TEMPAT AuSCHOOLING MODELAy DALAM PENDIDIKAN KRISTEN DI INDONESIA UNTUK PENDEWASAAN IMAN DAN KESAKSIAN DI TENGAH MASYARAKAT Rosyeline Tinggi Pendahuluan Model sekolah . chooling mode. merupakan salah satu strategi pendidikan Kristen yang dilakukan oleh gereja dan bertuju-an untuk pembinaan dan kesaksian iman Kristen di masyarakat. Model sekolah berkaitan erat dengan pola pembinaan berjenjang berdasarkan usia, proses pendidikan yang terkait langsung dengan guru yang mengharuskan tiap peserta didik untuk hadir dan menerima pengajaran berdasarkan kurikulum yang telah ditentukan. Institusi sekolah telah membawa nilai pelayanan yang berarti dalam hal memperkenalkan murid-murid kepada lingkungan budaya yang lebih luas, penguasaan ketrampilan dan keilmuan. Instutusi pendidikan juga berfungsi sebagai jendela yang efektif kepada dunia luar, membebaskan murid-murid dari perspektif yang sempit dengan hanya menerima pendidikan di Namun, beberapa dekade terakhir ini, para tokoh pendidikan Kristen memberikan saran dan kritik terhadap model sekolah yang Jurnal Amanat Agung diimplementasikan oleh gereja. Model sekolah bertendensi untuk melihat relasi guru-murid dalam kerangka AuI-It relationship,Ay bukan AuIThou relationship. Ay1 Tetapi, di pihak lain, kita tidak dapat menolak fakta bahwa model sekolah, secara khusus sekolah-sekolah Kristen, telah menjadi saluran berkat kepada orang banyak. Guru, murid, bahkan orangtua dapat menge-nal Yesus Kristus sebagai Juruselamat melalui pelayanan dan didikan di sekolah-sekolah Kristen. Oleh sebab itu dalam tulisan ini penulis akan memberikan penjelasan tempat atau posisi strategis model sekolah dalam pembinaan iman dan kesaksian di tengah bangsa dan negara Indonesia. Fokus utama penulis adalah pada sekolah Kristen sebagai contoh model sekolah pendidikan Kristen. Tulisan ini akan diawali dengan penjelasan mengenai sekolah Kristen di Indonesia. Kemudian penulis akan maju melihat signifikansi dan tempat model sekolah di konteks Indonesia. Bagian terakhir tulisan ini akan menyoroti tempat atau posisi strategis model sekolah bagi pembinaan dan kesaksian iman Kristen, serta memberikan saran pelaksanaannya. Penulis berharap tulisan ini menolong untuk mengenal dan memahami kontribusi model sekolah bagi pembinaan dan kesaksian iman Kristen. Sekolah-Sekolah Kristen di Indonesia Indonesia, atau secara resmi Republik Indonesia, adalah sebuah negara dengan ribuan pulau dan rumah bagi lebih dari dua ratus juta jiwa penduduk . Bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural, multietnik dengan populasi yang besar. Lebih dari itu. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, peringkat keempat jumlah populasi terbesar di dunia, dan orang Kristen di Indonesia termasuk kalangan minoritas. Indonesia juga memiliki sejarah panjang tentang kehidupan Ideologi nasional Indonesia adalah Pancasila, yang terdiri Istilah dan pemahaman ini dikemukakan oleh Martin Buber, filsuf dari Jerman. Tempat AuSchooling ModelAy dari dua kata Sansekerta. AuPanca,Ay berarti lima, dan Ausila,Ay berarti Sila atau prinsip pertama dari Pancasila adalah AuKetuhanan yang mahaesa. Ay Prinsip ini menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia percaya Tuhan itu ada, dan menjadi pokok utama dalam sistem pendidikan nasional. Pemerintah Republik Indonesia mewajibkan pendidikan agama di sekolah sebagai subjek pelajaran wajib bagi murid-murid. Setiap sekolah, baik itu yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, wajib mempersiapkan dan menyediakan subjek pendidikan agama sebagai bagian dari kurikulum. Pemerintah Indonesia juga mengijinkan sekolah-sekolah berbasis agama, terma-suk sekolah Kristen, berdiri dan menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, kesempatan ini dipandang oleh gereja-gereja di Indonesia sebagai kesempatan untuk mengabarkan Injil. Namun sejak beberapa tahun ini, ada isu-isu yang dilontarkan berkaitan dengan sekolah-sekolah Kristen di