EL-ADABI: Jurnal Studi Islam E-ISSN: 2964-0679 Vol. 02, No. 02, Desember 2023, Pages: 66-85 Tersedia online di: https://jurnal.stainidaeladabi.ac.id/index.php/eladabi TERBITNYA MODERNISME ISLAM (Narasi Biografis Modernis Awal sebagai Inspirasi Organisasi Islam Modern di Indonesia) Miswari* *IAIN Langsa, Aceh *Corresspondence: miswari@iainlangsa.ac.id Abstrack This article aims to explore the biographies of three early modernist figures in Indonesia, namely Cokroaminoto, Agus Salim, and Mohammad Natsir to find the typical roots of modern Islamic organizational movements in Indonesia. This research is a qualitative type with a biographical narrative approach. We explore references related to the biographies of these three figures to find the root of character for modern Islamic organizations in Indonesia. The research findings show that in Cokroaminoto's biographical narrative, it is found that the organizational control model requires administrative management skills, external relationship, and conflict management skills. Agus Salim's biographical narrative shows that he has pioneered the andragogy education system in the cadre of organizational members. Natsir's biographical narrative has shown the patron of the establishment of a modern Islamic school: by reducing the rote method, accommodating general education, and appreciating art education. Natsir can also be a reminder that intense involvement with the religious learning Terbitnya Modernisme Islam ... .. (Miswari) | 66 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) system can make an activist leave a formal education career opportunity as Natsir missed a scholarship opportunity to the Netherlands, because he was too impressed with the puritanical teachings of religion. Keywords: Cokroaminoto; Agus Salim; Natsir; Modern; Islam Abstrak Artikel ini bertujuan mengaksplorasi biografi tiga tokoh modernis awal di Indonesia yakni Cokroaminoto, Agus Salim, dan Mohammad Natsir untuk menemukan akar dari tipikal pergerakan organisasi Islam modern di Indonesia. Penelitian ini berbentuk kualitatif dengan pendekatan narasi biografis. Peneliti mengekspolasi referensi terkait biografi tiga tokoh tersebut untuk menemukan akar karakter bagi organisasi Islam modern di Indonesia. Temuan penelitian menunjukkan, dalam narasi biografis Cokroaminoto, ditemukan bahwa model pengendalian organisasi yang menuntut kemampuan manajemen administrasi, pembangunan relasi eksternal, dan kemampuan manajemen konflik. Narasi biografis Agus Salim menunjukkan, dia telah mempelopori sistem pendidikan andragogi dalam kaderisasi anggota organisasi. Narasi biografis Natsir telah menunjukkan patron pendirian sekolah Islam modern yakni dengan mengurangi metode hafalan, mengakomodir pendidikan umum, dan mengapresiasi pendidikan seni. Natsir juga dapat menjadi pengingat bahwa keterlibatan intens dengan sistem pembelajaran keagamaan dapat membuat seorang aktivis meninggalkan peluang karir pendidikan formal sebagaimana Natsir melewatkan kesempatan beasiswa ke Belanda karena terlalu terkesima dengan ajaran agama yang puritan. Kata Kunci: Cokroaminoto; Agus Salim; Natsir; Modern; Islam PENDAHULUAN Terbitnya modernisme dalam Islam tidak lepas dari munculnya kolonialisme. Kolonialisme itu sendiri dilakukan penjajah Eropa akibat kesulitan pangan yang mereka hadapi. Dominasi Turki atas hasil bumi di dunia belahan Timur semakin mendesak Eropa untuk mencari sendiri rempah-rempat yang sangat mereka butuhkan. Akhirnya penjajahanpun terjadi. Modernisme dibawa serta bersama penjajahan ekonomi. Penjajahan itu menuntut bangsa Timur untuk merespon modernitas. Sebagian menolak utuh modernisme itu, sebagian mengakomodasi beberapa dimensi modernisme, dan sebagiannya lagi menerima modernisme secara utuh. Di Indonesia, gerakan modern direspon oleh cendikiawan muslim. Pada generasi awal muncul nama seperti HOS Tjokroaminoto (Cokroaminoto), Hadji Agus Salim (Agus Salim), dan Mohammad Natsir (Natsir). Tiga tokoh ini punya peran besar dalam menunjukkan bagaimana spirit Islam berdayaguna dalam gerakan modern seperti organisasi gerakan Islam, sekolah Islam, dan partai politik Islam. Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 67 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) Penelitian tiga tokoh dimaksud dalam berbagai dimensinya, seperti politik, pendidikan (Hayati Nufus, 2018), dan sebagainya, telah banyak dilakukan. Namun belum ditemukan penelitian yang fokus pada kajian narasi biografis tiga tokoh dimaksud dalam rangka menemukan karakteristik organisasi islam modern di Indonesia. Penulisan artikel ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan penelitian adalah narasi biografis tiga tokoh awal modernisasi Islam di Indonesia yakni HOS Cokroaminoto, Hadji Agus Salim, dan Mohammad Natsir. Data utama yang digunakan adalah literatur-literatur yang memuat biografi tiga tokoh dimaksud. Data sekundernya adalah segala literatur yang dianggap memiliki hubungan dengan fokus pembahasan. Narasi-narasi biografis yang dieksplorasi berfokus pada pengungkapan munculnya karakteristik pemikiran dan pergerakan tiga tokoh yang diteliti, terkait akar karakter yang diteladani dan menjadi tipikal organisasi gerakan Islam modern di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Cokroaminoto dan Sarekat Islam Salah satu faktor penting lahirnya pemikiran modern dalam Islam adalah munculnya kolonialisme. Hal ini direspon melalui dua arah. Pertama adalah kesadaran para ulama Haramain asal Indonesia akan pentingnya menumpas penjajahan sehingga mereka begitu bersemangat menyadarkan para penuntut ilmu dari Indonesia di Haramain akan pentingnya menumpas kolonialisme. Kedua adalah munculnya kesadaran dari para intelektual pribumi akan bahaya penjajahan yang telah mengecap pendidikan dari sekolah Belanda (Rahardjo, 1994, pp. 16–17). Di antara gerakan perlawanan penjajahan yang sangat penting adalah terjadinya Perang Padri dan Perang Aceh. Di Jawa, disamping perang Diponegoro, perlawanan atas penjajahan dilakukan melalui usaha-usaha pembangunan kesadaran oleh kaum terpelajar (Niel, 1984, p. 61). Islam sebagai semangat perjuangan memiliki peran utama dalam perlawanan penjajahan. Salah satu tokoh penting yaitu Haji Umar Said Tjokroaminoto atau HOS Cokroaminoto. 68 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) Cokroaminoto merupakan seorang keturunan bangsawan yang sangat keras menentang kolonialisme dan melakukan usaha perlawanan dengan berbagai advokasi dan pengembangan kesadaran melalui gerakan-gerakan intelektual. Meskipun berasal dari golongan bangsawan, Cokroaminoto sangat keras menentang adanya kelas sosial. Menurutnya, setiap manusia itu setara. Penjajahan itu merupakan suatu kekejian yang harus dilawan. Sikap Cokroaminoto menentang segala bentuk ketidaksetaraan diperlihatkan dengan keengganannya menunduk di hadapan orang Belanda saat bekerja di sebuah kantor di Magelang. Perjuangan itu terus dilakukan hingga Cokroaminoto memimpin Sarekat Islam (Noer, 1996, p. 114). Itu merupakan sebuah organisasi yang didirikan oleh Samanhoedi yang berangkat dari sebuah perkumpulan yang didirikan untuk mengamankan perusahaan batik milik pribumi dari ancaman kriminalitas. Perkumpulan tersebut kemudian berubah menjadi Sarekat Dagang Islam sebagai organisasi yang memperjuangkan perusahaan batik pribumi dari dominasi perusahaan batik Tionghoa yang terlalu dianak-emaskan oleh Kolonial. Nantinya, kesadaran pentingnya perjuangan sosial akan efektif melalui jalur politik memunculkan Partai Sarekat Indonesia. Cokroaminoto dalam hal ini menjadikan Islam sebagai semangat pergerakan. Dia sadar bahwa Islam dapat menjadi energi yang menggerakkan masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Semangat semacam ini juga pernah dilakukan dalam Perang Padri, Perang Aceh, dan Perang Diponogoro. Mereka manjadikan Islam sebagai semangat untuk melawan Belanda dalam rangka memperjuangkan ekonomi, politik, dan identitas. Hal ini membuat pemerintah kolonial menjadi semakin waspada terhadap Islam. Awalnya hubungan Cokroaminoto dengan Belanda sangat baik, bahkan dia diberikan sokangan finansial yang besar. Namun setelah berhubungan dengan Semaun, Cokroaminoto menjadi semakin gencar menunjukkan perlawanannya terhadap pemerintah Kolonial. Padahal sebelumnya, Sarekat Islam adalah lembaga yang dikenal akrab dengan Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) Pemerintah Kolonial. Dalam suara-suara | 69 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) perlawanannya, Cokroaminoto menyerukan pentingnya kesetaraan antar umat manusia dan bahaya penjajahan. Dalam perlawananya itu, Cokroaminoto menyerukan pentingnya penyelenggaraan pendidikan dan beasiswa bagi pribumi berprestasi. Melalui wadah Sarekat Islam, Cokroaminoto juga menyerukan kepada Belanda untuk tidak menghambat penyebaran dakwah Islam dan mendesak Pemerintah Kolonial untuk memberikan dukungan materi kepada para penghulu. Sikap keras Cokroaminoto sangat disesalkan pihak Belanda. Sebagaimana diketahui, padahal mereka yang memberikan dukungan finansial kepada Cokroaminoto sehingga dia dapat menggeser sang pendiri Sarekat Islam, Samanhoedi. Sementara sang pendiri hanya menjadi ketua kehormatan organisasi. Namun sebelum menjadi ketua, Cokroaminoto telah berkontribusi sangat besar bagi Sarekat Islam. Dia melakukan penegasan sistem keorganisasian dalam organisasi tersebut. Itu dilakukan nyaris sendirian. Dari usaha Cokroaminoto menjadi ketua Sarekat Islam, dapat dipelajari bahwa, untuk menjadi pemimpin tertinggi sebuah organisasi, harus memiliki dukungan finansial, memahami seluk-beluk organisasi, dan tentunya mampu mempengaruhi para anggota organisasi pada tingkat bawah. Cokroaminoto telah mempelopori bagaimana sebuah organisasi Islam modern digerakkan. Namun sepak-terjangnya dalam rangka meraih kepemimpinan dan mempertahankannya menjadi sasaran koreksi para rivalnya. Menurut penentangnya di Sarekat Isam, Cokroaminoto bersedia melakukan praktik-praktik kurang bijak dalam rangka menyingkirkan lawannya. Dia dianggap membuka aib saingannya melalui media massa. Cara ini juga yang ditiru lawan selanjutnya sehingga membuat reputasi Cokroaminoto luntur (Tjokroaminoto, 2011, p. 29). Darsono, rival Cokroaminoto, mengatakan sang Raja Tanpa Mahkota itu menjadikan Sarekat Islam sebagai wadah mencari keuntungan pribadi. Namun sepertinya tuduhan itu perlu ditelaah kembali. Karena Cokroaminoto paham bahwa pada organisasi mana pun, praktik seperti ini akan membuat organisasi ambruk. Tan Malaka yang coba menengahi pertikaian para petinggi Sarekat Islam berpendapat, saling serang karakter terjadi akibat kesalahpahaman. Laporan lain 70 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) menyebutkan, itu terjadi karena perebutan kekuasaan. Hal ini merupakan dinamika yang sering terjadi pada berbagai organisasi. Idealnya dalam berorganisasi, haruslah bertujuan mengembangkan organisasi, bukan mencari keuntungan pribadi. Siapa saja yang berusaha menjadikan organisasi nirlaba sebagai wadah mengusahakan kepentingan pribadi, maka pelakunya tidak akan hidup damai. Banyak praktik seperti itu dalam berbagai organisasi, termasuk organisasi keagamaan. Sulit mempercayai Cokroaminoto suka memperjuangkan kepentingan pribadi di Sarekat Islam. Sukarno sendiri mengatakan, kehidupan Cokroaminoto sangat sederhana. Rumahnya di pemukiman padat penduduk. Bagian belakang rumahnya disekat-sekat menjadi sepuluh kamar. Di sanalah calon tokoh penting pergerakan seperti Sukarno, Alimin, Muso, dan Kartosuwiryo mengasah wawasannya. Kelak mereka menjadi tokoh penting, antara lain karena memiliki keluasan wawasan akibat sering ikut mendengar para tokoh Sarekat Islam yang bertamu dan berdiskusi dengan Cokroaminoto. Semangat perlawanan mereka terhadap kolonialisme juga muncul dari pembicaraan-pembicaraan para tokoh Sarekat Islam yang berdiskusi tentang diskriminasi Belanda. Tokoh penting seperti Ahmad Dahlan juga suka singgah di rumah Cokroaminoto bila ke Surabaya. Semangat diskusi para pemuda indekos memotivasi Cokroaminoto memfasilitasi diskusi rutin di rumahnya. Meskipun demikian, setiap anak kos itu berbeda haluan gerakannya nanti. Muso kepada komunisme, Sukarno kepada nasionalisme, dan Kartosuwiryo kepada islamisme. Di Yogyakarta, tokoh penting lainnya seperti Hamka masuk Sarekat Islam dengan harapan dapat mengikuti ceramah Cokroaminoto. Di kota itu juga, Cokroaminoto merekrut Ahmad Dahlan, Abdul Muis, dan Agus Salim menjadi anggota Sarekat Islam. Dari awal karirnya, Cokroaminoto sudah tidak suka dengan sikap kaum feodal. Mereka terlalu manut terhadap Belanda. Cokroaminoto keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai pada Pemerintah Kolonial karena tidak suka harus menghamba kepada Belanda. Keputusan ini membuatnya diusir dari rumah oleh mertuanya yang merupakan seorang Wakil Bupati. Dia memilih minggat dan bekerja Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 71 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) sebagai tukang angkut barang di pelabuhan Semarang. Pengalamannya menjadi kuli membuat dia kelak begitu bersemangat memperjuangkan nasib buruh (Latif, 2013, p. 98) Ketika pindah ke Surabaya, Cokroaminoto aktif menulis pada surat kabar. Tema utamanya adalah gagasan tentang cara memajukan bangsa. Melalui tulisantulisannya, serta sikapnya yang tidak menyukai sistem kolonial tampak jelas. Cokroaminoto direkrut Sarekat Islam. Dia pindah ke Surakarta. Samanhoedi memintanya fokus di Sarekat Islam. Sarekat Islam juga mendirikan surat kabar Oetosan Hindia. Surat kabar tersebut menjadi wadah advokasi masyarakat dan penentangan atas kebijakankebijakan diskriminatif Pemerintah Kolonial. Selain Cokroaminoto, banyak cendikiawan lainnya yang menentang diskriminasi Pemerintah Kolonial melalui tulisan-tulisan pada Oetosan Hindia, termasuk Ki Hajar Dewantara. Sementara Sukarno, selama sebelas tahun penerbitan koran tersebut, menulis lebih lima ratus artikel. Hal ini menunjukkan produktivitas menulis, kepekaan Sukarno atas masalah-masalah yang dihadapi pribumi, dan betapa kesalnya beliau terhadap kolonialisme. Sementara Sarekat Islam mengalami kemunduran akibat terjadinya saling serang karakter antara Cokroaminoto dan penentangnya dalam organisasi tersebut yakni Darsono, Alimin, dan Semaoen. Konflik ini melemahkan Sarekat Islam. Tiga nama tersebut selanjutnya dikenal sebagai Sarekat Islam Merah karena pemikiran mereka terlalu ke kiri. Sementara rivalnya adalah Cokroaminoto, Abdoel Moeis, Agus Salim, dan Kartosuwiryo mengarah ke kanan. Agus Salim dan Jong Islamieten Bond Sangat besar peran Haji Agus Salim dalam usaha memerdekakan Republik. Dia telah berhasil membujuk negara-negara Timur Tengah seperti Mesir, Yaman, Suriah, Lebanon, Irak, Arab Saudi, untuk memberikan pengakuan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Keberhasilan ini tentu karena seorang Agus Salim memang memiliki keahlian diplomasi tingkat tinggi. Namun, 72 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) khususnya dalam konteks lobi Timur Tengah, identitas seorang Agus Salim sebagai seorang islamis, sangat memberi pengaruh dalam meraih simpati negara-negara Timur Tengah. Semangat anti kolonial yang sama-sama dimiliki oleh masyarakat Indonesia dan Timur Tengah, juga memberikan andil cukup besar. Setelah sukses meraih dukungan dari negara-negara Timur Tengah, usaha diplomasi Agus Salim bersama tokoh-tokoh lainnya berlanjut ke sidang Perserikatan Bangsa Bangsa. Dalam hal ini, jelaslah bahwa kontribusi Agus Salim dalam usaha mewujudkan kedaulatan Republik Indonesia sangat besar. Bahkan sejak BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan ) dibentuk, Peran Agus Salim sangat menonjol. Keahlian diplomasi yang dimiliki, tidak hanya karena memiliki modal sikap tenang dalam menghadapi suatu persoalan, tapi juga karena dia menguasai banyak bahasa asing seperti Belanda, Inggris, Arab, Turki, Jepang, dan beberapa bahasa lainnya. Perjuangan Agus Salim untuk mengukuhkan Republik Indonesia juga membuatnya diasingkan bersama para tokoh pendiri bangsa lainnya seperti Sukarno dan Sutan Sjahrir. Mereka diasingkan ke Brastagi dan Pulau Bangka. Namun Agus Salim tidak pernah gentar dengan berbagai usaha Belanda untuk menggagalkan kedaulatan Indonesia. Dia sangat disegani Belanda, bukan hanya karena keahliannya dalam melakukan diplomasi, namun juga karena