Jurnal Pendiidkan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Lacak Jambi sebagai Media Pendidikan Karakter: Strategi Pelestarian Budaya Lokal di Kalangan Generasi Muda di Desa Teluk. Jambi Fatonah1*. Padhil Hudaya2. Denny Defrianti3 & Abd. Rahman4 1,2,3,4 Universitas Jambi Email: fatonah. nurdin@unja. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-19 Revised : 2025-11-25 Accepted : 2025-11-28 KEYWORDS Lacak Jambi Character Education Cultural Preservation Local Wisdom Teluk Village KATA KUNCI Lacak Jambi Pendidikan Karakter Pelestarian Budaya Kearifan Lokal Desa Teluk ABSTRAC Lacak is a local wisdom of the Malay community in Jambi that functions as a head covering for men in traditional clothing. This cultural heritage has a philosophical meaning that reflects noble values such as responsibility, honor, and determination. However, in Teluk Village. Batang Hari Regency, the interest and understanding of the younger generation towards Lacak has declined due to the influence of globalization and low local cultural literacy. This study aims to . identify the character values contained in the shape, folds, and function of Lacak according to the local wisdom of the Teluk Village community, and . formulate strategies for preserving Lacak as a medium for character education for the younger generation. The method used is descriptive qualitative with data collection techniques through participatory observation, interviews with traditional leaders and educators, and review of traditional documents. The analysis was conducted using a symbolic-philosophical approach to interpret the meaning of character values in Lacak. The results of the study show that Lacak Melayu Jambi contains three main values, namely craftsmanship . , authority . , and determination . Effective preservation strategies include integrating Lacak values into school extracurricular activities, establishing youth clubs, and fostering collaboration between schools and local Malay Customary Institutions. In this way. Lacak can serve as a medium for character education that fosters pride in cultural identity and strengthens the character of the younger generation in Jambi. ABSTRAK Lacak merupakan kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi yang berfungsi sebagai penutup kepala pria dalam pakaian adat. Warisan budaya ini memiliki makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai luhur seperti tanggung jawab, kehormatan, dan keteguhan. Namun, di Desa Teluk. Kabupaten Batang Hari, minat dan pemahaman generasi muda terhadap Lacak menurun akibat pengaruh globalisasi dan rendahnya literasi budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk . mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang terkandung dalam bentuk, lipatan, dan fungsi Lacak menurut kearifan lokal masyarakat Desa Teluk, serta . merumuskan strategi pelestarian Lacak sebagai media pendidikan karakter bagi generasi muda. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara dengan tokoh adat dan pendidik, serta telaah dokumen adat. Analisis dilakukan dengan pendekatan simbolik-filosofis untuk menafsirkan makna nilai karakter dalam Lacak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lacak Melayu Jambi mengandung tiga nilai utama, yaitu kerajinan . , kewibawaan . , dan keteguhan 136 | JPI. Vol. No. November 2025 . anggung jawa. Strategi pelestarian yang efektif meliputi integrasi nilai Lacak dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah, pembentukan sanggar oleh pemuda, dan kolaborasi antara sekolah dengan Lembaga Adat Melayu setempat. Dengan demikian. Lacak dapat berperan sebagai media pendidikan karakter yang mampu menumbuhkan kebanggaan identitas budaya dan memperkuat karakter generasi muda di Jambi. Pendahuluan Kearifan lokal merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter dan identitas suatu bangsa (Kemdendikbud, 2. Dalam konteks kebudayaan Melayu Jambi, salah satu warisan budaya yang sarat makna filosofis adalah Lacak, yaitu penutup kepala tradisional yang digunakan oleh kaum pria dalam upacara adat dan kegiatan kebudayaan. Keberadaan Lacak bukan sekadar pelengkap busana, melainkan simbol nilai-nilai luhur yang merepresentasikan sikap, martabat, dan kepribadian orang Melayu Jambi. Secara historis. Lacak telah tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat secara turuntemurun dan menjadi bagian integral dari struktur sosial-budaya Melayu Jambi. Namun, realitas sosial di era globalisasi memperlihatkan adanya pergeseran orientasi budaya di kalangan generasi muda (Afendi et al. , 2. Desa Teluk. Kecamatan Pemayung. Kabupaten Batang Hari, misalnya, muncul fenomena menurunnya minat dan pemahaman generasi muda terhadap simbol-simbol budaya lokal, termasuk Lacak. Modernisasi dan arus budaya populer yang kuat telah menyebabkan generasi muda lebih mengenal simbol budaya luar ketimbang warisan tradisionalnya sendiri. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan terputusnya rantai pewarisan nilai-nilai budaya lokal (Haq et al. , 2. , khususnya nilai-nilai karakter yang terkandung dalam tradisi Melayu Jambi. Dalam konteks pendidikan karakter. Lacak memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan media pembelajaran nilai. Bentuk, warna, dan lipatan pada Lacak tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga mengandung makna simbolik yang merefleksikan prinsip moral dan etika sosial, seperti disiplin, tanggung jawab, kehormatan, dan Nilai-nilai ini sejalan dengan dimensi pendidikan karakter sebagaimana dikemukakan oleh Lickona . , yang menekankan pentingnya integrasi antara pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan tindakan moral . oral actio. Dengan demikian, pelestarian Lacak tidak hanya berfungsi sebagai upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai strategi untuk menanamkan karakter mulia bagi generasi muda (Mansur, 2. Selain itu, penelitian ini dilandasi oleh kesadaran bahwa pelestarian budaya lokal tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan yang kontekstual dan berbasis komunitas. Tilaar . menegaskan bahwa pendidikan yang berakar pada budaya lokal mampu memperkuat identitas kebangsaan sekaligus meningkatkan kesadaran sosial peserta didik (Hazlim et al. , 2. Oleh karena itu, melalui kajian filosofis terhadap simbolisme Lacak, penelitian ini berupaya menggali kembali nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya serta merumuskan strategi pelestarian yang relevan dengan konteks kehidupan generasi muda di Desa Teluk. Desa Teluk dipilih sebagai lokasi penelitian bukan hanya karena masih menyimpan praktik budaya tradisional yang kuat, tetapi juga karena statusnya sebagai Desa Laboratorium Terpadu (DLT) Universitas Jambi, yang menjadikannya pusat kegiatan kolaboratif antara universitas, pemerintah desa, dan masyarakat dalam pelestarian budaya dan pendidikan karakter berbasis lokal. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: Mengidentifikasi nilai-nilai karakter spesifik yang terinternalisasi dalam Lacak berdasarkan kearifan lokal masyarakat Desa Teluk, dan Merumuskan model strategi pelestarian Lacak sebagai media pendidikan karakter yang filosofis dan kontekstual bagi generasi muda di tingkat Tinjauan Literatur Konsep Kearifan Lokal dan Identitas Budaya Kebudayaan menurut Koentjaraningrat . , merupakan sistem nilai, ide, dan simbol yang hidup dalam masyarakat dan diwariskan secara turuntemurun. Nilai-nilai budaya seperti gotong royong, tanggung jawab, dan kedisiplinan dapat dijadikan fondasi pendidikan karakter (Tilaar, 2. Sedangkan kearifan lokal merupakan hasil akumulasi pengetahuan, nilai, dan praktik sosial yang tumbuh dari pengalaman kolektif suatu masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Koentjaraningrat, 2. Kearifan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 137 lokal berfungsi sebagai panduan etika dan norma dalam kehidupan sosial, serta menjadi identitas yang membedakan satu kelompok masyarakat dengan kelompok lain. Dalam konteks budaya Melayu Jambi, kearifan lokal terwujud dalam berbagai bentuk, seperti sistem adat, kesenian, sastra lisan, hingga pakaian tradisional seperti Lacak. Menurut Sibarani . , kearifan lokal tidak hanya mengandung nilai tradisional, tetapi juga memiliki potensi edukatif dan transformatif. Nilainilai yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber pendidikan karakter yang kontekstual karena berakar pada budaya masyarakat sendiri. Oleh karena itu, pelestarian Lacak sebagai warisan budaya tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga memiliki dimensi pedagogis yang relevan dengan pembentukan karakter generasi muda (Zulkarnaen. Lacak dalam Budaya Melayu Jambi Lacak merupakan penutup kepala tradisional yang digunakan oleh laki-laki Melayu Jambi dalam upacara adat dan kegiatan kebudayaan. Secara bentuk. Lacak terbuat dari kain yang dilipat dengan pola tertentu, menandakan status sosial dan kebijaksanaan pemakainya. Terdapat beberapa model Lacak, antara lain Lacak Kepak Ayam Patah. Lacak Gagak Hinggap, dan Lacak Pucuk Rebung, masing-masing memiliki makna simbolik tersendiri (Alwi, 2. Simbolisme Lacak merepresentasikan nilai-nilai luhur yang dianut masyarakat Melayu, seperti kehormatan . , kejujuran, keteguhan hati, dan kedisiplinan. Dalam filosofi Melayu, setiap lipatan pada Lacak menggambarkan proses pembentukan diri manusia yang harus melalui tahapan kedewasaan moral dan spiritual. Dengan demikian. Lacak bukan sekadar atribut fisik, tetapi juga metafora dari perjalanan karakter seseorang menuju kebijaksanaan (Sabir, 2. Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal Pendidikan karakter adalah proses penanaman nilai moral dan etika yang bertujuan membentuk individu menjadi manusia yang berintegritas dan bertanggung jawab. Lickona . menjelaskan bahwa pendidikan karakter mencakup tiga dimensi utama, yakni pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan tindakan moral . oral actio. Ketiga dimensi ini dapat diintegrasikan secara efektif melalui kegiatan pembelajaran yang berbasis pada budaya lokal. Menurut Tilaar . , pendidikan yang berakar pada budaya lokal memberikan ruang bagi peserta didik untuk memahami nilai-nilai moral melalui pengalaman langsung dan simbol budaya. Suyadi . menambahkan bahwa pendidikan berbasis budaya lokal membantu peserta didik mengenal jati diri bangsanya, sekaligus