Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Volume 5. Nomor 1. Maret 2024 ISSN 2721 - 4311 http://jurnal. id/index. php/JISP Modal Sosial Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi Social Capital in The Development Of Kampung Bali Tourist Destination In Bekasi City Zahratun Nissa1. Cucu Sugiarti 2. Mochamad Faizal Rizki 3* 1,2,3 Ilmu Pemerintahan. FISIP. Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia *E-mail: zahratunnissa2505@gmail. Abstrak Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi, sejak berdiri pada 2020, mengalami pertumbuhan pesat berkat dedikasi masyarakat dalam mempromosikan budaya Bali. Dengan konsep budaya, destinasi ini memperkenalkan kearifan lokal, seni, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali di lingkungan perkotaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan modal sosial dalam pengelolaan Destinasi Wisata Kampung Bali Bekasi, yang telah mendapatkan pengakuan regional dan nasional. Metode penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi dan mengacu pada teori modal sosial Robert D. Putnam, dengan fokus pada kepercayaan, jaringan, dan norma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Destinasi Wisata Kampung Bali Bekasi efektif memanfaatkan modal sosial, terutama dalam membangun dan memperluas jaringan . onding dan bridgin. , serta memperkuat norma-norma yang mengakar dalam masyarakat setempat. Kata Kunci: Pariwisata. Modal Sosial. Kepercayaan. Jaringan. Norma. Abstract Kampung Bali Tourism Destination in Bekasi City, since its establishment in 2020, has experienced rapid growth thanks to the community's dedication in promoting Balinese culture. With a cultural concept, this destination introduces local wisdom, art, and daily life of Balinese people in an urban environment. This research aims to evaluate the application of social capital in the management of Kampung Bali Bekasi Tourism Destination, which has gained regional and national recognition. The research method uses a phenomenological approach and refers to Robert D. Putnam's social capital theory, focusing on trust, networks, and norms. The results showed that Kampung Bali Bekasi Tourism Destination effectively utilizes social capital, especially in building and expanding networks . onding and bridgin. , as well as strengthening norms rooted in the local community. Keywords: Tourism. Social Capital. Trust. Networks. Norms. Cara citasi : Nissa, zahratun. , dkk . Modal Sosial Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP) Vol 5 No 1 Maret 2024. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 1. Maret 2024 : 110-119 PENDAHULUAN Pertumbuhan dan perkembangan sektor pariwisata di Indonesia sangat terkait dengan kemajuan pariwisata di Bali (Malik et al. , 2. Bali telah menjadi tujuan wisata global yang terkenal karena keunikan budaya dan kekayaan alamnya sebagai bagian dari gugusan pulau. Pengakuan Bali sebagai "The Paradise Island" atau "The Island of God" (Wiwin, 2. menjadikan namanya lebih populer dibandingkan dengan nama Indonesia itu sendiri. Kekuatan budaya Bali sangatlah kuat, memengaruhi kesadaran masyarakat di luar pulau Bali untuk tetap melestarikan warisan budaya dan tradisi-tradisi Bali. Hal ini menarik karena budaya Bali tidak hanya populer di Provinsi Bali, melainkan juga di luar wilayah pulau tersebut. Salah satu contohnya adalah Kampung Bali di Kota Bekasi, yang mempertahankan identitas khas Bali dengan kuat di luar pulau Bali (Kurniasari et al. Kampung Bali Bekasi, yang terletak di Jalan Merpati Bali. RT 11/RW 09. Harapan Jaya. Kecamatan Bekasi Utara. Kota Bekasi, dihuni oleh 20 keluarga keturunan Bali. Nama Kampung Bali tidak hanya merujuk pada asal-usul penduduknya, tetapi juga mencerminkan suasana mirip Pulau