kejeniusan yang dimiliki. Pihak Belanda sangat tahu itu. Bahkan sebelumnya, Hindia Belanda, karena kejeniusan yang dimiliki Agus Salim, disebut pernah merekrutnya menjadi mata-mata bagi pergerakan Sarekat Islam. Namun pekerjaan itu malah membuat Agus Salim tertarik bergabung dengan Sarekat Islam dan memutuskan hubungan dengan pihak Hindia Belanda. Dalam organisasi tersebut, Agus Salim adalah orang kepercayaan sekaligus suksesor bagi Cokroaminoto. Kejeniusan Agus Salim kemudian didedikasikan dalam bentuk kritik-kritiknya terhadap pemerintahan Hindia Belanda melalui Volksraad. Mewakili Partai Sarekat Islam di lembaga parlemen itu, Agus Salim kerap melancarkan kritik dalam rangka memperjuangkan kepentingan rakyak. Dengan gagah berani, dalam forum Volksraad, Agus Salim mengkritik eksistensi lembaga tersebut dengan mengatakan hanya sebagai pemanis Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 73 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) kebijakan politik etis, namun pendapat-pendapat anggota Volksraad hanya bersifat saran sehingga tidak pernah diakomodir pemerintah Hindia Belanda. Sebagai seorang jenius, Agus Salim dikenal sebagai ahli strategi dalam Sarekat Islam (SI). Ketika SI Merah semakin mendominasi Partai Sarekat Islam, Agus Salim tampil mengendalikan SI agar selamat dari dominasi SI Merah. Bahkan di antara strateginya itu, Agus Salim membangun kerjasama dengan Muhammadiyah. Dalam rangka melemahkan dominasi SI Merah, saat berlangsung Kongres di Yogyakarta, strategi Agus Salim untuk menegaskan SI berlandaskan Islam dapat diterima forum, meskipun SI perlu menegaskan penentangannya atas kapitalisme, bahkan dengan menggunakan tenaga dan kemampuan dengan melibatkan petani dan buruh. Kelompok SI Merah puas karena ide-ide Komunisme terangkum dalam kebijakan itu. (Muslim Tanpa Masjid, 2001, p. 56) Di samping itu, Agus Salim punya peran besar dalam penyebaran Muhammadiyah di Pulau Jawa. Pada sisi lain, pendiri Muhammadiyah, bersama HOS Cokroaminoto, memberi dukungan kepada Agus Salim dalam mendirikan organisasi kepemudaan Islam pertama di Indonesia, Jong Islamieten Bond (JIB). Pada organisasi tersebut, Agus Salim menjadi penasehat. Dia dengan sangat rendah hati menerima para anggota JIB bertamu di rumahnya. Agus Salim merintis sistem kaderisasi modern dengan memberlakukan para anggota secara setara. Dalam mendidik para anggota, Agus Salim tidak pernah menggurui. Dia berusaha menggali potensi, bakat, dan minat dari para pemuda. Setiap ada masalah, Agus Salim tidak menawarkan jawaban tetapi memotivasi mereka untuk menggali sendiri jawaban yang dibutuhkan. Sistem kaderisasi yang dilakukan Agus Salim pada pemuda JIB telah benar-benar meletakkan role model kaderisasi pemuda di Indonesia sebagaimana diterapkan Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi-organisasi itu mengedepankan pembentukan mental tangguh dan mengasah intelektual melalui penumbuhan motivasi dan penggalian potensi. (Bachtiar, 2017, pp. 60–61) Agus Salim sadar bahwa para pemuda JIB adalah orang-orang yang punya minat besar dalam menggali ilmu pengetahuan dan punya kepekaan sosial yang 74 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) tinggi. Sehingga mereka akan mampu menemukan solusi jitu mengatasi masalah sosial. Namun untuk itu, para pemuda JIB perlu mendapatkan motivasi dan penumbuhan kepercayaan diri. Itulah yang dilakukan Agus Salim. Mengenai kepekaan sosial, Agus Salim punya reputasi yang sangat teruji. Bahkan ketika masih sangat muda, dia telah terjun langsung menangani urusan masyarakat. Baru dua puluh dua tahun usianya, Agus Salim telah menangani jamaah haji di Jeddah. Sekitar lima tahun Agus Salim di sana. Dia dipekerjakan sebagai penerjemah. Namun tidak hanya itu, dia harus mengurus banyak perkara seperti menangani peminjaman uang jamaan haji Hindia kepada Konsulat Belanda di Jeddah, menangani jamaah haji yang meninggal, dan sebagainya. Dalam perannya mengurus jamaah haji di sana, Agus Salim, meskipun dipekerjakan oleh Pemerintah Hindia, tetapi sangat berpihak kepada masyarakat Hindia yang berhaji. Dia menjadi lebih cenderung menjadi pembela jemaah dan turut mengkritisi kebijakan Konsulat bila ada yang kurang berpihak kepada jamaah haji. Pengalaman pembelaan atas bangsa sendiri telah menempa Agus Salim menjadi seorang mentor yang mampu mendidik para pemuda untuk memiliki kepekaan sosial tinggi sebagaimana diwariskan kepada anggota JIB. Agus Salim memperdalam pengetahuan agama pada pamannya, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam di Masjidil Haram. Di Arab, Agus Salim juga mempelajari pemikiran modernis Islam seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Pola belajar Agus Salim kepada Ahmad Khatib bukan model tradisional yakni menerima pendoktrinan pengetahuan, melainkan modern diskusi atau debat atau dialektik. Karena pola pikir Agus Salim telah termodernkan. Karena sebelum belajar kepada Ahmad Khatib, wawasan pengetahuan umumnya telah banyak. Sehingga, pola belajar Agus Salim berlangsung kritis. Agus Salim tidak mudah menerima ajaran agama secara doktrinal. Hal-hal yang tidak rasional, dia pertanyakan. Ahmad Khatib sendiri harus menggunakan pendekatan-pendekatan rasional kepada Agus Salim. Pola rasional keagamaan Agus Salim di Arab selama lima tahun itu membuatnya punya bekal kuat dalam argumentasi keagamaan. Kalau saja tidak menemukan mentor yang mampu melayani secara rasional, seorang modernis yang kritis akan