memperkuat keterlibatan sosial di lingkungannya. Dalam konteks ini. Lacak dapat dijadikan media pembelajaran karakter yang tidak hanya mengenalkan warisan budaya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, keuletan, dan rasa hormat terhadap tradisi. Pendekatan Filosofis-Simbolik Pendidikan Pendekatan filosofis-simbolik dalam penelitian kebudayaan berupaya memahami makna di balik simbol dan praktik budaya yang berkembang di masyarakat (Koentjaraningrat, 2009. Geertz, 1. Dalam hal ini, simbol tidak hanya dianggap sebagai representasi visual, tetapi juga sebagai struktur pemikiran dan sistem nilai yang mengarahkan perilaku sosial. Melalui interpretasi simbolik terhadap Lacak, peneliti dapat menafsirkan makna filosofis yang terkandung di dalamnya serta relevansinya terhadap pembentukan karakter generasi muda. Filsafat simbolik mengajarkan bahwa makna suatu tradisi tidak bersifat statis, tetapi dinamis dan dapat diaktualisasikan dalam konteks modern (Cassirer, 1. Oleh karena itu. Lacak sebagai simbol budaya dapat dihidupkan kembali melalui pendidikan yang mengaitkan nilai-nilai tradisional dengan kehidupan generasi muda masa kini. Metode Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis filosofis-simbolik. Pendekatan ini dipilih karena menggambarkan fenomena kebudayaan, tetapi juga menafsirkan makna yang terkandung dalam simbol budaya Lacak sebagai media pendidikan karakter. Menurut Moleong . , penelitian kualitatif berupaya memahami fenomena secara mendalam melalui interpretasi terhadap makna yang muncul dari interaksi sosial dan simbolik (Mundzir, 2. Pendekatan filosofis-simbolik digunakan untuk menggali nilai-nilai karakter yang terkandung dalam bentuk, motif, dan fungsi Lacak, kemudian mengaitkannya dengan nilai moral yang hidup di masyarakat Melayu Jambi. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga hermeneutic yakni menafsirkan makna budaya dalam konteks pendidikan karakter. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 138 | JPI. Vol. No. November 2025 Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Teluk. Kecamatan Pemayung. Kabupaten Batang Hari. Provinsi Jambi. Lokasi ini dipilih karena merupakan salah satu wilayah yang masih mempraktikkan tradisi pemakaian Lacak dalam kegiatan adat Melayu, meskipun sudah mulai berkurang di kalangan generasi muda. Selain alasan tersebut, pemilihan Desa Teluk juga didasarkan pada statusnya sebagai Desa Laboratorium Terpadu (DLT) Universitas Jambi, yang menjadi kawasan binaan dan pusat implementasi program pengabdian, penelitian, serta pendidikan berbasis masyarakat oleh civitas akademika Universitas Jambi. Keberadaan DLT memberikan peluang strategis untuk melakukan penelitian kolaboratif antara akademisi, masyarakat, dan lembaga adat dalam mengembangkan strategi pelestarian budaya lokal secara berkelanjutan. Subjek penelitian terdiri atas: Tokoh adat dan Tuo Tengganai sebagai penjaga nilai-nilai adat dan simbol budaya. Guru dan tenaga pendidik di sekolah dasar dan menengah Desa Teluk sebagai pelaku mengintegrasikan nilai budaya lokal. Pemuda dan pelajar Desa Teluk sebagai representasi generasi penerus budaya lokal. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: Observasi mengamati praktik adat dan penggunaan Lacak dalam berbagai kegiatan budaya. Wawancara mendalam, dilakukan dengan tokoh adat. Tuo Tengganai, guru, dan pemuda untuk memperoleh pemahaman simbolik terhadap Lacak dan persepsi tentang nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Dokumentasi, mencakup pengumpulan foto, arsip adat, serta catatan sejarah tentang penggunaan Lacak di masyarakat Melayu Jambi. Analisis Data Analisis data dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan, yang meliputi: Reduksi Ae menyederhanakan informasi lapangan yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian data Ae menyusun hasil wawancara dan dalam bentuk naratif yang menggambarkan makna simbolik Lacak. Penarikan kesimpulan Ae menafsirkan nilai-nilai karakter yang ditemukan dan mengaitkannya dengan konsep pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Untuk memperdalam interpretasi, digunakan pendekatan hermeneutik-filosofis, yaitu menafsirkan simbol Lacak dalam konteks sosial dan moral masyarakat Desa Teluk, dengan mempertimbangkan aspek bentuk, lipatan, dan fungsi dalam adat Melayu. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami makna yang lebih dalam daripada sekadar aspek visual, yaitu makna moral dan spiritual yang diwariskan melalui simbol budaya. Keabsahan Data Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode (Sugiyono, 2. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan hasil wawancara dari berbagai informan . okoh adat, guru, pemud. , sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan mengombinasikan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses member check juga dilakukan untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan makna yang dimaksud oleh masyarakat adat. Hasil Gambaran Umum Tradisi Lacak di Desa Teluk Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, masyarakat Desa Teluk masih mengenal Lacak sebagai bagian integral dari identitas budaya Melayu Jambi. Meskipun penggunaannya kini mulai terbatas pada acara adat seperti pernikahan, pengukuhan gelar adat, dan upacara budaya, nilai simbolik Lacak tetap diakui sebagai representasi kehormatan dan martabat kaum pria Melayu. Secara tradisional. Lacak memiliki empat model utama yang diwariskan secara turun-temurun, yaitu: Lacak Kepak Ayam Patah Ae melambangkan kerendahan hati dan kesiapan untuk menghadapi berbagai situasi kehidupan dengan kesabaran. Lacak Gagak Hinggap Ae menggambarkan kewaspadaan, ketegasan, serta kemampuan berpikir cepat dan bijaksana dalam mengambil . Lacak Pucuk Rebung Ae bermakna semangat belajar, pertumbuhan moral, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, sebagaimana rebung muda yang terus tumbuh ke atas. Lacak Kepak Elang Ae melambangkan kewibawaan, keberanian, dan kepemimpinan yang tinggi. mencerminkan figur laki-laki Melayu yang kuat dan bertanggung jawab terhadap komunitasnya. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 139 Selain empat model tradisi tersebut, di era modern berkembang pula Lacak kreasi, yaitu inovasi bentuk Lacak yang tetap mempertahankan nilai filosofisnya namun disesuaikan dengan konteks Salah satu tokoh penting dalam pengembangan Lacak kreasi adalah Zainul Bahri, budayawan asal Jambi yang telah menciptakan 28 model Lacak kreasi dengan inspirasi dari tokohtokoh pahlawan dan figur lokal Jambi. Kegiatan pengenalan dan pelatihan Lacak kreasi ini dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2025 di Desa Teluk, dengan melibatkan anak-anak sekolah, remaja, serta perangkat desa. Dalam kegiatan tersebut, para peserta diajarkan berbagai model Lacak kreasi, antara lain: Lacak Sultan Thaha, yang melambangkan keberanian, patriotisme, dan semangat juang mempertahankan kehormatan bangsa. Lacak Raden Mather, yang mencerminkan kepemimpinan yang bijak. Lacak Orang Kayo Hitam, merepresentasikan kewibawaan, kekuatan moral, dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Lacak Orang Tuo Pinggai, yang menggambarkan kebijaksanaan, kejujuran, dan kesetiaan pada nilai-nilai adat. Pelatihan ini menjadi contoh konkret strategi pelestarian budaya berbasis pendidikan, di mana nilai-nilai karakter ditransmisikan melalui kegiatan kreatif dan partisipatif. Selain menumbuhkan keterampilan dan kebanggaan budaya, kegiatan ini juga memperkuat jembatan antara kearifan lokal dan pembelajaran karakter modern (Miranti et al, 2. Gambar 1. Pelatihan pembuatan lacak di Desa Teluk oleh budayawan datuk Zainul Bahri kepada anak-anak sekolah, para remaja desa Teluk serta perangkat Desa Teluk. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya Lacak tidak hanya bertahan sebagai simbol tradisi, tetapi juga berkembang menjadi alat edukasi karakter dan identitas budaya bagi generasi muda Desa Teluk. Inovasi seperti ini memperlihatkan bahwa Lacak merupakan tradisi hidup . iving traditio. yang adaptif terhadap zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi inti warisan Melayu Jambi. Makna Filosofis Simbolik Lacak Berdasarkan hasil observasi, wawancara dengan tokoh adat, dan analisis simbolik. Lacak tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala atau pelengkap busana adat Melayu Jambi, tetapi juga sebagai simbol nilai-nilai karakter dan moral yang diwariskan turun-temurun. AySetiap bentuk Lacak mengandung makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai hidup masyarakat Melayu mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, hingga semangat kepemimpinanAy tutur wakil ketua umum Lembaga Adat Melayu Jambi datuk Hasan Basri Jamik pada kegiatan seminar pakaian adat Melayu Jambi 18 Oktober 2025. Makna Simbolik Lacak Tradisional Empat model Lacak tradisional di Desa Teluk masing-masing memiliki makna filosofis yang khas dan sarat nilai karakter: Lacak Kepak Ayam Patah. Melambangkan kerendahan hati, ketabahan, dan Model ini menggambarkan sikap manusia yang siap menerima segala cobaan hidup dengan lapang dada tanpa kehilangan kehormatan Nilai ini sejalan dengan prinsip rendah hati dalam kebijaksanaan, yang menjadi dasar pembentukan karakter berakhlak mulia dalam masyarakat Melayu Jambi. Lacak Gagak Hinggap Mengandung makna kewaspadaan, ketegasan, dan kecerdikan dalam berpikir. Sebagaimana burung gagak yang berhenti sejenak untuk mengamati situasi sebelum bertindak, model ini mengajarkan agar seseorang bersikap bijak dalam mengambil Nilai ini relevan dengan dimensi moral reasoning dalam pendidikan karakter (Lickona, 1. , yakni kemampuan menimbang baik-buruk sebelum bertindak. Lacak Pucuk Rebung Filosofinya menggambarkan pertumbuhan. Pucuk rebung yang terus tumbuh ke atas menjadi simbol semangat belajar dan keinginan untuk memperbaiki diri. Nilai ini sejalan dengan karakter lifelong learning dalam pendidikan abad ke21 yang menekankan pengembangan diri Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 140 | JPI. Vol. No. November 2025 . Lacak Kepak Elang Melambangkan kewibawaan, kepemimpinan, dan keberanian moral. Burung elang dalam budaya Melayu Jambi menjadi simbol pemimpin yang kuat namun berjiwa pengayom. Nilai ini mengajarkan pentingnya integritas, tanggung jawab sosial, dan keberanian membela kebenaran. Dalam konteks