Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 MENYINGKAP CINTA KASIH ALLAH PASCA TRAGEDI SITUBONDO 10 OKTOBER 1996 DALAM PERSPEKTIF TEKS NABI YOEL 2:23-27 Yohanes Victor Baro Bitan Lamatokan*). Bonifacio Gendis Permiro Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Penulis korespondensi, yohanesvictorbbl@gmail. gendisboni10@gmail. Abstract This research examines the efforts to capture God's love after the tragedy of the Situbondo riots. East Java, on October 10, 1996. The people of Situbondo and even the whole of Indonesia were shocked by the destruction and burning of 24 churches in the Situbondo area. The destruction and burning of churches in Situbondo began with the trial of Mohammad Soleh (Musli. Soleh was a young man accused of spreading heresy and insulting the Islamic teachings of K. As'sad Syamsul Arifin, who is highly respected by the people of Situbondo. The court verdict that was too light for the masses caused Situbondo to become a sea of fire. This research uses a qualitative approach with a literature study. The theoretical framework used is the story of the Prophet Joel in his letter (Yl 2:23-. about God's love for the Israelites after experiencing various disasters and other supporting sources. The results showed that the value of love was realized through the initiative of the Christian community . oth Catholics and Protestant. by building dialogue between the two camps, both the majority group (Isla. and the minority group so as to create a tolerant situation between the two and thus, the relationship that had been tenuous could be restored. Keywords: love of God. Tragedy of Situbondo. the book of Joel PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya. Kaya soal sumber daya alam dan manusia. Informasi tentang kekayaan yang dimiliki oleh negara kepulauan yang kala itu dikenal dengan nama Nusantara, telah menyebar ke seluruh dunia. Jika menilik dari sejarah Indonesia di masa pra-kolonial, masuknya bangsa Eropa ke Indonesia pertama kali ditandai dengan kedatangan bangsa Portugis pada abad ke-16, yang kemudian dilanjutkan oleh bangsa Belanda, menyusul Inggris yang juga menjadi salah satu bangsa yang pernah singgah dan menjajah Indonesia. Kedatangan bangsa Eropa itu pertama-tama hanya untuk berdagang dan mencari Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 rempah-rempah (Soekiman, 2. Tidak hanya soal sumber daya alam. Indonesia juga dikenal sebagai negara multi-agama. Menurut UUD 1945 Pasal 28E tertulis: Au. Pasal 28E . Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanyaA . Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuia dengan hati Ay Selain pasal 28E, dalam pasal 29 tertulis. Au. Negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dari kepercayaannya Ay Berdasarkan pasal tersebut, setiap warga negara memiliki hak konstitusional untuk memilih, memeluk dan menghidupi agama yang menjadi pegangan hidupnya. Karena bersifat konstitusional, dengan kata lain keberlangsungannya dijamin oleh negara, ada 6 agama yang diakui oleh negara. Hal tersebut termaktub dalam Pasal 1 UUS PNPS No. 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, yang menyatakan bahwa AuAgama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam. Kristen. Katolik. Hindu. Budha dan Khong Hu Cu . liran Confusiu. Ay Dengan demikian sudah menjadi jelas bahwa hanya ada 6 agama yang diakui oleh pemerintah dan dalam pelaksanaannya, keenam agama tersebut berada di bawah perlindungan Undang-Undang yang berlaku. Namun pada kenyataannya, pengakuan tersebut hanya berhenti pada bibir semata. Seringkali berseliweran di media massa berita tentang konflik horizontal yang disebabkan oleh perseteruan antar agama. Kendati negara menjamin dari keberagaman budaya dan agama . yang berakar-tumbuh di Indonesia, untuk mewujudkan sikap toleransi, dialog lintas budaya dan agama, selalu mendapat berbagai tantangan. Keinginan negara yang senantiasa mengedepankan tolerenasi dan dialog antara agama sering bertolak belakang dengan kondisi faktual terkini, karena masih banyaknya bukti-bukti intoleransi dalam kehidupan . Hanafi, 2018: . Gesekan yang terus terjadi, lambat laun dapat menyebabkan konflik sosial yang semakin besar. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa nilai agama belum dapat diamalkan secara maksimal sehingga diperlukan revitalisasi nilai-nilai agama sehingga konflik dapat diminimalisir. Subkhan . berpendapat bahwa konflik dapat diminimalisir bila agenda ketulusan membangun dialog dan membuka prasangka di tingkat basis, negara juga punya kewajiban menjamin hak-hak warganya. Misalnya hak untuk hidup aman tanpa ancaman dalam menjalankan kepercayaan dan agamaya, jaminan kebebasan beribadah, berpendapat dan berkumpul. Terkait dengan pelaksanaan ibadah keenam agama yang diakui di Indonesia, pada realitanya terkadang berbeda. Ada begitu banyak kasus dekonsolidasi antar umat beragama. Salah satu contohnya adalah kerusuhan yang terjadi di Kab. Situbondo pada 10 Oktober 1996. Secara singkat, kerusuhan yang disebabkan oleh kesalahpahaman, bahwa oknum yang bersalah Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 disembunyikan di sebuah Gereja, secara langsung mengakibatkan relasi antara agama saat itu, secara khusus Kristen dengan Islam menjadi rusak. Dampak yang dapat dirasakan ialah pengrusakan dan pembakaran gedung Pengadilan Negeri Situbondo. Gereja Bethel Indonesia Bukit Sion serta Gereja-gereja lain di wilayah Besuki. Penarukan. Asembagus dan Banyuputih . Sholeh, 2. Peneliti mencari penelitian-penelitian terdahulu yang juga memberi sorot pada tragedi kerusuhan berlatar belakang agama di Situbondo, guna menunjang penelitian ini dan menemukan kebaruan di dalamnya. Carmin dan Wisnu . mengatakan prasangka menjadi titik awal di mana muncul kebencian-kebencian dan ketidakpercayaan antar pemeluk agama yang menimbulkan konflik karena prasangka-prasangka yang awalnya terpendam di alam bawah sadar seseorang yang menunggu momentum hal yang dapat meledakkan prasangka itu menjadi konflik batin dan lalu meluap kepada konflik kelompok dan lingkungan. Temuan dari Carmin dan Wisnu hendak menegaskan bahwa tragedi di Situbondo pertama-tama dipicu oleh prasangka liar terkait dengan pelaku bernama Saleh yang dianggap sudah menistakan agama Islam. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Marzuki . tidak terlalu bersinggungan dengan Kab. Situbondo tetapi masih memiliki kemiripan dalam hal sosio-religius di mana para penduduk Kab. Bondowoso didominasi oleh suku Madura yang beragama Islam. Marzuki menegaskan bahwa masyarakat Kabupaten Bondowoso yang mayoritas Islam tidak menjadi halangan untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama. Gambaran kerukunan ini tercermin dengan adanya pertemuan rutin yang diikuti oleh setiap seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan agama yang dianut. Pertemuan ini dinamakan pertemuan kifayah . erukunan kematia. dan diadakan setiap malam jumat dengan membayar iuran wajib sebesar Rp 1. 000,- . eribu rupia. bagi setiap warga. Kedua penelitian yang telah dilakukan dahulu, penulis belum menemukan adanya sintesis antara peristiwa kelam tersebut dalam tinjauan biblis. Sehingga inilah yang berusaha diangkat oleh penulis sebagai kebaruan dalam tulisan ini. Mengingat kejadian yang berdampak langsung pada Gereja-gereja yang ada di Situbondo, dan sampai pada hari ini Gereja-gereja tersebut masih kokoh berdiri, hal ini menunjukkan bahwa ada relasi toleran dari para pemeluk agama mayoritas, yakni umat Muslim yang ada di Situbondo, sehingga mereka dapat hidup berdampingan secara damai hingga saat ini. Tentu relasi yang toleran dapat bertahan lama jika didasarkan pada cinta yang tulus sehingga membuka cakrawala setiap pribadi untuk menerima perbedaan dalam hal keyakinan. Cinta ini tidak serta merta lahir begitu saja, perlu melalui sebuah proses seperti disiram dan dipupuk secara berkala untuk kemudian bertumbuh dan berkembang lalu berbuah dan kini buahnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di Situbondo. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Dalam keyakinan nabi Yoel pada perikop yang ditulis dan ingin diangkat oleh penulis sebagai tinjauan biblis untuk menganalisis peristiwa kerusuhan di Situbondo, yakni Yoel 2:23-27. Nabi Yoel, di tengah komunitas Israel yang sedang mengalami keputusasaan, kesukaran dan ratapan karena kehilangan harapan, menyatakan bahwa Allah itu ada dan hadir di antara umat-Nya (Yoel 2:. Melalui perantaraan Nabi Yoel. Allah memberikan jaminan kepada bangsa Israel bahwa Allah yang akan memegang kendali dan akan memperbaiki AukesalahanAy umatNya (LBI, 2. Kitab Yoel 2:23-27 meyakinkan bahwa Tuhan tidak tinggal diam. Karena kasih-Nya. Tuhan akan memulihkan keadaan umat-Nya seperti sebelum mereka dihancurkan, bahkan