Indonesia. Pertama, sekolah-sekolah Kristen cenderung mahal. Kedua, terbatasnya kalangan yang bisa menikmati pendidikan di sekolah-sekolah Kristen, misalnya hanya untuk jemaat, hanya untuk kalangan ekonomi menengah ke atas sebab biaya yang tidak murah, dan terbatas untuk latar belakang agama Kristen. Ketiga, perhatian dan kepedulian sekolah-sekolah Kristen bahkan gereja-gereja di Indonesia, yang masih kurang terhadap masalah-masalah sosial. Padahal pendidikan Kristen seharusnya memainkan peran krusial dalam mendidik orang-orang Kristen tentang cara merespon dan mengha-dapi isu-isu sosial dalam Penulis berpendapat bahwa inilah titik berangkat . tarting poin. untuk mencari tempat strategis model sekolah bagi pembinaan dan kesaksian iman Kristen. Indonesia pada masa ini menderita dan berhadapan dengan sejumlah masalah sosial. Dalam bidang hukum, ekonomi, dan pendidikan, terjadi ketidakadilan, mulai dari ujung Barat sampai ke ujung Timur negeri ini. Hal ini merupakan tantangan bagi gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristen di Indonesia. Sekolah-sekolah Kristen Jurnal Amanat Agung sebagai salah satu tempat dimana pendidikan Kristen terjadi harus memberi perhatian besar dan pantang menyerah untuk perubahan masyarakat dimana mereka hadir. Gereja-gereja harus menjadi pembawa damai, mewujudkan kasih dan harapan dalam terang Tuhan yang bangkit. Yesus Kristus. Sasaran dan tujuan pendidikan Kristen tidak statis tetapi dinamis. Perubahan sasaran dan tujuan yang berorientasi pada evangelisasi kepada pembangunan komunitas iman dengan penekanan pada isu-isu sosial yang mempengaruhi murid, bangsa, dan dunia hari ini, juga pantas diakomodasi. Tempat Model Sekolah sebagai Transformasi Sosial Dalam bagian ini, penulis akan menjelaskan dasar-dasar teologis dan pedagogis bagi tempat atau posisi strategis model sekolah sebagai transformasi sosial. Dasar Teologis Ada dua hal yang menjadi pokok penjelasan penulis dalam bagian ini. Pertama, kemunculan manusia dalam terang pemerintahan Allah. Injil ditulis untuk menjelaskan arti kehidupan dan kematian Yesus. Injil menyediakan gambaran atau potret Yesus, namun lebih dari itu. Injil mengajar orang-orang tentang arti kehidupan dan cara hidup. Injil pemerintahan Allah yang diajarkan oleh Yesus adalah ragi perubahan . ransformative leave. di dunia ini. George Albert Coe, seorang pionir teoris pendidikan agama modern mengakui bahwa Aubaik itu iman pribadi dan reformasi sosial merupakan hal yang penting, namun salah satunya akan tetap menonjol dalam teori dan praktek pendidikan agama. Ay2 Keduanya, baik itu pertumbuhan keimanan pribadi atau formasi keimanan dan refor- Allen J. Moore. AuA Social Theory of Religious Education,Ay dalam Religious Education as Social Transformation, ed. Allen J. Moore (Birmingham: REP, 1. , 9. Tempat AuSchooling ModelAy masi sosial atau perwujudan sosial kemanusiaan adalah poin awal dan hasil yang diharapkan dari pendidikan. Daniel S. Schipani mengusulkan bahwa Aupendidikan Kristen jemaat mencakup mensponsori timbulnya kemanusiaan dalam terang pemerintahan Allah. Ay3 Kata mensponsori juga berarti gaya pendidikan yang paling sering digunakan oleh Yesus, yaitu suatu cara untuk berada dan berjalan dengan orang-orang ditandai dengan inisiatif yang berbelas kasih, inklusifitas yang bersahabat, pemberdayaan yang lemah lembut, dan sebuah undangan yang tulus untuk berpartner dan hidup Mensponsori mencakup mendorong, memampukan, dan menuntun sebagai kontras kepada otoriter, paternalistik, dan caracara manipulatif dalam praktek pendidikan. Namun demikian. Allah mengundang kita untuk berpartisipasi dalam menampilkan suatu ciptaan baru sebagai sponsor bagi timbulnya kemanusiaan. Kemunculan kemanusiaan menunjukkan suatu proses menjadi lebih manusiawi dalam pemahaman anugerah dan janji Allah akan kemerdekaan dan keutuhan, hidup seturut dengan kerangka etis, politis dan eskatologis dalam pemerintahan-Nya. Oleh sebab itu proses AukemunculanAy itu mencakup suatu proses menyeluruh . dari formasi dan transformasi. Formasi adalah pertumbuhan atau perkembangan yang berkesinambungan dan pendewasaan. adalah suatu proses mencakup perubahan radikal dan krisis, biasanya ditandai sebagai pertobatan, yang memimpin kepada orientasi ulang iman dan kehidupan baik pribadi maupun komunitas. Pemerintahan Allah merupakan kunci pelayanan Yesus. Simbol ini menggugah ketegangan antara AualreadyAy . nugerah dan visi yang sebagian sudah tergenap. dan Aunot yetAy . anji, kerindua. akan pemerintahan Allah. 