Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 9 Nomor 1 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Mencari Definisi Hindu Nusantara Ravinjay Kuckreja1. I Nyoman Yoga Segara2 American Academy of Religions Member. United States of America Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Indonesia ravinjay@gmail. Abstract Currently there is a dichotomy between Hindu India and Hindu Nusantara. This article seeks to find the meaning of Hindu Nusantara, a term used by Indonesian Hindus, including in government policy-making, in the absence of a clear definition. The research employed a qualitative approach, utilizing theoretical analysis and document research to explore the historical evolution and contemporary expression of Hinduism in Indonesia. Agama Hindu Indonesia rejects international Hindu missionary movements, although it is also a national missionary movement. This missionary activity results in the first definition of Hindu Nusantara. a local ancestral religion that becomes a sect or part of Agama Hindu Indonesia. However, since indigenous religions can be recognized as belief systems . liran kepercayaa. Hindu Nusantara turned into a counter-movement to Hindu missionaries from India. Similar to Islam Nusantara, it became a form of Hinduism that resonates with Indonesian customs and culture. This research also discusses the possible impacts of Hindu Nusantara. the return of Hindu Nusantara sects to ancestral religion, . increased intolerance towards Indians and their form of Hinduism, and . Balinese preferring to opt out of Hinduism altogether to assert their own religious The phenomenon of Hindu Nusantara suggests that movements within Indonesian Hinduism are often reactive, lacking thoughtful insight, in-depth study, and careful discernment. Keywords: Hindu Nusantara. Indigenous Religions. Hinduism in Indonesia. Ministry of Religious Affairs Abstrak Saat ini terdapat dikotomi antara Hindu India dan Hindu Nusantara. Artikel ini bertujuan untuk mencari makna dari Hindu Nusantara, istilah yang digunakan oleh pemeluk Agama Hindu Indonesia, termasuk dalam pembuatan kebijakan pemerintah, tanpa adanya definisi yang jelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan analisis teoritis dan penelitian dokumenter untuk mengeksplorasi evolusi historis dan ekspresi kontemporer agama Hindu di Indonesia. Analisis wacana tematik dan kritis diterapkan untuk meneliti pola, integrasi lokal, dan kebijakan pemerintah yang membentuk Hindu Nusantara. Agama Hindu Indonesia menolak gerakan-gerakan misionaris Hindu internasional, walaupun ia juga merupakan gerakan misionaris nasional. Kegiatan misionaris ini menghasilkan definisi pertama Hindu Nusantara. agama leluhur lokal yang menjadi sekte atau bagian dari Agama Hindu Indonesia. Namun, oleh karena agama leluhur dapat diakui sebagai aliran kepercayaan. Hindu Nusantara beralih menjadi gerakan-kontra dari misionaris Hindu dari India. Mirip dengan Islam Nusantara. Hindu Nusantara menjadi bentuk agama Hindu yang selaras dengan adat dan budaya Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga membahas berbagai dampak yang mungkin terjadi akibat Hindu Nusantara, . kembalinya sekte-sekte Hindu Nusantara menjadi agama leluhur, . peningkatan intoleransi terhadap orang India dan agama Hindu mereka, dan . orang Bali lebih memilih untuk tidak mengikuti agama https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Hindu sama sekali untuk menegaskan identitas agama mereka sendiri. Fenomena Hindu Nusantara menunjukkan bahwa gerakan-gerakan di dalam agama Hindu Indonesia sering kali bersifat reaktif, kurang memiliki wawasan yang bijaksana, studi yang mendalam, dan Kata Kunci: Hindu Nusantara. Agama Indigenus. Agama Hindu di Indonesia. Kementerian Agama Pendahuluan Pada tanggal 14 Desember 2023. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu. Kementerian Agama menerbitkan Surat Edaran Nomor SE. 4 Tahun 2023 tentang Larangan Menjadi Pengurus. Anggota. Simpatisan, dan Misionaris Sampradaya bagi Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu. Kementerian Agama. Terdapat peningkatan stigma dan perlawanan terhadap ekspresi Hindu India arus utama di Indonesia, yang dipicu oleh polemik yang telah berlangsung lama antara Hindu Nusantara dan Hindu India (Kuckreja, 2. Penolakan terhadap Hindu India ini dilawankan dengan ekspresi Hindu asli Indonesia sebagai Hindu Nusantara. Terlepas dari penggunaan istilah tersebut, tidak ada definisi resmi dari apa yang dimaksud dengan Hindu Nusantara. Penelitian terkini yang dilakukan oleh HS & Amiruddin . bertujuan untuk menghadirkan sebuah definisi, sekaligus membandingkannya dengan Islam Nusantara. Namun, setelah dianalisis lebih lanjut, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian ini, terdapat lebih banyak lapisan pada definisi Hindu Nusantara. Ini termasuk pembaharuan definisi dan peraturan yang menanggapi perkembangan penghayat kepercayaan di Indonesia. Agama Hindu di Indonesia terus menerus terdampak oleh keterlibatan yang rumit antara pemerintah, ras, dan agama. Pertemuan ini menghasilkan definisi dan pengelolaan agama yang kaku, sistemik, dan homogen, yang gagal mencerminkan keragaman praktik keagamaan yang inheren, khususnya dalam agama Hindu. Lagipula, terdapat kekurangan dalam hal