P a g e | 48 Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 1, 2024, pp. 48 Ae 64 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ PENGARUH PELATIHAN PERTOLONGAN PERTAMA KECELAKAAN TERHADAP PENGETAHUAN SISWA KELAS 11 Candra Patniawati1a*. Tri Wulandari1b. Hamdan Jaelani1c. Mohammad Rizky Mulana1d. Viana1e. Milkhatun1f. Alfi Ari Fakhrul Rizal1g Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur candrapatniawati18@gmail. wulandaritri269@gmail. Jaelanih474@gmail. mrizky86@gmail. viannaa69@gmail. mil668@umkt. aafr597@umkt. HIGHLIGHTS Pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakaan pada siswa kelas 11 ARTICLE INFO ABSTRACT/ABSTRAK Article history Received date Jan 29th 2024 Revised date May 28th 2024 Accepted date August 29th 2024 Keywords: First Aid. Accidents. Training School students frequently experience emergency situations due to accidents, such as fainting, poisoning, bleeding, fractures, and sudden animal bites/stings. Students, teachers, or educational staff often encounter these issues at school. When faced with such an emergency situation, most of them can only panic, unable to do much in providing first aid, leaving the victim lying there and at risk of losing their life without any rescue actions, even just standing by and becoming spectators to the critically ill person who is dying. This study wants to find out what eleventhgrade students at Miftahul Ulum Anggana Private Madrasah Aliyah knew before and after getting first aid training for accidents. It will do this by using a pre-experimental method, a one-group pretest-posttest design, and the Wilcoxon test and the dependent T-test. The results indicate a significant effect (A<0. of the first aid training for accidents on the knowledge of eleventh-grade students at Miftahul Ulum Anggana Private Madrasah Aliyah. Copyright A 2024 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Candra Patniawati. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Jl. Ir. Juanda No. Sidodadi. Samarinda Ulu. Kota Samarinda. Email: candrapatniawati18@gmail. PENDAHULUAN Pertolongan pertama pada kecelakaan (First Ai. adalah upaya pertolongan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter (Widiastuti & Adiputra, 2. Pertolongan pertama pada kecelakaan merupakan upaya untuk memberikan pertolongan dan perawatan sementara pada korban kecelakaan disekolah sebelum dibawa ke rumah sakit, puskesmas atau klinik kesehatan untuk mendapatkan pertolongan yang lebih baik dari P a g e | 49 Kecelakaan terjadi dimana saja, di rumah, di perjalanan, di tempat kerja, di sekolah, di kampus, dan di tempat lainnya sebagai akibat dari kecelakaan, korban dapat mengalami cedera ringan atau berat, pingsan, cacat seumur hidup, atau bahkan sampai meninggal dunia. World Health Organization (WHO) tahun 2020 mengatakan cedera yang tidak disengaja masih menjadi penyebab utama terjadinya kematian dan kecacatan di kalangan remaja, 72% kematian di kalangan remaja dari usia 10 tahun sampai usia 24 tahun sering mengalami cedera yang disebabkan oleh 4 penyebab yaitu cedera yang tidak disengaja . %), kecelakaan kendaraan bermotor . %), pembunuhan . %), dan bunuh diri . %). Di Indonesia, tercatat terjadi peningkatan angka kejadian cedera sebesar 9,2% dari tahun 2013-2018. Denpasar merupakan kota dengan tingkat kejadian cedera paling sering terjadi di Provinsi Bali, dengan jumlah terjadinya kecelakaan sebesar 4. kejadian pada tahun 2018, remaja dengan rentang usia 15-24 tahun merupakan usia yang paling sering mengalami kecelakaan dengan jumlah sebesar 12,2%. Persentase tersebut didominasi oleh remaja laki-laki . %) dan lokasi dimana paling banyak terjadi cedera adalah di area sekolah atau institusi pendidikan, dengan persentase sebesar 13% (Kementerian Kesehatan RI, 2. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. pada tahun 2018 menunjukkan cedera yang terjadi dikalangan masyarakat telah terjadi peningkatan setiap tahunnya, terhitung dari dari tahun 2013 hingga tahun 2018 tercatat telah terjadi peningkatan terjadinya cedera sebesar 9,2% di Indonesia (Kementrian Kesehatan RI, 2. Meningkatnya angka cedera yang terjadi di Indonesia mencakup seluruh provinsi yang ada, termasuk pula Provinsi Kalimantan Timur. Provinsi Kalimantan Timur terus mengalami peningkatan angka cedera setiap tahunnya. Data Riskesdas Provinsi Kalimantan Timur . , menyatakan kejadian cedera yang terjadi di Provinsi Kalimantan Timur adalah sebesar 1912 kejadian cedera paling banyak terjadi pada umur 5-14tahun yaitu 468, umur 15-24 tahun sebesar408,umur 25-34 tahun sebesar 283, umur 35-44 tahun sebesar 263, umur 45-54 tahun sebesar 177,umur 1-4 tahun sebesar 158,umur 55-64 tahun sebesar 104, umur 65-74 tahun sebesar 47 dan umur 75 tahun sebesar 4. Cedera yang dialami antara lain: lecet/lebam/memar . ,98%), luka iris/robek/tusuk . ,00%), terkilir . ,10%), patah tulang . ,50%) (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan timur, 2. Sementara Luka yang diderita oleh siswa adalah 26,4% berada di jalan, 23,1% terjadi di sekolah, 28,6% aktivitas olahraga dan 22% terjadi di rumah. Kota dengan tingkat cedera paling tinggi di Kalimantan Timur adalah Samarinda merupakan kota dengan tingkat kejadian cedera paling sering terjadi, dengan jumlah terbanyak sebesar 4. 