Analisis Faktor Determinan Terjadinya Stunting pada Balita di Kecamatan Metro Pusat Kota Metro Analysis Of Determinant Factors Of Stunting On Toddler In Central Metro District Eka Fesliria1. Samino2. Fitri Ekasari2. Dhiny Easter Yanti2. Dina Dwi Nuryani2 Program Studi Megister Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Korespondensi penulis : Meirahasan5@gmail. ABSTRACT Stunting is a physical indicator of chronic malnutrition in children. The aim of this study was to determine the determinants of stunting in toddlers in Metro City. An analytical survey using a case-control approach was conducted. A sample size of 156 toddlers was taken, consisting of 78 cases and 78 controls. The analysis in this study used bivariate analysis with the chi-square test and multivariate analysis with logistic regression. The results showed that variables associated with stunting were maternal age . -value 0. birth interval . -value 0. , maternal nutritional status . -value 0. , education level . -value 0. , economic status . -value 0. , birth weight . -value 0. , and history of breastfeeding . -value 0. Meanwhile, gender was not associated with Variables that significantly influenced the occurrence of stunting were maternal nutritional status (OR: 7. , birth interval (OR: 5. , maternal age (OR: 2. , and history of breastfeeding (OR: 2. after controlling for education level and economic Maternal nutritional status was the most dominant variable influencing the occurrence of stunting . -value 0. It is recommended that prevention efforts begin with maternal nutritional status by providing education to pregnant women about the importance of nutritious food and taking iron supplements during pregnancy, and regularly visiting health centers or other health facilities. Keywords: Stunting, toddlers. Nutrition ABSTRAK Stunting merupakan indikator fisik malnutrisi kronis pada masa anak-anak. Tujuan penelitian ini adalah diketahui faktor determinan terjadinya stunting pada balita di Kota Metro. Jenis penelitian survey analitik menggunakan pendekatan case control. Besar sampel yang diambil sebanyak 156 balita yang terdiri dari 78 . dan 78 . Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistic. Hasil didapatkan variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting yaitu usia ibu . -value 0,. , jarak kehamilan . -value 0,. , status gizi ibu . -value 0,. , tingkat pendidikan . -value 0,. , status ekonomi . -value 0,. , berat bayi lahir . -value 0,. , dan riwayat pemberian ASI . -value 0,. Sementara jenis kelamin tidak berhubungan dengan kejadian Variabel yang signifikan mempengaruhi terjadinya stunting yaitu status gizi ibu (OR: 7,. jarak kehamilan (OR: 5,. , usia ibu (OR: 2,. , dan riwayat pemberian ASI (OR: 2,. setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan status ekonomi. Status gizi ibu merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi terjadinya stunting . value 0,. Disarankan upaya pencegahan dimulai dari faktor status gizi ibu dengan cara memberikan edukasi pada ibu hamil tentang pentingnya makanan bergizi dan minum tablet tambah darah pada saat hamil, dan rajin memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain. Kata Kunci : Stunting, balita. Gizi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. PENDAHULUAN Stunting merupakan indikator fisik malnutrisi kronis pada masa anak-anak yang mudah dikenali dan diukur. Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki angka kematian, kesakitan dan hambatan dalam perkembangan kognitif dan motorik yang lebih tinggi. Hal ini mempunyai implikasi serius terhadap kesehatan penduduk dan pemenuhan potensi intelektual serta ekonomi bagi negara berpendapatan rendah dan menengah (Vaivada et al. , 2. Sampai saat ini, stunting masih menjadi masalah malnutrisi yang paling dominan di dunia (Montenegro et al. , 2. Word Heath Organization (WHO) mengungkapkan bahwa angka kejadian di dunia pada anak usia di bawah 5 tahun mengalami penurunan walaupun kasusnya masih tinggi, tahun 2012 kasus stunting tercatat sebesar 26,3% dan pada akhir tahun 2022 tercatat sebesar 22,3% atau 148,1 juta Angka kejadian tertinggi berada di wilayah Asia yaitu mencapai 76,6 juta, tertinggi kedua berada di wilayah Afrika yaitu 63,1 juta dan terendah berada di Eropa 1,4 juta serta wilayah Oceania 0,7 juta kasus. Sementara untuk Indonesia pada tahun 2012 tercatat sebear 34,6% menurun menjadi 31,1% di tahun 2022 (UNICEF. WHO. World Bank, 2. Prevalensi stunting di Indonesia Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. terlihat mengalami penurunan dimana pada laporan tahun 2013 yaitu sebesar 37,2% menurun menjadi 30,8% di tahun Sedangkan pada laporan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Indonesia tahun 2019 sebesar 27,7%, tahun 2021 sebesar 24,4%, dan laporan terakhir tahun 2022 yaitu sebesar 21,6%. Target angka stunting nasional adalah sebesar 14% (Kemenkes RI. Kasus stunting tertinggi di Indonesia pada Riskesdas terakhir 2018 terjadi di Nusa Tenggara Timur yaitu kriteria sangat pendek sebesar 17,4%, kriteria pendek 18,4% dan untuk Provinsi Lampung adalah sebesar 12,2% sangat 15,2% (Kemenkes RI, 2. Data Apalikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat . -PPGBM) Kabupaten Lampung Timur tahun 2023 melaporkan bahwa jumlah balita stunting mencapai 383 . ,27%) (Dinkes Lampung Timur. Dinas Kesehatan Kota Metro juga melaporkan bahwa presentase kasus balita stunting di Kota Metro masih cukup tinggi, tahun 2020 yaitu sebanyak 778 . ,5%) dari 7. 849 balita, tahun 2021 banyak 579 . ,29%) dari 7. 933 balita, tahun 2022 sebanyak 550 . ,5%) dari 427 balita dan tahun 2023 sebanyak 315 . ,07%) dari 7. 739 balita dengan jumlah kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Metro Pusat yaitu sebanyak 124 . ,41%) dari 2. 291 balita. Target angka stunting Kota Metro sendiri yaitu sebesar 6% (Dinkes Kota Metro, 2. Meskipun prevalensi stunting terjadi penurunan, tetapi masih tetap menjadi masalah serius karena dampak yang ditimbulkan cukup banyak. Stunting yang terjadi hingga balita berusia dua tahun kematian premature serta mengalami gangguan perkembangan mental dan Gangguan berpengaruh pada perkembangan balita. Selain malnutrisi berpotensi mengembangkan penyakit degenerative ketika dewasa. Apabila tumbuh kejar tidak tercapai sebelum balita berusia dua tahun, balita akan tumbuh menjadi anak malnutrisi. Anak yang mengalami malnutrisi pada umumnya memiliki kecerdasan yang kurang sehingga prestasi belajar tidak optimal (Helmyati dkk, 2. Melihat banyaknya dampak yang ditimbulkan akibat stunting maka upaya Sustainble Development Goals (SDG) penurunan stunting pada tahun 2030 sebesar 50% harus terus diupayakan (UNICEF. WHO. World Bank, 2. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan angka kejadian stunting adalah dengan mengenali berbagai faktor risiko yang dapat menjadi penyebab terjadinya Status kesehatan dan status gizi ibu yang buruk serta asupan makanan yang tidak adekuat dan penyakit infeksi, khususnya yang mencakup kesehatan dan gizi ibu sebelum, selama dan sesudah kehamilan, sanitasi yang kurang baik. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. pemberian MPASI yang tidak adekuat diketahui telah menjadi faktor risiko Faktor risiko lainnya yang dapat menyebabkan stunting adalah berat badan lahir, status sosial ekonomi pengetahuan, jarak kelahiran, dan tinggi badan orangtua (Helmyati et al. , 2. Banyaknya faktor resiko stunting dan belum diketahuinya penyebab pasti stunting maka sebagai upaya untuk kejadian stunting pada balita maka penulis tertarik untuk menganalisis faktor determinan terjadinya stunting pada balita di Kecamatan Metro Pusat. METODE Penelitian ini menggunakan studi Populasi dalam penelitian