p-ISSN: 2808-2443 e-ISSN: 2808-2222 Volume. No. 4, 2025 Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business DAMPAK DIGITALISASI DAN KINERJA KEUANGAN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN SUBSEKTOR PERBANKAN DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 20192. Tarangga Atha Putra Suseno1. Darlin Aulia2. Titus Kristanto3. Dominggo Bayu Baskara4 Universitas Telkom. Jl. Ketintang No. Ketintang. Kec. Gayungan. Surabaya. Indonesia Email: tarangga@student. Article History Received: 07-08-2025 Revision: 25-11-2025 Accepted: 29-11-2025 Published: 30-11-2025 Abstract. This research seeks to empirically investigate the influence of digitalization and financial performance on firm value within the banking subsector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 20192023 period. Firm value, as the dependent variable, is proxied by Tobin's Q. The independent variable of financial performance is assessed through the Equity Ratio (DER) as an indicator, while digitalization is measured using a dummy variable based on the presence of technology adoption disclosures in the annual This study applies a quantitative method utilizing panel data collected from 36 banking firms, yielding 180 total observations. Data were analyzed using the panel data regression method, with the Random Effect Model (REM) selected as the best-fit estimation model through the Chow. Hausman, and Lagrange Multiplier tests. The results indicate that both partially and simultaneously, the variables of digitalization and Debt to Equity Ratio have no significant effect on firm value. This result is further supported by a notably low coefficient of determination (RA), which stands at only 0. 66%, indicating the limited ability of these three variables to explain the variation in firm value during the research period. These findings imply that signals from digitalization adoption and conventional financial performance metrics have not yet become primary determinants of firm value for investors. Keywords: Digitalization. Financial Performance. Firm Value. Banking Industry. Tobin'sQ. Abstrak. Studi ini memiliki tujuan utama untuk menginvestigasi secara empiris dampak dari variabel digitalisasi dan kinerja keuangan terhadap valuasi Objek penelitian adalah perusahaan sub-sektor perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode amatan 2019-2023. Variabel terikat dalam riset ini adalah nilai perusahaan, yang diproksikan melalui rasio TobinAos Q. Adapun variabel bebas kinerja keuangan dioperasionalisasikan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), sementara digitalisasi diukur dengan variabel dummy. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan analisis data panel yang mencakup 180 observasi dari 36 perusahaan. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel, dengan Model Efek Acak (REM) terpilih sebagai model estimasi terbaik pasca Uji Chow. Hausman, dan Lagrange Multiplier. Temuan riset mengindikasikan bahwa, baik secara parsial maupun simultan, digitalisasi dan DER tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap nilai Kesimpulan ini dikonfirmasi lebih lanjut oleh nilai koefisien determinasi (RA) yang sangat rendah . ,66%), yang menunjukkan kapabilitas yang terbatas dari variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi nilai perusahaan. Kata Kunci: Digitalisasi. Kinerja Keuangan. Nilai Perusahaan. Perbankan. Tobin'sQ. Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A How to Cite: Suseno. et al . Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Sub-Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia Periode 2019-2. Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business, 5 . , 7301-7320. 54373/ifijeb. PENDAHULUAN Evolusi teknologi yang progresif menuntut entitas bisnis untuk senantiasa beradaptasi serta meningkatkan kompetensinya agar dapat bersaing secara efektif dalam lanskap digital. Transformasi ini bertujuan untuk mencapai tujuan utama perusahaan, yakni melalui optimalisasi profitabilitas, peningkatan kemakmuran pemegang saham . hareholder wealt. , serta maksimalisasi nilai perusahaan yang direfleksikan melalui apresiasi harga saham di pasar Tingginya nilai perusahaan mencerminkan persepsi positif investor serta kondisi kesehatan perusahaan, yang pada umumnya diindikasikan oleh adanya apresiasi harga saham (Martono & Harjito, 2. Gambar 1. Nilai transaksi menggunakan uang elektronik Sumber: Rizaty . Di Indonesia, digitalisasi sektor keuangan menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Hal ini tercermin dari eskalasi nilai transaksi dengan uang elektronik yang mencapai angka Rp158,59 triliun per September tahun 2023. Fenomena ini selaras dengan kerangka konsep digitalisasi dalam sektor keuangan sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya Tujuan 8, yang berfokus pada penciptaan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta Tujuan 9, yang menitikberatkan pada pengembangan industri, inovasi, dan Kedua tujuan tersebut mengamanatkan pentingnya inovasi dan perluasan inklusi Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A keuangan yang difasilitasi oleh kemajuan teknologi. Adopsi teknologi finansial . oleh sektor perbankan menjadi yang terbesar secara global pada tahun 2023, didorong oleh efisiensi layanan dan kemudahan akses bagi nasabah. Perkembangan ini dilansir oleh (Investing. tercermin pada kinerja positif indeks IDX Banking yang menunjukkan tren kenaikan signifikan hingga tahun 2024, mengindikasikan penguatan kepercayaan investor. Studi mengenai dampak digitalisasi terhadap nilai perusahaan memperlihatkan temuan yang bervariasi. Beberapa penelitian seperti Salvi . menemukan bahwa transformasi digital berkontribusi secara positif terhadap kinerja keuangan dan nilai perusahaan, sementara studi lain seperti Fang . dan Nugraha . menyimpulkan bahwa implementasi digitalisasi belum menunjukkan adanya dampak yang signifikan terhadap nilai perusahaan Kontradiksi pada hasil-hasil penelitian terdahulu ini membuka suatu kesenjangan riset . esearch ga. yang relevan untuk dieksplorasi lebih dalam. Selain digitalisasi, kinerja keuangan merupakan faktor krusial yang dipertimbangkan Laporan keuangan menjadi basis analisis untuk menilai stabilitas, profitabilitas, dan prospek perusahaan (Wakla et al. , 2. Salah satu proksi yang diaplikasikan guna mengukur kinerja keuangan dalam studi ini adalah rasio solvabilitas, rasio ini menurut Fitriana . mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola utang relatif terhadap modalnya. Pada riset ini, pengukuran rasio solvabilitas diaplikasikan melalui Debt to Equity Ratio (DER). Studi ini berlandaskan pada Signaling Theory, yang menjelaskan mengenai mekanisme mitigasi yang dapat ditempuh oleh suatu entitas untuk mengatasi kondisi asimetri informasi melalui transmisi sinyal kepada investor dalam bentuk pengungkapan informasi yang relevan. Pengungkapan adopsi teknologi seperti Artificial Intelligence. Big Data, dan Cloud Computing berfungsi sebagai sinyal inovasi, sedangkan kinerja keuangan yang sehat menjadi sinyal Pengukuran variabel nilai perusahaan dalam riset ini diaplikasikan melalui rasio Tobin's Pemilihan proksi ini didasarkan pada keunggulannya dalam merefleksikan kapabilitas manajemen untuk mengelola aset secara efektif guna menciptakan nilai tambah (Ermad et al. Selain itu. Tobin's Q dinilai memiliki relevansi yang lebih tinggi untuk pengukuran kinerja jangka panjang jika dibandingkan dengan proksi alternatif seperti PBV atau PER (Syam & Hermanto, 2. Meskipun studi-studi yang menginvestigasi dampak kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan telah menjadi subjek penelitian yang ekstensif, yang secara spesifik mengkaji dampak simultan dari digitalisasi dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan mengaplikasikan Tobin's Q sebagai proksinya, pada konteks sektor perbankan Indonesia masih menunjukkan keterbatasan jumlah. Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A Dengan demikian, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengisi kesenjangan riset . esearch ga. tersebut melalui analisis pengaruh variabel digitalisasi dan kinerja keuangan . ang diproksikan dengan Debt to Equity Rati. terhadap nilai perusahaan . ang diproksikan dengan Tobin's Q). Objek penelitian adalah emiten sub-sektor perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan periode amatan 2019-2023. Urgensi penelitian ini dibobotkan pada penyediaan bukti empiris yang krusial bagi investor dalam merumuskan strategi investasi di tengah transformasi digital sektor perbankan. METODE Desain dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan desain causal explanatory. Tujuan desain ini adalah untuk menginvestigasi hubungan sebab-akibat antara variabel independen . igitalisasi dan kinerja keuanga. dan variabel dependen . ilai perusahaa. Strategi riset yang diaplikasikan adalah studi kasus pada emiten sub-sektor perbankan yang tercatat di BEI, dengan latar penelitian alami . on-contrive. Jenis data yang dianalisis adalah data panel, yang merupakan kombinasi antara data lintas-sektoral . ross-sectio. dan data runut waktu . ime serie. untuk periode amatan 2019-2023. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini mencakup 46 perusahaan sub-sektor perbankan yang terdaftar di BEI selama periode 2019-2023. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu metode non-probability sampling yang memilih sampel berdasarkan kriteria Kriteria yang ditetapkan meliputi: . perusahaan perbankan yang konsisten terdaftar di BEI selama periode 2019Ae2023, dan . perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan dan tahunan secara lengkap selama periode tersebut. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh sampel akhir sebanyak 36 perusahaan, yang menghasilkan total 180 unit observasi . perusahaan y 5 tahu. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menganalisis data sekunder yang diperoleh melalui strategi arsip . Sumber data utama adalah laporan tahunan serta laporan keuangan perusahaan sampel yang dipublikasikan secara resmi pada situs Bursa Efek Indonesia . dan situs web masing-masing emiten. Operasionalisasi Variabel Nilai Perusahaan (N. : Variabel dependen dalam riset ini, yaitu Nilai Perusahaan (N. , dioperasionalisasikan dengan menggunakan rasio TobinAos Q, yang merefleksikan persepsi Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A pasar terhadap nilai perusahaan relatif terhadap biaya penggantian asetnya. Rumus yang digunakan adalah: Q=(MVE D)/TA Keterangan: MVE: Market Value of Equity (Harga saham penutupan y jumlah saham bereda. D: Debt (Total Liabilita. TA: Total Assets (Total Ase. Digitalisasi (D. : Sebagai variabel independen, digitalisasi diukur menggunakan variabel dummy yang diadaptasi dari penelitian Fang et al. Perusahaan diberi nilai 1 jika laporan tahunannya mengandung kata kunci terkait adopsi teknologi seperti Intelegenization. Digitization. Automation. Artificial Intelligence. Machine Learning. Cloud Computing. Big Data, atau Blockchain, dan diberi nilai 0 jika tidak. Kinerja Keuangan (De. : Sebagai variabel independen, kinerja keuangan diproksikan dengan rasio solvabilitas, yaitu Debt to Equity Ratio (DER). Rasio ini dihitung dengan rumus: DER=(TotalUtang/Moda. y100% Teknik Analisis Data Proses analisis data kuantitatif dalam penelitian ini diaplikasikan dengan bantuan perangkat lunak Eviews 12. Teknik analisis utama adalah regresi data panel untuk menguji hipotesis variabel independen terhadap variabel dependen. Model regresi yang digunakan adalah sebagai berikut: NpACu = 1,0263 Ae 0,5416ADGACu 0,0236ADERACu AACu Tahapan analisis data dalam penelitian ini meliputi: Statistik Deskriptif: Menyajikan ringkasan dan gambaran umum mengenai karakteristik dasar dari data penelitian, meliputi nilai rata-rata, median, standar deviasi, serta nilai minimum dan maksimum dari setiap variabel. Pemilihan Model Regresi Data Panel: Menentukan model terbaik antara Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM) melalui tiga Uji Chow: Memilih antara CEM dan FEM. Uji Hausman: Memilih antara FEM dan REM. Uji Lagrange Multiplier (LM): Memilih antara CEM dan REM. Uji Asumsi Klasik: Memastikan model regresi yang digunakan valid dan tidak bias. Pada analisis data panel, uji yang relevan adalah Uji Multikolinearitas dan Uji Heteroskedastisitas. Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A Uji normalitas tidak menjadi syarat utama untuk estimasi BLUE (Best Linear Unbiased Estimato. , dan uji autokorelasi tidak diperlukan pada data panel. Uji Hipotesis: Dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian melalui: Uji Koefisien Determinasi (RA): Mengukur proporsi variasi variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh variabel-variabel independen. Uji Parsial (Uji . : Menguji pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara individual. Uji Simultan (Uji F): Menguji pengaruh seluruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. HASIL Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan sebuah tinjauan umum dan rangkuman terkait karakteristik dari data setiap variabel dalam penelitian. Analisis ini mencakup beberapa parameter statistik utama yaitu seperti nilai rata-rata . , median, nilai maksimum, dan nilai minimum. Nilai rata-rata . merepresentasikan nilai pusat aritmetis dari keseluruhan set data observasi. Sementara itu, median didefinisikan sebagai nilai sentral dari data yang telah diurutkan secara sekuensial dari nilai terendah hingga Penggunaan kedua ukuran ini membantu dalam mengidentifikasi apakah distribusi data cenderung simetris atau condong ke satu sisi. Total unit observasi dalam riset ini berjumlah 180, yang dihimpun dari 36 emiten perbankan dengan rentang waktu pengamatan selama lima tahun. Hasil analisis deskriptif ini menjadi landasan awal untuk memahami struktur data sebelum melangkah ke pengujian hipotesis melalui analisis inferensial yang tersaji pada Tabel. Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian DER Mean 0,84 0,05 1,60 Median 0,05 1,34 Maximum 0,16 21,43 Minimum 0,002 -0,69 Std. Deviasi 0,36 0,03 2,37 Observations Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A DER= debt to equity ratio. DG= dummy variable, 1 jika terindikasi adanya kandungan kata informasi digitalisasi, 0 apabila tidak ada indikasi adanya kandungan kata informasi digitalisasi (Fang et al. , 2. Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Pada Tabel 1 Statistik Deskriptif ditampilkan ringkasan karakteristik utama variabel penelitian: Digitalisasi (D. Debt to Equity Ratio (DER), dan Nilai Perusahaan (N. Variabel dummy digitalisasi (D. yang bernilai 1 atau 0 memiliki mean 0,84 dan median 1, artinya 84 % observasi menunjukkan adanya konten informasi digitalisasi, dan hanya 16 % yang belum menunjukkan sinyal digitalisasi dalam laporan . tandar deviasi 0,. Untuk DER, rataAcrata 0,05 dan median 0,05 dengan rentang 0,002Ae0,16 memperlihatkan bahwa sebagian besar bank menjaga struktur modalnya relatif konservatif, dengan porsi utang kecil dibandingkan ekuitas, serta variabilitas yang rendah . tandar deviasi 0,. Sementara itu, nilai perusahaan (N. dengan pengukuran TobinAos Q memiliki rataAcrata 1,60 dan median 1,34, dengan rentang dari Oe0,69 hingga 21,43 . tandar deviasi 2,. , menunjukkan adanya perbedaan persepsi pasar yang cukup besar terhadap prospek nilai perusahaan perbankan. Tabel 2. Uji Korelasi Pearson DER DER 1,000000 0,044848** 1,000000 -0,016796** 0,052519* 1,000000 *,**,*** Menunjukkan tingkat signifikansi pada alpha 10%, 5%, dan 1%. DER= debt to equity ratio. DG= dummy variable, 1 jika terindikasi adanya kandungan kata informasi digitalisasi, 0 apabila tidak ada indikasi adanya kandungan kata informasi digitalisasi (Fang et al. , 2. Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Tabel tersebut menyajikan hasil uji korelasi Pearson, yang bertujuan untuk mengukur derajat dan arah hubungan linear antar variabel. Hasilnya menunjukkan bahwa korelasi antara DG dan DER . engan koefisien 0,. memiliki tingkat hubungan positif yang sangat lemah. Ini mengindikasikan bahwa keberadaan sinyal digitalisasi hampir tidak berkaitan dengan struktur modal perbankan. Selanjutnya, korelasi antara DG dan NP . juga sangat lemah. Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A Hal ini menunjukkan bahwa penyajian informasi digitalisasi belum berhubungan erat dengan persepsi nilai perusahaan. Korelasi antara DER dan NP (Ae0,. menunjukkan hasil negatif dan sangat kecil, menandakan bahwa rasio keuangan debt to equity ratio belum memiliki korelasi yang kuat dalam menilai Np . ilai perusahaa. pada periode observasi. Secara keseluruhan, uji korelasi secara kolektif mengindikasikan ketiadaan hubungan linear yang signifikan, baik di antara sesama variabel independen maupun antara variabel independen dan variabel dependen (NP). Mengingat tingkat korelasi yang rendah dan tidak signifikan secara statistik ini, maka analisis regresi data panel menjadi metode yang relevan untuk menginvestigasi pengaruh kausalitas, baik secara simultan maupun parsial. Sebagai tahapan awal sebelum pelaksanaan uji asumsi klasik, perlu ditentukan model estimasi regresi data panel yang paling sesuai di antara tiga alternatif: Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Penentuan model terbaik ini dilakukan melalui tiga pengujian spesifik, yaitu Uji Chow. Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier (LM). Tabel 3. Hasil Uji Chow Effects-Test Statistic Prob. Cross-section F 3,276778 0,0000 106,565625 0,0000 Cross-section Chi-square Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Pengujian Chow diaplikasikan untuk menentukan model yang lebih superior antara Common Effect Model (CEM) dengan Fixed Effect Model (FEM). Hasil pengujian menunjukkan nilai F-statistic sebesar 3,276778 dengan nilai probabilitas 0,0000 . < 0,. , sehingga hipotesis nol (HCA) ditolak. Konsekuensinya, model Fixed Effect (FEM) dinilai lebih sesuai untuk diaplikasikan daripada model Common Effect (CEM). Tabel 4. Hasil Uji Hausman Test Summary Cross-section random Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. Prob. 1,510977 0,4698 Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Uji Hausman dilaksanakan guna membandingkan superioritas antara Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM). Hasil uji memperlihatkan nilai Chi-Square sebesar Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A 1,510977 dengan probabilitas 0,4698 . > 0,. Temuan ini mengimplikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua model, sehingga model Random Effect (REM) dipilih karena dianggap lebih efisien. Tabel 5. Hasil Uji Lagrange Multiplier Test Summary Effect Test Breusch-Pagan Cross Section Time Both 32,38247 0,054080 32,43655 . ,0. ,8. ,0. Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Pengujian Lagrange Multiplier (LM) diaplikasikan untuk memilih superioritas model antara Random Effect Model (REM) dan Common Effect Model (CEM). Hasil dari uji BreuschPagan memperlihatkan nilai probabilitas sebesar 0,0000 < 0,05, yang mengindikasikan bahwa efek acak . andom effec. bersifat signifikan. Dengan demikian. REM merupakan model yang lebih superior untuk diaplikasikan daripada CEM. Berdasarkan hasil ketiga pengujian tersebut, terdapat kesimpulan bahwa model Random Effect (REM) dipilih sebagai model estimasi terbaik. Pemilihan ini didasarkan pada temuan bahwa REM terbukti lebih efisien dibandingkan FEM . erujuk pada hasil uji Hausma. serta lebih superior daripada CEM . erujuk pada hasil uji Chow dan LM). Tabel 6. Uji Multikolinearitas DER DER 1,000000 0,044848 0,044848 1,000000 Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Korelasi antar variabel independen (Dg dan De. semuanya memiliki nilai koefisien korelasi < 0,80, yang menunjukkan tidak terindikasi multikolinearitas di antara variabel independen. Tabel 7. Uji Heteroskedastisitas Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. 0,6657971 0,563080 1,168521 0,2442 0,661897 0,479535 1,380288 0,1692 Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A DER -0,080634 0,065114 -1,238355 0,2172 Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 Berdasarkan hasil pengujian atas nilai absolut residual, ditemukan bahwa seluruh variabel independen memperlihatkan nilai probabilitas yang lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa model regresi ini telah memenuhi asumsi homoskedastisitas, yang mengindikasikan bahwa varians dari residualnya bersifat konstan . Melalui serangkaian pengujian pemilihan model . eliputi Uji Chow. Hausman, dan Lagrange Multiplie. Model Efek Acak (Random Effect Model - REM) terpilih sebagai model estimasi yang paling sesuai untuk penelitian ini. Setelah terverifikasi bahwa model tersebut telah memenuhi asumsi-asumsi klasik, seperti bebas dari masalah multikolinearitas dan mengaplikasikan metode regresi data panel. Aplikasi analisis regresi data panel dalam riset ini bertujuan untuk menginvestigasi dampak dari variabel digitalisasi dan kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan. Objek penelitian adalah emiten sub-sektor perbankan yang tercatat di BEI selama periode 2019-2023. Berikut analisis regresi terhadap 180-unit observasi dari 36 Tabel 8. Hasil Regresi Data Panel Variable DER Koef 1,026328 0,541569 0,023586 Prob 0,1113 0,2942 0,7518 R-square 0,006557 Adjusted R-square -0,004668 F-statistic 0,584140 Prob-F 0,558657 Obs DER= debt to equity ratio. DG= dummy variable, 1 jika terindikasi adanya kandungan kata informasi digitalisasi, 0 apabila tidak ada indikasi adanya kandungan kata informasi digitalisasi (Fang et al. , 2. Sumber: Output pengolahan data pada software Eviews 12, 2025 NpACu = 1,0263 Ae 0,5416ADGACu 0,0236ADERACu AACu Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A Hasil Uji Parsial . -Tes. Pengujian t-statistik (Uji . diaplikasikan untuk menganalisis pengaruh dari masingmasing variabel independen secara individual terhadap variabel dependen (N. Hasil dari pengujian ini ditemukan bahwa kedua variabel independen, yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Digitalisasi (DG), masing-masing memiliki nilai probabilitas yang melampaui ambang batas signifikansi 0,05. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa secara parsial, tidak satu pun dari kedua variabel tersebut yang terbukti memiliki dampak signifikan secara statistik terhadap variabel dependen, yaitu Nilai Perusahaan (N. Untuk DG, digitalisasi menunjukkan arah koefisien yang positif, namun dengan nilai probabilitas sebesar 0,2942 yang tidak memenuhi ambang batas signifikansi . > 0,. Dapat diinterpretasikan bahwa, kendati secara teoretis digitalisasi berpotensi meningkatkan nilai perusahaan, temuan empiris pada sampel penelitian ini menunjukkan digitalisasi belum cukup kuat mempengaruhi persepsi pasar. Ketiadaan pengaruh signifikan ini menjadi sangat logis jika diposisikan sebagai pembanding terhadap tren koreksi tajam pada iklim investasi teknologi di Indonesia. Variabel Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,023586. Yang berarti bahwa setiap peningkatan satu unit pada DER, secara teoretis akan meningkatkan Np sebesar 0,023586, dengan asumsi ceteris paribus. Meskipun demikian, nilai probabilitas setinggi 0,7518 . > 0,. mengindikasikan bahwa pengaruh DER terhadap nilai Perusahaan, dianggap tidak terdapat signifikansi secara Ini berarti struktur permodalan yang diukur dengan DER belum terbukti memengaruhi nilai perusahaan secara langsung. Hasil Uji Simultan (F-Tes. Berdasarkan pada hasil Uji F (Uji Simulta. , terdapat nilai F-statistic sebesar 0,584140 dengan nilai probabilitas (Prob(F-statisti. ) sebesar 