p-ISSN: 2776-3919 | e-ISSN: 2776-2513 Terakreditasi Sinta 5 Vol. No. Oktober 2025, page 87Ai96 http://jurnal. fib-unmul. id/index. php/mebang/article/view/190 Bentuk dan Fungsi Gondang Buhun dalam Tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi The Form and Function of Gondang Buhun in Ngarempug Tradition in Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi Hernawan Prihatmojo. Prodi Etnomusikologi. Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Surakarta. Indonesia. Email: hernawan. pri@gmail. Orcid: https://orcid. org/0009-0003-9473-6851 Bondet Wrahatnala*. Prodi Etnomusikologi. Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Surakarta. Indonesia. Email: bondet@isi-ska. Orcid: https://orcid. org/0000-0003-1874-2638 Received: 16 May 2025 Accepted: 21 October 2025 Published: 31 Oktober 2025 Keywords: form, function, gondang buhun, tradisi ngarempug, kasepuhan gelaralam. Kata kunci: bentuk, fungsi, gondang buhun, tradisi ngarempug, kasepuhan gelaralam. Citation: Prihatmojo. , & Wrahatnala. Bentuk dan Fungsi Gondang Buhun dalam Tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik, 5. , 87-96. https://doi. org/10. 30872/mebang. Abstract: The Gondang Buhun art of Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam is an art in the tradition of the ngarempug This research aims to find out what the Gondang Buhun art is according to the Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam society. The Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam society is a group of people with a rice Data was obtained through direct observation and then interviews with figures who are considered credible and know about the art of Gondang Buhun. In addition, data is obtained through literature studies on gondang art and other related literature. Based on the results obtained, this study found the form and function of Gondang Buhun art in Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam related to life. Abstrak: Kesenian Gondang Buhun kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam merupakan kesenian yang berada pada tradisi prosesi ngarempug. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa itu kesenian Gondang Buhun menurut masyarakat kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. masyarakat Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam adalah kelompok masyarakat dengan budaya padi. data yang diperoleh melalui observasi secara langsung, kemudian wawancara dengan tokoh yang dianggap kredibel dan mengetahui tentang kesenian Gondang Buhun. selain itu data diperoleh melalui studi literatur tentang kesenian gondang dan literatur terkait lainnya. berdasarkan hasil yang didapat, penelitian ini menemukan adanya bentuk dan fungsi kesenian Gondang Buhun di kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam yang berkaitan dengan kehidupan. Copyright A 2025 the Author. Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik by Universitas Mulawarman Creative Commons License Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License Bentuk dan Fungsi Gondang Buhun dalam Tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi Pendahuluan Gondang merupakan kesenian yang tersebar luas di daerah pedesaan Jawa Barat (Emilda et al. Kesenian ini berawal dari tradisi masyarakat petani pedesaan menumbuk padi. Menurut (Rosyadi, 2. Kesenian tradisional gondang merupakan representasi dari sebuah tradisi yang hidup di kalangan masyarakat petani di daerah pedesaan Jawa Barat. Kesenian gondang bermula dari tradisi ritual nutu. Ritual nutu adalah ritual penumbukan padi . enggunakan halu dan lisun. yang sakral (Respati et al. Unsur kesenian ini diperkuat dengan dimasukkannya unsur nyanyian tradisional (Ibnu Hasan et , 2. Pada penampilan seni gondang sudah banyak berubah, unsur hiburan lebih menonjol sehingga seni gondang pun menjadi sebuah seni pertunjukan (Irma, 2. Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam merupakan masyarakat adat yang bersandar kepada budidaya padi (Sato et al. , 2017. Pratiwi & Juerges, 2. Budaya padi adalah sistem kepercayaan dan religi warga yang mempengaruhi kehidupan (Kusdiwango, 2. Berawal dari budaya padi. Kasepuhan Gelaralam memiliki kesenian dalam cara pengolahan padi yaitu Gondang Buhun. Gondang Buhun merupakan kesenian yang biasa dimainkan ketika tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Dijelaskan oleh Yoyo Yogasmana seorang jambatan Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam, tradisi ngarempug adalah sebuah prosesi sebelum melakukan hajat (Saputera, 2. Hajat merupakan sebuah upaya selebrasi atau perayaan serta ungkapan rasa syukur dengan ritus-ritus tertentu yang melekat dalam tradisinya (Khoiriyah & Tarsidi, 2023. Bambang, 2013. Khalid, 2. Dalam pelaksanaan tradisi ngarempug terdapat ritual, kesenian Gondang Buhun . enumbuk pad. , kemudian bergulat lumpur. Upacara tradisional merupakan kegiatan yang harus dilakukan pada suatu peristiwa yang dilakukan pada kegiatan tertentu yang mempunyai kaitan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan di luar kemampuan manusia atau yang biasa disebut dengan alam gaib (Dzofir, 2. Kesenian Gondang Buhun dianggap sakral karena berhubungan langsung dengan padi. Dalam pandangan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam padi bukan hanya sebagai bahan pangan, dalam padi ada berbagai mitos dan kepercayaan yang sangat kuat. Segala kegiatan yang berhubungan padi tidak bisa dilakukan secara asal. Masyarakat Kasepuhan Gelaralam memiliki istilah tentang padi yaitu "mupusti pare, lain migusti" yang berarti memuliakan padi bukan menuhankan (Muharam et al. Melalui wawancara dengan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi sebagai ketua Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam, dijelaskan gondang kasepuhan merupakan kesenian sakral yang sudah turuntemurun masih terjaga hingga sekarang. Kesenian gondang ini diwariskan olah satu garis keturunan dari leluhur hingga keturunan sekarang dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Berangkat dari penjelasan Abah Ugi mengenai Gondang Buhun Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam tersebut, maka muncul perbedaan pandangan dari tulisan sebelumnya yang menyatakan bahwa Gondang di masa sekarang sudah mulai hilang unsur sakralnya dan lebih menonjol pada unsur hiburannya. Pandangan inilah yang melatarbelakangi pentingnya penelitian ini dilakukan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk dan fungsi kesenian Gondang Buhun yang masih terjaga sakralitasnya pada kehidupan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Metode Bahan yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah kesenian Gondang pada tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengetahui bentuk kesenian Gondang Buhun dan fungsi Gondang Buhun menurut pemegang kebudayaan (Rusandi & Muhammad Rusli, 2. Penelitian ini menggunakan perspektif emik dengan melihat suatu fenomena dari dalam, dari sudut pandang orang-orang yang terlibat langsung di dalamnya (MaroAoatussofa & Kusumastuti, 2. Data yang diperoleh melalui beberapa cara seperti partisipasi secara langsung dalam tradisi Ngarempug dan wawancara dari berbagai pihak yang terlibat. Berbagai data dikumpulkan melalui beberapa teknik pengumpulan data. Data tersebut berupa data lisan melalui wawancara kepada warga pemegang kebudayaan kemudian melakukan observasi dan partisipasi pada kegiatan, dokumentasi, dan studi literatur. Hernawan Prihatmojo. Bondet Wrahatnala Pembahasan 1 Bentuk kesenian Gondang Buhun Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam Gondang Buhun Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam adalah kesenian yang dianggap sakral. Terdapat nyanyian-nyanyian yang di dalamnya terdapat arti tersendiri menurut masyarakat kasepuhan. Tidak setiap kegiatan menumbuk padi bisa disebut gondang buhun. Gondang Buhun dimainkan hanya pada acara tertentu yang menurut tatanan Kasepuhan mengharuskan tradisi ngarempug dahulu sebelum melakukan hajat. Dijelaskan oleh Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bahwa di kasepuhan hajat dimaknai dengan pengadaan sebuah acara besar yang akan berlangsung