116 kejadian, dari data Riskesdas . remaja dengan rentang usia 15-24 tahun dengan status masih bersekolah merupakan kelompok usia yang paling sering mengalami cedera. Menurut Riskesdas Kalimantan Timur 2018 cidera/kecelakaan disekolah menjadi tempat yang sangat tinggi yaitu sebesar 67,40% kecelakaan terjadi di halaman sekolah seperti saat bermain dan mengikuti kegiatan sekolah seperti olahraga dan ekstrakurikuler. Lebih dari 1 juta cedera serius yang terjadi di sekolah pada saat olahraga setiap tahun dengan rentang usia 10 hingga 17 tahun. Menurut (V. Barao et al. , 2. menyatakan bahwa kejadian kecelakaan cedera pada anak sebanyak 12,1% dan kecelakaan cedera yang terjadi di sekolah sebanyak 13%. Kejadian kecelakaan atau cedera di sekolah sangat beragam, seperti siswa yang terpeleset di kamar mandi yang mengakibatkan luka, berkelahi dengan temannya, tersandung, cedera olahraga, keracunan makanan, tersedak, pingsan, mimisan dan kecelakaan lainnya. Dari kasus yang terjadi di sekolah maka perlunya pengetahuan siswa dalam memberikan pertolongan pertama untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. Dengan memberikan edukasi melalui promosi kesehatan P a g e | 50 untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan yang tepat. Promosi kesehatan di sekolah mengenai Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ditujukan bukan hanya kepada para guru, tetapi diberikan juga kepada siswa atau seluruh warga yang ada di lingkungan sekolah. Pertolongan pertama ini dibutuhkan diberbagai keadaan darurat seperti terjadinya kecelakaan baik di rumah, di jalan, di sekolah, maupun tempat lainnya. Dengan diberikannya promosi kesehatan diharapkan dapat memberikan pengetahuan serta bekal ilmu bagaimana pertolongan pertama pada kecelakaan yang benar sesuai dengan kondisi korban. Bagi penolong yang kurang memiliki pengetahuan dan motivasi yang cukup, cenderung menghindari melakukan pertolongan pada korban dan melakukan pertolongan tanpa dibekali pengetahuan akan mengakibatkan kondisi yang fatal pada korban dan bisa terjadi kematian. Maka dari itu, kurangnya pengetahuan siswa tentang pertolongan pertama pada kecelakaan dapat di atasi dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan. Peran guru sangat penting dalam menyampaikan informasi mengenai kesehatan, oleh karena itu siswa perlu diajarkan mengenai pendidikan kesehatan melalui pembelajaran di sekolah. Edukasi tersebut bertujuan untuk menambah pengetahuan, dan motivasi agar mejadi lebih baik dan lebih mengetahui dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. Pengetahuan melakukan pertolongan pertama sangat penting dimiliki siswa sehingga dapat mencegah cedera yang terjadi di lingkungan sekolah. Berbekal pengetahuan yang dimilikinya, diharapkan siswa mampu mengetahui bagaimana melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan agar tidak terjadi cedera dan komplikasi yang lebih parah. Maka dari itu pentingnya memberikan edukasi yang dilingkungan sekolah banyak terdapat kejadian atau fenomena kecelakaan sehingga siswa dapat memberikan pertolongan yang tepat seperti memberi edukasi dengan pendidikan kesehatan di MAS Miftahul Ulum Anggana. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana pada tanggal 12 Oktober 2023. Desain penelitian yang digunakan yaitu preeksperimental dengan one-group pretest-posttest design. Rancangan ini untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan pertolongan pertama kecelakaan terhadap pengetahuan tentang keracunan makanan dan gas karbon monoksida siswa kelas 11 di Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana. Populasi pada penelitian ini berjumlah 69 siswa kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana. Dilakukan perhitungan sampel dengan menggunakan rumus Taro Yamane berdasarkan pendapat dari Surakhmad . yang mengatakan bahwa apabila populasi kurang dari 100, maka pengambilan sampel sekurang-kurangnya 50% dari ukuran populasi. Sehingga, didapatkan hasil besaran sampel sebanyak 35 responden dan dilakukan teknik pengamilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, maka peneliti memiliki kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang diinginkan. HASIL 1 Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Respon Berdasarkan Jenis Kelamin,Usia dan Jarak tempuh Karakteristik Jenis Kelamin Laki-laki Frekuensi . Presentase (%) P a g e | 51 Perempuan Total Usia 15 Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun Total Jarak Tempuh Sangat dekat . -300 . Sedang/Cukup . 200 m ) Cukup Jauh . 000 m ) Jauh (>3. Total Berdasarkan tebel diatas menunjukan bahwa karakteristik jenis kelamin responden perempeuan dengan jumblah 19 orang . 3%) dan laki-laki 16 ( 45. 7%). Karakteristik usia mayoritas adalah 16 tahun dengan jumblah 23 orang . ,7%) dan berdasarkan jarak tempuh mayoritas berjarak sedang/ cukup . Ae 1. 200m ) dengan jumblah 11 orang . 4%). 2 Analisis Univariat Tabel 2. Distribusi skor pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penangana pingsan terhadap pengetahuan Pengetahuan Mean Median Std. Deviation Minimum Maksimum (SD) Pre test Post Test Pada table di atas diperoleh hasil, nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan pelatihan adalah 12. 71dan sesudah diberikan pelatihan adalah 17. Std. Deviation sebelum diberikan pelatihan sebanyak 2. 607 dan std. Deviation setelah diberikan pelatihan Tabel 3. Distribusi frekuensi pengetahuan siswa dan siswi kelas 11 Pre dan Post Intervensi Pelatihan Pengetahu Mean Media Std. Deviatio Minimum Maksimum Pre Intervensi P a g e | 52 Post Intervensi Berdasarkan tabel diatas diperoleh hasil, rata-rata (Mea. pengetahuan responden Pre intervensi Pelatihan sebanyak 18. sedangkan setelah dilakukan intervensi adalah 19. 69 dengan simpangan baku (Std. Deviatio. pre intervensi sebanyak 1. 