Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 1, 2024, pp. 01 Ae 06 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Analisis Praktik Klinik Keperawatan pada Pasien St Elevation Myocardial Infarction (STEMI) dengan Intervensi Inovasi Terapi Musik Mozart Kombinasi Eye Mask untuk Peningkatan Kualitas Tidur Pasien di Ruang ICCU RSUD Taman Husada Bontang Wahyuni1a*. Nunung Herlina1. Taufik Septiawan1. Zulmah Astuti1 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia wahyuni3897@gmail. HIGHLIGHTS A Analisis praktik klinik keperawatan pada pasien STEMI ARTICLE INFO Article history Received date Nov 06th 2023 Revised date May 28th 2024 Accepted date August 28th 2024 Keywords: ACS STEMI, Mozart Music. Sleep Quality ABSTRACT/ABSTRAK Heart disease is the leading cause of death worldwide. Approximately 17. million people die each year from heart disease, accounting for a significant portion of global mortality. One of the common heart diseases in Indonesia is ACS, or acute coronary syndrome. A complete blockage of a specific coronary blood vessel results in STEMI, which completely stops blood flow and prevents the heart muscle from receiving oxygen and nutrients, ultimately leading to its death. This research aims to improve sleep quality in patients with ST elevation myocardial infarction. (STEMI). The implementation of the innovative Mozart music therapy intervention, in conjunction with an eye mask, resulted in a slight improvement in the patient's sleep pattern quality. Based on the client's observation, the patient achieved a PSQI score of 8. ualitas tidur klien buru. From the innovations carried out, it can be concluded that Mozart music therapy is effective in improving the sleep quality of patients, but not significantly, as the score from the post-intervention results of Mozart music initially was 11 and became 8 after 3 days of intervention, indicating that the patients' sleep quality remains poor since the change in score is minimal and not very Copyright A 2024 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Wahyuni Program Studi Profesi Ners Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Jl. Ir. Juanda No. Sidodadi. Samarinda Ulu. Samarinda. Email: wahyuni3897@gmail. PENDAHULUAN Penyakit jantung merupakan penyebab utama kematian dunia berdasarkan laporan dari American Heart Association (AHA) pada tahun 2015 dan diperkirakan akan tumbuh lebih dari 23,6 jiwa pada tahun 2030. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, total kematian akibat penyakit jantung adalah 20 juta jiwa. Penyakit jantung merupakan penyebab nomor satu kematian di dunia. Sekitar 17,5 juta orang Page . meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung dari seluruh kematian di seluruh dunia. Sekitar 80% dari semua kematian penyakit kardiovaskuler adalah karena serangan Prevalensi penyakit jantung sendiri mencapai 1,5% atau 15 dari 1000 penduduk Indonesia menderita penyakit jantung koroner. Sedangkan apabila dilihat dari penyebab kematian tertinggi di Indonesia merupakan akibat dari penyakit jantung koroner (Kemenkes, 2. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskuler di Indonesia sekitar 1. 290 orang menderita penyakit jantung koroner (Riskesdas, 2. dan berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar, menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskuler di Provinsi Kalimantan Timur sekitar 17. 490 orang menderita penyakit jantung (Riskesdas, 2. Dinas Kesehatan Kota Bontang, menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskuler dari tahun 2016-2019 sekitar 3. orang (Dinkes Bontang, 2. Salah satu penyakit jantung yang sering terjadi di Indonesia adalah ACS atau Acute Coronary Syndrome salah satunya ST Elevation Myocardial Infark (STEMI) disebabkan oleh rusaknya bagian otot jantung secara permanen akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun dipengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG (Huswar, 2. Pasien dengan Acute Coronary Syndrome membutuhkan tidur yang cukup dikarenakan dengan kualitas tidur yang baik akan memperbaiki sel-sel otot jantung. Pasien perlu sekali beristirahat baik secara fisik maupun emosional. Istirahat akan mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung, dan menurunkan tekanan darah. Istirahat juga mengurangi kerja otot pernapasan dan penggunaan oksigen. Frekuensi jantung menurun, yang akan memperpanjang periode diastole pemulihan sehingga memperbaiki efisiensi kontraksi jantung (Rahayu, 2. Banyak pasien yang dirawat inap di ICCU mengalami gangguan kualitas dan kuantitas tidur berkaitan dengan faktor mental dan lingkungan. Tidur dapat meningkatkan kebutuhan oksigen rhythm and myocardial jantung. Cara yang paling umum untuk