ini adalah balita di Metro Pusat Kota Metro tahun 2023. Besar sampel 156 balita dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi. Penelitian ini dilakukan pada Agustus Data menggunakan analisis bivariat uji chi square dan analisis multivariat uji regresi HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Usia Ibu. Jarak Kehamilan. Status Gizi Ibu. Pendidikan. Status Ekonomi. Berat Bayi Lahir. Jenis Kelamin, dan Riwayat Pemberian ASI Variabel Frekuensi Usia ibu Risiko tinggi (<20 & >35 t. Risiko rendah . -35 t. Jarak kehamilan Risiko tinggi (<2 t. Risiko rendah (>= 2 t. Status Gizi Ibu LILA <23,5 cm LILA >23,5 cm Tingkat Pendidikan Rendah Tinggi Status Ekonomi Rendah Tinggi Berat Bayi Lahir BBLR Normal Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Riwayat Pemberian ASI Non Eksklusif Eksklusif Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar usia ibu balita berada pada usia risiko rendah . 5 tahu. yaitu sebanyak 120 orang . ,9%), memiliki jarak kehamilan Ou2 tahun yaitu 125 orang . ,1%), status gizi dengan LILA Ou23,5 cm sebanyak 134 orang . ,6%), tingkat pendidikan Persentase (%) termasuk dalam kategori tinggi sebanyak 108 orang . ,2%), status ekonomi tergolong rendah sebanyak 94 orang . ,3%), berat badan bayi saat dilahirkan sebanyak 129 orang . ,7%) dengan jenis kelamin balita terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 86 orang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. ,1%). ASI sebanyak 80 orang . ,3%). Tabel 2. Analisis hubungan variabel penelitian Kejadian Stunting Jumlah Variabel Kasus Kontrol p-value OR. 95%CI Usia Ibu Risiko tinggi (<20 & >35 t. Risiko rendah . -35 t. Jarak Kehamilan Risiko tinggi (<2 t. Risiko rendah (Ou2 t. Status Gizi Ibu LILA <23,5 cm LILA Ou23,5 cm 24 66,7 12 33,3 36 100 0,037 54 45,0 66 55,0 120 100 2,444 ,120-5,. 25 80,6 6 19,4 31 100 0,002 53 62,5 72 57,6 125 100 5,660 ,169-4,. 19 86,4 3 13,6 22 100 0,001 8,051 59 44,0 75 56,0 134 100 ,273-28,. Tingkat Pendidikan Rendah Tinggi Status Ekonomi Rendah Tinggi Berat Bayi Lahir BBLR Normal Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Riwayat Pemberian ASI Non Eksklusif Eksklusif Jumlah 32 66,7 16 33,3 48 100 0,009 46 42,6 62 57,4 108 100 2,696 ,324-5,. 54 57,4 40 42,6 94 100 0,033 24 38,7 38 61,3 62 100 2,138 ,111-4,. 19 70,4 8 29,6 27 100 0,034 59 45,7 70 54,3 129 100 2,818 ,151-6,. 46 53,5 40 46,5 86 100 0,421 32 45,7 38 54,3 70 100 1,366 ,725-2,. 45 59,2 31 40,8 76 100 0,037 33 41,3 47 58,8 80 100 78 50,0 78 50,0 156 100 2,067 ,092-3,. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada analisis bivariat, berhubungan dengan kejadian stunting . <0,. yaitu usia ibu . -value 0,. , jarak kehamilan . -value 0,. , status . -value 0,. , pendidikan . -value 0,. , status ekonomi . -value 0,. , berat bayi lahir . -value 0,. , dan riwayat pemberian ASI . -value 0,. Sementara variabel jenis kelamin tidak terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita. Tabel 3. Analisis Regresi Logistic Multivariate Variabel Usia Ibu Jarak Kehamilan Status Gizi Ibu Tingkat Pendidikan Status Ekonomi Riwayat Pemberian ASI Constant p-value 0,999 1,658 2,015 0,832 0,309 0,825 0,024 0,002 0,004 0,054 0,457 0,030 2,715 5,249 7,503 2,298 1,361 2,281 -5,026 0,000 0,007 95% C. EXP(B) Lower Upper 1,137 6,483 1,846 14,921 1,930 29,159 0,986 5,353 0,604 3,067 1,082 4,810 Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. Berdasarkan hasil akhir analisis multivariat pada tabel di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat empat variabel terhadap kejadian stunting pada balita yaitu usia ibu (OR: 2,715. CI: 1,1376,. , jarak kehamilan (OR: 5,249. CI: 1,846-14,. , status gizi ibu (OR: 7,503. CI: 1,930-29,. dan riwayat pemberian ASI (OR: 2,281. CI: 1,0824,. , sementara variabel tingkat pendidikan dan status ekonomi sebagai Adapun determinan yang paling memengaruhi terjadinya