Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X TINJAUAN BIMBINGAN DAN KONSELING TERHADAP PERILAKU TAWURAN PELAJAR SMK DI JAKARTA PUSAT Dody Riswanto1 Syifa Jauhar Nafisah2 Veno Dwi Krisnanda3 Assyifa Diya Addin4 Universitas Indraprasta PGRI. Jakarta Correspondence Author: dody. riswanto@unindra. Abstract. The general aim of this study is to examine the fighting behavior of vocational high school students in Jakarta from the perspective of Guidance and Counseling. The specific aim of this study is to provide education and recommendations, particularly to schools, on how to handle cases of student fights in vocational high schools. The research method used is qualitative, with data collection techniques including observation, document studies, and audiovisual information. The data analysis employed several procedures, namely verifying data validity through triangulation techniques, synthesizing, analyzing, interpreting data, and drawing final conclusions in the form of propositions. The results and discussion of the study are: . brawls are caused by the immature psychological and mental condition of vocational high school students. students have difficulty finding their own identity, ultimately choosing brawls as a form of self-expression. strong friendship solidarity, where solidarity serves as a sense of strong unity. social environment validation, where students need recognition to be well accepted within their peer group. parenting patterns, where parents have great difficulty controlling and supervising their children's activities. Keywords: Brawls. Students. Vocational High School. Guidance. Counseling. Abstrak. Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk meninjau perilaku tawuran pelajar SMK di Jakarta berdasarkan perspektif Bimbingan dan Konseling. Tujuan penelitian ini secara khusus adalah memberikan edukasi dan rekomendasi khususnya kepada sekolah terkait bagaimana menangani kasus tawuran pelajar di SMK. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, studi dokumentasi, dan informasi audio visual. Analisis data yang digunakan diantaranya melalui beberapa prosedur, yaitu melakukan pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi, melakukan sintesa, analisis, interpretasi data, serta membuat kesimpulan akhir berupa proposisi. Hasil dan pembahasan penelitian adalah . tawuran disebabkan karena kondisi mental psikologis pelajar SMK yang belum dewasa. pelajar kesulitan menemukan identitas dirinya, akhirnya memilih tawuran sebagai wujud pengungkapan identitas diri. solidaritas pertemanan yang solid, dimana solidaritas dijadikan rasa persatuan yang solid. validasi lingkungan sosial, dimana pelajar membutuhkan pengakuan agar bisa diterima dengan baik di lingkungan pertemanan sebaya. pola asuh orang tua, dimana orang tua sangat kesulitan untuk mengontrol dan mengawasi aktivitas anaknya. Kata Kunci: Tawuran. Pelajar. SMK. Bimbingan. Konseling. PENDAHULUAN Penelitian ini dilatarbelakangi dari fenomena permasalahan tawuran pelajar yang ada di wilayah Jakarta. Eksistensi permasalahan tawuran pelajar di Jakarta adalah suatu fakta yang tak terbantahkan berdasarkan catatan dari beberapa lembaga sosial seperti Jaringan Pemantau Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X Pendidikan Indonesia (JPPI) dan catatan data-data yang terdapat di kantor kepolisian. Data ini ditambah dengan pemberitaan baik itu di media cetak maupun media elektronik. Menurut laporan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) terdapat 573 kasus kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah sepanjang tahun 2024, termasuk sekolah, madrasah, dan pesantren. Perhitungan dilakukan dengan mengumpulkan data dari berita di media massa serta kanal pengaduan JPPI di Instagram dan website (Yonatan. Kasus kekerasan ini termasuk diantaranya kasus tawuran pelajar SMK. Data dari catatan kepolisian pada bulan April tahun 2024. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama jajaran Kepolisian mengumpulkan sebanyak 170 pelajar yang terlibat tawuran dan konvoi kendaraan bermotor di Balai Kota DKI Jakarta. Pihak kepolisian menyampaikan terdapat 170 pelajar dijaring dalam penindakan terhadap tawuran hingga konvoi pelajar. Pihak kepolisian menjelaskan, dalam seminggu ini AviralA di media sosial terkait konvoi pelajar yang kemudian berkembang menjadi tawuran di Salemba dan beberapa lokasi di Gunung Sahari. Adapun lokasi yang sering dijadikan ajang keributan dan konvoi di wilayah Polres Metro Jakarta Pusat antara lain Fly Over Roxy Sawah Besar, lampu merah Carolus Senen. Bundaran HI Menteng dan Fly Over Jalan HBR Motik Kemayoran (Antara News, 2. Berdasarkan data yang telah dipaparkan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) tahun 2024 dan catatan kepolisian Polres Metro Jakarta Pusat pada bulan April tahun 2024, menjadi jelaslah bahwa permasalahan kekerasan pelajar termasuk diantaranya tawuran adalah permasalahan yang sangat serius. Disebut permasalahan serius karena tawuran pelajar berdampak negatif pada tatanan sosial, hubungan keluarga, ekonomi, hukum, dan pendidikan. Tawuran pelajar berdampak negatif pada tatanan sosial, yaitu terganggunya stabilitas pengguna jalan raya disebabkan pengguna kendaraan bermotor merasakan langsung efek negatif dari tawuran di jalan raya. Hal ini menimbulkan ketakutan dan kecemasan psikologis bagi pengguna kendaraan bermotor. Dampak negatif lainnya adalah kerusakan sarana prasarana publik seperti lampu lalu lintas, menimbulkan kemacetan panjang, polusi udara karena pelajar membawa petasan dan flare . , pecahan kaca beling yang berserakan di pinggir jalan yang ini menimbulkan resiko ban bocor pada pengguna sepeda motor. Tawuran pelajar berdampak negatif pada hubungan keluarga disebabkan orang tua menjadi lebih protektif kepada anaknya, serta orang tua memberlakukan pembatasan aktivitas fisik yang sangat ketat dan menyebabkan anak menjadi terisolasi diri dari lingkungan luar. Hal ini pasti ditentang oleh anak, sehingga hubungan psikologis antara anak dan orang tua menjadi lebih buruk. Hal ini menimbulkan agresivitas yang semakin tinggi pada anak karena mereka diisolasi dari lingkungan luar khususnya dari pertemanan sebaya yang berujung pada tindakan yang jauh lebih agresif lagi di kemudian hari. Hal ini diperparah dengan lemahnya pengawasan dan kontrol yang ketat dari orang tua, karena orang tua sibuk bekerja. Tawuran pelajar berdampak negatif pada ekonomi karena tidak sedikit orang tua yang harus mengeluarkan biaya untuk menebus anak mereka di kantor kepolisian, untuk membebaskan anak mereka agar tidak ditahan didalam ruangan sel, bagi orang tua dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, tentunya hal ini menjadi beban finansial yang sangat Selain itu orang tua juga harus menanggung biaya ganti rugi seperti jika terdapat korban Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X baik luka ringan maupun luka berat, pengobatan korban di rumah sakit, sampai mengganti barang-barang pribadi korban yang rusak akibat terdampak tawuran. Hal ini sangat membebani keuangan atau finansial dari orang tua. Tawuran pelajar berdampak negatif pada hukum yaitu pelajar SMK dinilai telah melakukan tindakan kriminalitas dengan konsekuensi sebagai narapidana, walaupun mereka masih berusia di bawah 18 tahun. Konsekuensi hukum ini dinilai dapat membuat efek psikologis yang mendalam bagi pelajar disebabkan mereka harus berinteraksi dengan narapidana dan beradaptasi dengan kehidupan penjara yang sangat keras. Selain itu konsekuensi hukum lainnya adalah keluarga korban tawuran akan membayar advokat atau pengacara untuk membuat pelajar . dijerat dengan pasal-pasal yang AberatA, dimana membuat pelajar mendapatkan hukuman penjara yang maksimal. Tawuran pelajar berdampak negatif pada pendidikan, dimana pelajar