0,558657. Sebab nilai probabilitas ini lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05, maka hipotesis nol (HCA) gagal untuk ditolak. Hal ini mengimplikasikan bahwa secara bersama-sama . , kedua variabel independen (DG. DER) tidak memberikan pengaruh signifikan secara statistik terhadap Nilai Perusahaan (N. Hasil Uji Koefisien Determinasi (RA) Nilai koefisien determinasi (R-square. yang diperoleh dari model regresi adalah 0,006557. Mengindikasikan bahwa kapabilitas kolektif dari seluruh variabel independen dalam menerangkan varians pada variabel dependen (Nilai Perusahaa. sangat terbatas, dengan kontribusi penjelasan hanya sebesar 0,66%. Implikasinya, sisa varians sebesar 99,34% Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A diatribusikan pada faktor-faktor lain yang tidak diikutsertakan dalam model penelitian ini. Kelemahan model ini semakin nyata saat melihat nilai Adjusted R-squared yang bernilai negatif (Ae0,004. Nilai negatif ini merupakan sebuah indikasi kuat bahwa himpunan variabel independen yang dipilih tidak hanya gagal dalam memberikan penjelasan terhadap variasi nilai perusahaan, tetapi juga membuat model menjadi tidak pas . DISKUSI Pengaruh Digitalisasi terhadap Nilai Perusahaan Hasil pengujian statistik mengonfirmasi bahwa variabel digitalisasi (D. tidak memiliki pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap nilai perusahaan. Perolehan nilai probabilitas . > 0,. dari uji-t mengindikasikan bahwa digitalisasi belum dapat dianggap sebagai determinan utama dalam peningkatan nilai perusahaan selama periode 2019-2023. Walaupun koefisien regresi menunjukkan adanya tendensi hubungan yang positif, namun secara statistik, kekuatan hubungan tersebut tidak memadai untuk mendukung hipotesis yang diajukan. Temuan ini menunjukkan bahwa digitalisasi, meskipun semakin diadopsi oleh bank-bank di Indonesia, belum memberikan kontribusi yang jelas terhadap peningkatan nilai perusahaan di mata investor. Sebagai contoh. Bank Maspion (BMAS) mengalami peningkatan informasi digitalisasi dari tahun 2020 hingga 2023, namun nilai perusahaan (N. justru menurun dari 2,17 pada 2021 menjadi 1,68 pada 2023. Hal serupa terjadi pada Bank BTPN Syariah (BTPS), yang mencatat digitalisasi sejak 2020, dan nilai perusahaan menurun hingga negatif (NP = Ae 0,. Kedua kasus ini memperkuat hasil uji bahwa digitalisasi belum berdampak nyata terhadap persepsi pasar. Gambar berikut mengilustrasikan tren nilai perusahaan (NP) pada beberapa emiten yang telah mengadopsi digitalisasi: Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A TREN NILAI PERUSAHAAN BMAS 2,50 2,00 1,86 1,90 2,17 1,99 1,68 1,50 1,00 0,50 0,00 TREN NILAI PERUSAHAAN BTPS 0,60 0,56 0,41 0,28 0,40 0,12 0,20 -0,05 0,00 -0,20 Gambar 1. Tren Nilai Perusahaan BMAS & BTPS 2019-2023 Sumber: Data diolah . Analisis tren Nilai Perusahaan (NP) pada emiten BMAS dan BTPS dari tahun 2019 hingga 2023, yang keduanya terdata telah mengadopsi digitalisasi, menunjukkan hasil yang konsisten dengan temuan pengujian statistik yang menyimpulkan ketiadaan pengaruh signifikan dari digitalisasi terhadap nilai perusahaan. Grafik untuk BMAS menampilkan tren nilai perusahaan yang fluktuatif. setelah sempat mencapai puncaknya pada tahun 2021 dengan nilai 2,17. NP justru mengalami tren menurun hingga berakhir pada angka 1,68 di tahun 2023, lebih rendah dari posisi awalnya di tahun 2019. Kondisi yang lebih drastis terlihat pada BTPS, yang menunjukkan tren penurunan nilai perusahaan secara konsisten dan tajam selama lima tahun, bahkan jatuh ke nilai negatif (-0,. pada tahun 2023. Data visual ini secara langsung mendukung kesimpulan dari hasil uji tersebut. Apabila digitalisasi memiliki dampak positif yang kuat dan langsung, seharusnya tercermin dalam pertumbuhan nilai perusahaan yang Fenomena ini sekaligus memperkuat narasi bahwa digitalisasi dapat dikategorikan sebagai lagging indicator terhadap nilai perusahaan. Artinya, terdapat jeda waktu antara implementasi dan realisasi keuntungan. Investasi besar yang dikeluarkan untuk transformasi digital merupakan biaya langsung yang dapat menekan kinerja keuangan jangka pendek, sementara manfaatnya seperti peningkatan efisiensi operasional, jangkauan pasar, dan loyalitas nasabah membutuhkan waktu lebih lama untuk terwujud dan pada akhirnya tercermin dalam kenaikan nilai perusahaan (Bayramova et al. , 2. Dengan demikian, periode pengamatan hingga Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A tahun 2023 kemungkinan besar belum cukup panjang untuk menangkap dampak positif penuh dari strategi digital yang telah diimplementasikan oleh kedua bank tersebut. Temuan ini pun sejalan dengan studi Fang . , yang menunjukkan bahwa dampak transformasi digital tergantung