Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia Mutiara Syaharani Hapsari Universitas Brawijaya mutiarash@student. Syawalya Azzukhruf Fairuz Universitas Brawijaya azzukhruf@student. Shazarina Safira Sofyan Universitas Brawijaya shazarinasfra94@student. Ni Putu Dhyana Arinawati Sudarsana Universitas Brawijaya Putudhyana@student. Jalalludin Muhammad Akbar Universitas Brawijaya jalalludinakbar@student. Keywords: Wildlife Trade. Orangutan. Non Governmental Organization Perdagangan Satwa Liar. Orangutan. Organisasi Nonprofi. Abstract The hunting and trading of wildlife are the result of demand from certain individuals, causing a continuous decline in the population of endangered species in Indonesia. The trade-in wildlife constitutes an illegal activity that violates the rights of animals. The cases of wildlife trade ultimately impact the number of orangutans in Kalimantan. Indonesia. The emergence of nonprofit organizations provides new hope for the lives of endangered species such as orangutans. They strive to create programs as innovations that can be implemented in the long term. The data collection method used in this research involves literature studies or literature reviews associated with the concepts of deep ecology and social greens. The researcher also examines the use of information technology by the BOS Foundation in efforts to reduce the trafficking of orangutans through education and campaigns conducted on the social media platform Instagram. These activities involve the community to ensure the current population of orangutans is preserved and protected from illegal hunting for trade. Local communities directly interacting with the forest contribute to the conservation of orangutans and the environment by safeguarding ecosystems and natural resources. Efforts are not only at the local level but are also connected nationally and internationally. The broader community is always needed as agents of change in conservation efforts, and orangutans are a key species for maintaining ecological balance. These findings can serve 127 | Brawijaya Journal of Social Science as a foundation for other nonprofit organizations to develop strategies for addressing existing social environmental issues. Abstrak Vol. No. 2, 2025 DOI: https://doi. org/10 21776/ub. Submitted: 2023-1219 Accepted:2024-05-14 Perburuan dan perdagangan satwa liar adalah akibat dari permintaan oknum-oknum tertentu yang menjadi penyebab spesies satwa langka di Indonesia terus berkurang. Perdagangan satwa liar merupakan bentuk kejahatan ilegal yang melanggar hakhak satwa. Kasus perdagangan satwa liar akhirnya berdampak pada jumlah orangutan yang ada di Kalimantan. Indonesia. Kemunculan organisasi nonprofit menjadi harapan baru bagi kehidupan satwa langka seperti orangutan. Mereka mencoba membuat program-program sebagai inovasi yang kiranya dapat dilakukan dalam jangka panjang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan studi literatur yang dikaitkan dengan konsep deep ecology dan social green. Peneliti juga mencoba menilik dari segi teknologi informasi yang dimanfaatkan oleh BOS Foundation dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan dengan cara edukasi dan kampanye yang dilakukan di media sosial Instagram. Kegiatan tersebut turut melibatkan masyarakat agar populasi orangutan yang ada sekarang ini tetap terjaga dan terhindar dari perburuan liar untuk Masyarakat setempat yang secara langsung berinteraksi dengan hutan, pun ikut melestarikan orangutan dan lingkungan dengan melindungi ekosistem serta sumber daya alam. Tidak hanya di tingkat lokal, usaha yang dilakukan juga terhubung dengan skala nasional dan internasional. Masyarakat luas selalu dibutuhkan sebagai agen perubahan dari upaya konservasi dan orangutan adalah spesies kunci bagi keseimbangan alam. Temuan ini dapat menjadi landasan bagi organisasi nonprofit lain untuk membuat strategi dalam mengatasi permasalahan sosial lingkungan yang ada. Pendahuluan Orangutan biasanya diburu untuk diambil organnya, dijual, dan dipelihara oleh orang-orang tertentu (Nazif, et al. , 2. Oleh karena itu, usaha penyelamatan orangutan penting dilakukan karena mereka adalah spesies utama bagi ekosistem Kekhawatiran masyarakat Indonesia akan kepunahan satwa di Indonesia, utamanya orangutan di Kalimantan menginisiasi organisasi nirlaba BOS Foundation membuat program di bidang edukasi dan konservasi. BOS Foundation bekerja sama dengan masyarakat Kalimantan, pemerintah Indonesia, dan masyarakat Hal ini dapat dilihat dari berbagai program yang mereka buat salah satunya adalah pengembangan dan pendidikan masyarakat berkelanjutan dimana hal ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dari program tersebut, beberapa program sudah berlangsung hingga saat ini seperti Orangutan Goes to School. Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . kampanye penyadartahuan, ajang terbuka bagi publik, seminar pelatihan, lokakarya, dan pameran. BOS Foundation tidak hanya melakukan program tersebut secara langsung di lingkungan masyarakat, tetapi juga menggunakan berbagai media seperti media sosial Instagram. Dalam akun Instagram @bosfoundation, mereka menampilkan visual yang menarik berupa foto maupun video tentang orangutan. Saat ini, media sosial terutama Instagram dapat menyebarkan informasi serta pesan dengan cepat dan efisien. Apalagi, saat ini banyak anak muda hingga orang tua yang menggunakan Instagram sebagai sarana hiburan, mendapatkan informasi, dan Berdasarkan hasil survei Indonesian Digital Report 2020 yang dilakukan oleh Hootsuite (We are Socia. total jumlah pengguna Instagram di Indonesia hingga tahun 2020 berjumlah 63 juta jiwa (Nevyra, et al. , 2. Tentunya hal ini menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan oleh organisasi nonprofit yakni Bos Foundation untuk kepentingan kampanye dan edukasi guna mengurangi perdagangan satwa liar di Indonesia. Sebelumnya, terdapat penelitian serupa seperti yang ditulis oleh Guntur dan Slamet . berjudul AuKajian Kriminologi Perdagangan Ilegal Satwa LiarAy berfokus pada kajian isu hukum dan faktor-faktor penyebab terjadinya perdagangan satwa liar hingga upaya penanggulangannya. Tulisan ini juga menjelaskan terkait adanya kesenjangan serta tantangan dalam usaha penegakan hukum perdagangan satwa liar seperti deteksi dan pelaporan, penangkapan dan penahanan pelaku, serta cakupan hukum. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data melalui penelitian lapangan yang dihubungkan dengan teori, asas, serta kaidah hukum yang diperoleh penulis dari studi literatur. Adapun hasil dari penelitian tersebut meliputi advokasi dan upaya penegakan hukum dari pemerintah serta pelibatan masyarakat dan pihak-pihak lain seperti LSM (Lembaga Swadaya Masyaraka. Jurnal selanjutnya ditulis pada tahun 2021 dengan judul AuStrategi Indonesia dan WWF dalam Menanggulangi Perdagangan Ilegal Trenggiling ke TiongkokAy. Penelitian ini dilakukan oleh Saragih dan Ali yang bertujuan untuk menggambarkan terkait strategi kerjasama pemerintah Indonesia dengan World Wide Fund for Nature (WWF) sebagai upaya penanggulangan kasus perdagangan satwa liar di Indonesia sepanjang tahun 2017Ae 2020. Dalam penelitian ini, dijelaskan bahwa strategi yang digunakan sebagai kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan WWF adalah melalui program Wildlife Crime Team Indonesia. Adapun kerangka teoritis yang digunakan dalam penelitian ini ialah International Non-Governmental Organization (INGOAoS) serta konsep kerjasama internasional dan Wildlife Crime (Kejahatan Satwa Lia. Selain itu, terdapat pula evaluasi atas program Wildlife Crime Team Indonesia dalam proses penanggulangan perdagangan satwa liar dalam segi pengontrolan kasus dalam jaringan internet. Penelitian terdahulu lainnya memiliki fokus yang hampir sama dengan penelitian Peran Organisasi Nirlaba AuBOS FoundationAy dalam upaya Penekanan Angka Perdagangan Orangutan di Indonesia yaitu pengkajian strategi penanggulangan kasus perdagangan 129 | Brawijaya Journal of Social Science satwa liar di Indonesia. Selain itu, kedua tulisan tersebut juga membahas terkait peran masyarakat serta pentingnya bentuk kerjasama antara pemerintah dengan lembaga masyarakat, baik nasional maupun internasional untuk menekan angka perdagangan satwa liar di Indonesia. Di samping itu, terdapat perbedaan di antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini, yakni kajian hukum yang mendalam yang terdapat pada jurnal pertama serta hubungan kerja internasional yang dikaji dalam jurnal kedua. Pada penelitian ini, penulis lebih berfokus pada pengkajian aspek sosial serta fungsi media dan pelibatan masyarakat lokal dalam upaya penanggulangan kasus perdagangan satwa liar. Demikian penelitian ini memiliki pembaharuan berupa pembahasan mendetail terkait organisasi nirlaba atau Non- Governmental Organization (NGO) yang berperan penting dalam proses kampanye anti perdagangan satwa liar melalui media digital dan media sosial untuk menjangkau cakupan secara lebih luas. Penelitian ini juga memusatkan pembahasan pada satwa orangutan karena orangutan merupakan fauna khas Indonesia, tepatnya Pulau Kalimantan. Orangutan Kalimantan juga merupakan satwa yang dilindungi sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 106 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20/MENLHK/SETJEN/KUM. 1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Meski dilindungi, kasus perburuan dan perdagangan orangutan secara ilegal masih sering terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Maka dari itu, peneliti memusatkan tulisan ini pada perdagangan satwa orangutan secara ilegal beserta strategi NGO, yaitu BOS Foundation untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta memahami bagaimana peran organisasi nirlaba dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan di Indonesia. Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana melalui gerakan tersebut, apakah kampanye yang dilakukan pada akun media sosial yang dilakukan oleh gerakan ini memiliki dampak sosial untuk perlindungan satwa Lalu, dalam penelitian ini akan dilihat bagaimana organisasi nirlaba memberikan peran dalam upaya perlindungan satwa dengan menggunakan visualisasi konten Instagram. Melalui hal tersebut juga akan dilihat bagaimana efektifitas keterlibatan aktor-aktor dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan di Indonesia. Manfaat dalam penelitian ini ialah untuk menjadi salah satu bahan pertimbangan evaluasi bagi organisasi perlindungan hewan dalam gerakan perlindungan Selain itu, juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pada pentingnya perlindungan hewan. Organisasi nirlaba memegang peran krusial dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan di Indonesia melalui pendekatan holistik yang mencakup pencegahan, konservasi habitat, penegakan hukum, dan keterlibatan masyarakat. Para ahli percaya bahwa organisasi nirlaba harus memfokuskan upaya mereka pada pencegahan, termasuk pendidikan masyarakat tentang konsekuensi negatif Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . perdagangan orangutan. Baik untuk kesehatan ekosistem maupun kesejahteraan hewan atau menyoroti pentingnya organisasi nirlaba dalam melindungi habitat alami Upaya untuk mempertahankan ekosistem yang utuh dapat mengurangi insentif bagi perdagangan orangutan dan mendorong konservasi secara menyeluruh. Kemudian, mengakui bahwa keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat lokal oleh organisasi nirlaba dapat membantu mengurangi tekanan terhadap orangutan. Melibatkan komunitas dalam upaya konservasi dapat menciptakan solusi berkelanjutan, serta