selama lebih dari satu hari. Acara yang biasa diawali dengan tradisi ngarempug adalah khitan, pernikahan, mipit . , seren taun, dan acara-acara besar lainnya. Gambar 1. Lisung kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam (Sumber: Hernawan, 2. Gondang Buhun menggunakan sebuah alat penumbuk padi tradisional sebagai instrumen musiknya (Fatimah, 2. Alat penumbuk padi yang dipakai sebagai instrumen ritmis. Dalam permainannya, alat penumbuk padi tersebut adalah lisung dan halu. Padi yang akan ditumbuk diletakkan di dalam lubang yang terdapat pada lisung. Kemudian akan pukul atau ditumbuk menggunakan ujung halu untuk melepaskan padi dengan kulitnya. Kedua alat yang saling bertabrakan dari pukulan halu ke arah lisung menimbulkan ketukan ritmis tertentu sesuai keinginan Dalam pelaksanaannya juga terdapat nyanyian-nyanyian yang dilantunkan oleh pimpinan kesenian Gondang Buhun. Gambar 2. Gondang Buhun prosesi ngarempug (Sumber: Hernawan, 2. Anggota pemain kesenian gondang buhun di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam terdiri dari satu garis keturunan keluarga. Tugas sebagai pimpinan kesenian gondang buhun selalu diturunkan kepada keturunan berikutnya yang ditunjuk. Umumnya anggota yang melakukan gondang buhun adalah dari perempuan. Busana yang dikenakan Bentuk dan Fungsi Gondang Buhun dalam Tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi oleh pemain biasanya menggunakan kebaya hitam dan kain sinjang. Pemimpin kesenian gondang buhun biasanya akan mengenakan kain putih yang dinamakan karembong yang dipakai menutup area dada. Secara kompositoris, bentuk dan pola lagu dalam gondang buhun sangat sederhana, karena instrumentasi yang digunakan adalah lisung. Tidak banyak ornamentasi nada dan aransemen yang dikembangkan oleh masyarakat, karena ini semua terkait dengan warisan dari leluhur. Kesenian gondang buhun di kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam biasanya dimulai dengan bunyi-bunyian keras seperti pukulan keras halu ke lisung sebagai penanda dimulainya acara. Dalam permainan gondang buhun ada sebuah pola permainan tertentu ketika menyanyikan sebuah lagu pokok. Pola tersebut adalah sebuah pola permainan memukul lisung secara bersamaan. Ketika awal permainan akan menyanyikan tiga lagu pokok, yang ketiga lagu tersebut dimainkan dengan pola Pola permainan ini disebut pola ambrug oleh para pemain kesenian Gondang Buhun. Pola ambrug dilakukan secara bersama-sama namun jika didengarkan pukulan setiap orang tidak secara bersamaan antara satu dengan yang Karena itu, suara yang ditimbulkan dari pola tersebut terkesan lebih panjang. Berikut pola ritme tabuhan Notasi 1. Notasi ritmis ambrug (Sumber: Hernawan, 2. Ada tiga lagu pokok dalam permainan kesenian gondang buhun di Kasepuhan Gelaralam. Ketiga lagu tersebut selalu dinyanyikan di bagian awal gondang buhun dan dimainkan dengan pola ambrug. Selain lagu tersebut biasanya akan diisi dengan nyanyian-nyanyian bebas bisa berupa pantun sindiran ataupun lagu lain tetapi pola permainan ritmisnya bebas sesuai keinginan dari para pemainnya. Ketiga lagu yang menjadi pokok adalah Kembang Beureum (Kembang mar. Sireum Beureum, dan Ngala Hoe. Lagu-lagu tersebut dimainkan secara urut dari Kembang Beureum (Kembang mar. Sireum Beureum, dan Ngala Hoe pada bagian awal permainan Gondang Buhun. Setelah lagu tersebut biasanya akan dinyanyikan lagu bebas, namun ada kemungkinan dari pemimpin gondang buhun akan menyanyikan kembali lagu pokok tersebut. Tabel 1. Repertoar kesenian Gondang Buhun di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam Judul Lirik Kembang Beureum Kembang naon nu bareureum Kemang mara mamak mawurmawur Duh silir keun, duh angin keun Angin keun kabeubeureuhna Dina cai cai muntir dina jojodog Ngadago dina jangkar kaedanan Aeh akang aeh akang aeh akang Sireum Beureum Sireum beureum panyeureudan Tataman pindah kajalan-jalan Beubeureuh geura deukeutan Ambeh beak panasaran Ngala Hoe Ngala hoe di golongan Digantaran komo naek Unggal poe dilohongan Dilantaran komo daek Arti secara harfiah Lagu ini menggambarkan seorang