stunting pada balita adalah status gizi ibu dimana ibu balita yang memiliki LILA <23,5 cm berisiko 7,5 kali lebih besar memiliki balita stunting dibandingkan dengan ibu balita yang memiliki LILA Ou23,5 cm setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan status PEMBAHASAN Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil penelitian menunjukan bahwa ditemukan pada ibu balita yang berada pada usia risiko tinggi (<20 & >35 tahu. yaitu sebesar 66,7% dan balita yang tidak stunting sebagian besar ditemukan pada ibu balita yang berada pada usia risiko rendah . -35 tahu. yaitu sebesar 55,0%. Pada hasil analisis faktor usia ibu terbukti berhubungan dengan kejadian stunting pada balita . -value 0,. Nilai OR yang didapatkan adalah sebesar 2,444 (CI. 95%: 1,120-5,. artinya ibu yang berusia <20 & >35 tahun berisiko memiliki balita stunting 2,444 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang berada pada usia reproduksi sehat . -35 Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manggala et al. , . bahwa salah satu faktor risiko yang terbukti berhubungan dengan stunting pada balita adalah usia ibu . <0,. Balita yang terlahir dari ibu yang berusia <20 tahun atau >35 tahun berisiko mengalami stunting 4,3 kali lebih besar dibandingkan dengan balita yang dilahirkan oleh ibu yang berada pada usia reproduksi sehat . -35 tahu. Studi yang dilakukan oleh Efevbera et al. juga membuktikan bahwa usia ibu terbukti memiliki hubungan signifikan terhadap terjadinya stunting pada balita. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa usia ibu terbukti sebagai salah satu faktor determinan terhadap terjadinya stunting pada balita, sebagian besar ditemukan pada ibu yang berusia <20 tahun dan >35 tahun. Hal ini dapat terjadi karena pada wanita usia muda (<20 tahu. rahim dan panggul belum tumbuh mencapai ukuran dewasa, pada usia tersebut ibu juga masih dalam tahap perkembangan sehingga apabila terjadi kehamilan pada usia tersebut maka kebutuhan asupan nutrisi untuk janin terganggu. Sedangkan pada wanita umur >35 tahun kondisi kesehatan ibu mulai menurun, fungsi rahim menurun, kualitas sel telur berkurang akibatnya jika kehamilan terjadi pada usia tersebut makan resiko terjadinya stunting pada bayi yang dilahirkan akan semakin tinggi. Pada penelitian ini, ditemukan adanya ibu yang berada pada usia reproduksi sehat . -35 tahu. namun memiliki balita stunting, kondisi dapat terjadi karena penyebab terjadinya stunting bersifat multi faktor sehingga saat ibu berada pada usia reproduksi sehat namun ditemukan adanya faktor risiko lain maka kemungkinan untuk memiliki balita sunting juga dapat terjadi walaupun risiko dibandingkan dengan ibu yang berada pada usia risiko tinggi. Di sisi lain, pada penelitian ini juga ditemukan adanya ibu yang berada pada usia resiko tinggi namun tidak memiliki balita stunting, hal ini juga dapat terjadi karena usia ibu bukan merupakan satu-satunya faktor determinan yang dapat memengaruhi terjadinya stunting dimana pada saat ibu berada pada usia risiko tinggi namun tidak ditemukan faktor penguat lainnya maka risiko terjadinya stunting akan lebih Hubungan Jarak Kehamilan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil bahwa kejadian stunting paling banyak ditemukan responden yang memiliki jarak kehamilan <2 tahun yaitu sebesar 66,7% Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. dan balita tidak stunting paling banyak ditemukan pada responden yang memiliki jarak kehamilan Ou2 tahun yaitu sebesar 57,6%. Pada hasil analisis jarak kehamilan terbukti berhubungan dengan kejadian stunting pada balita . -value 0,. , nilai OR yang didapatkan adalah sebesar 5,660 (CI. 95%: 2,169-14,. artinya jarak kehamilan <2 tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting pada balita 5,660 kali lebih besar dibandingkan jarak kehamilan Ou2 tahun. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ernawati & Jayanti, . bahwa faktor jarak kehamilan terbukti berhubungan dengan kejadian stunting pada balita, balita yang memiliki riwayat jarak kehamilan O 2 tahun mempunyai resiko mengalami stunting 5 kali lebih besar daripada balita yang memiliki riwayat jarak kehamilan >2 tahun. Penelitian lain menyebutkan bahwa balita yang memiliki riwayat jarak lahir <2 tahun berisiko mengalami stunting 11 kali lebih besar daripada balita yang memiliki riwayat lahir >2 Berdasarkan uraian di atas dapat ataupun kelahiran terlalu dekat (<2 tahu. terbukti sebagai salah satu faktor determinan terjadinya stunting pada balita dimana proporsi balita yang mengalami stunting sebagian besar ditemukan pada balita yang memiliki riwayat kelahiran <2 tahun sementara balita yang memiliki riwayat kelahiran Ou2 tahun sebagian besar tidak mengalami Hal ini dapat terjadi karena pada jarak kehamilan yang terlalu dekat (<2 tahu. kondisi rahim masih belum pulih akibat persalinan sebelumnya dan belum cadangan makanan bagi janin dan untuk ibu sendiri sehingga akan memengaruhi status gizi bayi saat dilahirkan dan kondisi tersebut akan menyebabkan balita lebih berisiko mengalami stunting. Pada hasil penelitian ini ditemukan balita yang memiliki riwayat jarak kehamilan Ou 2 tahun namun mengalami stunting, selain itu ditemukan juga balita yang memiliki riwayat jarak kehamilan <2 tahun tidak mengalami stunting, hal ini dapat terjadi satu-satunya determinan terjadinya stunting pada balita, sehingga hal tersebut terjadi dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang juga memiliki peranan terhadap terjadinya stunting pada balita. Hubungan Status Gizi Ibu dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil penelitian menunjukan bahwa balita stunting paling banyak ditemukan pada ibu yang memiliki LILA <23,5 cm yaitu sebesar 86,4% dan balita tidak stunting paling banyak ditemukan pada ibu dengan LILA Ou23,5 cm yaitu sebesar 56,0%. Pada hasil analisis status gizi ibu terbukti berhubungan dengan kejadian stunting pada balita . -value 0,. , nilai OR yang didapatkan adalah sebesar 8,051 (CI. 95%: 2,273-28,. artinya ibu dengan LILA <23,5 cm berisiko memiliki balita stunting 8,051 kali lebih besar dibandingkan ibu dengan LILA Ou23,5 cm. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktifasari et al. , . bahwa salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya stunting pada balita adalah riwayat KEK pada ibu saat hamil. Studi yang dilakukan oleh (Astuti et al. , 2. juga membuktikan bahwa adanya riwayat KEK pada ibu terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita dimana ibu dengan LILA <23,3 cm lebih dibandingkan dengan ibu yang memiliki LILA normal. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa status gizi ibu memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita. Proporsi kejadian stunting pada balita sebagian besar ditemukan pada ibu yang memiliki LILA <23,5 cm, hal ini dapat terjadi karena ibu yang mengalami masalah gizi selama nutrisi yang dibutuhkan janin yang disalurkan melalui plasenta menjadi terganggu dan kondisi tersebut akan memengaruhi perkembangan janin di dalam kandungan hingga saat dilahirkan bayi akan lebih berisiko mengalami masalah pertumbuhan. Pada penelitian ini ditemukan juga adanya ibu yang tidak kehamilan namun memiliki balita stunting dan ibu yang memiliki masalah gizi selama kehamilan namun memiliki balita Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. tidak stunting, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lain yang juga berperan terhadap terjadinya stunting, dimana saat ibu memiliki status gizi baik namun ditemukan faktor risiko stunting lainnya maka risiko terjadinya stunting masih dapat terjadi. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil bahwa kejadian stunting pada balita paling banyak ditemukan pda ibu yang berpendidikan rendah yaitu sebesar 66,7% dan balita tidak stunting paling banyak ditemukan pada ibu yang 57,4%. Pada hasil analisis, tingkat pendidikan terbukti memiliki hubungan . -value 0,. , nilai OR yang didapatkan adalah sebesar 2,696 (CI. 95%: 1,324-5,. artinya ibu yang berpendidikan rendah berisiko memiliki balita stunting 2,696 kali lebih besar dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan tinggi. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa tingkat pendidikan ibu terbukti sebagai salah satu faktor determinan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita dimana kejadian stunting pada balita lebih banyak ditemukan pada ibu dengan tingkat pendidikan rendah. Hal ini dapat Seseorang pendidikan tinggi memiliki potensi yang lebih baik untuk merawat tubuh mereka dan menjalani gaya hidup sehat. Selain itu, seorang ibu yang berpendidikan tinggi mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk mendapatkan pekerjaan dan kebutuhan gizi, fasilitas kesehatan, pendidikan, lingkungan dan pola asuh yang baik bagi anak akan terpenuhi. Pendidikan yang tinggi juga memberikan peluang lebih besar untuk menangkap pengetahuan di bidang gizi sehingga pengetahuan ini diterapkan menjadi pola Sebaliknya, orang tua dengan pendidikan Pada penelitian ini didapatkan juga adanya ibu yang berpendidikan rendah namun memiliki balita tidak stunting, hal tersebut dapat terjadi karena terjadinya stunting pada balita bukan hanya dipengaruhi oleh faktor dipengaruhi oleh faktor lain yang juga menjadi determinan terjadinya stunting pada balita. Hubungan Satus Ekonomi dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil bahwa kejadian stunting pada balita paling banyak ditemukan pada keluarga dengan status ekonomi rendah yaitu sebesar 57,4% dan balita tidak stunting paling banyak ditemukan pada keluarga dengan status ekonomi tinggi yaitu sebesar 61,3%. Pada hasil analisis didapatkan p-value 0,033. OR: 2,138 (CI. 95%: 1,324-5,. , artinya status ekonomi terbukti berhubungan dengan kejadian stunting pada balita dimana keluarga yang memiliki status ekonomi rendah berisiko 2,138 kali lebih besar memiliki balita stunting dibandingkan dengan keluarga dengan status ekonomi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni & Fitrayuna, . bahwa status ekonomi keluarga terbukti sebagai salah satu kejadian stunting pada balita. Balita yang pendapatan rendah berisiko mengalami stunting 2,4 kali lebih besar dibandingkan balita yang tinggal di keluarga dengan status ekonomi tinggi. Studi yang Aida, . membuktikan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya stunting di Indonesia Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa status ekonomi terbukti merupakan salah satu faktor determinan terjadinya stunting pada balita dimana proporsi kejadian stunting pada balita lebih banyak ditemukan pada keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini dapat terjadi karena status ekonomi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan makanan yang bergizi bagi Status ekonomi kurang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. dapat menggambarkan daya beli juga rendah sehingga kemampuan membeli bahan makanan yang baik juga rendah. Kualitas dan kuantitas makanan yang kurang menyebabkan kebutuhan zat gizi anak tidak terpenuhi sehingga balita dalam keluarga dengan status ekonomi rendah lebih berisiko mengalami stunting dibandingkan balita yang tinggal di dalam keluarga dengan status ekonomi tinggi. Pada penelitian ini ditemukan juga adanya balita yang tinggal bersama keluarga dengan status ekonomi rendah namun tidak mengalami stunting, hal tersebut dapat terjadi karena kecukupan gizi bagi balita bukan hanya karena faktor ekonomi, namun dapat juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti riwayat pemberian ASI dimana balita yang tinggal dalam keluarga