pada orientasi nilai jangka panjang perusahaan. Fang . menjelaskan bahwa dampak transformasi digital tidaklah seragam, melainkan sangat bergantung pada orientasi strategis jangka panjang sebuah perusahaan. Menurut Fang . , digitalisasi akan lebih efektif dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan dan nilai perusahaan apabila telah terintegrasi secara matang ke dalam strategi inti. Hal ini menyiratkan bahwa jika inisiatif digital pada bank-bank di Indonesia masih bersifat operasional dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari fondasi strategi jangka panjang, wajar jika pasar belum memberikan apresiasi signifikan yang tercermin pada kenaikan nilai perusahaan. Dukungan empiris untuk fenomena ini juga datang dari pasar modal Indonesia melalui penelitian Firmansyah . Meskipun berfokus pada subsektor non-keuangan seperti makanan & minuman, tekstil, dan kimia selama periode 2019-2021, studi Firmansyah mendapati kesimpulan yang serupa yaitu pengungkapan informasi terkait digitalisasi terbukti tidak ada pengaruh signifikan pada nilai perusahaan. Fakta bahwa tren ini terjadi lintas sektor, baik di perbankan maupun manufaktur memperkuat argumen bahwa investor di pasar Indonesia pada periode tersebut kemungkinan besar belum sepenuhnya memandang digitalisasi sebagai pendorong nilai fundamental, melainkan masih sebagai pusat biaya atau inovasi yang dampaknya belum terukur. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan Berdasarkan hasil uji statistik, ditemukan bahwa proksi kinerja keuangan yang digunakan, yakni Debt to Equity Ratio (DER), tidak menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap nilai perusahaan. Nilai probabilitas > 0,05 pada uji parsial . -tes. menunjukkan bahwa DER tidak mampu menjelaskan variasi nilai perusahaan secara statistik selama periode pengamatan 2019Ae2023. Secara teori. DER menunjukkan struktur permodalan serta risiko finansial, namun temuan ini mengindikasikan bahwa pasar tidak memandang rasio tersebut sebagai sinyal utama dalam menilai nilai perusahaan. Secara umum, investor kemungkinan lebih tertarik pada indikator profitabilitas dan pertumbuhan jangka panjang daripada indikator solvabilitas. Sebagai contoh. Bank Mandiri (BMRI) selama lima tahun berturut-turut mencatatkan DER yang stabil di kisaran 0,05Ae0,06. Namun, nilai perusahaan (NP) justru tetap rendah dan stagnan, hanya berkisar antara 0,55 hingga 0,82 dari tahun 2019 hingga 2023. Hal serupa terjadi pada Bank BRIS (BRIS) yang memiliki tren DER rendah, namun nilai perusahaan bahkan menurun hingga Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A ke angka negatif (-0,. Kedua kasus ini mengindikasikan bahwa leverage rendah belum tentu dianggap bernilai oleh pasar, apabila tidak didukung oleh indikator-indikator finansial lain yang memiliki signifikansi strategis lebih tinggi. Ilustrasi visual mengenai tren Debt to Equity Ratio secara komparatif dengan tren nilai perusahaan pada emiten BMRI dan BRIS disajikan pada gambar berikut: Gambar 2. Tren DER Terhadap NP BMRI & BRIS . Sumber: Data diolah . Melalui analisis visual atas grafik periode 2019-2023, dapat ditarik interpretasi mengenai bagaimana temuan uji statistik dapat disimpulkan bahwa rasio Debt to Equity (DER) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan (N. terefleksikan pada data empiris emiten BMRI dan BRIS. Dapat diamati pada gambar 4. 2 untuk rasio hutang (DER), secara visual pergerakan DER pada kedua bank tampak seirama dengan Np pada beberapa Namun jika dilihat secara berkelanjutan, masih terlihat adanya crossing yang berlawanan pada tren DER terhadap Np, juga hasil uji statistik yang menunjukkan hubungan negatif menyiratkan interpretasi yang lebih dalam. Hal ini mengindikasikan bahwa sekalipun tingkat utang kedua bank sangat rendah, setiap penambahan utang secara statistik dianggap sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko dan berpotensi menekan nilai perusahaan dalam model analisis yang digunakan. Dengan demikian, terdapat kesimpulan bahwa rasio solvabilitas menurut hasil pengujian, berpengaruh negatif pada nilai perusahaan BMRI dan BRIS dalam periode pengamatan tersebut. Temuan ini konsisten dengan hasil riset Sinta & Wiyono . yang juga menyimpulkan bahwa DER tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan pada sektor industri makanan dan minuman . ood and beverage. Secara serupa. Hamidah & Ramdani . juga melaporkan kesimpulan yang sama pada sektor industri sejenis. Meskipun kedua studi tersebut berada dalam konteks industri berbeda, kesamaan temuan memperkuat dugaan bahwa permodalan belum bisa menjadi pertimbangan utama dalam pembentukan nilai pasar, termasuk dalam sektor perbankan. Dengan demikian, kinerja keuangan