422 sedangkan setelah dilakukan intervensi sebanyak 0. Nilai tertinggi pre dan post intervensi (Maximu. adalah sebesar 20 dan nilai teredah (Minimu. pre intervensi sebanyak 15 sedangkan post intervensi sebanyak 17. Nilai median pre intervensi adalah sebesar 19. 00 sedangkan post intervensi sebanyak 20. dengan nilai total pre intervensi sebanyak 648 sedangkan nilai total post intervensi sebanyak 689. Tabel 4. Hasil Kuesioner Pre-Test dan Post-test Pengetahuan Tentang Keracunan Makanan dan Gas Karbon Monoksida (CO) Kuesione Pre-test Post-test Frequenc Mean Median Maksimum Minimum SDi Tabel 5. menunjukkan dari 35 responden didapatkan hasil sebelum diberi pendidikan kesehatan rata-rata nilai pre-test dan post-test sebesar 83 dengan std deviasi 1. 978 sedangkan nilai setelah diberi pendidikan kesehatan rata-rata pre-test dan post-test sebesar 15. 14 dengan standar 958, hal tersebut menandakan terdapat peningkatan pengetahuan siswa dalam mengisi kuesioner sebelum dan setelah diberi pendidikan kesehatan. Tabel 5 Distribusi skor pelatihan pertolongan pertama kecelakan tentang Tersedak terhadap pengetahuan Pengetahuan Mean Median Std. Deviasi Minimum Maksimum (SD) Pre test Post Test Pada table di atas diperoleh hasil, nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan pelatihan adalah 13. 91 dan sesudah diberikan pelatihan adalah 16. Std. Deviasi sebelum diberikan pelatihan 821 dan std. Deviasi setelah diberikan pelatihan adalah 1. Tabel 6. Hasil Kuesioner Pre-Test dan Post-test Pengetahuan Tentang Luka dan Perdarahan Kuesioner Frequency Mean Median Maksimum Minimum SDi Prre-test Post-test P a g e | 53 Tabel 6 menunjukkan dengan jumlah 35 responden mendapatkan peningkatan rata-rata pre-test dan post-test kuesioner dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 11. 89 dengan standar deviasi 1. 323 sedangkan nilai rata-rata post-tes sebesar 13. 14 dengan standar deviasi 1. Distribusi mayoritas nilai pre-test lebih rendah dibandingkan mayoritas distribusi nilai post-test, hal tersebut menandakan terdapat peningkatan pengetahuan siswa dalam mengisi kuesioner sebelum dan setelah pelatihan. 3 Analisis Bivariat Tabel 7. Pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penangana pingsan terhadap pengetahuan Pengetahuan Pre Test Post Test Mean 12,71 Std,Deviasi(SD) 2,607 P_value 0,000 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil p-value 0,000 karena nilai p < . maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama kecelekaan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanagan pingsan pada siswa/I MAS Miftahul Ulum Anggana terdapat peningkatan nilai rata-rata penegtahuan responden . Sehingga ada pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan sebelum dilakukan pelatihan dan setelah dilakukan pelatihan. Tabel 8. Pengaruh Intervensi Pelatihan Pertolongan Pertama Gigitan dan Sengatan Hewan Terhadap Pengetahuan Pengetahuan Pre Test Post Test Mean Std. Deviation Sig. -taile. P= 0,000 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil p-value 0,000 karena nilai p < . maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama gigitan dan sengatan hewan pada siswa/I kelas 11 MA Miftahul Ulum Anggana terdapat peningkatan nilai rata-rata pengetahuan responden . Sehingga ada pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan sebelum dilakukan pelatihan dan setelah dilakukan pelatihan. Tabel 9. Hasil Uji Dependent T-Test Pertolongan Pertama Kecelakaan Keracunan Makanan dan Gas Karbon Monoksida (CO) Mean Std. Devia Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Sig. taile P a g e | 54 Pre-test Posttest Menunjukkan hasil signifikasin p-value = 0,000 sehingga nilai signifikasi tersebut lebih kecil dari p = <0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan Ha di terima, maka terdapat pengaruh pada siswa sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pertolongan pertama kecelakaan tentang keracunan makanan dan gas karbon monoksida (CO). Tabel 10. Pengaruh pelatihan pertolongan pertama kecelakan tentang Tersedak terhadap pengetahuan Pengetahuan Pre Test Post Test Mean Std,Deviasi(SD) P_value 0,055 0,000 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil p-value 0,000 karena nilai p < . maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama kecelekaan tentang Tersedak pada siswa/I MAS Miftahul Ulum Anggana terdapat peningkatan nilai rata-rata pengetahuan Sehingga ada pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan sebelum dilakukan pelatihan dan setelah dilakukan pelatihan. Tabel 11. Hasil Uji Dependent T-Test Pertolongan Pertama Luka dan Perdarahan 95% Confidence Std. Interval of the Std. Mean Error Difference Deviation Mean Lower Upper Pretest Posttest Sig. taile Menunjukkan hasil signifikasin p value = 0,000 sehingga nilai signifikasi tersebut lebih kecil dari p = < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan Ha di terima, maka terdapat perbedaan pada siswa sebelum dan sesudah di berikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang luka dan perdarahan. PEMBAHASAN 1 Analisi Univariat . Karakteristik Responden . Jenis Kelamin Berdasarkan dengan hasil penelitian, mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dengan jumblah 19 orang . ,3%) dan berjenis kelamin laki-laki 16 orang . Menurut Safitri . jenis P a g e | 55 kelamin tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap pengetahunan tentang pelatihan bantuan hidup dasar dikarenakan nilai rata-rata kesiapan dan motivasi belajar antara laki-laki dan perempuan sama-sama terdapat peningkatan. Usia Berdasarkan karakteristk usia dari data yang penulis ambil mayoritas berusia 16 tahun sebanyak 23 orang . ,7%). Menurut hasil penelitian Widiastuti & Adiputra, . diperoleh dengan mayoritas usia 15-18 tahun memiliki tingkat pengetahuan baik karena dapat berfikir secara fleksibel dan efektif serta mampu berhadapan dengan persoalan yang bersifat kompleks. Sehingga peneliti berasumsi semakin cukup umur seseorang tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan berkerja. Jarak Tempuh Berdasarkan hasil penelitian mayoritas responden dengan jarak tempuh yang dilalui dari rumah menuju sekolah yaitu berjarak sedang ( 600-1. dengan jumblah 11 orang . 