menjadi seorang skeptis dan bahkan ates. Dalam kasus Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 75 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) seorang Agus Salim, beruntung memiliki Ahmad Khatib yang familier dengan dimensi rasional dalam agama. (Azra, 2015, p. 215) Pikiran modern Agus Salim membuatnya melakukan banyak kebijakan yang dia anggap sebagai tradisi yang tidak punya landasan tegas dalam agama. Misalnya, sebagai penasehat JIB, Agus Salim menentang adanya tirai dalam pertemuan yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Menurutnya, tirai itu bukan ajaran dalam Islam, melainkan praktik budaya Arab. Tindakan demikian dia anggap merupakan pengucilan terhadap perempuan. Pola pikir demikian benar-benar telah menjadi bagian dari cara pandang modernis selanjutnya. Ogranisasi Islam mdernis tidak menerapkan sistem tirai dalam pertemuan-pertemuan mereka. Laki-laki dan perempuan diperlakukan setara. Ciri khas modernis adalah tidak memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua. Tidak ada subordinasi perempuan dalam pandangan kelompok modernis. Sementara oleh tradisionalis, hingga hari ini, pola tirai dan pemisahan ruang masih banyak diterapkan. Belakangan, ketika modernis kota yang fundamental mulai berkembang, pola subordinasi perempuan diberlakukan. Kesetaraan gender benar-benar menjadi prinsip pemikiran Agus Salim sebagai seorang modernis. Prinsip ini kemudian diteladani banyak modernis setelahnya. Bahkan, kesetaraan jender telah identik dengan gerakan Islam modern itu sendiri. Tidak hanya kesetaraan gender, sebenarnya kesetaraan setiap individu menjadi basis pemikiran modernis. Tentu saja prinsip ini sangat banyak dipengaruhi oleh pemikiran Agus Salim. Dia tidak ingin terjadi subordinasi pada antar individu. Bahkan dalam pendidikan, Agus Salim tidak menyukai pola pengkultusan terhadap guru. Menurutnya, guru harus menjadi partner. Kedua pihak itu harus setara. Pola demikian membuka peluang tumbuhnya bakat terbaik dari murid. Kesamaan derajat setiap manusia yang senantiasa dibela Agus Salim menghantarkannya pada Gerakan Teosofi. Dia pernah menerjemahkan buku dan menjadi editor majalah organisasi tersebut. Hal yang membuat Agus Salim tertarik dengan gerakan teosofi adalah perlawanan kelompok tersebut atas materialisme, 76 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) ateisme, dan kolonialisme. Gerakan Teosofi membahas spiritualitas dan spirit ragam agama. Hal yang membuat Agus Salim pisah jalan dengan Gerakan Teosofi adalah akomodari gerakan itu terhadap sistem kasta dalam ajaran Hindu. Karena, Agus Salim sendiri, adalah penentang keras klasifikasi kelas sosial. Dia adalah pejuang kesetaraan. Sebagai pejuang kesetaraan, tentunya kolonialisme adalah salah satu musuh utama Agus Salim. Perjuangannya menentang kolonialisme tidak hanya melalui parlemen mewakili SI, namun juga melalui media massa. Memimpin sebuah surat kabar milik pemerintah kolonial, Agus Salim justri mengkritik habis kezaliman pemerintah kolonial. Akhirnya Agus Salim memimpin Bandera Islam yang kemudian berubah nama menjadi Fadjar Asia. Media itu memperoleh sokongan besar dari Raja Arab. Dengan begitu, aktivitas Agus Salim menyuarakan kepentingan pribumi dan mengungkapkan kekejaman kolonial, semakin keras. Salah satu sorotan Agus Salim adalah penindasan yang dialami buruh. Berita-berita mengenai hal itu tersebar hingga seantero dunia. Pihak aktivis dan partai buruh di Belanda dan Eropa mendukung usaha Agus Salim. Bahkan dia diundang ke Eropa untuk membicarakan peristiwa yang dialami buruh di Hindia. Tidak hanya itu, dalam menyuarakan kepentingan pribumi, Agus Salim kerap sekali mengkritik tindakan aparat kolonial. Salah satu kritik kerasnya adalah kepada polisi Hindia yang kerap menindas masyarakat. Agus Salim mengingatkan agar polisi Hindia Belanda tidak melihat rakyat sebagai kasta terendah. Dalam hal ini, Agus Salim benar-benar berjuang keras untuk kesetaraan. (Luth et al., 2018, p. 205) Pandangan inilah yang sangat dia tularkan bagi aktivis organisasi Islam modern. Tidak hanya kepekaan sosial, Agus Salim juga telah mewariskan keteladanan tentang begaimana seorang aktivis, tidak hanya memiliki kepekaan sosial, namun juga gemar pada ilmu pengetahuan, literasi, dan penyebaran ilmu pengetahuan. Agus Salim sendiri setidaknya telah menulis dua puluh dua judul buku. Salah satu di antaranya adalah Pesan-Pesan Islam. Buku tersebut merupakan kumpulan kuliah yang dia sampaikan di Cornell University, Amerika Serikat (Salim, 2011). Dalam buku tersebut, Agus Salim berhasil merekonstruksi sejarah Islam guna Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 77 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) menunjukkan kepada masyarakat Barat bahwa sebenarnya, citra negatif atas Islam yang mereka pahami itu sangat keliru. Karena Islam adalah agama yang sangat mengedepankan perdamaian, menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Agus Salim memandang, jihad itu punya makna yang sangat luas, mencakup segala usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai kemajuan. Agus Salim mencoba meluruskan pemahaman masyarakat Barat yang menganggap jihad dalam Islam adalah jalan-jalan kekerasan. Menurut Agus Salim, jihad dalam makna perang lebih mengarah pada pertahanan, bukan penyerangan. Sehingga perlu diakui, sejarah Islam yang oleh kepentingan politik tertentu dijadikan sebagai argumentasi penyerangan, perlu diluruskan. Dekonstruksi