SEGARA WIDYA Jurnal Penelitian Seni Volume 10 No. Maret 2022 P30-36 E-ISSN 2798-8678 Kebertahanan Seni Budaya Desa Batuan di Era New Normal Kadek Suartaya. I Putu Agus Yana Institut Seni Indonesia Denpasar ksuartaya@gmail. Kuliah Kerja Nyata (KKN) ISI Denpasar tahun 2020 berlangsung di tengah pandemi Copid-19. Pelaksanaan pengabdian yang dilakukan para mahasiswa tetap direalisasikan dengan mengambil lokasi di sekitar domisili masing-masing. Dalam pelaksanaan kegiataannya diharuskan menjaga dengan ketat protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Desa Batuan. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar adalah salah satu wilayah yang dipilih mahasiswa. I Putu Agus Aryana. Potensi seni budaya, seni pertunjukan dan seni rupa yang diwarisi dan berkembang di desa tersebut dijadikan fokus objek kegiatan agar tetap eksis di tengah era new normal. Hasilnya, kegiatan seni pertunjukan dan seni lukis Desa Batuan berhasil dibangkitkan semangat dan keberadaannya. Kata kunci: seni budaya, seni pertunjukan, seni lukis Kadek Suartaya (KebertahananA) Volume 10 No. Maret 2022 Batuan Kaya Seni Budaya Desa Batuan. Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar, mewarisi seni budaya yang beragam. Salah satu seni pertunjukan Bali yang sekarang masih dipelihara di desa ini adalah dramatari Gambuh. Teater klasik ini diduga sebagai sumber tari Bali yang banyak mempengaruhi tari atau dramatari yang ada sekarang. Selain dramatari Gambuh yang dilestarikan oleh sejumlah sekaa seni pertunjukan, desa ini juga memiliki dramatari bertopeng Wayang Wong, sebuah seni pertunjukan klasik Bali yang lakonnya bersumber dari cerita Ramayana. Sementara di bidang seni rupa. Batuan memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan seni lukis Bali. Gaya atau style seni lukis Batuan berkontribusi besar dalam seni lukis Bali seperti halnya gaya Ubud dan gaya Kamasan. Namun ketika pandemi Corana menguncang dunia sejak awal tahun 2020, menyebabkan perubahan sendi-sendi kehidupan dalam kehidupan manusia di setiap sudut jagat, termasuk di Bali. Dampak tergerusnya ekonomi dan kesehatan masyarakat ini juga dialami di Desa Batuan. Seni budaya yang diwarisi masyarakatnya juga mengalami kelesuan. Persembahan seni dalam rituan keagamaan menghilang, pementasan seni sebagai presentasi estetik dan hiburan juga tak bisa digelar. Demikian pula aktivitas seni sebagai ladang ekonomi dalam kancah seni pertunjukan turistik juga macet. Untuk diketahui, sejumlah sekaa kesenian di Batuan, seperti sekaa Genggong. Legong, dan Gambuh disokong keberadaannya oleh industri pariwisata Bali. Atas dasar itulah, pelaksanaan KKN ISI Denpasar tahun 2020 di desa tersebut dilaksanakan secara terbatas dan tetap mengutamakan protokol kesehatan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan virus Corona (COVID-. sebagai Semua negara diminta untuk mendeteksi, mengetes, merawat, mengisolasi, melacak, dan mengawasi pergerakan masyarakatnya. Hal ini berdampak bagi kelangsungan kehidupan masyarakat yang normal menjadi terbatas, kehilangan pekerjaan, berkurangnya kreatifitas yang melibatkan orang banyak, pembatasan sosial masyarakat dan banyak kerugian lainya. Namun untuk mengatasi ancaman