kecerdikan dan studi menyeluruh mengenai dampak jangka panjang dari definisi, peraturan, dan pesan-pesan kunci Pendekatan yang dilembagakan oleh negara cenderung memprioritaskan standarisasi, sering kali mengabaikan variasi budaya dan daerah, dan gagal mempertimbangkan implikasi yang lebih luas dari kebijakan-kebijakannya terhadap lanskap identitas agama Hindu yang berkembang di Indonesia. Kegagalan ini terlihat pada implementasi Hindu Nusantara, sebuah istilah dan gerakan yang dimaksudkan untuk memperkuat identitas pribumi Hindu Indonesia, tetapi justru membahayakannya. Transformasi agama leluhur menjadi Hindu Nusantara diperlukan untuk memungkinkan agamanisasi ekspresi kepercayaan yang tidak diakui. Namun sekarang, sebagai pertahanan terhadap ekspresi asing agama Hindu, penelitian ini mempelajari bagaimana Hindu Nusantara telah menjadi sebuah gerakan yang menekankan pada nasionalisme dan identitas etnis. Gerakan ini menyiratkan bahwa Hindu Nusantara adalah kembalinya ke agama leluhur. Hal ini tidak hanya kontradiktif, tetapi juga membingungkan, karena Hindu Nusantara berupaya untuk meyakinkan agama pribumi yang tidak memiliki jejak Hindu untuk menerima Hindu Bali dan nasionalisme ke dalam adat istiadatnya. Selain itu, artikel ini juga akan mengupas kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi pada Hindu Nusantara, seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Hindu India dan Hindu Nusantara, serta antara Hindu Nusantara dan Hindu Bali. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk meneliti fenomena sosial Hindu Nusantara dan Agama Hindu Indonesia. Kajian ini melibatkan analisis teoritis dan penelitian dokumenter, dengan memanfaatkan publikasi akademis dan sejumlah keputusan pemerintah untuk mengeksplorasi evolusi historis dan ekspresi kontemporer agama Hindu di Indonesia. Analisis tematik digunakan untuk mengidentifikasi keterulangan pola dan konsep yang berkaitan dengan integrasi agama Hindu ke dalam adat istiadat setempat dan proses agamanisasinya sebagai agama yang diakui. Analisis komparatif kualitatif lebih lanjut menyoroti perbedaan dan kesinambungan antara lapisan-lapisan tersebut, mengungkapkan perubahan dalam penggunaan istilah Hindu Nusantara. Analisis ini dipandu oleh beberapa kerangka kerja teoritis. Konstruksi sosial membantu menjelaskan bagaimana berbagai lapisan agama Hindu telah dikonstruksi oleh lingkungan sosialnya sebagai hasil dari proses sejarah dan budaya. Analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysi. mengungkap dinamika kekuasaan dalam kebijakan pemerintah yang memformalkan Agama Hindu Indonesia. Teori sistem-sistem juga diterapkan untuk memahami keterkaitan lapisan-lapisan ini dalam sistem sosial-politik dan agama di Indonesia. Bersama-sama, kerangka kerja ini menawarkan perspektif untuk memahami perkembangan Hindu Nusantara dan tempatnya dalam konteks agama di Indonesia. Hasil dan Pembahasan Agama Hindu Indonesia Sebagai Kebangkitan Hinduisme Agama Hindu saat ini diakui di Indonesia, dan negara hanya mengakui enam agama resmi. Pasca kemerdekaan, umat Hindu yang terutama berbasis di Bali masih belum mendapat rekognisi dari negara. Fakta ini menyemangati para tokoh umat untuk tanpa lelah memperjuangkan Hindu. Tak sia-sia, perjuangan mereka sukses karena Hindu akhirnya diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia pada 1963 (Bakker, 1. Dalam proses pengajuan pengakuan ini, agama Hindu terpaksa menyesuaikan diri dengan definisi agama menurut Republik Indonesia. Agama Hindu Secara Historis Tradisi-tradisi Indus telah lama mendominasi kerajaan-kerajaan di Nusantara, kepulauan yang kini mayoritas wilayahnya menjadi Republik Indonesia. Tradisi-tradisi ini termasuk Saivisme dan berbagai alirannya, serta Buddhisme, yang memiliki beragam aliran berlandas Sanskerta (Sinclair, 2. Dua tradisi agama yang mendominasi ini kemudian membentuk ekspresi tunggal Siwa-Buddha pada masa Singasari/Tumapel. Meskipun banyak yang menyebutnya sebagai sinkretisme kepercayaan Hindu dan Buddha (Santiko, 2. , sifat dari corak keagamaan kerajaan-kerajaan Jawa lebih tepat dinyatakan bersifat eklektik, membentuk sebuah ekspresi keagamaan yang khas dengan berbagai gagasan Hindu. Buddha, dan bahkan konsep-konsep agama asli setempat . tau juga sering disebut sebagai kearifan loka. (Gitananda et al. , 2. Meskipun terdapat berbagai peninggalan dari masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di masa lampau, fragmen-fragmen monumen, karya seni, dan manuskrip ini hanya memberikan gambaran mengenai keadaan agama masa lalu Nusantara. Cuplikan-cuplikan puisi berbahasa Jawa Kuno, beserta relief-relief kisah mitos dari candi berbatu andesit, sering sekali digunakan untuk merekonstruksi kejayaan Hindu-Buddha. Namun, ia tetap merupakan rekonstruksi. Kita masih belum mengetahui dengan pasti mengenai ritual, sistem religi, atau doktrin agama dari kerajaan-kerajaan bersejarah ini. Semangat Kebangkitan Hindu Dan Buddha Semangat dari kejayaan masa lalu Hindu-Buddha digunakan oleh para kaum nasionalis yang hingga hari ini merenungkan pesona Majapahit (Quinn, 2. Semangat https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH tersebut juga menjadi momentum bagi komunitas-komunitas Hindu dan Buddha untuk memantapkan diri sebagai agama di negara Indonesia yang