JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. AeP-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469. Hal 106-117 JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Halaman Jurnal: https://jurnal. id/index. php/JUFDIKES Halaman Utama: https://jurnal. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI DENGAN MODALITAS INFRA RED, ELECTRICAL STIMULASI. MASSAGE DAN MIRROR EXCERCISSE PADA BELLAoS PALSY SINISTRA Hafizah Andari Nastitia. Didik Purnomo b Fisioterapi, hafizahandarinastiti@gmail. Universitas Widya Husada Semarang Fisioterapi, purnomodidik833@gmail. Universitas Widya Husada Semarang ABSTRACT Bell's Palsy is an acute weakness of the facial expression muscles caused by facial nerve paralysis with an unknown cause. Bell's Palsy generally affects half of the face, although in rare cases it can involve both halves of the face. Some experts state that the cause is continuous exposure to cold wind on one side of the face, some also state that it is caused by the herpes virus that settles in the body and is reactivated due to trauma, environmental factors, stress and others. Modalities in the form of Infra Red. Electrical Stimulation. Massage and Mirror Exercise can improve functional facial abilities such as frowning, closing the eyes, and smiling, and there is an increase in facial muscle strength. Results: After four interventions with Infra Red. Electrical Stimulation. Massage, and Mirror Exercise on Bells Palsy Left. The results obtained were a decrease in spasm, increased muscle strength, and increased functional ability on the right side of the face. Keywords: Bells Palsy. Infra Red. Electrical Stimulation. Massage. Mirror Exercise. ABSTRAK BellAos Palsy merupakan kelemahan otot ekspresi wajah yang bersifat akut yang disebabkan oleh kelumpuhan saraf fasialis dengan penyebab yang belum diketahui. BellAos Palsy umumnya mengenai setengah wajah, walaupun pada kasus yang jarang dapat melibatkan kedua belahan wajah. Penyebab berupa paparan angin dingin di salah satu sisi wajah secara terus menerus, ada juga yang menyatakan hal itu disebabkan oleh virus herpes yang menetap di tubuh dan teraktivasi kembali karena trauma, faktor lingkungan, stress dan lainnya. Modalitas berupa Infra Red. Electrical Stimulasi. Massage dan Mirror Exercise dapat meningkatkan kemampuan fungsional wajah seperti mengerutkan dahi, menutup mata, dan tersenyum, dan adanya peningkatan kekuatan otot wajah Hasil : Setelah pemberian intervensi sebanyak empat kali dengan Infra Red. Electrical Stimulasi. Massage, dan Mirror Excercisse pada Bells Palsy Sinistra ini. Di dapatkan hasil berupa penurunan spasme, peningkatan kekuatan otot, serta peningkatan kemampuan fungsional pada wajah sisi Kata Kunci : Bells Palsy. Infra Red. Electrical Stimulasi. Massage. Mirror Excercisse. Received September 23, 2025. Revised January 26, 2026. Accepted January 27, 2026 JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 PENDAHULUAN Wajah adalah pusat kendali ekspresi saat merasa sedih ataupun bahagia maka akan terlihat adanya perbedaan karena adanya gerakan otot-otot pada wajah. Daun telinga yang terlihat tinggi dari telinga lainnya, bagian tengah dagu yang tidak sejajar dengan pangkal hidung, dan ketidaksimetrisan lainnya kerap membuat kepercayaan diri seseorang menurun. Kondisi tersebut sejatinya normal, sebab hampir setiap orang memiliki ketidaksimetrisan di wajahnya, namun perbedaan tersebut umumnya tidak terlalu