dalam berlangsungnya kehidupan masyarakat, maka dirancanglah penerapan tatanan kehidupan baru yang disebut New Normal. Tatanan kehidupan baru ini dimaksudkan agar masyarakat hidup seperti kegiatan pada umumnya, tetapi berdampingan dengan virus Covid-19 tanpa mengurangi penerapan protokol kesehatan untuk perlindungan Salah satu mahasiswa peserta KKN ISI Denpasar. I Putu Agus Aryana, memilih Desa Batuan sebagai wilayah atau tempat mengabdikan diri pada masyarakat untuk berbagi ilmu pengetahuan tentang apa yang telah diperoleh selama dibangku perkuliahan, sekaligus mencoba memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada khususnya dalam bidang kesenian pada masa Covid-19. Kesenian tersebut mencangkup seni tari, seni kerawitan, seni rupa dan desain sekaligus media rekam. Kegiatan lapangan ini mengedepankan kegiatan sosial masyarakat berfokus pada seni budaya s tanpa mengurangi penggunaan protokol kesehatan dalam penanggulangan Adapun program kerja yang dilakukan, yaitu : . Sosialisasi new normal sistem daring melalui sosial media desa, . Memberikan bantuan pemahaman pembelajaran daring seni budaya siswa sekolah dasar, . Mengadakan kegiatan pelatihan seni tari dan seni karawitan dengan memperhatikan protokol kesehatan kepada Karang Taruna Desa Batuan, . Membuat sebuah Video pengembangan potensi kesenian dan wisata Desa Batuan lewat pendokumentasian, dan memberikan pengalaman baru terkait pengembangan seni tari dan musik modern atau Kadek Suartaya (KebertahananA) Volume 10 No. Maret 2022 kontemporer dengan pembatasan jumlah orang dan penerapan protokol kesehatan, . Aspek Sosial Ekonomi yaitu Membuat pengembangan masker lukis bersama komunitas AuBaturulangunAy di Desa Batuan. Sukawati. Gianyar. Berdasarkan uraian di atas, kegiatan diarahkan, pertama, memotivasi masyarakat di Desa Batuan agar tetap melangsungkan kegiatan kreatifitas seni pada masa pandemi Covid-19, kedua membuat sebuah media promosi potensi wisata dan seni di Desa Batuan pada masa New Normal. Batuan Sebagai Desa Tua Pada jaman Pemerintahan Dinasti Warmadewa di Bali. Desa Batuan dengan sebutan Desa Batuaran, memang sudah terdapat ada nama Baturan akhirnya kemudian di sebut Batuan, yang berasal dari Kata Batu, oleh karena di daerah ini adalah daerah yang berbatu-batu selanjutnya perubahan pengucapan sehari-hari maka lebih populer dengan sebutan Desa Batuan. Hal ini dapat kita jumpai dari peninggalan Prestasi yang terdapat di AuPura Hyang Tibha Auyang di bangun menurut Canderasengkala AuLawang Apit GajahAy yang berarti Isaka : 829 = Tahun : 907 M oleh Srie Aji Darmapangkaja Wira Dale Kesari Warmadewa yang bertahta di Bali bersinggasana di Singhadwala. Adapun letaknya Pura Hyang Tibha itu adalah di Dusun Blahtanah termasuk wilayah Batuan Kaler. Kemudian pada waktu pemadegan Dinasti Warmadewa yang ke IV adalah Srie Aji Darma Udayana Warmadewa dengan di dampingi oleh Permisuri Sri baginda bernama Gunapria Darmapatni yang berasal dari Jawa Timur yaitu Putri Mahendra Data. Srie Aji Darma Udayana Warmadewa bertahta sebagai Raja di Bali pada Icaka 989 = Tahun 1001 Masehi. Dan di dalam perkawinan Srie Aji Darma Udayana Warmadewa dengan Guna Darma Patni telah melahirkan 3 . orang Putra Mahkota