baru saja berdiri. Agama Buddha, melalui kontribusi dari Perkumpulan Teosofi, mulai mengenang jayanya masa ajaran Dharma dengan perayaan Waisak di Borobudur pada tahun 1932 (Brown, 2. Kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia merdeka diantar oleh gerakan Buddhayana yang dipimpin oleh Ashin Jinarakkhita dan diaspora Tionghoa yang membawa beberapa atribut Buddhis Mahayana (Rizzo, 2. Di sisi lain, agama Hindu dilestarikan melalui adat istiadat dan pengetahuan yang diwariskan oleh masyarakat Bali dan Jawa. Terisolasi di pelosok pulau Jawa. Bali dan Lombok, warisan Siwa-Buddha yang bersejarah ini menemukan bentuk baru di tatanan sosial masyarakat Bali dan sebagian masyarakat Jawa (Purningsih et al. , 2. Jalinan identitas etnis dengan afiliasi agama ini bukanlah hal yang baru bagi agama Hindu, agama yang pada dasarnya lebih merupakan filosofi atau pandangan dunia yang diekspresikan melalui budaya-budaya yang berbeda di Asia Selatan dan Asia Tenggara (Ligo, 2. Dengan demikian, terdapat Saivisme historis dari kerajaan-kerajaan Nusantara dan lapisan kedua dari sistem kepercayaan Hindu yang diekspresikan sebagai adat Jawa dan Bali. Agama Saat Kemerdekaan Indonesia Meskipun Hindu merupakan agama yang hidup . iving religio. bagi beberapa masyarakat pribumi di Indonesia yang merdeka, proses birokratisasi dan formalisasi agama di Republik yang baru ini menghambatnya untuk dapat diterima begitu saja. Sangat berbeda dengan kasusnya agama Islam. Kristen dan Katolik, agama-agama Timur seperti Hindu dan Buddha tidak memiliki perwakilan dengan wadah organisasi terstruktur pada Indonesia masa kolonial. Islam, terutamanya melalui organisasi-organisasi seperti Nahdlatul Ulama . erdiri sejak 1. dan Muhammadiyah . , terwakili dan juga sangat berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Agama Kristen dan Katolik juga terwakili melalui gereja-gereja yang didirikan oleh misionaris Eropa pada masa penjajahan . ihat Aritonang & Steenbrink, 2. Perkumpulan Teosofi, organisasi yang telah hadir sebelum Indonesia merdeka, menghayati beberapa perspektif Hindu dan Buddha. Tetapi. Teosofi bukanlah agama terorganisir yang mewakili umat Hindu atau Buddha (Ramstedt, 2. Pembentukan ideologi nasional Pancasila di atas landasan Ketuhanan terlihat jelas dalam Piagam Jakarta dan pendirian Kementerian Agama. Tauhid ini, meskipun merupakan bagian penting dari akidah Islam, juga ditemukan dalam agama-agama semitik lainnya dan oleh karena itu bermanfaat bagi umat Kristen dan Katolik. Penerapan Tauhid, atau bentuk turunannya sebagai ideologi negara Indonesia berupa Ketuhanan Yang Maha Esa, terhadap agama Hindu dan Buddha merupakan sebuah tantangan. Definisi Agama Resmi Bagi Hindu Terlepas dari adanya kehadiran realita kosmik, gagasan Ketuhanan dalam Hindu dan Buddha sangat berbeda. Khususnya untuk agama Hindu, konsep serupa hadir dalam naskah-naskah Jawa Kuno sebagai Sang Hyang Wisesa atau juga Sang Hyang Tunggal (Hooykaas, 1. Walaupun Sang Hyang tersebut dikisahkan dengan kepribadian, hakikat Ketuhanan dalam Hinduisme aliran Siwa-Buddha tidak bersifat dan demikian ambigu, hadir sebagai zat Ketuhanan yang merasuki segala hal (Dewi et al. , 2. Selain ekspresi Ketuhanan yang berbeda, karakteristik dari agama-agama semit lainnya seperti kitab suci dan nabi tidak tercermin dalam agama-agama Dharma. Lagipula, definisi agama yang dikeluarkan oleh Departemen Agama pada tahun 1952 dengan jelas menyatakan prasyarat kehadiran internasional. Definisi ini, meskipun telah dicabut, terbukti dengan kehadiran enam agama resmi saat ini dan tidak diterimanya aliran kepercayaan sebagai agama (Maarif, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Format agama menurut Islam ini yang diakui negara lalu digunakan untuk mentransformasi agama rakyat Bali menjadi agama Hindu yang resmi. Proses ini dimulai pada tahun 1950an dengan upaya untuk memformalkan agama Hindu sebagai hal yang terlepas dari budaya Bali (Picard & Bakker, 1. Setelah Hindu resmi diakui di Indonesia, pada tanggal 17-23 November 1961, umat Hindu melanjutkannya dengan menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih, tokoh agama Hindu, di Campuhan Ubud. Pesamuhan ini menghasilkan Piagam Campuan yang kelak menjadi titik awal pembinaan umat Hindu di Indonesia hingga saat ini. Selang tiga tahun kemudian, tanggal 7-10 Oktober 1964 diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, dan selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) (Wartayasa, 2018. Picard, 2. Ini adalah proses yang wajib untuk memastikan agama Hindu merupakan agama universal yang tidak eksklusif untuk kelompok etnis tertentu (Dana, 2. Dan rakyat Bali juga tidak memiliki pilihan lain, dengan adanya ancaman proselitisasi dan peristiwa G30S yang menyasar mereka yang tidak memiliki agama resmi (McDaniel, 2. Terdesak untuk beralih ke agama resmi (Islam. Kristen atau Katoli. atau mendaftarkan agama resmi baru, umat Hindu di Bali merumuskan bentuk baru dari agama Hindu dengan kepingan-kepingan ajaran yang mereka warisi. Pembentukan Agama Hindu Indonesia Perumusan ulang agama Hindu ini mengubahnya menjadi sebagai agama yang mirip dengan Islam, dan dengan demikian telah menciptakan sebuah lembaga agama Hindu yang baruAiAgama Hindu Indonesia (McDaniel, 2. Untuk membedakan agama Hindu pada umumnya