menilai pentingnya peran organisasi nirlaba dalam mendukung penegakan hukum yang lebih ketat dan pembentukan kebijakan yang mendukung perlindungan orangutan dan hutan mereka. Hipotesis ini mencerminkan pemahaman para ahli terhadap pentingnya peran organisasi nirlaba dalam upaya penekanan perdagangan orangutan dengan mengadopsi pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Metode Penelitian Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif diartikan sebagai penelitian yang menurut Sutopo dan Arief, 2010 dalam Raihan . , mengenai penelitian kualitatif yaitu: . melakukan kajian deskriptif dan analisis atas fenomena, aktivitas sosial, peristiwa, sikap, dan pemikiran individu maupun kelompok, . proses dalam kegiatannya terencana dalam hal mengumpulkan data yang terkait dengan responden atau informan terhadap kehidupannya yang cenderung majemuk dan berbeda-beda, . bersifat menggambarkan, menjelaskan, dan mengungkapkan suatu fenomena. Penelitian yang berjenis kualitatif deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan suatu fenomena, menjelaskan sebuah keadaan serta cenderung meringkaskan berbagai kondisi atau variabel. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan secara akurat mengenai realitas serta terhubung antara fenomena satu dengan fenomena lain yang diteliti. Tujuan peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana peran organisasi nirlaba dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan di Indonesia. Metode pengumpulan data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan studi literatur. Studi literatur merupakan penjabaran mengenai suatu teori, temuan, atau penemuan dalam fenomena lainnya dalam bahan penelitian yang didapatkan dari suatu bahan acuan lalu kemudian dijadikan sebagai landasan kegiatan penelitian (Mahaputra, 2. Dalam penelitian ini, studi literatur digunakan untuk memperoleh data maupun informasi dengan cara mendalami jurnal, website terkait, serta dokumen lainnya dalam lima tahun terakhir yang berhubungan dengan topik yang sedang Dalam pengumpulan data menggunakan studi literatur, penulis akan memproses pencarian data dengan membaca serta mendalami data sekunder yaitu website BOS Foundation, jurnal dan artikel terkait serta media sosial yang telah ditentukan mengenai peran organisasi nirlaba dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan di 131 | Brawijaya Journal of Social Science Indonesia. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kualitatif sehingga penelitian ini dianalisis secara deskriptif analitik. Data yang telah dikumpulkan dan didapatkan selanjutnya akan disusun secara sistematis ke dalam bab-bab dengan tujuan memudahkan pembaca dalam memahami penelitian mengenai peran organisasi nirlaba dalam upaya penekanan angka perdagangan orangutan di Indonesia. Dengan menggunakan teknik pengumpulan data studi literatur, peneliti tidak terjun langsung ke lapangan untuk pengambilan data. 1 Kajian Teoritis 1 Perdagangan Satwa Liar Perburuan dan perdagangan satwa liar sebagai akibat dari permintaan oknumoknum tertentu menjadi penyebab spesies satwa langka di Indonesia terus berkurang. Perdagangan satwa liar merupakan bentuk kejahatan ilegal yang melanggar hak-hak Praktek perdagangan satwa liar terdiri dari proses perburuan, pengangkutan, penyiksaan, pengiriman, pemindahtanganan, penampungan, dan penerimaan satwa untuk dieksploitasi. Dalam hal ini, manusia telah menjadi aktor dari perdagangan satwa liar dan merupakan ancaman bagi satwa langka yang kini tengah hidup di alam. Secara komersial, profit yang didapatkan dari perdagangan satwa liar meraup keuntungan sangat besar sehingga para pemburu termotivasi dan bersaing untuk memburu satwa yang dilindungi (Prasetyo, et al. , 2. Besarnya keuntungan tersebut disebabkan oleh proses mendapatkan satwa langka yang sangat sulit dan mereka memiliki nilai ekonomi cukup tinggi sehingga diperjualbelikan. Perdagangan satwa liar yang mendorong kepunahan satwa endemik di Indonesia dikategorikan sebagai suatu kejahatan serius dan termasuk tindak pidana. Hal ini dikarenakan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya telah melarang setiap orang untuk menangkap serta memperjualbelikan satwa yang dilindungi (Hanim, et al. , 2. Faktor penyebab terjadinya perdagangan satwa liar dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi dan lingkungan. Dalam faktor ekonomi, harga adalah poin utama yang memainkan siklus perdagangan satwa liar. Semakin langka satwa yang diburu, maka semakin mahal pula harganya di pasar gelap. Menurut Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perdagangan satwa liar di Indonesia mencapai Rp9. 000 per tahun (Guntur & Slamet, 2. Sedangkan dalam faktor lingkungan, hutan yang diubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan membuat satwa kehilangan habitat Oleh karena itu, mereka terpaksa mendatangi pemukiman warga untuk mendapatkan makanan. Akan tetapi, warga menganggapnya sebagai hama kemudian satwa tersebut diburu atau dibunuh. Contoh nyata yang telah terjadi adalah pembunuhan induk orangutan di Kalimantan dengan tujuan menangkap bayi orangutan lalu diperjualbelikan. Kasus perdagangan satwa liar ini sulit untuk dihilangkan karena memiliki beberapa kendala seperti sulitnya melacak tersangka yang terlibat dalam kasus tersebut. Dalam Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . penanganan suatu kasus diperlukan keahlian dari penyidik-penyidik untuk menyelidiki, membuka, dan mengusut kasus tersebut termasuk bagaimana tindak pidana yang dilakukan dan siapa saja yang terlibat (Abdullah, 2. Beberapa komponen yang terlibat dalam perburuan satwa adalah pemburu . , pedagang . , dan pembeli . Selain itu, kuantitas dan kualitas sumber daya manusia untuk penanganan kasus perdagangan perlu ditingkatkan. Kualitas orang-orang yang menjadi penanggung