antara lain: Srie Aji Air Langga di Bali pda tahun 1000 Masehi kemudian beliu mengalih ke Jawa menikiah dengan Putri Darma Wangsa. Srie Aji Mara Kata bertahta di Bali yang membuat Prasasti yang kini tersimpan di Desa Batuan ber icaka: 944 = tahun 1022 Masehi akan tetapi semasih usia muda beliau telah wafat, serta Srie Aji Anak Wungsu yang menggantikan kedudukan Rakanda Srie Aji Mara Kata bertahta menjadi Raja di Bali dari tahun 1049 sampai dengan 1077 Masehi. Pada masa pemerintahan Srie Aji Darma Udayana Warmadewa dengan didampingi oleh Permaisuri Srie Baginda Guna Kria Darmapatni, terdapat para anggota staf kerajaan yang terkenal pada waktu itu adalah Seno pati Kuturan. Srie Baginda suami istri sengaja mengundang Sira Sena Pati Kuturan guna diberi pengarahan agar berusaha menertibkan tata kemasyarakat penduduk di Bali, kebetulan pada waktu itu sudah tiba saatnya bagi Sena Pati Kuturan yang menempuh jalan Biksuka atau sandiyasa,melaksanakan hidup mengembara sebagai empu guna megamalkan Darmanya selaku guru agama dan budaya. Untuk menciptakan ketertiban serta menegakan kembali sendi Ae sendi Agama serta budaya masyarakat di Bali, maka empu Kuturan segera mengadakan musyawarah besar . aha saba ) yang dihadiri oleh para pemuka masyarakat serta para pandita Siwa- Buda bertempat kira- kira disamuan tiga. Di dalam musyawaran besar itu telah di ambil keputusan dan menetapkan bahwa makna paham/ pengertian Tri sakti atau Tri Purusa harus di pulihkan kembali. Akhirnya sejak itu terlaksanalah pengertian Tri Purusa landasan dari dibangunnya para khayangan tiga yang melambangkan Upeti. Setiti dan Prelina. Berhubung pada waktu itu diwilayah Desa Batuan baru terdapat hanya sebuah pura terletak di Dusun Blahtanah yang disebut Pura Hiyang Tibha tempat memuja Kadek Suartaya (KebertahananA) Volume 10 No. Maret 2022 kebesaran Ida Sang Hyang Siwa, sebagai lambang maha Pralina, lalu dibangun lagi terletak di Dusun Cangi tempat memuja kebesaran Ida Sang Hyang Wisnu yang melambangkan Setiti. Selanjutnya Pura Kahiyangan Tiga yang berada yang diwilayah Desa Batuan langsung di bawah kerajaan Sri Aji Udayana Darma Warmadewa bersama Permasuri Sri Baginda. Kemudian setelah Srie Baginda suami istri mangkat, pemeliharaan Pura Kahiyangan Tiga itu dilanjutkan oleh Putranya yang menggantikan kedudukan Baginda sebagai Raja di Bali yang bergelar AuSrie Darma Wangsa Wardana Marakata Pangkajastana Tanggadewa, sebagai Raja yang ke : V bertahta di Bali. Sesuai dengan makna Prasasti yang kini tersimpan di pura puseh Batuan ber Icaka : 944 = Tahun : 1022 M. tepatnya pada tanggal 26 Desember 1022 maka pada waktu itu Para Krama Desa Batuan sepasuktani , di bawah pimpinan : Seorang Pertapa bernama : Bhiksu Widiya. Kepala Desa Bernama : Bhiksu Sukaji. Juru tulis Desa bernama : Mamudri Gawan serta beserta para perangkat Desa lainnya, hendak menghadap kehadapan Srie Aji Darmawangsa Wardana Mara kata Pangkaja Stanotunggadewa, dengan diantar oleh Pandita Ciwa bernama Empu Gupit dari Ngudalaya, dengan maksud mengajukan permohonan agar Srie Baginda Raja berkenan memberikan keringan kepada para Krama Desa Baturan/Batuan sewilayahnya mengenai Ayah Ae ayahan anatara lain : Membebaskan dari kewajiban