dengan versi agama Hindu ini yang didukung pemerintah Indonesia. Agama Hindu Indonesia akan selanjutnya disebut dengan singkatan AHI. AHI ini berbeda dengan Siwa-Buddha Nusantara yang bersejarah, dan juga berbeda dengan kepercayaan Jawa-Bali yang telah lama merupakan adat masyarakat tertentu. Walaupun ia memiliki semangat kebangkitan, perwujudan dari agama Hindu ini merupakan pembaharuan sebagai agama Hindu yang bersifat nasional, yang dapat diterima oleh pemerintah (Ramstedt, 2. Agama Hindu Indonesia Sebagai Neo-Hinduisme Penting untuk dicatat bahwa transformasi Kehinduan menjadi AHI tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya reformasi agama Hindu di India. Para nasionalis Hindu seperti Rammohun Roy. Dayananda Saraswati. Swami Vivekananda, dan Mohandas K. Gandhi membentuk gerakan anti-kolonial serta Hinduisme yang universal dalam sebuah perkembangan yang kini dikenal sebagai Neo-Hinduisme. Gerakan-gerakan di India ini membentuk versi Hinduisme yang monoteistik, berbasis devosi bhakti dan liberalisme, yang "universalistik dan merangkul semua orangAy (King, 1. Menurut analisis Larson . Neo-Hinduisme merupakan sebuah wacana inklusif berbasis modernitas atau hybrid discourse of modernity dengan tiga interpretasi yang berbeda dan kadang saling bertentangan, . ideologi sipil dari Gandhi-Nehru tentang negara yang sekuler, . ideologi hindutva yang cenderung mengidentikkan Hindu dan/atau agama Hindu dengan budaya India, dan . gerakan-gerakan misionaris internasional Hindu yang didirikan oleh para tokoh-tokoh guru yang dipuja dan dihormati atau guru-guru spiritual yang memiliki pusat-pusat di India dan di seluruh dunia. Sayangnya, gerakan-gerakan reformasi Hindu ini, yang telah memungkinkan bertahannya eksistensi agama dan kembalinya filosofi kuno, mendapat perlawanan di Indonesia saat ini (Ulum, 2. Kenyataannya, tanpa adanya reformasi Hindu seperti itu, orang Bali tidak akan mampu mewujudkan AHI (Ramstedt, 2. Salah satu gerakan misionaris tersebut adalah Arya Samaj, yang didirikan oleh Dayananda Sarasvati . 4- https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH . di Mumbai pada tahun 1875. Seorang misionaris dari Arya Samaj. Narendra Dev Pandit Shastri, berkontribusi besar dalam pembentukan AHI melalui tulisan-tulisannya . eperti Dasa Sila Agama Bali pada tahun 1951 dan Intisari Hindu Dharma pada tahun 1. , peran aktifnya dalam kepemimpinan Hindu di Indonesia, dan bahkan dalam pembentukan doa Tri Sandhya (Lanus, 2. Berikut adalah ciri-ciri utama AHI yang menjadikannya sebagai Neo-Hinduisme, serta pembahasannya. Memiliki Formulasi Keyakinan Panca-Sraddha: Agama Hindu tidak mendefinisikan dirinya sendiri atau memberikan batasannya Pada kenyataannya, tidak ada rukun iman atau kepercayaan inti. Menurut Nicholson . , kemurnian agama pada abad keenam belas Masehi di India didefinisikan dengan penerimaan terhadap Veda, bukan pada prinsip atau kepercayaan-kepercayaan tertentu dalamnya. Namun, hanya di Indonesia. Agama Hindu memiliki lima keyakinan dasar yang dikenal sebagai Panca-Sraddha. Memiliki Standar Pemujaan (Seperti Panca-Semba. Doa (Termasuk Tri Sandhy. Dan Tempat Ibadah Spesifik (Pur. Agama Hindu tidak memiliki rangkaian doa/mantra tertentu, dan memiliki banyak jenis upacara/ritual doa. Tempat ibadah Hindu juga tidak harus dengan format tertentu . eperti Tri Mandal. dan tidak dengan istilah tertentu, gaya arsitektur tertentu ataupun altar pemujaan . rca/pratima ataupun Padmasan. Pembuatan standar nasional berdoa bagi umat Hindu dan pemimpin doa Hindu merupakan tindakan NeoHinduisme. Berdasarkan Teologi Dari Aliran Hindu Tertentu: AHI berdasarkan pada ajaran monistik Advaita Vedanta, yang menekankan kesatuan segala manifestasi Tuhan sebagai Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun dalam praktiknya. AHI mendorong devosi atau bhakti sesuai dengan harapan monoteisme (Acri, 2. Mendefinisikan Ulang Konsep/Ajaran Hindu: Lembaga/Majelis para pemimpin Hindu yang menciptakan konsep-konsep untuk menyatukan ajaran Hindu, seperti Tri Hita Karana . irumuskan oleh PHDI pada tahun 1. (Mendra & Watra, 2. dan mendefinisikan kembali konsep-konsep, seperti sistem kasta, untuk menyelesaikannya dengan cita-cita kontemporer dan semangat nasionalisme (Siswadi & Puspadewi, 2. Memformulasikan Penerimaan Umat: Membuat upacara Sudhi Wadani sebagai inisiasi masuk agama Hindu, yang dibutuhkan demi birokrasi negara (McDaniel, 2. Dan mengajak umat dari sukusuku yang belum berafiliasi dengan agama resmi, dari latar belakang adat berbeda, menjadi bagian dari agama Hindu (Ginting & Vignato, 2. Hindu Nusantara dan Misionaris Hindu Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, terdapat tiga jenis utama gerakangerakan Neo-Hinduisme. Tentu saja Larson . dan peneliti-peneliti lainnya mempelajari Neo-Hinduisme dengan konteks India atau gerakan yang berasal dari India. Bila di generalisasi, ketiga kategori yang berbasis pada India ini adalah . sekularisme yang didasarkan pada nilai-nilai Hindu, . nasionalisme Hindu, dan . kegiatan misionaris Hindu. AHI dengan jelas berada diantara . , menjadi bentuk agama Hindu yang nasional dan yang juga dapat merangkul umat baru. AHI Menantang Sampradaya Namun. AHI dengan tegas menolak bentuk-bentuk Neo-Hinduisme lainnya, terutamanya gerakan-gerakan misionaris