4 Lebih jauh lagi, simbol ini menantang gereja dan praktek pendidikan yang menekankan domestikasi. Pendidikan Kristen Daniel S. Schipani. AuEducating for Social Transformation,Ay dalam Mapping Christian Education, ed. Jack L. Seymour (Nashville: Abingdon Press, 1. , 22. Schipani. AuEducating for Social,Ay 27. Jurnal Amanat Agung harus secara komprehensif dikaitkan dengan penggenapan amanat agung tentang kasih kepada Allah dan sesama. Kedua, pertumbuhan kewarganegaraan yang bertanggung Dasar teologis ini dalam kesinambungan dengan rekonstruksionis atau perspektif sosiopolitikal dalam pendidikan. Pendidikan membangkitkan kesadaran naradidik tentang kebutuhan akan transformasi sosial dan komunal dan memampukan naradidik berpartisipasi dalam perubahan itu. 5 Pendidik dan naradidik bersama-sama mengambil bagian dalam proses pertumbuhan pemuridan dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab, yang di dalamnya terdapat visi dari Allah yang hidup, kebajikan Kristus dan karya Roh Kudus. Bertumbuh dalam visi Allah berarti terus-menerus dan semakin bertumbuh dalam mengamati kenyataan dengan Aumata Allah. Ay7 Dengan pengagungan kepada Allah, penghargaan terhadap dunia sekitar dan diri sendiri, maka kita mulai memahami apa artinya hidup dalam visi Allah yang hidup. Bertumbuh dalam kebajikan Kristus terjadi ketika seseorang menjadi sesuai dengan hati Kristus. Bertumbuh dalam kebajikan berarti formasi dan transformasi yang terus berjalan baik itu pribadi maupun komunitas seturut dengan karakter Yesus Kristus. Bertumbuh dalam karya Roh Kudus berarti terus bertambah dalam berpartisipasi dalam pekerjaan Allah di dunia. Pekerjaan atau kekaryaan merupakan fokus hidup yang terwujud dalam bentuk pelayanan kepada Allah, kasih kepada sesama, dan kepedulian terhadap alam semesta. Bekerja/ berkarya dapat kemudian diasosiasikan dengan tugas-tugas . menghidupi, memberi makan, menjaga, mengasuh, memimpin. membebaskan, memulihkan, membaharui, memperbaiki, memanu-siakan. bersedia hadir, menemani, memberdayakan, mela-yani, dan membela. 9 Atau dengan Schipani. AuEducating for Social,Ay 29. Schipani. AuEducating for Social,Ay 30. Schipani. AuEducating for Social,Ay 30. Schipani. AuEducating for Social,Ay 30. Schipani. AuEducating for Social,Ay 32. Tempat AuSchooling ModelAy kata lain, kita menjadi lebih manusiawi melalui partisipasi dalam pekerjaan kreatif Allah yang membebaskan dan membaharui dunia. Oleh karena itu, pemuridan dan kewarganegaraan harus diintegrasikan. Dasar Pedagogis Satu tolak pijakan yang tak kalah penting dari dasar teologis adalah dasar pedagogis. Dalam bagian ini, ada dua dasar pedagogis yang penulis jelaskan. Pertama, tugas publik pendidikan Kristen. Kehidupan Kristen tidak dapat dipisahkan dari budaya tempatnya berada. Hal ini menciptakan kondisi-kondisi dimana sikap kritis dan komitmen teguh kepada perubahan sosial diperlukan terus menerus. Dalam hal ini tidak berarti bahwa tugas publik lebih penting daripada jemaat atau yang lainnya, namun hal ini mengingatkan kita bahwa kadangkala teologi praktika melupakan publik sebagai salah satu pendengarnya. Pendidikan Kristen berpotensi untuk memberikan kontribusi demi kebaikan bersama bertanggung jawab juga untuk publik. 