Dewata di dalamnya. Dengan arsitektur bali yang beragam, kebersihan, ketenangan, dan tanaman yang tumbuh di setiap rumah, kampung ini memang menjadi sebuah cerminan Bali yang eksotis. Selain itu, kehadiran UKMKM seperti Alam Dewata Band/Balakecak. Sangging Bali. Nyalian Mas. Melanting Kitchen. Rindik, dan Budi Daya Lele di kampung ini tidak hanya memperkaya warisan budaya, tetapi juga menjadi modal sosial yang berpotensi untuk mengembangkan destinasi Banyak pejabat daerah, media online, dan stasiun televisi tertarik mengunjungi Kampung Bali untuk menyaksikan kelestarian budaya Bali yang dijaga dengan baik di Infobekasi. melaporkan bahwa rencananya Kampung Bali akan dijadikan destinasi wisata baru di Kota Bekasi dengan penonjolan kebudayaan Bali. Lokasinya berada di Jalan Merpati. RT 011/09. Harapan Jaya, dan dikenal sebagai Kampung Bali karena dekorasinya yang mirip dengan pulau Dewata dan sebagian warganya berasal dari Bali. Pemerintah Kota Bekasi mengutamakan pengembangan Kampung Bali menjadi salah satu prioritas, menampilkan ornamen khas Bali yang mempercantik jalan-jalan menuju kampung tersebut, memberikan kesan identitas agama Hindu seperti di Bali. Nissa, zahratun. , dkk. Modal Sosial Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi. Penguatan identitas Hindu di tengah keragaman budaya dalam lingkungan masyarakat adalah cermin dari kekuatan keyakinan, norma sosial, dan jaringan yang mengikat baik antara masyarakat maupun pihak pengelola wisata seperti pemerintah. Upaya yang berkelanjutan dari pemerintah dalam menciptakan keberlanjutan destinasi merupakan salah satu bentuk nyata dari modal sosial yang diperlukan. Modal sosial merupakan konsep penting dalam pengembangan destinasi wisata kepercayaan dalam suatu komunitas atau lingkungan. Bourdieu dalam (Field, 2. menekankan jumlah sumber daya yang terkumpul melalui hubungan tahan lama, sementara Coleman dalam (Field, 2. lebih fokus pada fungsi struktur sosial. Putnam dalam (Field, 2. menyebut modal sosial sebagai jaringan, norma, dan kepercayaan Putnam memperkenalkan dua bentuk dasar modal sosial: yang menjembatani dan yang mengikat, keduanya memiliki peran yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (Field, 2. Ketiga tokoh tersebut memperkaya pemahaman tentang modal sosial dengan fokus pada berbagai aspek yang penting: struktur kekuasaan sosial (Bourdie. , jaringan sosial dan hubungan antarindividu (Colema. , serta partisipasi dalam kegiatan sosial dan komunitas (Putna. Semua pandangan ini menekankan pentingnya interaksi sosial, nilai-nilai kolektif, dan hubungan antarindividu dalam membentuk modal sosial yang kuat untuk keberlangsungan masyarakat. Definisi Putnam tentang modal sosial menjadi landasan analisis dalam penelitian ini. Putnam memusatkan perhatiannya pada organisasi sebagai fokus utama penelitiannya, sementara juga menegaskan kepentingan yang tak kalah dari jaringan, kepercayaan, dan norma yang ada dalam struktur organisasi tersebut. Penguatan identitas Hindu di tengah beragamnya budaya di lingkungan masyarakat mencerminkan kuatnya kepercayaan, norma sosial, dan hubungan yang terjalin antara warga dan pihak pengelola pariwisata seperti pemerintah. Pemerintah yang berupaya secara berkelanjutan untuk menciptakan kelangsungan destinasi merupakan salah satu indikasi modal sosial yang esensial. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menyelidiki dampak modal sosial dalam pengembangan proyek pariwisata, khususnya di masyarakat Kampung Bali di Kota Bekasi, dengan lebih mendalam. Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 1. Maret 2024 : 110-119 METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sosial untuk memahami pengalaman serta persepsi penduduk Kampung Bali Bekasi sehubungan dengan pengembangan destinasi wisata. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami subjek penelitian, seperti perilaku, motivasi, dan tindakan, melalui penggambaran holistik menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks alamiah (Sudarsyah, 2. Sumber data terbagi menjadi data primer dan sekunder, diperoleh melalui observasi langsung dan berbagai sumber terkait fokus penelitian, yakni Modal Sosial Masyarakat Dalam Pengembangan Pariwisata Kampung Bali Di Bekasi. Informan dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling, didasarkan pada kebenaran informasi teruji seputar modal sosial dalam pengembangan destinasi wisata Kampung Bali di Kota Bekasi. Untuk analisis data, peneliti menggunakan pendekatan analisis data interaktif berdasarkan konsep yang diperkenalkan oleh (Creswell, 2. Pendekatan ini terdiri dari empat tahapan, yaitu pengumpulan data sebagai langkah awal, reduksi data sebagai tahap kedua, display data sebagai tahap ketiga, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi data sebagai tahap HASIL DAN PEMBAHASAN Wisata Kampung Bali Bekasi telah dibangun dan dikembangkan dalam berbagai Pihak pengelola dan masyarakat dilingkungan wisata Kampung Bali Bekasi berusaha memanfaatkan modal sosial saat membangun wisata ini. Menurut Putnam . alam Field, 2016:. modal sosial adalah bagian dari kehidupan sosial yang terdiri dari jaringan, norma, dan kepercayaan yang mendorong orang untuk bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan modal sosial ini, orang dapat bekerja sama dengan organisasi lain dalam pengelolaan dan pengembangan wisata. Mereka berkolaborasi dan percaya satu sama lain untuk menerapkan standar agar tujuan dapat dicapai dengan cepat dan kinerja lebih baik. Definisi Putnam tentang modal sosial menjadi landasan analisis dalam penelitian ini. Menurut Putnam dalam modal sosial memiliki tiga komponen yaitu kepercayaan, norma, dan jaringan sosial. Penelitian ini dilakukan di Kampung Bali, terletak di Jalan Merpati. RT 011/09 Harapan Jaya Kota Bekasi. Nissa, zahratun. , dkk. Modal Sosial Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi. Kepercayaan Kepercayaan merupakan inti yang memperkuat keterlibatan dan kesuksesan bersama dalam pengembangan destinasi pariwisata di Kampung Bali Bekasi. Terciptanya kepercayaan ini tidak hanya memungkinkan kolaborasi yang produktif antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola wisata, tetapi juga memberikan landasan yang kuat bagi keberlanjutan dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Kepercayaan ini tercermin dalam kesediaan masyarakat untuk berkolaborasi dan aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari promosi pariwisata, pelestarian lingkungan lewat menanam banyak tanaman, rutin melakukan dialog teruka hingga pelestarian budaya dan tradisi. Hal tersebut disampaikan oleh Puji Lestari, yang merupakan ketua RT serta pengarah dalam pengelola wisata Kampung Bali. Dalam wawancara beliaun Aukepercayaan antarwarga di sini memiliki dampak yang signifikan terhadap hubungan sosial di lingkungan kami. Kepercayaan ini memperkuat rasa solidaritas dan keterlibatan kami dalam kegiatan bersama pelestarian budaya sebagai daya tarik wisata kami. Ay Warga Hindu Bali di Kampung Bali. Kota Bekasi, gigih melestarikan tradisi dan budaya mereka. Kewajiban yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, dan ritual agama serta budaya tetap menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Simbolsimbol Hindu dan Budaya Bali dihadirkan dalam ruang publik, menunjukkan upaya pelestarian dan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka. Konsistensi warga terlihat dalam setiap acara kenegaraan dan resmi yang dihadiri oleh pejabat pemerintahan, memperkuat komitmen mereka