E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN SIRIH HIJAU (Piper betlel L) TERHADAP Streptococcus mutans Activity Test of Green Betel Leaf Extract Ethyl Acetate Extract (Piper betle L.) Against Streptococcus mutans Andi Nur Ilmi Adriana Universitas Pancasakti Makassar email: andinurilmi.adriana@u npacti.ac.id Abstrak: Daun Sirih Hijau biasa digunakan sebagai obat tradisioanal. Kandungan Daun Sirih Hijau yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yaitu flavonoid memiliki kemampuan untuk menginaktivasi protein (enzim) pada membran sel bakteri sehingga mengakibatkan struktur protein menjadi rusak dan menyebabkan ketidakstabilan pada dinding sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L) terhadap Streptococcus mutans. Ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau di buat dalam 5 konsentrasi 1% b/v, 3% b/v, 5% b/v, 7% b/v, 9% b/v, kontrol positif (Amoxicillin) dan kontrol negatif (Na-CMC 1% b/v). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L) pada konsentrasi 1% b/v, 3% b/v, 5% b/v, 7% b/v, 9% b/v, memiliki aktivitas baktersid terhadap Streptococcus mutans. Dan konsentrasi 9% b/v adalah konsentrasi yang paling optimal dalam membunuh bakteri Streptococcus mutans. Dan hasil nya tidak berbeda nyata berdasarkan waktu, dan berbeda nyata berdasarkan perlakuan. Kata Kunci: Uji Aktivitas, Daun Sirih, Streptococcus mutans Abstract: Green Betel Leaf is commonly used as a traditional medicine. The content of green betel leaf that can inhibit the growth of bacteria, namely flavonoids have the ability to inactivate proteins (enzymes) in the bacterial cell membrane, resulting in the protein structure being damaged and causing instability in the cell wall. This study aims to determine the activity of ethyl acetate extract of green betel leaf (Piper betle L) against Streptococcus mutans. Ethyl acetate extract of Green Betel Leaf was made in 5 concentrations of 1% b/v, 3% b/v, 5% b/v, 7% b/v, 9% b/v, positive control (Amoxicillin) and negative control ( Na-CMC 1% b/v). Based on the results of the research that has been carried out, it can be concluded that the ethyl acetate extract of Green Betel Leaf (Piper betle L) at concentrations of 1% b/v, 3% b/v, 5% b/v, 7% b/v, 9% b/v has bactericidal activity against Streptococcus mutans. And the concentration of 9% b/v is the most optimal concentration in killing Streptococcus mutans bacteria. and the results were not significantly different based on time, and significantly different based on the treatment. Keywords: Activity Test, Betel Leaf, Streptococcus mutans PAPS JOURNALS E-ISSN: 2830-7070 Vol. 1, No. 1, Juni, 2022 Unit Publikasi Ilmiah Intelektual Madani Indonesia 20 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 PENDAHULUAN sejak dini melalui penyuluhan, penggunaan obat Kesehatan mulut merupakan suatu hal kumur yang secara teratur yang banyak beredar yang penting bagi manusia. Pada orang sehat dipasaran hingga pada pemanfaatan tumbuhan bau mulut yang terjadi pada umumnya semata- obat sebagai alternatif pilihan (Haniyah, 2019). mata berasal dari dalam mulut yang disebabkan Daun Sirih merupakan tumbuhan obat pembusukan sisa makanan oleh bakteri yang tradisional disekitar kita. Masyarakat Indonesia ada di dalam rongga mulut. Berbagai penyakit sendiri telah mengenal daun sirih sebagai bahan di dalam mulut seperti gingivitis, periodentitis untuk menginang dengan keyakinan bahwa dan karies gigi sering