dilandasi welas asih, menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran, serta berkomitmen terhadap kesejahteraan umat (Gunaratana, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini terutama menggunakan metode kualitatif deskriptif. Langkahlangkahnya mencakup pemilihan topik, eksplorasi literatur, pemfokusan kajian, pengumpulan bahan pustaka, persiapan penyajian data, serta penyusunan laporan akhir. Penetiaan ini menggunakan analisis isi . ontent analysi. , yang melibatkan kategorisasi, komparasi, dan sintesis makna dari berbagai sumber demi mendapatkan inferensi yang valid dan dapat diuji kembali dalam konteks penelitian pendidikan (Lindgren et al. , 2. Selain itu, pendekatan hermeneutik juga digunakan, dengan tahapan interpretasi tekstual, translasi . ika perl. , dan penjelasan makna teks-teks suci seperti sutta, mengikuti praktik analisis hermeneutik kontemporer terhadap naskah agama (Badal, 2. Penelitian ini juga mengadopsi studi kasus kualitatif, menggunakan survei, wawancara dan dokumentasi, dengan validasi melalui triangulasi data untuk memastikan kredibilitas hasil penelitian (Moleong. Yin, 2. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai dinamika dan konteks pendidikan Buddhis di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil studi pustaka menunjukkan bahwa pendidikan Buddhis di era milenial menghadapi tantangan signifikan, baik dari segi internal maupun eksternal. Di satu sisi, peserta didik generasi milenial sangat terbuka terhadap kemajuan teknologi informasi, tetapi belum sepenuhnya mampu menyaring informasi dengan pendekatan etika dan moralitas yang kuat. sisi lain, lembaga pendidikan Buddhis belum seluruhnya mampu menyinergikan ajaran Dhamma dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dan fleksibel. Hal ini diperburuk oleh keterbatasan jumlah guru yang mumpuni di bidang Dhamma dan pedagogi modern. Transformasi pendidikan Buddhis berpotensi berkembang melalui pemanfaatan kebijakan Merdeka Belajar, yang menekankan kebebasan dalam proses pembelajaran dan penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan siswa. Inovasi dalam praktik pembelajaran yang memadukan meditasi, refleksi nilai, dan teknologi digital, seperti pemanfaatan platform daring berbasis nilai spiritual, telah terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap ajaran agama (Wahyuni & Hartati, 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 01-06 Selain itu, penerapan nilai-nilai Dasa Raja Dhamma dalam kepemimpinan sekolah dan pembelajaran telah menunjukkan peningkatan karakter siswa dalam hal empati, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial (Wijayanti, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan Buddhis saat ini membutuhkan pendekatan adaptif yang mampu merespons dinamika generasi milenial dan tantangan era digital. Strategi pembelajaran yang integratif, yang menggabungkan nilai spiritualitas Buddhis dengan penguasaan teknologi dan kedalaman Peran guru, kepala sekolah, dan yayasan sangat krusial dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang seimbang antara penguasaan ilmu pengetahuan dan internalisasi nilai-nilai Disarankan agar lembaga pendidikan Buddhis memperkuat pelatihan guru secara berkelanjutan, khususnya dalam penguasaan strategi pembelajaran berbasis karakter dan Penerapan program meditasi harian, refleksi nilai, serta penguatan manajemen berbasis prinsip kepemimpinan Buddhis perlu dijadikan agenda utama pengembangan sekolah. Selain itu, sinergi antara pemerintah, organisasi keagamaan, dan komunitas pendidikan perlu diperkuat untuk mendukung keberlanjutan dan daya saing lembaga pendidikan Buddhis di Indonesia. DAFTAR REFERENSI Kemendikbud. Profil Pelajar Pancasila. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Krippendorff. Content analysis: An introduction to its methodology . nd ed. Sage Publications. Li. Cochrane. , & Leshed. Juli . Beyond meditation: Understanding everyday mindfulness practices and technology use among experienced practitioners. arXiv preprint. https://arxiv. org/abs/2407. ambahkan URL jika tersedia Mobarok. Bakker. Hamzali. Yulianti. , & Rifky. Mei . Analisis gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap pembentukan karakter sosial siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8. , 18829Ae18842. Moleong. Metodologi penelitian kualitatif (Edisi Revis. Remaja Rosdakarya. Ningsih. September . Karakter, kepemimpinan dan kualitas guru: Kajian kultur sekolah di Indonesia. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 13. , 201Ae212. Pahrizal. Arifin. , & Hasanah. Maret . Membentuk karakter kepemimpinan santri melalui program leadership di Pondok Pesantren Kampung Quran. Eduprof: Islamic Education Journal, 5. , 149Ae167. Pendidikan di Era Milenial dan Manajemen Pendidikan di Sekolah Prasetyo. Pengembangan kepemimpinan berbasis karakter di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 9. , 45Ae52. Rachman. Humaeroh. Sari. , & Mulyanto. Juni . Kepemimpinan visioner dalam pendidikan karakter. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 9. , 1024Ae1033. Ratana. Sukodoyo. , & Bramantyo. November . Analisis nilai-nilai karakter dalam Kacchapa JAtaka untuk pendidikan Buddhis. Jurnal Maitreyawira, 4. , 30Ae43. Setiawan. Supartono. , & Mujiyanto. Februari . Pengaruh pendidikan Buddhis terhadap penguatan moralitas Pancadharma siswa beragama Buddha. Academy of Education Journal, 15. , 648Ae656. Suryadi. Dampak internet terhadap moral remaja. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 25. , 250Ae261. Tyasmaning. Desember . Manajemen pendidikan Islam melalui integrasi nilai spiritual dalam kinerja akademik mahasiswa di Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang. Akademika: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 6. , 266Ae279. Utari. Widiyono. , & Kiryono. Februari . Pendidikan moral Buddhis bagi perubahan perilaku positif siswa Buddhis. Jurnal Pencerahan, 16. , 19Ae28. Wahyuni. , & Hartati. Integrasi nilai spiritual dalam pembelajaran digital di sekolah agama. Jurnal Pendidikan Nilai, 10. , 112Ae125. Wijayanti. Pengaruh kepemimpinan Buddhis terhadap pembentukan karakter Jurnal Manajemen Pendidikan Keagamaan, 15. , 45Ae60. Yansyah. Hesti. Mardiana. , & Musiman. Implementasi pendidikan karakter pada siswa SMP. Journal on Education, 5. , 14653Ae14660. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 TAHUN 2025