PENELITIAN ASLI HUBUNGAN KEPATUHAN KEBERSIHAN TANGAN DAN APD PERAWAT TERHADAP INFEKSI NOSOKOMIAL PHLEBITIS DI RS X GRESIK Imaya Dhama Yanti1. Zufra Inayah1 Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Muhammadiyah Gresik. Gresik. Jawa Timur, 61111. Indonesia Info Artikel Abstrak Riwayat Artikel: Latar belakang: Pada tahun 2022Ae2024. Tim PPI di Tanggal Dikirim: 01 Juni 2025 Rumah Sakit X Gresik Utara mencatat 327 kasus Tanggal Diterima: 05 Juli 2025 infeksi nosokomial, termasuk peningkatan phlebitis Tanggal Dipublish: 07 Juli 2025 dari 1,15% . , 0,82% . , menjadi 1,3% . Meski pencegahan infeksi menjadi indikator Kata kunci: Kepatuhan Klinis SPM rumah sakit, sebagian tenaga kesehatan belum Perawat. Nosokomial Phlebitis. sepenuhnya menerapkannya. Kebersihan Tangan Terintegrasi Tujuan: Mengetahui hubungan antara kepatuhan kebersihan tangan dan penggunaan APD perawat terhadap kejadian infeksi nosokomial Phlebitis di Rumah Sakit X Wilayah Gresik Utara. Penulis Korespondensi: Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain crossImaya Dhama Yanti sectional pada 83 perawat di RS X Gresik Utara. Email: imayadhamayanti05@gmail. menggunakan kuesioner valid, observasi SOP, dan data Phlebitis 2022-2024. Analisis menggunakan uji contingency coefficient. Hasil: Terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan kebersihan tangan dengan kejadian Phlebitis . = 0,000. C = 0,. , namun tidak terdapat hubungan signifikan antara kepatuhan penggunaan APD dengan Phlebitis . = 0,184. C = 0,. Simpulan: Kepatuhan kebersihan tangan berhubungan signifikan dengan Phlebitis. Edukasi rutin dan pelatihan kepada perawat penting untuk meningkatkan kepatuhan. Temuan ini dapat menjadi dasar program pengabdian masyarakat dalam pencegahan infeksi di fasilitas layanan Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat e-ISSN: 2527-8185 Vol. 10 No. 1 Juni 2025 (Hal 24-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JMKM DOI: https://doi. org/10. 51544/jmkm. How To Cite: Yanti. Imaya Dhama, and Zufra Inayah. AuHubungan Kepatuhan Kebersihan Tangan Dan APD Perawat Terhadap Infeksi Nosokomial Phlebitis Di RS X Gresik. Ay Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat 10 . : 24Ae https://doi. org/https://doi. org/10. 51544/jmkm. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Kesehatan Masyarakat Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Rumah sakit dikenal sebagai sarana penyedia berbagai layanan kesehatan terhadap individu meliputi promotif, preventif, pengobatan, dan rehabilitasi. Rumah sakit juga menyediakan fasilitas yang mencakup layanan gawat darurat, rawat jalan, serta rawat inap. Rumah sakit ini terletak di Utara Gresik di pesisir utara Pulau Jawa. Wilayah ini datar hingga sedikit bergelombang dan berbatasan langsung dengan pertanian dan permukiman. Rumah Sakit X di Wilayah Gresik Utara terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatannya dengan mencegah dan mengendalikan infeksi nosokomial dengan tujuan untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan pemerintah . Fasilitas kesehatan dengan infeksi nosokomial yang sering terjadi ada 4 jenis meliputi Infeksi Saluran Kemih (ISK). Infeksi Aliran Darah (IAD). Pneumonia terkait ventilator (VAP), serta Infeksi Daerah Operasi (IDO). Jenis-jenis infeksi ini sering ditemui oleh pasien saat melakukan perawatan di rumah sakit menjadi salah satu penyebab masalah utama . Phlebitis adalah salah satu akibat infeksi aliran darah yang paling umum . Phlebitis ialah penyakit infeksi (HAI) yang sering terjadi di rumah sakit. Pasien yang terkena Phlebitis mengalami gejala infeksi karena peradangan pada lapisan pembuluh Gejalanya termasuk rasa sakit sepanjang vena di daerah tusukan, kemerahan, bengkak, dan panas setelah 72 jam dirawat di rumah sakit . Menurut data dari WHO, sekitar 9% pasien rawat inap di seluruh dunia atau lebih dari 1,4 juta pasien mengalami infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial di wilayah Asia Tenggara dapat mencapai hingga 10%, selain itu WHO juga melakukan penelitian di kawasan Eropa. Timur Tengah. Asia Tenggara, dan Pasifik Barat yang melibatkan 24 Negara dengan 55 rumah sakit menyatakan infeksi nosokomial sebanyak 8,7%. Data tersebut menggambarkan tingginya kejadian infeksi nosokomial secara global, dengan variasi antar kawasan yang menunjukkan beban yang cukup signifikan pada sistem pelayanan kesehatan . Prevalensi infeksi HAIs di negara maju antara 3,5% hingga 12%, sedangkan rata-rata Indonesia yang menjadi negara berkembang dengan prevalensi 9,1%, sehingga dapat disimpulkan kejadian tersebut lebih tinggi pada negara berkembang daripada negara maju . Berdasarkan survei yang dilakukan pada 10 Rumah Sakit Umum Pendidikan di Indonesia, diperoleh angka rata-rata pasien yang mengalami infeksi nosokomial cukup tinggi, yaitu sebesar 9,8%. Hal ini menunjukkan bahwa hampir satu dari sepuluh pasien rawat inap di rumah sakit tersebut terinfeksi selama masa perawatan, menandakan perlunya peningkatan upaya pencegahan infeksi di fasilitas kesehatan Laporan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengenai peningkatan komplikasi Phlebitis dapat disebabkan oleh transfusi darah, jenis kateter, peralatan tambahan di tempat infus, ukuran kateter, cairan infus yang hipertonik, manipulasi terlalu sering pada kanula serta prinsip yang aseptik terabaikan. Kejadian Phlebitis merupakan infeksi yang ditemukan pada pasien selama menjalani perawatan di rumah sakit menjadi urutan keempat sebagai infeksi dengan angka kejadian setiap tahun sebesar 10% . Kejadian Phlebitis di Wilayah Asia masih belum terdapat data yang pasti mengenai kerjadian komplikasi Phlebitis yang ditemukan. Kasus Phlebitis di Indonesia pada tahun 2010, hampir semua pasien rawat inap dengan kasus Phlebitis setiap tahunnya sebesar 17,11% . Di salah satu Rumah Sakit X di Wilayah Gresik Utara dari tahun 2022 hingga 2024. Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) mengumpulkan data yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah kasus phlebitis. Jumlahnya meningkat menjadi 115 kasus . ,15%) pada tahun 2022, turun menjadi 82 kasus . ,82%) pada tahun 2023, dan kembali meningkat menjadi 130 kasus . ,3%) pada tahun 2024. Dalam Standar Pelayanan Minimum Rumah Sakit (SPM), infeksi nosokomial dan upaya pencegahannya adalah Namun, masih ada pekerja kesehatan yang belum sepenuhnya menerapkan protokol pencegahan infeksi di rumah sakit. Kasus infeksi nosokomial tercatat sebanyak 327 dalam tiga tahun, atau 3,27% dari total kasus. ini melampaui batas standar nasional . idak lebih dari 1,5%) yang ditetapkan oleh undang-undang Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit (PP Nomor 129 Tahun 2. Pola fluktuatif ini menunjukkan bahwa infeksi nosokomial, terutama phlebitis, masih belum benar-benar terkendali. Tenaga kesehatan harus mematuhi standar kebersihan tangan dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan benar untuk melakukan pencegahan yang efektif. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan mengenai hubungan antara kepatuhan dan kasus infeksi nosokomial, diperlukan argumen yang kuat tentang kemodernan metode, lokasi khusus di Gresik Utara, dan kondisi rumah sakit dengan angka kejadian yang melebihi standar nasional. Perbandingan lokal dan nasional juga diperlukan untuk menunjukkan bahwa kasus ini sangat penting untuk diteliti. Terutama berlaku untuk mengevaluasi seberapa efektif kebijakan PPI dan implementasi SPM di fasilitas layanan Studi ini meneliti hubungan antara kepatuhan perawat terhadap hygiene tangan, penggunaan APD, dan jumlah infeksi phlebitis nosokomial yang terjadi di Rumah Sakit X di wilayah Gresik Utara. Karena mereka adalah tenaga medis yang paling sering kontak langsung dengan pasien, perawat sangat penting untuk mencegah infeksi terkait perawatan, termasuk phlebitis. Kerangka teori Florence Nightingale tentang lingkungan sehat digunakan dalam penelitian ini, yang menyatakan bahwa perilaku higienis tenaga kesehatan dan lingkungan bersih sangat penting untuk proses penyembuhan pasien dan pencegahan infeksi. Selain itu, penelitian ini mengacu pada Health Belief Model (HBM), yang menjelaskan bahwa persepsi individu terhadap ancaman penyakit dan keyakinan mereka tentang efektivitas tindakan pencegahan memengaruhi kepatuhan mereka terhadap tindakan pencegahan kesehatan seperti kebersihan tangan dan penggunaan (APD) . Hasil penelitian diharapkan membantu menggambarkan mengenai sebab akibat dari hubungan antara tingkat kepatuhan perawat dan insiden Phlebitis. Para perawat juga akan membantu rumah sakit mengevaluasi cara perawat meningkatkan layanan dan mencegah infeksi. Selain itu, temuan ini dapat digunakan untuk meningkatkan keselamatan pasien, khususnya di ruang gawat darurat yang berisiko tinggi. Metode Penelitian dengan jenis kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional deskriptif analitik, adalah untuk menggambarkan kondisi lapangan tanpa intervensi kepada Studi kasus ini dilakukan di Rumah Sakit X Wilayah Gresik Utara. Menurut beberapa penelitian. Peneliti menggunakan analisis kuantitatif ini melibatkan pengumpulan data empiris, pengujian stastistik data, dan data dianalisis secara sistematis . Keseluruhan variabel dalam penelitian ini berjumlah 3, terdiri dari 2 variabel bebas (X1: kepatuhankkebersihan tangan dan X2: penggunaan alat pelindung dir. serta 1 variabel terikat (Y1: infeksi nosokomial Phlebiti. Populasi penelitian ini sejumlah 105 perawat yang bekerja di ruangan. Berdasarkan perhitunganhmenggunakan rumus Slovin diperoleh jumlah sampelhsebanyak 83 responden yang berlokasi di Rumah Sakit X Wilayah Gresik Utara. Tingkat kesalahan dalam rumus Slovin adalah . =0,. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple random sampling. Instrumen penelitian ini untuk berupa kuesioner yang telah teruji validitas dan reliabilitas, pedoman observasi seperti lembar Standar Operasional Prosedur (SPO) kepatuhan dalam pelaksanaan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Kebersihan Tangan, serta lembar observasi data Phlebitis dari tahun 2022 hingga 2024. Validitas instrumen dievaluasi dengan metode korelasi Pearson Product Moment. Metode ini menunjukkan bahwa butir soal valid jika r hitung lebih besar dari r tabel. Metode Cronbach's Alpha digunakan untuk mengevaluasi reliabilitas. hasil yang memiliki nilai alfa setidaknya 0,70 dianggap sebagai reliabel. Selain itu, untuk mengetahui apakah data memiliki distribusi normal, uji Kolmogorov-Smirnov atau Shapiro-Wilk digunakan untuk menguji normalitas. Hasil uji normalitas menentukan jenis uji statistik mana yang digunakan untuk menganalisis data: parametrik jika data memiliki distribusi normal dan nonparametrik, seperti persegi panjang, jika data tidak memiliki distribusi normal. Hasil 1 Analisis Data Univariat Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin Variabel Usia 31 - 45 Tahun 21 - 30 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber . Data Primer 2025 Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan bahwa variabel usia dari keseluruhan petugas yang berjumlah 83, hampir setengahnya 46 pekerja dengan presentase . ,6%) perawat berusia