jawab untuk menyelidiki kasus seperti ini juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kriteria tertentu yang bisa dipertimbangkan adalah orang dengan pendidikan dan pengalaman yang mumpuni, pegawai yang memiliki track record baik, dan dapat bertanggung jawab tanpa terpengaruh pihak- pihak lain. 2 Konsep Deep Ecology Konsep ekologi dalam atau deep ecology dikembangkan oleh Arne Naess dan diketahui juga sebagai teori lingkungan hidup ekologi dalam. Konsep ini dikenalkan oleh Naess pada tahun 1973 dalam sebuah seminar di Bucharest. Dalam seminar tersebut. Naess menjabarkan penjelasan terkait konsep ekologi dangkal . hallow ecolog. dan ekologi dalam . eep ecolog. Naess menjelaskan bahwa istilah ekologi dangkal . hallow ecolog. cenderung merujuk kepada gerakan serta etika lingkungan hidup yang bersifat antroposentrik dimana konsep ini lebih banyak berfokus pada upaya melawan pencemaran sumber daya alam untuk mewujudkan serta menjamin kesehatan dan kesejahteraan manusia (Satmaidi, 2. Ekologi dangkal . hallow ecolog. memandang kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam sebagai sumber kehidupan bagi Sementara itu. Naess menggambarkan ekologi dalam . eep ecolog. dengan dua fokus yang berbeda, yakni sebagai gerakan sosial dan ekosofi atau filsafat ekologi. Ekologi dalam . eep ecolog. sebagai gerakan sosial merujuk pada penghargaan yang dalam hingga tingkat penghormatan yang tinggi kepada alam dan segala produknya, terutama setiap makhluk yang hidup di dalamnya karena adanya nilai serta hak yang setara untuk hidup dan berkembang (Ohoiwutun, 2. Secara garis besar, ekologi dalam . eep ecolog. diartikan sebagai gerakan sosial yang memusatkan perhatian pada lingkungan hidup. Dalam melakukan penyelamatan lingkungan hidup, manusia memiliki peran besar karena segala sesuatu yang dilakukan manusia dapat berpengaruh terhadap keberlanjutan lingkungan hidup. Deep ecology menuntut suatu etika baru yang tidak hanya berpusat pada manusia, tetapi juga berpusat pada keseluruhan makhluk hidup dan berkaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup (Satmaidi, 2. Deep ecology mempersoalkan secara mendasar cara pandang dan pemahaman etika antroposentris dalam melihat hubungan manusia dengan alam. Konsep ini menginginkan adanya perubahan kebijakan dalam mengatasi adanya krisis yang terjadi akibat eksploitasi sumber daya lingkungan yang mengabaikan aspek kelestarian dan daya dukung lingkungan yang mana hal ini didasarkan pada etika antroposentris. Antroposentris merupakan teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat alam semesta karena hanya manusialah yang mempunyai hak untuk memanfaatkan dan menggunakan alam demi 133 | Brawijaya Journal of Social Science kepentingan serta kebutuhan hidupnya (Yuono, 2. Perubahan cara pandang terhadap alam secara fundamental dapat menjadi langkah untuk mengatasi krisis lingkungan yang terjadi. Krisis lingkungan global saat ini disebabkan oleh kesalahan filosofis secara mendasar dalam pemahaman cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri, alam sekitar, dan ekosistem sebagai tempat tinggal mereka (Sarah & Hambali. Tiga elemen penting dari deep ecology terdiri atas rasa, spiritualitas, dan Nilai-nilai dalam spiritualitas dapat mempengaruhi pikiran bahwa terdapat sesuatu yang lebih besar daripada manusia itu sendiri. Berbicara tentang deep ecology, ketika suatu keyakinan, gagasan, cita-cita, dan nilai-nilai diintegrasikan ke dalam cara orang berpikir dan bertindak saat berhadapan dengan alam dan lingkungan (Sarah & Hambali, 2. Hal tersebut dapat berimplikasi pada bagaimana tindakan manusia untuk menghadapi krisis lingkungan yang terjadi. Menurut Naess, 2013 dalam (Nurindrasari & Ardiansyah, 2. terdapat 8 nilai yang terkandung dalam deep ecology. Pertumbuhan dan kesejahteraan yang terjadi di kehidupan manusia dan Ragam kehidupan yang berkontribusi pada realisasi nilai-nilai dan nilai itu Manusia tidak memiliki hak untuk mengurangi keberagaman kecuali bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan vital. Pertumbuhan budaya dan kehidupan manusia adalah hal yang sepadan dengan substansi populasi manusia yang lebih kecil. Pertumbuhan kehidupan non manusia memerlukan populasi manusia yang lebih kecil. Ada kebijakan yang mengatur dan berpengaruh terhadap struktur dasar ekonomi, teknologi, dan ideologi. Perubahan ideologi yang terjadi harus mengarah pada kualitas hidup daripada mematuhi standar kehidupan yang dibuat. Mereka yang mempunyai akses pada poin-poin sebelumnya memiliki kewajiban untuk melakukan perubahan baik secara langsung maupun tidak. 3 Konsep Perspektif Social Green Perspektif social green diambil dari teori-teori sosial dan ekonomi radikal. Kelompok sosialis menganggap bahwa globalisasi menjadi salah satu pemegang peran utama atas kerusakan lingkungan. Perspektif ini turut menyoroti pentingnya menjaga lingkungan hidup karena faktor terjadinya kerusakan lingkungan juga dipengaruhi oleh kelalaian manusia dan pertumbuhan industrialisasi yang sudah tidak terkendali (Achmad, 2. Pernyataan tersebut juga didukung oleh pemikiran Marxis yang percaya bahwa kapitalisme menjadi sumber utama terjadinya ketidakadilan sosial dan lingkungan hidup. Marx menganggap kapitalisme sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia yang terikat dengan alam. Meski globalisasi dianggap negatif dalam perspektif ini, social green tidak mengindahkan hubungan globalisasi dengan pertumbuhan ekonomi. Globalisasi justru dianggap sebagai fenomena yang Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . memunculkan kaum-kaum marginal serta adanya kesenjangan masyarakat kaya dan Perspektif social green menentang globalisasi ekonomi dan menganggap globalisasi ekonomi sebagai faktor utama terjadinya kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, eksploitasi, pola