besar, sehingga banyak yang tidak menyadarinya. Jika bentuk wajah yang tidak simetris cenderung sama atau tidak kentara, kemungkinan kondisi tersebut merupakan hal yang normal. Salah satu kondisi kelainan di wajah adalah BellAos palsy. BellAos palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan saraf perifer wajah . ervus fasiali. secara akut pada sisi sebelah wajah. Kondisi ini menyebabkan ketidakmampuan penderita menggerakkan separuh wajahnya secara sadar . pada sisi yang sakit . Problematika pada kondisi Bell's palsy diantaranya adanya nyeri di belakang telinga yang dapat mendahului kelumpuhan selama satu atau dua hari. Bell's palsy memiliki ciri khas kelemahan wajah sesisi/unilateral yang terjadi tiba-tiba dan cepat, sering dalam beberapa jam. Pasien juga biasanya mengeluhkan kelopak mata ipsilateral terjatuh/menutup, ketidakmampuan menutup mata dengan sempurna, mata kering karena tidak bisa menutup mata secara sempurna, keluarnya air mata berlebihan . , sudut mulut terjatuh, gangguan/hilangnya sensasi perasa ipsilateral, kesulitan mengunyah disebabkan kelemahan otot ipsilateral yang menyebabkan makanan terperangkap di mulut yang terkena, menetesnya air liur, perubahan sensasi di wajah yang terkena, nyeri di dalam atau belakang telinga, peningkatan sensitivitas terhadap suara . pada sisi yang sakit jika mengenai otot stapedius . Masalah kecacatan yang ditimbulkan oleh BellAos palsy cukup kompleks, yaitu meliputi impairment . elainan di tingkat orga. berupa ketidaksimetrisnya wajah, kaku dan bahkan bisa berakibat terjadi disability atau ketidakmampuan . itingkat individ. berupa keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari berupa gangguan makan dan minum, menutup mata, serta gangguan berbicara dan ekspresi handicap . i tingkat lingkunga. berupa keterkaitan dalam profesi terutama dibidang dan masalah selanjutnya dari segi kejiwaan penderita. Salah satu upaya penyembuhan pada kondisi BellAos palsy adalah dengan tindakan fisioterapi. BellAos palsy merupakan salah satu insiden tahunan yang berkisar antara 40. 000 kasus baru tiap Tingkat kesembuhan pasien BellAos palsy 8% sampai 12%, bahkan mencapai 70% . Kasus BellAos palsy di Indonesia memiliki prevalensi sebesar 19,55% dengan penderita mulai dari balita hingga BellAos Palsy masuk dalam 10 besar diagnosa medis pada RSUD Kraton kota Pekalongan pada bulan Desember tahun 2024. Dalam 1 bulan terdapat empat kasus baru BellAos palsy. Penyebab BellAos palsy pada ke empat pasien di sebabkan karena paparan udara, hal tersebut di dukung dengan suhu udara kota Pekalongan yang panas, dan mayoritas masyarakat menggunakan AC dan kipas angin. METODOLOGI PENELITIAN Pengkajian Fisioterapi Metodelogi penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah study kasus di mana peneliti melibatkan seorang ladirn di RSUD Kraton Pekalongan dengan diagnosa BellAos Palsy Sinistra. Atas nama Tn. C seorang laki laki berusia 50 tahun yang kesehariannya bekerja sebagai nelayan, pasien sudah mengalami Bell's palsy sejak 11 Januari 2025 pada pada malam hari saat pasien hendak tidur, pasien merasakan nyeri di sekitar pundak dan kepala nya, lalu keesokan paginya saat pasien hendak wudhu untuk melaksanakan sholat subuh, saat kumur tiba" air terus keluar dari mulut sebelah kanan pasien, lalu 2 hari setelahnya pasien pergi ke puskesmas dan di rujuk ke poli syaraf RSUD Kraton Pekalongan yang selanjutnya di lanjut kan ke poli rehab medik . untuk melaksanakan