SMK terancam mengalami putus sekolah, atau dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah, karena berdasarkan pengamatan peneliti di sekolah, pelajar yang berulang kali terlibat tawuran, pada akhirnya disuruh mengundurkan diri secara tidak hormat melalui surat pernyataan. Pelajar kehilangan kesempatan mendapatkan ijazah minimal SLTA, dimana ijazah sangat penting sebagai syarat melamar kerja. Pada akhirnya, karena pelajar tidak mendapatkan ijazah minimal SLTA untuk bekerja di sektor formal, mereka bekerja pada sektor non-formal atau Apekerjaan kasarA yang tidak membutuhkan syarat ijazah. Konteks penelitian ini bersetting di sekolah SMK di wilayah Jakarta pusat. Jakarta pusat dipilih berdasarkan observasi peneliti selama kurang lebih 6 bulan, bahwa banyak sekolah SMK di Jakarta pusat yang menjadi basis pelajar melakukan tawuran. Dengan kata lain. Jakarta pusat adalah wilayah dengan kasus kekerasan pelajar terbanyak dibandingkan dengan wilayah lainnya seperti Jakarta utara, timur, barat, dan selatan. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan 3 sumber data primer untuk menyimpulkan fenomena tawuran pelajar SMK yang ada di Jakarta. Data primer tersebut adalah observasi, informasi audio visual, dan studi dokumentasi. Ketiga data primer ini dikumpulkan dan dianalisis oleh peneliti selama jangka waktu kurang lebih 6 bulan. Fokus penelitian ini adalah berupaya mencari Auakar permasalahanA dari fenomena tawuran pelajar SMK di Jakarta yang sudah menjadi tradisi dan terus menerus dilakukan oleh para pelajar Jakarta dari generasi ke generasi. Penelitian ini berfokus pada upaya rekomendasi yang bisa diberikan oleh peneliti kepada sekolah-sekolah SMK yang ada di wilayah Jakarta Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk meninjau perilaku tawuran pelajar SMK di Jakarta berdasarkan perspektif Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling secara keilmuan mencoba memahami fenomena ini yang ditinjau berdasarkan aspek kondisi psikologis, kesehatan mental, dan spiritual para pelajar. Tujuan penelitian ini secara khusus adalah memberikan rekomendasi khususnya kepada sekolah terkait bagaimana menangani kasus tawuran pelajar di SMK. Urgensi penelitian ini adalah untuk memberikan kesadaran moril kepada pihak sekolah bahwa kasus tawuran pelajar bukanlah perkara sepele. Urgensi penelitian ini terletak pada Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X membangun kesadaran kepada seluruh stakeholder sekolah untuk lebih serius menangani kasus tawuran, disebabkan kasus ini mengakibatkan konsekuensi yang sangat serius, yaitu jatuhnya korban jiwa . eninggal duni. dari pelajar itu sendiri serta kerugian finansial baik bagi pihak orang tua siswa maupun sekolah. METODE Jenis Pendekatan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Kualitatif adalah jenis pendekatan yang memfokuskan usaha peneliti dalam menginterpretasikan kondisi individu atau suatu kelompok yang mengalami suatu gejala peristiwa atau fenomena tertentu, dengan menggunakan pendekatan eksplorasi sebagai metode ilmiah dalam menghasilkan temuan sementara dan mengembangkan bagaimana pemahaman tentang manusia, tempat, dan jenis kelompok-kelompok tertentu (Johnson & Larry, 2. Lokasi dan Subjek Penelitian Lokasi penelitian berada di wilayah Jakarta Pusat. Sampel sekolah yang dijadikan pengambilan data primer penelitian adalah 1 sekolah. Sedangkan jumlah sekolah yang dijadikan rujukan riset dalam penelitian ini berjumlah 3 sekolah SMK yang tersebar di Jakarta Pusat. Jumlah 3 sekolah SMK yang dijadikan rujukan riset penelitian adalah berdasarkan dari catatan kepolisian, dan data dari guru-guru bidang kesiswaan yang terlibat dalam penyelesaian masalah tawuran pelajar SMK. Identitas nama-nama sekolah dirahasiakan demi menjaga nama baik reputasi sekolah. Instrumen Penelitian Peneliti kualitatif sebagai human instument yang berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, analisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannyaAy. Menegaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, seorang peneliti merupakan instrumen kunci yang memegang peran penting dalam penelitian. Peneliti membuat perencanaan dan fokus penelitian sebelum memulai penelitian, kemudian melaksanakan penelitian dengan memilih informan sebagai sumber data, setelah data terkumpul, menganalisa dan menafsirkan data, dan terakhir membuat suatu kesimpulan dari seluruh hasil penelitian (Sugiyono, 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, studi dokumentasi, dan informasi audio visual. Observasi dilakukan peneliti dengan melakukan pengamatan secara seksama terhadap fenomena atau variabel yang diteliti. Studi dokumentasi dilakukan peneliti dengan mengumpulkan berbagai macam sumber informasi seperti berita informasi di media sosial, catatan dari para guru yang menangani tawuran, media sosial seperti instagram dan youtube, dan kesaksian beberapa siswa yang mengalami tawuran. Informasi audio visual dilakukan peneliti dengan mengamati foto dan video yang berasal dari gawai siswa. Peneliti kualitatif harus mengumpulkan berbagai data-data penting yaitu wawancara, observasi, dokumentasi, dan informasi audio visual (Creswell, 2. Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan diantaranya melalui beberapa prosedur, yaitu melakukan pemeriksaan keabsahan data melalui teknik triangulasi, melakukan sintesa, analisis, interpretasi data, serta membuat kesimpulan akhir berupa proposisi. Analisis data dalam pendekatan kualitatif harus melibatkan teknik pemeriksaan, pemilahan, kategorisasi, evaluasi, membandingkan, membuat sintesa, dan menafsirkan kode dan data serta meninjau data mentah yang telah direkam (Neuman, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tawuran merupakan suatu perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Pada umumnya tawuran diamati sebagai suatu tindakan yang tidak dibenarkan. Tawuran antar pelajar adalah konflik atau kekerasan yang terjadi antara dua kubu atau lebih kelompok pelajar yang berasal dari berbagai sekolah yang Tawuran antar pelajar sebenarnya hanya salah satu dari bentuk kenakalan pada remaja. Masih banyak lagi permasalahan psikologis maupun kriminal yang dialami dan dilakukan remaja (Satibi, 2. Tawuran dapat diartikan sebagai bentuk konfrontasi fisik antara dua orang atau lebih, yang disebabkan oleh sebab tertentu dan berpotensi menimbulkan kerugian baik dalam bentuk materi maupun nonmateril (Resti. Sardin, & Utami, 2. Perilaku tawuran melibatkan pemahaman mendalam mengenai faktor ekonomi, sosial, dan psikologis yang menjadi pemicu konflik fisik atau tawuran. Perilaku tawuran sendiri merupakan wujud dari ketegangan yang terakumulasi dalam suatu komunitas (Prabowo, et al, 2. Perilaku tawuran sendiri berbeda dengan perkelahian pada umumnya, karena perilaku tawuran masuk kedalam patologis karena kompleksitas, penyebab, dan akibatnya berbeda dengan pertengkaran kecil. Dalam kegiatannya sendiri, tawuran dilakukan dengan menggunakan senjata tajam bahkan senjata api (Pandya & Faresa, 2. Dengan demikian, tawuran pelajar dapat dipahami sebagai suatu bentuk perkelahian massal antar berbagai kelompok pelajar (Arisca & Lubis, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tawuran pelajar dipicu oleh berbagai faktor, termasuk pengaruh lingkungan sosial, tekanan dari teman sebaya, serta kegagalan individu dalam membangun identitas positif. Kasus yang diteliti menunjukkan bahwa solidaritas kelompok sering kali mengaburkan rasa takut dan moralitas individu, sehingga mendorong tindakan agresif yang dapat berakibat pada cedera fisik, kerusakan fasilitas umum, bahkan kehilangan nyawa. Dengan merujuk pada teori konflik Karl Marx, penelitian ini menganalisis bahwa konflik sosial muncul akibat ketidakmerataan distribusi kekuasaan dalam masyarakat (Hisyam, et al, 2. Perilaku tawuran pada pelajar dipengaruhi oleh pola pikir yang diperoleh dari sosial media dan lingkungan pergaulan siswa. Setidaknya terdapat 4 faktor psikologis penyebab tawuran pelajar terjadi, yaitu Faktor internal, dimana pelajar yang terlibat tawuran memiliki kemampuan adaptasi yang minim. Faktor keluarga, kondisi rumah yang dipenuhi kekerasan membuat anak menganggap normal perilaku agresif. Faktor sekolah, lingkungan sekolah kurang merangsang siswa untuk merasa senang untuk belajar. dan Faktor lingkungan, dimana pelajar Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X yang terlibat tawuran karena terbiasa dengan tindakan agresif (Pandya & Faresa, 2. Penelitian menunjukkan bahwa tawuran antar remaja bukan hanya masalah perilaku, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi dan lingkungan sosial. Ketidakstabilan ekonomi dapat memicu rasa frustrasi dan ketidakpuasan, sementara lingkungan sosial yang kurang mendukung, seperti kurangnya perhatian dari keluarga dan sekolah, dapat memperburuk situasi ini. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat, termasuk pendidikan moral dan penguatan dukungan sosial, untuk mengurangi kecenderungan tawuran di kalangan remaja. Semoga penelitian ini dapat menjadi acuan bagi semua pihak dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi generasi muda kita (Nasution, et al, 2. Upaya preventif dalam mencegah terjadinya tawuran pelajar adalah dengan adanya kebijakan dari pihak sekolah untuk memaksimalkan jam pelajaran, mengadakan kegiatankegiatan non akademik yang melibatkan siswa, disiplin dari guru, serta kordinasi guru dan orangtua (Rahmat. Budi, & Fitriani, 2. Untuk mengatasi tawuran remaja antar sekolah perlu sinergitas yang apik antara sekolah, keluarga dari remaja dan juga masyarakat sekitar agar tawuran tersebut bisa diatasi dengan baik sehingga tidak timbul korban jiwa. Selain hal tersebut akan bisa menciptakan keadaan masyarakat yang aman, tentram, sejahtera, agar tujuan dari hukum bisa dicapai dengan baik. Halhal lain yang perlu diperhatikan ialah masa depan dari remaja tersebut bisa terselamatkan karena bisa menghindari perbuatan tawuran tersebut. Untuk mengatasi tawuran tersebut tidak bisa hanya lingkungan keluarga saja ataupun lingkungan sekolah saja, karena hal ini memerlukan kerjasama yang betul-betul harus dibina dengan baik agar permasalahan tawuran ini bisa diatasi dan bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Kesimpulan yang dibuat dari perlindungan ini ialah faktor yang menjadi remaja melakukan tawuran antar sekolah itu terdiri atas beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain remaja mengalami krisis identitas dan mereka tidak mampu untuk mengatasinya, remaja memiliki kontrol diri yang lemah sehingga mudah terkena emosinya, adanya fenomena pewarisan dan tawuran oleh kakak kelas kepada adik kelas sehingga mereka terdoktrinasi untuk meneruskan dendam tersebut dan yang terakhir remaja memiliki kesadaran dan kepatuhan hukum yang lemah sehingga mudah berwujud untuk mengikuti tawuran tersebut (Isnawan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyelesaian konflik tawuran secara umum dikelompokan menjadi tiga, yaitu upaya preventif, upaya mediasi dan upaya arbitrase. Upaya pertama, adanya penyesuaian jam berangkat dan pulang sekolah dengan melakukan penyelingan Upaya kedua yaitu dilakukan dengan cara pembuatan surat perjanjian atau kesepakatan kepada siswa agar tidak mengulangi tawuran pelajar kembali. Upaya ketiga dengan cara memberikan tindakan tegas dari sekolah ketika siswa melakukan tawuran, tindakannya dengan diberlakukannya yaitu pemberian skors selama 1-2 minggu kepada siswa bahkan sampai pada tindakan dikembalikannya siswa kepada orangtua (Delvira, et al, 2. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa kecerdasan emosional, pembinaan agama, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sepermainan/sebaya merupakan empat faktor Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X efektif yang dapat mencegah tawuran pelajar. Sedangkan faktor lingkungan keluarga dan masyarakat tidak berperan efektif dalam mencegah tindak tawuran. Teman sebaya merupakan alat paling berpengaruh dalam mencegah tindak tawuran dengan persentasi tertinggi mencapai 52,1%. Hal ini harus menjadi perhatian bagi para orang tua dan pihak-pihak terkait agar dapat lebih memperhatikan teman pergaulan bagi anak-anak atau peserta didiknya (Ciciria, 2. Berdasarkan data yang dikumpulkan dan dianalisis menggunakan pendekatan Teori Asosiasi Diferensial, disebutkan bahwa pemberian pemahaman yang mendalam tentang bagaimana lingkungan sosial mempengaruhi karakter dan perilaku remaja, terutama dalam konteks tawuran di wilayah tertentu. Interaksi dengan kelompok sebaya dan definisi yang mendukung tawuran membuat remaja mempelajari dan menginternalisasi perilaku tersebut. Untuk mengatasi masalah tawuran remaja, perlu dilakukan intervensi yang fokus pada pembentukan lingkungan sosial yang positif serta menyediakan alternatif kegiatan yang konstruktif bagi remaja. Ini mencakup peran aktif keluarga, sekolah, dan komunitas dalam membimbing remaja ke arah yang lebih positif (Lumopa & Sumarwan, 2. Solusi dalam mengatasi tawuran pelajar dilihat berdasarkan tinjauan Al-QurAan adalah: . remaja harus meningkatkan persaudaraan dan kasih sayang dengan sesamanya. apabila terjadi pertikaian dan pertentangan, remaja harus membantah hal yang bertentangan itu dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan seperti tawuran. mendamaikan dan memperbaiki hubungan antara saudaranya yang bertikai. menyelesaikan masalah dengan jalan musyawarah, kelima, menjadi pribadi yang pemaf, dan saling menyeru untuk melalukan kebaikan (Hidayati. Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan guna mencegah atau mengurangi terjadinya tawuran antar pelajar, antara lain meningkatkan keberfungsian keluarga, mengembangkan ekstrakulikuler sekolah agar siswa dapat menyalurkan emosinya dengan kegiatan yang positif, layanan konseling oleh guru bimbingan konseling untuk memberikan gambaran luas berkaitan dengan nilai-nilai, budaya, sosial, hukum dan agama agar terciptanya karakter siswa yang positif, meningkatkan spirtualitas anak melalui pendidikan agama baik oleh orang tua atau guru sekolah, dan sosialisasi peraturan sekolah sebagai upaya mencegah terjadinya tawuran antar pelajar (Putra, et al, 2. Tulisan ini menyampaikan gagasan konseptual tentang pendekatan intervensi psikologis untuk mencegah tindak kekerasan dan tawuran. Rendahnya kemampuan mengambil perspektif orang lain dalam menyelesaikan masalah dipandang sebagai faktor penyebab. Pendekatan perkembangan dipandang dan dijadikan sebagai pendekatan alternatif guna meranang program yang efektif. Kemampuan mengambil perspektif orang lain bukan merupakan kemampuan bawaan tetapi dapat dipelajari. Pengambilan program pelatihan kemampuan mengambil perspektif orang lain dapat dijadikan perlakuan alternatif (Yuliati, 2. Pada beberapa kasus, tawuran juga dapat terkait dengan tekanan akademis yang tinggi atau masalah-masalah pribadi seperti stres, depresi, atau adanya ketidakseimbangan emosional. Oleh karena itu, pendekatan intervensi yang holistik harus mencakup aspek kesejahteraan mental dan emosional remaja. Melalui pemahaman yang mendalam terhadap latar belakang ini, upaya Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X dapat difokuskan pada menciptakan lingkungan pendidikan dan masyarakat yang mendukung pertumbuhan positif, mempromosikan dialog, serta memberikan sumber daya yang diperlukan untuk mengatasi konflik tanpa kekerasan (Prabowo, et al, 2. Pendekatan preventif yang melibatkan edukasi tentang resolusi konflik, keterampilan sosial, dan kesadaran emosional dapat menjadi langkah penting. Program-program ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan untuk membekali remaja dengan alat yang diperlukan dalam mengelola konflik secara konstruktif. Selain itu, kerjasama antara lembaga pendidikan, keluarga, dan komunitas dalam mendeteksi potensi konflik sedini mungkin juga dapat menjadi strategi efektif. Penguatan peran guru sebagai pembimbing dan fasilitator dialog konstruktif dapat membentuk iklim sekolah yang lebih positif (Ibi. Peran orang tua dan juga guru sangat penting dalam mendidik, menumbuhkan dan mengaplikasikan nilai-nilai bagus pada anak-anak. Pengawasan yang diperbuat oleh orang tua sangat diperlukan agar anak-anak memiliki keterampilan sosial yang baik saat berinteraksi dengan lingkungan luar. Para guru juga memiliki peran penting untuk membentuk dan menciptakan karakter siswa dengan memberikan pelajaran baik dalam hal akademik maupun non-akademik. Keberadaan sosok yang dihormati dapat membantu mencegah perilaku menyimpang pada siswa. Selektifitas dalam menerima siswa juga penting, lebih baik menerima siswa yang dapat dibimbing dan benar-benar berkomitmen untuk belajar daripada menerima siswa yang berpotensi menjadi pelopor tawuran. Pentingnya penegakan aturan sekolah harus diperjelas, terutama di sekolah swasta yang terkadang cenderung kurang tegas dalam menjalankan peraturan (Saputra, et al, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan layanan bimbingan kelompok telah memberikan dampak positif dalam menanggulangi tawuran antar pelajar. Melalui sesi-sesi diskusi, refleksi diri, dan aktivitas kolaboratif, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang konflik, empati, dan penyelesaian masalah secara konstruktif. Selain itu, partisipasi aktif dalam kelompok juga meningkatkan rasa solidaritas dan saling menghormati di antara siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan layanan bimbingan kelompok merupakan pendekatan yang berpotensi dalam menanggulangi tawuran antar pelajar (Ilmi & Fauziah, 2. KESIMPULAN Tawuran adalah perilaku agresif yang dilakukan pelajar SMK sebagai bentuk pengungkapan identitas diri, validasi lingkungan sosial, solidaritas pertemanan, perkembangan mental psikologis yang belum dewasa, dan kesalahan pola asuh orang tua di rumah. Tawuran yang diamati peneliti adalah wujud dari bentuk dari tindakan kriminal, penganiayaan, pencurian, dan perusakan fasilitas umum. Tawuran berdampak pada kondisi fisik dan psikis pada korban. Fisik korban mengalami luka berat dan kecacatan, sementara psikis korban mengalami trauma. Tinjauan Bimbingan dan Konseling adalah berupaya memberikan edukasi dan pemahaman psikologis kepada pelajar SMK yang terlibat tawuran. Edukasi diberikan guru BK kepada Tinjauan Bimbingan dan Konseling Terhadap Perilaku Tawuran Pelajar SMK di Jakarta Pusat Jurnal Qathruna Volume 12 Nomor 2 Ae Desember 2025 ISSN Online : 2776-5563 - ISSN Cetak : 2406-954X seluruh pelajar yang ada di sekolah. Pemahaman psikologis bisa diberikan dengan mengundang psikolog ke sekolah untuk memberikan pemahaman psikologis kepada Peran guru BK disini terbatas hanya pada memberikan edukasi serta rekomendasi. Guru BK dibatasi kewenangannya karena perannya hanya guru biasa, adapun penentu dan pengambil kebijakan adalah kepala sekolah, bukan guru BK. Guru BK hanya sekedar menyampaikan ide dan gagasan, namun kepala sekolah yang memutuskan apakah usulan dari guru BK diterima atau ditolak. UCAPAN TERIMA KASIH Peneliti menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Indraprasta PGRI atas dukungan dana yang diberikan melalui program Penelitian Hibah Unindra dengan Nomor Kontrak 02172/SP3/KP/LRPM/UNINDRA/XI/2025. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Lembaga Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRPM) Universitas Indraprasta PGRI atas dukungan dan fasilitas yang telah diberikan sehingga terlaksananya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA