AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2354-8576 (Prin. ISSN:0000-0000 . http://doi. ANALISIS LEVEL KOGNITIF DALAM INTERPRETASI TEKS AGAMA TENTANG PERINTAH BERSYUKUR PADA MATA PELAJARAN ALQURAoAN HADITS Fauji Efendi1. Ahmad Ali Riyadi2. Diana Nur Sholihah3 faujiabidzar@gmail. com, 2ahmadriyadiengineer@gmail. com, 3adzkia87ar@gmail. 1,2,3, Pascasarjana Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri Abstract This study aims to describe teaching strategies and analyze studentsAo cognitive levels in interpreting religious textsAiparticularly verses and hadiths about the command to be gratefulAibased on the revised BloomAos taxonomy. The research employed a qualitative case study approach with data collected through observation, interviews, documentation, and written tests. Data analysis was conducted through data reduction, presentation, and verification using triangulation and member check for validation. The findings indicate that teachers implemented a constructivist approach through discussion, reflection, and contextualization of verses, encouraging active student participation. Most students reached the levels of understanding (C. and applying (C. , some achieved analyzing (C. , while only a few reached evaluating (C. and creating (C. In conclusion, appropriate teaching strategies can enhance studentsAo cognitive achievements in understanding the value of gratitude. however, further reinforcement is needed to foster critical and creative thinking in interpreting religious texts. Keywords: Analysis. Cognitive. Interpretation. Religious Text. PENDAHULUAN Pemahaman terhadap teks-teks agama, khususnya Al-QurAoan dan Hadits, merupakan aspek fundamental dalam pendidikan agama Islam. Hal ini dikarenakan teks agama tidak hanya menjadi sumber hukum dan akhlak, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman hidup peserta didik dalam berperilaku sehari-hari (Kadenun, 2. Pemahaman yang baik terhadap teks agama memungkinkan peserta didik untuk menginternalisasi nilainilai spiritualitas dan moralitas yang menjadi fondasi pembentukan karakter religius (Abbas , 2. Meskipun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami teks agama, terutama ketika dihadapkan pada konsep-konsep abstrak, seperti makna ibadah sebagai tujuan penciptaan manusia. (Friedrich Wilhelm Fyrster, 2. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan dalam membaca AlQurAoan, memahami materi, hingga mengaplikasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan nyata(Santrock, 2. Rendahnya pemahaman terhadap teks agama dapat berdampak pada terhambatnya tujuan pendidikan Islam, yakni membentuk pribadi berakhlak mulia dan berkarakter (Sumara dkk. , 2. Krisis moral yang marak terjadi di Vol. 13 No. 1 | 61 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam kalangan remaja, seperti perundungan dan perilaku menyimpang lainnya, menunjukkan lemahnya internalisasi nilai religius. Faktor lingkungan sosial, teman sebaya, maupun perkembangan zaman turut memengaruhi kondisi tersebut(Burkert, 1. Oleh karena itu, pembelajaran Al-QurAoan Hadits memiliki peran penting dalam menanamkan nilai religiusitas agar peserta didik mampu memahami ajaran agama secara komprehensif dan mengaplikasikannya dalam kehidupan (Muhammad Djarot, 2. Salah satu konsep penting yang dipelajari dalam mata pelajaran Al-QurAoan Hadits adalah perintah beribadah. Pemahaman tentang ibadah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai relasi vertikal manusia dengan Allah, tetapi juga mencakup relasi horizontal dengan sesama manusia. Dengan demikian, penguatan pemahaman teks agama diharapkan mampu mencegah krisis moral remaja serta membentuk pribadi yang berkarakter religius. Namun, penelitian sebelumnya masih terbatas dalam mengukur sejauh mana level kognitif peserta didik dalam menginterpretasikan teks Al-QurAoan maupun Hadits, khususnya dengan kerangka Taksonomi Bloom revisi(Ruwaida, 2. Madrasah Aliyah (MA) Sunan Kalijogo Kranding Mojo Kediri menjadi relevan untuk dikaji karena memiliki peserta didik dengan latar belakang yang beragam, baik dari segi kemampuan membaca Al-QurAoan maupun pemahaman keagamaan. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis level kognitif siswa dalam menginterpretasikan teks agama tentang perintah bersyukur serta kontribusinya dalam pembentukan karakter religius. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman mendalam mengenai level kognitif peserta didik dalam menafsirkan teks agama pada mata pelajaran Al-QurAoan Hadits (Sugiyono, 2. Studi kasus diterapkan untuk menelaah secara kontekstual dinamika kelas, strategi pembelajaran guru, serta capaian kognitif siswa di MA Sunan Kalijogo Kranding Mojo Kediri. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian menerapkan ketekunan pengamatan dan triangulasi sumber serta metode (Ishtiaq, 2. Data dikumpulkan melalui empat teknik utama, yaitu pertama tes tulis untuk mengukur penguasaan materi dan tes praktik untuk menilai keterampilan dalam mengaplikasikan pemahaman. Kedua wawancara tak terstruktur: dilakukan dengan siswa untuk menggali pengalaman dan pemahaman mereka terhadap pembelajaran. Ketiga, observasi langsung dan partisipatif: menganalisis interaksi siswa dan guru selama proses Vol. 13 No. 1 | 62 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam pembelajaran berlangsung. Keempat, dokumentasi: meliputi arsip nilai, catatan pembelajaran, serta RPP yang digunakan. Analisis data menggunakan analisis tematik, melalui tahapan: . pengumpulan data, . pengorganisasian, . pengkodean, . identifikasi tema, dan . Analisis dilakukan secara induktif untuk menghasilkan temuan yang merefleksikan pemahaman siswa serta faktor-faktor yang memengaruhinya (Mulyana, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini berfokus pada perkembangan kognitif siswa dalam memahami perintah bersyukur yang terdapat dalam QS. Az-Zukhruf ayat 9Ae13 pada mata pelajaran AlQurAoan Hadits di MA Sunan Kalijogo Kranding Mojo Kediri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana peserta didik mampu menginternalisasi nilai syukur melalui proses pembelajaran Al-QurAoan Hadits yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Data diperoleh melalui wawancara dengan guru mata pelajaran dan peserta didik, observasi langsung kegiatan pembelajaran, serta dokumentasi hasil karya dan catatan reflektif siswa. Berdasarkan hasil temuan lapangan, diketahui bahwa mayoritas siswa telah menguasai kemampuan kognitif tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills atau LOTS). Pada tahap mengingat (C. , siswa mampu menghafal QS. Az-Zukhruf ayat 9Ae13 dengan pelafalan yang baik dan benar sesuai kaidah tajwid. Hafalan ini diperkuat dengan kegiatan rutin membaca ayat sebelum memulai pelajaran, sehingga siswa terbiasa mengenali redaksi ayat dan makna literalnya. Sementara pada tingkat memahami (C. , siswa dapat menjelaskan isi dan makna ayat dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka mampu menguraikan kandungan ayat tentang perintah bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, seperti penciptaan langit dan bumi, air hujan, serta sarana transportasi. Penjelasan tersebut muncul dari pemahaman yang dibangun melalui bimbingan guru yang mengaitkan ayat dengan konteks kehidupan modern, misalnya menghubungkan nikmat kendaraan dengan kemudahan teknologi transportasi masa kini. Pendekatan ini membantu siswa memahami bahwa bersyukur bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran akan anugerah Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Pada tingkat mengaplikasikan (C. , sebagian siswa menunjukkan sikap bersyukur dalam kehidupan nyata dengan bersikap sopan, disiplin, dan bertanggung jawab, meskipun penerapannya masih bervariasi antar individu. Pada tahap mengaplikasikan (C. , sebagian Vol. 13 No. 1 | 63 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam siswa menunjukkan kemampuan menerapkan nilai-nilai syukur dalam perilaku sehari-hari, seperti menjaga kebersihan kelas sebagai bentuk rasa terima kasih atas fasilitas yang dimiliki, bersikap sopan terhadap guru dan teman, serta memanfaatkan waktu belajar dengan disiplin. Namun, observasi menunjukkan adanya variasi penerapan antarindividu. Beberapa siswa masih menunjukkan sikap kurang konsisten, terutama dalam menjaga kedisiplinan dan tanggung jawab, yang menandakan bahwa proses internalisasi nilai syukur masih perlu pembinaan lanjutan. Melalui penerapan model pembelajaran aktif dan berbasis proyek, siswa mulai mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills atau HOTS). Pada tahap menganalisis (C. , siswa mampu membedah makna kata dan struktur ayat, menelaah hubungan antara nikmat yang disebutkan dalam ayat dengan fenomena sosial di masyarakat, seperti perilaku konsumtif dan kurangnya kesadaran bersyukur di kalangan Pada tahap mengevaluasi (C. , siswa dapat menilai relevansi nilai-nilai syukur terhadap perilaku mereka sendiri dan teman sebaya, misalnya dengan merefleksikan apakah sikap mereka sudah mencerminkan rasa terima kasih kepada Allah. Sedangkan pada tahap mencipta (C. , siswa menunjukkan kreativitas dalam menghasilkan berbagai produk pembelajaran seperti video edukatif bertema syukur, jurnal harian syukur, serta proyek AuHari Syukur KelasAy yang melibatkan seluruh warga sekolah. Produk-produk ini tidak hanya mencerminkan kemampuan berpikir kreatif, tetapi juga menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap nilai spiritual yang terkandung dalam ayat. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan guru berhasil mendorong perkembangan kognitif siswa secara bertahap, dari LOTS menuju HOTS, sebagaimana digambarkan dalam Taksonomi Bloom revisi oleh Anderson & Krathwohl (Wilson & Leslie, 2. Strategi yang digunakan mencakup pembelajaran kontekstual, reflektif, serta integrasi nilai keagamaan dengan kehidupan Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-QurAoan Hadits dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menginternalisasi nilainilai moral dan spiritual. Perkembangan kognitif siswa ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh bahwa perkembangan kognitif merupakan proses sistematis dan berkesinambungan yang memengaruhi cara individu berpikir, menilai, dan memahami realitas seiring pertambahan usia serta pengalaman belajar. Dalam konteks ini, siswa tidak Vol. 13 No. 1 | 64 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam hanya menghafal ayat, tetapi juga mengonstruksi makna baru berdasarkan pengalaman dan interaksi sosial di kelas (Akbar, 2. Dalam pembelajaran, siswa tidak hanya menghafal ayat, tetapi mampu menginternalisasi maknanya melalui penjelasan kontekstual yang diberikan guru. Hal ini sesuai dengan teori pemrosesan informasi, di mana pembelajaran dipandang sebagai proses pemasukan, penyimpanan, dan pengungkapan kembali informasi melalui aktivitas kognitif seperti persepsi, perhatian, memori, hingga kreativitas (Santrock, 2. Pencapaian siswa yang meliputi ranah mengingat, memahami, hingga mencipta menggambarkan penerapan Taksonomi Bloom revisi. Pada tahap LOTS, siswa mampu menyebutkan ayat dan memahami maknanya. Pada level MOTS, mereka mulai menerapkan nilai syukur dalam kehidupan nyata. Sedangkan pada level HOTS, siswa mampu menganalisis, mengevaluasi, hingga menghasilkan karya kreatif yang merefleksikan nilai syukur (Nik Haryanti, 2. Faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan ini adalah strategi pembelajaran guru. Guru berperan tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga fasilitator pembelajaran bermakna, yang menuntun siswa menemukan makna ayat secara Dengan mengimplementasikan pendekatan konstruktivisme guru menciptakan pembelajaran yang interaktif, di mana siswa aktif membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, diskusi kelompok, dan refleksi pribadi. Guru juga memberikan pertanyaan reflektif, seperti AuBagaimana cara kamu menunjukkan rasa syukur hari ini?Ay atau AuApa akibatnya jika manusia tidak bersyukur terhadap nikmat Allah?Ay. Pertanyaan semacam ini melatih kemampuan berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menghubungkan konsep keagamaan dengan perilaku nyata (Suparno, 2. Dampak dari perkembangan kognitif ini tidak hanya terlihat pada ranah intelektual, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Siswa menunjukkan perubahan sikap yang lebih positif: lebih sopan dalam berbicara, lebih disiplin dalam menjalankan tugas, lebih empatik terhadap sesama, dan lebih menghargai nikmat Allah. Beberapa guru bahkan mencatat peningkatan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab siswa setelah pembelajaran tematik tentang syukur dilaksanakan. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pembelajaran yang mengembangkan ranah kognitif secara bermakna dapat berpengaruh langsung terhadap pembentukan karakter religius peserta didik (Desmita, 2. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kognitif siswa dalam memahami perintah bersyukur pada QS. Az-Zukhruf ayat 9Ae13 menunjukkan kemajuan yang Vol. 13 No. 1 | 65 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam Proses pembelajaran yang menekankan pemahaman kontekstual, reflektif, dan kreatif menjadikan siswa tidak hanya mampu memahami makna ayat secara tekstual, tetapi juga menginternalisasi nilai syukur sebagai bagian dari karakter dan spiritualitas kehidupan sehari-hari. Hasil ini membuktikan bahwa pembelajaran Al-QurAoan Hadits yang dirancang secara konstruktivistik mampu menjadi instrumen penting dalam membangun keseimbangan antara pengetahuan, sikap, dan keterampilan spiritual peserta didik. KESIMPULAN Penelitian ini menganalisis strategi pembelajaran guru serta level kognitif peserta didik dalam menginterpretasikan teks agama tentang perintah bersyukur pada mata pelajaran Al-QurAoan Hadits di MA Sunan Kalijogo Kranding Mojo Kediri. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta didik telah mencapai level C2 . dan C3 . dalam Taksonomi Bloom revisi. Mereka mampu menjelaskan makna ayat tentang syukur serta memberikan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian siswa juga menunjukkan kemampuan pada level C4 . dengan membedakan nilai-nilai syukur dalam berbagai konteks sosial. Namun, capaian pada level C5 . dan C6 . masih terbatas, karena siswa belum terbiasa menyusun argumentasi maupun menghasilkan karya baru yang bersumber dari nilai-nilai ayat syukur. Rendahnya capaian ini disebabkan oleh minimnya latihan berpikir tingkat tinggi (HOTS) serta kurangnya integrasi asesmen evaluatif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada penguatan HOTS, melalui integrasi asesmen evaluatif dan kreatif, sangat diperlukan untuk mendorong siswa mencapai level kognitif yang lebih tinggi dalam memahami dan menginternalisasi nilai Vol. 13 No. 1 | 66 AL-FATIH: Jurnal Studi Islam DAFTAR PUSTAKA