lebih. Hal-hal yang selama ini dihitung rugi akan diganti dengan berkat yang sepadan. Itulah saat keselamatan di mana Tuhan sungguh memihak untuk membela dan menyelamatkan uma-Nya (LBI, 2023: . Yoel 2:23-27 secara implisit mau menawarkan sebuah pengalaman hidup bangsa Israel yang sedang memperbaiki diri dari keterpurukan, atau sebaliknya. Nabi Yoel meyakinkan umat Israel bahwa Tuhan Allah akan menyelamatkan Kata yang dipakai untuk menggambarkan tindakan Allah yang menyelamatkan dapat berarti AumemulihkanAy. Keselamatan dipahami sebagai pemulihan, dan yang melakukan itu adalah Tuhan. Memulihkan dapat mengandung arti mengganti rugi apa yang sudah rusak atau hilang. Umat Allah menemukan bangsa Israel yang telah hancur, kemudian dipulihkan oleh Tuhan . LBI, 2023: Pemulihan yang dialami oleh bangsa Israel sebagaimana terungkap dalam Kitab Yoel 2:23-27 tampaknya memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi pada umat Katolik dan Kristen di Situbondo pasca tragedi. Memiliki dasar belas cinta kasih yang sudah tertanam sejak kecil sebagai dasar pijakan beriman Kristiani, maka umat Kristiani di Situbondo pasca kerusuhan berusaha untuk memulihkan kembali hubungan yang telah retak dengan membuka pintu maaf kepada semua pihak yang terlibat dalam tragedi Situbondo kala itu. Pil pahit yang ditelan oleh umat Kristiani Situbondo justru menjadi stimulus bagi mereka untuk menerima kekurangan dari sesamanya dan memandang kekurangan itu sebagai sesuatu yang dapat dipulihkan. Peristiwa itu juga yang kemudian mendorong lahirnya Forum Komunikasi Antar Umat Beragama di Kab. Situbondo. Dengan demikian, menurut kerangka berpikir yang termuat dalam Kitab Nabi Yoel 2:23-27, penulis mengungkapkan cinta kasih Allah yang menyelamatkan itu lahir dari upaya untuk memulihkan kembali relasi antar umat beragama yang sudah retak akibat kesalahpahaman, sehingga buah dari upaya tersebut sungguh-sungguh dapat dirasakan oleh umat Kristiani secara khusus dan masyarakat secara umum di Situbondo pasca kerusuhan. Berangkat dari latar belakang yang telah dipaparkan oleh penulis, maka beberapa pertanyaan yang dijaukan sebagai titik tolak agar mendapatkan kedalaman informasi terhadap penelitan yang akan dilakukan, adalah: . Bagaimana sikap Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Gereja partikular terhadap tragedi kerusuhan di Situbondo? . Apakah cinta kasih Allah masih dapat diwujudkan pasca tragedi kerusuhan di Situbondo? . Narasi apa yang dicetuskan untuk menciptakan kembali kondisi lingkungan beragama yang kondusif bagi masyarakat Situbondo pasca tragedi kerusuhan? Tujuan penulisan artikel ilmiah ini, yaitu: pertama, untuk menggali nilai cinta kasih Allah yang menyelamatkan melalui peristiwa kelam kerusuhan Situbondo pada 10 Oktober 1996 menurut perspektif Nabi Yoel. AuCinta kasih Allah sebagai pemulih ulung bagi bangsa IsraelAy . Yoel 2:23:. Kedua, tulisan ini dapat menjadi referensi untuk para akademisi atau mereka yang memiliki minat untuk menjejaki secara lebih mendalam peristiwa kerusuhan di Situbondo dalam terang biblis secara khusus dalam Kitab Nabi Yoel 2:23-27 atau secara umum dari referensi perikop yang relevan mengenai cinta kasih sebagaimana termuat di dalam Kitab Suci. II. PEMBAHASAN Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode secondary research, yakni teknik pengumpulan data lapangan yang dihimpun berdasarkan hasil wawancara sebagaimana termuat di laman internet atau buku penunjang yang relevan. Melalui metode ini, penulis mengumpulkan data penelitian dengan memaparkan dan menganalisis informasi dari surat kabar ataupun informasi lain yang telah terekspos. Penulis memakai metode ini dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan untuk dilangsungkan kegiatan wawancara dan kesulitan untuk mencari narasumber yang siap untuk diwawancarai. Dalam metode secondary search ini, penulis memaparkan kasus intoleransi yang terjadi pasca meletusnya tindakan pembakaran Gereja-gereja di Situbondo kala itu. Hasil Penelitian Sekilas tentang Nabi Yoel dan Perikop Yoel 2:23-27 Menurut tradisi Yahudi. Nabi Yoel muncul dalam abad ke-18 SM. Tetapi dewasa ini, kebanyakan ahli Kitab sepakat bahwa Nabi Yoel membawa nubuatnya sekitar tahun 400-350 SM, ketika masa Kerajaan Persia mencakup Negeri Palestina (Groenen, 1. Sumber lain mengatakan, waktu hidup Nabi Yoel dan penulisannya tidak dapat dipastikan. Ada ahli yang