diantara 21 sampai dengan 30 Tahun. Jenis kelamin responden petugas perawat mayoritas adalah Perempuan yaitu sebagian besar 58 . ,9%). Sedangkan jumlah jenis kelamin laki Ae laki sebagian kecil 25 . ,1%). Tabel 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja dan Pendidikan Terakhir Variabel Lama Bekerja <5 Tahun >5 Tahun Total Pendidikan Terkahir Ners Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber . Data Primer 2025 Berdasarkan Tabel 2, menunjukkan bahwa variabel lama kerja diketahui bahwa lama kerja perawat kurang dari 5 tahun hamper setengahnya sebanyak 43 . ,8%) dan diketahui bahwa dari 83 perawat, sebagian besar 53 . ,9%) perawat berpendidikan Profesi Ners. Tabel 3 Karakteristik Phlebitis Pasien Variabel Frekuensi . Persentase (%) Total Kemerahan area penusukan Nyeri area penusukkan Bengkak area Penusukkan Pengerasan area Penusukkan Nyeri sepanjang vena Kesimpulan Terinfeksi Tidak Terinfeksi Total Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Total Usia Sumber . Data Primer 2025 Hasil data distribusi dengan karakteristik yang ditunjukkan pada tabel 3 di atas menunjukkan bahwa dari 83 pasien, 38 mengalami Phlebitis . ,8%), dan sebagian besar pasien tidak menunjukkan tanda-tanda Phlebitis, dengan jumlah 45 . ,2%). Ini menunjukkan bahwa hampir setengah pasien mengalami infeksi Phlebitis. 2 Analisis Data Bivariat Tabel 4 Hubungan Kepatuhan Perawat Terhadap Kebersihan Tangan Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial Phlebitis (Patu. Tidak (Tidak Patu. Total Kepatuhan Kebersihan Tangan Tidak Terinfeksi Total Terinfeksi p-value 0,000 Sumber . Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat menunjukkan bahwa sebanyak 43 petugas patuh . %), dimana yang mengalami infeksi Phlebitis sebanyak orang 8 orang . ,1%) dan yang tidak mengalami infeksi Phlebitis sebanyak 32 orang . ,1%). Sedangkan 40 petugas tidak patuh . %), dimana yang mengalami infeksi Phlebitis 30 orang . ,9%) dan yang tidak mengalami infeksi Phlebitis 13 orang . ,9%). Dari hasil uji statistik Variabel Kepatuhan Kebersihan Tangan (X. dengan Infeksi Nosokomial Phlebitis (Y. di peroleh nilai p Ae value . < 0,. dan nilai C (Coefisien Contingens. = 0,447 terdapat hubungan yang signifikan artinya H1 diterima dan H0 ditolak maka hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Kepatuhan Kebersihan Tangan Perawat dengan kejadian infeksi nosokomial Phlebitis pada pasien di Rumah Sakit X Wilayah Gresik Utara. Responden yang tidak patuh memiliki risiko infeksi lebih tinggi, sedangkan kepatuhan berperan dalam menurunkan risiko terinfeksi. Tabel 5 Hubungan Kepatuhan Perawat Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial Phlebitis (Patu. Tidak (Tidak Patu. Total Kepatuhan Penggunaan Pelindung Diri Tidak Terinfeksi Total Terinfeksi p-value 0,184 Sumber . Data Primer 2025 Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat menunjukkan bahwa sebanyak 48 petugas patuh . %), dimana yang mengalami infeksi Phlebitis sebanyak 19 orang . ,6%) dan yang tidak mengalami infeksi Phlebitis sebanyak 29 orang . ,4%). Sedangkan 35 petugas tidak patuh . %), dimana yang mengalami infeksi Phlebitis 19 orang . ,3%) dan yang tidak mengalami infeksi Phlebitis 16 orang . ,7%). Dari hasil uji statistik Variabel Kepatuhan Kebersihan Tangan (X. dengan Infeksi Nosokomial Phlebitis (Y. di peroleh nilai p Ae value . < 0,. dan nilai C (Coefisien Contingens. = 0,144 terdapat hubungan yang signifikan artinya H0 diterima dan H1 ditolak maka hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri Perawat dengan kejadian infeksi nosokomial Phlebitis pada pasien di Rumah Sakit X Wilayah Gresik Utara. Pembahasan Analisis korelasi dilakukanmdengan memanfaatkan koefisienhkontingensi (C), karena data yang digunakan dalambpenelitian ini berskala nominal. Dalambninterpretasinya, semakin mendekatihnilai C terhadap Cmaks, makagsemakin kuat pula hubungan antara variabel independen danhvariabel dependen . Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai Cmaks sebesar 0,70. Dalam analisis ini dihitung juga nilai C max, yang diperoleh dengan cara : ue Untuk variabel Kepatuhan Kebersihan Tangan, selisih Cmaks dengan C sebesar 0,70/0,447 = 0,632 ue Untuk variabel Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri. Cmaks dengan C sebesar 0,70/0,144 = 0,204 Hasil interpretasi nilai koefisien kontingensi (C) dan nilai maksimum koefisien kontingensi (Cmak. menunjukkan bahwa semakin mendekati nilai C terhadap Cmaks, makakksemakin kuat pula hubungan antara variabelnnindependen dengan variabel dependen . Dengan kata lain, nilai C yang dekat dengan Cmaks menandakan keeratan hubungan yang lebih besar antara kedua variabel tersebut dalam data nominal yang dianalisis. Berdasarkan interpretasi korelasi menggunakan koefisien kontingensi, dapat disimpulkan bahwa semakin kecil selisih antara nilai Cmaks dan nilai C, maka semakin kuat pula hubungan antara variabelhindependen dengan variabelkdependen. Sehingga dari hasilmanalisis, variabel Kepatuhan Kebersihan Tangan (C=0,. memiliki keeratan hubungan yang cukup dengan munculnya kejadian infeksi nosokomial Phlebitis pada pasien, kemudian variabel Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (C=0,. memiliki hubungan yang sangat lemah dengan munculnya kejadian infeksi nosokomial Phlebitis pada pasien di Rumah Sakit X Wilayah Gresik Utara. Sebagian besar perawat di Rumah Sakit X tidak memperhatikan sebagaimana SPO Rumah Sakit yang berlaku untuk kepatuhan kebersihan tangan sebelum kontak dengan pasien dan lingkungan rumah sakit. Sebagian perawat menganggap waktu yang paling penting untuk melakukan pelaksanaan kebersihan tangan adalah setelah kontak dengan pasien dan lingkungan rumah sakit, walaupun tidak semua petugas yang melaksanakannya. Menurut Djojosugito, mencuci tangan adalah elemen dari Tindakan pencegahan umum yang sangat krusial untuk dilakukan oleh semua tenaga medis, terutama perawat . Perawat memegang peranan penting dalam pengendalian infeksi yang terjadi di rumah sakit, khususnya dalam Upaya menurunkan jumlah kasus infeksi nosokomial Phlebitis di Rumah Sakit X wilayah Gresik Utara. infeksi nosokomial Phlebitis dapat dikurangi pada perawat yang berkontribusi besar. , tetapi di sisi lain juga dapat berperan dalam meningkatkan insiden infeksi tersebut di rumah sakit. Lingkungan memiliki peran penting terhadap pelaksanaankprosedur yang sudah ditetapkan. Lingkungan kerja yang harmonisndan positif dapat meningkatkan kinerja perawat, sedangkan lingkungan yang kurang mendukung dapat berdampak negatif terhadap proses pelayanan yang diberikan . Angka kepatuhan perawat dalam mencuci tangan dan tingkat kejadian phlebitis memiliki pengaruh signifikan terhadap laporan indikatormnasional mutu di sebuah rumah sakit. mJika kepatuhanmcuci tangan melampaui standar yang ditetapkan dan insiden phlebitis berada di bawah ambang batas indikator, maka mutuopelayanan rumah sakit akan dinilai baik dan mengalami peningkatan. Sebaliknya, rendahnya kepatuhan cuci tangan berkontribusi pada tingginya insiden phlebitis, yang berdampak negatif pada mutu pelayanan rumah sakit. Oleh karena itu, menjaga kepatuhan cuci tangan perawat sesuai standar prosedur operasional sangat penting untuk menurunkan kejadian phlebitis dan meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit . Berdasarkan penelitian secara signifikan meningkatkan kepatuhan terhadap gerakan Hand Hygiene dan penggunaan sarung tangan. Mendorong tim