dalam melestarikan budaya Bali. Namun, tantangan dalam komunikasi antarpihak dan harapan akan kebijakan yang lebih memperhatikan kebutuhan lokal menjadi catatan penting untuk pemerintah daerah sebagai penanggung jawab. Komunikasi yang lancar menjadi kunci utama untuk mempertahankan kepercayaan, sementara memenuhi harapan masyarakat dapat memperkuat ikatan kepercayaan pada pemerintah sebagai mitra dalam pengembangan Hal tersebut disampaikan oleh Puji lestari, beliau menjelaskan bahwa: Aukomunikasi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas Pokdarwis gak selalu lancar. Ada momen di mana informasi dan gagasan gak terlalu ngalir dengan baik antara kita. Ay Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 1. Maret 2024 : 110-119 Terlihat kolaborasi yang sangat berarti antara masyarakat, komunitas Pokdarwis, pengelola wisata, dan pemerintah dalam menggarap destinasi pariwisata Kampung Bali. Adanya partisipasi aktif dalam kegiatan promosi, pemeliharaan lingkungan, serta pelestarian budaya dan tradisi menunjukkan komitmen yang kuat dari semua pihak. Namun, disadari pula bahwa terdapat kendala dalam komunikasi yang perlu Ketidaklancaran menghambat kelancaran kerjasama. Dalam konteks modal sosial, masyarakat yang tinggal di objek wisata Kampung Bali Bekasi memaknai kepercayaan sebagai pondasi yang penting dalam menggalang keterlibatan dan keharmonisan bersama dalam pengembangan destinasi pariwisata. Kepercayaan ini bukan hanya memungkinkan terjadinya kolaborasi yang produktif antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola wisata, tetapi juga memberikan dasar yang kokoh bagi keberlanjutan dan pertumbuhan Kampung Bali Bekasi menjadi objek wisata bertema budaya menjadi unggulan. Norma Kampung Bali Bekasi merupakan sebuah destinasi wisata yang unik dan menonjol, diperkaya dengan ciri khas Hindu yang kental, dan terletak di pusat keramaian Kota Bekasi. Proses pengembangan Kampung Bali di Kota Bekasi bertujuan untuk menjadikannya sebagai ikon tunggal pariwisata yang merefleksikan budaya dan adat istiadat Bali, dengan sentuhan identitas Hindu yang kuat. Di kampung ini, norma-norma budaya bukan sekadar aturan, tetapi warisan yang dijaga erat oleh masyarakat setempat, menjadi dasar kehidupan sehari-hari yang menggambarkan jati diri mereka. Lebih dari sekadar peraturan, norma-norma ini adalah akar dari kebanggaan dan identitas budaya yang dijaga dengan penuh kehormatan. Mereka membentuk kerangka sosial yang memungkinkan harmoni dalam kehidupan dan menjadi bagian integral dari daya tarik Kampung Bali yang memukau. Norma-norma ini tidak hanya menjadi panduan, melainkan juga fondasi penting Mereka menjadi garis arah yang jelas dalam interaksi sosial, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Pemeliharaan norma-norma ini menciptakan kerangka bagi kehidupan masyarakat agar dapat berjalan secara teratur, membedakan tindakan yang sesuai dengan yang tidak sesuai dengan kehidupan bersama. Pelanggaran terhadap norma ini bisa berakibat pada pengucilan atau diabaikan dalam komunitas, menegaskan Nissa, zahratun. , dkk. Modal Sosial Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi. pentingnya penghargaan dan pemahaman terhadap norma dalam menjaga harmoni dan keselarasan di tengah masyarakat. Dalam pengembangan Wisata Kampung Bali di Bekasi, norma-norma yang tak tertulis memegang peran penting dalam membentuk kerangka pikir dan perilaku Mereka telah tertanam kuat sebelum dan setelah kampung ini diakui sebagai destinasi wisata yang menonjolkan identitas budaya Bali di Bekasi. Normanorma ini mengatur berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari interaksi sosial, tata krama, upacara adat, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Kepercayaan pada sistem keagamaan, tradisi, serta nilai-nilai leluhur menjadi pendorong utama dalam menjalankan norma-norma budaya di Kampung Bali. Konsep Tri Hita Karana menjadi landasan kuat dalam menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia. Tuhan, serta alam. Semangat gotong royong dan kerjasama menjadi bagian tak terpisahkan dari prinsip ini. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh I Wayan Agus Sumarjaya, yang menjabat sebagai Sekretaris Pokdarwis dan anggota Tim Dokumentasi Pokdarwis Kampung Bali. Beliau menjelaskan AuKami juga menjalankan prinsip Tri Hita Karana, yang mengutamakan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan melalui sembahyang dan tindakan baik, antara manusia dengan sesama manusia tanpa memandang agama, dan antara manusia dengan alam. Ini mencakup kegiatan seperti menanam tanaman dan menyiramnya setiap pagi dan sore, yang juga merupakan cara kami membangun komunitas kami dan menjaga kebersihan lingkungan. Gotong royong dan kerja sama komunitas kami adalah bagian yang tak terpisahkan dari prinsip-prinsip ini. Ay Norma-norma keagamaan dan kepercayaan pada adat istiadat di Kampung Bali Bekasi tidak hanya memperkuat hubungan sosial antarwarga, tetapi juga membangun keterhubungan yang harmonis dengan alam sekitar. Keseimbangan antara manusia dan lingkungan alam tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kampung Bali. Norma-norma tersebut menjadi lebih dijunjung tinggi setelah diakui sebagai destinasi wisata, menunjukkan relevansi norma tak tertulis dalam konsep pengembangan wisata dan dalam menjaga identitas budaya serta harmoni sosial. Masyarakat Kampung Bali Bekasi memaknai norma sosial sebagai fondasi yang sangat penting dalam memperkuat identitas kebudayaan Bali yang menjadi daya tarik Norma-norma budaya yang tidak hanya merupakan aturan, tetapi juga warisan Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 1. Maret 2024 : 110-119 yang dijaga erat oleh masyarakat setempat, menjadi dasar kehidupan sehari-hari yang merefleksikan jati diri mereka. Norma-norma ini menjadi sumber kebanggaan dan identitas budaya yang dijaga dengan penuh kehormatan. Jaringan sosial Jaringan sosial yang terbentuk di Kampung Bali Bekasi merupakan inti dari modal sosial yang mendalam, di mana hubungan antarwarga menjadi landasan bagi keharmonisan dan kekompakan komunitas. Dalam lingkungan ini, jaringan terikat yang kuat memainkan peran utama dalam membentuk kolaborasi yang saling memperkuat di antara masyarakat yang tinggal di Jl. Merpati Bali. Koneksi yang mengakar ini tidak hanya merupakan kebetulan, melainkan hasil dari upaya bersama dalam membangun sebuah komunitas yang berdampingan di tengah perkotaan yang beragam. Jaringan sosial terikat di Kampung Bali Bekasi dapat dijelaskan melalui interaksi harian yang mengakar dalam tradisi dan kebiasaan yang kuat. Warga tidak sekadar berinteraksi, melainkan aktif berpartisipasi dalam setiap aspek kehidupan. Saat ada perayaan budaya atau kegiatan sosial, mereka dengan semangat menguatkan ikatan identitas budaya, mempertahankan warisan, dan menjaga rasa kebersamaan yang erat di antara satu sama lain. Dukungan dan keterlibatan aktif dalam menjaga tradisi, adat, serta budaya lokal merupakan esensi dari jaringan sosial terikat yang terbentuk di sini. Sementara itu, peran pemerintah di Kampung Bali Bekasi menjadi kunci dalam memperkuat jaringan sosial yang menjembatani antara masyarakat dan pemerintah. Dukungan dan keterlibatan langsung dari pejabat setempat, seperti Walikota dan Gubernur, menunjukkan komitmen mereka dalam memajukan dan mengembangkan Kampung Bali sebagai destinasi wisata yang unik. Kehadiran pejabat pemerintah dalam acara-acara komunitas bukan hanya sebagai bentuk dukungan verbal, tetapi juga sebagai upaya