dengan ekonomi rendah namun mendapatkan ASI eksklusif maka risiko stunting juga dapat menurun. Selain itu, tidak adanya faktor risiko stunting lainnya yang ada dalam keluarga balita juga akan mengalami stunting. Hubungan Berat Bayi Lahir dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil bahwa kejadian stunting paling banyak ditemukan pada balita BBLR yaitu sebesar 70,4%, sementara balita tidak stunting paling banyak ditemukan pada balita lahir normal yaitu sebesar 54,3%. Pada hasil analisis didapatkan p-value 0,034. OR: 2,818 (CI. 95%: 1,151-6,. , artinya terdapat hubungan antara berat bayi lahir dengan kejadian stunting pada balita, dimana balita dengan BBLR berisiko 2,818 kali lebih besar mengalami stunting dilahirkan dengan berat badan normal. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manggala et al. , . yang menunjukkan bahwa berat bayi lahir terbukti sebagai salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita dimana balita yang mengalami BBLR berisiko 7 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita tanpa riwayat BBLR. Penelitian Ruaida & Soumokil, . juga memperkuat temuan hasil penelitian ini dimana pada penelitiannya berat bayi lahir terbukti secara signifikan memengaruhi kejadian stunting pada balita. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa berat bayi lahir terbukti merupakan salah satu faktor determinan terhadap terjadinya stunting pada balita dimana proporsi kejadian stunting pada balita lebih banyak ditemukan pada balita dengan BBLR. Hal tersebut dapat terjadi karena bayi berat lahir rendah memiliki dibandingkan bayi berat lahir normal sehingga BBLR akan lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan infeksi dan juga masalah gangguan pertumbuhan. Bayi yang lahir BBLR sering kali mengalami kesulitan pertumbuhannya . nadequate catch up Risiko hambatan pertumbuhan akan semakin meningkat apabila kejadian kurang gizi pada masa janin diikuti dengan asupan makanan yang kurang Pada ditemukan juga adanya BBLR yang tidak mengalami stunting, hal tersebut dapat terjadi karena balita yang mengalami BBLR mendapatkan perhatian dalam asupan gizi yang cukup maka risiko gangguan tumbuh kembang anak akan menurun. Hubungan Jenis Kelamin Anak dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil bahwa sebagian besar kejadian stunting pada balita terjadi pada laki-laki yaitu 53,5%, dan balita tidak stunting paling banyak ditemukan pada jenis kelamin perempuan yaitu sebesar 54,3%. Pada hasil analisis, faktor jenis kelamin tidak terbukti secara signifikan berhubungan dengan kejadian stunting pada balita . value 0,. Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian Manggala et al. , . bahwa proporsi kejadian stunting pada balita lebih banyak ditemukan pada laki-laki namun secara statistik tidak terbukti adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian stunting pada balita. Studi lainnya juga menemukan bahwa baik laki-laki maupun perempuan relatih memiliki risiko yang sama terhadap Balita laki-laki Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. cenderung stunting pada tahun pertama, sedangkan perempuan pada tahun kedua (Siswati, 2. Hubungan Riwayat Pemberian ASI dengan Kejadian Stunting Pada Balita Hasil bahwa kejadian stunting pada balita paling banyak ditemukan pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif yaitu sebesar 59,2%, untuk balita tidak stunting sebagian besar mendapatkan ASI eksklusif yaitu sebesar 58,8%. Pada analisis didapatkan p-value 0,037. OR: 2,067 (CI. 95%: 1,092-3,. , artinya ada hubungan antara pemberian ASI dengan kejadian stunting pada balita, dimana balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berisiko 2,067 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang mendapatkan ASI Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Manggala et al. , . bahwa riwayat pemberian ASI terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita dimana balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 6 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif. Penelitian yang dilakukan Astuti. Nadya, et al. , . juga membuktikan adanya hubungan antara riwayat pemberian ASI dengan kejadian stunting dimana balita mengalami stunting dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif. Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa riwayat pemberian ASI terbukti sebagai salah satu faktor terjadinya stunting pada balita dimana proporsi kejadian stunting lebih banyak ditemukan pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Hal ini dapat terjadi karena asupan gizi yang dibutuhkan bayi baru lahir hingga usia 6 bulan akan terpenuhi melalui pemberian ASI secara eksklusif sehingga apabila balita tidak mendapatkan ASI eksklusif maka asupan gizi yang dibutuhkan balita kekurangan gizi bagi balita akan tinggi. Selain itu balita yang tidak mendapatkan ASI mengalami berbagai masalah kesehatan pertumbuhan balita yang dapat berakhir Pada penelitian ini ditemukan juga adanya balita yang mendapatkan ASI eksklusif namun mengalami stunting, hal ini mungkin karena adanya faktor risiko stunting lain pada balita seperti status ekonomi keluarga, jarak kehamilan, dan faktor lainnya yang dapat memengaruhi proses tumbuh kembang balita sehingga hal tersebut dapat menimbulkan risiko bagi balita untuk terjadi stunting. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita Faktor determinan yang paling stunting pada balita adalah status gizi ibu dimana ibu balita yang mengalami KEK (LILA <23,5 c. berisiko 7,5 kali lebih dibandingkan dengan ibu balita yang KEK. Probabilitas terjadinya stunting pada balita adalah sebesar 61,5% yaitu pada ibu yang memiliki LILA <23,5 cm, berusia <20 & >35 tahun, memiliki riwayat jarak kehamilan <2 tahun, dan pemberian ASI non eksklusif setelah di kontrol variabel tingkat pendidikan dan status ekonomi. Berdasarkan uraian hasil analisis multivariat di atas dapat dijelaskan bahwa ibu yang memiliki LILA <23,5 cm atau atau mengalami KEK merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi KEK menderita keadaan kekurangan kalori . berlangsung menahun . yang kesehatan pada ibu hamil (Simbolon et , 2. KEK merupakan salah satu masalah kurang gizi yang sering terjadi pada wanita hamil, yang disebabkan oleh kekurangan energi dalam jangka waktu yang cukup lama (A. Ernawati, 2. Bayi yang dilahirkan dari ibu yang mengalami KEK dapat mengakibatkan terjadinya gangguan tumbuh kembang, yaitu pertumbuhan fisik . , otak dan metabolism. Kondisi tersebut terjadi karena efek dari ibu KEK menimbulkan risiko asfiksia intra partum, lahir dengan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 229-237 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Faktor Determinan terjadinya StuntingA (Eka Fesliria. Samino. Fitri Ekasari, dk. berat badan lahir rendah (BBRL) dan masalah pada bayi lainnya yang akan perkembangan balita. SIMPULAN Variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita meliputi usia ibu, jarak kehamilan, status gizi ibu, tingkat pendidikan, status ekonomi, berat bayi lahir, dan riwayat pemberian ASI. Sementara jenis kelamin tidak terbukti berhubungan dengan kejadian stunting. Hasil menunjukkan bahwa variabel yang stunting yaitu status gizi ibu (OR: 7,. jarak kehamilan (OR: 5,. , usia ibu (OR: 2,. , dan riwayat pemberian ASI (OR: 2,. setelah dikontrol variabel tingkat pendidikan dan status ekonomi. Status gizi ibu merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi terjadinya SARAN Disarankan dimulai dari faktor status gizi ibu dengan cara memberikan edukasi pada ibu hamil tentang pentingnya makanan bergizi dan minum tablet tambah darah pada saat hamil, dan rajin memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain. DAFTAR PUSTAKA