fisioterapi. Pasien adalah seorang nelayan yang kesehariannya mencari ikan di laut, dan sering terkena angin laut maupun darat sehingga menjadi salah satu penyebab BellAos Palsy. Pada kondisi pasien tersebut, intervensi yang diberikan oleh fisioterapis berupa Infra Red. Electrical Stimulasi. Massage dan Mirror Excercisse. Intervensi di berikan sebanyak 4 kali pertemuan pada tanggal 7 Februari, 11 Februari, 14 Februari, 18 Februari. Berikut Hasil dari Proses terhadap Fisioterapi Tn. C dengan diagnosa Medis Bells Palsy Sinistra. Pemeriksaan pertama yang di lakukan berupa pemeriksaan Tanda-Tanda Vital (TTV) pasien dengan hasil sebagai berikut. Tabel 2. 1 Tanda- Tanda Vital Tanda- Tanda Vital Tekanan Darah 140/90 mmHg Denyut Nadi 132x /menit Pernapasan 23x/menit Suhu Tubuh Tinggi Badan Berat Badan Metode pengumpulan data yang dilaksanakan oleh fisioterapis melalui berbagai pemeriksaan yang disajikan dibawah 1 Pemeriksaan Fisik Inspeksi Pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan adalah inspeksi yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan dengan cara melihat dan memeriksa bagian tubuh pasien yang dilakukan dengan 2 metode statis . dan dinamis . Tabel 2. Inspeksi Statis Inspeksi Dinamis Wajah pasien asimetris . ke sisi dextra Pasien belum mampu tersenyum, bersiul, menutup mata dan mengerutkan dahi dengan sempurna secara maksimal. JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 Palpasi Palpasi adalah pemeriksaan fisik dengan menyentuh bagian tubuh pasien untuk mengetahui masalah atau problem fisioterapi, pemeriksaan palpasi yang dilakukan meliputi Tabel 2. 3 Palpasi Palpasi Tidak terdapat adanya perbedaan suhu antara sisi dextra dan sinistra Tidak ada nyeri tekan, gerak, diam pada sekitar wajah Sisi wajah sebelah kanan lebih kaku daripada sisi kiri Selain dilakukan pemeriksaan fisik, dilakukan juga beberapa pemeriksaan spesifik berupa: 2 Pemeriksaan Spesifik Pengukuran Spasme Pengukuran spasme dilakukan untuk mengetahui spasme pada otot otot wajah, dengan cara palpasi otot otot wajah pasien Level Tabel 2. 4 Pengukuran Spasme Deskripsi Kontraksi penuh jarang terjadi < 1 kali per Dari pemeriksaan pada tabel 2. 4 spasme pada otot wajah menghasilkan nilai 2 yang berarti adanya Kontraksi penuh yang jarang terjadi < 1 kali per jam. Pemeriksaan Kekuatan Otot (MMT) Pemeriksaan di lakukan untuk mengetahui kekuatan pada otot otot wajah. Nama Otot Tabel 2. 5 Pemeriksaan Kekuatan Otot (MMT) Dextra Sinistra Nasalis Frontalis Orbicularis Oculi Orbicularis Oris Zigomaticum Dari pemeriksaan pada tabel 2. 5 otot wajah dextra terdapat penurunan otot pada m. frontalis, m. Orbicularis oris, m. Zigomaticum dan m. Orbicularis Oculi dengan nilai 1 yang berarti tidak ada kontraksi Pemeriksaan Skala Ugo Fisch Pemeriksaan Skala Ugo Fisch bertujuan untuk mengetahui kemampuan dasar pasien pada sekitar wajah. Posisi Wajah Tabel 2. 6 Pemeriksaan Skala Ugo Fisch Nilai Presentase Hasil Istirahat / diam Mengangkat alis Menutup mata Tersenyum Bersiul Jumlah 38. elumpuhan Dari pemeriksaan ugo fisch pada tabel diperoleh hasil yaitu saat posisi istirahat atau diam mendapat nilai 20 dengan presentase sebesar 70%, mengangkat alis mendapat nilai 10 dengan presentase sebesar 30%, menutup mata mendapat nilai 30 dengan presentase sebesar 30%, tersenyum mendapat nilai 30 dengan presentase sebesr 30%, dan terakhir adalah posisi wajah bersiul mendapat nilai 10 dengan presentase sebesar 30%. Jumlah keseluruhan mendapatkan hasil 38 point termasuk kedalam kategori kelumpuhan sedang. 