pengendalian infeksi untuk menggunakan alat ini untuk meningkatkan kesadaran di antara tenaga medis yang bertanggung jawab atas penempatan petugas medis tentang risiko infeksi terkait kebersihan tangan yang tidak memadai . Kesimpulannya beberapa faktor yang memengaruhi kepatuhanpperawat dalam melaksanakanbcuci tangan pada 5 momen untuk mencegah penularan infeksi nosokomial selama pandemi COVID-19 meliputi usia, jenis kelamin, lamabmasa kerja, tingkat pendidikan, serta pengetahuan perawat mengenai standar kewaspadaan cuci tangan. Peneliti merekomendasikan agar rumah sakit mengadakan pelatihan secara rutin bagi perawat guna meningkatkan upaya pencegahan infeksi nosokomial . Dalam penelitian berjudul AuAnalisiskKepatuhan Perawatmdalam Melakukan Hand Hygiene di RSUDkDr. Mohamad RabainmKabupaten MuarapEnim,Ay ditemukan bahwa variabel sikap memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepatuhan perawat dalam melaksanakan handbhygiene, denganhnilai p=0,00. Nilai odds ratio sebesar 12,987 mengindikasikan bahwa perawat yang memiliki sikap negatif berpeluang 13 kali lebih besar untuk tidak mematuhi prosedur hand hygiene dibandingkan dengan perawat yang memiliki sikap positif. Temuan ini menegaskan bahwa sikap sangat berperan dalam menentukan tingkatkkepatuhan handmhygiene di lingkungan rumah sakit tersebut . Dalam penelitian mengenai pelaksanaan prosedurphand hygiene oleh perawat di rumah sakitgdi Gorontalo, ditemukan bahwa dari 16 perawat yang diamati, 10 orang . ,5%) tidak mematuhi prosedur hand hygiene, sementara 6 orang . ,5%) lainnya menunjukkan kepatuhan. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perawat belum sepenuhnya mengikuti standar pelaksanaan handphygiene di rumahksakit tersebut . Simpulan Hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit X wilayah Gresik Utara menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara kepatuhan perawat terhadap kebersihan tangan dan kepatuhan mereka terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) terhadap insiden infeksi nosokomial phlebitis pada pasien. Sebaliknya, tidak ada korelasi yang signifikan antara kepatuhan penggunaan (APD) dan insiden infeksi. Ini menunjukkan bahwa peran variabel ini dalam pencegahan phlebitis sangat lemah. Hasil analisis statistik menggunakan koefisien kontingensi memperkuat temuan ini: kepatuhan terhadap kebersihan tangan memiliki korelasi yang cukup kuat (C = 0,. terhadap kejadian infeksi, sedangkan kepatuhan terhadap penggunaan (APD) memiliki korelasi yang sangat rendah (C = 0,. , yang menunjukkan korelasi yang jauh. Peneliti menyarankan penelitian tambahan tentang hal-hal seperti cara pemasangan infus dilakukan, berapa lama pemasangan berlangsung, jenis cairan atau obat yang diberikan, dan kemampuan klinis perawat. Selain itu, pendekatan observasional jangka panjang atau pendekatan mixed-method dapat dipertimbangkan untuk mengetahui lebih banyak tentang perilaku perawat dalam praktik klinis seharihari yang mungkin tidak terlihat dalam kuesioner. Penelitian perbandingan juga dapat menunjukkan betapa pentingnya memperkuat program Pencegahanpldan PengendalianplInfeksi (PPI) di seluruh negeri. Ucapan Terimakasih Penulis menyampaikan rasa terimamkasih yang sebesar-besarnyapkepada dosen pembimbing yangptelah memberikankarahan dan bimbingan selama prosesppenelitian ini berlangsung. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada kedua orang tua serta keluarga penuliskyang telah memberikanodukungan dan motivasi sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Dan Terimakasih kepada diri sendiri yang sudah berjuang sejauh ini meskipun dengan tertatih Ae tatih, menempuh jalan yang sangat panjang dengan penuh lika Ae liku di 4 tahun ini. Referensi