Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. No. DOI: https://doi. org/10. 47731/jipm. Edukasi Moderasi Beragama untuk Mencegah Radikalisme Pada Santri Ludfi1. Qurrotul Aini2. Sitti Fatimah3 STAI Al Mujtama. Pamekasan. Indonesia12. STAI Al Falah. Pamekasan. Indonesia3 Email correspondence: ludfidhofir99@stai-almujtama. Kata kunci: Moderasi beragama, radikalisme, santri, pesantren, pengabdian Diterima: 2025-11-26 Direvisi: 2025-11-14 Terbit: 2025-12-20 Abstrak: Radikalisme agama menjadi ancaman serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Santri sebagai generasi penerus umat Islam perlu mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang moderasi beragama untuk mencegah infiltrasi paham radikal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi moderasi beragama kepada santri di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kabupaten Bangkalan sebagai upaya preventif terhadap radikalisme. Metode pelaksanaan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan studi kasus dengan melibatkan 75 santri tingkat aliyah. Materi yang disampaikan mencakup konsep moderasi beragama . , bahaya radikalisme. Islam rahmatan lil alamin, toleransi beragama, dan peran santri dalam menjaga harmoni sosial. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman santri tentang moderasi beragama dari rata-rata skor 65,3 menjadi 84,7 berdasarkan pre-test dan post-test. Santri mampu mengidentifikasi ciriciri paham radikal dan memahami pentingnya sikap moderat dalam Evaluasi kegiatan menunjukkan tingkat kepuasan peserta mencapai 88% dengan kategori sangat baik. Kegiatan ini memberikan kontribusi signifikan dalam membangun kesadaran santri akan pentingnya moderasi beragama sebagai benteng pencegahan radikalisme di lingkungan pesantren. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menghadapi tantangan kompleks dalam menjaga kerukunan beragama di tengah maraknya fenomena Radikalisme agama tidak hanya mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam yang mengajarkan perdamaian dan toleransi (Maarif, 2. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan ketika infiltrasi paham radikal mulai menyasar generasi muda, termasuk santri di berbagai pesantren. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan pemahaman keagamaan santri. Namun, perkembangan teknologi informasi dan kemudahan akses internet membuka celah bagi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Copyright A 2025 Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ludfi et al. penyebaran paham radikal melalui media sosial dan platform digital lainnya (Hilmy, 2. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menunjukkan bahwa sejumlah pelaku tindak terorisme di Indonesia merupakan generasi muda yang terpapar ideologi radikal melalui internet dan kelompok pengajian eksklusif. Moderasi beragama atau wasathiyah dalam Islam merupakan konsep yang mengajarkan sikap seimbang, adil, dan toleran dalam beragama tanpa berlebih-lebihan (Shihab, 2. Konsep ini menjadi sangat relevan sebagai antitesis dari paham ekstremisme dan radikalisme yang cenderung rigid dan eksklusif. Kementerian Agama Republik Indonesia telah menjadikan moderasi beragama sebagai program prioritas untuk memperkuat harmoni sosial dan mencegah konflik berbasis agama. Pondok Pesantren Al-Hidayah di Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang menampung santri dari berbagai daerah. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa pemahaman santri tentang moderasi beragama masih terbatas dan rentan terhadap pengaruh paham-paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam Nusantara. Hal ini mendorong perlunya intervensi edukatif yang sistematis untuk membekali santri dengan pemahaman yang utuh tentang moderasi beragama. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan pentingnya edukasi moderasi beragama di lingkungan pesantren. Penelitian Aziz . menemukan bahwa program pendidikan moderasi beragama efektif meningkatkan sikap toleransi santri terhadap perbedaan. Sementara itu, studi Hidayat dan Putri . menegaskan bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai basis penguatan moderasi beragama jika didukung dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang tepat. Namun, implementasi program edukasi moderasi beragama yang komprehensif dan terukur masih terbatas dilakukan. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi moderasi beragama kepada santri sebagai upaya pencegahan Tujuan khusus kegiatan meliputi meningkatkan pemahaman santri tentang konsep moderasi beragama, mengenalkan bahaya radikalisme dan dampaknya, membangun kesadaran santri akan pentingnya toleransi beragama, serta menumbuhkan sikap kritis terhadap paham-paham ekstrem. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan pesantren dan menjadi model bagi kegiatan serupa di tempat lain. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kabupaten Bangkalan pada bulan September 2025. Peserta kegiatan adalah santri tingkat aliyah kelas X. XI, dan XII yang berjumlah 75 orang, terdiri dari 42 santri putra dan 33 santri Pemilihan peserta didasarkan pada pertimbangan bahwa santri tingkat aliyah berada Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 2 Ludfi et al. pada usia remaja akhir yang merupakan masa kritis dalam pembentukan identitas dan pemahaman keagamaan. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dengan kombinasi beberapa teknik pembelajaran. Tahap pertama adalah ceramah interaktif yang disampaikan oleh narasumber berkompeten di bidang studi Islam dan moderasi beragama. Materi ceramah mencakup hakikat moderasi beragama dalam perspektif Al-Quran dan Hadis, prinsip wasathiyah dalam Islam, sejarah Islam Nusantara yang moderat, bahaya radikalisme dan ekstremisme, serta peran santri sebagai agen perdamaian. Ceramah dirancang secara dialogis untuk memberikan kesempatan kepada santri mengajukan pertanyaan dan Tahap kedua adalah diskusi kelompok terfokus yang membagi peserta menjadi 10 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan 7-8 santri. Setiap kelompok diberikan studi kasus terkait fenomena radikalisme dan diminta menganalisis dari perspektif moderasi beragama. Fasilitator mendampingi setiap kelompok untuk memastikan diskusi berjalan produktif dan terarah. Metode ini bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis santri dalam mengidentifikasi dan merespons isu-isu radikalisme. Tahap ketiga adalah simulasi dan role play dimana santri diminta memerankan situasi yang menggambarkan sikap moderat dan ekstrem dalam beragama. Melalui metode ini, santri dapat merasakan langsung dampak dari kedua sikap tersebut terhadap hubungan sosial dan Setiap simulasi diikuti dengan refleksi bersama untuk mengidentifikasi pelajaran yang dapat diambil. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui tiga instrumen. Pertama, pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman santri tentang moderasi beragama. Instrumen tes terdiri dari 20 soal pilihan ganda yang telah divalidasi. Kedua, lembar observasi untuk mencatat partisipasi dan antusiasme santri selama kegiatan. Ketiga, kuesioner kepuasan peserta yang mengukur aspek materi, metode penyampaian, narasumber, dan fasilitas kegiatan menggunakan skala Likert 1-5. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk menggambarkan hasil kegiatan. Perbandingan skor pre-test dan post-test menggunakan uji paired t-test untuk mengetahui signifikansi peningkatan pemahaman santri. Data kualitatif dari observasi dan masukan peserta dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperbaiki pada kegiatan serupa di masa mendatang. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan edukasi moderasi beragama dilaksanakan selama dua hari dengan total waktu 16 jam pembelajaran. Pelaksanaan kegiatan mendapat respons positif dari pengurus pesantren, ustadz, dan para santri. Antusiasme peserta terlihat dari tingkat kehadiran yang Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 3 Ludfi et al. mencapai 100% dan partisipasi aktif dalam setiap sesi kegiatan. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pemahaman awal santri tentang moderasi beragama masih berada pada kategori sedang dengan rata-rata skor 65,3 dari skala 100. Banyak santri yang belum memahami secara utuh konsep wasathiyah dan cenderung memandang toleransi beragama sebagai bentuk kompromi terhadap akidah. Sesi ceramah interaktif yang disampaikan oleh narasumber memberikan pencerahan kepada santri tentang landasan moderasi beragama dalam Al-Quran dan Hadis. Narasumber menjelaskan bahwa Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 143 yang menyebutkan umat Islam sebagai ummatan wasathan atau umat yang moderat. Konsep ini bukan berarti lemah dalam beragama, melainkan sikap yang seimbang, tidak berlebihan, dan menjunjung tinggi keadilan. Santri juga dikenalkan dengan sejarah penyebaran Islam di Nusantara yang dilakukan dengan pendekatan damai dan akomodatif terhadap budaya lokal, berbeda dengan narasi kelompok radikal yang menyerukan kekerasan. Materi tentang bahaya radikalisme membuka wawasan santri tentang dampak destruktif dari paham ekstrem. Narasumber menyampaikan fakta-fakta terkait aksi terorisme di Indonesia yang mengatasnamakan agama namun justru merusak citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Santri diajak memahami bahwa radikalisme bertentangan dengan maqashid syariah yang bertujuan menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Data menunjukkan bahwa 87% santri setelah mengikuti ceramah menyatakan lebih memahami bagaimana kelompok radikal memanipulasi teks agama untuk kepentingan ideologi mereka. Diskusi kelompok menghasilkan dinamika pembelajaran yang sangat produktif. Setiap kelompok diberikan studi kasus berbeda, seperti kasus penolakan rumah ibadah, konflik antarumat beragama, hingga fenomena intoleransi di media sosial. Santri menunjukkan kemampuan analitis yang baik dalam mengidentifikasi akar masalah dan menawarkan solusi berdasarkan prinsip moderasi beragama. Salah satu kelompok menyampaikan bahwa dialog dan pendekatan persuasif lebih efektif dalam menyelesaikan konflik dibandingkan dengan cara-cara konfrontatif. Kelompok lain menekankan pentingnya memahami konteks sosialbudaya dalam menerapkan ajaran agama agar tidak menimbulkan gesekan dengan Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 4 Ludfi et al. Dokumentasi peserta mengikuti kegiatan pelatihan Metode simulasi dan role play memberikan pengalaman belajar yang berkesan bagi Dalam salah satu simulasi, santri diminta memerankan dua kelompok dengan sikap yang berbeda dalam merespons perbedaan pendapat keagamaan. Kelompok pertama menampilkan sikap inklusif dan menghargai perbedaan, sementara kelompok kedua memperlihatkan sikap eksklusif dan mudah mengkafirkan. Melalui refleksi setelah simulasi, santri menyadari bahwa sikap moderat menciptakan harmoni dan persaudaraan, sedangkan sikap ekstrem hanya melahirkan perpecahan dan permusuhan. Pembelajaran experiential ini sangat efektif karena santri tidak hanya memahami secara kognitif tetapi juga merasakan secara emosional dampak dari setiap sikap. Hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan dengan rata-rata skor mencapai 84,7. Uji statistik paired t-test menghasilkan nilai p < 0,001 yang menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman santri sangat signifikan secara statistik. Aspek yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah kemampuan santri dalam mengidentifikasi ciri-ciri paham radikal . eningkatan 32%), pemahaman tentang toleransi beragama dalam Islam . eningkatan 28%), dan kesadaran akan bahaya ekstremisme . eningkatan 25%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Wahid dan Ismail . yang menemukan bahwa pendidikan moderasi beragama yang interaktif dan kontekstual lebih efektif meningkatkan pemahaman dibandingkan metode konvensional. Evaluasi kepuasan peserta menunjukkan hasil yang sangat positif. Sebanyak 88% santri menyatakan sangat puas dengan materi yang disampaikan, 85% menilai metode pembelajaran sangat menarik dan mudah dipahami, serta 90% merekomendasikan agar kegiatan serupa dilakukan secara berkala. Santri mengapresiasi pendekatan yang tidak menggurui namun dialogis dan menghargai perspektif mereka. Beberapa santri menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka perspektif baru tentang cara beragama yang santun namun tetap berprinsip. Pengurus pesantren memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini dan menyatakan komitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam kurikulum Ustadz yang mendampingi kegiatan juga menyampaikan bahwa materi ini sangat Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 5 Ludfi et al. relevan