menjadi penyebab adanya daun bau mulut yang kurang sedap pada orang sehat. menyembuhkan luka-luka Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan menghilangkan keras perdarahan gusi, dan sebgaai obat kumur dalam rongga mulut yang proses terjadinya melibatkan sejumlah faktor yang sirih dapat bau menguatkan kecil badan, gigi, di mulut, menghentikan (Yendriwati dalam Willia Novita, 2020). saling berinteraksi satu sama lain, yaitu interaksi Bakteri yang berperan penting dalam antara gigi dan saliva mikroorganisme, substrat pembentukan plak adalah bakteri yang mampu serta penyebabnya membentuk polisakarida ekstraseluler, yaitu multifaktor, namun dapat dikatakan bahwa bakteri dari genus Streptococcus. Proses karies pemicu terjadinya karies gigi adalah bakteri ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada dominan jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan waktu. Walaupun Streptococci yakni spesies Streptococcus mutans ( Sanin S N 2018). bahan organiknya. Koloni Streptococcus mutans Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memfermentasi sukrosa menjadi asam. Asam tahun 2018 menyatakan adanya peningkatan yang dihasilkan dapat mempercepat pemasakan prevalensi karies gigi di Indonesia, dimana plak penderita karies gigi aktif meningkat dari 43,4% permukaan gigi. Apabila pH tersebut terus turun menjadi 53,2%, dan penderita pengalaman hingga angka kritis (5,2- 5,5), maka email gigi karies meningkat dari 67,2% menjadi 72,3%. akan larut dan timbulah karies gigi. Hal ini akan Data World Health Organization (WHO) 2016 menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan menyatakan bahwa 90% anak usia dini di kerusakan jaringan pulpa serta penyebaran ke Indonesia mengalami karies gigi, hal tersebut jaringan periapikal dan menimbulkan rasa sakit menandakan masih tingginya prevalensi karies atau nyeri. (Marsh dalam Nadya M. Owu, Dkk gigi di Indonesia terutama pada usia dini. 2020). Banyak cara yang bisa yang berakibat pada turunnya pH dilakukan untuk Streptococcus mutans merupakan bakteri mengatasi hal tersebut mulai dari pencegahan gram positif yang bersifat nonmotil dan anaerob 21 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 fakultatif yang dapat memetabolisme aktivitas ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau karbohidrat. Streptococcus mutans pertama kali (Piper betle L.) Streptococcus mutans. diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1. Alat yang digunakan 1924. Clark menyatakan bahwbakteri Alat-alat digunakan adalah autoklaf, Streptococcusmutans merupakan bakteri utama baskom, batang pengaduk, cawan petri, penyebab terjadinya karies. (Marsh dalam erlenmeyer 250 ml, gelas ukur 100 ml dan 200 Nadya M. Owu, Dkk 2020). ml, gelas kimia 100 ml dan 500 ml, labu ukur Hasil penelitian yang dilakukan oleh 100 ml, handscoon, pinset, rak tabung, sendok Sukriani Kursi, dkk. (2016) menunjukkan tanduk, tabung reaksi, timbangan analitik, dan bahwa terdapat aktivitas antibakteri pada fraksi water bath, tissue, kain kasa, vacum rotary etil asetat daun sirih evaporator, hijau (Piper betle L) corong gelas, terhadap bakteri S.epidermidis pada konsentrasi aluminium foil. 1%, 3%, dan 5%. Dan penelitian yang dilakukan 2. Bahan yang digunakan lampu spiritus, Sri Nadya Saanin, dkk. (2014) menunjukkan Daun Sirih Hijau, NA (nutrient agar), efektivitas antimikroba ekstrak etanol daun sirih Aquadest Steril, Paper disk, Na-CMC 1% b/v, terhdap