ngayah Rodi, menghapuskan pengenaan tanggung jawab dari segala pajak Ae pajak, dan menghentikan menyuguhkan, . kepada para petugas kerajaan, hanya masih tetap menjadi beban selanjutnya penyungsung serta mengaturkan aci Ae acii terhadap para kahyangan tiga tersebut. Srei Aji Darmawangsa Wardana Marakata sangat prihatin terhadap pemohon para Kerama Desa Batuan sewilayahnya, maka atas kebijaksanaan Srei Baginda yang selalu ingat akan anugrah Ramanda Almarhum yang dimakamkan di makamkan dineraka hal mana Srei Baginda berkenan untuk mengabulkan permohonan dari para Kerama Desa Batuan sewilayahnya dengan dengan surat keputusan sebagai yang termaktub didalam Prasasti yang berisaka : 944 = tahun : 1022 M . Adapun Prasasti yang tersebut sampai kini tetap menjadi Penyusungan Desa Batuan yang di sebut AuIda Sanghyang Aji SaraswatiAy yang secara pisologi merupakan pelindung dari para karma Desa Batuan sewilayahnya dan Piodalannya jatuh pada hari Sabtu. Umanis Watugunung. Adapun pura-pura tersebut adalah peninggalan dari Dinasti Warmadewa raja Bali yang ke: IV, yaitu Srei Aji Darma Udayana Warmadewa serta selanjutnya tetap menjadi pengawasan para Raja-raja di Bali. Pada waktu bertahtanya Srei Aji Antasura Ratna Bumi Banten yang dinobatkan pada tahun1337 yang bergelar Srei Aji Gajah Waktra atau Srei Tapelung beristana di Bedahulu dengan lebih dikenal sebutan Dalem Bedaulu. Dalam Pemerintahan Srei Aji Dalem Bedaulu, beliau mempunyai 2 . orang pembantu masing-masing bernama Ki Patih Pasung Garigis tinggal di Tengkulak, dan Ki Patih Kiyai Patih Kebo Iwa tinggal di Blahbatuh, maka atas ketekunan beliau selama hidupnya tetap membujang lalu beliau disebut Ki Kebo Teruna. Didalam pemerintahannya Srei Aji Asta Sura Ratna Bumi Banten/ Dalem Bedaulu beliau menitahkan Ki Patih kebotaruna untuk melakukan pemugaran pura . Kori/Candi Agung ke tiga pura-pura tersebut yang masih ada sampai sekarang akan tetapi keadaannya sudah sangat menyedihkan. Setelah hapusnya Dinasti Warmadewa di Bali atau disebut Raja Bali Age, akhirnya pada tahun: 1 343 Bali jatuh ketangan Ki Patih Gajah Mada dan kemudian dinobatkan pada tahun : 1350 s/d tahun 1380 Dalem Ketut Cri Kresna Kepakisan menjadi sesuhunan Bali beristana di samprangan. Jaman Kadek Suartaya (KebertahananA) Volume 10 No. Maret 2022 samprangan berakhir. Kota kerajaan Bali dipindahkan ke Gelgel dan dinobatkan menjadi sesuhunan Bali Srei Dalem Ketut Ngulesir bertahta dari tahun 1380 s/d tahun Kemudian jaman Gelgel berakhir juga Ibu Kota Kerajaan di Bali dipindahkan ke Klungkung di bawah pemerintahan Ida Dewa Agung Jambe yang bertahta sejak tahun 1700 s/d 1735 dengan menurunkan 4 . Putra raja : Ide Dewa Agung Gede tetap bertahta di Puri Klungkung, sebagai sesuhuna Bali. Ide Srei Aji Maha Sirikan dengan Gelar Ida Dewa Agung Anom, dengan Istana bernama Sukeluwih di Gerogak Sukawati. Ide Dewa Ketut Agung kembali beristana di puri, dan Ida Dewa Agung Ayu Kaleran. Setelah Ida Srei Aji Maha Sirikan berasil membantu I Gusti Agung Anglurah Mengwi mengalahkan Ki Balian Batur dari Desa Kedangkan kini disebut Desa Rangkan Ketewel, sebagai imbalan Jasa Beliau lalu Igusti Agung Anglurah Mengwi mempersembahkan kehadapan Srei Aji berupa Wilayah Mengwi