yang tercermin melalui DER Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A belum cukup kuat untuk berfungsi sebagai sinyal yang diterima pasar dalam mempengaruhi nilai perusahaan. Pengaruh Digitalisasi dan Kinerja Keuangan secara Simultan terhadap Nilai Perusahaan Hasil uji hipotesis mengindikasikan bahwa secara simultan, variabel digitalisasi (DG) dan kinerja keuangan yang diukur menggunakan rasio Debt to Equity (DER) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik pada nilai perusahaan. Temuan empiris ini secara eksplisit berkontradiksi dengan hipotesis riset yang dibangun di atas landasan teoretis Teori Sinyal (Signaling Theor. Secara teoretis, kombinasi antara sinyal inovasi . dan sinyal stabilitas . inerja keuanga. diasumsikan akan menciptakan persepsi positif yang kuat di mata investor, sehingga mampu mendorong peningkatan nilai perusahaan. Namun, temuan empiris dalam penelitian ini membuktikan bahwa gabungan kedua sinyal tersebut belum cukup kuat untuk dapat memberikan pengaruh yang berarti terhadap keputusan investasi para pelaku pasar modal di Indonesia dalam kurun waktu 2019-2023. Kegagalan sinyal ini dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang. Pertama, terkait sinyal digitalisasi, meskipun secara konseptual dianggap sebagai cerminan adaptasi dan inovasi, investor mungkin belum melihatnya sebagai keunggulan kompetitif yang fundamental. Informasi mengenai transformasi digital yang disampaikan oleh perusahaan bisa jadi masih belum terintegrasi sepenuhnya ke dalam strategi jangka panjang yang menghasilkan nilai nyata, seperti yang diisyaratkan oleh Fang . Akibatnya, investor bisa menganggap upaya digitalisasi hanya sebagai biaya operasional untuk "mengikuti tren" daripada sebagai investasi strategis yang menjamin pertumbuhan di masa depan. Kedua, sinyal kinerja keuangan melalui indikator DER mungkin tidak lagi menjadi faktor pembeda utama di sektor perbankan. Regulator yang ketat telah membuat sebagian besar bank memiliki struktur modal yang sehat, sehingga DER yang baik menjadi standar industri, bukan lagi sinyal keunggulan. Oleh karena itu, sinyal stabilitas yang dikirimkan melalui DER menjadi kurang relevan ketika dikombinasikan dengan sinyal digitalisasi yang juga masih ambigu. Pada akhirnya, ketidaksignifikanan pengaruh simultan ini mengindikasikan bahwa dua sinyal yang secara individu kurang kuat tidak serta-merta menjadi kuat ketika digabungkan. Faktor eksternal seperti tingginya noise di pasar modal, yang disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi makro selama periode penelitian, dapat mengaburkan sinyal-sinyal yang dikirim oleh perusahaan (Mispiyanti & Wicaksono, 2. Investor menunjukkan tendensi untuk bersikap lebih prudent serta lebih mengandalkan indikator-indikator yang telah teruji . roven Hal ini berimplikasi pada kegagalan informasi terkait digitalisasi dan struktur Suseno. et al. Dampak Digitalisasi Dan Kinerja Keuangan A modal untuk menembus Aokebisingan pasarAo . arket nois. , sehingga tidak mampu membuktikan dampak yang meyakinkan terhadap peningkatan nilai perusahaan. KESIMPULAN Riset ini melakukan analisis empiris mengenai dampak dari digitalisasi dan kinerja keuangan . iproksikan melalui Debt to Equity Ratio atau DER) terhadap nilai perusahaan pada 36 entitas sub-sektor perbankan di Indonesia untuk periode 2019-2023. Berdasarkan analisis regresi data panel dengan 180 unit observasi, hasil penelitian mengindikasikan bahwa, baik dengan pengujian parsial maupun simultan, variabel digitalisasi dan DER tidak berpengaruh statistik yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Kesimpulan ini didukung lebih lanjut oleh perolehan nilai koefisien determinasi (RA) yang sangat rendah, yakni sebesar 0,66%, yang merefleksikan kapabilitas kedua variabel independen yang terbatas untuk menjelaskan varians pada variabel nilai perusahaan. Hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa, dalam konteks teori sinyal, informasai digitalisasi dan rasio solvabilitas belum berfungsi sebagai sinyal yang kuat dan kredibel bagi investor di pasar modal Indonesia selama periode pengamatan. Adopsi teknologi kemungkinan masih berada pada tahap implementasi awal yang belum termanifestasi menjadi nilai fundamental yang diapresiasi pasar. Demikian pula, kinerja keuangan yang diukur melalui DER tampaknya bukan menjadi determinan utama dalam valuasi investor, yang mungkin lebih memprioritaskan indikator lain seperti profitabilitas. Dengan demikian, studi ini menyajikan sebuah bukti empiris yang esensial, yang mengindikasikan adanya suatu diskoneksi . antara implementasi strategi korporasi kontemporer dengan persepsi nilai di dalam sektor perbankan yang tengah mengalami transformasi. REKOMENDASI