dan etil asetat, Bakteri uji Streptococcus mutans, streptococcus mutans pada konsentrasi 12,5%, HCl 2N, Magnesium, HCL pekat, Aseton, 25%, 50%, dan 100%. NaOH 20%. staphylococcus aureus Berdasarkan latar belakang di atas, kita ketahui bahwa ekstrak B.Teknik Pengumpulan Data daun sirih memiliki potensi daya hambat 1. Pengambilan Bahan Uji terhadap beberapa bakteri seperti Staphyloccus Sampel daun sirih hijau berasal dari aureus dan S.epidermidis. berdasarkan latar Kabupaten belakang diatas maka telah dilakukan penelitian Pengambilan sampel dilakukan pagi hari, daun Uji aktivitas Ekstrak etil asetat ekstrak Daun sirih hijau yang digunakan adalah berumur Sirih sedang tidak terlampau tua atau tidak terlampau Hijau Streptococcus (Piper mutans betle pada L.) terhadap konsentrasi 1%,3%,dan 5% 7% 9%. Pinrang, Sulawesi Selatan. muda (Fuadi S, 2014). 2. Pengolahan Bahan Uji METODE Sampel yang diperoleh dicuci bersih A.Jenis Penelitian dengan air mengalir sampai semua kotorannya Jenis penelitian ini adalah penelitian hilang. Selanjutnya daun Sirih di rajang kecil- eksperimental laboratorium dengan melakukan kecil, setelah dirajang, Daun Sirih dikeringkan serangkaian tanpa terkena sinar matahari langsung atau penelitian untuk mengetahui diangin-anginkan, kemudian daun sirih hijau 22 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 yang telah kering diserbukkan dengan kuning, hijau, coklat, hitam dan orange, menggunakan blender ( Aisyah, 2020). menunjukan positif flavonoid 3. Pembuatan Ekstrak Daun Sirih Hijau c. Uji Fenol Ditimbang 150 g daun sirih hijau (Piper Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g betle L) kemudian dimasukkan kedalam bejana dimasukkan maserasi dan tambahkan cairan penyari etil ditambahkan dengan aseton. Selanjutnya resude asetat hingga terendam seluruhnya, lalu ditutup diekstraksi menggunakan air panas setelah dan didiamkan ditempat ditempat gelap selama aseton diuapkan. Filtrat kemudian didinginkan. 5 hari sambil sesekali diaduk-aduk, setelah 5 5 mL NaOH 20% di tambahkan dalam ekstrak. hari saring lalu cairan penyari diganti dengan warna hijau, merah, ungu atau hitam (Kursia pelarut baru dan dimaserasi kembali hingga Dkk, 2016) simplisia tersari seluruhnya. Ekstrak yang C. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Sirih diperoleh 1. Sterilisasi Alat dikumpulkan kemudian diupkan ke dalam tabung, kemudian dengan rotavapor sehingga diperoleh ekstrak Alat-alat yang digunakan terlebih dahulu kental. Kemudian dikeringkan dengan water di cuci dengan detergen kemudian dibilas bath sampai diperoleh eksrak kering (Hanani dengan air suling. Alat-alat yang terbuat dari 2016). gelas dibungkus dengan kertas hvs putih dan 4. Uji Skrining Fitokimia disterilkan dengan menggunakan oven dengan a. Uji Saponin suhu 180℃ selama 2 jam. Alat logam yang Ekstrak g disterilkan dengan menggunakan lampu spiritus dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian selama 30 detik. Alat-alat karet dan plastik ditambahkan 10 mL air hangat atau panas lalu (tidak tahan pemanasan suhu tinggi) disterilkan dikocok selama 30 menit. Dilihat busanya dan dengan autoklaf pada suhu 121℃ selama 15 diukur menit. berapa etilasetat cm sebanyak busa yang 0,1 terbentuk. Dibiarkan selama 5 menit dan jika busanya 2. Pembuatan media Na (Nutrien agar) tidak hilang ditambahkan HCl 2N. Apabila Untuk membuat 100 ml NA ditimbang masih terdapat busa yang konstan maka 2,0 gram media NA, kemudian dimasukkan ke menunjukan hasil yang positif. dalam erlenmeyer, dilarutkan dengan aquadest b. Uji Flavonoid hingga 100 ml dicek pH nya sampai 7,0 ± 0,2. Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g Setelah itu dipanaskan sampai mendidih dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian larut ditambahkan serbuk Magnesium sebanyak 0,5 disumbat kapas lalu disterilkan dalam autoklaf sempurna. Setelah larut sempurna mg lalu ditambahkan HCl pekat 3 tetes. Warna 23 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 selama 15 menit pada suhu 121 ºC dengan secukupnya lalu dimasukkan kedalam labu ukur tekanan 1 – 1,5 atm. 10 ml kemudian dicukupkan volume hingga 10 3. Peremajaan Bakteri ml, Konsentrasi 5% b/v ditimbang 0,5 gram Kultur murni streptococcus mutans ekstrak etil asetat disuspensikan dengan Na- diambil satu ose dan diinokulasi secara aseptis CMC 1% b/v secukupnya lalu dimasukkan dengan cara digoreskan pada agar miring dari kedalam labu ukur 10 ml kemudian dicukupkan medium Nutrien agar, lalu diinkubasi secara volume hingga 10 ml, konsentrasi 7% b/v anaetob suhu 37℃ selama 24 jam (Hartina ditimbang 0,7 gram etil asetat disuspensikan 2017). dengan Na-CMC 1% b/v secukupnya lalu 4. Suspe nsi bakteri dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml kemudian Biakan bakteri yang telah diremajakan dicukupkan volume hingga 10 ml, dan pada media NA miring diambil sebanyak 1 ose konsentrasi 9% b/v ditimbang 0,9 gram ekstrak dan dimasukkan kedalam tabung reaksi berisi etil asetat disuspensikan dengan Na-CMC 1% larutan Nacl 0,9% lalu kocok sampai homogen b/v secukupnya lalu dimasukkan kedalam labu diperoleh suspensi bakteri. ukur 10 ml kemudian dicukupkan volume 5. Pembuatan Na-CMC 1% b/v hingga 10 ml. Ditimbang Na-CMC Sebanyak 1 gram 7. Pengujian Aktivitas Disiapkan 3 cawan petri yang sudah dan disuspensikan dalam 50 ml air panas sambil volumenya disterilkan terlebih dahulu, disiapkan medium hingga 100 ml aquadest dan diaduk sampai NA steril kemudian dituang secara aseptis homogen. kedalam cawan petrit masing-masing sebanyak 6. Pembuatan Konsentrasi Bahan Uji 20 ml dan dibiarkan memadat. Lalu digoreskan diaduk. Kemudian dicukupkan Ekstrak etil aseat daun Sirih Hijau dibuat suspensi bakteri menggunakan swab steril pada dalam 5 konsentrasi yaitu 1% b/v, 3% b/v, dan media yang telah padat. Disiapkan 21 buah 5% b/v 7% b/v 9% b/v, kontrol positif paper disk , tiap 7 buah paper disk rendam (Amoxicillin) dan kontrol negatif (Na-CMC 1% kedalam masing-masing ekstrak etil asetat b/v) , untuk Konsentrasi 1% b/v ditimbang 0,1 dengan konsentrasi 1% b/v, 3% b/v, gram ekstrak etil asetat disuspensikan dengan b/v,7% b/v, dan 9% b/v, kontrol positif Na-CMC 1% b/v secukupnya lalu dimasukkan (Amoxicillin ) dan kontrol negatif (Na-CMC kedalam labu ukur 10 ml kemudian dicukupkan 1% b/v) Semua paper disk direndam selama volume hingga 10 ml, Konsentrasi 3% b/v kurang lebih 30 menit, selanjutnya masing- ditimbang masing paper disk ditanamkan pada cawan petri 0,3 disuspensikan gram ekstrak dengan Na-CMC etil 1% asetat b/v yang berisi medium NA dan 5% biakan 24 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 streptococcus mutans kemudian diinkubasikan untuk mengidentifikasi senyawa yang terdapat selama 1x 24 jam dan 2x 24 jam pada suhu pada Daun Sirih Hijau. Berdasarkan hasil 370C lalu diukur diameter zona hambat pengujian dinyatakan bahwa Daun Sirih Hijau pertumbuhan bakteri. mengandung