mengusulkan bahwa Nabi Yoel bernubuat pada awal abad ke-8 SM, sehingga Yoel menjadi Nabi pertama yang menulis suatu kitab nubuat (Baker, 1. Sebagai seorang utusan Allah. Nabi Yoel diutus untuk memberikan pendampingan rohani bagi bangsa Israel. Tentu pendampingan rohani itu bersumber dari perikop yang ditulis. Kitab Nabi Yoel masuk dalam bagian terakhir kitab-kitab kenabian yaitu dua belas kitab kecil. Mengapa dinamakan dua belas kitab kecil? Karena jika seluruh tulisan dari dua belas kitab para nabi ini digabungkan, ketebalannya tidak akan mengalahkan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 kitab Nabi Yesaya. Karena karangan-karangan yang sederhana itu, kedua belas nabi itu dinamakan nabi-nabi kecil . Groenen, 1. Pater Groenen menekankan bahwa karya para Aunabi kecilAy ini dapat dikatakan sebagai ringkasan seluruh aliran kenabian di Israel. Sebab, para Aunabi kecilAy itu memaparkan semua tema dan pokok pikiran yang dikembangkan oleh para Aunabi besar. Ay Dengan demikian. Nabi Yoel adalah bagian dari rumpun para nabi kecil yang berada di akhir perjanjian lama. Dalam Yoel 2:23-27, karunia profetis pada Nabi Yoel muncul atas sebab bencana alam yang menimpa umat Israel. Bencana alam itu tampil dalam dua rupa. Pertama, ada kawanan belalang yang memakan habis dan merusak seluruh tumbuhan di negeri sehingga menyebabkan kelaparan dan musim paceklik begitu Ada juga musim kemarau yang berlangsung cukup lama, sehingga menyebabkan kekeringan dan menimbulkan kematian bagi tumbuhan dan hewan Atas bencana itu. Nabi Yoel mendorong para Imam dan segenap umat untuk berkabung dan bertobat agar bencana itu segera reda. Nabi Yoel melihat bencana itu sebagai hukuman dari Tuhan. Kedua, kitab Yoel menggambarkan AuHari TuhanAy. Bagi musuh Allah. Hari Tuhan itu menjadi saat penghukuman yang Tetapi bagi umat Allah. Hari Tuhan itu menjadi saat keselamatan yang membuka masa kesejahteraan dan kemakmuran, masa kebahagiaan dan kekudusan (Groenen, 1. Sebagai seorang Nabi. Yoel berusaha sekuat tenaga untuk mendorong bangsa Israel agar kepercayaan terhadap Allah semakin bertambah. Demikian Allah bersabda melalui perantaraan Yoel: AuHai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN. Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentaraKu yang besar yang Kukirim ke antara kamu. Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memujimuji nama TUHAN. Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib. dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selamalamanya. Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini. TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selamalamanyaAy. (Yoel 2:23-. Kitab Yoel dibagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama: Tulah Belalang (Yoel 1:1-2:. dan bagian kedua: Jawaban Tuhan kepada Israel dan Bangsa-bangsa (Yl. 2:18-4:. Hal ini menunjukan bahwa isi dari teks kurang lebih memaparkan bagaimana karya belas kasih Tuhan membarui keadaan jemaat Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dan menjamin kehidupan mereka. Jaminan-jaminan ini dirincikan dalam jaminan akan hidup yang dibangun kembali dan pembebasan dari musuh . Ay 18-. Walaupun di dalam teks sebelumnya sudah dinubuatkan . y 18-. , pembaharuan kehidupan jemaat atas rahmat belas kasih Tuhan mendapat tekanan ulang di dalam uraian ayat 23-27. Nubuat Yoel dalam Kitab Yoel 2:23-27 dibuka dengan ajakan untuk Alasannya adalah kehadiran Tuhan sendiri. AuBersukacitalah karena Tuhan. Allahmu!Ay . Bagian kedua dari ayat ini . , diungkapan Audengan adilnyaAy . arafiah: buat keadilan/kebenara. mungkin sebuah sisipan. Kepada umat yang bertobat. Allah akan memberikan hujan Audengan adilnyaAy, artinya: sesuai dengan kesetiaan Tuhan terhadap umat oleh karena perjanjian. Tetapi ungkapan itu juga dapat diartikan: dengan ukuran tepat, atau: mengingat keadilan, sebagai tanda bukti bahwa umat kembali dilerai oleh Tuhan. Allah menciptakan kondisi yang sesuai untuk panenan dengan memberikan hujan pada musim yang tepat. Keadaan yang bagus ini, sebaliknya, memberi persediaan untuk kurban di bait suci. AuKeadilanAy dan AupertahananAy mengisyaratkan suatu tindakan ritual dari ibadat, yang mengungkapkan hubungan perjanjian antara Allah dan jemaat. Kurban harian di Bait Suci telah berhenti karena penyerbuan belalang. Ketiga ayat berikutnya mendukung tafsiran itu. Allah akan memberikan gandum, anggur, dan minyak secara melimpah sebagai pengganti kerusakan yang disebabkan oleh belalang . 1:4. 2:5-. Kebutuhan akan jaminan hidup dan untuk beribadat kepada Allah akan terpenuhi . Mzm 126:. Rumusan yang sudah dikenal menutup bagian ini . Ini menunjukkan suatu pemahaman baru mengenai Allah bagi jemaat. Allah akan ada di tengah-tengah Tidak ada Allah lain yang dapat dibandingkan dengan Allah dari Israel. Jemaat tidak akan menjadi malu lagi . Kel 20:2-. Ini menunjuk kepada hukuman pembuangan . Pewahyuan mengenai hubungan baru merupakan klimaks dari bagian ini dan suatu jawaban atas keheranan bangsa-bangsa: Di mana Allah mereka? . y 2:. Tuhan akan selalu mencukupkan kekurangan-kekurangan setiap insan. Tuhan akan memberikan hujan, gandum, anggur, minyak, dan makanan yang sepuasnya kepada orang Israel (Yoel. 2:23-. Tuhan akan selalu memberikan rahmat-Nya kepada mereka yang percaya kepada-Nya dan membutuhkan curahan dari rahmat tersebut. Tuhan tidak akan meninggalkan umat yang telah menaruh percaya kepada-Nya. Krisis, harapan yang tak kunjung datang dan tantangantantangan hidup yang dialami merupakan cara Tuhan untuk mendidik umat-Nya agar menjadi pribadi yang sabar, rendah hati, dan setia terhadap tuntunan Tuhan. Tuhan tetap setia kepada para pengikut-Nya, terlebih lagi kepada mereka yang setia bersorak-sorai dan bersukacita dalam Tuhan. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Tindakan Intoleran: Awal Sikap Inklusif Kerusuhan yang terjadi di Situbondo 27 tahun silam, menggambarkan dengan jelas bahwa gesekan yang disebabkan oleh agama memiliki peran penting dalam relasi antar personal. Gesekan atau konflik itu jika ditilik dari pemikiran Coser . , dibagi menjadi dua, yaitu: pertama, konflik realistis yakni konflik yang berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam berinteraksi dan umumnya ditujukan pada objek yang dianggap mengecewakan. Contohnya pengrusakan dan pembakaran terhadap Pengadilan Tinggi di Situbondo kala itu. dan kedua, konflik non realistis yakni konflik yang berasal dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembalasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh atau santet. Coser menjelaskan bahwa ada suatu kemungkinan seseorang atau kelompok terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Meskipun agama, dalam konteks tulisan ini yakni Islam, menjunjung tinggi prinsip-prinsip universal seperti persaudaraan, keadilan, dan toleransi. Namun dalam prakteknya, umat Islam sendiri tidak terlepas dari berbagai perselisihan, pertikaian, bahkan pertumpahan darah (Hasan, 2. Intoleransi memiliki ciri khas mengusung kekerasan, mempropagandakan eksklusivisme dan penyudutan kelompok umat yang satu, dan terus menjadi luka tetap dari masyarakat secara keseluruhan (Riyanto, 2. Dalam konteks agama, sikap intoleransi senantiasa diikuti dengan kekerasan, entah itu kekerasan fisik, verbal dan lainnya. Kekerasan telah berubah menjadi sebuah kultur dan dianggap biasa ketika hal tersebut diwujudkan dalam gesekan antar dua kelompok seperti yang terjadi dalam konflik kerusuhan di Situbondo. Menurut filosof Blaise Pascal, kekerasan tidak pernah menjadi bukti akan kebenaran (Riyanto, 2. Jika ada kelompok yang berusaha untuk meluapkan kemarahannya dengan merusak dan membakar Gereja, tindakan kejinya itu tidak dapat membuktikan bahwa Gereja atau komunitas tersebut salah atau sesat. Kekerasan tidak bisa menjadi bukti bahwa dirinya lebih benar dari yang lain. Bukti nyata kekerasan dari peristiwa Situbondo ialah pembakaran gedung Gereja. Pastoran. Susteran. TK-SDK-SMPK, dan perusakan 5 Kapel (Asembagus. Panarukan. Besuki dan Galeka. yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1996 (Firmanto, 2. Pembakaran Gereja dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap putusan pengadilan bagi seseorang yang bernama Saleh. Orang tersebut telah menistakan agama Islam. Massa yang saat itu naik pitam mendengar isu bahwa Saleh disembunyikan di Gereja, mengakibatkan emosi massa yang tidak dapat dibendung. Kemudian massa melancarkan aksinya dengan membakar Gereja yang disinyalir sebagai tempat persembunyian Saleh. Karena tidak dapat berpikir jernih, kerusuhan semakin meluas dan menyasar beberapa Gereja yang ada di Situbondo. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Terdapat 24 Gereja yang menjadi korban amukan si jago merah, termasuk Paroki Maria Bintang Samudra Situbondo, yang merupakan satu-satunya Gereja Katolik yang berada di Situbondo saat itu . Firmanto, 2. Tragedi yang menggoreskan luka bagi umat Katolik di Situbondo telah mendorong Bapak Uskup Keuskupan Malang saat itu, mendiang Mgr. S Pandoyoputro. Carm untuk melaksanakan Sinode Keuskupan Malang pada tahun 2002 . nam tahu. setelah peristiwa Situbondo itu berlangsung. Buah dari sinode itu salah satunya ialah AuMemberikan kesaksian iman dan hidup yang disumberkan dari pesan-pesan Injil dalam dialog dengan saudarasaudara yang berkeyakinan lain. bersikap solider, terbuka, mendengarkan harapan dan kebutuhan merekaAy (Sinode Keuskupan Malang, 2. Misi tersebut secara eksplisit mengajak umat untuk kembali meletakkan ego masing-masing, saling memaafkan dan senantiasa menjunjung tinggi semangat toleransi. Peristiwa kerusuhan yang terjadi di Situbondo secara langsung memang menciptakan ketegangan relasional antar umat beragama, yakni Islam dengan umat Kristen dan Katolik. Maka, pada level ini, perlu diupayakan suatu tindakan untuk membangun suatu dialog interreligius. Armada Riyanto . menyatakan bahwa dialog interreligius pada intinya pertama-tama mengandaikan keberanian. Keberanian yang pertama berkaitan dengan kritik diri, melakukan kritik atas beberapa kebijakan peribadatan atau cara-cara beragama yang tidak mengabdi manusia. Dialog interreligius tidak memiliki makna pada dimensi AureligiousAynya melainkan pada relasi dialogal manusiawinya dan memiliki kepentingan mutlak pada tata damai hidup bersama antarumat beragama (Riyanto, 2. Dengan demikian, baik jika dialog interreligius itu ditumbuhkan sebagai usaha untuk mencapai perdamaian dari kedua belah pihak. Bercermin dari peristiwa intoleran yang terjadi di Situbondo tahun 1996. Gereja Keuskupan Malang senantiasa mengupayakan diri untuk berdialog dengan keyakinan yang berbeda sebagai bagian dari usaha mengembangkan sikap toleransi. Dikutip dari liputan6. Uskup Malang. Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan. O,Carm mengadakan kunjungan dalam rangka belasungkawa atas meninggalnya K. Hasyim Muzadi yang beliau kenal sebagai salah satu tokoh toleransi yang selalu mengedepankan dialog antar umat beragama atau dialog interreligius. Almarhum juga sering bersilahturahmi ke kelompok Gereja untuk Kunjungan ini diharapkan menjadi cerminan teladan bagi umat Katolik dan masyarakat kota Malang untuk saling menyuarakan toleransi dan keterbukaan kolektif (Arifin, 2. Ketika relasi antar agama itu dibangun secara baik, maka akan menghasilkan sebuah religiusitas yang dapat dipakai untuk hidup toleransi. Religiusitas bukanlah AurasaAy dalam maksud sekadar berhubungan dengan perasaan. Religiusitas lebih memaksudkan sebuah relasi. Artinya, religiusitas adalah suatu Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 wujud relasional spesifik dengan yang mengatasi kehidupanku sebagai manusia (Riyanto, 2. Perwujudan Nilai Cinta Kasih Allah dalam Tragedi Situbondo Menurut Yoel 2:23-27 Menurut Mulyana . , nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan suatu pilihan. Oleh karena nilai sebagai rujukan dalam bertindak, maka setiap orang harus memperhatikan lebih mendalam agar hati-hati dan berpikir rasional sebelum mengambil tindakan. Menurut Judy Lawly . , nilai merupakan pedoman kepercayaan yang mendalam mengenai suatu hal yang Nilai secara langsung memengaruhi perilaku dan tertanam kuat dalam kebudayaan masyarakat dan latar belakang keluarga. Schwartz . mendefinisikan Auvalues as goals and motivations which serve as guiding principles in peopleAos livesAy . ilai sebagai tujuan dan motivasi yang berperan sebagai prinsipprinsip petunjuk dalam kehidupan manusi. Apabila nilai telah merasuk dalam diri personal di kehidupan seseorang, maka akan tampak pola, sikap, niat dan Setelah peristiwa mencekam itu berakhir, kegiatan masyarakat berangsurangsur pulih, kondusif dan berjalan seperti biasanya. Umat Kristiani perlahan mulai kembali ke dalam aktivitas beribadahnya. Iman yang telah diuji sedemikian rupa, kini semakin kuat mengakar. Nilai-nilai cinta kasih mulai diwartakan. Pewartaan itu terwujud secara nyata melalui hasil Sinode Keuskupan Malang tahun 2002. Poin dari hasil Sinode Keuskupan Malang 2002 terhadap sikap masyarakat umum pasca kerusuhan di Situbondo, menurtut Firmanto . antara lain: Iman yang berakar dalam budaya Umat diajak untuk senantiasa mengabdi Tuhan dan sesama melalui budaya yang ada di wilayah Keuskupan Malang, sehingga keduanya saling menyatu dan memperkaya sesuai dengan cita-cita Katolisitas. Iman yang misioner Umat yang adalah representasi dari Gereja diajak untuk menjadi insan-insan Kristus yang militan misioner sebagai usaha menyelaraskan hidup dalam persekutuan kaum beriman yang dipersatukan oleh sabda dan sakramensakramen. Iman yang dialogal Umat senantiasa diajak untuk menghargai segala yang baik dan benar dalam agama lain, menaruh hormat kepada para penganutnya dan menjauhkan diri dari segala bentuk fanatisme yang tidak berguna. Iman yang mengakar dalam budaya, berciri misi dan mengutamakan dialog menjadi dasar nilai cinta kasih yang berusaha diwujudkan oleh umat Katolik baik Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 itu di Situbondo secara khusus maupun umat Katolik di Keuskupan Malang secara Relasi dialogal yang menjunjung tinggi toleransi semakin bergema di Situbondo ketika Presiden ke-4 Republik Indonesia. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur langsung meninjau lokasi. Secara langsung. Gus Dur mewakili umat Islam kala itu meminta maaf kepada seluruh korban yang mengalami kerugian. Gus Dur selaku pemimpin Nahdhatul Ulama (NU), dan NU yang menjadi Aukambing hitamAy dalam peristiwa kelam ini mengharapkan dan secara konsisten mengajak masyarakat Situbondo untuk tetap berkomunikasi secara baik antar sesama agar terjalin kembali keharmonisan dan semangat saling menerima perbedaan keyakinan satu dengan yang lain . Nursaid, 2. Selain itu, pasca konflik, umat beragama telah berhasil membangun integrasi atas dukungan pimpinan atau tokoh agama, baik Islam maupun Kristen. Contoh. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) mempunyai peran yang cukup besar dalam upaya penyelesaian konflik dan dalam menjalin hubungan kerjasama dengan beberapa Pondok Pesantern di Situbondo (Retnowati, 2. Integrasi sosial yang terjalin begitu cepat mau mengatakan bahwa umat Kristiani mewujudkan cinta kasih dan kepeduliannya terhadap sesama. Komunitas Kristen memancarkan aura Kristus, yang dirasakan orang yang bersentuhan dengan para pengikut Yesus adalah Roh Allah sendiri, yang dipenuhi dengan kerinduan akan kesembuhan, akan kebaikan hati, ketulusan dan keselamatan (Suseno, 2. Situasi krisis, harapan yang tak kunjung datang, serta tantangan pasca kerusuhan di Situbondo merupakan fakta-fakta yang tidak dapat dielakkan dari sejarah hidup umat beragama di Situbondo. Fakta maupun kisah hidup yang pedih bagi umat Kristiani di Situbondo saat terjadinya kerusuhan perlahan berangsur pulih ketika umat Kristiani dapat membuka hati dan menyalurkan cinta kasih dari dalam diri mereka. Mereka berusaha untuk memulihkan kembali relasi dengan umat Islam. Usaha untuk memulihkan ini juga sama terjadi pada bangsa Israel sebagaimana yang termuat dalam Kitab Yoel 2:23-27. Perikop ini secara langsung berbicara tentang janji Tuhan untuk memulihkan umat-Nya. Secara manusiawi, orang sulit tersenyum bahagia saat mengalami krisis hidup dan penderitaan. Di tengah dinamika hidup yang pelik, terkadang orang menginginkan kehidupan yang lain. Akan tetapi, nabi Yoel mengajak bangsa Israel untuk bersyukur kepada Tuhan atas anugerah hidup yang sudah diperoleh hingga saat ini. Melihat karya Tuhan di masa lalu dapat membantu orang masa kini untuk memiliki secercah sinar harapan. Menurut nabi Yoel, harapan itu adalah bahwa Tuhan akan mengirimkan AohujanAo. Tuhan akan mengganti AokekeringanAo dan memberkati umat-Nya dengan kemakmuran. Kemakmuran ini berupa materi seperti gandum, anggur, minyak yang berlimpah . Dalam ayat 25. Tuhan berjanji untuk memulihkan keadaan umat-Nya. Istilah AomemulihkanAo dalam kata Ibrani wesillamti, memiliki arti restitusi, yaitu Aomembayar kerugianAo atau Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Aopembayaran atas kerugian yang dialamiAo. Dengan demikian. Ketika Tuhan bersabda. AuAku akan memulihakn kepadamuAy (Yoel 2:. , tampak jelas cinta kasih Tuhan kepada umat-Nya. Yoel 2:23-27 menggambarkan secara apik cinta kasih Tuhan yang tidak berkesudahan. Tuhan seolah mengizinkan kehancuran terjadi pada umat Israel, untuk menguji mereka dan pada akhirnya Tuhan sendirilah yang memulihkan keadaan mereka menjadi sebuah kegembiraan dan sukacita. Umat yang dipulihkan akan mengalami kemakmuran, bukan lagi penderitaan . Mereka tidak merasa malu, kecil dan tak berguna. Justru