4%). Menurut Elvic( 2. , menyatakan bahwa secara konsisten menunjukkan jumlah kecelakaan per pengemudi per tahun meningkat lebih sedikit dibandingkan dengan peningkatan jarak tempuh. Perkiraan yang baik adalah jumlah kecelakaan per pengemudi per satuan waktu sebanding dengan akar kuadrat jarak tempuh. Menurut penelitian Ode Eli,( 2. jauh dekatnya jarak tempuh dari rumah ke sekolah menentukan kondisi siswa terutama prestasi belajar, sehingga semakin jauh jarak tempuh siswa dari tempat tinggal ke sekolah maka semakin banyak waktu dan tenaga yang di keluarkan . Pengetahuan responden Sebelum dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanagan pingsan di Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Pengetahuan pada siswa Ae siswi MAS Miftahul Ulum Anggana yang berjumblah 35 orang sebelum diberikan pelatihan mendapatkan nilai ratarata sebesar 12. 71 dengan std deviation . dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penangan pingsan yang dilakukan selama 1 hari mendapatkan nilai rata-rata 17,00 dengan std deviation . Hasil penelitian ini di perkuat oleh penelitian Kundre . , terdapat perbedaan antara pengetahuan siswa tentang keterampilan pertolongan pertama pada keadaan sinkop di SMAN 7 MANADO, dengan nilai ratarata sebelum diberikan intervensi pelatihan adalah 9,66 dan setelah mendapatkan intervensi pelatihan adalah 17,39. Hasil Std. sebelum diberikan pelatihan adalah 2,794 dan std devition setelah diberikan pelatihan 2,32. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian dari Ramadia dengan judul pelatihan bantuan hidup dasar terhadap pengetahuan dan keteampilan anggota PMR Rata-rata nilai pengetahuan responden dalam melakukan tindakan RJP sebelum diberikan pelatihan yaitu rata-rata/mean 7,56 (SD 2. dan sesudah pelatihan nilai rata-rata meningkat 13,04 dengan (SD 1,. Hasil penelitian ini juga diperkuat dengan penelitian Hady J . dengan judul pengaruh metoden simulasi kegawatdaruratan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam penanganan P a g e | 56 Hasil penelitian tentang bantuan hidup dasar mendapatkan nilai rata-rata pra - simulasi adalah 29,66 dengan nilai (SD 4,. dan hasil rata-rata pasca simulasi 63,15 dengan nilai (SD32,. Pengetahuan Responden Sebelum dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Gigitan dan Sengatan Hewan di Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Berdasarkan Tabel diatas didapatkan bahwa rata-rata (Mea. pengetahuan responden Pre intervensi Pelatihan sebanyak 18. 51 dengan simpangan baku (Std. Deviatio. pre intervensi sebanyak 1. Samoshika . didapatkan hasil bahwa rata-rata pengetahuan responden pre intervensi edukasi adalah 9. 88 dengan Std. Deviation 50 tentang gigitan dan sengatan serangga pada siswa/siswi SMA Rakyat Pancur Batu. Christian A. Adong dkk . didapatkan hasil bahwa rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan yaitu 11. 12 dengan SD 1. 827 tentang pertolongan pertama pada gigitan anjing rabies di desa Sinampangnyo Kecamatan Pagimana. Karyo . Pemberian intervensi dengan cara pelatihan menunjukkan bahwa pada saat pre-test, responden dalam melakukan penanganan cedera sengatan tawon memiliki penanganan kategori kurang 21 . ,6%) responden belum pernah mendapatkan teknik penanganan cedera sengatan tawon, kategori cukup 9 . ,1%) responden mendapatkan teknik penanganan cidera sengatan tawon yang diajarkan orangtuanya dahulu secara tradisional, dalam kategori baik 2 . ,3%) responden pernah mendapatkan pelatihan penanganan cidera sengatan tawon dan juga sebagai petugas tim tagana. Hasil yang diperoleh dalam penelitian sebelum dilakukan intervensi pelatihan pertolongan pertama tentang gigitan dan sengatan hewan didapatkan rata-rata pengetahuan responden adalah 18. 51 dengan Std. Deviation 1. 422, dikarenakan responden adalah siswa/siswi SMA yang telah mengetahui sedikit akibat dari gigitan hewan dan sengatan serangga. Namun untuk lebih menigkatkan pengetahuan responden. Peneliti memberikan intervensi berupa pelatihan pertolongan pertama dengan metode penyuluhan dan praktik simulasi yang bertujuan agar dapat meningkatkan pengetahuan responden. Pelatihan dalam penelitian tentang pertolongan pertama gigitan dan sengatan hewan didapatkan hasil pengetahuan meningkat dengan ratarata 19. 69 dengan Std. Deviation 758. Disebabkan seluruh karakteristik pendidikan responden adalah Sekolah menengah atas dimana tingkat ilmu pengetahuan responden tidak hanya didapatkan dari pendidikan formal, tetapi bisa didapatkan melalui media internet dan media social Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Peningkatan pengetahuan dapat dicapai melalui motivasi belajar, yang dapat berasal dari factor intrinsic, seperti keinginan untuk berhasil, dorongan kebutuhan belajar, dan harapan akan cita-cita, maupun factor ekstrinsik, seperti adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik (Yeni, 2. Karyo . Hasil penelitian bahwa setelah diberikan perlakuan pelatihan insect bite rescue dapat diketahui bahwa sebagian besar responden sebesar 29 . ,6%) responden memiliki pengetahuan tentang penanganan korban cedera sengatan tawon