konsumsi yang tidak setara, dan timbulnya kelompok marginal. Solusi lingkungan hidup dilakukan oleh kaum pasar liberal dan institusionalis karena memiliki anggapan bahwa globalisasi membawa manfaat bagi lingkungan. Maka dari itu, reformasi besar perlu dilakukan sehingga tidak hanya sekadar penguatan institusi dan internalisasi biaya saja. Cara lain yang dapat dilakukan melalui perspektif ini adalah menolak industrialisasi dan atau kapitalisme dengan cara memulihkan otonomi masyarakat lokal dan memberikan ruang bersuara bagi mereka yang termarginalisasi (Clapp & Dauvergne, 2. Sementara itu dalam kasus perdagangan satwa liar, fenomena globalisasi menjadi fenomena penting yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya tindak kriminal tersebut. Kasus jual beli satwa liar pada umumnya dilakukan oleh masyarakat kelas atas. Pasalnya, harga yang ditawarkan untuk pembelian satwa liar cenderung tinggi dan hanya mampu dibayar oleh orang-orang tertentu. Umumnya pelaku pembelian satwa liar juga telah memiliki jaringan khusus yang menjadi pemasok satwa tertentu untuk diperjualbelikan. Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari . dijelaskan bahwa selain proses transaksi secara offline, kasus perdagangan satwa liar juga marak dilakukan secara online dan jumlahnya meningkat sejak fenomena COVID-19. Meskipun dilakukan secara online, jumlah peminat satwa liar di pasar online tidak kalah banyak dengan pasar offline. Hal ini juga didukung dengan adanya kemudahan transaksi, dimana satwa yang dipesan secara online akan dikirim secara langsung. Metode pembayaran yang diterapkan pun dapat dengan mudah dilakukan yaitu melalui transfer maupun Cash On Delivery (COD). Belum lagi penjualan melalui situs-situs online cenderung dianggap lebih aman oleh pelaku karena kemungkinan besar tidak terdeteksi oleh pelaksana Dalam kasus ini, peran masyarakat akar rumput serta pegiat lingkungan amat diperlukan untuk mencegah dan menekan angka kasus perdagangan satwa liar. Masyarakat perlu menyampaikan evaluasi terhadap lemahnya kebijakan terkait tindak kriminal perdagangan satwa liar. Hasil dan Pembahasan 1 Identifikasi Kasus Perdagangan Satwa Orangutan di Indonesia Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah terutama pada keanekaragaman flora dan faunanya. Orangutan merupakan salah satu bagian dari keanekaragaman fauna tersebut. Namun, orangutan termasuk dalam kategori hewan yang terancam punah karena habitatnya telah mengalami perubahan. Menyusutnya habitat orangutan akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit dan pertambangan turut membuat ruang alam semakin sempit. Perburuan dan perdagangan satwa liar yang 135 | Brawijaya Journal of Social Science dilakukan oleh manusia juga mengancam keberlangsungan hidup orangutan. Menurut data penelitian dalam Perspectives in Ecology and Conservation (PECON), sebesar 26. Orangutan Kalimantan akan kehilangan habitatnya pada tahun 2030 sebagai akibat dari penebangan hutan yang terus terjadi di Kalimantan (Puspa, 2. Wilayah Kalimantan merupakan habitat asli Orangutan Kalimantan yang secara universal telah menjadi surga dari keanekaragaman hayati. Namun sejak tahun 1973. Kalimantan kehilangan lebih dari 30% tutupan lahan karena kegiatan pembalakan liar terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemudian, hutan yang telah ditebang digantikan dengan perkebunan sawit, pertanian, pertambangan, permukiman, bahkan pembangunan infrastruktur. International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam Red Data List tahun 2016 menyatakan bahwa yaitu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeu. Orangutan Sumatera (Pongo abeli. , dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensi. berstatus sangat terancam punah. Populasi Orangutan Kalimantan yang pada tahun 1973 berjumlah 288. 500 kini telah mengalami penurunan sebanyak 80% dalam waktu kurang dari 50 tahun. Sekarang, populasi Orangutan Kalimantan di Indonesia hanya sebesar 57. 350 (Komarudin, 2. Perdagangan satwa liar, termasuk orangutan, merupakan masalah serius di Indonesia dan negara-negara lainnya. Satwa ini sering diburu untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan eksotis, koleksi pribadi, atau bahkan bagian dari perdagangan Kasus-kasus ini menyebabkan ancaman serius terhadap populasi orangutan yang sudah terancam punah. Salah satu kasus yang mencuat adalah kasus penangkapan dan perdagangan orangutan di Kalimantan pada tahun 2018. Dalam kasus ini, sebuah operasi penyelamatan dilakukan oleh pihak berwenang di Kalimantan yang berhasil menggagalkan upaya perdagangan ilegal orangutan. Beberapa orangutan yang masih hidup dan beberapa bagian tubuh orangutan yang sudah mati berhasil diselamatkan. Orangutan-orangutan ini kemungkinan besar akan diarahkan menuju pusat rehabilitasi untuk dipulihkan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Kasus ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi Indonesia dalam melindungi satwa liar, khususnya orangutan dari perburuan ilegal dan perdagangan. Upaya pemberantasan perdagangan satwa liar melibatkan kerja sama antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat. Penegakan hukum yang tegas dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan satwa liar menjadi kunci dalam mengatasi masalah ini. Penting untuk terus mendukung upaya konservasi, edukasi, dan penegakan hukum guna melindungi satwa liar, termasuk orangutan, dan memastikan keberlanjutan kehidupan mereka di alam liar. Kasus selanjutnya juga terjadi pada tahun 2018 ketika Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia menerima informasi dari organisasi konservasi satwa liar tentang dugaan perdagangan satwa liar yang melibatkan Tim penegak hukum dan pelestarian lingkungan bekerja sama untuk mengidentifikasi dan menangani kasus ini. Investigasi