Hindu yang kini dikenal sebagai sampradaya. Ini adalah organisasi-organisasi seperti Satya Sai Baba (Sai Study Grou. Art of Living https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH (Yayasan Seni Kehidupa. Brahma Kumaris, dan Hare Krishna atau International Society for Krishna Consciousness (ISKCON). Gerakan-gerakan ini berasal dari dan melanjutkan warisan Hindu, meskipun dalam prosesnya mereka mendefinisikannya Oleh karena itu mereka dianggap Neo-Hindu. Organisasi-organisasi tersebut memang benar adalah sampradaya, namun demikian juga semua bentuk agama Hindu lainnya, baik yang kuno maupun yang baru. Kata sampradaya, yang berarti untuk menyerahkan/meneruskan, mirip dengan kata aliran atau mazhab dan oleh karena itu tidak ada bentuk ekspresi keagamaan Hindu yang bukan merupakan sampradaya (Malinar, 2. Agama Hindu di Bali juga merupakan suatu sampradaya, yaitu sampradaya Siwa-Buddha, lengkap dengan teks-teks sucinya sendiri . askah lontar-lontar Siwaagam. , hirarkiya . eperti para sulinggih dan Triwangs. dan guru-guru . eperti Dang Hyang Nirarth. Di pulau Bali sendiri juga terdapat sampradaya yang lain, seperti Mahagotra Pasek, yang juga memiliki metode inisiasi, pustaka dan guru-guru besar mereka sendiri (Howe, 2. Oleh karena setiap perwujudan dari agama Hindu merupakan sampradaya, tidak tepat untuk menyebut organisasi-organisasi misionaris transnasional tersebut sebagainya. Oleh karena mereka didirikan di luar Indonesia dan memiliki anggota dan pemimpin di negara lain, mereka lebih tepat dikenal sebagai organisasi misionaris internasional/transnasional. Salah satu bentuk resmi dari penolakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor SE. 4 Tahun 2023 tentang Larangan Menjadi Pengurus. Anggota. Simpatisan, dan Misionaris Sampradaya bagi Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu. Kementerian Agama. Surat Edaran ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Desember 2023 oleh I Nengah Duija. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu. Kementerian Agama. Ada juga penolakan terhadap sampradaya non-Bali yang dinyatakan dalam pelarangan di tingkat provinsi Bali (Kuckreja, 2. Ancaman Gerakan Sampradaya Namun, berbeda dengan sampradaya Hindu pada umumnya, organisasiorganisasi tersebut memiliki agenda mereka sendiri, yakni untuk meningkatkan jumlah pengikut dan pengaruh mereka. Dalam proses tersebut, seseorang meninggalkan afiliasi pribadi mereka demi identitas yang baru (Haryani, 2. Misalnya, jika seseorang Hindu Jawa menjadi seorang Hare Krishna, ia menjadi penyembah Krishna dan bukan lagi seorang Hindu Jawa. Karena organisasi-organisasi ini dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan identitas baru bagi calon anggota, mereka mengharuskan calon anggota untuk meninggalkan identitas dan afiliasi mereka sebelumnya. Inilah yang membuat organisasi-organisasi misionaris transnasional ini, terutama Hare Krishna, lebih berbahaya daripada yang lain (Fil et al. , 2021. Karapanagiotis, 2. Penciptaan identitas baru, dan meninggalkan identitas lama, mengisolasi anggota tersebut, sampai-sampai mereka menerima sekte tersebut, aturan-aturannya, dan bergantung padanya. Ini yang menyebabkan organisasi misionaris sebagai ancaman bagi identitas suku, dimana adat dan budaya bernaung. Munculnya istilah Hindu Nusantara Kelompok penghayat kepercayaan atau agama leluhur awalnya menerima pengakuan setara dengan agama dunia melalui Ketetapan MPR No. IV/1973. Tetapi, dengan Ketetapan MPR No. IV/1978, agama leluhur dianggap hanya sebagai budaya, bukan agama. Dengan agama leluhur dibudayanisasi, para penganut kepercayaan wajib berafiliasi atau kembali pindah ke salah satu dari agama dunia yang diakui negara (Maarif, 2. Dengan semangat ini, sejumlah masyarakat adat di Indonesia pindah masuk AHI dan menjadi Hindu Nusantara. Menurut & Amiruddin . istilah Hindu https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Nusantara berasal dari masyarakat Hindu Tolotang di Sulawesi Selatan pada tahun 1966. Hindu Nusantara didefinisikan sebagai agama lokal yang menjadi salah satu sekte dari agama yang dilayani oleh negara, yakni agama Hindu (HS & Amiruddin, 2. Tanpa pengakuan dari agama resmi, agama yang dilayani oleh negara, agamaagama asli Indonesia hanya dianggap sebagai aliran kepercayaan. Proses agama leluhur bertransformasi menjadi Hindu Nusantara merupakan Hinduisasi. Seperti masyarakat Tolotang, sejumlah agama leluhur lainnya juga ikut menjadi sekte dalam AHI. Termasuk di dalamnya adalah Tengger di Jawa Timur (Hefner,1. Alukta bagi suku Toraja di Sulawesi (Segara, 2023. Ramstedt, 2. Kaharingan di Kalimantan (Weinstock, 1. Karo di Sumatera Utara (Vignato, 2. Nuaulu di Maluku (Segara & Kuckreja, 2. dan banyak lagi. Misionaris Sampradaya dengan Hindu Nusantara Meskipun Sampradaya dan Hindu Nusantara sama-sama memiliki misi untuk mempertahankan cara keberagamaannya, mereka memiliki pendekatan yang berbeda. Misionaris asing ingin mengajak anggota baru menjadi bagian dari kelompok sekte mereka saja, yang memiliki budaya dan kepercayaan yang sungguh berbeda jauh dari budaya dan kepercayaan awal calon anggota. Sedangkan. Hindu Nusantara berusaha untuk membawa konteks budaya dan kepercayaan umat pribumi ke dalam Hinduisme AHI. Namun, keduanya tetap melakukan kegiatan misionaris dengan