yang baik. Hal ini didukung P a g e | 57 oleh peneliti sebelumnya yaitu Robledo berjudul pengaruh edukasi gigitan hewan dan sengatan serangga di sma pancur batu . menunjukkan bahwa responden dari 33 responden setelah diberikan edukasi 23 diantaranya mempunyai pengetahuan baik, 10 responden mempunyai pengetahuan cukup tentang pertolongan pertama pada sengatan . Tingkat Pengetahuan Siswa Kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Tentang Pertolongan Pertama Kecelakaan Keracunan Makanan dan Gas Karbon Monoksida Sebelum dan Setelah dilakukan Pelatihan Penelitian ini untuk mengukur pengetahuan responden sebelum dilakukan pendidikan kesehatan pertolongan pertama kecelakaan tentang keracunan makanan dan gas karbon monoksida (CO). Berdasarkan hasil 35 responden dari 18 pernyataan keracunan makanan dan keracunan gas karbon monoksida (CO) didapatkan sebelum diberikan pendidikan kesehatan nilai pre-test dan post-test rata-rata 13. 83 dengan std deviation 978 dan setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai pre-test dan posttest rata-rata 15. 14 dengan std deviation 1. Menurut (Roy Wilson Putra Sihombing, 2. faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu, pendidikan, pekerjaan, pengalaman, usia, minat, paparan informasi, dan media massa. Beberapa responden mengatakan tidak pernah mencari video dari media elektronik mengenai pertolongan pertama kecelakaan tentang keracunan mkanan dan gas karbon monoksida (CO). Sebelum diberikan pendidikan kesehatan mayoritas responden belum pernah mendapatkan edukasi secara langsung bagaimana pemberian pertolongan pertama kecelakaan terutama keracunan makanan dan gas karbn monoksida (CO). Sehingga peneliti fokus dalam pemberian pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan yang harapannya responden dapat mengetahui sampai Penelitian ini diperkuat menurut (Saptiningrum & Widaryati, 2. dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan mengalami peningkatan setelah dilakukan pendidikan kesehatan dibuktikan sebelum diberikan pendidikan kesehatan nilai ratarata pre-test dengan skor 5,48 dan setelah pendidikan kesehatan nilai ratarata post-test meningkat menjadi 9,92. Berdasarkan pernyataan tersebut penyeliti berasumsi pemberian pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang dibuktikan dengan mengukur tingkat pengetahuan menggunakan pre-test dan post-test dan hasil yang didaptkan bahwa hasil post-test lebih tinggi dari pada pre-test sehingga pendidikan kesehatan sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan. Pengetahuan responden Sebelum dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertma kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanagan pingsan di Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Pengetahuan pada siswa Ae siswi MAS Miftahul Ulum Anggana yang berjumblah 35 orang sebelum diberikan pelatihan mendapatkan nilai ratarata sebesar 13. 91 dengan std deviation . dan sesudah diberikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Tersedak yang dilakukan selama 1 hari mendapatkan nilai rata-rata 16,03 dengan std deviation . P a g e | 58 . Tingkat pengetahuan siswa kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana tentang Pertolongan Pertama Kecelakaan pada Luka dan Perdarahan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan. Pada penelitian ini untuk mengukur pengetahuan responden sebelum dilakukan pelatihan pertolongan pertama tentang luka dan Berdasarkan hasil yang diperoleh pengetahuan dari 15 pernyataan luka dan perdarahan terhadap 35 responden sebelum diberikan pelatihan terdapat rata rata berjumlah 11. 89 dengan std deviation 323 dan setelah diberikan pelatihan terdapat nilai rata-rata 13. 14 dengan std deviation 1. Menurut (Roy Wilson Putra Sihombing, 2. faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu, pendidikan, pekerjaan, pengalaman, usia, minat, paparan informasi, dan media massa. Beberapa responden mengatakan tidak pernah mencari video dari media elektronik mengenai pertolongan pertama kecelakaan, hal ini yang membuat reponden tidak mengetahui tindakan pertolongan pertama kecelakaan yang harus diterapkan jika terjadi kasus disekeliling mereka. Sebelum diberikan pelatihan mayoritas responden belum pernah mendapat pendidikan kesehatan secara langsung dan kurang mendapatkan informasi bangaimana pemberian pertolongan pertama kecelakaan terutama tentang luka dan perdarahan. Sehingga peneliti fokus dalam pemberian pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan yang harapannya responden dapat mengetahui sampai mengevaluasi saat pelatihan diberikan. Penelitian ini diperkuat menurut (Saptiningrum & Widaryati, 2. ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan pelatihan terhadap pengetahuan pertolongan pertama pada keracunan makanan di Padukuhan Sanggrahan Banjarharjo Kalibawang Kulon Progo. 2 Analisa Bivariat . Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan Terhadap Pengetahuan Tentang Pingsan dan Bantuan Hidup Dsar (BHD) Siswa Kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Berdasarkan hsil penelitian pengaruh pelatiahan pertolongan pertama kecelakaan terhadap pengetahuan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penangan pingsan siswa/I kelas 11 Madrasah Aliyah Swata Miftahul Ulum Anggana dengan responden berjumblah 35, nilai rata-rata responden sebelum diberikan pelatihan adalah 12. 