pendidikan karakter, nilai ini termasuk dalam dimensi leadership character, yaitu kemampuan memimpin dengan etika dan empati. Keempat bentuk Lacak tradisional tersebut menunjukkan keseimbangan antara aspek etika . , estetika . , dan spiritualitas . esadaran nila. Bentuk dan lipatan Lacak yang rapi serta simetris merefleksikan nilai kerajinan dan kerapian, sedangkan posisi Lacak di kepala menandakan penghormatan terhadap akal dan kebijaksanaan manusia. bertindak adil dalam menghadapi tantangan . Lacak Orang Kayo Hitam, menggambarkan kewibawaan, kekuatan moral, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Nilai ini berfungsi menumbuhkan karakter percaya diri dan tangguh di kalangan remaja. Lacak Orang Tuo Pinggai, mengandung nilai kebijaksanaan, kesetiaan, dan kejujuran. Tokoh ini merepresentasikan sosok tua adat yang dihormati karena ketulusan dan kelurusannya. Lacak Datuk Paduko Berhalo, melambangkan kepemimpinan, kebijaksanaan dan kebenaran. Gambar 3. Antusias anak-anak ketika mendengarkan makna dan nilai-nilai filosofis dari setiap lacak yang telah mereka praktekkan. Gambar 2. Pelatihan membuat lacak dengan media kertas kado oleh datuk Zainul yang dibantu oleh dosen-dosen jurusan Sejarah. Seni dan Arkeologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi Makna Simbolik Lacak Kreasi Perkembangan Lacak kreasi oleh budayawan Zainul Bahri menandai proses revitalisasi budaya yang dinamis di Desa Teluk. Inovasi ini tidak sekadar menambah ragam bentuk, tetapi juga mengaktualisasikan nilai-nilai kepahlawanan dan nasionalisme lokal dalam pendidikan karakter. Beberapa Lacak kreasi yang diperkenalkan pada kegiatan pelatihan 4 Oktober 2025 memiliki makna filosofis berikut: Lacak Sultan Thaha, melambangkan semangat juang, patriotisme, dan cinta tanah air. Nilai ini penting untuk menanamkan karakter kebangsaan pada generasi muda agar bangga terhadap sejarah perjuangan lokal. Lacak Raden Mather, mewakili kecerdasan, keteladanan, dan kepemimpinan moral. Model ini mengajarkan pentingnya berpikir jernih dan Dengan demikian. Lacak kreasi bukan sekadar produk estetis, tetapi juga media transformasi nilai pembentukan karakter modern. Pengajaran Lacak kreasi kepada siswa, remaja, dan perangkat desa menjadi bentuk nyata dari pendidikan berbasis budaya lokal, sebagaimana disarankan oleh Tilaar . dan Suyadi . , bahwa pendidikan yang berakar pada kearifan lokal mampu menciptakan manusia yang beridentitas, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Sintesis Nilai Filosofis dan Pendidikan Karakter Dari interpretasi simbolik baik terhadap Lacak tradisional maupun Lacak kreasi, dapat disimpulkan bahwa Lacak mengandung nilai-nilai karakter utama yang bersifat universal namun berakar lokal, yaitu: Kerajinan (Disiplin dan Kerapia. Ae tercermin dari proses pelipatan yang teliti dan rapi. Kewibawaan (Kehormatan dan Kepemimpina. Ae terlihat dari posisi dan makna simbolik Lacak di kepala. Keteguhan (Tanggung Jawab dan Keberanian Mora. Ae tercermin dari bentuk lipatan yang kokoh dan simetris. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 141 . Patriotisme dan Cinta Budaya Lokal Ae ditumbuhkan melalui pengenalan Lacak kreasi yang mengangkat tokoh-tokoh pahlawan daerah. Nilai-nilai tersebut menjadi inti pendidikan karakter berbasis budaya Melayu Jambi, yang mengajarkan keseimbangan antara moral, intelektual, dan spiritual. Lacak dengan demikian bukan sekadar artefak adat, melainkan teks simbolik yang dapat AudibacaAy dan AudiajarkanAy untuk membangun karakter generasi muda yang berakar pada kearifan lokal namun terbuka pada dunia global. Lacak sebagai Media Pendidikan Karakter Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lacak, baik dalam bentuk tradisional maupun kreasi, berpotensi besar menjadi media pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai moral, estetika, dan sosial yang terkandung dalam simbol Lacak sejalan dengan dimensi karakter yang dikembangkan dalam sistem pendidikan nasional, terutama dalam penguatan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan religiusitas, gotong royong, mandiri, berpikir kritis, dan berkebinekaan global. Lacak sebagai Media Edukasi Kontekstual Dalam konteks pendidikan di Desa Teluk. Lacak dapat digunakan sebagai media pembelajaran kontekstual . ontextual learnin. , di mana siswa diajak memahami nilai budaya lokal melalui pengalaman langsung. Hal ini terbukti dari kegiatan pelatihan 28 model Lacak kreasi yang diselenggarakan pada 4 Oktober 2025 oleh budayawan Zainur Bahri bersama perangkat Desa Teluk dan enam orang dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari Jurusan Sejarah. Seni dan Arkeologi Program Studi Ilmu Sejarah sebagai pendamping dari Universitas Jambi. Gambar 4. Menunjukan lacak hasil karya anakanak sekolah dasar di Desa Teluk kegiatan tersebut, siswa dan remaja desa belajar tentang sejarah, filosofi, serta makna simbolik dari setiap bentuk Lacak. Beberapa guru yang terlibat dalam kegiatan ini mengungkapkan bahwa metode pembelajaran berbasis budaya seperti ini lebih mudah diterima oleh peserta didik karena menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, bermakna, dan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pandangan