memiliki tujuan yang sama untuk memperkenalkan ajaran Hindu dan meningkatkan jumlah pemeluk agama Hindu dari masyarakat yang sebelumnya dari agama/kepercayaan berbeda. Upaya Hindu Nusantara untuk menetapkan budaya dan kepercayaan awal umatnya juga tidak selalu berhasil. Dalam proses asimilasi ini, untuk menjadi agama yang benar dari sebuah kepercayaan adat, maka beberapa aspek dari masyarakat adat pun ditolak, dan beberapa mengalami apa yang saya sebut sebagai Balinisasi. Sebuah contoh tentang apa yang hilang atau disembunyikan dari mata publik . adalah pengorbanan hewan dan prosesi kerasukan umat Hindu Tamil. Contoh lain tentang apa yang disebut Balinisasi adalah kenyataan bahwa pendeta Karo harus belajar agama Hindu di Bali untuk menjadi pemangku dan memimpin pemujaan di Pura dengan model Hindu Bali, diiringi dengan alat musik dan banten atau persembahan khas Bali (Vignato, 2. Balinisasi ini juga dialami oleh suku Nuaulu, yang menolak berdoa di Pura (Segara et al. dan juga oleh Alukta di Tana Toraja (Segara, 2. Hindu Nusantara Sebagai Bentuk Nasionalisme Hindu Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 dan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 2019, penghayat kepercayaan dapat mengisi kolom agama pada dokumen sipil mereka dengan pilihan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menyiratkan bahwa mereka tidak perlu lagi mengadopsi agama untuk kepentingan dokumen sipil (Ceprudin, 2. Dengan demikian, fungsi awal Hindu Nusantara tidak lagi begitu penting, walaupun penghayat kepercayaan tetap mengalami kesulitan dan diskriminasi dalam pelayanan negara (Aryani & Listiani, 2. Masyarakat Nuaulu, misalnya, dianjurkan oleh negara untuk menjadi penghayat saja (Fahham, 2. dan bagi mereka yang memilih menjadi Hindu, sering dipertanyakan afiliasi keagamaan mereka (Segara & Kuckreja, 2. Oleh karena definisi awal Hindu Nusantara tidak lagi begitu relevan bagi masa depan AHI. Hindu Nusantara kini re-branding menjadi bentuk nasional dari agama Hindu. Dari Sekte Agama Ke Bentuk Nasionalisme Hindu Nusantara tidak berbentuk badan hukum terpisah dari Ditjen Bimas Hindu atau PHDI terutamanya pada kelompok PHDI kaum tradisionalis yang terbentuk pada Mahasabha Luar Biasa (MLB) Pura Samuan Tiga pada 2021. Terdapat dokumentasi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH elektronik dimana istilah Hindu Nusantara digunakan oleh Direktur Jenderal (Dirje. Bimas Hindu almarhum I Ketut Widnya sejak September 2016 . erbit di website pada Dalam artikel online terkini. Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija menyatakan pada acara di Nusa Tenggara Timur tanggal 29 Oktober 2022. AuHindu Nusantara adalah Hindu yang berkembang di manapun harus berbasis pada budaya lokal dan tidak lepas dari adat dimana kita berada sebagai bentuk kontribusi kita kepada negara bahwa Hindu tidak pernah punya masalah di tingkat bawah. Ay (Terbitan, 2. Definisi ini berlapis. Yang pertama adalah AuHindu yang berkembangA berbasis pada budaya lokal Indonesia dan tidak lepas dari adat dimana kita berada. Ay Ini lumayan jelas, bahwa Hindu Nusantara adalah Hindu yang berkembang selaras dengan budaya dan adat lokal setempat. Yang kedua adalah Ausebagai bentuk kontribusi kita kepada negaraAy, yang jelas mengungkapkan bahwa Hindu Nusantara bersifat nasionalis. Dan yang ketiga. AuHindu tidak pernah punya masalah di tingkat bawahAy yang sepertinya mengacu kepada kapabilitas Hindu Nusantara untuk menghindari konflik akar rumput yang berdasarkan pada toleransi antar umat beragama dan penerimaan agama formal oleh masyarakat adat. Berdasarkan pernyataan ini dan pernyataan umum lainnya yang dibuat oleh Dirjen Bimas Hindu, peneliti menyimpulkan bahwa mereka mendefinisikan Hindu Nusantara sebagai agama Hindu yang berkembang berbasis pada adat dan budaya lokal setempat, yang terbentuk sebagai kontribusi perdamaian dan pelestarian kearifan lokal kepada negara Indonesia. Tentu saja, definisi tersebut sangat nasionalis dan memang seharusnya demikian karena dinyatakan oleh salah satu kementerian dari pemerintah pusat. Persamaan Hindu Nusantara dengan Islam Nusantara HS & Amiruddin . mencatat beberapa persamaan dalam praktek dan filsafat Islam Nusantara dan Hindu Nusantara, seperti ziarah kubur, pernikahan adat, bayar janji . dan kehormatan pada tokoh adat-agama . aAodzi. Akulturasi yang diperbolehkan Islam Nusantara ini menjalankan adat setempat dan prinsip-prinsip agama Islam demi melestarikan masyarakat Muslim di Indonesia yang berbudaya khas (Husni & Rahman. Ini sesuai dengan alasan yang melandasi gagasan Islam Nusantara dari Nahdlatul Ulama, yaitu polemik Islam Wahabisme dengan Islam sebagaimana ia dipahami dan dijalankan di Indonesia, dan metode dakwah dengan komunikasi dan akulturasi budaya setempat (Hasanah, 2. Seperti halnya Islam Nusantara yang bertujuan untuk menegaskan adat-budaya seseorang atas dominasi Wahabisme. Hindu Nusantara juga mendukung pelestarian budaya asli Indonesia atas adopsi apa yang disebut sebagai ekspresi Hindu India yang lebih unggul, seperti yang disuarakan oleh gerakan-gerakan misionaris transnasional. Maka dari itu. Hindu Nusantara adalah bentuk gerakan kontra . ounter-movemen. dari misi kelompok sampradaya. Suatu gerakan, menurut Tarrow . , adalah penentangan kolektif oleh orang-orang