dari batas sebelah Barat Sungai Pakerisan sampai Batas sebelah Timur Sungai Ayung, dan dari tepi pantai sampai dengan Daerah Pegunungan Batur. Berhubung dengan hal itu, maka sesuai dengan warsaning Candra Sengkala : Naga Anaut ganewani yang berarti Isaka : 1628 = Tahun : 1706 M. lalu Srei Aji Maha Sirikan pindah dari Puri Klungkung mengalih tempat di Desa Batuan derngan disertai oleh para Pengiring antara lain : I Dewa Babi. Kiayi Pekandelan Anglurah Batulepang. Ki Kabetan. Ki Bendesa Mas, dan Pula Sari, dll nya. Sesudah Srei Baginda 4 . tahun lamanya berasrama di Desa Batuan, maka atas pesaran serta Nasehat dari Ida Pedanda Sakti Teges yang ber asrama di Dajantiyis, bagi Baginda disarankan supaya membangun Kedatuan agak kearah selatan dari Desa Batuan yang tepatnya di Desa timbul atau kini di sebut Sukawati. Menurut Cendrasengkala tersebut : Babadnia pare Megunerase tunggal, yang berarti icaka : 1632 = tahun 1710 M pada hari Senin Paing, kalau Sasih ketiga beliau pindah dari Desa Batuan menuju tempat Timbul, sedangkan para pengikut beliau dititipkan tetap tinggal di Desa Batuan. Sebelum Srei Baginda membentuk Kedatuan serta membangun Puri dan Pura Penataran. Beliau terlebih dahulu mendatangkan 200 ( dua ratus ) orang pilihan dari Klungkung, yang betul Ae betul mempunyai keahlian didalam bidang Kesenian dan Kebudayaan, akhirnya sesuai dengan Candresengkala : Jate maguno rase tunggal, yang berarti isaka : 1639 = tahun 1717 M berubah selesai di bangun Puri Gerogak yang diberi nama Puri Sukaluwih, sejak masa itulah berkembangnya Kesenian dan Kebudayaan di Desa Batuan yang amat tersohor sehingga kemudian sampai merubah sebutan Desa Timbul menjadi Sukawati. Selanjutnya kesenian serta kebudayaan di Desa Batuan selalu dapat berkembang dengan semaraknya , lestari menuruti situasi masa , dibawah pimpinan Kepala/Pemuka-pemuka Desa yang namanya kami abadikan dibawah ini, sejak jaman Dinasti Warmadewa. Mojopahit. Penjajahan Belanda. Pendudukan Jepang dan Jaman Kemerdekaan sampai sekarang. Batuan Berbinar Seni Desa Batuan merupakan satu dari 12 Desa di Kecamatan Sukawati. Kabupaten Gianyar. Desa Batuan terletak 1 km ke utara dari kota Kecamatan Sukawati dengan jarak tempuh 12 km ke Kota Kabupaten dan 19 km ke Kota Provinsi. Batuan merupakan dataran rendah yang membujur dari utara ke selatan dengan luas wilayah A 410ha yang meliputi: persawahan, tegalan, dan pemukiman . Desa Batuan juga diapit oleh dua buah sungai yang mengalir sepanjang tahun, dengan demikian maka kebutuhan pertanian dan kebutuhan hidup masyarakat Desa Batuan Kadek Suartaya (KebertahananA) Volume 10 No. Maret 2022 Adupun batas-batas wilayah Desa Batuan, antara lain : Sebelah Utara : Desa Batuan Kaler. Sebelah Selatan : Desa Sukawati. Sebelah Barat: Desa Singapadu Tengah, dan Sebelah Timur: Sungai Petanu. Wilayah Administrasi Pemerintahan Desa Batuan meliputi 17 (Tujuh bela. : Banjar Dinas: Banjar Dinas Dlodtunon. Banjar Dinas Peninjoan. Banjar Dinas Jungut, . Banjar Dinas Pekandelan. Banjar Dinas Gede. Banjar Dinas Geria. Banjar Dinas Geria yNiwa. Banjar Dinas Tengah. Banjar Dinas Jeleka. Banjar Dinas Puaya. Banjar Dinas Lantangidung. Banjar Dinas Penida. Banjar Dinas Bucuan. Banjar Dinas