10 Dengan demikian, di satu pihak teologi praktika harus mempunyai fokus yang jelas ke jemaat, namun di sisi lain, tugas teologi praktika juga mencakup ranah publk dan tanggung jawab yang lebih luas bagi masyarakat. Kedua, sekolah sebagai konteks pendidikan Kristen. Setting utama bagi Pendidikan Kristen adalah gereja. Di gereja, pendidikan Kristen melibatkan mulai anak-anak sampai lanjut usia dan pelayanan kategorial merupakan hal penting dalam pendidikan Kristen di gereja. Namun pendidikan Kristen juga terjadi di luar tembok dan pintu gereja melalui sekolah-sekolah, kelompok penyelidikan Alkitab, kamp-kamp, organisasi atau lembaga Kristen, dan berbagai jenis varian pelayanan Hal penting yang harus diingat bahwa pendidikan Kristen tidak Richard Robert Osmer dan Friedrich Schwietzer. Religious Education between Modernization and Globalization (Grand Rapids: William B. Eerdmans, 2. , 215. Jurnal Amanat Agung dapat dibatasi pada satu jenis lembaga atau organisasi atau pelayanan. Pendidikan Kristen ditemukan juga di luar gereja di berbagai tempat. Sekolah-sekolah Kristen atau sekolah swasta dan negeri lainnya dapat menjadi lahan yang subur bagi berlangsungnya pendidikan Kristen. Strategi Pelaksanaan Pendidikan Kristen di Sekolah Sebagai Transformasi Sosial Konten Pendidikan Kristen Pendidikan Kristen bertujuan ganda: pemuridan dan kewarganegaraan. Mendidik untuk memuridkan fokus pada partumbuhan iman individu, percaya dan taat melakukan. Mendidik untuk kewarganegaraan fokus untuk berpartisipasi secara aktif dalam dunia dan di tengah-tengah kenyataan yang ada. Kerajaan Allah dipahami sebagai pemerintahan Allah yang bekerja bersama-sama dengan manusia ciptaan-Nya di dalam sejarah, bukan saja sebuah simbol spiritual yang mengacu pada realita di dunia lain. Dalam rangka mendisain kurikulum pendidikan Kristen bagi transformasi sosial, dua tujuan di atas haruslah dimasukkan ke dalam kurikulum sebagai konten utama. Diawali dengan iman pribadi yang tidak hanya menekankan percaya tetapi juga taat melakukan, bukan saja mengamati dan memahami tetapi juga bertindak konkrit. Hal ini diharapkan akan membawa kembali fungsi yang hilang dari pendidikan Kristen di sekolah, yaitu mengkonek-sikan iman ke dalam hidup seharihari. Kemudian, penekanan yang lain dalam pendidikan Kristen yaitu kewarganegaraan mengingatkan kita bahwa untuk berakar di dalam masa/waktu berarti berada dalam relasi dengan sesama yang hidup di masa/waktu tersebut. Jika pendidikan mengakomodir kebutuhan manusia maka pendidikan harus mengakomodir manusia dalam perjalanan sejarah komunitas dan berusaha memberi pengaruh pada cara manusia hidup dalam komunitas. Tempat AuSchooling ModelAy Proses Pendidikan Kristen Untuk mencapai tujuan ganda di atas, maka penulis melihat Aupraxis way of knowing,Ay merupakan proses mengenal atau mengetahui yang dapat digunakan mencapai tujuan tersebut. AuPraxis way of knowingAy adalah suatu aktifitas yang melibatkan keseluruhan hidup seseorangAibaik pikiran, hati, dan gaya hidup, sebab Aupraxis way of knowingAy harus menyatukan secara dialektis antara teori dan praktek sebagai momen kembar pada aktifitas yang sama. 11 Sejalan dengan ide Groome ini. Schipani juga mengatakan bahwa. Aupraxis way of knowing is knowing and doing with emphasis on obedience as the core. Ay12 AuPraxis way of knowingAy adalah pendekatan terbaik yang digunakan sebab pertama, merupakan pendekatan yang paling sesuai dengan pemahaman Alkitab akan Auknowing. Ay Kedua, pendekatan ini menjaga kesatuan antara teori dan praksis, sehingga lebih mudah untuk menjalankan kehidupan sesuai dengan iman Kristen dan dengan demikian mengurangi kesenjangan antara apa yang kita pahami dengan bagaimana kita hidup setiap hari. Ketiga, pendekatan ini lebih mungkin dalam mendorong emansipasi dan kebebasan manusia. Keempat, lokus pendekatan ini adalah ketaatan dan kasih sebagai pusat kehidupan Kristen. Tidak taat bukan saja berarti tidak memiliki kasih tetapi juga tidak berakal budi. AuPraxis way of knowingAy mengharuskan adanya pengamatan, penilaian, dan tindakan nyata. Pelayanan kependidikan yang berorientasi pada perubahan sosial