laki-laki yang menyukai seorang Laki-laki sangat menyukai perempuan tersebut sampai tergila-gila. Pada lagu ini, perempuan digambarkan sebagai Kembang Beureum yang sedang pergi. Kemudian sang laki-laki meminta tolong agar perempuan tersebut pulang dan kembali kepadanya. Karena sang laki-laki tersebut sangat mencintai perempuan itu, ia pun menunggu kedatangannya dengan penuh kerinduan setelah Secara sederhana, lirik lagu ini menggambarkan perasaan mendalam seorang laki-laki yang begitu tergila-gila pada perempuan yang dicintainya. Sireum Beureum sebenarnya sebuah pantun yang dinyanyikan. Nyanyian ini bisa disebut sebagai pantun karena memiliki kalimat yang Dalam salah satu bait bisa diartikan sebagai permintaan seorang laki-laki kepada kekasihnya untuk segera mendekatinya. Sireum Beureum ini terdiri dari empat kalimat dengan berima-an pada akhir kalimatnya. Pada syairnya terdapat kata beubeureuh jika dalam bahasa Indonesia berarti kekasih. Menurut penjelasan dari rorokan tetabehan Aki Dai, juga menyebutkan bahwa Sireum Beureum merupakan sebuah pantun seorang laki-laki kepada kekasihnya, yang meminta kekasihnya untuk mendekatinya. Ngala Hoe juga merupakan sebuah pantunan dari laki-laki kepada seorang perempuan. Kalimat yang ada pada lagu ini berima dan terdiri dari empat sajak. Pantun ini menggambarkan seorang laki-laki yang selalu mengamati perempuan karena dia menyukainya. Ngala Hoe memiliki Hernawan Prihatmojo. Bondet Wrahatnala empat sajak yang berima -an dan -ek di dalamnya. Pada kalimat unggal poe dilohongan, dilantaran komo daek merupakan kalimat yang menjelaskan bahwa ini merupakan sebuah pantunan seorang laki-laki kepada perempuan. Jika diartikan maka pantun ini berisi tentang seseorang laki-laki selalu memperhatikan seorang perempuan karena dia sangat menyukai perempuan tersebut. Ia melihatnya setiap hari karena menyukainya. Untuk notasi lagu dapat dicontohkan dalam lagu Ngala hoe berikut ini. Notasi 2. Notasi dari salah satu lagu (Ngala Ho. (Sumber: Hernawan, 2. Ketiga lagu dinyanyikan dengan nada dan pola ritmis yang sama. Hal ini dikarenakan masyarakat meyakini bahwa lagu-lagu tersebut sudah menjadi warisan leluhur. Yoyo Yogasmana mengatakan bahwa apa yang menjadi warisan leluhur tidak boleh diubah karena bagi masyarakat kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam, sekarang hanya meneruskan dan tidak ingin mengubah karena sudah pemberian dari leluhur. Artinya secara kompositoris, bentuk, pola dan lagu yang ada relatif tetap dan tidak mengalami perubahan dari awal hingga saat ini. Fungsi Kesenian Gondang Buhun di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam Budaya lokal telah banyak mempengaruhi pola pikir, sikap, perilaku dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Darmayasa & Suartaya, 2. Termasuk budaya lokal di masyarakat Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam di Sukabumi. Gondang Buhun merupakan sebuah kesenian yang terdapat pada sebuah prosesi tradisi di kasepuhan. Kesenian ini dapat ditemui pada acara tertentu di kasepuhan yang mengharuskan adanya tradisi ngarempug sebelum memulai sebuah acara hajat. Melalui wawancara dengan Abah Ugi sebagai Ketua Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam, dijelaskan Gondang merupakan sebuah kesenian sakral yang sudah turun-temurun di Kasepuhan. Kesenian ini merupakan sebuah pembuka untuk dimulainya sebuah acara berlangsung selama dua hari atau lebih seperti hajat. Gondang menjadi sakral karena dianggap sebagai izin untuk menggunakan padi untuk kepentingan acara hajat. Sebelum memulai acara hajat seperti mipit, khitan, pernikahan dan acara besar lain akan diawali dengan Gondang Buhun. Kesakralan Gondang Buhun berhubungan dengan penggunaan padi, karena kepercayaan yang kuat masyarakat Gelaralam terhadap padi. Dengan Gondang Buhun ini sebenarnya juga sebagai perantara meminta izin untuk menggunakan padi pada acara agar leluhur tidak murka dan tidak mendapat musibah. Dari penjelasan Abah Ugi terlihat bahwa kesenian Gondang Buhun di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam masih sangat terjaga kesakralannya. Bentuk dan Fungsi Gondang Buhun dalam Tradisi Ngarempug di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Sukabumi Gambar 3. Gulat lumpur prosesi tradisi ngarempug (Sumber: Hernawan, 2. Gondang sebenarnya adalah sebuah perantara meminta izin kepada Dewi Sri untuk mengadakan sebuah acara dan akan menggunakan padi untuk acara besar tersebut. Selain meminta izin untuk menggunakan padi, gondang juga sebagai perantara untuk meminta kelancaran sebuah acara yang akan dilakukan dan terhindar dari bala. Gondang juga menjadi sebuah sarana hiburan untuk Dewi Sri. Gondang menjadi sebuah perantara dari masyarakat Ciptagelar/Gelaralam untuk berkomunikasi meminta izin kepada leluhur dan Dewi Sri. Selain itu dijelaskan bahwa bunyi tersebut menjadi penanda kepada makhluk tidak terlihat untuk tidak mendekat dan mengganggu acara. Suara yang ditimbulkan karena Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam berada di dataran gunung Halimun sehingga suaranya akan terdengar sampai jauh, dan menjadikan orang yang bahkan berada jauh akan mengetahui sedang ada acara yang berlangsung. Dari penjelasan rorokan tetabuhan . rang yang memegang jabatan sen. yakni Aki Dai, bahwa suara keras bisa menembus alam lain yang tidak bisa kita lihat, sehingga suara ini juga menjadi pemberitahuan kepada makhluk alam lain untuk tidak mendekat. Ketika kesenian ini akan berlangsung, akan ada bunyi-bunyian keras yang dikeluarkan sebagai pemberitahuan kepada semua yang ada di seluruh alam sekitar bahwa ada kesenian lisung yang akan dilaksanakan. Dari aspek pertunjukan, pola ambrug merepresentasikan bentuk pemikiran kolektif para pemain kesenian Gondang Buhun di Kasepuhan Ciptagelar atau Gelar Alam. Para pemain diharapkan mampu menjaga kekompakan dalam setiap pukulan, serta tetap berpegang pada keyakinan dan pandangan hidup yang berlandaskan pada sosok Nyi Pohaci (Dewi Sr. Bagi mereka. Dewi Sri dipahami sebagai pemberi kehidupan, yang salah satu manifestasinya diwujudkan melalui padi yang sedang ditumbuk. Gondang buhun juga dipersepsikan sebagai bentuk hiburan bagi Dewi Sri. saat pertunjukan berlangsung, para pemain seolah sedang menimang sang Dewi. Dalam konteks pemaknaan lagu, unsur laki-laki dan perempuan kerap dihadirkan sebagai simbol asal mula kehidupan. Dari penyatuan keduanya lahirlah kehidupan baru, yang sejalan dengan kepercayaan bahwa Dewi Sri merupakan sumber dan penjaga kehidupan. Dari sekian penjelasan dan pemaknaan yang muncul, sesuatu yang terdapat pada Gondang tidak lepas dari penjelasan laki-laki dan perempuan. Alat atau instrumen yang digunakan dimaknai sebagai laki-laki dan perempuan. Juga pada nyanyian pokok tidak lepas dengan laki-laki dan perempuan. Lisung di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam dimaknai sebagai seorang perempuan karena memiliki lubang, dan Alu dimaknai sebagai laki-laki karena berbentuk Lirik pada nyanyian pokok juga isinya sebuah ungkapan laki-laki kepada seorang perempuan. Pemaknaannya juga tidak lepas dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan pada kesenian Gondang ini sangat ditonjolkan baik dari alat, nyanyian, hingga pemaknaan masyarakat kasepuhan tentang apa yang ada di dalamnya. Hal ini ternyata tidak lepas dengan sebuah konsep kehidupan yang ada di Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam. Konsep ini sering kali digunakan dan muncul pada setiap kegiatan yang berlangsung di Kasepuhan. Dari mereka bertani hingga melangsungkan kehidupan tidak akan lepas dengan konsep ini. Konsep yang ada tersebut adalah Sakuren muncul pada setiap kegiatan masyarakat Kasepuhan. Dari cara mereka bercocok tanam hingga melangsungkan kehidupan mereka untuk kedepannya. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam memegang sebuah konsep yang bernama sakuren ini untuk melangsungkan kehidupan mereka. Sakuren merupakan konsep untuk menyatukan sesuatu untuk keberlangsungan kehidupan. Dalam pemahaman mereka, sakuren adalah sebuah konsep perkawinan. Sehingga dari proses perkawinan tersebut akan Hernawan Prihatmojo. Bondet Wrahatnala menciptakan kehidupan baru. Dijelaskan oleh Abah Ugi mengenai sakuren mengacu kepada dua kehidupan yang dikawinkan . Perkawinan tersebut dilakukan untuk melahirkan sebuah kehidupan. Juga dijelaskan bahwa sakuren adalah sepasang, kehidupan kita selalu sepasang ada ayah-ibu, kanan-kiri, siang-malam dan lain Sakuren adalah sebuah konsep perkawinan antara dua hal yang berbeda menjadi sebuah satu kesatuan untuk menciptakan kehidupan yang seimbang. Melalui disertasinya, (Kusdiwango, 2. sakuren adalah pasangan. Dalam berkehidupan masyarakat Ciptagelar/Gelaralam warga yang belum menikah tidak boleh atau belum boleh melakukan ritual yang berhubungan dengan bertani. Tahapan kehidupan warga Ciptagelar/Gelaralam adalah menikah dan bertani. Pada hal ini menjelaskan sakuren merupakan sebuah proses kehidupan yang berpasangan untuk menciptakan sebuah Di luar Kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam ada juga konsep yang sama dengan sakuren yaitu konsep Agama hindu yaitu Lingga yoni. Lingga yoni dijelaskan adalah manifestasi dari dewa Siwa . aki-lak. dan dewi Parwati . Tidak hanya mengenai kesuburan, namun juga tentang makna mengenai keseimbangan. (Suhardi, 2. menjelaskan pemujaan Lingga yoni merupakan sebuah pemujaan kuno yang menggambarkan adanya sebuah lambang yang menggambarkan tentang sebuah kesuburan dan kesejahteraan (Sunoto, 2. Dijelaskan lagi bahwa ada makna keseimbangan di dalamnya yang diwujudkan melalui upacara yang menunjukkan kecintaan kita dengan alam lingkungan dan mahluk bawahan lainnya yang diwujudkan melalui berbagai prosesi ritual untuk para leluhur. Kedua konsep tersebut mungkin terlihat sama dengan pemahaman masyarakat Kasepuhan. Dari kedua konsep tersebut muncul kesamaan yang terdapat di dalamnya, dari pemahaman kehidupan laki-laki dan perempuan kemudian adanya keseimbangan yang muncul dengan konsep tersebut. Konsep sebenarnya juga berhubungan dengan sosok Dewi Sri yang merupakan dewi kesuburan (Jurriyns, 2. Penutup Kesenian Gondang Buhun ngarempug kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam adalah kesenian yang berada pada sebuah tradisi. Tradisi ngarempug merupakan sebuah prosesi yang dilakukan sebagai syarat di kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam untuk mengadakan sebuah acara hajat. Pemaknaan hajat dari masyarakat kasepuhan adalah sebuah acara besar yang dilakukan selama lebih dari satu hari. Prosesi ngarempug terdiri dari beberapa rangkaian acara, diawali dengan ritual dan doa untuk alat-alat yang akan digunakan untuk kesenian Gondang Buhun. Kemudian dilanjutkan dengan kesenian Gondang Buhun dengan tiga lagu pokok yang dinyanyikan dengan pola permainan Kemudian ada prosesi gulat lumpur antar warga di area sekitar dilaksanakannya kesenian Gondang Buhun. Bentuk kesenian Gondang Buhun terdiri dari pakaian yang dikenakan antar pemain. Penggunaan kebaya dan sinjang menjadi busana wajib yang dikenakan anggota dan untuk pimpinan kesenian menggunakan kain putih yang dililitkan di area dada. Dari segi permainan ada satu pola yang digunakan untuk lagu pokok yang dinyanyikan. Pola permainan tersebut dinamakan ambrug oleh warga kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam, yaitu pola pukulan halu ke lisung dengan bersama-sama antara pemain kesenian Gondang Buhun. Kemudian ada tiga lagu pokok yang dinyanyikan secara berurutan yaitu Kembang Beureum . embang mar. Sireum Beureum, dan Ngala Hoe. Kesenian Gondang Buhun kasepuhan Ciptagelar/Gelaralam berfungsi sebagai sarana berkomunikasi dengan para leluhur. Selain itu menjadi sarana meminta izin kepada Dewi Sri untuk menggunakan beras dalam acara besar. Kesenian ini menjadi sarana untuk meminta kelancaran dan terhindar dari masalah-masalah yang dapat mengganggu acara hajat yang akan diadakan. Gondang Buhun juga menjadi sarana komunikasi dengan masyarakat sekitaran pegunungan Halimun-Salak, karena lokasi yang berada di pegunungan dan lembah suara yang dihasilkan oleh gondang seringkali terdengar sangat jauh dan hal tersebut menjadi penanda bahwa adanya acara hajat di daerah Daftar Pustaka