awal dilakukan di Sumatra, di wilayah hutan yang merupakan habitat alami orangutan. Berdasarkan informasi intelijen dan pemantauan, petugas menemukan tanda-tanda aktivitas perdagangan ilegal yang Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . melibatkan sindikat internasional. Mereka mencurigai bahwa orangutan diburu dan ditangkap untuk dijual sebagai hewan peliharaan eksotis. Tim penyelidik melakukan penyamaran dan infiltrasi ke dalam jaringan perdagangan satwa liar. Melalui serangkaian operasi yang melibatkan kolaborasi antara kepolisian, badan lingkungan, dan organisasi konservasi, mereka berhasil mengidentifikasi para pelaku, jalur perdagangan, dan rencana jangka panjang sindikat tersebut. Pada suatu operasi khusus di sebuah lokasi terpencil, petugas menyita sejumlah orangutan yang diselundupkan serta barang bukti lainnya, seperti peralatan berburu dan dokumen ilegal terkait perdagangan hewan. Selain itu, mereka mengamankan beberapa anggota sindikat yang terlibat dalam kegiatan ini. Kasus ini menarik perhatian media nasional dan internasional, memunculkan kesadaran akan pentingnya melindungi satwa liar yang terancam punah. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pihak asing untuk meningkatkan pengawasan perbatasan dan mengintensifkan kampanye anti perdagangan satwa liar. Melalui upaya bersama ini, pihak berwenang berhasil menekan sindikat perdagangan satwa liar dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap urgensi konservasi. Kasus ini menjadi tonggak penting dalam upaya melindungi orangutan dan satwa liar lainnya di Indonesia. Jika dikaji melalui perspektif social green, manusia harusnya dapat menjaga lingkungan hidup dengan tidak mengubah habitat orangutan menjadi perkebunan sawit maupun Kepentingan industrialisasi yang telah menghilangkan habitat orangutan mengakibatkan populasi orangutan di Indonesia semakin berkurang. Perburuan orangutan yang dilakukan oknum-oknum tertentu juga menjadi ancaman bagi keseimbangan alam. Hal ini dikarenakan orangutan sebagai spesies kunci yang berperan penting dalam menyebarkan biji buah yang nantinya akan tumbuh menjadi pohon baru. Apabila populasi orangutan menurun, maka penyebaran pohon-pohon baru pun akan berkurang bahkan tidak akan ada pohon lagi yang tumbuh. Selain itu, cadangan karbon juga akan menipis jika orangutan terus diburu. 2 Non-Govermental Organization (NGO) Organisasi nonprofit sering beroperasi di tengah masalah sosial yang kompleks dan sulit diatasi, maka dari itu desain organisasi harus mampu beradaptasi dengan dinamika lingkungan yang terus berubah (Muksin, et al. , 2. Kemunculan organisasi nonprofit ini biasanya memiliki maksud dan tujuan tertentu yang nantinya akan berlangsung dalam jangka panjang. Biasanya organisasi nonprofit mempertimbangkan model-model bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan tanpa menghilangkan identitas atau tujuan utama mereka sebagai suatu organisasi. Dalam model seperti ini, suatu organisasi akan melakukan riset terlebih dahulu untuk menentukan target kedepannya. Mereka juga perlu membangun relasi secara bertahap untuk melangsungkan tujuan dari organisasi Inovasi dari organisasi nonprofit bisa menjadi salah satu langkah dalam upaya pengurangan kasus perdagangan satwa yang sedang marak terjadi, terutama pada Salah satu organisasi nonprofit yang bergerak dalam sektor ini adalah BOS Foundation. 137 | Brawijaya Journal of Social Science BOS Foundation atau Borneo Orangutan Survival Foundation adalah organisasi nirlaba yang berfokus pada konservasi dan perlindungan orangutan serta habitatnya di Pulau Kalimantan. Indonesia. BOS Foundation didirikan oleh Dr. Wille Smits pada tahun 1991 yang bertujuan untuk memberikan informasi, edukasi, peningkatan kapasitas komunitas, wadah pemberdayaan, dan peningkatan kesadaran terhadap perlindungan satwa liar (Qomariah, 2. Hal yang melatarbelakangi terbentuknya organisasi ini adalah permasalahan kerusakan hutan yang terus berlanjut, sehingga salah satu hewan yang menjadi korban adalah orangutan (Silviana, et al. , 2. Upaya ini juga didukung oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam penanganan ancaman terhadap populasi orangutan, seperti perburuan liar, deforestasi, dan perubahan iklim. Program kerja yang dilakukan juga tidak hanya bertujuan untuk menjaga ekosistem orangutan di Kalimantan dan Indonesia, tetapi juga menjaga mata pencaharian serta tradisi masyarakat setempat. Konservasi orangutan dapat berlangsung dan berkelanjutan karena dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Konservasi orangutan ini utamanya juga meningkatkan kesadaran masyarakat dan menguatkan kapasitas pengelolaan tanpa mengeksploitasi Mereka dianggap merambat ke sektor bisnis karena beberapa program yang mereka buat bisa diikuti dengan membayar sejumlah uang, salah satunya pengalaman jika terdapat orang yang ingin berada dalam habitat orangutan dan mencoba Beberapa program yang dilakukan secara langsung adalah Orangutan Goes to School yang dilakukan di beberapa kota, kampanye penyadartahuan, ajang terbuka bagi publik, seminar pelatihan, lokakarya, dan pameran. Orangutan Goes to School merupakan salah satu program yang tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah yang berada di Kalimantan, tetapi juga di luar pulau. Orangutan Goes to School menghadirkan materi yang menarik untuk anak-anak, sehingga bisa dengan mudah diterima dan Mereka mengkolaborasikan konsep bermain sambil belajar dengan membagikan beberapa barang . BOS Foundation. Mereka juga aktif melakukan talkshow dengan berbagai media seperti Motion Radio Jakarta. Sonora Jakarta, dan RRI Indonesia. Upaya organisasi nonprofit ini dapat dikaitkan dengan teori etika lingkungan yakni ekosentrisme yang memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologi (Satmaidi, 2. Salah