yang memiliki tujuan dan solidaritas yang sama dalam interaksi yang berkelanjutan dengan para elit, lawan, dan pihak berwenang. Sedangkan gerakan kontra, seperti yang didefinisikan oleh Meyer dan Staggenborg . , adalah gerakan yang membuat klaim yang berlawanan serentak dengan klaim gerakan awal. Gerakan awal dimaksud adalah gerakan misionaris transnasional Hindu, dengan misi untuk menegaskan identitas religius berdasarkan ekspresi dan dogma tertentu dari agama Hindu yang berasal dari organisasi internasional yang berpusat di luar Indonesia. Seperti halnya Islam Nusantara yang merupakan metode dakwah dengan budaya. Hindu Nusantara, sebagaimana sudah dijelaskan dalam tulisan ini, mencari definisi baru sejak pengakuan aliran kepercayaan pada dokumen-dokumen sipil. Hindu Nusantara saat ini mewakili ekspresi Hindu di Indonesia yang mampu menerima agama-agama asli dan adat istiadat apa adanya. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Realita dan Masa Depan Hindu Nusantara Kemunculan istilah AuHinduAy dalam bahasa Inggris untuk kedua kalinya dalam sejarah kita berasal dari tulisan John Crawfurd . tentang keberadaan agama Hindu di Bali. Belanda kemudian melakukan studi tentang agama Hindu Bali dan kemudian berupaya melindunginya (Picard, 2. Maka dari itu, penjajah Eropa merupakan pihak yang memperkenalkan dan menerapkan istilah Hindu pada masyarakat Bali. Hindu Nusantara saat ini juga melakukan hal yang sama, menerapkan istilah Hindu pada berbagai etnis. Dalam penerapannya. Hindu Nusantara adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi ekspresi lokal agama Hindu. Hindu Nusantara menjadi istilah induk untuk berbagai suku asli yang telah mengadopsi AHI. Dengan demikian. Hindu Nusantara terdiri dari Hindu Bali. Hindu Jawa. Hindu Kaharingan, dan sebagainya. Jelas bahwa ini adalah kategorisasi berbasis etnis, yang mencampurkan identitas etnis dengan agama Hindu. Sebelum membahas lebih lanjut, sebaiknya pemahaman tentang kemunculan batas-batas etnis/suku ini dipelajari terlebih dahulu. Hindu Nusantara Gerakan Kembali Ke Agama Leluhur? Batas-batas kesukuan atau etnis mulai ditandai dengan jelas sebagai hasil dari sejarah konfrontasi dan/atau keterlibatan dengan suku lainnya (Sider, 1. Beberapa peneliti seperti Kipp dan Rodgers . menyimpulkan bahwa identitas seperti itu sering kali tidak terlalu bersifat leluhur, melainkan lebih bersifat kontemporer, sebuah sistem simbol yang tercipta melalui interaksi antara masyarakat minoritas kecil, tetangga etnis mereka, pemerintah kolonial, pemerintah nasional, dan agama-agama dunia. Islam dan Kristen. Dalam kasus Indonesia. Belanda memainkan peran utama dalam mengkategorikan dan memberi nama kelompok-kelompok etnis dan suku-suku di wilayah kekuasaannya (Beckmann, 1. Pembagian ini terutama dilakukan untuk tujuan mereka sendiri dalam memerintah secara tidak langsung terhadap kelompok masyarakat melalui pemimpin yang ditunjuk (Ruiter, 1. Namun. Indonesia sendiri, terutama melalui Rezim Orde Baru, yang telah mendorong penggunaan keragaman dan hubungan antarbudaya sebagai konsep Indonesia yang bersatu. Dalam proses menciptakan bangsa yang multi-etnis, identitas ras mengalami apa yang disebut John Pemberton . sebagai AuMini-isasiAy yang diambil dari nama taman hiburan Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. Identitas etnis masingmasing digambarkan dengan bahasa, pakaian, rumah adat, makanan, dan lain-lain yang dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan identitas nasional Indonesia yang lebih unggul karena mampu merangkum semua variasi tersebut, menciptakan gambaran persatuan dalam keragaman. Identitas suku dan upaya untuk mempertahankannya muncul sebagai hasil dari interaksi sosial, untuk mempertahankan semacam identitas kelompok yang berada dalam suatu bangsa atau wilayah yang berskala lebih besar. Hal ini mengarah pada politisasi, etnisitas, dan klientelisme untuk menentukan hasil politik (Brown, 1994. Coakley, 2004. Berghyfer & Berghyfer, 2. Namun, perbatasan suku-suku ini yang digunakan oleh Hindu Nusantara. Ini berarti bahwa jika seseorang dilahirkan dalam keluarga Hindu di Bali, mereka harus mengadopsi Hindu Bali. Dengan demikian. Hindu Nusantara menjadi sebuah ethno-religion, yaitu agama yang melekat pada diri seseorang sejak lahir dan ditentukan oleh rasnya. Jika demikian, bukankah Hindu Nusantara gerakan untuk kembali menjadi agama leluhur dan tidak bisa lagi dianggap sebagai agama resmi? Hindu Nusantara Gerakan Anti-India? Keberadaan gerakan-gerakan Hindu dari luar negeri memberikan dampak negatif bagi umat Hindu di Indonesia. Di mana mereka menjadi lebih protektif terhadap adat dan tradisi mereka sendiri hingga menciptakan polemik antara apa yang pengaruh asing dan apa yang merupakan adat pribumi. Karena gerakan sampradaya misionaris berasal dari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH India atau menyebarkan ekspresi Hindu India, umat Hindu di Indonesia bersikap sinis terhadap mereka, menegaskan batas yang tegas di antara apa yang dianggap KeBaliBalian dan menolak apa yang dianggap keIndia-Indiaan (Picard, 2. Masuknya gerakan misionaris Hindu bercorak India dapat dimengerti. Karena orang Bali telah mengubah diri mereka menjadi AHI, orang asing dikelabui untuk percaya bahwa mereka adalah orang