D.Pengamatan Dan Pengukuran Diameter Hambat senyawa flavonoid ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi coklat ketika ditambahkan pereaksi Magnesium + HCL Pengamatan dan pengukuran diameter Pekat, dan mengandung senyawa Fenol ditandai zona hambatan dilakukan setelah diinkubasikan dengan perubahan warna hijau menjadi hijau selama 1x24 jam dan 2x24 jam, kemudian kehitaman ketika ditambahkan pereaksi Aseton diukur zona hambatnya terhadap bakteri uji + NaOH. yang terbentuk dengan menggunakan jangka Ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau dibuat sorong. dalam 5 konsentrasi yaitu, K1 1% b/v, K2 3% E. Teknik Analisis b/v, K3 5%, K4 7% b/v, dan K5 9% b/v. Data yang diperoleh dari pengukuran Kontrol positif yaitu (Amoxicillin) dan kontrol diameter hambatan dianalisis secara statistik negatif menggunakan Anova two way (Analisis Of dilakukan uji aktivitas antibakteri terhadap Varience) dengan tingkat kepercaan 95% Streptococcus mutans menggunakan metode dengan beberapa pengujian yang dilakukan difusi agar. Metode ini umumnya digunakan sebelumnya dibandingkan metode lainnya karena metode seperti uji normalitas dan (Na-CMC 1% b/v). Selanjutnya homogenitas pada data. difusi agar memudahkan dalam mengetahui HASIL DAN DISKUSI aktivitas antibakteri suatu sediaan dengan Telah dilakukan penelitian uji aktivitas ekstrak terbentuknya etil asetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L) bakteri dan zat yang bersifat sebagai antibakteri Terhadap Streptococcus mutans Penelitian ini didalam media padat zona hambatan pertumbuhan bertujuan untuk mengetahui uji aktivitas ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L) Berdasarkan hasil pengamatan yang terhadap streptococcus mutans. Ekstrak etil dilakukan di tiga cawan petri memperlihatkan asetat dari aktivitas antibakteri dengan adanya zona hambat pengolahan simplisia Daun Sirih Hjau kemudian yang terbentuk disekitar paper disk. Diameter di zona hambat yang terbentuk di sekitar paper Daun ekstraksi Sirih Hijau dengan diperoleh metode maserasi menggunakan pelarut etil asetat, Daun Sirih disk Hijau sebanyak 3 kali setiap konsentrasi. diyakini mengandung beberapa zat diukur menggunakan jangka sorong berkhasiat. Oleh sebab itu dilakukan pengujian 25 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 Berdasarkan rata-rata menghambat. Sehingga dapat dinyatakan bahwa diameter zona hambat disekitar paper disk pada ekstrak etil asetat dengan 5 konsentrasi tersebut ekstrak etil asetat daun sirih yang diinkubasi memiliki setelah yang Streptococcus mutans. Kemudian pengamatan menunjukkan diameter paling besar terdapat yang dilakukan pada ekstrak etil asetat daun pada konsentrasi 9% b/v dengan nilai rata-rata sirih zona hambat 20,1 mm, ekstrak etil asetat daun menujukkan zona bening disekitar paper disk Sirih Hijau pada konsentrasi 7% b/v memiliki sehingga dapat dinyatakan bahwa ekstrak etil nilai rata-rata zona hambat 18,3 mm, ekstrak etil asetat daun sirih bisa membunuh bakteri. 