demi terciptanya masyarakat yang adil dan sejahtera, menuntut adanya proses aksi-refleksi-aksi dalam pembelajaran. Dalam konteks sekolah-sekolah Kristen di Indonesia. Aupraxis way of knowingAy menuntut murid-murid untuk menghidupi apa yang diyakini, dengan kepedulian kepada realita sosial, kemudian menilainya Thomas H. Groome. Christian Religious Education (San Francisco: Harper & Row Publishers, 1. , 154. Daniel S. Schipani. Religious Education Encounters Liberation Theology (Birmingham. Alabama: REP, 1. , 128. Jurnal Amanat Agung dari sudut pandang Kitab Suci, supaya tercipta tindakan aktif reflektif yang berhubungan dengan keadilan dan isu-isu sosial. Metode Mengajar dalam Pendidikan Kristen Penulis mengusulkan pendidikan yang berpusat pada komunitas . ommunity-centered educatio. sebagai alternatif merealisasikan pendidikan Kristen sebagai transformasi sosial. Dalam konteks sekolah dan situasi belajar-mengajar, pendidik dan naradidik adalah sebuah komunitas orang-orang percaya. Karakteristik utama adalah persekutuan di antara mereka. Dalam pendidikan yang berpusat pada komunitas, pendidik dan naradidik adalah partner . dalam pemuridan yang bertanggung jawab. Pendidik sebagai sponsor adalah partner setara dalam perjalanan hidup dan iman. 13 Melalui pengajaran, pengaturan, dan memimpin proses belajar mengajar, pendidik terlibat dalam inisiatif penuh belas kasih, inklusifitas yang ramah, pember-dayaan yang lemah lembut, dan ajakan tulus untuk berjejaring dan berkomunitas. Sebagai sponsor, pendidik mendorong, membuka jalan atau akses kepada tradisi iman, menuntun, dan memampukan. Pandangan seperti ini tentang pendidik secara eksplisit menolak paham dan praktek otoriter, paternalistik, dan manipulatif dalam pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan Kristen bagi keadilan dan kesejahteraan menuntut pendidik yang mengajar dengan adil dan penuh damai. Naradidik dipandang dan dihargai sebagai agen-agen yang merdeka dan bertanggung jawab, dan sebagai subjek utama atas kemunculan kemanusiaan mereka. Naradidik adalah makhluk komunal yang dipanggil kepada relasi yang benar dan penuh kasih kepada Allah, sesama, diri sendiri, dan ciptaan lainnya. Namun naradidik juga adalah makhluk yang berdosa dan penerima anugerah Allah. Dalam metode pendidikan seperti ini, keduanya, baik pendidik maupun naradidik, belajar dengan penuh kesungguhan dan perhatian Schipani. AuEducating for Social,Ay 28. Schipani. AuEducating for Social,Ay 28. Tempat AuSchooling ModelAy pada manifestasi iman di tengah-tengah masyarakat, secara khusus bagi mereka yang terpinggirkan di gereja maupun masyarakat. Mereka yang menderita seringkali menolong kita untuk memahami dengan lebih baik apa yang sesungguhnya terjadi di sekitar kita, memahami dan mengenal apa yang Tuhan tidak inginkan dan apa yang Dia Kesimpulan Sekolah sebagai salah satu konteks pendidikan Kristen, memainkan peran yang krusial yaitu sebagai tugas publik pendidikan Kristen. Bukan saja gereja, jemaat, keluarga sebagai pendengar pendidikan Kristen, namun juga publik. Terlebih lagi di Indonesia, pendidikan agama merupakan syarat bagi sekolah-sekolah yang ada. Pendidikan seharusnya mampu mengakomodir kebutuhan manusia dalam sejarahnya dan seharusnya mampu memberi pengaruh pada cara hidup manusia dalam waktu dan tempat dimana manusia Untuk mewujudkan tujuan ini, maka Aupraxis way of knowing,Ay sebagai suatu aktifitas yang melibatkan keseluruhan hidup manusia, dapat difungsikan sebagai proses mengenal dan memahami dalam pendidikan Kristen. Kemudian, pada akhirnya dibutuhkan juga perubahan paradigma dan praktek metode mengajar yang tidak berpusat pada pendidik, tidak juga pada naradidik, tetapi berpusat pada komunitas dengan persektuan sebagai karakteristiknya. Dalam metode mengajar yang demikian diharapkan pendidik sebagai sponsor dan naradidik dihargai sebagai agen-agen yang bebas dan bertanggung Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.