nyata untuk membangun hubungan yang solid antara pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut dijelaskan oleh Reinaldi. SST. Par yang merupakan Sub Koordinator Destinasi dan Daya Tarik Pariwisata, beliau menyampaikan bahwa: Au Sebagai pihak yang bertanggung jawab, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbu. , kami akan mengoptimalkan dialog terbuka melalui kunjungan rutin ke lokasi. Namun, dalam rencana kerja kami, setiap tahun kami memusatkan perhatian pada pengembangan satu lokasi wisata atau wilayah tertentu. Pada tahun ini, fokus utama kami tertuju pada kota lama, termasuk upaya meningkatkan komunikasi dan promosi di Kampung Bali. Akan tetapi, pada tahun 2024. Nissa, zahratun. , dkk. Modal Sosial Dalam Pengembangan Destinasi Wisata Kampung Bali di Kota Bekasi. Kampung Bali akan menjadi titik fokus utama dalam pembangunan infrastruktur dan untuk kebutuhan sudah diinformasikan ke kami, melibatkan penyediaan tempat parkir motor dan permintaan pembuatan tempat kaca untuk menyimpan Barong agar pengunjung dapat mengamati langsung. Selain itu, setelah pembangunan jalan di atas sungai di belakang perumahan, kami berencana untuk menciptakan mural yang mencerminkan keunikan dan kekhasan Bali. Ay Lebih lanjut lagi. Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga sudah memberikan dukungan melalui beberapa inisiatif, seperti pemasangan batu sikat di empat ruas Jalan Merpati di Kampung Bali Bekasi, pembangunan jalan di atas kali di belakang lingkungan tersebut untuk meningkatkan estetika Kampung Bali, dan juga pembangunan gapura bergaya candi khas Bali untuk memperindah area tersebut. Hal tersebut senda dengan penjelasan dari: Dalam konteks modal sosial, jaringan sosial yang terjalin di Kampung Bali Bekasi menjadi fondasi penting bagi kohesi sosial yang solid. Solidaritas, toleransi, dan kerukunan antarwarga mencerminkan kualitas dari jaringan yang tumbuh di Selain itu, jaringan sosial yang menjembatani antara masyarakat dan pemerintah menunjukkan efektivitas kolaborasi dalam pengembangan destinasi wisata, membangun kepercayaan, dan memperluas potensi Kampung Bali sebagai tujuan pariwisata yang berkualitas. Dengan demikian, jaringan sosial di Kampung Bali Bekasi bukan hanya merupakan simpul interaksi antarindividu, tetapi juga merupakan bentuk investasi sosial yang Jaringan ini memperkuat rasa kebersamaan, memajukan budaya lokal, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. SIMPULAN Dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kampung Bali Bekasi memiliki kepercayaan yang kuat sebelum dan setelah menjadi destinasi wisata. Masyarakatnya tetap mempertahankan nilai-nilai gotong royong dan toleransi yang membantu menjaga Selain itu, norma sosial yang dijunjung tinggi memainkan peran penting dalam pengelolaan destinasi wisata ini. Meskipun demikian, terdapat tantangan dalam optimalisasi kolaborasi antara pihak terkait seperti pemerintah, kelurahan. Pokdarwis, dan masyarakat lokal dalam mendukung pengembangan Kampung Bali sebagai destinasi Jurnal Intervensi Sosial dan Pembangunan (JISP). Volume 5. Nomor 1. Maret 2024 : 110-119 UCAPAN TERIMAKASIH (Optiona. Kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang. Dekan FISIP. Kaprodi FISIP. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bekasi, serta Pokdarwis Kampung Bali atas kontribusi luar biasa yang telah diberikan dalam penelitian ini. Bantuan, dukungan, dan kerjasama dari pihak-pihak tersebut menjadi pilar utama yang memperkaya dan melengkapi kajian yang kami Terima kasih atas kesempatan dan dorongan yang diberikan untuk menggali lebih dalam mengenai Kampung Bali Bekasi. Kontribusi berharga ini turut menginspirasi dan memberikan dampak yang signifikan dalam pengembangan riset kami. DAFTAR PUSTAKA