satu versi dari teori ini adalah deep ecology yang menuntut etika baru dengan tidak memusatkan pada manusia, tetapi pada makhluk hidup (Satmaidi, 2. Dalam konsep deep ecology, upaya yang dicanangkan BOS Foundation ini dilakukan sebagai upaya penyelamatan lingkungan hidup dengan bantuan manusia sebagai sumber daya yang membantu mengelola dan menjalankan program. Disini BOS Foundation juga berfokus tidak hanya untuk menjaga orangutan saja, tetapi juga habitat asli mereka. BOS Foundation dan program kerja yang mereka lakukan diselaraskan dengan kemajuan yang ada. Program tersebut menargetkan mulai dari edukasi kepada anak-anak hingga orang dewasa. Pada era digital seperti sekarang. BOS Foundation mencoba untuk masuk ke dalam kemajuan digital dengan memanfaatkan media sosial. Instagram dapat menjadi media Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . penyampaian pesan awareness kepada masyarakat dengan cara yang lebih efektif. Jika dahulu masyarakat lebih sering berinteraksi secara langsung, munculnya internet dapat mempermudah kepentingan penyampaian pesan yang lebih meluas. Suatu konten bisa menjadi atraktif karena visualisasi dan konsep yang menarik, sehingga apa yang akan disampaikan dalam konten tersebut dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat. Konten konten yang dimuat dalam Instagram @bosfoundation adalah kampanye lingkungan hidup. Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu (Karim & Yulianita, 2. Pada hal ini, kampanye yang dilakukan adalah edukasi dan ajakan untuk menjaga orangutan serta Beberapa konten- konten yang ada di Instagram juga mencoba mengedukasi masyarakat dengan cara menuliskan narasi-narasi sebagai pengingat bahwa orangutan adalah satwa langka yang harus dijaga. Terdapat berbagai program dalam proses kampanye secara daring yang dilakukan oleh organisasi BOS Foundation melalui akun Instagram @bosfoundation. Program ini menjadi bentuk pendekatan dari pihak organisasi BOS Foundation kepada warganet yang mengikuti akun Instagram @bosfoundation atau hanya sekadar ingin mengetahui lebih lanjut terkait BOS Foundation. Adapun program daring yang dibawakan oleh organisasi BOS Foundation adalah berupa talkshow secara daring dan luring, diskusi siaran langsung melalui Instagram, unggahan fakta-fakta menarik terkait orangutan, hingga perayaan hari- hari besar lingkungan. Selain itu. BOS Foundation juga menjual berbagai cendera mata melalui akun Instagram khusus penjualan oleh BOS Foundation yaitu @orangutanshop. BOS Foundation menawarkan cendera mata seperti pakaian, boneka, tas, peralatan makan, dan lain-lain. Berdasarkan informasi yang dimuat dalam akun Instagram @orangutanshop, sebanyak 100% keuntungan dari penjualan cendera mata ini nantinya akan dialokasikan pada kebutuhan konservasi orangutan. Penjualan cendera mata tidak hanya bisa dilakukan secara luring atau langsung dari tempat konservasi, tetapi juga secara daring melalui berbagai marketplace. Di samping itu. BOS Foundation dalam akun Instagram nya mengajak masyarakat luas untuk bergabung dalam program talkshow secara luring yang diadakan dalam rangka merayakan hari orangutan sedunia, yakni pada tanggal 19 Agustus. Program talkshow bertajuk AuFOMO: Forest for My OrangutanAy menghadirkan sejumlah tokoh aktivis lingkungan yang berfokus pada fauna dan margasatwa untuk menjadi narasumber. Pada tahun 2023, acara ini dibuka untuk masyarakat umum dan diselenggarakan di Kota Bogor pada tanggal 26 Agustus 2023. Selain talkshow. BOS Foundation juga melakukan pemutaran film dokumenter berjudul AuOrangutan Jungle SchoolAy. Pemutaran film tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan serta habitat alam dalam upaya melestarikan spesies yang dilindungi. Dalam berita acara yang diunggah oleh Kompas. Jamartin Sihite yang merupakan CEO dari BOS Foundation, berharap acara AuFOMO: Forest for My OrangutanAy dapat menjadi sarana yang mendekatkan masyarakat pada konservasi orangutan, serta meningkatkan pemahaman 139 | Brawijaya Journal of Social Science dan kesadaran terkait urgensi perlindungan orangutan (Sihite, 2023 dalam Kompas. Tak hanya itu, talkshow terkait peringatan Hari Orangutan Sedunia juga disiarkan melalui beberapa jaringan radio lokal dan diisi oleh CEO dari BOS Foundation. Jamartin Sihite. Talkshow ini bertemakan pentingnya orangutan bagi kehidupan manusia dan bertujuan untuk membangkitkan kepedulian masyarakat atas keberadaan orangutan. Kampanye secara daring juga dilakukan oleh BOS Foundation dalam bentuk program diskusi terbuka melalui siaran langsung Instagram. Adapun program siaran langsung ini disebut dengan AuOUTalk: Orangutan TalkAy. Program ini dirancang untuk melibatkan para pengikut Instagram @bosfoundation dalam diskusi dan bertukar informasi mengenai proses penyelamatan anak orangutan bernama Iqo yang berhasil dievakuasi pasca dijadikan hewan peliharaan dengan oknum tak bertanggung jawab. OUTalk menghadirkan Ibu Sri Rahayu sebagai Ibu Asuh dari anak-anak orangutan yang Dengan diadakannya program ini, diharapkan para audiens dapat memiliki gambaran akan bagaimana orangutan yang ada dalam masa rehabilitasi dirawat dan dijaga oleh pihak BOS Foundation. Dengan demikian, program ini dapat membangun rasa empati masyarakat terhadap kondisi orangutan yang tidak terjaga. 