sejaran populer mengenai Islam memang menjadi cara yang jamak dilakukan para pemikir pembaharu Islam. Sebelumnya, Syed Ameer Ali juga telah melakukan penelaahan kembali atas sejarah Islam. Di Indonesia kemudian, Azyumardi Azra adalah pemikir yang telah mencoba mengusut kembali sejarah Islam, khususnya sejarah keulamaan di Asia Tenggara sebelum kolonialisme. (Azra, 2013, p. 25) Mohammad Natsir dan Sekolah Pendidikan Islam Sama seperti Agus Salim, Mohammad Natsir adalah seorang islamis yang berpenampilan sederhana. Lebih dari itu, kesederhanaannya dia perlihatkan ketika menjadi petinggi negara, yakni Menteri Penerangan. Natsir bahkan mengenakan jas bertambal meski seorang menteri. Itu sudah cukup untuk menunjukkan sikap sederhana para pemimpin bangsa pada awal kemerdekaan (Latif, 2014). Sikap sederhana Natsir juga diiringi dengan sikapnya yang ramah, santun, dan menghargai lawan debatnya. Sikap Natsir kemudian menjadi semakin fundamental ketika dia menemukan gerakan kristenisasi yang semakin masif. Namun sebenarnya Natsir sangat menghargai perbedaan. Dia sangat menghormati Sukarno sejak menjadi lawan debat pada media Pembela Islam pada 1930-an. Sukarno menginginkan sebuah negara didirikan berdasarkan nasionalisme sekular. Sementara Natsir menginginkan negara didirikan berlandaskan Islam. Perdebatan ini berlangsung sehat karena masing-masing pihak mencoba menunjukkan 78 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) argumentasi terbaiknya sekaligus menunjukkan usaha-usaha yang santun dalam membantah lawan debat. Tidak ada serangan personal dalam hal ini. Mereka berhasil menunjukkan sikap intelektual terhormat. Sikap demikian inilah yang telah ajarkan kepada generasi setelahnya. Hal ini menunjukkan bagaimana media telah menjadi sarana perdebatan intelektual di kalangan Islam moderat. Media publik terkemudian seperti Panji Masyarakat, Ulumul Qur'an, Republika, Bulan Bintang, Mizan, dan sebagainya telah menjadi wadah yang memfasilitasi perdebatan intelektual Muslim. Pada generasi selanjutnnya, perdebatan antara Nurcholish Madjid dengan H.M Rasjdi berlangsung hangat mengenai sekularisme. Perdebatan itu berlangsung pada generasi selanjutnya antara Budhy Munawar-Rachman dengan Adian Husaini. (Nasution & Miswari, 2021) Di daerah, perdebatan intelektual Muslim juga masih berlangsung hingga hari ini. Misalnya kritik-kritik yang dikemukakan Affan Ramli, Teuku Jafar Sulaiman, dan Yogi Febriandi atas formalisasi syariat Islam di Aceh. (Miswari, 2019) Perdebatan-perdebatan itulah yang membuat diskursus wacana pemikiran Islam menjadi salah satu arus utama dalam masyarakat yang mengundang kaum terpelajar muslim untuk merespons perkara-perkara tersebut. (Miswari, 2022) Dengan demikian gerakan literasi menjadi masif. Antara Natsir dan Sukarno sendiri, perdebatan berlangsung hingga 1950-an. Natsir menginginkan Indonesia berubah menjadi negara Islam, sementara Sukarno menginginkan Indonesia tetap sebagai negara berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 yang telah dirumuskan sejak awal kemerdekaan. Selain misi kristenisasi, Natsir juga sangat anti terhadap komunisme. Dia geram kepada Sukarno yang dianggap terlalu akomodatif terhadap PKI. Sikap tak terima itu dilimpahkan Natsir dengan bergabung bersama PPRI/Perjuangan Rakyat Semesta. Sementara Sukarno menegakkan demokrasi terpimpin hingga diturunkan pada 1965. Kemudian ketika Suharto memimpin, Natsir dibebaskan dari penjara, namun benar-benar dibatasi pergerakannya. Mohammad Natsir lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat pada 17 Juli 1908. Dia menempuh Sekolah Rakyat di Maninjau. Natsir sekolah HIS dan MULO di Padang. Sore hari, Natsir belajar agama di Madrasah dan malam hari di surau dan Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 79 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) menginap di sana. Natsir pernah mengajar sebagai guru bantu di HIS. Ayahnya Natsir adalah seorang juru tulis kelas rendah yang diperkerjakan oleh Pemerintah Kolonial. Pekerjaan ayahnya itu membuat Natsir harus sering berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Natsir harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan pendidikannya. Terkadang dia harus menumpang di rumah famili. Tetapi Natsir lebih suka bekerja sambil sekolah. Pernah Natsir bekerja sebagai pemilah kopi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pada 1927, Natsir memperoleh kesempatan ke Bandung untuk sekolah di AMS. Itu merupakan sekolah setingkat HBS. Sekolah Natsir adalah pada bidang Sastra dan Himaniora Barat. Dia di sana belajar bahasa latin, kebudayaan, filsafat Yunani. Itulah yang membuat Natsir punya wawasan yang baik mengenai filsafat sebagaimana dia tuangkan dalam Capita Selecta. (Natsir, 1957, p. 4) Di AMS, Natsir memperdalam bahasa Belanda. Selama di Bandung, Natsir juga mulai tertarik dengan politik. Dia mulai menyadari penindasan kolonial atas pribumi. Di sana Natsir masuk JIB Cabang Bandung, organisasi yang didirikan Agus Salim. Natsir juga mulai berkenalan dengan para aktivis seperti Prawoto, Roem, dan lainnya. Natsir juga memperdalam pengetahuan agama kepada A. Hassan, seorang islamis puritan. Natsir sendiri, sebagai seorang Islamis, punya argumentasi kuat dalam mempertahankan argumennya. Dia punya wawasan ilmu pengetahuan yang luas. Bacaannya banyak. Dia update dalam memahami isu-isu perkembangan dunia dan dunia Islam. Dia jarang melawatkan edisi terbaru koran, majalah, dan jurnal dari dalam dan luar negeri. Itu adalah sebuah teladan yang perlu diikuti aktivis gerakan Islam setelahnya. Dan memang para aktivis demikian, yang punya kesadaran signifikansi organisasi Islam bagi kaderisasi, para aktivis akan giat membaca, berdiskusi, dan mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah. Natsir sendiri sangat suka mengikuti pertemual ilmiah. Pada satu seminar, Sukarno yang namanya masyhur sebagai aktivis nasionalis, mengisi sebuah seminar yang diselenggarakan di Bandung. Natsir sendiri kurang sependapat dengan gagasan keislaman Sukarno. Dalam mengemukakan pandangannya, Natsir kerap menulis pada media massa Pembela Islam. Media cetak itu didistribusikan ke seluruh Hindia. 