mengobati atau mengatasi masalah tidur adalah dengan menggunakan obat-obatan (Hudak dan Gallo, 2. Tindakan untuk mengatasi gangguan tidur bisa menggunakan terapi farmakologi maupun non farmakologi. Terapi farmakologis yaitu dengan memberikan obat dari golongan sedatif-hipnotik, terapi farmakologis memiliki efek yang cepat, akan tetapi jika diberikan dalam waktu jangka panjang dapat menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan pasien dengan gangguan jantung. Sedangkan pada terapi non farmakologi yang bisa digunakan untuk mengatasi gangguan tidur yaitu dengan cara mendengarkan terapi music Mozart dan Eye Mask. Nurseha . menjelaskan bahwa musik mempunyai fungsi menenangkan pikiran dan katarsis emosi, serta dapat mengoptimalkan tempo, ritme, melodi dan harmoni yang teratur dan dapat menghasilkan gelombang alfa serta gelombang beta dalam gendang telinga sehingga memberikan ketenangan yang membuat otak siap menerima masukan baru, efek rileks dan menidurkan. Eye Mask adalah suatu cara yang relevan dan logis yakni masker penutup mata yang dapat digunakan untuk mencegah terbangunnya saat tidur yang disebabkan oleh rangsangan eksternal. Eye Mask merupakan intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan tidur pasien untuk mempertahankan ritme sirkadian secara normal (Bajwa. Saini. Kaur, & Kalra, 2. Penggunaan Eye Mask aman dilakukan pada pasien jantung koroner. Selain aman. Eye Mask juga terbukti efektif untuk menilai kualitas tidur pasien, hemat biaya, mudah diterapkan pada kelompok besar, dan dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh. Penggunaan Eye Mask juga merupakan metode yang mudah dan murah untuk meningkatkan persepsi dan kualitas tidur pada pasien yang dirawat di ICU (Bajwa et al. Berdasarkan hasil penelitian dan juga teori yang menguatkan, dapat disimpulkan bahwa pemberian intervensi Inovasi Terapi Musik Mozart dengan Kombinasi Eye Mask Page . dapat dilakukan dan efektif untuk Peningkatan Kualitas Tidur. Maka dari itu, penulis ingin melakukan intervensi tersebut pada pasien pada pasien ST Elevasi Myocardial Infark (STEMI) untuk peningkatan kualitas tidur pasien. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kasus melalui pendekatan deskriptif dengan menggunakan pendekatan asuhan keperawatan. Metode penelitian ini menggambarkan proses asuhan keperawatan pada pasien dalam peningkatan kualitas tidur. Kriteria pada studi kasus ini yaitu pasien yang mengalami ST Elevasi Myocardial Infark (STEMI) dan mengalami kualitas tidur yang rendah. Penelitian ini berupaya untuk meningkatkan kualitas tidur pasien dan diharapkan pasien merasa nyaman serta tidak gelisah saat malam hari. Penelitian ini dilaksanan di ruang di Ruang Intensive Cardiac Care Unit (Icc. RSUD Taman Husada Bontang selama 3 hari yaitu mulai tanggal 2-4 Juni 2023. Proses asuhan keperawatan ini dilakukan untuk memperoleh data pengkajian, penegakan diagnosis keperawatan, intervensi, merencanakan tindakan serta mengevaluasi hasil perolehan data yang didapatkan dari pasien secara subjektif maupun objektif. Proses penelitian studi kasus ini menerapkan intervensi inovasi terapi musik Mozart dengan kombinasi eye mask untuk kualitas tidur pasien. Dalam penerapan intervensi tersebut, peneliti menggunakan kuesioner PSQI sebagai alat ukur untuk menentukan kualitas tidru pasien. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah diberikan intervensi agar diketahui hasil dari penerapan dari erapi musik mozart dengan kombinasi eye mask Dalam melakukan penelitian terkait pemberian intervensi terapi musik Mozart dengan kombinasi Eye Mask untuk kualitas tidur pasien intervensi, penulis memberikan intervensi selama 3 hari di tanggal 2-4 Juni 2023 dengan durasi 30-45 menit di hari pertama dan kedua dan untuk di hari ketiga melakukan intervensi selamat dari pasien tidur di jam 21. 00- 05. 00 pasien sering terbangun. HASIL Pada studi kasus asuhan keperawatan ini, dapat diketahui bahwa pasien menderita St Elevation Myocardial Infarction (Stem. Hasil dari pengkajian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat 4 diagnosis keperawatan yang didapatkan pada pasien, berdasarkan prioritas diagnosa yang pertama adalah Nyeri Akut Berhubungan Dengan Agen Pencedera Fisiologis (D. Penurunan Curah Jantung Berhubungan Dengan Perubahan Irama Jantung (D. Pola Nafas Tidak efektif Berhubungan dengan Hambatan Upaya Nafas (D. Gangguan Pola Tidur Berhubungan dengan Hambatan Lingkungan (D. Dari diagnosa diatas yang ingin peneliti berikan intervensi inovasi ialah diagnosa gangguan pola tidur walaupun diagnose tersebut bukanlah diagnose utama namun karena pasien dengan Acute Coronary Syndrome membutuhkan tidur yang cukup dikarenakan dengan kualitas tidur yang baik