Hindu. Padahal pada kenyataannya, orang Bali tidak punya pilihan selain menjadi Hindu. Pada kenyataannya, orang Bali menegaskan identitas Hindu mereka untuk melindungi agama leluhur mereka sendiri, dan tidak memiliki keinginan untuk mengadopsi gerakan Bhakti, ataupun gagasan Neo-Hindu. Para peneliti tulisan ini dapat melihat dengan jelas adanya rasisme terhadap warga Indonesia keturunan India. Hal ini termasuk pertanyaan tentang kesetiaan mereka sejak adanya Surat Edaran Nomor SE. 4 Tahun 2023 Dirjen Bimas Hindu. Sudah ada banyak sentimen negatif terhadap turis India atau siapa pun yang berwajah India di jaringan media sosial, di mana kesalahpahaman antara umat Hindu Bali dan umat Hindu India menjadi viral dan semakin memprovokasi perbedaan. Dan yang terakhir, sudah ada banyak kesalahpahaman tentang apa itu agama Hindu di India, yang mengarah pada anggapan bahwa semua umat Hindu India adalah anggota sampradaya . ihat Gayatri. Kesalahpahaman ini hanya akan memicu permusuhan lebih lanjut, terutama karena gagasan tentang Hindu Nusantara telah menciptakan dikotomi antara Hindu pribumi dan Hindu asing. Hindu Nusantara Balinisasi dan Hinduisasi? Peristiwa situasi politik pada tahun 1965 yang mengharuskan masyarakat adat untuk memilih agama. Hal ini mendasari perluasan AHI dan Hindu Nusantara. Jika agama ini sanggup mengubah adat Bali menjadi agama resmi, maka mungkin agama ini dapat melakukan hal yang sama pada kepercayaan asli Indonesia lainnya. Upaya semacam itu terjadi di Sumatera Utara dengan masyarakat Karo (Ginting, 2. dan juga di Kalimantan (Schiller, 1. Namun, karena AHI diciptakan oleh masyarakat Bali untuk mewadahi adat Bali, secara alami. AHI sudah menjadi suatu entitas keBalian. Balinisasi merupakan ancaman serius bagi ekspresi adat AHI lainnya. Namun, yang juga sangat mungkin terjadi adalah keluarnya agama Bali dari AHI. Ketika aliran kepercayaan mendapatkan visibilitas dan penerimaan, agama leluhur tergoda untuk memilih alternatif Ini termasuk Agama Bali yang juga dikenal sebagai Agama Tirtha, yang dapat melepaskan diri sepenuhnya dari istilah Hindu untuk menghindari keterkaitan dan pengaruh India. Kesimpulan Dalam mencari definisi Hindu Nusantara, butuh dipahami bahwa terdapat perbedaan antara agama Hindu historis, perpaduan Siwa-Buddha dengan adat sebagai Hindu Jawa-Bali, dan dengan Agama Hindu Indonesia (AHI), yang merupakan formalisasi agama Hindu demi pengakuan negara. AHI ini merupakan Neo-Hinduisme, pendefinisian ulang agama Hindu sebagai agama monoteistik yang universal. Organisasi dan ekspresi Neo-Hindu lainnya sebagian besar berasal dari India, di mana ia membentuk nasionalisme, ideologi politik, kultus spiritual, dan juga gerakan misionaris. Namun. AHI menentang keberadaan kelompok-kelompok Neo-Hindu lainnya di wilayahnya, menggugat gerakan misionaris asing sebagai upaya pemberantasan budaya tradisional Indonesia. Pada saat yang sama. AHI memperluas pengaruhnya di luar Bali-Jawa dan merangkul agama-agama leluhur lainnya di penjuru negeri. Dalam proses menerapkan AHI, agama leluhur mengalami Hinduisasi, transformasi adat dan tradisi sebagai agama dunia yang asing bagi mereka. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Bentuk-bentuk pribumi dari agama Hindu ini disebut sebagai Hindu Nusantara, yang menjadi salah satu sekte pada AHI yang nasional. Hinduisasi macam ini oleh AHI berarti bahwa Hindu Nusantara juga merupakan gerakan misionaris. Dengan pengakuan agama leluhur sebagai penghayat aliran kepercayaan pada tahun 2019. Hinduisasi tidak lagi dibutuhkan oleh masyarakat adat. Oleh karena itu. Hindu Nusantara menjelma menjadi suatu bentuk nasionalisme Hindu, melawan gerakan misionaris Hindu asing yang semakin gencar. Dengan demikian. Hindu Nusantara tidak jauh berbeda dengan Islam Nusantara yang juga merupakan metode untuk mempertahankan dan memanfaatkan ekspresi unik Islam di Indonesia melawan gagasan Wahabisme. Sangat penting untuk memperhatikan perkembangan Hindu Nusantara dan dampaknya terhadap masyarakat Indonesia di masa depan. Mengingat bahwa Hindu Nusantara muncul melalui transformasi agama leluhur sebagai bagian dari agama Hindu, agama ini menggabungkan identitas ras dan agama. Dengan demikian. Hindu Nusantara mengubah agama leluhur menjadi bentuk Hinduisme milik suku tertentu, sehingga mengembalikannya menjadi agama leluhur yang berbasis pada ras seseorang. Indigenisasi agama Hindu ini telah membedakannya dengan agama Hindu India yang dikenal di seluruh dunia. Hal ini membentuk polemik antara Hindu Nusantara dan Hindu India, yang meningkatkan permusuhan antara orang Hindu Indonesia dan India. Yang terakhir, pengaruh AHI dan Hindu Nusantara meningkatkan kemungkinan Balinisasi menyebar ke seluruh negeri, mengingat mayoritas umat Hindu di Indonesia berasal dari Bali. Pada saat yang sama, di Bali, ada kemungkinan masyarakat Bali ingin memisahkan praktik adat mereka dari agama Hindu arus utama dan menetapkan agama mereka sendiri yang berbeda, seiring dengan pengakuan dan penerimaan aliran kepercayaan yang terus meningkat. Fenomena Hindu Nusantara dengan jelas menunjukkan bahwa gerakan-gerakan dalam agama Hindu Indonesia tidak selalu dipikirkan dengan matang, dan justru merupakan sekadar reaksi tanpa adanya pertimbangan, kajian, dan pencermatan yang mendalam. Daftar Pustaka