2 Diagnosa Fisioterapi Body Function and Body Structure Adanya spasme pada otot wajah sisi dextra yaitu pada otot otot m. Nasalis, m. Frontalis. Orbicularis oculi,m. Orbicularis oris ,m. Zigomaticum terjadi penurunan kekuatan otot m. Nasalis, m. Frontalis, m. Orbicularis oculi,m. Orbicularis oris ,m. Zigomaticum pada wajah sisi dextr. Penurunan fungsional seperti saat istirahat / diam. Mengangkat alis. Menutup Mata. Tersenyum. Bersiul di sisi wajah bagian dextra. Acivities Pada saat istirahat / diam masih sedikit asimetris. Pasien masih kesulitan pada saat menangkat alis. Pasien kesulitan ketika menutup mata, belum sempurna di sisi dextra Pasien dapat bersiul namun masih asimetris. Pasien saat makan, makanan terkumpul pada sisi yang lemah, yaitu sisi dextra. Pada saat minum air minum keluar dari sisi yang lemah, yaitu dari sisi dextra JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 Participation Pasien bisa berkomunikasi dengan baik interaksi dengan tetangga, 3 Tujuan dan Intervensi Fisioterapi Tujuan fisioterapis pada kasus Bells Palsy terdiri dari 2 yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek : pasien dapat kembali beraktivitas tanpa disertai keluhan. Tujun jangka panjang : mengembalikan fungsional pasien sehari - hari tanpa adanya keluhan dan gangguan seperti dahulu. Intervensi yang di lakukan selama 4 kali pertemuan terapi adalah sebagai berikut: Intervensi Infa Red Tabel 2. 7 Intervensi Fisioterapi Pelaksanaan Posisi pasien supinelying atau tidur terlentang. Menutup mata pasien menggunakan tisu atau kapas yang telah Lakukan tes sensibilitas panas dan dingin pada wajah kanan dengan tujuan mengetahui apakah pasien dapat membedakan rasa panas dan dingin, daerah wajah kanan yang hendak diterapi bebas dari accesoris wajah seperti masker dan kacamata Pasien di beritahu mengenai rasa yang di timbulkan oleh infra red dan menganjurkan pasien untuk menutup mata selama terapi Pastikan area wajah pasien yang akan diberi Infra Red terbebas dari Tutup mata pasien menggunakan tisu atau kapas yang telah dibasahi. Sinari pasien dengan jarak 40 cm selama 10 menit. Melakukan konfirmasi setiap 5 menit terhadap pasien apakah panas terlalu menyengat atau tidak. Selesai terapi alat yang telah digunakan dibersihkan dan dirapikan. Tujuan spasme paa otot, otot, dan perdedaran darah Hasil Penelitian Setelah melakukan program fisioterapi di RSUD Kraton kota Pekalongan selama 4 kali terapi pada Tn. C diperoleh hasil sebagai berikut: 1 Evaluasi Spasme Otot Wajah Tabel 3. 1 Hasil Evaluasi Spasme Terapi Hasil Berdasarkan tabel 3. 1 dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan fungsional mulai terlihat pada terapi hari ketiga. Pelaksanaan terapi pertama dan kedua memiliki nilai sebesar 2 yang berarti terdapat kontraksi penuh yang jarang terjadi < 1 kali per jam, sedangkan terapi ketiga dan keempat memiliki nilai sebesar 1 yang berarti terdapat kontraksi ringan disebabkan oleh stimulasi. Tabel tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan terapi dengan Infra red dapat mengurangi spasme pada otot wajah 2 Evaluasi kekuatan Otot Wajah (MMT) Tabel 3. 2 Hasil Evaluasi MMT Wajah Nama otot Frontalis Orbicularis Oculi Orbiculris Oris Zygomaticum Nasalis Evaluasi Tonus Otot Wajah dilakukan pada otot pada m. frontalis, m. curogator superculi, m. zygomaticum, orbicularis oris dan m. Nasalis. Hasil dari keempat terapi cenderung tidak terjadi Berdasarkan tabel 3. 