1x24 hasil jam, pengukuran dimana ekstrak aktivitas yang diinkubasi bakterisid selama terhadap 2x24 jam asetat daun Sirih Hijau pada konsentrasi 5% b/v Berdasarkan Uji Statistik. Uji Normalitas memiliki nilai rata-rata zona hambat 16,4 mm, (Shapiro iwilk) pada kelima konsentrasi yaitu ekstrak etil asetat daun sirih pada konsentrasi K1 (1%), K2 (3%), K3 (5%), K4 (7%), K5 (9%) 3% b/v memiliki nilai rata-rata zona hambat 15 dan K positif menunjukkan nilai signifikansi mm, dan ekstrak etil asetat pada konsentrasi 1% (sig) 0.083. Karena nilai P > 0,05 maka hal itu b/v memiliki nilai rata-rata zona hambat 8,5 berarti bahwa data tersebut terdistribusi normal. mm. (Amoxicilin) Kemudian dilanjutkan Uji Homogenitas (levene memiliki nilai rata-rata zona hambat 15,8 mm, itest) pada kelima formula tersebut, hasilnya dan menghambat. menunjukkan signifikansi (sig) sebesar 0.082 Kemudian pengamatan yang dilakukan pada yang berarti P> 0,05 artinya data tersebut ekstrak etil asetat daun sirih yang diinkubasi memiliki selama 2x24 jam menunjukkan konsentrasi 9% selanjutnya dilakukan dengan menggunakan b/v dengan nilai rata-rata zona hambat 20,4 mm, analisis two way anova pada kelima formula ekstrak etil asetat daun sirih pada konsentrasi tersebut dan didapatkan hasil dengan nilai 7% b/v memiliki nilai rata-rata zona hambat signikansi 18,7 mm, ekstrak etil asetat daun sirih pada menunjukkan bahwa nilai P < 0,05 yang berarti konsentrasi 5% b/v memiliki nilai rata-rata zona bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hambat 16,8 mm, ekstrak etil asetat daun sirih antara semua perlakuan pada K1 (1%), K2 pada konsentrasi 3% b/v memiliki nilai rata-rata (3%), K3 (5%), K4 (7%),K5 (9%) dan K positif zona hambat 15,3 mm, dan ekstrak etil asetat berdasarkan perlakuan. Dan hasil uji 1x24 jam pada konsentrasi 1% b/v memiliki nilai rata-rata dan 2x24 jam didapatkan nilai sig. 0.320 > 0,05 zona hamabat 8,8 mm. untuk kontrol positif yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan (Amoxicilin) memiliki nilai rata-rata zona yang signifikan antara semua perlakuan pada hambat 16,2 mm, dan kontrol negatif tidak K1 (1%), K2 (3%), K3 (5%), K4 (7%),K5 (9%) untuk kontrol kontrol negatif positif tidak data (sig) yang homogen. sebesar 0.000, Pengujian hal ini 26 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 dan K positif berdasarkan waktu. Selanjutnya merusak membran sel bakteri dan diikuti hasil uji didapatkan nilai sig 1.000 > 0,05 yang dengan berarti (Sukriani, 2016). bahwa perlakuan tidak ada dan waktu. interaksi antara Berdasarkan keluarnya tabel KESIMPULAN perlakuan lama waktu inkubasi menunjukkan Berdasarkan tentang perbedaan nilai rata-rata (mean) hasil senyawa penelitian intraseluler yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: dari perlakuan dan lama waktu inkubasi secara Ekstrak etil asetat Daun Sirih Hijau (piper deskriptif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa betle L) pada konsentrasi 1% b/v, 3% b/v, 5% ada perbedaan nyata disetiap konsentrasi baik b/v, 7% b/v, 9% b/v memiliki aktivitas baktersid K1 (1%), K2 (3%), K3 (5%), K4 (7%),K5 (9%) terhadap streptococcus mutans. Dan konsentrasi dan K positif. Nilai rata-rata paling tinggi ada 9% b/v adalah konsentrasi yang paling optimal pada K5 (9%) sebesar 20.100 untuk 1x24 jam dalam membunuh bakteri Streptococcus mutans. dan 20.400 untuk 2x 24 jam. Kemudian pada REFERENSI hasil Afriana (2017). Perubahan pH Saliva Sebelum dan Sesudah Mengkonsumsi Buah Pisang Ayam (Musa acuminata Colla) Pada Mahasiswa FKG UNSYIAH ANGKATAN 2014. Universitas Syiah Kuala . Carrol, K. C., Stephen, M., Timothy, M., Steve, M. (2017). Mikrobiologi Kedokteran Edisi 27. Jakarta : EGC Cappucino, J., Natalie, S. (2017 Manual Laboratorium Mikrobiologi Edisi 8. Jakarta : EGC Dwi Retno Nur Syahida (2019) Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Daun Sirih Hijau (Piper