akan memperbaiki sel-sel otot jantung. Pasien perlu sekali beristirahat baik secara fisik maupun emosional. Istirahat akan mengurangi kerja jantung, meningkatkan tenaga cadangan jantung, dan menurunkan tekanan darah. Lamanya berbaring juga akan merangsang diuresis karena berbaring akan memperbaiki perfusi ginjal. Istirahat juga mengurangi kerja otot pernapasan dan penggunaan oksigen. Frekuensi jantung menurun, yang akan memperpanjang periode diastole pemulihan sehingga memperbaiki efisiensi kontraksi jantung. Diagnosa tersebut diangkat setelah didapat pengkajian dari data objektif dan subjektif pasien mengalami kualitas tidur yang buruk. Berdasarkan hasil skor kualitas pola tidur menggunakan PSQI yaitu 11 . ualitas tidur buru. Melihat hal tersebut maka peneliti berupaya memberikan terapi non farmakologis sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas tidur Page . Penulis meneliti tingkat kualitas pola tidur di awal . ebelum pemberian intervens. dan di akhir pertemuan . etelah pemberian intervens. saat berkunjung ke pasien dan menilai kualitas tidur pasien sebelum dan setelah intervensi. Berikut adalah hasil perubahan sebelum dan setelah dilakukan intervensi: Tabel 1. Hasil Perubahan Kualitas Tidur Pasien Sebelum dan Setelah Intervensi Tanggal 02/06/23 Skor Sebelum Intervensi 03/06/23 04/06/23 Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Gangguan Pola Tidur Skor Gangguan Pola Setelah Tidur Intervensi - Klien mengatakan jarang - Klien tidur siang hanya 1 jam dan tidur malam 5-6 jam - Klien mengatakan susah - Klien karenanafas masih terasa - Klien mengatakan sedikit sesak saat tidur terkadang - Klien mengatakan saat tidur sering terbangun terkadang sering terbangun - Klien terlihat lemas - Klien masih jarang terlihat - Klien tidur siang - Klien mengantuk dan sesekali - Klien - Klien terlihat lemas di atas - Klien mengatakan tempat tidur saat tidur terkadang sering terbangun - Klien terlihat lemas - Klien - Klien melakukan tidur siang - Kien terlihat sudah berkurang - Klien terlihat sedikit - Klien terlihat sedikit segar - Klien sudah terlihat tidak terlalu lemas Hasil yang didapatkan dari pemberian intervensi inovasi didapatkan bahwa setelah hari-3 Hanya ada sedikit peningkatan kualitas pola tidur klien dan diperkuat dengan data observasi lainnya yaitu klien jarang melakukan tidur siang, klien terlihat mengantuk dari hasil observasi klien didapatkan hasil skor PSQI yaitu 8 . ualitas tidur klien buru. Dari inovasi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terapi music Mozart terhadap peningkatan kualitas tidur pasien efektif dilakukan tetapi tidak signifikan, karena skor dari hasil post intervensi music mozart yang awalnya 11 menjadi 8 dalam 3 hari intervensi yang artinya kualitas tidur pasien masih buruk. Karena perubahan skor hanya sedikit dan tidak terlalu signifikan. PEMBAHASAN Mendengarkan musik yang dikenal dan musik yang disukai membantu mengurangi beban dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh memodifikasi stres dan, meningkatkan komposisi pada kualitas tidur (Gasenzer et al. , 2. Gangguan tidur pada pasien dapat ditangani dengan salah satunya mengatur sistem pencahayaan, dengan berkurangnya sistem pencahayaan pada lingkungan yang Page . tepat dapat membuat pasien menimbulkan perasaan nyaman dan tenang (Vive Herlin. Alternatif dari pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah dengan cara memberikan edukasi kesehatan terkait pentingnya kualitas tidur baik secara farmakologis seperti menganjurkan klien untuk datang ke fasilitas kesehatan untuk konsul terkait gangguan pola tidur yang didapat, dan juga berkolaborasi menggunakan terapi non farmakologis seperti mendengarkan music yang lebih cocok dengan kombinasi penggunaan Eye Mask. Sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan lain selain minum obat dari advis medis dalam mengatasi gangguan pola KESIMPULAN Berdasarkan proses asuhan keperawatan, di mulai dari pengkajian hingga evaluasi, dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami St Elevation Myocardial Infarction (Stem. Pada penelitian ini didapatkan 4 masalah keperawatan yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis, penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung, pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas, gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan Setelah diberikan intervensi inovasi terapi musik Mozart dengan kombinasi eye mask didapatkan hasil terjadi peningkatan kualitas pola tidur klien dan diperkuat dengan data observasi lainnya yaitu klien jarang melakukan tidur siang, serta dapat dilihat dari hasil skor PSQI post intervensi music mozart yang awalnya 11 menjadi 8 dalam 3 hari DAFTAR PUSTAKA