2 di dapatkan hasil, m. Frontalis m. Zygomaticum dan m. Nasalis dan m. Orbicularis Oris tidak adanya peningkatan kekuatan otot, sedangkan pada m. Oculi terdapat peningkatan kekuatan otot setelah dilakukan empat kali terapi 3 Evaluasi Skala Ugo Fisch Posisi Wajah Diam Mengerutkan Menutup mata Tersenyum Bersiul Total Tabel 3. 3 Hasil Evaluasi Skala Ugo Fisch 38 . elumpuhan 38 . elumpuhan 38 . elumpuhan 38 . elumpuhan Berdasarkan tabel 3. 3 dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan fungsional mulai terlihat pada terapi hari ketiga. Posisi wajah pasien yang diamati adalah diam, mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum dan bersiul. Dari terapi pertama hingga terapi keempat hampir seluruh posisi wajah tidak mengalami peningkatan, namun terdapat satu posisi wajah yang mengalami peningkatan yaitu posisi menutup mata yang pada terapi pertama dan kedua memiliki nilai sebesar 9 kemudian pada terapi ke keempat menjadi 21. Pelaksanaan terapi pertama, kedua dan ketiga memiliki nilai total sebesar 38, sedangkan terapi ketiga dan keempat memiliki nilai total sebesar 50. Tabel tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan terapi dengan Infra red, massage exercise dan mirror exercise menyebabkan fungsional pada wajah pasien mengalami peningkatan. Pembahasan Berdasarkan hasil terapi yang dilakukan sebanyak empat kali di bulan Februari 2024 pada pasien dengan kasus bellAos palsy yang dialami oleh pasien berinisial Tn. C berusia 50 tahun mempunyai keluhan utama wajah merot ke kanan, sulit mengerutkan dahi, mengedipkan mata. JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 106-114 tersenyum, saat kumur-kumur air keluar dari mulut yang lemah. BellsAos palsy yang diderita pasien disebabkan oleh suhu atau paparan udara yang berebihan. Hal tersebut didukung oleh tempat tinggal pasien yang berada di Pekalongan yang memiliki suhu terbilang cukup panas dan mayoritas masyarakat disana menggunakan kipas angin dan ac setiap hari, disamping itu pekerjaan pasien adalah nelayan yang setiap harinya terpapar angin laut secara langsung. Terapi yang diberikan pada pasien adalah menggunakan modalitas Infra Red. Electrical Stimulasi. Massage dan Miror Exercise. Experimental Biology and MedicineAy membuktikan bahwa spasme otot muncul akibat adanya efek defend mechanisme dari tubuh itu sendiri atau bagian tubuh tertentu dan biasanya bersifat lokal. Reaksi lain adalah penderita berusaha menghindari gerakan yang menyebabkan nyeri. Apabila dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan kekakuan sendi dan gangguan fungsional, untuk mengetahui spasme otot dapat dilakukan dengan cara palpasi, yaitu dengan cara meraba, menekan, memegang organ atau bagian tubuh pasien, misal: terasa kaku atau lunak. Dari hasil evaluasi diatas dapat dilihat terjadi penurunan derajat spasme atau kekakuan otot. Terapi pertama dan kedua nilai spasme sebesar 2 dan menurun pada terapi ketiga dan keempat menjadi nilai 1. Hasil tersebut menunjukkan penggunaan Infra red, dapat mengurangi spasme otot wajah pasien. Radiasi IR menghasilkan efek termal dan nontermal, seperti meningkatkan aliran darah arteri dan sirkulasi darah perifer, meningkatkan fungsi endotel, mengurangi kelelahan dan nyeri, mengurangi tekanan darah, mengurangi spasme otot, dan mempromosikan dilatasi kapiler . Terapi pertama (T. Terapi kedua (T. , dan Terapi ketiga (T. pada otot m. Frontalis, m. Orbicularis Oculi , m. Orbicularis Oris m. Zygomacticum dan m. Nasalis memiliki nilai 1. Terapi terakhir yaitu terapi keempat (T. terdapat peningkatan pada m. Orbicularis Oculi yaitu pada T1. T2 maupun T3 memiliki nilai 1 berubah menjadi 3. berdasarkan grafik data yang dapat dilihat bahwa sudah ada peningkatan kekuatan m. Orbicularis Oculi , sedangkan pada m. Frontalis, m. Orbicularis Oris, m. Zygomacticum dan m. Nasalis tidak mengalami peningkatan. Peningkatan otot mulai terjadi pada terapi keempat. Menurut penlitian yang di lakukan Lactuamury R. Yuliati A dan Firmansyah I . dengan judul AuPengaruh Electrical Stimulasi dan Mirror Therapi pada Bells PalsyAy. Membuktikan bahwa pada kondisi Bell`s Palsy otot-otot wajah pada umumnya terulur kearah sisi yang sehat, kaku pada wajah sisi yang lesi. Latihannya antara lain mengangkat alis, mengkerutkan dahi, menutup mata, tersenyum dan bersiul. Pemberian latihan mirror exercise dengan gerakan yang dilakukan secara aktif maupun pasif untuk melatih otot wajah dengan umpan balik visual untuk latihan wajah yang dilakukan di depan cermin. Terapi cermin bekerja dengan merangsang neuron cermin. Terapi cermin berman faat untuk meningkatkan kontraksi pada otot yang lemah, mengurangi aktivitas pada otot yang hiper stimulasi, dan untuk mengurangi synkinesis pasca kelumpuhan. Latihan ini efektif dalam meningkatkan simetri fungsi otot wajah dan meningkatkan kekuatan otot. Peran fisioterapi dalam mirror exercise pada bell`spalsy yaitu meningkatkan kekuatan otot wajah pada sisi yang lemah dengan cara mengangkat alis,tersenyum, mengerutkan dahi,berbicara, menutup mata, dan mengembang kempis hidung. Dosis yang diberikan pada intervensi mirror exercise 10-30 menit dan frekuensi yang diberikan sebanyak 3-6 kali/minggu. Kesimpulan BellAos palsy adalah lesi pada nervus VII . ervus faciali. perifer, yang mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah, bersifat akut dimana penyebabnya tidak diketahui dengan pasti atau Dalam kasus bellAos palsy ini, permasalahan fisioterapi yang di jumpai adalah adanya penurunan kekuatan otot sisi wajah kanan sehingga pasien tidak bisa untuk mengerutkan dahi dan memejamkan mata secara maksimal, belum mampu tersenyum dan mencucu. Pasien berinisial Tn. C berusia 50 tahun dengan diagnose bellAos palsy dextra mempunyai keluhan utama yaitu wajah merot ke kanan, sulit mengerutkan dahi, mengedipkan mata, tersenyum, saat kumur-kumur air keluar dari mulut yang lemah. Setalah 4 kali terapi menggunakan infra red. Electrical Stimulasi, massage dan mirror exercise didapat hasil adanya perkembangan yang baik pada proses penyembuhan dibandingkan dengan sebelum melakukan terapi, hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan kemampuan fungsional wajah pasien. Saran Keberhasilan pengobatan tergantung pada terapis, semangat pasien sendiri dan motifasi dari keluarga pasien. sehingga dibutuhkan kerjasama antara terapis, pasien dan keluarga pasien. Untuk mendapatkan efek pengobatan yang terbaik, penulis memberikan beberapa saran kepada: 1 Pasien Setelah dilakukan penanganan oleh terapis, pasien diharapkan untuk melanjutkan ke perawatan berikutnya. Pasien diharapkan serius dan bersemangat untuk melakukan latihan dan edukasi yang diajarkan oleh terapis untuk memberikan edukasi kepada pasien. 2 Bagi keluarga Saran bagi keluarga hendaknya memotivasi pasien untuk rajin melakukan terapi dan melaksanakan edukasi yang diberikan oleh terapis secara mandiri dirumah. Daftar Pustaka