Betle L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro. Universitas Muhammadiyah Malang Fatmawati, ADW. (2011). Hubungan Biofilm Streptococcus mutans Terhadap Resiko Terjadinya Karies Gigi. Bagian Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Jember Fuadi S. 2014. Efektivitas Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L) Terhadap Pertumbhan Bakteri Streptococcus berdasarkan lama waktu inkubasi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata yang terjadi antar inkubasi 1 x 24 jam dengan inkubasi 2 x 24 jam disetiap konsetrasi baik K1 (1%), K2 (3%), K3 (5%), K4 (7%),K5 (9%) dan K positif. Daun Sirih memiliki kandungan zak aktif sebagai antibakteri yaitu flavonoid memiliki mekanisme kerja sebagai anti mikroba dapat melalui tiga menghambat menghambat mekanisme sintesis fungsi kerja asam membran yaitu nukleat, sel, dan menghmabat menghambat metabolisme energi. Flavonoid menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri, mikrosom, dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid dengan DNA bakteri. Mekanisme kerja flavonoid menghambat fungsi membran sel adalah membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler yang dapat 27 E-ISSN: 2830-7070; Vol.1, No.1 Juni, 2022 pygones In Vitro. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Haniyah A. 2019. Formulasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Obat Kumur Ekstrak Etanol Buah Pinang (Areca Catechu L.) Terhadap Bakteri Streptococcus Mutans Secara In Vitro. Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya. Hartina, S. T. (2017) . Uji Aktivitas Sediaan Mouthwash Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eluetherine palmifolia (L) Merr) Sebagai Anti Bakteri terhadap Streptococcus Mutans. Skripsi Program Studi Farmasi, Makassar : Stikes Mega Rezky Inayatullah, S. (2016) Efek Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus. Jakarta: FK Uinsyah. Irianto, K. (2014). Bakteriologi, Mikologi & Virologi Panduan Medis & Klinis. ALFABETA. Bandung Kinanti, (2020) Uji Efektifitas Sakbidsida Ekstrak Etanol Daun Sirih (Pipper Bettle L) Secara In Vivo Terhadap Tungau Sarcoptes Scabiel Pada Marmut (Cavia Porcellus). Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung. Kursia, & Dkk. (2016, Juni). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) Terhadap Bakteri Stapilochoccus epidermis. IJPST, 3 (2), 72-77. Leba, M.A.U. (2017). Ekstraksi dan Real Kromatografi. Deepublish. Yogyakarta Loyd, V.A., Nicholas, G., & Howard, C. A. (2013). Ansel Bentuk Sediaan Farmasetis Sistem Penghantaran Obat Edisi 9. Jakarta : EGC Nadya M. Owu, Fatimawali, Meilani Jayanti, (2020) Uji Efektivitas Penghambatan Dari Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle L.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans . Jurnal Biomedik. 2020;12(3):145-152. Pradhan D, (2016). Golden Heart Of The Nature : Piper Betle L. Journal Of Pharmacognosy and Phytochemistry, Vol.1 No.6 P.147-167 Syaifuddin. (2018). Anatomi Fisiologi Kurikulum Berbasis Kompetensi Untuk Keperawatan & Kebidanan . Jakarta : EGC Sukriani Kursia, dkk (2016) Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etilasetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. IJPST Volume 3, Nomor 2, Juni 2016 Willia Novita (2016) Uji Aktivitas Antibakteri Daun Sirih (Piper Betle L) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans Secara In Vitro Jmj, Volume 4, Nomor 2, November 2016, Hal: 140 – 155 28