3 Jejaring BOS Foundation dalam Upaya Mengurangi Perdagangan Satwa Liar Jejaring merupakan salah satu komponen yang penting bagi BOS Foundation dalam upaya mengurangi perdagangan satwa. Hal ini dikarenakan melalui jejaring yang dilakukan antara BOS Foundation dengan pihak kerjasama akan membangun dan memperluas jaringan kerjasama, pertukaran ide-ide, hingga memperluas dampak positif Melalui jejaring yang dimiliki BOS Foundation dapat menjalin kemitraan dengan organisasi yang dapat mendukung tujuan BOS Foundation dalam upaya mengurangi perdagangan satwa khususnya orangutan. Tidak hanya organisasi. BOS Foundation juga dapat menjalin relasi dengan masyarakat untuk memelihara budaya Dayak yang memiliki kepercayaan dalam keseimbangan alam. Jaringan dengan komunitas baik global dan internasional juga dapat dilakukan untuk menyebarkan propaganda berupaya kampanye hingga open volunteer. Dalam upaya mengurangi perdagangan satwa. BOS Foundation menjalin jaringan dengan berbagai pihak seperti pemerintah, masyarakat, hingga komunitas baik global dan internasional. Jejaring yang dilakukan oleh BOS Foundation dengan pemerintah dapat dilihat melalui postingan akun Instagram @bosfoundation. Melalui postingan pada 22 Desember tersebut. BOS Foundation yang diwakilkan oleh pembina melakukan audiensi dengan otorita Ibu Kota Negara (IKN) mengenai konservasi orangutan dan habitatnya di Kalimantan. Melalui jaringan tersebut. BOS Foundation dan pemerintah berupaya untuk bekerja sama dalam pengolahan pusat rehabilitasi orangutan BOS Foundation di Kalimantan Timur. Samboja Lestari yang terletak di wilayah IKN Nusantara dan wilayah pengembangan Samboja. Dukungan dari pemerintah ini penting perannya bagi kedua belah pihak terutama dengan IKN Nusantara yang dikatakan memiliki pembangunan ramah lingkungan. Kerjasama dengan pemerintah dari pihak lainnya juga dapat dilihat melalui postingan akun Instagram @bosfoundation pada 20 Desember 2022. Ketika Habitat Terancam: Upaya BOS Foundation Menyelematkan Orangutan Indonesia . Kerjasama dengan pihak Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/APN) juga dilakukan dengan tujuan mengajak keterlibatan dalam perlindungan orangutan di Kalimantan. Hal ini dilakukan sebab terdapat orangutan yang tinggal dalam lokasi-lokasi Areal Penggunaan Lain (APL) yang merupakan bagian dari kewenangan (ATR/APN). Dua paparan tersebut merupakan sedikit contoh dari banyaknya kerjasama yang dilakukan oleh BOS Foundation dengan pemerintah. Pentingnya BOS Foundation untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak pemerintah untuk mendapatkan dukungan dari berbagai sisi seperti dukungan secara legitimasi, dukungan keuangan ataupun sumber daya lainnya, dukungan hukum, hingga dukungan dalam menyelesaikan masalah bersama. Lembaga mitra internasional merupakan pihak penting dalam jaringan yang dibentuk oleh BOS Foundation. Dalam kerjasamanya dengan lembaga mitra internasional ini. BOS Foundation mengatakan bahwa mitra yang dimiliki memiliki peran penting dalam penggalangan dana dan meningkatkan kesadaran untuk menolong orangutan dari bahaya kepunahan dalam lingkup yang lebih luas. Mitra-mitra resi BOS Foundation adalah BOS Australia. BOS Deutschland. BOS Schweiz. BOS UK. BOS USA, dan Save the Orangutan yang berlokasi di Denmark. Swedia, dan Serts Inggris. Mitra internasional lainnya yang memberikan bantuan sebab memiliki fokus yang sama adalah Orangutan Outreach yang berlokasi di Amerika Serikat dan The Orangutan Project yang berlokasi di Australia. Melalui mitra-mitra ini yang setiap organisasinya memiliki website masing-masing memberikan kemudahan dalam meningkatkan kesadaran serta menambah pengetahuan mengenai upaya perlindungan satwa khususnya orangutan. Seperti dikutip dalam website BOS Foundation, para mitra yang tergabung memiliki peran besar dalam penggalangan dana (BORNEO ORANGUTAN SURVIVAL (BOS) FOUNDATION, n. Hal ini disebabkan oleh adanya penyebaran yang cukup luas di seluruh dunia yang memberikan dampak pada lebih mudahnya masyarakat internasional untuk berdonasi. Kesimpulan dan Saran 1 Kesimpulan Tindak kriminal perdagangan satwa liar menjadi permasalahan yang memerlukan lebih banyak perhatian dari masyarakat. Penerapan hukum yang tidak ketat hanya akan meningkatkan angka kasus perdagangan satwa liar. Regulasi-regulasi yang diterapkan dengan lalai diiringi dengan berkembangnya teknologi membuka celah dan peluang besar bagi para pelaku tindak kriminal perdagangan satwa liar. Dalam situasi ini, peran Organisasi nirlaba sangat diperlukan dalam rangka menggerakkan masyarakat untuk melawan tindak kriminal perdagangan satwa ilegal. BOS Foundation menjadi salah satu organisasi nirlaba terbesar yang mengambil tindakan atas kasus tersebut. BOS Foundation membangun jejaring dengan masyarakat dan pemerintah sebagai upaya pengetatan regulasi dan peningkatan kualitas konservasi. Terdapat pula berbagai program yang dirancang oleh BOS Foundation sebagai wadah untuk melibatkan masyarakat luas agar dapat berkontribusi dalam konservasi dan pelestarian orangutan di 141 | Brawijaya Journal of Social Science Indonesia. BOS Foundation juga memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperluas jaringan sekaligus proses penggalangan dana untuk mengoptimalkan proses rehabilitasi bagi orangutan. Sebagai organisasi nirlaba. BOS Foundation cenderung mengandalkan media sebagai alat gerak. Melalui media. BOS Foundation tak hanya melakukan penggalangan dana dan perluasan jaringan sosial, tetapi juga berbagi informasi serta fakta menarik terkait orangutan Kalimantan dengan penyelenggaraan dialog interaktif serta kajian infografis sebagai alat kampanye. 1 Saran Sebagai Non-Governmental Organization yang harus mampu beradaptasi dalam dinamika lingkungan yang terus berubah, penulis menyarankan BOS Foundation untuk dapat terus mengoptimalkan penggunaan media sosial seperti TikTok atau media lainnya dalam menyebarkan berbagai informasi untuk membantu upaya mengurangi perdagangan satwa. Melalui saran ini akan tercapai lingkup sasaran yang lebih luas dalam menyebarkan informasi seperti kesempatan volunteer, donasi, hingga menyebarkan pengetahuan mengenai orangutan. Penyebaran informasi ini dapat meningkatkan pemahaman serta empati dari masyarakat sehingga dapat mendukung upaya mengurangi perdagangan satwa dalam lingkup yang semakin luas. Daftar Pustaka