80 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) Sebagaimana banyak aktivis gerakan Islam, Natsir suka mempelajari keilmuan secara otodidak, khususnya ilmu-ilmu pemikiran Islam. Natsir beruntung dapat bertemu dan kerap berdiskusi dengan pendahulu pemikir dan penggerak keislaman seperti A, Hassan yang mendirikan Persis, Agus Salim yang mendirikan JIB, dan Ahmad Sjoorkati yang mendirikan Al-Irsyad. Namun pertemuan dengan A. Hassan lebih intens. Hal ini menunjukkan kepada para aktivis gerakan Islam masa kini bahwa kader gerakan Islam itu tidak hanya harus ahli dalam bidang pergerakan dan kemasyarakatan, namun juga harus gigih pada bidang intelektual. Apa yang terjadi pada Natsir juga mengancam para aktivis gerakan Islam adalah, intensitasnya pada pembelajaran otodidak memberikan krisis pada karir pendidikan formalnya. Ini merupakan bahaya laten bagi para anggota dan pengurus organisasi gerakan Islam modern. Tipikal modernis Natsir sesuai dengan pola A. Hassan. Mereka tidak suka sistem tradisional yang bertaklid pada guru. A. Hassan sendiri lebih suka model diksusi dan tidak keberatan bila pikirannya dibantah oleh yang lebih muda. Pola demikian sangat disukai Natsir. Pola inilah yang menjadi tipikal pembelajaran kelompok Islam modernis. Apa yang banyak menimpa aktivis gerakan Islam, telah terjadi pada Natsir. Tamat AMS, dia meninggalkan kesempatan beasiswa ke Belanda untuk kuliah pada bidang hukum. Dewasa ini, juga banyak aktivis modernis yang meninggalkan karir gemilang di dunia Islam untuk fokus pada gerakan agama puritan. Natsir sendiri memilih mendirikan sekolah Pendidikan Islam (Pendis). Itu diklaim sebagai sekolah Islam pertama di Indonesia. Pada sekolah itu, sistem ruang kelas sebagaimana sekolah umum diberlakukan. Sistem hafalan dukurangi. Pelajaran musik disediakan. Sistem andragogi diperkenalkan. Berbeda dengan sistem tradisional yang menerapkan sistem doktrin, (Nasution et al., 2019) Pendis lebih menekankan sistem diskursif. Itu merupakan prototype dari sistem kaderisasi organisasi Islam modern. Dalam hal ini, Natsir telah mengorbankan kesempatan mendapatkan beasiswa besar pada jurusan hukum di Belanda. Padahal, hingga hari ini, ahli hukum Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 81 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) kelas atas di Indonesia banyak alumni Belanda. Dengan pengorbanan besar itu, tentu saja dengan mudah sentimen agama Natsir dapat muncul. Dia benar-benar kesal dengan pandangan kelompok nasionalis yang dianggap kerap merendahkan Islam. Bahkan dia sering menulis kritiknya atas pandangan-pandangan kelompok nasionalis-sekular dalam rangka membela Islam. Kelompok nasionalis-sekular sendiri sebenarnya, melakukan kritik-kritik terhadap islamis dalam rangka mengantisipasi Islam menjadi basis ideologi. Karena menurut mereka, Islam adalah landasan nilai, sekaligus merupakan inspirasi, bukan aspirasi. (Nasution, 2022, p. 5) Namun, dalam rangka membela kepentingan bangsa, ketika kelompok nasionalis dipenjara pemerintah kolonial, Natsir dengan lantang melemparkan kritiknya terhadap Belanda. Hal inilah yang kemudian, dalam rangka memperjuangkan dan menjaga kemerdekaan, Natsir dapat berharmoni dengan kelompok nasionalis. Bahkan Natsir sendiri sebenarnya adalah intelektual yang toleran terhadap perbedaan. Dia bahkan dapat minum kopi bersama dengan Aidit yang merupakan pimpinan kelompok komunis. Meskipun Natsir dalam memahami Islam punya perbededaan tajam dengan Sukarno, namun Natsir mengkesampingkan perbedaan itu ketika berbicara tentang kepentingan bangsa. Natsir bekerjasama dengan baik dengan Sukarno dalam memimpin pemerintahan Indonesia. Pidato-pidato Sukarno selalu melewati meja Natsir sebagai Menteri penerangan. Dalam hal ini, Sukarno paham bahwa Natsir punya kemampuan yang baik dalam menyuguhkan tulisan menjadi menarik dan komunikatif. Kepercayaan Sukarno tersebut tentu saja antara lain karena track record Natsir sebagai pengasuh majalah Pembela Islam. Sukarno tidak dapat menyembunyikan kekagumannya kepada Natsir yang mampu mengartikulasikan pikiran dalam tulisan yang indah, komunikatif, dan menarik. Sebab itulah ketika nama Natsir ditawarkan sebagai Menteri Penerangan, Sukarno tanpa ragu menerima usul tersebut. Sebagai Menteri Penerangan, pidato-pidato Presiden Sukarno tentu saja sangat beruntung melewati meja Menteri Penerangan sekelas Natsir. 82 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) Antara Natsir dan Sukarno sejak awal punya perbedaan tajam dalam memahami Islam. Sukarno sendiri menyambut baik sistem sekular yang diterapkan Kemal Attaturk di Turki. Sistem tersebut adalah cara memajukan sebuah negara dalam dunia modern. Dengan sistem sekuler, berarti fokus negara adalah pembangunan masyarakat, kemajuan teknologi, dan persangingan ekonomi. Sementara urusan keagamaan diserahkan kepada civil society. (An-Na’im, 2008, p. 16) Sementara Natsir sendiri yang pemikiran agamanya sangat dipengaruhi sosok A. Hassan yang puritan, sangat menyayangkan keruntuhan monarki Turki. Dalam pandangan Natsir, sistem sekuler itu menyingkirkan agama dalam kehidupan manusia. Natsir, bersama islamis lainnya berpandangan, Islam adalah ajaran total yang mengatur setiap sendi kehidupan manusia. Pandangan Natsir ini kemudian diikuti oleh para penerusnya. Islamis berpandangan, Islam itu adalah agama yang sempurna. Islam tidak membedakan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Kehidupan sederhana yang dijalani Natsir patut menjadi teladan. Pernah temannya menawarkan sebuah mobil mewah agar dapat lebih mudah dalam beraktivitas. Tetapi mobil itu ditolak. Sebagai Menteri Penerangan, Natsir hidup paspasan. Dia menolak memakai dana taktis untuk kepentingan pribadi. Keluarganya hidup berpindah-pindah. Pakaian Natsir sangat sederhana. Dia baru punya jas baru setelah segenap staf dan karyawan Kementerian Penerangan patungan untuk membelikannya jas baru. Menteri yang sangat sederhana itu ternyata punya peran sangat besar dalam mengembalikan keutuhan Negera Kesatuan Republik Indonesia pasca Agresi Militer Belanda. Perjanjian Linggarjati antara Republik Indonesia dan Belanda menghasilkan kesepakatan didirikannya Republik Indonesia Serikat (RIS). Kemudian setelah Belanda terusir, masyarakat Indonesia menghadapi krisis dalam negara-negara bagian. Sebagai pemimpin parlemen RIS, Natsir mengusahakan kembalinya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 83 EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) KESIMPULAN Cokroamonoto telah membangun kesadaran bangsa Indonesia bahwa Islam dapat menjadi basis semangat perjuangan dengan cara-cara modern, seperti organisasi kemasyarakatan dan organisasi partai politik. Riwayat Cokroaminota di Sarekat Islam telah menunjukkan bahwa dalam memimpin organisasi Islam, sikap curiga dan kekecewaan, tidak dapat dihindari, muncul dari anggota-anggota organisasi. Konflik internal selalu menjadi tantangan yang harus mampu diatasi seorang pemimpin. Kemampuan membangun hubungan eksternal juga merupakan kewajiban bagi organisasi Islam modern. Sementara Agus Salim telah merintis bagaimana kaderisasi aktivis gerakan Islam dilakukan. Membangun motivasi dan menggali potensi adalah pendekatan utama dalam pendidikan organisasi Islam modern. Antara lain dengan semangat itu, kaderisasi pada organisasi Islam modern menghindari sikap taklid kepada guru. Organisasi islam modern memandang manusia secara setara. Adapun Natsir sangat gemar mengikuti pertemuan ilmiah dan punya kepekaan sosial yang tinggi. Kegemaran akan pertemuan-perteuan ilmiah, serta punya kepedulian sosial tinggi merupakan tipikal utama para aktivis gerakan Islam. Keteladanan ini sangat banyak diwariskan oleh Natsir. Sikap Natsir dalam memimpin juga telah memberikan keteladan etika Islam bagi para aktivis muda. Meskipun demikian, sikap-sikap ekslusif dalam organisasi-organisasi gerakan Islam perlu dihindari. DAFTAR PUSTAKA An-Na’im, A. A. (2008). Islam and the Secular State. Harvard University Press. Azra, A. (2013). Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Kencana. Azra, A. (2015). Jaringan Ulama Nusantara. In A. Sahal & M. Aziz (Eds.), Islam Nusantara: Dari Ushul Fiqh Hingga Paham Kebangsaan (p. 169). Mizan. Bachtiar, T. A. (2017). Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia: Kritik-kritik Terhadap Islam Liberan dari H.M Rasjidi Sampai INSIST. Pustaka Al-Kautsar. Hayati Nufus, A. (2018). Pendidikan dan Politikus : Analisis pemikiran M. Natsir tentang Pendidikan Islam di indonesia. Al-Iltizam: Jurnal Pendidikan Agama 84 | Terbitnya Modernisme Islam... .. (Miswari ) EL-ADABI: Jurnal Studi Islam (Vol. 02, No. 02, Desember 2023) Islam, 3(1), 39. https://doi.org/10.33477/alt.v3i1.416 Muslim Tanpa Masjid, 376 (2001) (testimony of Kuntowijoyo). Latif, Y. (2013). Genealogi Inteligensia. Kencana. Latif, Y. (2014). Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan. Mizan. Luth, T., Kholish, Moh. A., & Zainullah, Moh. (2018). Diskursus Bernegara dalam Islam. UB Press. Miswari. (2019). Pengantar Editor. In Miswari (Ed.), Islam, Formalisasi Syariat Islam dan Post-Islamisme di Aceh (pp. xxv–xxxv). Bandar Publishing. Miswari. (2022). Sukidi. In Sukudi: Inspirasi dan Api Pembaruan Islam dari Harvard. Gramedia. Nasution, I. F. A. (2022). Transformasi Pemikiran Islam untuk Moderasi dan Modernisasi Indonesia. Nasution, I. F. A., & Miswari. (2021). Pemikiran Islam Cak Nur. Zahir Publishing. Nasution, I. F. A., Miswari, M., & Sabaruddin, S. (2019). Preserving Identity through Modernity: Dayah al-Aziziyah and Its Negotiations with Modernity in Aceh. Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies. h ttps://doi.org/10.21009/hayula.003.2.06 Natsir, M. (1957). Capita Selecta Vol. I. Pustaka Pendis. Niel, R. van. (1984). Munculnya Elite Modern IndonesiaMunculnya Elite Modern Indonesia. Pustaka Jaya. Noer, D. (1996). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (8th ed.). LP3ES. Rahardjo, M. D. (1994). Intelektual Intelijensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendikiawan Muslim (IV). Mizan. Salim, A. (2011). Pesan-Pesan Islam. Mizan. Tjokroaminoto. (2011). Tempo, 39. Terbitnya Modernisme Islam.. .. (Miswari) | 85