dengan kondisi saat ini dimana santri terpapar berbagai informasi dari internet yang tidak terfilter. Mereka berharap ada tindak lanjut berupa pelatihan untuk para ustadz agar dapat terus menanamkan nilai-nilai moderasi dalam pembelajaran sehari-hari. Keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung. Pertama, dukungan penuh dari pimpinan pesantren yang memberikan waktu khusus dan memfasilitasi kegiatan dengan baik. Kedua, pemilihan narasumber yang kompeten dan mampu menyampaikan materi dengan bahasa yang mudah dipahami santri. Ketiga, metode pembelajaran yang variatif sehingga tidak membosankan dan memaksimalkan partisipasi Keempat, suasana pesantren yang kondusif dan santri yang memiliki motivasi belajar Namun demikian, kegiatan ini juga menghadapi beberapa tantangan. Waktu pelaksanaan yang terbatas membuat beberapa materi tidak dapat dibahas secara mendalam. Keterbatasan sarana teknologi juga menghambat rencana untuk menampilkan video edukatif yang lebih banyak. Selain itu, heterogenitas latar belakang pendidikan santri membuat tingkat pemahaman awal mereka bervariasi, sehingga memerlukan penyesuaian kecepatan penyampaian materi. Hal-hal ini menjadi catatan untuk perbaikan kegiatan serupa di masa Implikasi jangka panjang dari kegiatan ini diharapkan dapat membentuk karakter santri yang moderat, toleran, namun tetap teguh pada prinsip keislaman. Santri yang memahami moderasi beragama akan menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat dan benteng terhadap infiltrasi paham radikal. Sebagaimana dikemukakan oleh Nasution . , santri yang mendapat pendidikan moderasi beragama memiliki kemampuan lebih baik dalam menavigasi pluralitas dan menjaga harmoni sosial. Kegiatan ini juga berkontribusi pada upaya deradikalisasi preventif yang menjadi prioritas nasional dalam menjaga keutuhan NKRI. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi moderasi beragama untuk mencegah radikalisme pada santri di Pondok Pesantren Al-Hidayah Kabupaten Bangkalan telah terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan. Peningkatan pemahaman santri tentang moderasi beragama sangat signifikan, ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata skor dari 65,3 menjadi 84,7. Santri mampu mengidentifikasi ciri-ciri paham radikal, memahami pentingnya toleransi dalam kerangka ajaran Islam, dan menyadari peran mereka sebagai agen perdamaian di masyarakat. Metode pembelajaran yang partisipatif dan variatif terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan mengubah sikap santri. Kombinasi ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi memberikan pengalaman belajar yang komprehensif baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Tingkat kepuasan peserta yang mencapai 88% Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Vol. No. | 6 Ludfi et al. menunjukkan bahwa kegiatan ini diterima dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi Keberhasilan kegiatan ini memberikan beberapa rekomendasi untuk pengembangan program serupa. Pertama, perlu dilakukan kegiatan lanjutan secara berkala untuk memperkuat dan mempertahankan pemahaman santri tentang moderasi beragama. Kedua, materi moderasi beragama sebaiknya diintegrasikan dalam kurikulum pesantren sebagai bagian dari pembelajaran reguler. Ketiga, perlu dilakukan pelatihan bagi para ustadz dan pengasuh pesantren agar mereka dapat menjadi role model dan fasilitator moderasi beragama. Keempat, perlu dikembangkan modul atau bahan ajar moderasi beragama yang kontekstual dengan kehidupan santri. Kelima, kegiatan serupa perlu diperluas ke pesantren-pesantren lain sebagai upaya deradikalisasi preventif yang sistematis dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini membuktikan bahwa pendidikan moderasi beragama merupakan strategi efektif dalam mencegah radikalisme di kalangan santri. Dengan pemahaman yang benar tentang wasathiyah dan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, santri akan menjadi generasi yang tidak hanya saleh secara individual tetapi juga berkontribusi positif dalam membangun masyarakat yang harmonis dan toleran. Pesantren sebagai basis pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada para santri sebagai investasi masa depan bangsa. DAFTAR PUSTAKA