sebaliknya, mereka akan memuji dan mengucap syukur kepada Tuhan serta semakin mendalam untuk mengenal cinta kasih Tuhan yang telah dinyatakan dalam Melalui peristiwa pemulihan. Tuhan mengajak umat-Nya untuk mengetahui bahwa Tuhan selalu ada dan hadir di tengah-tengah mereka. Tuhan menyertai mereka yang sedang dalam kesusahan. Pemulihan yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel adalah bukti cinta kasih Tuhan sendiri dan cinta kasih ini yang kemudian coba diwujudnyatakan oleh umat Kristiani pasca kerusuhan di Situbondo. Usaha untuk memulihkan kembali relasi yang telah hancur karena peristiwa kerusuhan pada akhirnya menghasilkan buah yang dapat dinikmati bersama baik bagi umat Kristiani maupun umat Islam. Salah satu buah konkret yang sampai hari ini masih bertahan ialah adanya Forum Komunikasi Antar Umat Beragama sebagai jembatan dialog damai dan mengedepankan semangat relasional yang inklusif. Cinta kasih yang diwujudkan oleh umat Kristiani di Situbondo dapat dikatakan sebagai bentuk pertobatan dari rasa marah, geram dan benci yang timbul akibat peristiwa kerusuhan. Terkait dengan pengalaman pertobatan, baik bagi setiap umat untuk belajar pada karya keselamatan Allah dalam kisah pertobatan Paulus. Pengalaman eksistensial Paulus di tengah perjalanan menuju ke Damsyik merupakan karya keselamatan baginya. AuTiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minumAy. Fase ini mengantarkannya pada perjumpaan dengan Ananias yang telah diutus Yesus. Penumpangan tangan oleh Ananias menjadi sarana keselamatan Allah. Melalui Ananias. Saulus mendapat pemenuhan Roh Kudus dan dengannya dapat melihat lagi. Kis 9:1-. Penumpangan yang dilakukan oleh Ananias, juga dilakukan oleh umat Kristiani di Situbondo sehingga umat Islam dapat Aumelihat lagiAy bahwa kasih yang diwartakan dapat mengalahkan kejahatan, iri dan benci. Sampai sejauh ini, dalam iman Kristiani, kasih Allah bekerja secara nyata untuk menyelamatkan umat Umat Kristiani di Situbondo telah diberi kesegaran baru untuk memaknai setiap tantangan hidup dari perikop Yoel 2:23-27 di mana kesegaran itu tampak dalam situasi damai yang dialami antara umat Kristiani dan umat Islam hingga hari Kesegaran baru itu juga mendorong agar umat Kristiani di Situbondo senantiasa bersorak-sorai dan bersukacita selalu di dalam Tuhan. Dengan selalu bersukacita Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2024 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 24 No. Oktober 2024 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dan mengandalkan Tuhan di dalam setiap peristiwa hidup, secara tidak langsung cinta kasih Tuhan senantiasa diejawantahkan. Manusia memang mahluk yang rapuh, namun kerapuhan manusia tertolong dengan usaha untuk menyebarkan cinta kasih kepada sesame, sehingga setiap umat Kristiani di Situbondo dimampukan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang integral, mau mengabdi kepada sesama dan peduli kepada mereka yang miskin dan tersingkir, baik karena sosio-ekonomi, religius maupun kultur. KESIMPULAN Kedamaian dan kerukunan yang terajut kembali adalah bentuk kegembiraan yang patut disyukuri baik oleh umat Kristiani maupun lapisan masyarakat di Situbondo. Peristiwa yang menyayat hati itu ternyata mengandung hikmah dan dampak yang baik dalam relasi umat beragama di Situbondo. Dampak itu terejawantahkan melalui upaya Masyarakat, baik dari kelompok Islam maupun Kristen untuk merajut kembali relasi antara mereka yang sempat diwarnai oleh ketegangan dan kehancuran. Hubungan yang harmonis dalam masyarakat yang melibatkan umat beragama tentu tidak lahir begitu saja, tetapi membutuhkan usaha dan kemauan semua pihak untuk mewujudkannya. Layaknya, bangsa Israel yang mengalami cinta kasih Allah dengan bertobat melalui pewartaan Nabi Yoel dalam suratnya Yoel 2:23-27 mengenai bencana yang melanda mereka, yang disebabkan oleh dosa-dosa yang bangsa Israel lakukan, cinta kasih Allah terwujud secara nyata melalui janji yang Tuhan berikan. Demikian juga masyarakat di Situbondo yang multikultural, etnis dan agama ini juga mewujudkan cinta kasih Allah melalui peran serta aktif dalam mengalakkan semangat dialog yang inklusif dan toleran kepada umat beragama lain dan terlebih lagi mau memaafkan dan secara terbuka berkehendak bebas untuk merajut kembali tali persaudaraan sebagai satu entitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. DAFTAR PUSTAKA