Tegeha. Banjar Dinas Penataran, dan Banjar Dinas Gerih. Desa Batuan memiliki wilayah yang dominan permukiman masyarakat, tetapi juga memiliki areal persawahan dan beberapa sumber air, seperti air terjun tukad bengbengan, beji Pura Desa Batuan, beji Pura Dalem, beji Banjar Peninjoan, tukad Wos, dan beji Bisil. Sumber daya alam di Desa Batuan juga dikembangkan sebagai potensi wisata yang sangat terkenal yaitu Pura Desa Batuan, dan yang masih dikembangkan saat ini adalah air terjun Tukad Bembengan. Sub sektor industri kecil dan kerajinan di Desa Batuan sangat berpengaruh dibidang kesenian masyarakat Batuan maupun masyarakat di Bali lainnya yang memerlukan kerajinan untuk pemenuh kebutuhan seni. Produk-produk industri kecil dan kerajinan ini pada umumnya berupa ukiran topeng, ukiran tongkat, ukiran papan nama, ukiran kulit sapi, pembuatan warangka, ukiran pintu rumah Bali dan lukisan media kertas, media kanvas, media dinding, dan media telur. Ukiran dan lukisan yang dihasilkan oleh pengerajin di Desa Batuan memiliki kualitas yang lebih baik dari kualitas lukisan dan ukiran yang dijual di pasaran, karena mengacu pada kualitas Pengerajin industri kecil dan kerajinan ini pada umumnya berupa lukisan dan ukiran-ukiran. Ukiran yang dihasilkan pengerajin di Desa Batuan memiliki kualitas yang baik karena dipergunakan atau dinikmati sendiri oleh masyarakat lokal terutama ukiran stil Bali. Dalam setiap desa berkembang pastinya memiliki suatu kesenian yang terdapat di dalam desa tersebut. Dari hasil survey yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa kesenian yang lebih menonjol dan menjadi potensi seni dan budaya di Desa Batuan adalah Seni Karawitan dan Seni Tari. Dalam bidang Seni Karawitan, diantaranya Gamelan Gambuh. Genggong. Gamelan Gong Kebyar. Balaganjur. Semarandana. Semar Pegulingan. Angklung. Gong Gede. Gender Wayang. Bebatelan. Slonding. Gong Suling. Geguntangan. Seni Tari diantaranya yaitu Tari Rejang Sutri. Tari Gambuh. Wayang Wong. Topeng Style Batuan. Tari Lepas, dan Drama Tari Genggong. Sementara itu dalam bidang Seni Lukis terdiri dari lukisan berdiameter besar, sedang, kecil, media kertas, kanvas, dan telur. Lukisan Gaya Batuan biasanya masyarakat lokal menyebutnya dengan istilah memedeg . ata, tidak persfektif, tidak ada ruang kosong di medi. Desa Batuan juga memiliki komunitas untuk pengerajin lukisan yang bernama Batur Ulangun Batuan. Daftar Rujukan Bagus. I Gusti Ngurah . Masalah Budaya dan Pariwisata dalam Pembangunan. Denpasar : Program Studi Magister (S. Kajian Budaya Universitas Udayana. Bandem. I Made, et-al. Panititalaning Pegambuhan. Proyek Percetakan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian BendaBenda Seni Budaya. Kadek Suartaya (KebertahananA) Volume 10 No. Maret 2022 Bandem. I Made. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar: Akademi Seni Tari Denpasar. _________Bheri: Jurnal Ilmiah Musik Nusantara. Vol. 6 No. 1 September 2007. Denpasar : Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar. Covarrubias. Miguel. Insland of Bali. Kula Lumpur : Oxford University Press. Dibia. I Wayan dan Rucina Ballinger. Balinese Dance. Drama, and Music: A Guide to the Performing Arts of Bali. Singapore : Periplus.