Lickona . yang menyatakan bahwa pendidikan karakter akan efektif apabila nilai-nilai moral tidak diajarkan secara verbalistik, tetapi melalui pengalaman nyata dan keteladanan Integrasi Nilai Lacak dalam Kurikulum Sekolah dan Komunitas Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian sekolah di Desa Teluk telah mulai mengenalkan unsur budaya lokal, meskipun belum secara Berdasarkan temuan ini, integrasi Lacak sebagai media pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga bentuk pendekatan: Pendekatan Kurikuler. Mengintegrasikan nilai-nilai Lacak ke dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila. Seni Budaya, atau Projek Profil Pelajar Pancasila. Misalnya, siswa diminta menelusuri filosofi Lacak dan mengaitkannya dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Pendekatan Kokurikuler dan Ekstrakurikuler. Melalui kegiatan ekstrakurikuler seni budaya atau pramuka, siswa dapat diajak membuat Lacak, mengenakannya dalam kegiatan sekolah, dan mendiskusikan nilai moral yang terkandung di Kegiatan seperti AuHari Budaya LacakAy atau AuLomba Lacak KreatifAy juga bisa menjadi bentuk konkret penguatan karakter berbasis budaya . Pendekatan Komunitas (Community-Based Educatio. Kolaborasi antara sekolah, tokoh adat. Lembaga Adat Melayu (LAM), dan Desa Laboratorium Terpadu (DLT) Universitas Jambi menjadi kunci keberhasilan pelestarian budaya. Melalui kolaborasi ini. Lacak tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga alat pengajaran dan pembinaan karakter masyarakat desa secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelatihan keterampilan membuat Lacak, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nilai karakter, seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama. Melalui Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 142 | JPI. Vol. No. November 2025 Gambar 5. Remaja dan masyarakat Desa Teluk turut serta belajar membuat lacak kreasi guna mengembangkan kearifan budaya lokal. Pendekatan-pendekatan ini mengukuhkan bahwa Lacak dapat berfungsi sebagai media transfer nilai moral dan sosial melalui mekanisme yang alami, partisipatif, dan menyenangkan. Lacak sebagai Sarana Penguatan Identitas dan Kebanggaan Lokal Bagi generasi muda Desa Teluk, mengenal dan membuat Lacak berarti juga belajar mengenal jati diri dan kebanggaan terhadap asal-usulnya. Proses pembelajaran Lacak melibatkan pengalaman estetik, moral, dan spiritual, yang semuanya berkontribusi dalam pembentukan karakter. Melalui kegiatan Lacak kreasi, anak-anak dan remaja tidak hanya mengembangkan keterampilan budaya, tetapi juga internalisasi nilai karakter luhur, seperti kerja keras, keuletan, dan cinta tanah air. Misalnya. Lacak Sultan Thaha menumbuhkan semangat nasionalisme. Lacak Orang Kayo Hitam menanamkan nilai tanggung jawab dan keberanian. sementara Lacak Pucuk Rebung menumbuhkan semangat belajar dan adaptasi positif. Kegiatan ini secara nyata memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dapat berlangsung melalui simbol budaya yang hidup di tengah masyarakat, bukan hanya dalam ruang kelas. Dengan kata lain. Lacak berfungsi sebagai Aukurikulum budayaAy yang menanamkan nilai-nilai luhur secara alami dan Transformasi Budaya Menuju Pendidikan Berkelanjutan Upaya menjadikan Lacak sebagai media pendidikan karakter juga mendukung konsep Education for Sustainable Culture, yaitu pendidikan yang berfungsi melestarikan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari keberlanjutan sosial. Pelestarian Lacak bukan sekadar melindungi warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter, beridentitas, dan adaptif terhadap tantangan global. Dengan demikian. Lacak berperan ganda Ai sebagai warisan budaya dan sekaligus alat transformasi sosial yang menghubungkan tradisi dengan pendidikan modern. Inilah bentuk nyata sinergi antara budaya, pendidikan, dan masyarakat, di mana simbol tradisi menjadi sarana aktualisasi nilai karakter bangsa. Strategi Pelestarian Lacak sebagai Warisan Karakter Pelestarian Lacak sebagai warisan budaya sekaligus media pendidikan karakter memerlukan strategi yang sistematis, kolaboratif, dan Berdasarkan hasil penelitian lapangan di Desa Teluk. Kecamatan Pemayung, terdapat empat strategi utama yang efektif untuk menjaga eksistensi Lacak di tengah generasi muda, yaitu: . revitalisasi budaya berbasis pendidikan, . integrasi kelembagaan, . penguatan partisipasi komunitas, dan . inovasi budaya adaptif. Revitalisasi Budaya Berbasis Pendidikan Revitalisasi budaya dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai dan praktik budaya lokal melalui pendekatan pendidikan formal maupun nonformal. Di Desa Teluk. Lacak diajarkan tidak hanya sebagai keterampilan membuat lipatan kain tradisional, tetapi juga sebagai pembelajaran karakter berbasis simbol budaya. Program pelatihan Lacak kreasi pada 4 Oktober 2025, yang difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi yang diwakili oleh dosen-dosen dari program studi ilmu sejarah. Arkeologi dan pendidikan sejarah serta mengandeng mitra budayawan Jambi datuk Zainul Bahri kantor Desa Teluk yang diketuai datuk Ad, merupakan contoh konkret dari revitalisasi budaya