71 setelah diberikan pelatihan nilai rata-rata yang didapatkan oleh reponden adalah 17,00. Terdapat peningkatan pengetahuan sehingga menunjukan terdapat pengaruh yang bermakna antara Pelatihan pertolongan pertma kecelakaan tentang bantuanhidup dasar dan penangan pingsan dengan pengetahuan siswa kelas XI MASMiftahul Ulum Anggana. Pada penelitian ini,hasil yang didapatkan dari 35 responden bahwa terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan pingsan. Hasil analisis menggunakan uji Wilcocon menunjukan bahwa sebelum dan setelah diberikan pelatihan dengan nilai p-Value =0,000 ( p<0,. Pada penelitian ini pemberian pelatiahan pertolongan pertama kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan pingsan kepada responden disampaikan dengan metode simulasi,ceramah dan pemberian video,sehingga materi Bantuan Hidup Dasar dan Penangan Pingsan dapat diperoleh melalui pengindraan yang merupakan proses P a g e | 59 menjadi tahu dan hal tersebut didapatkan dari metode tersebut, sehingga kecelakaan,Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan pingsan menjadi meningkat setelah dilakukannya pelatihan. Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Susilo . Pengetahuan kesehatan tentang Batuan hidup dasar (BHD) pada anggota PMR sebelum pendidikan kesehatan memiliki nilai rata-rata 71,22, sesudah pendidikan kesehatan memiliki nilai rata-rata 87,78. Ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang Batuan hidup dasar (BHD) terhadap tingkat pengetahuan anggota PMR diperoleh nilai p-value 0,0001>0,05. Ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang Batuan hidup dasar (BHD) terhadap tingkat pengetahuan anggota PMR. Hasil penelitian ini memberikan masukan pada SMK N 1 Bawen agar dapat mengadakan pelatihan tentang penanganan Batuan hidup dasar (BHD) pada anggota PMR. Pelatihan bantuan hidup dasar bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pemberian bantuan yang tepat. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sansare & Jacob . Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Safitri . menunjukkan bahwa tingkat keterampilan tentang bantuan hidup dasar (BHD) kelompok perlakuan kategori terampil 86,1%, kategori cukup terampil 11,1%, kategori kurang terampil 2,8% dan pada kelompok kontrol kategori terampil 47,2%, cukup terampil 47,2%, kurang terampil 5,6%. Pada hasil ini menujukan bahwa sama-sama berpengaruh terhadap tingkat keterampilan siswa. Pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol dapat dilihat dari p value 0,000 < 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh pelatihan bantuan hidup dasar terhadap keterampilan siswa di SMK Asta Mitra Purwodadi. Hasil Penelitian ini di perkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Dmansyah. menunjukan bahwa pada penilaian pretest di dapatkan nilai mean 1,05 dengan standar deviasi 0,224, pada penilaian post-test didapatkan nilai mean 1,80 dengan standar deviasi 0,410 sehingga didapatkan nilai P-Value 0,000 dengan c < 0,05. Ini berarti sebelum diberikan pelatihan pertolongan pertama pada sinkop, nilai yang didapatkan siswa masih di bawah. Setelah diberikan pelatihan terdapat peningkatan nilai. Ini menunjukkan bahwa terdapat signifikan perubahan dan peningkatan kemampuan siswa sebelum dan sesudah diberikan Hal ini juga sesuai dengan faktor yang mempengaruhi pengetahuan dimana pendidikan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pendidikan dimana pendidikan responden adalah sekolah SMA, dan pekerjaan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan dimana hasil yang didapatkan bahwa siswa/I SMA Binaguna hanya fokus bekerja sebagai pelajar, umur juga mempengaruhi faktor pengetahuan dimana rata Ae rata umur responden 15 Ae 18 tahun sehingga umur mereka tergolong kepada umur yang mudah mengingat dan memahami sesuatu objek atau pelajaran, minat dan pengalaman jug a faktor yang mempengaruhi pengetahuan sesuai dengan hasil yang didapatkan bahwa minat dan pengalaman siswa/I terhadap simulasi pertolongan pertama sangat tinggi dimana terdapat perubahan tingkat pengetahuan yang signifikan dari sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi pendidikan kesehatan Sihombing . P a g e | 60 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada siswa/I kelas XI di MAS Miftahul Ulum Aanggana, tentang pelatihan pertolongan pertma kecelakaan terhadap pengetahuan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan pingsan, didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan pengetahuan responden ditunjukan dengan nilai rata- rata yang meningkat setelah dilakukan pelatihan pertolongan pertma kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan pingsan. Hal ini juga didukung dengan metode serta alat-alat yang digunakan saat melakukan pelatihan dengan metode simulasi, dimana peneliti menggunakan power point dalam menyampikan materi, power point dibuat semenarik mungkin dengan ringkasan penjalasan yang mudah dipahami dan di mengerti oleh responden yang masih kelas XI,selain itu dalam penelitian ini menggunakan phantom dimna responden belum pernah melihat dan memegangnya sehingga responden antusias dan bersemangat dalam melakukan pelatihan. Pelatihan dilakukan langsung kepada siswa/I dengan metode simulasi yang langsung diperaktikan oleh peneliti sehingga sangat menarik untuk dilihat dan setelah itu tindakan yang telah diajarkan peneliti dipraktikan secara langsun bagaimana cara pertolongan pertama kecelakaan tentang Bantuan Hidup Dasar dan penanganan pingsan oleh siswa/I sehingga jalannya penelitian ini berjalan lancar. Peneliti Berasumsi bahwa untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa/I kelas xi dalam melakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan pingsan maka dapat dilakukan pelatihan secara rutin atau berkala. Alat serta bahan yang digunakan utuk melakukan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD ) dan penangan pingsan seperti phantom dan tandu harus disiapkan agar dapat digunakan secara berulang sehingga mempengaruhi siswa menjadi terampil. Ketersediaan video dan materi prosedural tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD ) juga penting diadakan sebagai salah satu media untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa/I MAS Miftahul Ulum Anggana. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Gigitan dan Sengatan Hewan Terhadap tingkat Pengetahuan Pada penelitian ini, hasil yang diperoleh dari 35 responden bahwa terdapat perbedaan pre dan post intervensi pelatihan, dimana nilai mean rank pre intervensi yaitu 18. 51 dan sesudah intervensi yaitu 19. Dan untuk melihat pengaruh dari intervensi pelatihan pertolongan pertama gigitan dan sengatan hewan terhadap pengetahuan maka dilakukan uji statistik yaitu dengan menggunakan Uji Wilcoxon yang memperoleh hasil dilihat hasil p-value 0,000 dan nilai p < . maka H0 ditolak dan Ha Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan pertolongan pertama gigitan dan sengatan hewan pada siswa/I kelas 11 MA Miftahul Ulum Anggana terdapat peningkatan nilai rata-rata pengetahuan responden. Sehingga ada pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan sebelum dilakukan pelatihan dan setelah dilakukan pelatihan. Pada penelitian ini, pemberian Intervensi mengenai gigitan dan sengatan hewan dilakukan dengan edukasi menggunakan metode penyuluhan dan praktik simulasi sehingga materi dapat diperoleh dengan proses penginderaan yang merupakan proses agar menjadi lebih tahu dan dapat kembali di aplikasikan di kehidupan sehari-hari. Dan metode tersebut dapat digunakan kepada responden untuk meningkatkan pengetahuan tentang gigitan dan sengatan P a g e | 61 Buston . menunjukkan nilai p=0,001 . <0,. yang artinya terjadi peningkatan pengetahuan kepala keluarga sebelum dan sesudah diberikan intervensi pelatihan kesiapsiagaan dalam manajemen bencana. Listiana . mengatakan terdapat pengaruh yang signifikan dimana nilai p=0,000 . <0,. berarti terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan balut bidai siswa sebelum dan sesudah pelatihan. Wahyu dkk . sebelum dilakukan intervensi pelatihan, tingkat pengetahuan peserta tentang RJP adalah 0% setelah pelatihan meningkat 40% dengan kategori baik, 3. 10% setelah edukasi meningkat 60% dengan kategori cukup dan 96. 90% setelah edukasi menurun menjadi 0% dengan kategori kurang. Secara statistic terjadi peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan setelah intervensi pelatihan RJP p<0,05. Pada penelitian yang dilakukan pada Siswa/Siswi kelas 11 di MA Miftahul Ulum Anggana pemberian intervensi berupa pelatihan untuk mengetahui tingkat pengetahuan. Didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan pengetahuan responden ditunjukkan dengan perbedaan nilai yang sangat signifikan dari nilai yang sebelum dan nilai yang sesudah. Dikarenakan sebagian besar respoden sudah memiliki tingkat pengetahuan yang cukup sebelum diberikan intervensi. Hal ini juga didukung media powerpoint dan laptop, serta beberapa alat pertolongan pertama dan dibantu oleh pihak dosen yang turut hadir dalam proses penelitian ini. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan Terhadap Pengetahuan Tentang Keracunan Makanan dan Gas Karbon Monoksida (CO) Siswa Kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Penelitian ini dilakukan dengan memberikan pendidikan kesehatan pertolongan pertama kecelakaan tentang keracunan makanan dan gas karbon monokida (CO) untuk melihat pengaruh terhadap pengetahuan didapatkan hasil terdapat peningkatan pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan. Penelitian ini didukung dengan menggunakan power point untuk menyampaikan materi dipadukan dengan menambahkan desain gambar dan warna yang jelas tujuannya agar responden serius selama pendidikan kesehatan berlangsung. Hasil penelitian yang diperoleh dari 35 responden terdapat perbedaan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pertolongan pertama Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji Dependent TTest menunjukkan hasil pre-test dan post-test dengan p-value = 0. <0,. yang artinya, apabila p-value < 0. 05 Ha diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini diperkuat menurut (Saptiningrum & Widaryati, 2. ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan pertolongan pertama keracunan makanan, hal tersebut dibuktikan dengan hasil analisa data menggunakan uji Paired Samples TTest diperoleh p-value = 0. 000 dengan = <0,05. Menurut (Saptiningrum & Widaryati, 2. perubahan pengetahuan pada responden setelah dilakukan pendidikan kesehatan menyatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah pengalaman yang bermanfaat dalam mempengaruhi kebiasaan, sikap, dan pengetahuan seseorang terutama pengetahuan mengenai pertolongan pertama kecelakaan diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku dalam menyikapi keadaan yang terjadi di masyarakat, sehingga korban dapat segera ditangani dengan cepat dan tepat. Menurut (Isti et al. , 2. pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usahat untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada P a g e | 62 masyarakat, kelompok atau individu dengan harapannya bahwa dengan adanya pesan tersebut masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik yang akhirnya pegetahuan tersebut diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan Berdasarkan pernyataan diatas peneliti berasumsi, pendidikan kesehatan memberikan pengaruh terhadap pengetahuan responden dibuktikan dengan hasil dan penelitian lain yang sama dengan uji Paired TTest didapatkan hasil dengan keterangan Ha di terima atau terdapat pengaruh pemberian pendidikan kesehatan. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan Terhadap Pengetahuan Tentang Tersedak Siswa Kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana Berdasarkan hsil penelitian pengaruh pelatiahan pertolongan pertama kecelakaan terhadap pengetahuan tentang Tersedak siswa/I kelas XI Madrasah Aliyah Swata Miftahul Ulum Anggana dengan responden berjumblah 35, nilai rata-rata responden sebelum diberikan pelatihan 91 setelah diberikan pelatihan nilai rata-rata yang didapatkan oleh reponden adalah 16,03. Terdapat peningkatan pengetahuan sehingga menunjukan terdapat pengaruh yang bermakna antara Pelatihan pertolongan pertma kecelakaan tentang bantuanhidup dasar dan penangan pingsan dengan pengetahuan siswa kelas XI MASMiftahul Ulum Anggana. Pada penelitian ini,hasil yang didapatkan dari 35 responden bahwa terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang Tersedak. Hasil analisis menggunakan uji Wilcocon menunjukan bahwa sebelum dan setelah diberikan pelatihan dengan nilai p-Value =0,000 ( p<0,. Hasil Penelitian ini di perkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Damansyah . menunjukan bahwa pada penilaian pretest di dapatkan nilai mean 1,05 dengan standar deviasi 0,224, pada penilaian post-test didapatkan nilai mean 1,80 dengan standar deviasi 0,410 sehingga didapatkan nilai P-Value 0,000 dengan c < 0,05. Ini berarti sebelum diberikan pelatihan pertolongan pertama pada sinkop, nilai yang didapatkan siswa masih di bawah. Setelah diberikan pelatihan terdapat peningkatan nilai. Ini menunjukkan bahwa terdapat signifikan perubahan dan peningkatan kemampuan siswa sebelum dan sesudah diberikan Hal ini juga sesuai dengan faktor yang mempengaruhi pengetahuan dimana pendidikan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pendidikan dimana pendidikan responden adalah sekolah SMA, dan pekerjaan juga merupakan faktor yang mempengaruhi pengetahuan dimana hasil yang didapatkan bahwa siswa/I SMA Binaguna hanya fokus bekerja sebagai pelajar, umur juga mempengaruhi faktor pengetahuan dimana rata Ae rata umur responden 15 Ae 18 tahun sehingga umur mereka tergolong kepada umur yang mudah mengingat dan memahami sesuatu objek atau pelajaran, minat dan pengalaman jug a faktor yang mempengaruhi pengetahuan sesuai dengan hasil yang didapatkan bahwa minat dan pengalaman siswa/I terhadap simulasi pertolongan pertama sangat tinggi dimana terdapat perubahan tingkat pengetahuan yang signifikan dari sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi pendidikan kesehatan Sihombing . P a g e | 63 Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kepada siswa/I kelas XI di MAS Miftahul Ulum Aanggana, tentang pelatihan pertolongan pertama kecelakaan terhadap pengetahuan tentang Tersedak, didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan pengetahuan responden ditunjukan dengan nilai rata- rata yang meningkat setelah dilakukan pelatihan pertolongan pertma kecelakaan tentang. Hal ini juga didukung dengan metode serta alat-alat yang digunakan saat melakukan pelatihan dengan metode simulasi, dimana peneliti menggunakan power point dalam menyampikan materi, power point dibuat semenarik mungkin dengan ringkasan penjalasan yang mudah dipahami dan di mengerti oleh responden yang masih kelas XI, selain itu dalam penelitian ini menggunakan phantom dimna responden belum pernah melihat dan memegangnya sehingga responden antusias dan bersemangat dalam melakukan pelatihan. Pengaruh Pelatihan Pertolongan Pertama Kecelakaan Terhadap Pengetahuan Tentang Luka dan Perdarahan Siswa Kelas 11 Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana. Hasil penelitian ini yang diperoleh dari 35 responden terdapat hasil perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan pertolongan pertama Berdasarkan hasiil analisis menggunakan hasil Uji Wilcoxon test menunjukkan hasil signifikasin p value = 0,000 sehingga nilai signifikasi tersebut lebih kecil dari p = < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan Ha di terima dan Ho ditolak. Penelitian ini dilakukam dengan memberikan pelatihan pertolongan pertama kecelakaan tentang luka dan perdarahan untuk melihat pengaruh terhadap pengetahuan. Penelitian ini didapatkan hasil terhadap peningkatan pengetahuan responden yang ditunujukan dengan meningkatnya nilai rata-rata, mean, median, maxsimum, minimum, dan SDi stelah diberikanya pelatihan disbanding hasil hasil sebelum diberikan Penelitian dan pemberian pelatihan ini didukung dengan menggunakan alat yang digunakan saat melakukan pelatihan, peneliti juga menggnakan power point untuk menyampaikan materi yang dipadukan dengan menambahkan desai gambar dan warna yang jelas agar siswa lebih tertarik untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan tersebut diakukan oleh 2 pemateri yang bersertifikat di dalam bidang kegawatdaruratan dan saat melaksanakan pelatihan siswa sangat antusias. KESIMPULAN Kesimpulan pada penelitian ini adalah pemberian pelatihan pertolongan pertama kecelakaan memberikan pengaruh baik terhadap pengetahuan siswa, dibuktikan dari hasil pengukuran pengetahuan sebelum dan sedudah diberikan pelatihan menggunakan pre-test dan post-test terdapat peningkatan yang signifikansi. Hasilnya adalah terdapat pengaruh yang signifikan ((A<0. 05 ) pemberian pelatihan pertolongan pertama kecelakaan terhadap pengetahuan siswa kelas xi Madrasah Aliyah Swasta Miftahul Ulum Anggana. DAFTAR PUSTAKA