melalui pendidikan. Dalam kegiatan ini, anak-anak sekolah, remaja, dan perangkat desa tidak hanya belajar secara teknis, tetapi juga memahami makna filosofis di balik setiap model Lacak, seperti Lacak Sultan Thaha . eberanian dan patriotism. dan Lacak Orang Kayo Hitam . anggung jawab dan kepemimpina. Revitalisasi semacam ini memperkuat kesadaran bahwa budaya lokal bukanlah peninggalan statis, melainkan sumber nilai moral dan spiritual yang dapat dihidupkan kembali melalui pembelajaran yang kontekstual dan partisipatif. Integrasi Kelembagaan antara Sekolah. Desa, dan Perguruan Tinggi Keberadaan Desa Teluk sebagai Desa Laboratorium Terpadu (DLT) Universitas Jambi Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 143 menjadi peluang strategis dalam membangun sinergi kelembagaan untuk pelestarian Lacak. Dalam konteks ini. DLT berfungsi sebagai penghubung antara pendidikan tinggi, masyarakat, dan pemerintah desa dalam mengembangkan program berbasis budaya lokal. Integrasi kelembagaan dapat dilakukan melalui: Kurikulum Kolaboratif pengembangan muatan lokal di sekolah-sekolah Desa Teluk yang memasukkan unsur Lacak dan kearifan Melayu Jambi dalam mata pelajaran seni budaya dan pendidikan karakter. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Budaya mahasiswa Universitas Jambi dapat melakukan pendampingan, dokumentasi, dan pelatihan Lacak sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat. Kerjasama Desa-Universitas berupa perjanjian kerja sama (MoU) antara pemerintah Desa Teluk dan Universitas Jambi untuk mengembangkan desa budaya berbasis pendidikan karakter. Model integrasi ini memperkuat konsep linkage and matching antara dunia pendidikan dan kebudayaan, menjadikan desa bukan hanya objek penelitian, tetapi juga laboratorium hidup bagi pengembangan karakter bangsa. Penguatan Partisipasi Komunitas dan Lembaga Adat Pelestarian budaya tidak dapat berjalan tanpa keterlibatan aktif masyarakat sebagai pemilik dan pewaris nilai-nilai budaya itu sendiri. Karena itu, strategi berikutnya adalah memperkuat partisipasi komunitas adat dan pemuda desa. Hasil wawancara dengan Tuo Tengganai Desa Teluk menunjukkan bahwa keterlibatan tokoh adat dalam pembinaan generasi muda sangat berperan Tokoh adat berfungsi sebagai penutur nilainilai moral yang terkandung dalam tradisi Lacak, sedangkan pemuda desa berperan sebagai agen transformasi budaya. Beberapa diimplementasikan oleh kepala desa datuk Abdussomad di Desa Teluk paska pelatihan pembuatan lacak yang beliau sampaikan antara lain: Pembentukan Sanggar Batik menghidupkan kembali pengrajin batik Desa Teluk sehingga nanti sanggar ini bisa turut serta memproduksi lacak kreasi Desa Teluk, sanggar menjai tempat pelatihan dan pembuatan lacak tradisi maupun kreasi. Pelaksanaan Festival Wisata Tahunan (Festival Duria. Desa Teluk bisa mengolaborasi dengan penggunaan lacak Melayu Jambi di Desa Teluk sebagai agenda tahunan yang melibatkan sekolah, tokoh adat, dan masyarakat umum. Pelibatan perangkat desa dalam kegiatan pelatihan dan dokumentasi Lacak kreasi, yang memperkuat rasa kepemilikan terhadap warisan budaya lokal. Melalui partisipasi komunitas. Lacak bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga sarana membangun solidaritas sosial dan memperkuat identitas kolektif masyarakat Melayu Jambi. Inovasi Budaya Adaptif Pelestarian budaya tidak berarti menolak perubahan, melainkan mengadaptasikan nilai-nilai budaya agar tetap relevan dengan zaman. Dalam konteks ini. Lacak kreasi yang dikembangkan oleh Zainur Bahri menjadi bentuk inovasi budaya yang memperluas daya tarik dan keberlanjutan Lacak di kalangan generasi muda. Inovasi Lacak kreasi mencakup 28 model desain yang terinspirasi dari tokoh-tokoh pahlawan lokal Jambi, seperti Lacak Sultan Thaha. Lacak Raden Mather. Lacak Orang Kayo Hitam, dan Lacak Orang Tuo Pinggai. Model-model ini bukan hanya hasil estetika, tetapi juga media simbolik untuk menanamkan nilai kepahlawanan, nasionalisme, dan kebanggaan daerah. Pendekatan inovatif ini juga berpotensi dikembangkan melalui media digital (Febriyanto, 2. , misalnya dengan membuat konten edukatif, video tutorial pembuatan Lacak, atau pameran virtual yang dapat diakses oleh siswa dan masyarakat Dengan demikian, pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang interaktif, modern, dan Sinergi Kebijakan dan Dukungan Pemerintah Untuk menjamin keberlanjutan pelestarian Lacak, diperlukan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah, baik di tingkat desa, kabupaten, maupun Pemerintah dapat berperan melalui: Pemberian bantuan dana kebudayaan bagi komunitas lokal dan sanggar-sanggar yang aktif dalam pelestarian Lacak. Penetapan Lacak Melayu Jambi sebagai warisan budaya takbenda (WBT. daerah Jambi, yang dilindungi dan dikembangkan secara resmi. Penerapan program Desa Berkarakter Berbasis Budaya yang menjadikan pendidikan karakter berbasis budaya sebagai salah satu indikator pembangunan manusia. Kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan sistem pelestarian budaya yang kuat dan inklusif. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 144 | JPI. Vol. No. November 2025 Gambar 6. Para peserta latihan menunjukan lacak kreasi hasil mereka bersama tim pendamping dosen Universitas Jambi. Diskusi Hasil diskusi dengan Wakil Ketua Umum Lembaga Adat Provinsi Jambi Datuk Hasan Basri Jamik dan ketua Tim Peraturan Standar Operasional Pakaian Adat Melayu Jambi Datuk H. Zuharpan Hasan menyambut baik hasil inovasi lacak kreasi yang telah diciptakan oleh masyarakat seperti yang telah diciptakan oleh Datuk Zainul Bahri. Karena lacak kreasi ini bisa dipadukan dengan pakaian sehari-hari seperti pakaian batik atau kemeja biasa. Sementara lacak tradisi ada pakem yang mengikat, lacak tradisi tidak bisa dipakai sehari-hari. Lacak tradisi hanya dipakai untuk acara adat dan lacak tradisi terbuat dari kain songket sementara lacak kreasi lebih simpel biasanya terbuat dari kain motif batik atau katun polos. Oleh sebab itu pemakaian lacak kreasi bisa dipakai sehari-hari maupun acara Kedepan lacak kreasi yang telah diciptakan akan kita fasilitasi untuk dipatenkan. Demikian ungkapan Datuk Hasan Bari Jamik diaminkan Datuk Zuharpan Hasan. Dengan adanya lacak kreasi ini, diharapkan agar generasi muda bisa lebih mengenal lacak sebagai warisan budaya Melayu Jambi. Kesimpulan Penelitian mengenai Lacak Jambi sebagai Media Pendidikan Karakter: Strategi Pelestarian Budaya Lokal di Kalangan Generasi Muda di Desa Teluk. Kecamatan Pemayung. Kabupaten Batang Hari. Provinsi Jambi menghasilkan beberapa kesimpulan penting yang mencerminkan keterpaduan antara nilai budaya, pendidikan, dan karakter. Pertama. Lacak merupakan warisan budaya Melayu Jambi yang sarat makna simbolik dan nilai Terdapat empat model Lacak tradisi, yaitu Lacak Kepak Ayam Patah. Lacak Gagak Hinggap. Lacak Pucuk Rebung, dan Lacak Kepak Elang. Keempat model tersebut menggambarkan nilai-nilai karakter seperti kerapian, kewibawaan, keteguhan, dan tanggung jawab. Kedua, munculnya Lacak kreasi yang dikembangkan oleh budayawan Zainur Bahri memperkaya khazanah budaya lokal Jambi. Sebanyak 28 model Lacak kreasi diciptakan dengan inspirasi dari tokoh-tokoh pahlawan lokal seperti Sultan Thaha. Raden Mather. Orang Kayo Hitam, dan Orang Tuo Pinggai. Kegiatan pelatihan pembuatan Lacak kreasi yang dilaksanakan pada 4 Oktober 2025 di Desa Teluk melibatkan anak-anak sekolah, remaja, serta perangkat desa, dan menjadi momentum penting dalam mengintegrasikan Lacak sebagai media pendidikan karakter yang aplikatif. Terciptanya lacak kreasi ini disambut baik oleh wakil ketua Lembaga Adat Melayu Provinsi Jambi datuk Hasan Basri Jamik. Ketiga. Lacak memiliki potensi besar untuk dijadikan media pendidikan karakter karena mengandung nilai-nilai luhur seperti disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan cinta tanah air. Melalui pendekatan pendidikan berbasis budaya, nilai-nilai tersebut dapat di internalisasi secara alami melalui aktivitas budaya yang kontekstual dan Keempat, pelestarian Lacak membutuhkan strategi yang terarah, yang meliputi revitalisasi budaya berbasis pendidikan, integrasi kelembagaan, partisipasi komunitas adat, inovasi budaya adaptif, dan dukungan kebijakan pemerintah. Sinergi antara masyarakat Desa Teluk. Lembaga Adat Melayu (LAM), dan Universitas Jambi sebagai mitra Desa Laboratorium Terpadu (DLT) menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pelestarian budaya dan pembinaan karakter generasi muda. Dengan demikian. Lacak bukan hanya elemen pakaian adat, melainkan juga instrumen pendidikan moral dan identitas budaya yang memiliki relevansi tinggi dalam pembentukan karakter generasi muda di era globalisasi. Pelestarian Lacak berarti menjaga akar budaya sekaligus menumbuhkan jati diri bangsa melalui pendidikan yang berakar pada kearifan lokal. Kesimpulan memfokuskan pembaca pada hasil penting dan bagaimana mereka mengisi kesenjangan penelitian, kebaruan penelitian dan kontribusinya serta implikasinya pada area studi yang lebih luas. Saran Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar Pemerintah Daerah mendorong penetapan Lacak Melayu Jambi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBT. dan mendukung program Desa Berkarakter Berbasis Budaya. Dunia pendidikan perlu mengintegrasikan nilai budaya lokal dalam muatan lokal, projek Profil Pelajar Pancasila, dan kegiatan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 145 Universitas Jambi bersama Lembaga Adat Melayu diharapkan melanjutkan kemitraan melalui pelatihan, penelitian, dan pendampingan budaya di Desa Teluk agar pelestarian Lacak berkelanjutan. Masyarakat dan generasi muda diimbau aktif dalam kegiatan budaya untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas Melayu Jambi, sementara peneliti selanjutnya dapat mengkaji potensi Lacak dari aspek semiotika, estetika, dan ekonomi kreatif guna memperluas Persembahan Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Jambi atas dukungan dan fasilitasi dalam pelaksanaan penelitian ini melalui program Desa Laboratorium Terpadu (DLT) di Desa Teluk. Kecamatan Pemayung. Kabupaten Batang Hari. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pemerintah Desa Teluk, tokoh adat, serta para pemuda dan masyarakat setempat yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelestarian Lacak sebagai media pendidikan karakter. Referensi